Articles

Staf Menko Kesra menjawab: Bakrie lebih nasionalis dari Wimar

Perspektif Online
23 October 2008

Staf Khusus Menko Kesra, Lalu Mara Satria Wangsa, menjawab tulisan Wimar berjudul Menyelamatkan Bakrie di Koran Sindo, dengan tulisan berjudul Benarkah Pengusaha Hanya Mengejar Untung? di koran yang sama, kali ini dengan gelar Eksekutif di Kelompok Usaha Bakrie.

Ini kutipannya:

Saudara Wimar, kalau saja orientasi Keluarga Bakrie hanya sekadar kepentingan pribadi, tentu akan lebih baik Keluarga Bakrie tidak mengembangkan usaha apa pun dan tidak perlu terlalu peduli untuk ikut menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang di Republik Indonesia.

Perlu Anda ketahui, sampai saat ini Kelompok Usaha Bakrie mempekerjakan 35.000 orang tenaga kerja secara langsung (teregistrasi) dan 50.000 orang tenaga kerja secara tidak langsung. Bandingkan berapa orang tenaga kerja yang bisa Anda ciptakan, Saudara Wimar Witoelar? Dilihat dari kemampuan menciptakan kerja, kita bisa membandingkan lebih nasionalis mana seorang Wimar Witoelar atau Keluarga Bakrie?

Sebagai informasi, Wimar sendiri tercatat sebagai direktur non-executive di ANTV, meski itu dari mitra ANTV, Star-TV. Jabatan Anda itu menjadi bukti bahwa Anda memang tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas ketimbang Bakrie. Bahwa program Anda dihentikan tayangannya oleh ANTV itu semata-mata karena rating-nya hampir nol!

Baca selengkapnya di Sindo: Benarkah Pengusaha Hanya Mengejar Untung?

Update 31 Okt: Faisal Basri: Indonesia Disandera Bakrie

"Sekarang ini pasar saham kita terus menunjukan grafik menurun dan selama saham-saham Bakrie belum dibuka, indeks akan tetap turun. Sekarang Republik Indonesia disandera Bakrie"

Baca juga:

Print article only

125 Comments:

  1. From janeman on 23 October 2008 11:51:25 WIB
    kalo in case of Bakrie... tentu saja dia gak nasionalis dan tentu saja nyari untung!!!

    kalo gak nyari untung CSR di Lapindo jalan dong!!!.. pak Lalu yang tentu saja lebih tendensius maksudnya dari pada wimar (tentu saja tendensius wong orang menko sekaligus orang Bakrie..).. gak lakulah gayamu pak...

    Bakrie, greed baby greed!
  2. From LH on 23 October 2008 12:00:18 WIB
    Ngapain Pak staf ngurusin usahanya Bakrie, bukan ngurusin korban Lapindo. (dipaksa bos nulis opini)

    Aduh pak staf jadi kelihatan bodo, bukannya menganalisa tulisan pak Wimar malah emosi menyerang kemana2. Malu2in aja pak.
  3. From Satya on 23 October 2008 12:05:38 WIB
    conflict of interest udah gak ketolongan gitu, masih coba ngajarin kita soal nasionalisme. masih untung bukan dipenjara dan perusahaan disita. malah minta uang negara 240 juta untuk tolong perusahaan swasta 35000 orang yang masih untung boleh exist.
  4. From Ady on 23 October 2008 12:23:32 WIB
    Menciptakan lapangan kerja bukannya nasionalis, tapi memang mereka butuh buat tenaga kerja yg banyak untuk untung yg lbh banyak

  5. From rahadian p. paramita on 23 October 2008 12:41:10 WIB
    Membuka lowongan kerja itu beda-beda tipis dengan memperbudak orang lain. Apalagi kalau memperlakukan pekerja itu sebagai objek eksploitasi. Tidak seperti konsep koperasi, yang sangat sederhana tapi sangat sosialis. Kira-kira Bakrie kayak apa ya? Kalau semua pedagang disamakan dengan nasionalis, enak bener!
    Logika buat kapitalis kan jelas, beri mereka pekerjaan (baca: uang), agar mereka bisa berbelanja. Tetap saja yang diuntungkan cuma segelintir orang.
  6. From feha on 23 October 2008 13:01:34 WIB
    hmmm....apa hubungannya membuka lapangan kerja dengan nasionalisme yah? Memang pada dasarnya ada yg bilang bahwa membuka lapangan kerja itu berarti berbagi kesejahteraan kepada masyarakat sehingga masyarakat diharapkan bisa lebih sejahtera. Tapi apa iya dari sekian banyak pekerja itu mereka semua menjadi sejahtera? hmmm.....

    Staf khusus menteri sekarang membahasnya masalah beginian yah? ckckckc......
  7. From Martin Manurung on 23 October 2008 13:06:30 WIB
    Argumen MENGHINA tenaga kerja seperti ini sering dibawa oleh pengusaha-pengusaha yang tidak tahu diri. Pengusaha butuh tenaga kerja untuk produksi, bukan karena nasionalis!

    Jangan anggap mereka merekrut SATU orang karyawan pun karena \'rasa nasionalisme\', tetapi karena pengusaha membutuhkan pekerja. Emangnya Bakrie mau jadi office boy?

    PS: jelek-jelek, saya juga pengusaha dan memiliki ratusan karyawan (memang tidak puluhan ribu seperti Bakrie).
  8. From |richard.p.s| on 23 October 2008 13:09:30 WIB
    jika mengukurnya dari mempekerjakan banyak orang, maka bos-bos BLBI itu pun mempekerjakan orang yang amat sangat banyak. Nasionalisme kah mereka?

    sayang sekali, andaikan dalam tulisan itu ada kalimat: \"atas petunjuk bapak...\" *geleng-geleng jidat*
  9. From calegindonesia.net on 23 October 2008 13:14:27 WIB
    kayaknya yang 35000 itu berkurang 1 deh pak...hehe saya baru aja resign dari tvOne bukan karena dipecat, mereka yang butuh saya tuh samapai nahan-nahan...kalau Bakrie buka lapangan kerja itu karena dia butuh orang untuk mengkapitalisasi modalnya, nggak ada hubungannya sama nasionalisme yang di tulis pak staff. Kalaupun ingin dihubungkan, pastilah tanggungjawab pak menkokesra untuk mengurangi pengangguran. Orang nasionalis kayanya lebih paham hal tersebut sebagai kewajibannya daripada itung-itungan jasa diatas modal!
  10. From Ihsan on 23 October 2008 13:22:11 WIB
    Lalu Mara Satria Wangsa, biasa dipanggil Pa Lalu. Tapi kalau Bang Rhoma bilang:...Sungguh TER..LA..LU...!

  11. From aweteaw on 23 October 2008 13:25:18 WIB
    yang jelas ini merupakan suatu jawaban atas kemerosotan moral bangsa yang sengaja diinjak oleh bangsanya sendir.
    kalau lah kita bisa pastikan cara berpikir orang-orang besar yang ada di indonesia seperti tersebut adanya, maka dapat dipastikan jua bahwa orang-orang kecil (yang lebih banyak dari orang besar) lebih mulia adanya.
  12. From imel on 23 October 2008 13:29:57 WIB
    Tindakan Bakrie meminta pak Lalu untuk men-counter artikel Wimar sepertinya salah berat... artikel pak LALU yang terhormat itu hanya jadi Lelucon.. keliatan hanya tulisan emosional dan kelihatannya mencoba "memancing" atau jangan2 mau memperbaiki citra BAKRIE.....

    Se-Indonesia ini juga tahu kalo Bakrie punya pekerja yang banyak, secara punya banyak perusahaan... tapi pak se-Indonesia ini juga tahu "kejahatan" yang Bakrie lakukan untuk warga Lapindo....

    aduh please dech... aduh pak Lalu.. sepertinya bapak mungkin dipaksa menulis ini daripada BERLALU nasibnya di perusahaan BESAR milik Group Bakrie dan Berlalu juga jabatan anda yach..

    Yach mbok dibaca dua kali artikel tulisan Wimar... baru balas membuat artikel yang worthed di publish...

    apa anda hanya sedang disuruh mencari kambing Hitam ;>
  13. From Aip on 23 October 2008 13:47:45 WIB
    hubungan jumlah tenaga kerja dengan nasionalisme itu dimana?

    bisnis adalah bisnis, mencari untung dan butuh tenaga kerja. that's just that. so what gitu?

    inti masalah adalah saat binis sedang susah kemudian meminta negara (rakyat) yang menanggung.

    btw insiden bakrie enggan bayar pajak impor, is it for real? jika ya, dimana nasionalismenya?

    bisnis adalah bisnis, bung!
  14. From wan samry on 23 October 2008 14:46:42 WIB
    Lalu Maria Satria Wangsa, boleh juga. Logikanya masuk akal. Saya pikir pula saya sebagai dosen, hampir tidak ada memperkerjakan orang lain, membiayai pembantu saja susah. Berarti saya memang tidak nasionalis nih, sebab hanya mengajaaar saja sepanjang massa. Sama dengan Oemar Bakri yang melahirkan Habibie. Kalau begitu pengusaha-pengusaha besar beserta agen-agenya yang mempekerjakan jutaan penganggur Indonesia lebih nasionalis yaa? Kalau begitu kita mesti meredefinisi nasionalisme lagi nih.
  15. From Hasmi on 23 October 2008 14:56:20 WIB
    Inilah repotnya hidup di negeri ini, terlalu banyak orang yg hanya bisa memberi komentar negatif. Maklum masih euforia dari kebebasan yg kebablasan. Kebanyakan orang masih menilai bahwa kebijakan para pengusaha besar/konglomerat tsb hanya berdasar profit seeking, tanpa menghiraukan biaya sosial. Salah.... kita memerlukan seratus, ribuan orang macam Bpk. Aburizal Bakri.
  16. From Clara Lila on 23 October 2008 15:18:19 WIB
    saya satu dari puluhan orang pegawai Wimar Witoelar (Bukan ratusan dan bukan ribuan bukan puluhan ribu).

    Tapi bagi saya dia nasionalis sejati, karena lewat tulisan2nya dia mencerahkan pikiran saya dan saya yakin banyak orang lainnya (mungkin ratusan, ribuan maupun jutaan) akan pentingnya nurani dan etika dalam berusaha dan bersuara sebagai Warga negara Indonesia.

    Saya juga tim kreatif TV Wimar yang ratingnya hampir Nol kata Pak Lalu. Tapi saya senang, karena di TV talkshow itu saya bisa membantu mengkomunikasikan masalah-masalah/isu di Indonesia: a.l. peristiwa Mei 1998, pencerahan Pemilu 2009 untuk orang Biasa, belum tuntasnya Malaria sebagai salah satu penyakit di Indonesia, dan sebagainya.

    menurut Pak Lalu, rating lebih penting dari isu2 kesejahteraan sosial itu ya?
  17. From Berlin Simarmata on 23 October 2008 15:50:51 WIB
    Saya secara pribadi mengenal Izal dan Wimar dari dekat pada saat kami kuliah sama-sama di ITB,jurusan Elektroteknik.Sepengetahuan saya mereka berdua teman baik.Sama-sama aktivis mahasiswa,hanya Izal lebih terikat kepada satu kekuatan politik,yaitu Golkar dan dengan tekun meneruskan usaha ayahandanya PT Bakrie,sementara Wimar adalah seorang idealis,bebas tanpa ikatan dengan satu kekuatan tertentu,makanya dia cocok dengan Gus Dur,ada juga unsur senimannya.Pada hakekatnya sebenarnya orang dua ini pejuang,nasionalis,hanya jalan yang mereka tempuh berbeda.Hal ini bisa saja terjadi,karena pengaruh waktu dan tempat.Jangan risau,mereka temanan kok,hanya beda pandangan,dan hal itu sah saja.
  18. From LEY on 23 October 2008 15:54:32 WIB
    Nasionalis itu apa sih? Coba kita bandingkan keadaan sbb:

    Kita coba ingat kejadian kasus Bank Summa, terlepas dari apa faktor penyebabnya, tapi cerita akhir yang kita tahu adalah Oom william rela kehilangan sahamnya di Astra, perusahaan yang dibangun dari nol dan menjadi perusahaan yang besar dan diakui reputasinya (juga mempekerjakan puluhan ribu karyawan), demi memenuhi personal guarantee-nya.



    Bagaimana mana dengan kasus Lapindo?
    Bagaimana kelanjutannya?
    Sudah jadi kasus "bencana alam" yg menjadi tanggung jawab pemerintah?
    Dimana komitmen Bakrie Grup?
    Berani seperti Oom William?

    Daripada berdebat ttg nasionalis, lebih baik buktikan dengan tindakan nyata.
  19. From novan on 23 October 2008 15:55:21 WIB
    ngomongin Bakrie dan Wimar seperti membandingkan semut putih dengan gajah serakah.
  20. From andien on 23 October 2008 15:56:38 WIB
    Hellooo...
    Staf Menkokesra kok ngurusin beginian, emang merangkap PR-nya Bakrie???
    Pantessss, negeri ini gak maju-maju...
    This is the real fact!!!

    PS:
    Masih banyak pengusaha di negeri ini yang memperlakukan pekerjanya seperti budak. Ternyata, perbudakan tetap merajalela dengan berkedok: demi kemajuan perusahaan kita. Kita??? Elo aja ama ****

  21. From dinydolz on 23 October 2008 16:29:22 WIB
    pak Lalu waktu mau nulis ini dan kirim sebagai satu halaman full di harian sindo apakah ndak dipikir dulu ya?!!

    sadar atau nggak, pak.. apa yang sudah bapak tulis? ck,ck,ck...
  22. From Herman Saksono on 23 October 2008 17:10:48 WIB
    Begini, meminta 200 juta penduduk Indonesia menanggung kelalaian dan ketidakcakapan segelintir manajemen Bakrie sangatlah tidak nasionalis.

    Menggunakan 70 ribu karyawan Bakrie sebagai tameng atas kelalaian manajemen Bakrie, menurut saya, bisa disebut pengecut nomor satu.
  23. From Sugeng Hariyanto on 23 October 2008 17:26:46 WIB
    Pak Wimar... kira-kira jawaban Pak Wimar apa? saya juga kaget.... ko ya bisa pejabat kita menjawabnya..... mengubungkan antara nasionais dengan meperkerjakan warga negara......,

    Andaikan pak Bakri.... diberi semangat oleh Pak Wimar untuk memberi lapangan pekerjaan kepada para korban Lapindo..... wah sangat nasionalis bener Pak bakrie.....

    ya To Bung Kriting
  24. From denny samboh on 23 October 2008 17:38:07 WIB
    Luar biasa MENGENASKAN!! Di jaman seperti ini masih ada orang yang menilai nasionalis hanya dari JUMLAH karyawannya. Wajar saja negara kita susah majunya, kalau staff menteri saja pola berpikirnya kalah sama anak SMA. sungguh MIRIS....semoga itu benar2 hanya opini "bapak staff" saja...bukan karena disuruh apalagi menjilat atasan. Ya semoga...dan semoga tidak ada orang lain lagi di negara ini yang berpikiran "rendah" seperti "bapak staff"...
    Ratusan warga bahkan ribuan kehilangan tempat tinggal, aset perekonomian, pekerjaan dan anda yang notabene sbg staff Menteri tetap menilainya sebagai nasionalis???? Check 'ur self!!


    Memang asyik seperti mas WW, paling enak jadi orang biasa, yang bisa berguna untuk sesama...dan itulah WW, tidak perlu label NASIONALIS, tp cukup jadi orang biasa namun mempunyai KARYA, IDE, PEMIKIRAN, ENLIGHTMENT yang LUAR BIASA berguna bagi sesama, bahkan untuk negara ini.
    GBU mas WW!
  25. From yogi on 23 October 2008 18:18:25 WIB
    Pengusaha sebagai salah satu motor agar perekonomian nasional tetap berjalan. Ada saat moment mendapatkan keuntungan yang besar, kadang kala mengalami keterpurukan. kondisi saat ini sebagai imbas ekonomi global yang di inisatori AS, dan pemegang modal memegang peranan penting untuk mengendalikan ekonomi. singkatnya, pemegang modal/pembeli memegang kendali atas harga yang diasumsikan para petani. bila dikaitkan dengan kondisi riil, seperti perkebunan sawit, jelas mereka/petani tidak bisa menjual tanpa ada pembeli, dan saat-saat inilah kapan membelinya seolah-olah hampir 100% tergantung para pemilik modal besar yang memainkan peranan. contoh lain, harga minyak kemarin melambung tinggi, padahal simpel antara produsen dan konsumen secara langsung bisa melakukan penawaran, tapi pihak ketiga bisa begitu bisa memainkan harga sedemikian rupa. artinya, pengusaha nasional/Indonesia masih ada ketergantungan dengan pasar asing/si pembeli, si pembeli inilah yang memanfaatkan momentum ini, produk contohnya sawit dibeli atau tidak, nah ketika tidak ada pembelian..harga akan jatuh..dan petani kalang kabut.. ditambah lagi harga BBM tinggi yang mengimbas ke semua sektor.. untuk menjangkau ini, selayaknya langkah bijak menurunkan BBM( bahan bakar minyak) diharapkan daya beli msayarakat akan meningkat..artinya mampu mencukupi ekonominya sendiri-sendiri.. dan mencermati tulisan pak Wimar, yang mnyerang pihak tertentu (Bakrie Group) ditakutkan akan berbalik kembali ke kredibilitas pak Wimar terkait koment nya terhadap grup tersebut. melihat kondisi saat ini, penyelamatan lebih penting dari pada penghujatan.. seperti kasus lumpur lapindo, yang sebelumnya skenario penyelamatan/relokasi sudah terencana sementara karena kondisi politis segala macam rencana tersebut dibelokkan dan skenario penyelamatan penduduk tidak terealisasi. momen untuk mendiskreditkan korporasi pada saat ini tidaklah tepat dan bukan langkah bijak, mengingat masyarakat, pekerja, pengusaha, negara sebagai stakeholder yang harus dibangun bersama-sama, dan kontrol bersama.. intinya, dengan kondisi ekonomi yang murah, masyarakat bisa menjangkau, salah satunya aksi penurunan harga minyak (BBM) pun jangan sampai ditunggani tendensi politis, contohnya bila terjadi penurunan harga BBM menjelang pemilu, diharapkan menjauhkan persepsi negatif masyarakat terhadap pemerintah. pak Wimar, yang boleh sedikit tahu, bahwa beliau adalah orang yang berwawasan luas, dan pernah menjabat di posisi pemerintahan.. sangatlah bijak bila beliau mmemberi ide-ide solutif tentang negeri ini.. spassiiba (terima kasih).
  26. From ardyansah on 23 October 2008 18:33:36 WIB
    wah kena counter attack ya pak. dasar bakri gemblung. ra duwe isin !!!
  27. From yogi on 23 October 2008 18:37:27 WIB
    masyarakat, pengusaha, pemerintah adalah stakeholder untuk membangun roda ekonomi berbangsa dan bernegara, artinya ketiganya adalah pendukung..nah ketika salah satu dihujat..pincanglah stakeholder itu.. masyarakat yang beberapa sebagai karyawan/pekerja sehingga ditampung oleh pengusaha dalam artian pemilik modal, dan diatur dalam aturan mainnya yakni pemerintah sehingga pembangunan yang berkesinambungan akan tercipta.. melihat kondisi saat ini, mana yang patut dipersalahkan? yang dipersalahkan adalah pihak yang memainkan/menggelincirkan ekonomi berjalan dengan semestinya, artinya ada pemain yang memainkan harga-harga komoditi begitu rendah seperti sawit saat ini, kalau tidak ada pembelinya petani tidak bisa berbuat apa2..nah pemerintahlah diharapkan memberi kebijakan solutif.. bukannya menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) yang menyebabkan harga-harga meningkat.. terjangkaukah daya beli masyarakat???.. pak Wimar dalam dalam mengkritisi pihak Bakrie tidak salah tapi tidak begitu bijak? kenapa, beliau yang posisinya sekaliber orang panutan, pemikir hendaknya tidak mendiskreditkan agar nama beliau terjaga.. lebih baik memberi ide yang solutif mengenai kondisi apa yang disebut krisis finansial saat ini..
  28. From Muthia on 23 October 2008 18:39:51 WIB

    Ada orang yang benar

    Ada orang yang salah

    Ada juga orang yang salah lalu melakukan pembenaran
  29. From nata on 23 October 2008 18:53:33 WIB
    hah semua pintar bicara, pintar memutarbalikan fakta, mana yang benar dan mana yang salah kita tak pernah tau, semuanya punya kepentingan-kepentingan tertentu yang tentu saja menguntungkan segelintir orang, namun pada akhirnya yang jadi korban ya wong cilik....
    masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini sering dibahas di forum terbuka, namun tidak pernah ada usaha untuk menyelesaikannya....OMONG-OMONG DOGEN BOSS!! SING ADE APE...
  30. From sri on 23 October 2008 20:08:19 WIB
    hemmmm
  31. From Chandra on 23 October 2008 20:12:58 WIB
    By definition inilah sebagian dari daftar nasionalis2 tulen: Edy Tansil, Aburizal Bakrie, Tommy Suharto, Syamsul Nursalim, Atang Latief, Agus Anwar, Ulung Bursa, Marimutu Sinivasan. Dan inilah orang2 yang tidak nasionalis: Tukang tambal ban, Munir (alm), Teten Masduki, Tukang Bakso, Wimar Witoelar, Marsinah, Arief Budiman, Usman Hamid.
  32. From Fendy on 23 October 2008 20:56:41 WIB
    Emangnya Bakrie sanggup dengan memperkerjakan semuanya tenaga kerja asing...???
    namanya juga prinsip ekonomi.
  33. From Fajar Sumargo on 23 October 2008 22:18:07 WIB
    Bang Wimar, kami ada dibelakangmu!! Bakrie sotoy!!
  34. From Bang Yos on 23 October 2008 23:20:24 WIB
    Kanapa repot-repot mikirin siapa yang lebih nasionalisme...
    yang penting adalah ada rakyat yang bisa menikmati;
    coba aja.. semakin banyak pengusaha pribumi; semakin banyak juga pengangguran berkurang;; bayangkan.. klo pengusaha di indonesia 20 % aja dari Penduduk Indonesia; dan memberikan lapangan yang padat karya; nahhh... jadi yang nasionalisme itu apa orang pengusaha...apa orang males? hidup pengusaha lah....
  35. From Sayuti on 23 October 2008 23:27:46 WIB
    pada dasrnya bakrie Itu Pengangkat Martabat bangsa.. Berkomitmen dlm membantu masyarakat.. Mana ada perusahaan swasta d dunia menyumbang Rp5T utk masyarakat hanya karena demo lokal dan himbauan pemerintah.. lapindo... coba deh kesana... lihat...jgn di tv aja.. kenapa mereka telantar.. apa belum kebagian jatah apa emang sengaja pada datang dan mengaku korban juga..Bersyukurlah masyarakat Indonesia..
  36. From alof on 24 October 2008 00:01:04 WIB
    logika yang menakjubkan!

    jika kita gunakan logika tersebut, maka kita bisa menyatakan bahwa pemerintah arab saudi lebih nasionalis tinimbang pemerintah indonesia. juga malaysia. sebab mereka sanggup menyediakan lapangan kerja yang tidak sanggup disediakan oleh pemerintah indonesia.

    nasionalisme? mahluk apa pulakah itu?
  37. From amada on 24 October 2008 00:26:08 WIB
    berartikel boleh aja...infonya akurat engga...kalo cuman perkiraan tanpa bukti otentik..misalnya data keuangan atau pembicaraan telepon tentang sesuatu rembukan..salah2 jadi fitnah..hati2 wahai orang indonesia...jagan suka bertengkar karena hanya opini...ingat2...masih banyak pengangguran dan kemiskinan..itu yang patut di cermati bukan opini seseorang...peace
  38. From dmitri on 24 October 2008 02:35:38 WIB
    @Lalu Mara

    membaca tulisan di sindo, kayaknya anda sudah terlalu dikontaminasi buku-buku aneh deh. gak usah pusing soal ekonomi. ini aritmetika biasa, bukan aljabar atau snobbism lainnya. grafik tangen anda tidak akan menghasilkan lapangan pekerjaan baru, tapi pasti akan membuat market bubble baru. jangan khawatir. kalau satu grup konglomerasi runtuh karena salah perhitungan, dan pegawainya hilang pekerjaan, bukan berarti pegawai2 tsb terus gak bisa mengembangkan usaha yang lebih kecil dan mendapat mature investor (dengan investasi awal yang rendah) dari orang2 lain yang tidak bangkrut waktu terkena krisis.

    Grup Bakri justru menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana harus kembali ke posisi diatas kalau seandainya harus melewati masa sulit. sehingga diambil jalan pintas dengan bantuan SBY. tidak ada salahnya memang. tapi SBY ampun-ampunan salah.

    seperti anda, saya juga melihat hidup itu positif kok. selalu ada kemungkinan untuk sukses setelah kebangkrutan. jadi, jangan takut bangkrut. malah anda dapat simpati publik kalau bisa naik lagi. itulah mature investor. bangkrut tidak nangis, dan tidak minta bantuan. good luck.
  39. From dmitri on 24 October 2008 02:42:41 WIB
    @ Wimar Witoelar

    the less the rating, the more the meaning. orang yang bisa menilai kontribusi anda memang jarang nonton teve, dan yang sepantasnya belajar dari anda, tentunya mereka-mereka yang memasukkan nonton sinetron ke dalam hariannya... sambil menulis kesan dan pesannya dalam diary mereka. memang musik berkualitas cenderung rada off beat kok. tanya aja sama penyelenggara festival2 Jazz Jakarta.

    as for rating, setujukah anda, bahwa kalau keluarga Bakri bikin acara relity teve (jangan2 ada) atau main sinetron di ANTV, ratingnya bakal paling tinggi? well, they could've done that instead of asking for bailouts.
  40. From albertus on 24 October 2008 03:44:23 WIB
    Aneh, memangnya kalau bisa menciptakan lapangan pekerjaan dapat langsung dilabel Nasionalis™? Semakin banyak memperkerjakan, semakin Nasionalis™ juga seseorang? Orang semacam ini kok bisa jadi 'staf khusus'?

    Dan ini lagi, ternyata conflict of interest sudah melebar kemana-mana, bukan Menterinya saja. Kalau begini, mau menterinya diganti mah juga tidak banyak pengaruh, anak buah sudah disebar masuk merajalela.

    Btw, bung Wimar juga santai saja, kalau perlu tembak lagi. Mendiskreditkan pribadi seorang kritikus itu juga salah satu jurus perusahaan-perusahaan untuk mematikan kritik. Jangan mau kalah.
  41. From nowhereman7 on 24 October 2008 06:26:57 WIB
    .........berharap posisi pak bakrie sebagai negarawan saat ini menunjukan lebih banyak pengorbanan bagi negeri ini ketimbang sebaliknya......

    .......artikel Pak WW dan forum ini utk mengingatkan sekali lagi bahwa Bp. Aburizal bakrie as statesman and not as entepreneur, sangat sulit memang tapi kalau posisi yg diambil jelas, pilihan yg diambil juga lebih jelas dan akan menghasilkan kekaguman dan hormat luar biasa, bahkan boleh jadi naik tingkat spt jusuf kalla pada zaman megawati....jadi laksanakan dgn baik amanat negara dan rakyat, Bapak Menteri....it is not over yet.
    thx.

    ttd
    rakyat bukan karyawan...

  42. From Ludjana on 24 October 2008 09:41:35 WIB
    Mungkin ini menghasilkan record dalam jumlah reaksi ...... yang senada: ialah tidak setuju dengan bailout.
    Mudah mudahan dibaca semuanya oleh Staf Khusus Menko Kesra, Lalu Mara Satria Wangsa, sehingga dia bisa insyaf.
    Dia perlu tahu apa itu nasionalisme, dan apa yang menentukan standard tayangan TV.
    Juga kalau mebandingkan harus nya "apple to apple", jelas kalau talk show itu akan kalah ratyingnya dengan sinetron.
    Ini hanya dua aspek saja.

    Menyinggung "job" WW di AnTV pun cara yang tidak fair untuk menyerang. Sehingga orang jadi curiga apakah kelompok dialah yang menghentikan siaran talkshow WW itu. Sebab banyak sekali yang menyenanginya, termasuk pejabat pejabat tinggi.
    Tetapi tentu saja ada yang punya kuasa takut tersinggung dengan acara itu kalau diteruskan, kaerena WW tidak pilih bulu dalam menyampaikan kritikan.

    Go On, WW




  43. From mas Irwan on 24 October 2008 10:55:14 WIB
    Weleh-weleh pak MenkoKesra koq buntu.?!?!

    Intinya, kalo nga punya uang, lebih malu:
    -nyuri tabungan anak orang, beli permen, untuk bohongin anak kecil kalo kamu bawa hadiah pake uang curian itu
    -mendingan jujur, ngaku nga punya uang, dan belon bisa memberi sama sekali.
    Ini kan yang dilakukan Bakrie:Bail-out disaat susah pake uang pajak rakyat, tapi dibela2 pak MenkoKesra kalo beliau nasionalisme menciptakan pekerjaan untuk rakyat. Loh uang rakyat yang di-'curi' toh... nasionalisme dimana?

    Koq nga malu?
  44. From Irfan Sofani on 24 October 2008 13:14:21 WIB
    Saya masih miskin dan ingin seperti Bakrie (yang kuaya raya!). Nah dalam mengejar kekayaan agar seperti Bakrie, apa saya dari sekarang mikirin nasionalisme? Ato tergerak utk membukan lapangan kerja bagi sekian ribu rakyat? Ya ngga lah. Emang saya kepengen kaya aja. Rakyat ya ga ada urusan. Kalo pun ada ya itu nanti urusan belakangan, pas saya lagi butuhin mereka.

    Jadi logika "kalau saja orientasi Keluarga Bakrie hanya sekadar kepentingan pribadi, tentu akan lebih baik Keluarga Bakrie tidak mengembangkan usaha apa pun dan tidak perlu terlalu peduli untuk ikut menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang di Republik Indonesia." Aih, aih...Basi loe!

    Hidup mah biasa-biasa aja lah Pak. Dari dulu ya gitu-gitu aja. Makanya dalam Qur'an suci disebutkan, "Maka hadapakanlah wajahmu pada Fitrah Allah. Tak ada yang berubah pada fitrah tersebut." Eloe si mau ngelawan nature terus. Jadi aja Lapindo mbledug.

    Ngomong-ngomong esia sering putus ditengah jalan (supaya balik ke pulsa nol lagi tanpa tarif promo) dan sms harus berkali2 sent baru nyampe. jangan-jangan cari dana dari situ juga ya?
  45. From paul on 24 October 2008 15:10:05 WIB
    klo gitu....kakek gue yg jadi guru lebih nasionalis.

    mari kita hitung.
    selama mengabdi jadi guru telah menghasilkan kurang lebih 1001 sarjana yg tersebar diberbagai pelosok Nusantara.
    setiap orang.., punya anak bini, punya perusahaan dan punya binatang ternak yg kotorannya dimanfaatkan oleh petani sebagi pupuk dan berasnya dimakan oleh jutaan ummat Indonesia.
    weeee... bingung coy ngitungnya.
    yg beginian.. juga ga bisa dihitung pake sistem matrik dan rumusnya einsten.
    Dan ternyata NASIONALISME itu tak nempel di jidat. namun didalam dada.
    salam.

  46. From Joe on 24 October 2008 16:20:38 WIB
    Staf Menko kesra Lalu itu kagak tahu dan belajar dari sejarah. Dulu Bakri juga ketolong dikasih penghapusan hutang sama BPPN karena banknya (BNN) dan grup Bakri terlilit hutang. Eh sekarang juga begitu lagi. Weleh weleh padahal jumlah penghapusan denda hutang saat diberi BPPN kalau dikasih buat korban Lapindo udah lebih dari cukup. Kualat deh.
  47. From yasir on 24 October 2008 16:35:33 WIB
    LALU lalang di jalan kekufuran
    siap2 aje kena batu panas dari MALIK
    hahahahaha
  48. From treespotter on 24 October 2008 19:31:06 WIB
    Pak Wimar, (pardon all for using english),

    Apologies for jumping the gun, but my response to Mr. Lalu Mara is online @ hukumonline at the moment (addressed to both of you)

    http://en.hukumonline.com/app/dms/browser/detail/guid/lt4901923925bee

    my two cents worth :)
  49. From Robert on 24 October 2008 20:02:53 WIB
    Staf Menkokesra yang bodoh.....apa pula urusannya mengklarifikasi, anehh !
    Keliahatan banget gaya menjilatnya, supaya dikasih naik pangkat.
    Pak Lalu, punya harga diri dong sedikit...!
  50. From sof on 24 October 2008 23:48:10 WIB
    ah..kapan ya negara kita bebas dari/tidak lagi diurus oleh orang2 bodoh dan rakus macam mereka...

    BUat ww, kami orang biasa mendukung anda untuk terus menyuarakan kebenaran...
  51. From ivie on 25 October 2008 10:00:31 WIB
    staff menko ga pernah belajar bahasa indonesia buat menulis dengan halus dan diplomatis yah?

    ngaish kerjaan ke masyarakat kalau nasionalis berarti smeua perusahaan asing di indonesia juga nasionalis lah wong ngambil tenaganya org indonesia. Sama kan dengan bakrie hehehe..

    Kalau bakrie nasionalis harusnya korban lapindo itu yg diurusin bukannya ngemis ma pemerintah buat ngurusin. hehehe maap kalau ngelantur...
  52. From soup on 25 October 2008 12:54:43 WIB
    pak Lalu opini mu emang terlalu..
    bikin rakyat jadi maluuuuuuu..

    emosional....salah tafsir lagi....PAYAH

    kami ingin orang sepertimu
    cepat berlalu..


  53. From Zulfi on 25 October 2008 13:57:27 WIB
    Berarti kalo ga bisa mempekerjakan orang banyak tu ga nasionalis berarti? logika yang dangkal sekali...


    Bakrie emang bisa mempekerjakan puluhan ribu orang, tapi hitung juga berapa ribu bahkan ratus ribu orang yang ikut menderita gara2 Lapindo...
  54. From Cemeng on 25 October 2008 16:11:10 WIB
    kalau standar nasionalisme seperti ini, kita perlu mohon maaf kepada pak karno dan pak hatta (yg selama hidupnya, belum kedengaran punya tenaga kerja). \"Pak, maafkan rakyat bapak ternyata bapak berdua tidak lebih nasionalisme dari BB\"
    Bravo WW
  55. From adamssip on 25 October 2008 18:43:33 WIB
    MANUSIA BUKAN BARANG DAGANGAN YG BISA DIPERJUALBELIKAN DEMI ALASAN PENINGKATAN PRODUKSI & KEMAPANAN PERUSAHAAN - PENGUSAHA - PENGUASA!!!
  56. From imung on 25 October 2008 19:29:21 WIB
    Pak Lalu,
    Yang namanya orang bikin usaha, selalu perlu "orang" lain sebagai SDM.
    Nah semakin luas usahanya, semakin banyak "untung"-nya, semakin banyak pula SDM yang diperlukan.
    So 35000 - 50000 SDM yang dipekerjakan Bakrie itu tidak secara gratis diberi uang oleh Bakrie, tapi secara timbal balik menghasilkan keuntungan buat Bakrie dengan imbalan gaji.
    Dan maaf, menurut kacamata saya, hal tersebut tidak bisa dipakai sebagai ukuran "Nasionalisme".
    Kalau memang benar seseorang itu berjiwa "Nasionalis", maka dia tidak akan segan untuk mengorbankan apa saja yang dimilikinya demi kepentingan Nasional.
  57. From Rasno on 26 October 2008 00:21:01 WIB
    Memperkerjakan 35.000 orang atau 50.000 bisa bandingkan dengan kerusakan alam akibat Lapindo! Bandingkan pula kerugian materil masyarakat Sidoarjo. Bandingkan pula kesengsaraan korban Lapido yang tidak tahu sampai kapan mereka akan bertahan hidup. Sekarang bulan Oktober dan tgl 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda dimana terdapat sumpah anak negeri yang begitu membelah cakrawala: Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia. Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia. Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Kalo emang Nasionalisme, kenapa dalam setipa pemberitaan media milik Bakrie enggan mengatakan "Lumpur Lapindo", melainkan "Lumpur Sidoarjo"?

    Perspektif Wimar yang bolak-balik tayang dan berhenti begitu saja bukan karena rating. Kalo Rating dijadikan alat ukur, logika macam apa yang akan membawa pada perubahan tayangan bermutu di negeri ini? Seharusnya kita sadar, bahwa rating bukanlah segala-galanya. Di negeri ini semua diukur dengan rating. Pantes aja negeri kita selalu dijejali tontonan tidak bermutu!

    Perspektif Wimar bukan karena rating, tapi ada pihak2 yang tidak suka dengan kritikan yang konstruktif. Iya kan, Pak?



  58. From Peb on 26 October 2008 01:48:26 WIB
    Perbandingannya bukan sebuah grup usaha vs komentator independen, dan pertanyaannya bukan Nasionalis atau bukan, apalagi siapa yang paling banyak membuka lapangan pekerjaan.

    Tapi siapa yang memikirkan nasib orang banyak?
    Bagaimana sikap bakrie group terhadap konsumennya (bakrie telecom) dan integritas dalam memberikan layanan terbaik? Bagaimana sikap bakrie group terhadap pihak yang tidak terlibat langsung tapi mendapat ampas sialnya (lapindo)?

    percuma saja membuka lapangan tapi gersang bak gurun pasir, lebih baik ada secuil area yang jadi oasis.

    [peringatan, tulisan berikut mungkin menyinggung pribadi. saya tidak bertanggung jawab kalau terus dibaca dan akhirnya tersinggung]entah bagaimana bisa staf menko kesra bisa yang membuat pernyataan yang menunjukkan tidak independen dan membuat argumen yang menyerang personal bukan argumen. mungkin itu bukan staf menko kesra tapi staf menko kesri (kesejahteraan grup bakrie)[/peringatan]
  59. From Sari on 26 October 2008 10:11:14 WIB
    Pak Wimar, sebagai orang yg mengikuti perjalanan anda dari thn 1980 kami support integrasi profesional anda. menciptakan lebih banyak lap kerja, bayar pajak lebih banyak bukan berarti lebih nasionalis. Ini sama retorik yg dibajak orde baru, apabila service di militer artinya berhak semena2.(krn lbh nasionalis). Ini bkn soal nasionalis, soal another BLBI, menyelamatkan aset nasional bukan berarti memberi blank check selagi bangkrut.!!!!tanpa management yg profesional,cepat lambat akan di gulung globalisasi.kita lihat saja.
  60. From sen on 26 October 2008 13:12:35 WIB
    Memperkerjakan ratusan ribu orang tapi membuat jutaan di phk karena SBY-Kalla bukannya menyelamatkan perusahaan lain dari bankrut
  61. From Triyatni on 26 October 2008 16:42:37 WIB
    Baru tahu saya kalau ukuran nasionalisme sebatas membuka lapangan kerja. Para maling, para koruptor juga membuka lapangan kerja, tetapi sekaligus secara sadar menghancurkan bangsa. Saya tidak punya karyawan yang banyak, apa itu bisa disamakan bahwa saya tidak nasionalis. Bego amat si staf menko menafsirkan nasionalis dan tidak nasionalis dengan pendekatan yang begitu sempit. Yang nasionalis itu malu melakukan hal-hal tercela yang bisa memberi stigma jelek buat bangsa. Malu korupsi, malu mencuri, malu membodoh-bodohi rakyat, malu pesta pora saat rakyat lagi lapar. Apa itu dilakukan Bakri?

    Wass,
    Triyatni
  62. From Weng Gautama on 27 October 2008 03:23:20 WIB
    Staff Khusus Menko Kesra ... dibayar oleh Negara dengan uang Rakyat, koq kaya gitu ya mutu dan cara pandangnya ... jadi bingung.
    Tapi mungkin benar bila dilihat dari sudut pandang 'Kapitalis - Liberal yang Feodalistik'
  63. From sen on 27 October 2008 04:28:32 WIB
    Apakah itu berarti orang Jepang, Amerika yang invest di Indonesia dan punya ratusan ribu karyawan lebih nasionalis daripada orang Indonesia walaupun mereka jarang di Indonesia ?

    Ada orang Indonesia yang lumayan mampu tapi tidak punya paspor dan selalu berlibur di dalam negeri bersama keluarga. Tapi karena dia cuma karyawan jadi dia tidak nasionalis. Hehehe... 'pintar' sekali staff Menko kesra
  64. From ruben on 27 October 2008 05:25:04 WIB
    Hallo mr lalu,(kalau anda baca artikel ini)perkataan dan tulisan anda sudah dibaca masyarakat banyak,bro! hati-hati ya anda sudah ditandai masyarakat dengan membela mister bakri yang sudah menyengsarakan rakyat di jawa timur..
    saya tidak tahu,apakah matematika dan budi pekerti anda mendapat nilai bagus di sekolah dahulu kala..yang pasti hitungan anda buruk sekali dan budi pekerti anda sangat rendah!! apakah anda tidak bisa menghitung kebaikan apa yg ditunjukkan dari 50.000 orang yg mendapat pekerjaan dari mister bakri dibandingkan jutaan rakyat di jawa timur yang menderita karena kelakuan bos anda??! saya yakin ,sbg staf ahli(?),anda terlibat kelakuan dan tingkah laku buruk bos anda!!INGAT! INGAT!! NAMA ANDA SUDAH DITANDAI MASYARAKAT,BRO! TERMASUK MASYARAKAT INDONESIA DI LUAR NEGERI! NAMAMU SUDAH JADI CERITA BURUK DI TEMPAT SAYA TINGGAL!!! ADIOSSS!!!!!
  65. From Hamim on 27 October 2008 10:37:13 WIB
    Kok belum ada reaksi lagi dari sono ?
    Sedang cari juru bicara yang lebih baik dari pak Lalu ?
    Yang asal ngomong saja, dengan mengguanakan secara salah dalih "nasionalisme" dan "rating"

    Barangkali terpaksa diam, tetapi menggerogoti policy makers kita lebih dari belakang ?

    Media juga cukup bungkem untuk hal yang prinsipiil ini.

    Hidup PO !
  66. From maman sumaman on 27 October 2008 13:47:59 WIB
    Bakrie sekeluarga lebih nasionalis dari Wimar?
    BUKTIKAN BAHWA ANDA SEKELUARGA LEBIH NASIONALIS DARI LAINNYA ! LUNASI HAK-HAK HIDUP MASYARAKAT SIDOARJO KHUSUSNYA DAN INDONESIA PADA UMUMNYA YANG TERKENA DAMPAK LANGSUNG ATAU TIDAK LUMPUR LAPINDO. JIKA TIDAK (ATAU MASIH DENGAN SEGALA MACAM ALASAN), BERARTI ANDA SEKELUARGA HANYALAH BERMASTURBASI POLITIK BERSELIMUT NASIONALISME. TIDAK LEBIH.
    DO'A SELURUH KORBAN LAPINDO MENGIRINGI KEMATIANMU, BAKRIE....INGAT ITU. DAN TUHAN TIDAK BUTA.
  67. From Isye on 27 October 2008 14:44:35 WIB
    Ya ampun Pak Lalu..... yg dikomntarin itu Group Bakrie bukan menkokesra........ kok bisa2nya bapak sebagai bagian menkokesra sewotnya segini..... yg gaji bapak itu negara bukan bakri group.......

    Pak Lalu pls dong kalo mau jawab persoalanya lihat dulu isi pertanyaannya itu apa....... kalo begini cara jawab bapak seluruh jagat Indonesia jg ketawain bapak lagi.

    Lain kali di simak baik2 deh Pak Lalu.

    salam
  68. From mels on 28 October 2008 10:09:00 WIB
    Maksud hati ingin terlihat kritis, tapi jadi kelihatan tidak capable. Apa hubungannya menciptakan lapangan kerja yang banyak dengan nasionalis? Bakrie bisa saja menciptakan lapangan kerja luas, tapi kalau tidak sensitif dengan kesejahteraan rakyat, apakah nasionalis? WW tidak punya lapangan kerja luas, belum tentu tidak nasionalis. Nasionalisme toh bisa berbentuk macam-macam. Ini seperti mencap anak sekolahan yang tidak mau ikut upacara bendera sebagai disnasionalis. Yang dilihat hanya yang di depan mata, seremonial. Orde baru banget!
  69. From FYI on 28 October 2008 18:38:05 WIB
    Saya agak sedih membaca komentar yang dituliskan oleh bapak Staff Menko Kesra. Terus terang saja, ini seperti kambing lawan manusia, anak TK lawan orang dewasa. Saya sangat menyayangkan ternyata komentar dari seorang keluarga yang terhormat seperti Bakrie hanyalah mengukur nasionalisme dari banyaknya orang yang diperkerjakan.

    Bukankah itu seperti menghitung kedalaman laut dari banyak garamnya? Adolf Hitler pernah memperkerjakan banyak orang Jerman, apakah dia nasionalis? Sangat disayangkan, keluarga terhormat semacam Bakrie yang saya sangat kagumi menjawab pertanyaan dari bapak Wimar Witoelar dengan sebuah jawaban yang tidak intelek, tidak masuk akal, dan sangat, sekali lagi saya tegaskan, SANGAT memalukan.

    Kalau begini ceritanya, saya tidak setuju pemerintah menyelamatkan Bakrie Group dengan bail out. Seperti kata ibu Sri Mulyani, ini adalah kesalahan mereka sendiri. Jadi kalau bapak Presiden kita yang terhormat memang pintar, harusnya dia tidak menyelamatkan Bakrie Group. Tapi lain lagi kalau ternyata bapak Presiden memang seorang businessman.

    Bapak Wimar Witoelar memang tidak menciptakan banyak lapangan kerja. Tapi setidaknya secara moral, bapak Wimar sudah menggoreskan sesuatu di hati saya. Karena saya selalu ingat bahwa beliau adalah seseorang yang cerdas.

    Karena beliau terlalu cerdas, saya rasa seorang Staff Menko Kesra bukan lawan bicaranya.
  70. From Simon Peters Manik on 29 October 2008 11:59:21 WIB
    Staf Khusus Menko Kesra, Lalu Mara Satria Wangsa yth:

    Apa ga salah nih job disc nya.
    Atau uda ga ada kerjaan di Menko Kesra, atau Bapak ga bisa bedain mana Urusan Bakrie dan Mana Urusan Negara.
    Kalau Bapak Staff Khusus Bakrie it\\\\\\\\\\\\\\\'s ok. Tapi Bapak BERANI-BERANI komentar masalah Usaha BAKRIE sementara Bapak punya jabatan STAFF KHUSUS MENKO KESRA yang di bayar oleh RAKYAT.
    Pak......SADAR.......SADAR..........BANGUN..........
    Profesional dong Pak.....Apa urat MALU nya uda putus....ya......
    Apa kata DUNIA kalau STAFF KHUSUS MENKO KESRA kwalitasnya...begini.......
    Sebelum bertindak MIKIR...........DONG.
    Kalau Bapak masih punya Moral....Mundur deh


  71. From abdul syukur on 29 October 2008 13:25:02 WIB
    Karena dalih banyak memperkerjakan tenaga kerja itulah salah satunya yang membuat bapak presiden kita luluh dan sedikit menutupi kerusakan yang jauh besar yang telah diciptakan bakrie.

    dan Mister Lalu sendiri ikut dibutakan oleh hal tersebut, masa Nasionalisme itu dilihat dari banyak nya orang-orang yang hanya dipekerjakan. Kakek saya seorang tuan tanah dan banyak memperkerjakan orang diperkebunannya. But saya menganggapnya hal yang biasa saja, karena tujuannya untuk bisnis.

  72. From beruang kutub on 29 October 2008 13:41:02 WIB
    emang ada benernya sih kalo buatin lapangan kerja buat rakyat...
    tapi tanpa rakyat yang katanya banyak diberdayakan oleh perusahaan bakrie, perusahaan itu juga dijamin ga bakal jalan..
    jadi kalo rasa nasionalis diukur dari jumlah orang yang dipekerjakan kayaknya terlalu memaksa...
    lebih baik akui saja kesalahan..
    dan cobalah melihat dari PERSPEKTIF yang berbeda....
  73. From Berto on 29 October 2008 14:26:13 WIB
    Menarik memang mendengar pernyataan staff Menko Kesra bahwa ukuran nasionalisme seorang dilihat hanya dari ukuran berapa banyak ia mempekerjakan orang lain, padahal nasionalisme tidak bisa diukur dari itu saja, nasionalisme juga bisa dilihat dari hal lain,

    Contohnya Pak Menteri pernah menyatakan jika masyarakat tidak bisa beli minyak tanah, lebih baik menggunakan kayu saja. Apa segampang itu Pak?, dimana jumlah pohon di Indonesia sudah semakin sedikit, nanti kalau rakyat mencari kayu bakar dengan menebang pohon, dan menyebabkan terjadinya hutan gundul, rakyat juga yang disalahkan oleh pemerintah. Hal ini juga menunjukkan Pak Menteri tidak berempati terhadap susahnya kehidupan rakyat banyak.

    Lalu bagaimana dengan para pejuang yang mengorbankan jiwa raganya agar negeri ini bisa berdiri?, apakah mereka tidak berjiwa nasionalis?, padahal mereka tidak mempekerjakan orang lain.

    Dan terakhir Staff Menko Kesra ini, kerja untuk keluarga Bakrie atau rakyat Indonesia?, kalau anda mau kerja untuk rakyat Indonesia jangan anda berkomentar atas nama keluarga Bakrie, berkomentarlah yang ada hubungan dengan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
  74. From sandra dewi on 29 October 2008 14:42:35 WIB
    Wah 1. Menko Kesra sepertinya kelebihan Staff Khusus nich. sampai-sampai STAFF KHUSUS MENKO KESRA punya waktu menjawab tulisan Bung Wimar, sementara masalah LAPINDO yang menyangkut kehidupan lebih dari jumlah karyawan Bakrie masih saja belum terselesaikan. 2. Tanya dong Pak pengertian nasionalis itu apa ya? Kalau saya punya perkebunan ganja dengan buruh ribuan orang bisa dibilang nasionalis dong... kan menciptakan lapangan kerja juga?
  75. From bimo on 29 October 2008 16:14:56 WIB
    Bakrie dr dulu emang keliatan kapabilitasnya jadi mentri..apalgi stafnya yang asal " njeplak " ( bahasa jawa )/asal ngomong,..mirip banget dengan bos yang " sang mentri "
    Maaf pak Staf, anda kan orang lombok, mana ngerti bahasa Jawa..?
    Oh bp Sby, sampe segitukah kualitas org2 di pemerintahan bp?
    How poor u..
  76. From Dhemy on 30 October 2008 09:25:40 WIB
    Nasionalis tidak dapat diukur dengan kekayaan pak.....
    setiap orang mempunyai rasa nasionalis masing masing yang dapat dilakukan demi negara dan tidak mengharapkan imbalan
    Pejuang tidak butuh uang yang banyak untuk menunjukkan nasionalisme mereka, darah dan nyawa mereka jauh lebih besar nilainya dari semua harta bapak.....
    Ustadz yang berusaha membuat murid - muridnya memahami nilai nilai agama agar tidak melakukan suatu kegiatan yang merugikan negara maupun lingkungan sekitarnya juga sangat nasionalis bukan......(walaupun tujuaannya mencari pahala akhirat)
    Timnas sepakbola kita di piala asia bermain seperti berperang melawan penjajah, berusaha agar bendera merah putih tetap berkibar samapi kompetisi selesai dan teriakan INDONESIA INDONESIA tetap membahana di senayan juga nasionalis
    Kami tidak butuh menyembah menyembah Grup bakrie kami juga tidak akan meneriakkan atau menghormati grup bakrie
    Ini NKRI bukan Negara Bakrie
    Presiden kami yang begitu baik itu milik kami rakyat indonesia BUKAN MILIK BAPAK
    Kalau bapak nasioanalis sejati dan pengusaha sejati seharusnya bapak bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah bapak perjuangkan walaupun tiu harus menyebabkan bapak kehilangan posisi bapak di posisi orang terkaya nomor satu di indonesia menjadi yah ga tau lah mungkin nomor sepuluh toh bapak tetap menjadi ORANG KAYA dan bapak masih bisa bangkit dengan sumber daya yang begitu melimpah, sama seperti pejuang pejuang kita yang begitu nasionalis rela kehilangan anggota tubuhnya demi Tanah Airnya karena mereka tahu potongan tubuh mereka hanya bagian kecil dari sebuah masa depan untuk anak cucu mereka atau bahkan kita kita yang hidup dengan nyaman yang bahkan tidak mereka kenal sama sekali
    DIMANA RASA NASIONALISME ANDA BUNG
    UNTUK BAPAK STAFF AHLI MENKO KESRA ---->>>> KITA HIDUP UNTUK MEMBELA YANG BENAR BUKAN YANG MEMBAYAR KITA (KALAUPUN BAPAK INGIN MEMBELA YANG MEMBAYAR BAPAK MAKA BELALAH RAKYAT KARENA KAMI YANG MEMBAYAR BAPAK LEWAT PAJAK YANG KAMI BAYAR DAN BAPAK NIKMATI MELALUI GAJI DAN TUNJANGAN BAPAK)
    KATA ANAK GAUL SEKARANG CAPE........DEH............
  77. From Jauhari on 31 October 2008 08:41:24 WIB
    Negeri ini sedang NGERI.. semoga yang diatas MAHA TAHU dan bisa memeberi SENTILAN
  78. From dwipo on 31 October 2008 11:19:53 WIB
    Saya kira Wimar Witoelar lebih nasionalis. Memang WW tidak banyak mempekerjakan orang hingga ribuan, tapi melalui tulisan-tulisannya bisa menginsprirasi orang-orang untuk berbuat lebih baik.
    Guru yang memberikan ilmunya jauh lebih baik daripada pengusaha yang mempekerjakan ribuan orang tetapi tetap mengambil uang rakyat.

    With few good words, we can chance the world (from Charlotte's web)
  79. From mansur on 31 October 2008 11:24:47 WIB

    Nasionalis tidak dilihat dari banyaknya jumlah karyawan yang dipekerjakan, tapi dilihat dari sikap dan sosok pribadi yang memang layak menyandangnya.
  80. From Adji on 31 October 2008 16:04:26 WIB
    TV Rating ?
    Please pak LALU.......

  81. From Fahrul on 31 October 2008 16:54:41 WIB
    Menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang? Please deh Pak Lalu. Bapak bikin tulisan atau mesin waktu? Kata-kata Bapak membawa orang kembali ke jaman dulu alias jadul. Basi banget!
  82. From tito on 01 November 2008 14:42:50 WIB
    analogi yang aneh....
    Mmm, kalau di hitung dari jumlah akryawan, berarti perusahaan asing di indonesia itu nasionalismenya terhadap indonesia tinggi ya?!
    huh.... cape deh
  83. From frans on 02 November 2008 10:55:29 WIB
    nasionalis..??? pak Lalu ngerti gak arti frase kata NASIONALIS?? bisa bedakan broker hutang dengan pengusaha gak?? la wong bosnya menggedekan perusahaan melalui utang.. perilaku broker pada umumnya keliatan banget ketika mau beli herald... lalu pak Lalu mo nulis apa lagi???

    contoh dong perilaku pak Ciputra..terhormat dengan membesarkan perusahaan secara organik, hutang udah lunas..BAKRIE & Fam???
  84. From anton on 02 November 2008 12:49:43 WIB
    Mr. Bata jauh lebih nasionalis dari Bakrie sejak lama karena telah memberikan pekerjaan bagi bangsa Indonesia untuk jadi buruh sepatu.

    Mr. Honda bahkan orang paling nasionalis se Indonesia karena dia merekrut ratusan ribu orang dalam pekerjaan bahkan jutaan orang Indonesia tergantung dalam industri Astra-Honda di Indonesia.

    Saya heran dengan orang seperti Mara, kualitas intelektualitas rendahan kok bisa jadi Staf Ahli Menkokesra? Simplifikasi nasionalisme dengan hanya menjadi mandor-mandor kapital jelas merupakan pameran kebodohan paling besar di negeri ini. Dan ditunjukkan tanpa rasa malu.

    Esensi Nasionalisme bukan soal pada penguasaan Kapital tapi juga masalah distribusi kapital, dan yang terpenting dalam konteks nasionalisme Indonesia adalah membentuk Ruang Distribusi bagi terselenggaranya keadilan Kapital. Bakrie jelas-jelas telah melakukan Cornering Kapital yang luar biasa dengan melakukan Utang, yang cilakanya bisa-bisa rakyat Indonesia yang tiada menahu apa apa disuruh membayar utangnya Bakrie.

    Nasionalisme jelas masalah kesadaran, bukan masalah logistik, kalo Nasionalisme diarahkan masalah logistik silahkan jilat Pantat Orde Baru sepuas-puasnya, karena Orba-lah yang mengajari itu. Apa yang dilakukan Wimar adalah membangkitkan ruang kesadaran pada parameter-parameter Nasionalisme, ini yang menjadi ukuran, Bung! bukan soal bangun pabrik dan buat tenaga kerja. Kalo cuman itu Koh A Bun jauh lebih jago ketimbang Bakrie, yang tidak dengan utang membangun pabriknya dan tidak menyusahkan masjarakat.

    ANTON
  85. From BUDI HERPRASETYO on 02 November 2008 20:55:14 WIB
    LOWONGAN PEKERJAAN

    DIBUTUHKAN :
    SEORANG PENGUSAHA DENGAN KUALIFIKASI SBB :
    - USIA TIDAK PENGARUH
    - MAMPU MEMBERIKAN KEUNTUNGAN DENGAN PORSI LEBIH BESAR PADA KARYAWAN.
    - MAMPU MEMBERIKAN SEBAGIAN BESAR SAHAMNYA KEPADA ORANG MISKIN
    - TIDAK MEMPERBUDAK ORANG YANG BEKERJA DI PERUSAHAANNYA
    - TIDAK MENYURUH ORANG ATAU STAFFNYA UNTUK MEMBELA DIRINYA, DAN
    - HATI NURANI SEBAGAI PELITA DALAM BERBISNIS

    KALO ANDA ORANGNYA, SILAHKAN DAFTARKAN DIRI KE BANG WIMAR !

    GIMANA BANG ?
  86. From frans on 03 November 2008 00:35:23 WIB
    eh ada yg tau gak apa respon sby ketika tau ada anak buahnya nulis gak pake mikir..???

  87. From andrie.Web.Id on 03 November 2008 04:40:48 WIB
    HAHAHAHA....
    Satu kata om Wimar....
    ...CUMI...
    CUma MIkirin perutnya sendiri si-Bakrie ini....
    Semoga dy mengerti Bakrie yang lain di Indonesia sedang lelah mengayuh sepeda memikirkan kantongnya yang sudah tidak bisa memberi makan anak istri namun masih dituntut untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Bisa-bisa anggaran si-Bakrie lain ini yang sudah diputuskan negara 20% diberikan untuk mencerdaskan orang-orangnya Bakrie yang memiliki kuasa atas negara ini (tapi tengah BANGKRUT)...
    Jalan terus perspektif yang lebih tajam (terutama kehancuran Bakrie dan jangan menggerus Indonesia-ku Indonesia kita).
  88. From Chiphie on 04 November 2008 10:33:54 WIB
    Setelah baca komentar si pak lalu ini, aku cuma kepikiran satu : Ini orang kayaknya jawabnya nyolot alias tersulut emosinya. Padahal jabatannya Staf Khusus Menko Kesra ..emang dia ada hubungan apa sama Bakrie ya sampe nyolot gitu? Keliatan ga profesional, ga bijak dan ga santun deh. Kalo pejabat di pemerintahan modelnya seperti pak Lalu gini, gimana Indonesia mau maju ?

    Semoga si pak Lalu itu sempat membaca komentar saya berikut ini :
    Nasionalisme itu ga bisa diukur pak Lalu ..setiap orang punya cara tersendiri untuk merefleksikan ke-nasionalisme-annya. Kalo diukur dari tolok ukur Bakrie, kayaknya lebih nasionalis seorang remaja putri yang saya baca di Kompas hari Minggu, 2 Nov 2008, yang membuka lapanagna pekerjaan untuk anak-anak putus sekolah di tempat tinggalnya di Semarang. Hanya dengan modal Rp.100.000 yang dipinjam dari bapaknya, dia bisa membuka usaha bikin sendal kamar dengan aksesoris gambar koala dan menyerap tenaga kerja dari anak-anak putus sekolah yang tidak punya duit untuk nerusin sekolah. Itu anak ga pake ngutang ke Bank atau ke IMF, malah dah bisa balikin duit bapaknya yang dulu dia pinjam buat modal usaha.
    Harusnya Bakrie bisa berkaca kepada remaja putri tersebut dan belajar bisnis dari dia, supaya ga merugikan duit negara yang harusnya untuk kepentingan rakyat banyak.

    Berpikir panjang dan jauh ke depan deh sebelum menulis atau mengatakan sesuatu, karena penyesalan biasanya selalu datang belakangan.
  89. From faisal on 04 November 2008 12:50:04 WIB
    tugas staf ya memang kayak gitu. bela bos. persoalannya,dia lupa bahwa bos yang dibelanya itu tidak pantas dibela. sudah persis seperti orba...
  90. From Ritmanto Saleh on 04 November 2008 12:53:19 WIB
    Luar biasa! Kesan saya ttg Bakrie yang selama ini memang tak bisa dibilang indah langsung TERJUN BEBAS TAK TERKENDALI begitu saya baca tulisan Staf Menko Kesra yg satu ini. Nasionalis mana yang tega-teganya menyebabkan ribuan rakyat miskin terkatung-katung berbulan-bulan (bahkan sudah masuk hitungan tahun) tanpa tempat berteduh dan masih berusaha lari dari tanggung jawab?
  91. From UmanK on 04 November 2008 21:23:12 WIB
    (waduh terlambat nie..)
    saya rasa tidak ada hubungannya antara kuantitas dengan nasionalisme. Memiliki pekerja/massa banyak tidak berarti memiliki nasionalisme yang tinggi dan memiliki pekerja/massa sedikit bukan berarti memiliki nasionalisme yang rendah. Jika memang itu asumsi Anda, kalau begitu Tan Malaka, HOS Cokroaminoto, dan beberapa pahlawan kita lainnya tidak bisa disebut memiliki nasionalisme tinggi karena tidak memiliki pekerja/massa yang banyak.

    Lalu bagaimana dengan Soeharto yang sama seperti Bakrie, memiliki pekerja.massa yang banyak di berbagai perusahaannya yang dikelola anak-anaknya. Apakah SOeharto dapat dibilang memilki nasionalisme yang tinggi setelah memperdaya kita selama 30tahun lebih? Dan apakah Anda yakin apa yang Bakrie lakukan tidak sama dengan apa yang Soeharto lakukan? Memiliki massa/pekerja banyak tapi pada akhirnya menyengsarakan rakyat seluruhnya?

    Apalah yang bapakLalu Mara Satria Wangsa perbuat demi nasionalisme? saya rasa tidak melainkan untuk bos Anda.
  92. From juswan on 05 November 2008 11:16:56 WIB
    Saya tertawa terbahak-bahak membaca apologia Staf Khusus Menkokesra soal ukuran nasionalisme Keluarga Bakrie yang dibenturkan "apple to apple" dengan Wimar Witular hanya berdasarkan jumlah mulut yang diberi makan oleh Keluarga Bakrie. Pengusaha kalau kagak memberi makan kepada karyawannya ya gak bakal berjalan bisnisnya. Apa itu tolok ukur nasionalisme seseorang? Itu mah ukuran mutu kapitalisme seseorang bung !

    Kalau kualitas argumentasi Staf Khususnya saja model begini ya apa yang bisa kita harapkan dari koordinator kementerian yang bertugas menyejahterakan kita semua. Lha kewajiban menyejahterakan [kembali] komunitas Porong/Sidorardjo yang jadi korban "salah ngebor" saja kagak terurus dan "kesalahan teknis sendiri" malah dialihkan kepada "kesalahan alam" sementara mayoritas geologist dunia menyangkalnya. Bahkan staf Medco jelas-jelas mengakui itu sekedar kesalahan teknis mengebor saja [karena pakai subkontraktor murahan dan gak becus]...
    Dari wacana seorang Staf Khusus Menko tentunya kita menuntut logika dan wacana yang jauh lebih bermutu karena mereka semua dibayar oleh uang rakyat toch...!
  93. From beee on 05 November 2008 16:51:42 WIB
    Hahahahahahah.............Betul2 membuka lowongan kerja...mempekerjakan teknisi baru untuk mengatasi masalah lapindo..
    HEBAT>>>>>
  94. From anggarasakti on 07 November 2008 02:19:27 WIB
    kecil amat otak orang \"pintar\" itu.

    \"nasionalisme = mempekerjakan orang indonesia\"

    ternyata rendah juga ya kualifikasi jadi staf menteri. kalo gitu gw bisa lah ya jadi Presiden.

    vote for anggara 2009
  95. From Jetly on 07 November 2008 08:15:33 WIB
    Weleh-weleh apalagi ini, staf menko omongannya tidak seperti seorang staf menteri. Dengan bangganya menyatakan keluarga bakrie mempekerjakan puluhan ribu orang berarati lebih nasionalis dibanding dengan yang tidak bisa membuka lapangan pekerjaan. Bagaimana dengan para veteran??? yang sudah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan negeri ini, bahkan sekarang untuk hidup sehari-hari saja sudah susah, lebih nasionalis siapa bung, para veteran atau keluarga bakrie???? Mereka (veteran) sudah berjuang demi bangsa ini TANPA PAMRIH... bahkan ada yang sampai cacat seumur hidup... Sementara apa yang dilakukan bakrie hanya untuk memperbesar DYNASTI BAKRIE...??? weleh weleh weleh...
  96. From vodka on 07 November 2008 18:14:14 WIB
    mempertontonkan ketololalan dimuka umum......
  97. From daniel simbolon on 10 November 2008 13:00:59 WIB
    DASAR goblok loe staf,kamu dipaksa kali ya nulis opini tapi gak berbobot.maju terus bang wimar rakyiat mendukung
  98. From Tisna on 10 November 2008 14:44:40 WIB
    Staf dan atasan sama konyol & ngaconya....
    Mbok ya kursus PR dikit-lah spy nggak keliatan "ngaco"nya. Lalu-lalu'in sekalin Pak Malu ini ...
  99. From Andrew Frederic on 10 November 2008 18:07:13 WIB
    Seandaikata Nasionalisme seorang tokoh sama dengan kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja,
    perlulah kita menilik juga akan kualitas lapangan kerja tersebut.
    Dan perbandingan nilai bersih penghasilan perusahaan tersebut, dengan pendapatan perkapita dari masing-masing karyawan.
  100. From Ranetia F on 11 November 2008 12:03:58 WIB
    Kalau memang perusahaan seperti ANTV itu NASIONALIS, kenapa mereka enggak mempertahankan acara om wimar yg jelas2 bisa secara positif memberikan ilham kepada masyarakat dan bangsa kita?

    Terbukti kan mereka juga cuma profit oriented..
  101. From winarko on 12 November 2008 17:18:39 WIB
    Wah sayang telat nih,
    Aku cuman mo ngomentari polanya. Setiap ada yang membela Bakrie, pasti adalah karyawan atau orang bayaran Bakrie sendiri. Tidak hanya polemik masalah ini, juga masalah penyebab semburan lumpur Lapindo. Polanya sama persis.
    Dan pastinya tidak ada korban lapindo yang membayar WW untuk menulis tentang kebrengsekan Bakrie dalam mengurusi masalah Lumpur Lapindo.
    Kurang jelas apalagi.
    Ada yang busuk, mau ditutup-tutupi seperti apa ya tetap aja kecium baunya

    http://korbanlapindo.net
  102. From Eric on 13 November 2008 00:02:35 WIB
    berarti sekitar 200juta masyarakat Indonesia tidak nasionalis...

    ratusan juta buruh sama sekali tidak nasionalis.





  103. From Redy Wibisono on 14 November 2008 09:59:52 WIB
    Staff or tukang becak ya, cara dan pola pikir kagak jauh beda.
    Nasionalisme kagak diukur dari banyak-nya karyawan atau harta, justru orang yg terkaya atau banyak hartanya itu nasionalisme-nya bisa dipertanyakan

    Ingat waktu Pak Karno dulu, intinya beliau dan keluarga kagak bakalan mau hidup enak klo rakyatnya blom enak duluan

    Gaja Mada, kagak bakal makan buah palapa sebelum menyatukan nusantara

    2 item tsb adalah contoh real nasionalisme Cak

    salam dari Suroboyo
  104. From M. Kahar Aidil. RD on 18 November 2008 14:42:35 WIB
    Bicara masalah Nasionalisme...kayaknya perlu kita atur dalam suatu UU...,tapi menurut pak Wimar Witoelar kira-kira masalah ini perlu dibikinkan UU nggak yaa..? ,kalau UU nya belum ada...wah ini proyek besar lho untuk dikerjakan oleh orang-orang yang merasa perlu dibuatkan UU nya, sehingga lebih jelas katagori Nasionalisme tsb.
  105. From anis fuad on 19 November 2008 08:17:10 WIB
    Quote from Lalu Mara
    "Saudara Wimar, kalau saja orientasi Keluarga Bakrie hanya sekadar kepentingan pribadi, tentu akan lebih baik Keluarga Bakrie tidak mengembangkan usaha apa pun dan tidak perlu terlalu peduli untuk ikut menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang di Republik Indonesia."

    Aneh nih orang, kalo ga ngembangin usaha, bagaimana bisa bakrie jadi orang terkaya di Indonesia. orang borjuis pasti butuh kelas pekerja yang akan di eksploitasi. masa seperti itu jadi Indikator Nasionalisme?? teori dari hongkong!?
  106. From wimar on 19 November 2008 08:22:35 WIB
    sekarang Mr Lalu Mara sibuk mensomasi majalah TEMPO

    Mr Aburizal Bakrie memberikan pernyataan dia akan mengundurkan diri dari kabinet

    tapi..... kalau ganti Presiden

    karena.... ingin beramal dan tidak berpolitik atau berbisnis. baru mulai sekarang?

    sementara..... SBY diem2 aja, paling aman itu karena Bakrie Group sudah tidak bisa ditolong
  107. From rozald sihombing on 24 November 2008 11:04:46 WIB
    Kalo bener-bener Mr. Bakrie itu seorang nasionalis,yah tunjukkanlah tanggungjawabnya. Berani berbuat berani bertanggungjawab.
    Berani jadi orang kaya, berani jadi orang miskin juga dong. That\'s nothing to do with nationalism but business, kata orang-orang pinter.
    Kalo bicara patriotisme, lain soal, wong para pejuang yang jelas-jelas sudah ikut merebut kemerdekaan saja berani miskin toh...
    Kalo mau fair, coba deh diulas bener-bener sejarah bisnis Bakrie bisa segede ini, jujur saja, dari jaman orde baru pun ybs itu sudah mendapat banyak \'kemudahan-kemudahan\' dalam berbisnis, coba deh dibuka apa saja \'kemudahan-kemudahan\' yang sudah didapat, dan apa yang terjadi dengan itu ..
    Setelah itu bolehlah kita simpulkan ke\'nasionalis\'annya!!
    Kita perlu pengusaha-pengusaha besar yang nasionalisme nya kuat, seperti kata staf ybs itu (Siapa sih staf itu, ada yang kenal nggak?), tapi yang jelas bukan Bakrie.
    Nggak dipenjara saja sudah untung...
    He he ..

  108. From BENNY SIMANJUNTAK on 24 November 2008 14:23:35 WIB
    CUMA SATU PERTANYAAN : LULUS SD GAK SIH INI ORG ?
  109. From anton djakarta on 26 November 2008 03:01:33 WIB
    Semoga Pak Mara setelah pensiun nggak diincer KPK hehehehe...

    Anton

    http://anton-djakarta.blogspot.com/
  110. From dinanta on 26 November 2008 09:29:26 WIB
    hahahhaha ya ya saya suka neh.
  111. From ayu citra dewi on 29 November 2008 12:33:42 WIB
    hari ngini masih ada orang kayak begitu.....
  112. From reza lubis on 04 December 2008 19:08:18 WIB
    \"Pahlawan Adalah Seseorang Yang Melakukan Apa Yang Mampu Dilakukannya\" (Romain Rolland 1866-1944 Penulis Prancis)
    dari pada menilai siapa yg \"lebih (dan paling top) nasionalisme lebih baik berbuat aja,toh rakyat dan Tuhan Yg Maha Esa yg akan memberi penilaian,eh ngomong2 kemarin korban lapindo demo ya ke jakarta sampai ada yg pingsan itupun saya lihat di Tipi,saya bingung apakah itu yg dinamakan nsionalisme ?,membiarkan bertahun tahun rakyat hidup dgn janji janji,makanya marilah kita jujur satu sama lain toh yg diuntungkan bangsa ini juga.
    Jadi marilah kita \"Bersatu untuk satu tujuan Indonesia Jaya\"

    Assalammualaikum wr.wb
    Horas.....!
    maaf bukan maksud mau mencampuri,gimana lagi ngak sengaja nyasar kemari. makasih om wilmar salam saya dari Sumut
  113. From Harits Luqman Hakim on 10 December 2008 22:41:09 WIB
    banyakan mana...karyawan bakrie atau korban lumpur lapindo (korban langsung korban tidak langsung pengguna jalan tol sidoarjo pembayar pajak pengusaha di porong kurang lebih ratusan juta orang indonesia yang hampir tiap waktu harus sedih mendengar kabar saudara-saudaranya korban lapindo)?
  114. From Muhammad Khabib on 17 December 2008 17:53:05 WIB
    saya heran kok masih ada orang sedangkal itu, lha wong nasionalis kok diukur cuma dari banyaklnya memperkerjakan orang. waduh-waduh..............., lha terus korban Lapindo itu gimana? pahal Bakri yang memperkerjakan orang 35.000 dan 50.000 itu habis dan masih kurang untuk nomboki dosa bakri menelentarkan piluhan orang di Sidoharjo goblok!
  115. From dewi - smarang on 21 December 2008 13:59:46 WIB
    woiii mbah gw rumahnya di sidoarjo
    stengah jam dari luapan lumpur udah nyampek rumahnya.. gak tau deh ntar kampungnya bakal diapain kalo tu lumpur luber lagi. blom lagi sodara2 gw yang banyak bgt disana.
    eh malu lo ma jabatan & kumis tebel, gaya mentereng, sok intelek, tapi dong-dong!!!
    skolah yang bener baru komen yang masuk akal.
    balikin hak-hak rakyat yang lo ambil, bilangin ma anak bos lo jangan bisanya cuma nyengir2 masuk infotanment gara2 bisa macarin artis. coba aja dibuat poling terbuka trus tanyain brapa org yang pro-bakrie dan kontra-bakrie. malaikat juga tau sapa yang jadi juaranya!
    bego kok gak kira2!!
  116. From ichal on 31 December 2008 10:25:03 WIB
    mungkin pak lalu ini saudaranya bakrie kali!, bukan staf Ahli Menko Kesra.
  117. From Asnawi on 09 January 2009 10:49:49 WIB
    Orang-orang dengan pengaruh yang sangat besar kepada banyak orang adalah orang-orang yang terpilih karena kemampuannya. Bung Wimar pasti orang yang terpilih, pendapat-pendapatnya memberikan pencerahan terhadap banyak orang. Pak Bakrie juga orang termassuk orang yang terpilih dengan puluhan ribu karyawannya. Semua memberi kontribusi pada negara tentunya dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing, No body perfect. Kalau saja kita tidak apriori terhadap sesuatu hal, tentu kita tidak akan terlalu cepat memvonis sesuatu benar atau salah. Sama seperti : Salahkah Tuhan menciptakan makhluk bernama setan yang sangat jahat ? Tanpa Setan dunia sepi , nggak ramai. Terhadap pak Wimar saya salut, terhadap pak Bakrie saya respect. Terhadap pak Lalu saya maklum, jangan berkecil hati. Sebagai ilustrasi : Saya punya teman, dia punya perusahaan kecil-kecilan dengan jumlah karyawan sekitar 70 an orang. Pada satu titik tertentu dia merasa capai mengurusi kperusahaan dan karyawannya. Dia pingin bubarkan perusahaannya dan karyawan diberi pesangon yang cukup untuk bikin usaha sendiri setelah phk. Tapi dia tidak gegabah dan buru-buru. Tidak semua orang itu terpilih. Dalam konteks ini tidak semua orang bisa berwiraswasta. Sama dengan harimau yang lama di kebun binatang, tidak bisa begitu saja dilepas di hutan. Dia akan kesulitan mencari makan. Akhirnya teman yang punya perusahan tadi memutuskan untuk tidak jadi membubarkan perusahaannya. Mungkin di sini letak nasionalismenya orang yang punya perusahaan, tidak tega berpikir egois. Bagaimanapun juga tanpa apriori, orang punya perusahan dengan karyawan yang banyak tetep ada hubungannya dengan nasionalisme, Walaupun nasionalisme tidak harus diterjemahkan secara picik hanya dengan jumkah karyawannya lalu melakukan komparasi pada tingkat nasionalismenya. Pak Wimar maju terus dengan pencerahan-pencerahannya, pak Bakrie maju terus dengan puluhan ribu karyawannya. Semuanya kami butuhkan, semua menjadi lengkap dengan bertambahnya perbedaan
  118. From henri parsita on 30 January 2009 23:59:20 WIB
    Itu namanya Nasionalis yg sempit pak lalu...?masa sebanding 50.000 org dgn 250 jt rakyat Indonesia? mungkin pak lalu ini mikirya pake dengkul to,jd langsung keluar lewat mulut,kagak dianalisa dulu di otak...he..he.,bikin malu org NTB aja ya?
  119. From i kade pratama on 17 February 2009 10:05:35 WIB
    berjalan naik motor di Mataram, sore hari yang cerah...
    kaget bukan kepalang saya melihat baliho...

    PILIH LALU MARA, CALEG DPR-RI
    (dengan gambar 7 x 3 m, Lalu Mara naik mobil Golf bersama Ical)

    Astaga, Menkokesra sama stafnya main golf melulu, kapan mikirin kesejahteraan rakyat
    (bukan nya ga boleh main golf, tp sebaiknya anda belajar bahasa indonesia karena tidak tahu arti kata "nasionalisme")
  120. From willy on 29 April 2009 11:41:11 WIB
    saya setuju ASNAWI,
    tidak lah baik langsung memvonis orang lain tanpa anda-anda tau apa yang terjadi sebenarnya. Semua anda-anda yang comment disini jg belum tentu \"bener\" apabila di beri kesempatan menjadi seorang \"aburizal bakrie\". Memang belum tepat memakai kata2 \"nasionalisme\" karena kata2 ini \"hanya\" utk pejuang perang kemerdekaan...inilah sikap jelek orang indonesia, cuma bisa komentar tentang orang lain tanpa intropeksi diri sendiri....hallo... indonesia kapan maju????
    ANDA YANG KOMEN DISINI SOK TAU SMUAA.......
  121. From onobs on 30 January 2010 10:17:58 WIB
    Kasus Lapindo membuktikan bahwa aburizal bakrie bukanlah orang yang tepat bila di katakan memiliki nasionalisme yang tinggi,,dia adalah orang hebat,,seorang pengusaha yang sukses, tapi hanya mencari keuntungan semata. Dengan kekayaan yang dia miliki, tentunya dia mampu membeli kekuasaan pula, Presiden saja mungkin bisa dikendalikan, terbukti kasus lapindo yang tidak ada juntrungannya, kasian rakyat kecil. Untuk hal yang satu ini, saya sangat setuju dengan om wimar. Aburizal Bakri memang orang hebat yang pintar, punya segalanya kecuali hati nurani.
  122. From ali on 30 January 2010 15:02:01 WIB
    Bajingan!!!! nasionalis tidak bisa diukur dari berapa orang yang jadi budak di perusahaanmu bung! jika benar nasionalis, beranikah bakri menggaji ke 85.000 budaknya dengan umr diatas rata-rata.
  123. From Bakar Sendiri (Bakar Sendiri) on 10 July 2010 17:03:20 WIB
    Sudahlah pak lalu jangan muter2
  124. From Grace on 15 November 2011 10:50:44 WIB
    Bakrie menciptakan lapangan pekerjaan? Yang benar saja! Menciptakan buruh sekedar makan iya! Pak Lalu Mara Satria Wangsa, anda pengusaha bukan? Pastilah anda mencari karyawan saat butuh keuntungan berkembang-biak. Banyak karyawan cuma bisa makan sampai dia pensiun, tetapi tidak pernah dilatih menjadi pengusaha mengikuti jejak sang pengusaha.

    Coba bongkar isi kepala Bakrie, apakah hatinya menangis saat membayangkan banyak rakyat tidak makan lalu dia pekerjakan rakyat? Atau yang terbayang lembaran billion dollar sehingga mau tak mau dia memanfaatkan rakyat bodoh bekerja untuknya?

    Coba cari \"satu saja\" karyawan Bakrie yang dari buruh sekarang duduk di Board Room bersama dia? Kalau ada, saya pilih Bakrie jadi presiden!
  125. From Pricillya on 24 January 2012 19:51:03 WIB
    eeennggg... numpng tanya kasusny dimana yak ?

« Home