Articles

Krismon 1997 dan Wall Street Crash 2008: kita gimana?

Perspektif Online
22 September 2008

oleh: Wimar Witoelar

Apakah bisa dibandingkan, dua peristiwa ambruknya dunia keuangan ini? Dari segi akibat, krismon 97 di kita mengakibatkan hancurnya bank dan konglomerat, dipecatnya Gubernur Bank Indonesia dan akhirnya kejatuhan rezim Suharto disertai peristiwa berdarah tragedi Mei dan peristiwa Trisakti dan Semanggi I dan II. Wall Street Crash 2008 tidak disusul huru-huru fisik, tapi sangat jauh lebih besar dalam ukuran uang.

Krismon 97 ditandai oleh paket bantuan IMF sebesar US$ 23 Billion (Milyar). Wall Street Crash 2008 sedang diusahakan penanggulangannya dengan paket bantuan pemerintah Amerika Serikat sebesar US$ 700B, yang mungkin menggelembung menjadi US$ 1,300B yaitu US$ 1.3 Trillion, atau lebih dari sepuluh kali APBN Indonesia! Dilihat dari asal usulnya, ada persamaan dan tentunya banyak perbedaan.

Krismon 1997 di Indonesia adalah bagian dari krisis finansial yang melanda beberapa negara Asia mulai Juli 1997. Mulainya di Thailand dengan jatuhnya mata uang Thai Baht setelah Baht dilepaskan dari “peg” dengan US Dollar setelah melemahnya Baht akibat menggelembungnya hutang luar negeri, sebagian besar sebagai akibat spekulasi real estate. Orang membangun gila-gilaan menggunakan uang hutang yang tidak bisa dibayar kembali. Melemahnya Thai Baht secara mendadak menular pada melemahnya mata uang lain di wilayah ini dan krisis melanda Thailand, Korea Selatan dan Indonesia. Hong Kong, Malaysia, Laos dan Filipina juga “kena”.

Thailand dan Korea Selatan bisa pulih dalam waktu singkat karena ekspor mereka cukup kuat untuk melayani hutang luar negeri. Tapi walaupun kebijaksanaan fiskal negara-negara Asia cukup baik, IMF meluncurkan program bantuan US$ 40B untuk memperkuat mata uang tiga negara itu agar tidak menyebar.

Tapi di Indonesia, hutang kepada IMF yang tidak bisa dibayar oleh penghasilan nasional membuat ekonomi kita makin masuk krisis. Akhirnya efek sampingnya menyebar sampai Presiden Suharto terpaksa mundur akibat kehilangan kendali akibat devaluasi Rupiah.

Krisis Moneter 1997 di Indonesia

michel.jpg

Direktur IMF Michel Camdessus dan Presiden Suharto

Pada waktu krisis melanda Thailand, keadaan Indonesia masih baik. Inflasi rendah, ekspor masih surplus sebesar US$ 900 juta dan cadangan devisa masih besar, lebih dari US$ 20 B. Tapi banyak perusahaan besar menggunakan hutang dalam US Dollar. Ini merupakan cara yang menguntungkan ketika Rupiah masih kuat. Hutang dan bunga tidak jadi masalah karena diimbangi kekuatan penghasilan Rupiah.

Tapi begitu Thailand melepaskan kaitan Baht pada US Dollar di bulan Juli 1997, Rupiah kena serangan bertubi-tubi, dijual untuk membeli US Dollar yang menjadi murah. Waktu Indonesia melepaskan Rupiah dari US Dollar, serangan meningkat makin menjatuhkan nilai Rupiah. IMF maju dengan paket bantuan US$ 20B, tapi Rupiah jatuh terus dengan kekuatiran akan hutang perusahaan, pelepasan Rupiah besar-besaran. Bursa Efek Jakarta juga jatuh. Dalam setengah tahun, Rupiah jatuh dari 2,000 dampai 18,000 per US Dollar.

paulson.jpg

Menteri Keuangan AS, Gubernur Bank Sentral dan pimpinan Kongres

Ceritera yang sama terjadi di Amerika Serikat dengan meningkatnya cita-cita memiliki rumah bagi semua dengan menggunakan hutang. Pemerintah menawarkan kredit murah dan mudah dengan sumber lembaga keuangan perumahan Fannie Mae dan Freddie Mac, yang dananya disalurkan pada pembeli rumah baik secara langsung maupun melalui bank.

Pernah ketemu orang bank atau kartu kredit yang menawarkan pinjaman dengan bersemangat? Begitulah Fannie Mae dan Freddie Mac menawarkan kredit perumahan secara agresif, sering kepada orang yang sebetulnya tidak mampu membayar pelunasannya. Bagi lembaga keuangan, meminjamkan keuangan memang pekerjaannya. Tanpa kendali dari pimpinan perusahaan dan pemerintah, tidak lama kemudian kelihatan uang yang dipinjamkan dalam bentuk KPR itu tidak akan kembali, macet.

Dengan banyaknya uang pembangunan rumah di pasar, harga rumah menggelembung keluar jangkauan peminjam uang. Satu persatu pinjaman menjadi kredit macet, sampai akhirnya Fannie Mae dan Freddy Mac harus diambil alih pemerintah.

Problemnya tidak berhenti disini. Kredit macet selalu menular, seperti juga kemacetan lalulintas. Penyitaan asset rumah mencapai rekor. Pinjaman rumah dipaketkan dalam instrumen keuangan yang diperdagangkan di bursa yang dikenal secara populer sebagai Wall Street, maka nilai sekuritas di Wall Street jatuh dengan hilangnya ‘investor confidence’.

Korban berjatuhan, antara lain Lehman Brothers yand merupakan pedagang sekuritas besar dan AIG, perusahaan asuransi terbesar di Amerika Serikat. Melihat ini, Menteri Keuangan AS Henry M. Paulson dengan terpaksa mengumumkan bahwa pemerintah AS akan membeli perusahaan yang macet dan mengelola kredit macet, mirip dengan yang dilakukan oleh IBRA atau BPPN di Indonesia kapan hari.

Ini adalah krisis keuangan terbesar di Amerika Serikat sejak Perang Dunia Kedua, dan bisa menular menjadi krisis dunia. Mudah-mudahan tidak. Ini tergantung dari efektivitas sistem politik Amerika Serikat dalam mengatur pemerintah dan lembaga keuangan. Kebetulan AS akan memilih Presiden baru 43 hari dari tanggal posting ini. Seru sekali, mendebarkan.

Wall Street and Main Street:  Dampaknya pada Orang Biasa

Biasanya naik turunnya nilai uang hanya berpengaruh pada perdagangan luar negeri. Naik turunnya harga sekuritas dan indeks Pasar Modal seperti IHSG dan Dow-Jones Index hanya berpengaruh pada investor bursa. Tapi kalau terjadi guncangan besar, maka semua orang akan kena. Kalau suatu bank jatuh, nasabahnya akan kena walaupun ada bagian-bagian yang dijamin oleh garansi asuransi. Tapi kalau perusahaan asuransi jatuh, maka pihak yang dijamin jatuh juga. AIG adalah perusahaan asuransi terbesar di Amerika dan salah satu terbesar di dunia. Kalau AIG bangkrut, pemegang asuransi tidak bisa dibayar. Ini terdiri atas perusahaan asuransi lain, bank dan perusahaan di seluruh dunia. Maka setiap orang yang berurusan dengan bank atau perusahaan besar akan terpengaruh krisis.

Karena itu Henry Paulson memberanikan diri untuk menyelamatkan AIG dan perusahaan lain. Tapi ia menggunakan uang negara yang adalah uang rakyat Amerika Serikat. Kalau paket penyelamatannya gagal, maka ekonomi AS akan jatuh benar-benar. Jangan sampai sebegitu….

Print article only

17 Comments:

  1. From albertus on 23 September 2008 09:07:37 WIB
    Dampak langsungnya juga adalah larinya investor-investor dari pemegang greenback menuju ke pasar komoditas, seperti minyak dan emas. Emas mungkin kita tidak masalah, tapi minyak? lihat saja dalam satu hari sudah melejit tinggi kembali, saya harap ini murni short term.

    Ekonomi Amerika mau tidak mau sangat mempengaruhi ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Lihat ketika Lehman runtuh, pasar modal langsung panik. Bank-bank dunia semuanya terikat dalam sebuah jaringan hutang, web of debt, satu bank berhutang pada bank lain yang lebih besar, dan seterusnya. Apabila yang besar runtuh, maka habislah semuanya.

    Oleh sebab itu, saya sungguh berharap ekonomi Amerika bisa cepat pulih, greenback kembali stabil, pemegang modal raksasa bisa segera meninggalkan pasar komoditas. Terlepas apakah kita senang atau tidak senang dengan foreign policy Amerika, keruntuhan ekonomi Amerika adalah sesuatu yang saya rasa mayoritas dunia ingin hindari.
  2. From Ogi on 23 September 2008 09:18:20 WIB
    kok ada IMX ada IMF ? salah ketik apa sengaja tuh?
  3. From janeman.latul on 23 September 2008 10:47:39 WIB
    punya hubungan yang sangat kuat...

    kan kita semua ini berada dalam global finance structure... jadi apa yang terjadi di Indo akan punya efek domino di Amerika begitu juga sebalik...

    Tahun 1997 saat krisis menyerang Asia efek dominonya sampai ke AS...

    Zaman itu di Amerika ada perusahaan besar yang jatuh karena krisis asia, namanya Long-Term Capital Management (LTCM).. pendirinya adalah penerima nobel ekonomi..Myron Scholes and Robert C. Merton.....

    Zaman sekarang, Bearn Stears (kolaps), lehman brothers (kolaps), fannie mae and freddie mac, AIG (harus diselamatkan pemerintah)...

    Impactnya gak terlalu kelihatan bagi yang gak melihat situasi pasar, tapi jatuhnya pasar global bikin banyak hal berubah di negara ini lho..

    1. Deviden pertamina ke pemerintah tahun depan senilai Rp. 18 trilliun harus turun ke 12 T, karena harga minyak jatuh (dipengaruhi oleh pasar amerika yang jatuh juga)

    2. Rencana go public perusahaan2 negara ditunda, perusahaan perkebunan Nusantara, Krakatau Steel sampai Garuda harus menunda rencana tahun ini karena stock market jatuh dibawah 2000 point... juga harga komoditas jatuh, jadi kalo dijual rugi pemerintah (kenapa turun, terpengaruh jatuhnya pasar AS..)

    3. Banyak yang pemain pasar rugi besar di Indo gara2 ini, Bakrie melalui Bumi resources, tengah tahun kemarin sempat tembus angka 8000 per saham sekarang... dibawah 5 ribu bahkan sampai tembus dibawah 3000.

    aku jadi inget, ww pernah bilang perception is reality... menurutku itu inti ekonomi kapitalis pasar...

    di pasar saham, tidak semua perusahaan yang kasih 100% saham mereka dijual, ada yang cuma jual 30% sampai 50%... kalo saham di pasar itu jatuh.. sisanya juga jatuh yang gak dijual.. padahal kan gak semua dijual ke pasar.. tapi nilai yang gak dijual itupun juga jatuh... harusnya kan gak?

    perception is reality!

    tambahan:

    John Maynard Keynes pernah bilang, Kalo kita minjam 100 pounds ke bank dan kita gak bisa bayar kita in trouble, tapi kalo kita pinjem 10 juta pounds dan gak bisa bayar, yang in trouble bank....

    itu yang terjadi sama bank2 di AS, orang minjem duit buat beli rumah tapi akhirnya gak mampu bayar... bank2 seperti freddie and fannie yang kelimpungan...

    bangkrutlah dia.. hehe
  4. From Ayi Suhendar on 23 September 2008 15:34:39 WIB
    Wah semoga saja krismon tahun 2007 ngga terjadi lagi tahun 2008 dan tahun-tahun mendatang. Walaupun harga-harga meroket dan tingkat kemiskinan terus meningkat. Saya masih berharap Rakyat Indonesia masih sanggup membeli sembako yang semakin hari makin mahal saja harganya.

    Amiin
  5. From didiet pob on 24 September 2008 00:32:48 WIB
    ooo..gitu toh. jadi cara penanganan krisis di amerika dan indonesia umumnya relatif sama, dimana ketika pasar collaps maka negara yang ambil alih, padahal itu terjadi di negara seliberal amerika...

    tapi kondisi fundamental ekonomi kita secara makro masih aman kan? seperti ekspor, cadangan devisa , pertumbuhan, dan realisasi investasi. misalnya sektor ekspor mungkin tidak terlalu berpengaruh ,karena eskpor Indonesia ke AS tidak terlalu besar dan komposisi produk ekspor Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh penurunan permintaan.bahkan katanya nilai ekspor kita masih sangat impresif, blok cepu juga akan mulai beroprasi tidak lama lagi, yang berarti kita punya capital income yang cukup besar pula..

    jadi dengan masih amannya fundamental ekonomi kita, maka saya berharap fundamental politik juga tidak terganggu. karena kedua hal ini menurut saya sangat berkaitan. contohnya ketika krisis 98 yang dikarenakan rontoknya fundamental ekonomi, maka tak lama kemudian sebuah rezim politik yang kuat pun ikut tumbang, sma seperti zaman sukarno, atau kasus pecahnya uni soviet..
  6. From wimar on 24 September 2008 08:21:01 WIB
    Ogi, sorry ya tadinya salah ketik .. IMX terus padahal maksudnya IMF. Sombong betul ya, IMX kasih paket bantuan US$23B ke RI hahaha

    Terus Henri Camdessus ditulis Direktur IMX (gantiin EI kali)
  7. From sen on 24 September 2008 09:41:04 WIB
    Amerika yg punya banyak PHD di finance, business, dll ternyata juga tidak bisa menghindari krisis yg disebabkan oleh ketamakan manusia.

    Greed 1 : Brains 0

  8. From didiet pob on 24 September 2008 13:32:11 WIB
    ehhhmm.. kalo ga salah bukannya Michael Camdessusya ya w??
  9. From esti on 24 September 2008 13:35:29 WIB
    Bedanya krisis di Indonesia 1997, Indonesia harus jungkir balik sendiri bantuan cuman dari IMF dikit lagi...sambil dikatain ...."rasain".....

    Krisis di Amerika, seluruh otoritas moneter dunia harus ikut nyumbang, katanya ....."rawe-rawe rantas, malang-malang putung" .....

    gimana nich !!!
  10. From wimar on 24 September 2008 15:41:04 WIB
    ooops... bener, Michel Camdessus, Didiet POB pinter nih, besok dateng jadi asisten yah :)

  11. From didiet pob on 24 September 2008 23:45:04 WIB
    hore.. jadi asistennya Prof Wimar!!
  12. From Satochid Sosrodiredjo on 25 September 2008 04:39:30 WIB
    Bung, kalau ekonomi kita kuat dan produk ekspor kita baik kenapa harus kena dampaknya. ngomong2 tentang kesamaan krisis ekonomi itu yach, mirip tapi tak sama disono akibat dari mis manajemen disini akibat dari rezim korup.
  13. From |richard.p.s| on 27 September 2008 23:16:38 WIB
    Tahun 97, majalah Sinar mencatat: "perputaran uang di dunia malam setara dengan APBN". Berhubung judulnya pertanyaan soal "KITA" ("Krismon 1997 dan Wall Street Crash 2008: kita gimana"?), maka saya menjawabnya: "KITA ribut-ribut UU Anti Pornography"

    hahahaha ... skala prioritas nan hebat bukan?

    Namun jangan lekas katakan itu ngawur, justru fantastis dong ah. Mungkinkah karena 1998 ada yang tumbang karena goyangan, sehingga yang sama-sama ada di akhiran 8 alias 2008 ini yang juga lagi digoyang terkait uang mencari cara agar tak tumbang?(tanda tanya)... *hahaha sama-sama akhiran 8 nih, pasti banyak yang mulai langsung REG(spasi)PRIMBON :P

    hahaha katakanlah undang-undang itu penting, namun kok seperti memutar lagu dangdut saat lapar dan haus ya? Agar lapar dan haus nya terlupakan kah? *sekedar bertanya*
  14. From Isman on 10 October 2008 10:57:14 WIB
    (Pertanyaan) Market crash yang terjadi saat ini apakah berdampak serius terhadap industri TV? Prof Wimar masih ingat tidak saat itu (krismon 97-98) kebanyakan station TV menayangkan acara apa saja ya? dan produk yang beriklannya apa saja ya? seingat saya Unilever dalam kondisi tersebut mengiklankan produk premiumnya dalam bentuk sachet saja, untuk menyesuaikan pasar
  15. From Kuntadi on 10 October 2008 15:22:28 WIB
    Prof W, Bgm dong tindakan antisipasi yang mesti di lakukan. Anggap saja kita adalah karyawan biasa, yang punya KPR dan Kartu Kredit...thx
  16. From tom aries on 11 October 2008 16:38:26 WIB
    ok, krisis yang ini tak lain ialah krisis yang diawali dari ketidak siapan para pemodal dari banyaknya jejaring yang telah dibangun.

    ok, tiap hal yang dikreditkan akan mengalami peningkatan dalam alokasi pendanaan. yang menjadi pertanyaannya bukan bagaimana atau siapa?

    pertanyaannya hanya satu untuk apa?
    dan biasanya pertanyaan untuk apa tidak pernah nyata terjawab.

    akhir kata, selama kita masih mengikuti trend dan tidak bisa menjadi trend itu sendiri. maka kepanikan dan kebingungan akan tetap ada dan hidup.
  17. From Dian on 16 October 2008 09:30:38 WIB
    Om kalau besarnya APBN disusutkan atau lebih kecil dengan anggaran tahun 2008 apa bisa ??? Dilihat dari banyaknya bocoran dana ....
    Semoga tidak terjadi KRISMON kedua di Indonesia, dan saya sebagai rakyat kecil berharap Pemerintah di Indonesia lebih bijak dalam menentukan arah ...

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home