Articles

Melatih pandangan politik yang jernih

Koran Sindo
12 August 2008

PRESIDEN KITA

Dewasa ini orang punya kebebasan penuh mengembangkan pandangan politik. Itu hasil utama dari demokrasi kita. Tapi sangat susah untuk menggunakan kebebasan baru.  Perlu pandangan yang jernih, dan itu harus dilatih.

Berikut ini beberapa pendapat yang banyak dianut orang, dalam contoh aktual dari website www.perspektif.net. Nama tidak disebut, karena tidak sempat minta izin. Tapi orang bersangkutan pasti mengenal kata-katanya dan bisa berkomentar pada website kami itu. Sebagai contoh pertama, sering kita dengar pendapat seperti ini: 'Partai-partai yang ada kebanyakan hanya mau cari duit aja. Dengan semakin banyak partai semakin menunjukkan ketidakdewasaan bangsa ini. Ini menggambarkan bahwa sangat banyak orang Indonesia yang gila jabatan dan kekuasaan. Dan ujung-ujungnya adalah mencari duit. Dan bukan mau membangun bangsa ini.' Kesimpulannya sangat mungkin benar. Tapi proses pemikirannya kurang jernih. Coba kita lihat beberapa bagian yang rancu.

'Partai-partai yang ada kebanyakan hanya mau cari duit aja.' Mencari duit tidak salah, yang salah adalah pemakaian duit itu oleh orang-orang yang kurang baik. Harusnya, uangnya dipakai untuk menampilkan tokoh-tokoh baru yang baik, orang yang belum punya dukungan selama ini. Banyak orang baik yang dihargai masyarakat, alangkah baiknya kalau partai menginvestasikan uangnya pada orang itu. Juga menguntungkan partai, sebab pemilih akan bersimpati pada partai yang mencalonkan orang baik. Contoh nyata ada di depan kita, yaitu Barack Obama yang mendapat dukungan dari Partai Demokrat di Amerika Serikat.

Pada awalnya, Barack Obama tidak punya uang, sama seperti Faisal Basri pada waktu memulai usahanya menjadi Gubernur DKI. Waktu itu Faisal Basri  ditanya, bagaimana kamu mau menang kalau tidak punya uang. Faisal menjawab bahwa ia yakin uang akan datang mendukung calon yang dipercaya. Ternyata perkiraan dia meleset, sebab partai yang pada awalnya mendukung akhirnya memilih orang lain yang punya banyak uang. Mengapa begitu? Karena partainya sendiri tidak punya uang.

Pernyataan lain yang didasarkan pada pandangan rancu adalah 'Dengan semakin banyak partai semakin menunjukkan ketidakdewasaan bangsa ini.' Wah, justru banyaknya partai menunjukkan keinginan untuk menghindari partai lama yang sudah jelas mengecewakan orang biasa. Memang ada pilihan lain, yaitu memperbaiki partai yang ada, tapi kan susah. Lepas dari senang atau tidak pada SBY, ia memilih jalan yang tepat, mendirikan partai baru, daripada menawarkan ikut partai yang ada. Memang ternyata Partai Demokrat mengecewakan karena tidak punya karakter, tapi sebagai mesin pemilihan, terbukti berhasil. Silakan saja membuat partai sebanyak yang memenuhi syarat, nanti pemilih akan menentukan sendiri pilihannya. Sama seperti pasar, apa salahnya kalau banyak barang yang ditawarkan. Pembeli bisa memilih sendiri. Lebih baik daripada pilihan barangnya sedikit, jadi orang tidak punya pilihan.

Ada jenis pendapat yang bagus, jernih, tapi meleset dalam kesimpulannya. Sering muncul pada topik yang susah ditanggapi dengan jernih, seperti soal golput. Contoh komentar: 'wuah..wuah...kok milih pada golput seh??? emmm... terkesan jadi pecundang gak seh? hhi..hhi...muuph ya untuk yg memilih jln golput! .....bangsa ini masih memerlukan orang yang peduli untuk kemajuan dan perubahan besar yg ada di depan sana. as simple as possible aja neh, klo bukan kita yang ikut andil dalam kancah demokrasi termasuk dalam urusan coblos men-coblos yg artinya kita ikut andil menentukan nasib negara kita tercinta dikemudian hari...sapa lagi? bukan negara tetangga, bukan para LSM luar, atau bukan bara donatur yg sering wara-wiri ke ibu pertiwi kita tercinta ini! tapi tidak lain dan tidak bukan ya..kita sendiri, para generasi penerus bangsa khususnya yg akan mengambil alih perjuangan para pemimpin kita dikemudian hari... it's just simple thing, so...open ur mind, ur heart n hear what u want to ur country, one voice is so meaningful for Indonesia to go to the future.'

Semuanya benar (menurut saya, tentunya) dan menunjukkan sikap positif, tapi salah kalau merendahkan golput. Masih ada cara lain untuk menjalankan demokrasi, melalui bentuk-bentuk penyampaian pendapat. Golput masih lebih bagus daripada orang yang asal milih tanpa punya sikap. Tapi jangan hanya golput, tapi kembangkan upaya lain untuk memunculkan pilihan yang lebih baik. It is all about contributing to reform.

Terakhir, pendapat seperti berikut ini sangat mengerikan: 'Cukup mengejutkan kalau ternyata demokrasi is all about "memilih". Lalu apa gunanya duit ratusan trilyun yang tidak berguna untuk membiayai demokrasi kita? Kampungan banget ya..

Demokrasi seharusnya adalah persamaan hak di banyak bidang, ekonomi, politik, sosbud, dan kebebasan untuk berpendapat. Namun, hal yang dilupakan banyak orang adalah, demokrasi berarti apa saja boleh. Sedangkan motor saya pakai rem, bangsa ini rem-nya ditinggal di rumah! jadilah demokrasi indonesia bukan lagi hal yang menggemberikan, tapi justru memalukan! Kalu sudah begitu, mendingan tidak berdemokrasi deh!'

Jalan pikirannya oke, karena didorong keinginan untuk perbaikan. Begitu kuat keinginannya, sampai menjadi frustrasi mengatakan  'mendingan tidak berdemokrasi deh !' Pandangan seperti ini bukan saja rancu tapi berbahaya. Diktator muncul karena orang putus asa dengan demokrasi. Sukarno menjadi diktator setelah demokrasi multipartai kurang berhasil. Suharto menjadi diktator setelah orang mau meninggalkan sikap bebas. Bahkan Hitler juga muncul dari demokrasi gagal. Ia bisa menjadi diktator terbesar dalam sejarah dan membunuh jutaan rakyat Jerman setelah masa demokrasi membuat ekonomi Jerman rusak.

Sekarang kita masih punya pilihan, mau hidup di penjara dimana kita tinggal terima pembagian barang kebutuhan, atau di alam bebas dimana kita bisa merealisasikan potensi Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Print article only

29 Comments:

  1. From rahadian p. paramita on 12 August 2008 17:40:49 WIB
    Banyak partai menunjukkan kedewasaan? Uhm... Mungkin iya mereka pada bikin partai sendiri karena merasa aspirasinya tidak terwakili oleh salah satu dari puluhan partai yang sudah ada. Tapi kalau buka baru dan tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru? Lalu buat apa?
  2. From heru wijayanto on 12 August 2008 17:55:15 WIB
    ada ga ya, pemimpin yang benar-benar pantas untuk jadi pemimpin ? bukan karena uang ataupun kekuasaan ?

    andaikata tidak punya uang, apakah bisa menjadi pemimpin di negeri ini ? begitu banyak orang yang merasa mampu untuk jadi pemimpin negeri ini, padahal memimpin itu tidaklah gampang. Pimpinlah diri anda sendiri, baru bisa memimpin orang lain.

    Maju terus Indonesia (walaupun tidak tahu mau maju kemana)

    heru
    http://siheyu.net
  3. From kiki on 13 August 2008 10:20:51 WIB
    bangsa ini masih memerlukan orang yang peduli untuk kemajuan dan perubahan besar yg ada di depan sana. as simple as possible aja neh, klo bukan kita yang ikut andil dalam kancah demokrasi termasuk dalam urusan coblos men-coblos yg artinya kita ikut andil memunculkan the rishing star yg bisa membawa perbaikan nasib negara kita tercinta kedepan...sapa lagi? bukan negara tetangga, bukan para LSM luar, atau bukan para pencoleng yg sering wara-wiri ke ibu pertiwi kita tercinta ini! tapi tidak lain dan tidak bukan ya..kita sendiri, para generasi penerus bangsa khususnya orang baru yang BERSIH, PEDULI DAN PROFESIONAL yg akan mengambil alih perbaikan kapal bangsa hari ini... it's just simple thing, so...open ur mind, ur heart n hear what u want to ur country, one voice is so meaningful for Indonesia to go to the future.'
  4. From Rasno on 13 August 2008 10:59:21 WIB
    Demi lancarnya dempkratisasi di Indonesia tercinta, sepakat dengan WW bahwa semakin banyak partai menunjukkan banyak pilihan. Kita bebas meilih siapa yang kita anggap mampu menjadi pemimpin negri kaya raya ini.

    Hanya saja, kebanyakan partai yang ada saat ini masih diragukan apakah benar2 demi untuk kepentingan rakyat dan perubahan bangsa Indonesia, atau sekedar cari kekuasaan dan menaruh kekuasaan kepada putra-putrinya ketika selesai berkuasa?

    Apapun bentuk partai, dan siapa ketuanya, kita harus tetap memilih pemimpin yang pantas menurut kita mampu dan kredibilitasnya tinggi, duh...susahnya cari pemimpin yang kaya gitu.

    Any way, so way, and busway, jangan Golput! kalo kit amau demokrasi...golput tndanya kurang suportif lho....
  5. From boed on 13 August 2008 12:07:21 WIB
    Bung WW,
    Kita memang masih harus banyak belajar dalam menangkap informasi, mengolahnya menjadi pemahaman, membingkainya dengan prinsip dan nilai, menentukan sikap, dan mengungkapkannya. Rigor thinking.

    Jika kira lihat di media, sebagian politikus dan pejabat kita masih sangat kedodoran dalam kemampuan ini. Masyarakat luas secara umum juga sama.

    Mudah-mudahan ke depannya bisa ada perbaikan.

    boed | budihartono.wordpress.com
  6. From ma2n-smile on 13 August 2008 15:26:23 WIB
    heheh pandangan politik yg jernih cuman kembali pada ajaran agama aja....
  7. From |richard.p.s| on 13 August 2008 16:28:43 WIB
    @6 ma2n-smile
    demokrasi mang, bukan teokrasi. mmm...teokrasi pun tak secetek itu.

    *maaf* keep smile :)

    nb: kalo saya salah, ya diberitahukan nyang bener. judul tritnya pan "melatih". latihan nyok. yuk marii...
  8. From wak tul on 13 August 2008 19:54:23 WIB
    Waktu baru berkenalan 1999, temanku di fraksi reformasi bercerita, kalo deposito nya ludes buat masuk partei....

    Dari situ aku tahu, bahwa partei politik adalah lintah darat. Makanya kalo sekarang partei menjamur bak cendawan di musim hujan, aku jadi ingat masa kecil. Tetangga sebelah rame2 jualan sembako, menyaingi dagang Papa dan Oma ku.

    Nah kalo sudah begitu, sebagai pembeli alias pemilih harus benar2 jeli. Masalahnya bagaimana bisa tahu, mana pedagang sembako ato partei yg baik n tidak ?
    Dimana ada database, bahwa di X yg akan kita pilih punya track record baik ?

    Jika memandang secara umum, bahwa korupsi adalah kultur. Maka orang jujur yg kutemui di pasar tradisional, tentunya akan tetap berjualan. Dia ga akan ribet ngurusi partei.

    Karena itu ibarat sisa uang yg tak seberapa di kantong, suaraku adalah kepercayaan milikku. Ini SANGAT MAHAL SEKALI harganya. Aku ga akan pernah se mena2 memberikan suaraku.
    Ketika pilihan tidak jelas dan pasti, ya mendingan GOLPUT. Dengan perhitungan, surat suara kupilih sedemikian rupa, supaya tidak bisa disalahgunakan oleh penguasa bejat...
  9. From Anak camat on 14 August 2008 18:34:38 WIB
    Menurutku yang paling berdosa dari kebablasannya demokrasi di Indonesia adalah sistem multi partai, terbukti partai gurem kalau mau jujur nggak bisa hidup tetapi anehnya tiap pemilu tumbuh 100 partai lagi. Selama pemilu di Indonesia tetap multi partai, aku akan tetap Golput karena lebih baik daripada mendukung status quo.
  10. From chandra on 14 August 2008 19:15:26 WIB
    Jangan terlalu anti partai, gak baik itu. Partai itu kan mutlak diperlukan dalam sistim demokrasi. Kalau sampeyan2 lihat banyak partai2 yang jorok, memang gak terlalu salah. Tapi ada juga partai yang track recordnya bersih sampai sekarang, so far. You know what I mean. Jadi gak mesti GOLPUT.
  11. From wak tul on 15 August 2008 06:50:11 WIB
    Maaf ya Mas Chandra (no 10),

    Kalo saya ikuti iklan rokok "mau bukti, bukan janji".

    Track record yg saya lihat lurus s/d hari ini adalah GusDur. Jika GD ngajak golput, ya artinya memang sudah ga ada pilihan. Golput kok dilawaaaan....??
  12. From dmitri on 15 August 2008 14:10:03 WIB
    apa sih komponen penting demokrasi? sepertinya sih kebebasan memilih ya. tapi tentunya ada pertanyaan seberapa bebas dan seberapa pilihan yang ada itu tidak semu. kita butuh alat ukur keduanya. selama ini madia belum bisa diandalkan. semenatara PRnya juga masih asal bunyi. saya masih suka bingung, kalau yang membuat iklan di TV seorang capres itu anak Jakarta, dia tau enggak keuntungan seorang di daerah memilih capres itu? maksudnya, supaya iklannya di daerah bisa relevan buat orang daerah. selama ini kan pukul rata aja, memakai slogan gamblang yang nenek saya juga dari dulu sudah sering sebut-sebut. mending dukung nenek saya aja dong, biarpun dia gagal ikut pemilu karena encok (atau kurang duit). golput deh. kalau nurani merasa bersalah golput, asal nyoblos deh. kalau nurani masih merasa bersalah juga, ikutan satu partai, atau membela satu capres secara buta deh. sok bilang gak ada pilihan terbaik deh. muter-muter deh.

    akhirnya? buka perspektif.net dan belajar lagi deh.
  13. From PrimaryDrive on 15 August 2008 20:58:46 WIB
    "Demokrasi" artinya, dan esensinya, adalah bahwa rakyat memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana mereka ingin menjalankan negara ini. Ok ... tidak ada yg baru disini. Atau toh ada yg baru??

    Konsep diatas bukan sekedar jiplakan dr buku teori. Konsekwensinya sangat mendalam. Demokrasi bukan cuma berarti kebebasan (bebas berpendapat, bebas memilih, dll), tetapi juga "tanggung jawab"! Karena, per definisi, kita sendiri yg sekarang menentukan arah negara ini, kita sendiri juga yg bertanggung jawab atas sukses atau terpuruknya negara ini. Kalau dulu bapak2 dan ibu2 masih bisa menunjuk ke Soeharto sebagai penyebab kegagalan, krn beliau yg mengambil semua keputusan, dalam demokrasi penuh spt sekarang tidak bisa lagi. Kita semua bertanggung jawab. Kalau rendemen SBY buruk, salah kita juga. Kenapa dulu memilih SBY. Ini peringatan, supaya dalam pemilu mendatang ini tidak asal coblos saja. Pilihan kita menentukan masa depan kita!

    Menyangkut Golput, tidak ada salahnya. Rakyat boleh memilih, tapi dalam aturan main yg ada kita hanya bisa memilih dr pilihan yg ditawarkan. Apabila lapisan Politik tidak bisa memberikan pilihan2 yg masuk akal, tidak ada gunanya untuk memilih. Memberikan pilihan2 yg masuk akan itu tanggung jawab partai2. Mereka berani tampil kemuka. Mereka berani meng-klaim leadership. Artinya mereka juga punya kewajiban untuk punya konsep yg masuk akal bagaimana bisa melakukan itu, dan siapa yg bisa melakukannya.
  14. From A. Rhama S. on 16 August 2008 22:37:58 WIB
    MERDEKA...!!

    Jadi speechless nih baca tulisan bang Wimar, ga ada yang perlu dikoreksi/ditambahin. Dah lengkap bumbunya. Maknyozz kata pak Bondan. Hehehe...


    ARS
    http://apadong.com
  15. From MAma LAdi RInah on 17 August 2008 09:48:35 WIB
    Menurut saya, jika para politikus atau pemimpin bangsa terdiri atas negarawan2 yg cerdas, yg berorientasi pada kemakmuran rakyat, maka tidak mustahil Indonesia akan segera mewujudkan dirinya menjadi bangsa yang maju.

    Negara2 maju, menjadi maju, karena para pemimpinnya berpikir maju.... banyak di antara rakyat mereka yang tidak lebih pintar dari rakyat pedesaan kita.... namun harus diakui bahwa taraf hidup mereka lebih tinggi, karena sistemnya menyebabkan demikian.... dan sistem yg maju, hanya bisa dirancang oleh orang2 yang maju pula.

    Cheers,
    http://gatelan.blogspot.com/
  16. From MUSHENI on 18 August 2008 06:04:37 WIB
    Dari Sekayu ke Palembang

    Perjalanan saya dari kota Sekayu menuju Palembang menumpang mobil travel MP. Dalam mobil yang berjenis phanter tersebut, saya duduk ditenggah-tenggah. Dalam perjalan tersebut, saya ingin mengungkapkan bahwa yang berada di dalam mobil travel MP tersebut dapat saya katagorikan orang-orang “penting”. Mengapa demikian ?.
    Pertama, kursi pertama yang berada di depan atau disamping sopir adalah seorang yang berada disekretariat dewan DPRD Muba. Karena belum sempat minta izin dengan dia, maka saya tidak menyebutkan namanya. Kedua, kursi ditempat oleh seorang mahasiswi yang saya tidak kenal siapa namanya. Tetapi, dalam percakapan kami. Ia tidak terlalu banyak memberikan komentar. Ia hanya ikut tersenyum saja bila diantara kami tertawa lepas. Mengapa ia dianggap penting, karena ia temasuk pengamat dengan buktinya “diam”.
    Ketiga, seorang ibu PNS di Dinas Kesehatan. Ibu inilah yang lebih banyak membangkitkan semangat untuk berbincang-bincang. Bahkan beliaulah bertanya tentang saya, nama saya dan seterusnya. Keempat, kursi berikutnya ada seorang toke dari desa. Kelima, seorang pakar IT. Ia mempunyai beberapa borongan di Muba dibidang IT. Keenam, seorang mantan Politikus di sebuah partai besar. Partai tersebut sekarang termasuk partai yang “oposisi”. Perbedaan profesi itu juga dilengkapi oleh sopir yang “gaul”. Jadilah, dalam perjalanan saya dari kota Sekayu menuju Palembang tanpa tidur. Tanpa rasa kantuk. Dan terus-menerus mempunyai modal untuk didiskusikan “politik”.
    Saya tidak bisa menceritakan secara detail mengenai isi dari pembicaraan dari kota Sekayu menuju Palembang. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan beberapa pesan penting yang dapat saya ingat sehingga dapat saya bagikan disini. Beberapa poin yang dapat saya petik dari pembicaraan tersebut adalah pertama, matinya demokrasi di Muba. Pernyataan ini disampaikan oleh ibu-ibu yang berada disamping sopir. Ia adalah seorang ibu yang bekerja di sekretariat dewan. Ia mengatakan demikian, karena ia melihat sendiri bagaimana adanya hegemoni yang begitu “parah” di sana.
    Menurut ibu tersebut, matinya demokrasi yang berada di gedung dewan dikarenakan hegemoni dari partai besar. Sebagai contoh : ketua DPRD Muba adalah ketua PAC Golkar dan Bupatinya ketua DPD Gokar Sumsel salah satu partai besar. Sehingga, anggota dewan yang lainnya harus manut dengan keputusan-keputusan yang keluarkan oleh “DPD”. Artinya, orang-orang yang melawan “kebijakan”, kritis akan berhadapan dengan partainya sendiri. Sehingga, terancam untuk di recall. Oleh karenanya, banyak dewan-dewan yang cari aman dengan mengikuti saja pesan dari atas, bukan pesan dari bawah.
    Lalu, saya menyampaikan kepada ibu tersebut bahwa usaha perbaikan tersebut sebenarnya bisa dimulai dengan memilih figure yang berasal dari partai yang bersih. Artinya, kita coba untuk melakukan listing tentang partai-partai yang selama ini tersangkut kasus lalu kita tolak unutk dipilih. Mengalihkan suara kepada partai-partai bersih. Atau kita melihat figure-figure yang mereka rata-rata masih mudah, energic dan belum terkontaminasi dengan “kondisi” lama.
    Apa yang saya sampaikan tersebut mendapatkan jawaban lagi dari ibu tersebut, menurut ibu tersebut figure yang bersih tidak cukup untuk menghadapi hal itu. Permasalahannya itu adalah terdapat juga pada sistem. Sistem yang menghendaki terjadinya “ kondisi” tersebut. Sehingga, nantinya figure-figure bersih sekalipun jika berada dalam sistem yang “korup”, maka akan bersiap-siap terkan imbasnya. Itulah pernyataan akhir dari ibu tersebut.
    Kedua, ibu ini berpostur agak besar. Bekerja di Dinas Kesehatan Muba. Ibu ini terlihat sangat ramah dan supel, muda bergaul dengan siapa saja. Oleh karenanya, saya tidak segan-segan memberikan jawaban pula atas apa yang ia sampaikan tersebut. Ibu ini mempunyai beberapa komentar. Pertama, ia mengkritik begitu banyaknya jumlah partai. Kedua, besarnya biaya untuk melaksanakan pemilu. Dua poin inilah yang dapat saya tanggkap dari pernyataan ibu tersebut. Dari sekian perbincangan, dua hal inilah yang lebih fokus dibicarakan.
    Menanggapi hal tersebut, saya bak seorang pembicara saja dalam sebuah “seminar Jalanan” tersebut memberikan komentar. Menurut saya, ya memang banyaknya jumlah partai memang kurang tepat. Bahkan, saya juga memberikan pemikiran bahwa banyaknya jumlah partai akan memberikan dampak pada golput. Karena, nenek-nenek tua yang berada di kampong-kampung tersebut akan kesulitan memilih bahkan ia tidak tau bagaimana memilihnya. Akan tetapi, banyak nya jumlah partai juga bentuk sebuah eforia politik reformasi.
    “ Nah, itulah dek. Dulu orang menyalah-nyalahkan orde lama, lalu era reformasi menyalahkan orde baru. Nah, mungkin nanti suatu saat akan menyalahkan orde reformasi” ungkap ibu tersebut. “Lalu kapan Negara ini akan maju ? ” ungkap ibu tersebut. Ibu tersebut juga mengkritik besarnya jumlah uang Negara untuk melaksanakan pemilu hingga beberapa triliun. “Coba uang tersebut berikan saja kepada rakyat “ jelas ibu tersebut.
    Jawaban saya terhadap pernyataan ibu tersebut adalah dengan menjelaskan bahwa proses demokrasi hampir mendekati “kebenaran” dalam proses regenerasi kepemimpinan. Sebab, jika tidak ada proses regenerasi akan menyebabkan proses sirkulasi kepemimpinan berlangsung secara “illegal”. Artinya, biaya yang dikeluarkan untuk biaya pemilu tidak ada harganya bila dibandingkan dengan sebuah “ tragedi” perebutan kekuasaan secara illegal. Adanya illegal loging saja kita sudah kelimpungan, bagaimana jika ada illegal power. Wallahua’alam bissowab.
    Jawaban saya tersebut beriringan dengan dalam dua buah artikel sekaligus yang ada di Koran Sindo edisi selasa, 12 Agustus 2008. tulisan pertama oleh Wimar Witoelar yang berjudul “ Melatih Pandangan Politik Yang Jernih” dan yang kedua tulisan Habiburrahamn El-Shiradzy yang berjudul “ Perdebatan Matahari dan Anggin”. Dalam tulisan Wimar yang mengungkapkan bahwa adanya komentar-komentar dari pengunjung www.perspektif.net. Sebuah website yang ia kelolah lewat yayasan perseptifnya. Dalam komentar-komentar tersebut terdapat kata kunci dari pengunjung sebuah “frustasi” politik. Nah, Wimar dalam penjelasannya ingin melatih padangan agar berpikir jernih dalam berpolitik. Jangan sampai, “frustasi” politik tersebut akan mengulang pada sebuah lahirnya Seokarno dengan rezim orde lamanya, Seoharto dengan Orba. Artinya, dictator-diktator justru lahir dari sistem demokrasi yang “berlebihan”. Oleh karenanya, jangan sampai hal ini terjadi. Salah satu solusinya untuk melihat dan memberikan pelatihan kepada masyarakat agar memiliki pandangan yang jernih tentang politik.
    Hal yang menarik pula untuk disimak dari tulisan Kang Abik adalah untuk merubah “sesuatu” tidak harus menimbulkan kegoncangan layaknya angin yang ingin melepaskan mantel seorang nenek tua. Tetapi, merubah satu kondisi dengan kondisi yang lain cukup dengan sebuah “kehangatan” cinta. Dengan kehangatan cinta, maka semuanya bisa berubah.

  17. From |richard.p.s| on 19 August 2008 18:04:41 WIB
    No.16 nulis skripsi niy jreng ; )

    jangan marah, kan "kehangatan" cinta :) om Musheni nulis panjang lebar, diriku nulis om pimpa ala iyum gambreng. saling mewarnai, demokrasi toh! kalo nggak cengli, dilarang kasak-kusuk di blakang layar, apalagi main bom. mari berdebat demi solusi. *latihan*
  18. From PrimaryDrive on 19 August 2008 19:52:38 WIB
    Mengutip Bp/Ib Musheni, \"...Solusinya untuk melihat dan memberikan pelatihan kepada masyarakat agar memiliki pandangan yang jernih tentang politik.\"

    Saya setuju bahwa ini sangat penting. Pre-kondisi dr demokrasi adalah bahwa rakyat mengerti penuh setiap pilihan yg dipilih, dan apa konsekwensinya. Selama rakyat masih memilih berdasarkan \"..oh dia pinter pidato!\" atau \"... wah, putri Soekarno!\" atau \"...partai X berani bayar 1j per suara!\" jangan harap Indonesia bisa maju.
  19. From Andy MSE on 29 August 2008 00:24:57 WIB
    Aaaaach mas Wim!... Aku jadi kesindir nih! Sejak pertama ikut Pemilu (1987) sampai sekarang golput mulu...

    Ikut berpendapat:
    Demokrasi harus membawa sesuatu nilai tertentu. Misalnya se-kampung setuju bahwa judi dan mabuk arak tidak melanggar hukum, bukan berarti bahwa judi dan mabuk arak adalah baik.
  20. From Mundhori on 29 August 2008 08:23:56 WIB
    Sekarang ini urusan negara didominasi parpol.UUD kita menyatakan bahwa rekrutimen pemimpin melalui parpol. Latar belakang mekanisme tsb. karena UUD muncul ketika kita butuh mengerahan massa dalam rangka memenuhi kebutuhan politik untuk kemerdekaan bangsa. Kini kebutuhannya sudah berkembang tidak hanya politik, tetapi sudah meningkat pd kebutuhan ekonomi, keadilan hukum dan utmanya kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu sangat perlu UUD kita khususnya rekruitmen pemimpin tidak semata melalui parpol. Tetapi dimungkinkan melalui jalur lain. Apakah itu lembaga, LSM, ormas atau yg lain. Yg pokok sudah menunjukkan retribusinya pada bidang bidang yg dibutuhkan tadi.UUD terus diperjuangkan untuk dikembangkan, sesuai kebutuhan bangsa.
  21. From TEMENNYA RASNO YG JG LG MAGANG on 29 August 2008 10:39:39 WIB
    intinya sih kalo mau laku partai harus kerja sepanjang tahun. tidak hanya menjelang pemilu. ya ngak W?
    ngomong2 kynya WW dukung Obama ya... apa karena rambutnya mirip (he he he ga rasis to ini ???).
    tapi ada yang bilang kalau kandidat dari demokrat sekarang ini adalah teroris yang paling di cari sama BUSH. inilah dia... tet tet teeee....

    OBAMA BInlaDEN...

    he he he

    FANDI (Salam bt Rasno oom. titip dia ya. dia tu calon bupati CILACAP tahun 2018)
  22. From andreas on 05 September 2008 02:07:52 WIB
    dicari pemimpin dengan karakter : Lentera, Sapu Lidi, Air Laut dan Benih

    LENTERA (inspirasi-imajinasi-harapan-peta jalan)

    SAPU LIDI (melayani-menyatukan-membersihkan)

    BENIH (peduli dan bertumpu pada kepentingan generasi mendatang)

    AIR LAUT (kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat)
    boneka garam yang melebur dengan lautan luas


    andreas
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com
  23. From Bientono Soedjito on 11 September 2008 22:48:12 WIB
    Sebagai orang tua yang seumur Bung Wimar saya ingin juga mengemukakan buah pikiran yang ada dalam benak saya ini.

    Sekarang ini orang bilang adalah eranya demokrasi, tapi kenapa kok masih banyak tekanan-tekanan yang dilakukan oleh sekelompok golongan apabila tidak sependapat dengan pemikiran golongan lain. Lihat aja orang yang memiliki pemikiran sendiri kalau tidak berkenan dengan pemikiran dari kelompok lain yang lebih besar dan kuat ditekan bahkan digebugi. Apa ini namanya demokrasi, sama aja dengan alm. Pak Harto yang sering bilang nanti tak gebug.

    Banyaknya partai bermunculan bukan karena ingin meningkatkan kehidupan rakyat akan tetapi karena tidak ada cara lain untuk mencari duit selain melalui partai. Harus diakui bahwa mencari uang melalui partai lebih mudah dari pada menanam buah jagung yang sedikit demi sedikit bisa berkembang menjadi besar sehingga dapat memberi hasil yang menjanjikan karena harus memiliki ketekunan selama bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan buahnya. Kalau mendirikan partai cuman modal pinter ngomong dan membuat janji-janji kosong saja.

    Di Indonesia kalau hanya modal pinter dan jujur tidak akan maju karena kejujuran di Indonesia banyak musuhnya dan tidak pernah memiliki peluang untuk menduduki posisi yang tinggi. Contoh kecil kalau mau jujur, kenapa kalau melakukan pelanggaran lalu lintas selalu berusaha untuk menyelesaikan dengan cara damai. Berarti seorang yang jujur pun ternyata memiliki ketidak jujuran karena sudah berusaha untuk membujuk petugas untuk bertindak tidak jujur, ngaku aja lah.

    Memang ada juga seorang pendiri partai yang berhati mulya dengan mendirikan partai yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat, akan tetapi pada akhirnya kalau berhasil ternyata juga dimanfaatkan oleh para pengurusnya untuk memperkaya diri melalui posisinya yang menentukan pencalonan pilkada-pilkada yang sudah bukan rahasia lagi harus setor duit kalau mau dicalonkan.

    Sebetulnya Golput ini bukannya kelompok yang plin plan ataupun pecundang tapi kebanyakan karena sudah apatis dengan calon-calon yang bermunculan karena dianggap tidak bisa diandalkan dan memiliki reputasi yang tidak bisa diacungi jempol sebelumnya. Jadi akhirnya pasrah saja siapapun yang akan terpilih menjadi pemimpin hasilnya sudah bisa diketahui yaitu tidak akan berhasil alias nol besar. Yang penting bisa makan dan hidup enak dibawah pimpinan siapapun juga.

    Kalau golput direndahkan, apa golongan lain yang memilih karena dari pada gak milih lebih tinggi atau golongan yang memiliki kepentingan kalau calonnya terpilih. Kayanya susah untuk bisa menilai mana yang lebih rendah dan mana yang lebih tinggi karena semua ya sami mawon.

    Kalau bicara mengenai calon pemimpin dimasa yang akan datang biarlah Tuhan saja yang menentukan karena bangsa kita sekarang ini memang sudah kehabisan calon pemimpin yang bisa diandalkan atau dengan kata lain lagi mengalami krisis kepemimpinan.

    Ratusan triliun? Ini uang dari mana karena Indonesia belum pernah memiliki uang sampai ratusan triliun. Yang ada utang ratusan triliun bahkan lebih memang iya, terus bagaimana caranya bisa mengeluarkan uang sampai ratusan triliun hanya untuk membiayai sebuah demokrasi? Tidak usah demokrasi-demokrasian kalau uang itu diberikan untuk kesejahteraan rakyat sudah hebat dan rang lupa akan kata2 demokrasi.

    Kayanya di Indonesia ini demokrasi masih belum jalan karena kalau ada perbedaan pendapat, yang lemah akan digebugi oleh yang kuat, dikeroyok, di-injak2 dll. Sudah banyak contoh-2 dalam peristiwa yang terjadi di Indonesia apakah kita masih mau bilang sudah menjalankan demokrasi?

    Indonesia memang masih perlu ditangani oleh seorang diktator yang memiliki tujuan baik yaitu untuk bisa meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Hanya saja pertanyaannya, siapa calon pemimpin Indonesia yang memiliki sifat kediktatoran akan tetapi yang memilik tujuan mulya seperti itu. Bangsa Indonesia masih perlu didisiplinkan dan tidak bisa dipimpin oleh seorang yang loyo dan mlempem yang tidak bisa bertindak tegas. Sekarang ini kan sudah ada buktinya.

    Negara terbesar ketiga di dunia di bidang apa? Mungkin iya tapi dibidang produksi anak yang memang harus diakui luar biasa hebatnya.

    Selanjutnya terserah Bung Wimar saja deh, saya lebih baik tidak ikut campur karena ngurusi pekerjaan sendiri saja sudah susah apalagi ngurusi negara.


  24. From roy on 15 October 2008 01:49:33 WIB
    demokrasi!!!!!!!!!!!!
    sebuah kata yang sedang hangat bahkan panas menjelang pemilu!tapi apa!itu hanya sebuah kata doang!!!!yang selama ini dijalankan tetap aja otoriter!pemimpin memang tak cenderung otoriter tapi masyarakat dalam memililih pemimpin yang sangat otoriter!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    masyarakat ingin pemimpin yang bijaksana,yang mendengarkan suara mereka tapi memilih pemimpin yang dari golongan mayoritas ya jelaslah mentingin golongannya!!!!hahhhhhhhhh
    coba dong masyarakat sadar masih banyak para pemimpin yang cakap,tapi sama sekali ga dikasih kesempatan untuk maju!karena dia dari golongan \"minoritas\"!sorry kalu gua agak rasis!sebagai contoh,ga usah dalam pemerintahan pusat!dalam lingkungan sekitar aja!masih aja ada perbedaan kelompok antara agama mayoritas dan agama minoritas!dari situ aja ga ada muncul sikap berdemokrasi!coba dong saling mendukung!lihat hatinya bukan agamanya,lihat tujuannya jangan pikirkan dia dari golongan mana!
  25. From parlindungan on 15 October 2008 17:58:23 WIB
    Bukti Demokrasi adalah adanya kebebasan untuk memilih, dengan makin banyaknya partai maka makin besar biaya yang harus dikeluarkan. partai yang telah mengeluarkan banyak biaya akan mengadakan perhitungan biaya bilamana dapat kekuasaan di kemuadian nantinya.. saya belum pernah menemukan seorangpun bahwa seseorang tersebut memiliki niat tulus hanya untuk mebenarkan bangsa ini, pasti ada embel-embelnya, saya usulkan pilihlah partai yang mengeluarkan biaya politik kecil karena kemunngkinan pengkinan pegembalian modalnya makin kecil...
  26. From SAkura 14 tahun on 07 January 2010 09:51:15 WIB
    Dunia bergerak mmbntuk 1 emosi yg tdk dpt dmngrti..mmbuat Qt ingin mncpai kkuatan utk mLebihi org lain..msQpun Qt hrus mngorbankn org yg Qt syngi skalipun..hX utk hL yg sia\"..hal yg sbnrX tdk ada..hal yg tdk akn trbw Mati..emosi yg hx akn mncelakai dr Qt sndri..smua hX krn sPnggal kkuatn yg tk brrti..dnia yg pnuh dgn kkacauan..dnia yg kelak hx akn hncur oleh ksLahn mNusia... mulaiLah dgn 1 kbaikan&dunia akn baik\" saja.... tapi apa politik bisa mmbuat negara merdeka??? seberapa hebat kekuatan demokrasi sebuah suatu negara tk akan mmbawa kemakmuran pada rakyat... ingat indonesia negara berdaulat... intinya bgni.. apa politik harus menindas rakyat utk kemakmuran negara?? kita sdah sma\" tau kalo rkyat miskin tidak mungkin menang dari pengusaha... tapi apa pengusaha bisa makan kLo tdk dari hasil tani rakyat miskin??? dalam artian saling ketergantunganlah.. jadi gimana kita bisa dikakatan merdeka , kaya dan makmur?? kalo rakyat kecil cum dpat ampas politik doank??(kalo kampanyekan calon\" itu yg kebanyakan pengusaha itu, ska bagi\" angpao...) trs siapa yg msti disalahkan? rakyat, politik atau pemerintahan??
  27. From ainal on 25 December 2010 04:25:54 WIB
    kalou sy jangan pun demokrasi merdeka aja belum sy rasakan ini sungguh sy kecewa jadi warga indonesia,cuman jadi andang/obor,alat buat org2 penguasa.setiap 5 thn sekali kita cuma jadi biji ketepel,padahal kan katanya indonesia kaya mana buktinya liat yg benar rakyat selama ini sungguh sangat menderita,apa lagi thn 90 an rumah2 di pedesaan gubuk semua hidup dengan pas2an namun karna saking sengsaranya mereka nekad mengdu nasib ke negara org walou itu mengandung resiko jadi pembantu,sopir,buruh bangunan alhamdulillah banyak yg berhasil liat sekarang ke desa susah cari rumah gubuk dan mereka sedikit sejahtera.mana pejabat memperhatikan rayat tida mareka sibuk aja cari laba sikut kiri,kanan korupsi banyak2kin toh nanti belum tentu ada kesempatan lagi, liat malysia walou yg masih di jajah ingris tpi kehidupan rayatnya jauh ber beda sama kita malu dong
  28. From jefer46 on 04 May 2011 20:03:02 WIB
    menurut saya, sebenarnya sistem politik yang ada di negera ini sudah bagus, tapi mereka yang menjalankan sistem tersebut tidak melakukannya secara benar. banyak orang yang mengatakan bahwa politik itu kotor....kadang bisa jadi teman...eh kadang pula dalam sedetik bisa menjadi musuh.
    lantas benarkah demikian...kalau menurut sya sih, yang membuat politik itu kotor adalah orang yang menjalankannya...
    so....kesimpulannya sebagus apapun sistem politik atau pemerintahan dari suatu Negara....semua itu tidak akan berjalan dengan baik kalau para penyelenggaranya tidak melaksanakannya secara benar. OKKKK
    bagaimanakah dengan negara kita?????
  29. From Randi on 08 September 2011 10:14:58 WIB
    Please keep tohrwing these posts up they help tons.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home