Articles

Wimar: Hanya Korban yang Berhak Memaafkan Soeharto

Batak Pos
28 January 2008

Kontroversi seputar meninggalnya Soeharto juga terus terjadi di kalangan politisi dan pengamat. Wimar Witoelar kepada Batak Pos di Jakarta, Minggu (27/1) malam mengatakan, kaget dengan besarnya rasa simpati media begitu diumumkan Soeharto telah meninggal dunia. Mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur itu sempat diwawancari wartawan Al Jazeera dan banyak media internasional lainnya tentang besarnya simpati tersebut.

"Budi luhur dan kesantunan orang Indonesia memang dijunjung tinggi, termasuk saat Soeharto meninggal,"jawab Wimar.

Wimar mengatakan, menyayangkan pers asing yang tidak mengetahui maksud yang terkandung dalam arti kata memaafkan tersebut.

"Saya hanya menggarisbawahi pelunya dipisahkan konteks dimaafkan dengan penegakan hukum,"ujarnya.

Tokoh seperti Amien Rais yang cenderung memaafkan Soeharto pada hakikatnya telah melukai rakyat yang pernah menjadi korban kekuasaannya.

"Siapa pun tidak berhak memaafkan Soeharto kecuali para korbannya,"tegas Wimar.

Wimar pun menyesalkan pernyataan Presiden SBY yang mengumumkan hari berkabung nasional selama tujuh hari. Sebab, kebijakan ekonomi Soeharto mengakibatkan banyaknya kemiskinan karena sumber daya alam Indonesia habis untuk dimanfaatkan kroni-kroni Soeharto.

"Sudah jelas, yang ingin agar Soeharto dimaafkan adalah kroni-kroninya yang takut dengan ancaman hukuman,"kata Wimar.

Sangat berlebihan jika Presiden SBY mengatakan seperti itu sementara rakyat kecil, buruh, dan aktivis prodemokrasi, yang menjadi korbannya, malah tidak ingin memaafkan Suharto. san.

(koreksi penulisan dalam huruf miring)

Baca juga komentar seru di:

Print article only

89 Comments:

  1. From avartara on 28 January 2008 15:35:25 WIB
    "Siapa pun tidak berhak memaafkan Soeharto kecuali para korbannya,"tegas Wimar",..wah pernyataan keras juga ya,..padahal yang empunya maaf itukan Yang Maha Kuasa,...
  2. From wimar on 28 January 2008 15:46:55 WIB
    Ya iya lah, tentu segala ada pada Yang Maha Kuasa.
  3. From tisna on 28 January 2008 16:22:22 WIB
    Walau cenderung sependapat dengan Bung Wimar, namun rasanya kita patut mempertanyakan relevansi dan manfaat dari memberi atau menolak memaafkan orang yg sudah meninggal, terutama untuk rakyat yg belum menikmati kue pembangunan. Apakah tidak sebaiknya kita mengakhiri pemborosan energi bangsa untuk membicarakan dan mewacanakan hal yg mungkin sekali "pepesan kosong". Kecuali hal ini berdampak langsung pada kembalinya harta hasil KKN dari pelaku2nya untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk di KKN ala reformasi. 1 Penjual tempe mati karena uang rp 5 jt, sementara para elite politik 'hanya' bicara "maaf".
  4. From immi on 28 January 2008 16:31:28 WIB
    kenapa bila Yang Maha Kuasa sudah dibawa-bawa ke jalur politik dll diluar agama, jadi terdengar bodoh,hanya menutupi ketidakpahaman dan ketidakmampuan menyampaikan opini ?
    bener ga oom wimar atau cuma perasaan saya aja?
  5. From wak tul on 28 January 2008 17:10:14 WIB
    Kommentarnya bagus2....


    Tapi saya kira semua orang punya hak untuk memaafkan/tidak. Kiranya hal ini ga ada urusan beragama atau tidak. Seseorang beragama yg teguh tentu akan menggunakan etika budi-pekerti. Opini Pak WW juga sangat bagus. Seseorang menganjurkan untuk memaafkan, lalu apa yg dimaafkan ?
    Apakah sudah terbukti bersalah ?
    Secara etika humanis, bagaimana perasaan sekian banyak korban ?

    Saya kira, Pak Wimar sudah menjelaskan secara implizit pentingnya membedakan antara pribadi dan bisnis, antara hati nurani dan hukum. Beliau hanya mengingatkan, bahwa masih banyak urusan yg lebih penting, yg perlu diselesaikan secara sistematis demi kelangsungan hidup NKRI....
  6. From Bhakti Dharma on 28 January 2008 17:51:42 WIB
    Kalau soalnya memaafkan, dari segi pribadi saya (cerita saya bisa dibaca di bagian lain dari site ini), saya sudah lama memaafkan. Yang betul2 sayang sebaliknya: dari pihak beliau sampai meninggal tidak mengutarakan maafnya terhadap semua kekurangan yang dilakukannya langsung atau tidak langsung waktu zaman dia berkuasa. Tidak ada juga perbuatan2 terakhir dimana dia menunjukan mau sedikit memperbaiki masa lalunya, misalnya mengembalikan sebagian dari hartanya pada orang2 tidak mampu.
  7. From Tya on 28 January 2008 18:03:08 WIB
    Apakah memaafkan berarti melupakan? Bangsa kita memang pemaaf, haruskah menjadi pelupa juga? Sejarah memang sudah berlalu, tapi pernahkah kita belajar dari masa lalu? ojo lali sama masa lalu, lho.

    Mohon simak komentar lainnya di www.newschannelasia.com/suharto

    Salam.
  8. From dhimar on 28 January 2008 18:15:30 WIB
    Wah, buruan minta maaf sama Bung Wimar sebelum ada larangan memberikan maaf kepada orang lain. Biar suatu saat nanti kita tidak salah kalau memberikan maaf kepada orang2 "yang" mungkin "tidak" bikin celaka kepada kita. He he... siapa tahu karena ulah kita orang lain ikut berdosa? Urusan dunia, marilah selesaikan sama orang2 yang masih hidup.
    Ya Allah, ampunilah orang2 yang berdosa karena ulah kami. Mohon maaf lahir dan batin.
  9. From Herman Saksono on 28 January 2008 19:33:01 WIB
    Pasti yang komen sinis bukan korban
  10. From msabir on 28 January 2008 19:41:24 WIB
    Kata Gusdur amin rais lagi cari muka tuh pak!!!
  11. From Ari Warokah Latif on 28 January 2008 19:52:07 WIB
    "INNALILLAAHI .WA INNA ILAIHI ROJII'UUN" (bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya).

    Hakekat yang ditunjukkan seorang Amien Rais lebih kepada kewajiban seorang muslim kepada saudaranya (sesama muslim) yang telah meninggal. Persoalan almarhum meninggalkan sesuatu yang menjadi 'hutang' tentunya menjadi tanggung jawab keluarga dan kerabatnya untuk menyelesaikannya.

    Dan kewajiban setiap orang adalah mengingatkan apa yang menjadi 'hutang' almarhum. Lain persoalan bila yang 'dihutangi' ikhlas dan memaafkan agar almarhum dilapangkan kuburnya.

    Dan kewajiban negara untuk tetap memproses hukum perdata, dan mewujudkan keadilan untuk semua rakyat. Sehingga, di masa mendatang tidak seorang pun kebal hukum, bahkan ketika ajal menjemput. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua..
  12. From Asep on 28 January 2008 20:10:31 WIB
    Setuju Bung Wimar, yang bisa memberikan maaf adalah hanyalah para korban! Ini cara berpikir yg TEPAT.

    Jika A menampar wajah B, maka bukan C yg bisa memberikan maaf ke A! Tidak logis itu namanya.

  13. From harun on 28 January 2008 20:18:05 WIB
    Memaafkan iya lah kita harus lakuin, lha wong yang PUNYA dunia dan seisinya juga MAHA PEMAAF, kita sebagai manusia itu ga ada apa-apanya, jangankan yang punya kesalahan, yang ga punya kesalahan juga kita maafkan, karena konteks hidup didunia adalah silaturahmi, tapi dalam kasus ini kita juga jangan lupa bahwa kebenaran harus ditegakkan artinya bahwa maaf yang kita berikan akan terasa lebih pas, bila tahu apa kesalahan dan kebenarannya, jadi tolong bapak-bapak aparat penegak hukum bisa membuktikan!!! biar masyarakat kita tidak jadi pengekor yang hanya bisa ngomong tapi tak tahu esensi permasalahannya.
  14. From trian ferianto on 28 January 2008 21:09:55 WIB
    Telah selesai jiga perjalanan jenderal besar kita.

    Setuju dgn statement M Fadjroel Rachman, negeri ini bukan beneri halal bihalal. MEmaafkan memang seharusnya, tapi proses hukum harus terus jalan. Tidak fair juga kalo 100% kesalahan ditimpahkan pada Pak Harto, tapi yang menikmati hasilnya juga kroni2nya.

    Kita tunggu tanggapan Presiden SBY. Berani nggak menyatakan sikap?

    Salam Perubahan!!
  15. From R Muhammad Mihradi on 28 January 2008 21:24:17 WIB
    Dear semua jejaring perspektif.
    Ada buku bagus--yang belum sempet saya beli---Nunca Mas. Sebuah proses kalau ga salah di negara amerika latin, di mana disaat terjadi pelanggaran HAM masa lalu dan sulit sekali diselesaikan maka diadakan apa yang namanya rekonsiliasi berupa pengakuan fakta dari pelaku dan meminta maaf pada korbannya lalu diampuni oleh negara pelaku tadi---dengan catatan "memaafkan tapi tidak melupakan" agar jadi museum sejarah bagi anak cucu bahwa pernah terjadi pelanggaran HAM masa lalu yang harus dituntaskan dan tidak terjadi di masa datang.
    Trus, kalau memaafkan dan proses hukum memang dua hal yang lain. Namanya pemimpin besar==pak harto punya jasa besar dan pastinya punya salah besar juga. Kita sebagai bangsa bermartabat perlu berdamai dengan masa lalu, memaafkannya, tapi tidak melupakan proses hukumnya agar menjadi adil bagi korban dan siapapun yang dahulu di rezimnya teraniaya. Saya pikir, jika Pak SBY punya komitmen besar memaafkan pak harto maka seharusnya pula punya komitmen yang sama untuk memproses hukum--misalnya perdatanya--dan pidana untuk kroni-kroninya sehingga keadilan bisa terbumikan di Indonesia. Dan, buat kita semua, saya harap sih--Orba--tidak semuanya buruk, bagaimana kalau yang baik diteruskan, dan yang buruknya diberantas (seperti korupsinya). Saya khawatir, kita selalu dititik nol terus jika tidak mau bercermin dan mengambil hikmah dari masa lalu.
    salam reformasi (yang lagi dibajak)
    Mihradi
  16. From Ria Wibisono on 28 January 2008 21:59:32 WIB
    ini bukan soal maaf memaafkan. apakah dalam bahasa hukum kata 'maaf' bisa diterima? saya rasa tidak. ini soal proses hukum. banyak tokoh sudah mengingatkan pemerintah sedari dulu untuk segera mengusut kasus korupsi Soeharto. nyatanya, empat presiden setelahnya tak ada yang berani menuntaskan kasus ini. kini Soeharto telah berpulang, membawa segudang tanya tak terjawab dan proses hukum yang tak terselesaikan. namanya tidak bisa dibersihkan karena belum pernah menjalani hukuman. sungguh patut disayangkan.... sepertinya salah satu kesuksesan terbesar Soeharto adalah menanamkan jiwa 'mikul dhuwur, mendhem jero' di hati sanubari (pemimpin) Indonesia....
  17. From erwin k wardhana on 28 January 2008 22:42:48 WIB
    Memaafkan dalam konteks kemanusiaan saat ini adalah sesuatu yang menunjukkan Bangsa indonesia adalh Bangsa yang berhati nurani......untuk urusan lainnya, lihat saja sepak terjang kroni-kroninya Almarhum Pak Harto yang nota bene sebenarnya menghianati Pak Harto....Ok
  18. From M Fahmi Aulia on 28 January 2008 23:02:58 WIB
    saya memaafkan beliau, karena saya (dan keturunan saya) akan menjadi korban hutang yang dilakukan beliau dan konco2nya, pada saat menjabat.

    Jadi, mana ada bangsa Indonesia yg tidak menjadi korban? ;-)
    *senyum saja ah...*
  19. From feri on 29 January 2008 00:01:03 WIB
    Sebagai penulis berita itu, saya mungkin akan terpana dengan ucapan Pak Wimar. Anggaplah kematian Soeharto merupakan melodrama yang bisa buat kita terharu. Namun, janganlah kita terlalu lama terlarut dalam melodrama itu. Kita harus segera sadar
  20. From boaz on 29 January 2008 09:57:05 WIB
    Pada dasarnya, seluruh rakyat Indonesia adalah korban secara langsung maupun tidak langsung karena Suharto pernah menjabat sebagai presiden RI dalam periode yang sangat lama. Jika saja Suharto hanyalah seorang biasa, saya tidak akan merasa sebagai korban.

    Tidak hanya secara ekonomi dan politik, secara sosial-budaya dan moral, semua rakyat Indonesia sedang diuji identitasnya sebagai bangsa Indonesia. Budaya korupsi & sogok-menyogok masih banyak kita jumpai (dan mungkin juga kita lakukan). Semoga kita bisa melewati ujian yang berat ini sehingga kita bisa menjadi bangsa yang bersih dan pemaaf. Suharto dan Orde Baru adalah sejarah. Sekarang demokrasi.
  21. From Martin Manurung on 29 January 2008 10:05:26 WIB
    Dari semua figur publik yang berkomentar tentang Soeharto, hanya WW (di luar yg pernah jadi korban Soeharto) yang jujur dan berani. Dari semua koran, hanya Batak Pos yang tidak memuja-muja Soeharto.
  22. From najjara on 29 January 2008 10:55:28 WIB
    Belanda yang jajah lebih dari 350 tahun aja dimaafin, apalagi suharto yang cuma 32 tahun. Masyarakat lebih makmur pada saat si Eyang berkuasa, karena konon masa itu mayoritas penduduk ga susah makan kayak zaman sekarang. Pokoknya kalo mau berkuasa lama di Indonesia itu mudah, pastikan mayoritas penduduknya ga lapar. Masa bodoh segalanya, yang penting kenyang. Jadi maafin aja si Eyang.
    Kok ukurannya cuma sebatas perut kenyang! Pantas mikirnya cuma sampai perut dan ga pernah diproses otak. Indonesia..Indonesia..Bangsa tukang makan, namanya juga NKRI (Negara Kuliner Rep Indonesia). Pilih Bondan Winarno aja jadi presiden, pasti mak nyuuuss ...
  23. From anggana bunawan on 29 January 2008 11:18:31 WIB
    masalah maaf memaafkan jadi tidak relevan ketika semua emosi terelaborasi dengan keadaan kemarin saat pak harto wafat.

    dengan sadar atau tidak sadar kita sudah terlarut dalam kondisi duka yang benar-benar nyata. hampir semua masyarakat menyaksikan detik demi detik peristiwa wafatnya pak harto.

    perlu pemikiran yang lebih lanjut berkenaan dengan masalah memaafkan pak harto.

    saya sendiri berpendapat pak harto layak mendapat maaf dari masyarakat. karena bagaimana pun ketidakberdayaan pemerintah mengungkap banyak permasalahan era orde baru dan era reformasi lebih tidak dapat dimaafkan.

    harus mau diakui bangsa ini mengalami stagnasi baik dalam ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya.

    inilah yang harus diperjuangkan di masa kini dan terus dipertahankan untuk kemajuan masa yang akan datang.
  24. From bocah gemblung on 29 January 2008 12:11:21 WIB
    Innalilahi w i r.
    Telah berpulang Bapak Pembangunan sekaligus Bapak Kebangkrutan kita. Semoga dosa dan kezalimannya diampuni Alloh Swt, serta anak-anaknya serta kroni-kroninya segera masuk bui.
    Kalau saya pribadi sulit untuk memaafkan beliau, karena usaha keluarga saya dan banyak masyarakat lainnya dibabat habis oleh kebijakan eyang harto yang membikin peraturan yang mencekik rakyat, dengan monopoli. Tapi sebaliknya : memanjakan sang putra tercinta terutama raden bagus blegedus Tommy, dan tuanku putri Tutut clurut.

    Semoga kami rakyat kecil, tak membutakan hati dan mata dan telinga kami dari semua kebusukan dan kemunafikan di balik kedok kesantunan, dan kedok (kelihatan) alim beragama, tapi menyimpan rencana sekaligus berlaku jahat lagi kejam. Dan supaya tidak mengulangi dan tidak meneladani kezalimannya yang menyengsarakan ratusan juta rakyat, namun menikmatkan segelintir mafia berkedok rakyat.

    Dan semoga kepemimpinan negara kami segera terbebas dari cengkeraman dan keturunan mazhab2 pemikiran ordebaru dan kroninya yang zalim ini. Dan semoga SBY JK (walau kemungkinan kecil dan saya tak terlalu berharap dari jagoan tebar pesona itu, karena keandalan mereka berdua sangat lemah) segera bisa menuntaskan kasus Suharto dan kroni2nya, serta mengambil kembali uang rakyat yang dirampok dengan cara terhalus dan tersopan di jagad Bimasakti ini.
    Pak WW, tampaknya pasukan pengawalan pasukan prorakyat kecil dan prodemokrasi harus segera diperketat, karena para lulusan orba sudah makin lihai dan siap mandiri menerapkan jurus-jurus maut Cimande, ehh… Ciordebarunya, serta sudah mulai membuka pendaftaran murid baru dan mendirikan padepokan perguruan ciordebaru yang baru, dengan modal uang dan kekuasaan yang audzubillah.
  25. From Satya on 29 January 2008 13:12:56 WIB
    betul sekali. kamu yang bukan korban, ga ada artinya memaafkan. lebih berguna bantu rakyat melawan korupsi, daripada mendukung koruptor terbesar dalam sejarah negara kita.
  26. From Santi Amalia on 29 January 2008 15:17:37 WIB
    kayak nya semua org punya hak buat memaafkan deh..mau korban kek, atau org2 yg tidak pernah bersentuhan langsung dengan Suharto tapi merasakan efek dari birokrasi yg kaku, terpenjaranya demokrasi dll...

    kita mana tahu ada sosok yg pernah menjadi "korban" di era Soeharto, namun karena dia ikhlas, dan menyerahkan ini semua kepada hukum Tuhan memaafkan Soharto...

    saya malah bingung dengan peran politikus (anda salah satu) nya.., ulasannya banyak berlembar2, ucapannya di tulis di ratusan media, ide2 nya banyak di dengar masyarakat melalui media tv, internet, blog dll, tapi ...ya sebatas itu aja.., share .., kritik, ulas...tanpa ada perubahan yg bisa di berikan

  27. From Damar Setiadi on 29 January 2008 16:13:25 WIB
    Saya dan siapapun sangat BERHAK memaafkan Suharto. Urusan manusia sama manusia, ada lembaga hukum yg berwenang. Tapi kalo saya mau memaafkan tidak ada yg bisa larang.

    Karena Allah itu Maha Pengampun, sebagai hambanNya kita juga bisa memaafkan. Urusan hukum, mari kita lanjutkan dan awasi.
  28. From ricard on 29 January 2008 19:23:40 WIB
    bang Wimar, koQ bahas Amin Rais sih? Bukankah "gonta-ganti baju" itu hal yang lumrah baginya?(tanda tanya nih). Mungkin ada bakat jadi perancang busana, jadi harus buat fashion yang up to date. Sudahlah Bang, anggap saja kita lagi nonton fashion show. Sayangnya minim model cantiknya, makanya mata suka rusak sampai hati dongkol.
  29. From Muhammad Irdan on 29 January 2008 19:54:41 WIB
    Andakan sudah mengatakan pelunya dipisahkan konteks dimaafkan dengan penegakan hukum, tapi kemudian anda mengatakan lagi Tokoh seperti Amien Rais yang cenderung memaafkan Soeharto pada hakikatnya telah melukai rakyat yang pernah menjadi korban kekuasaannya.

    Bukankah apa yang di katakan Amien itu konteksnya dimaafkan secara pribadi.

    Jadi saudara Wimar ini juga nggak benar, politis dan tendensius. Rakyat sudah tau bos gimana kinerjamu waktu masih melacurkan diri menjadi juru bicaranya Gusdur dulu. Tidak lebih bagus dari Alfian Mallarangeng. Jadi sudalah jangan mempetakomflikkan lagi oarang lain dengan rakyat.

    Dulu saya kagum padamu waktu masih jadi aktivis tapi sekarang, No. Anda juga pelacur politik.
  30. From richard on 29 January 2008 21:28:33 WIB
    aduh, ada pengagum bang Wimar yang murtad nih. Sudahlah mas Muhammad Irdan, "everything is politics, but politics is not everything". Akui saja, kalau kita memang membonceng politik dalam derap langkah kita, baik politik buruk, politik sebatas baik atau politik benar. Terserah Anda, jika sebentar kagum dengan Wimar Witular lalu sebentar lagi mengatakan "NO". Semuanya tergantung pada politik apa yang Anda bonceng, apakah itu buruk, sebatas baik atau benar? Jawabannya ada pada Anda.
    Bukankah itu yang juga terjadi pada kebanyakan orang di negri ini mulai dari gembel sampai petinggi, yang sebentar muja-muji pak Harto sebagai Bapak Pembangunan, lalu meludahinya karena stempel koruptor, lalu kembali menghormatinya sebagai Jendral Besar karena Almarhum?
    Saya sih kurang yakin, kalau orang-orang yang "sebentar-sebentar" itu tulus kembali menghormati pak Harto karena alasan kemanusiaan sampai keagamaan. Karena saya lebih yakin, kalau orang-orang yang "sebentar-sebentar" itu bukanlah orang bodoh, dan mereka belajar sejarah, dimana sejarah mencatat, dulu keluarga Bung Karno juga dihujat, namun akhirnya jadi idola hingga akhirnya menghantar keluarga bung Karno ke puncak politik belakangan ini. Jadi bisa jadi, mungkin ada banyak kaki yang mulai gemeteran memprediksikan keluarga cendana yang akan jaya kembali. Apalagi ditambah "ramalan-ramalan" ala bangsa klenik ini. Ah, mungkin saya sok tau ya, maafkanlah kalau demikian, tapi mengungkapkan sebentar nge-fans, sebentar meludahi, ala pemuja kepetingan buruk dan kepentingan sebatas baik seperti itulah yang layak disebut sebagai pelacur politik, dan itu pasti bukan kepentingan yang benar bung.
  31. From didiet pob on 30 January 2008 00:01:09 WIB
    saya setuju dengan Prof. Wimar..

    salut buat Presiden Yudhoyono yang mengumumkan hari berkabung nasional selama 7 hari untuk kematian jenderal besar soeharto...

    setelah itu Presiden SBY, juga diharapkan:

    memberlakukan 1 tahun berkabung untuk korban PKI yang dibantai rezim soeharto,

    1 tahun berkabung untuk korban oprasi militer di Aceh selama rezim soeharto,

    1 tahun berkabung untuk korban tragedi lampung,

    1 tahun berkabung untuk korban tanjung priok,

    1 tahun berkabung untuk korban kedung ombo,

    1 tahun berkabung untuk para aktivis dan tapol yang diculik, dibunuh dan dipenjara tanpa peradilan oleh rezim soeharto

    1 tahun berkabung untuk korban pembredelan semena-mena oleh Harmoko,

    1 tahun berkabung untuk jenderal besar AH Nasution, yang berjasa menaikan soeharto menjadi presiden tapi pada akhirnya dicekal sampai aliran air PAM dirumahnya diputus dan harus membuat sumur dirumahnya yang berada di tengah kota JL. Teuku Umar yang hanya berjarak beberapa meter dari Istana Cendana..( sebuah perlakuan yang buruk bagi seseorang pahlawan seperti pak nas.

    akan tetapi menjadi warga negara yang baik, adalah warga negara yang bisa menghargai pemimpin dan mantan pemimpinnya termasuk pak harto
  32. From didiet pob on 30 January 2008 00:10:01 WIB
    jangan lupa juga:
    1. swasembada pangan tahun 84

    2. yayasan supersemar yang manyantuni lebih dari 2 juta siswa dan mahasiswa tidak mampu

    3. program2 unggulan seperti KB, Puskesmas, Posyandu, KUD, dan kita bebas polio

    4. pembangunan irigasi dan waduk2 untuk pengairan sawah
    dan pembangkit listrik

    5.stabilitas regional

    6. TMII yang dikunjungi 5 juta orang pertahun

    7. stabilitas harga sembako

    8. perumahan rakyat digalakan, kecuali kedung ombo yang di usir secara tidak manusiawi

  33. From Farid Primadi on 30 January 2008 05:02:43 WIB
    Secara general, saya tidak bisa membenarkan atau pun menyalahkan statemen dari Bung Wimar tersebut di atas.

    Namun menurut saya pribadi; Pak Harto hanyalah manusia biasa, begitu pun dengan kita semua; yang mana tidak terlepas dari kesalahan.

    Sebagai manusia, meminta maaf atau pun menerima maaf adalah hak preogratif masing-masing individu. Terlepas dari sebab kata maaf itu terucapkan, atau bahkan tidak.

    Mungkin untuk korban-korban dari Pak Harto, dosa-dosa Pak Harto serasa tak termaafkan. Itu sah-sah saja bila demikian adanya.

    Namun menurut saya pribadi, dosa-dosa rakyat Indonesia pun seperti cukup besar terhadap Pak Harto. Maaf jika pendapat saya tersebut salah.

    Sehingga menurut saya pribadi, alangkah baiknya rakyat Indonesia (terutama yang bukan korban dari Pak Harto) turut pula meminta maaf kepada Pak Harto.

    Kira-kira begitulah pendapat pribadi saya.

    Regards,
    Farid Primadi
    http://tinyurl.com/3agf9m
  34. From Martha on 30 January 2008 06:59:44 WIB
    so Suharto moved on and I think Indonesian should too. Forgiveness (whatever that means) whether it exist or not in Indonesians hearts will not make any sort of significant changes for better Indonesia. The fact is, he messed things up and it is up to all of us to clean up the mess. Grunting ain't gonna make the process any easy.

    What we need to do is get together and start believing in good deeds. Come on lets make a better Indonesia, together!
  35. From Zaq on 30 January 2008 09:20:07 WIB
    Kesimpulannya singkat saja: UUD Alias ujung ujungnya duit.
    Ada gula ada semut.

    Tidak hanya orang Indonesia saja yang UUD, orang Amerika juga. AS mendukung Soeharto 32 tahun berkuasa karena secara ekonomi dan politik mendukung AS sehingga AS mengabaikan pelanggaran HAM maupun kebijakan yang menghambat demokrasi di Indonesia.

    Hanya bedanya, AS mendholimi bangsa lain untuk kesejahteraan bangsa sendiri, Indonesia mendholimi bangsa sendiri untuk kesejahteraan diri sendiri. Ibarat keluarga-keluarga di kampung, keluarga Amerika ngompasi tetangga dan hasilnya dibawa pulang dan dimakan bersama dengan keluarga, sementara keluarga Indonesia minder dan sopan dengan tetangga tapi merampas jatah makan adik atau anak sendiri dan dimakan habis.

    Dua-duanya brengsek, tapi mana yang lebih berengsek?
  36. From Qazaqa on 30 January 2008 09:34:38 WIB
    Kalau mau memaafkan, silakan dalam hati sendiri karena itu urusanmu dengan Tuhan. Bagi saya, orang-orang yang koar-koar menganjurkan agar memaafkan Soeharto adalah orang-orang yang sok suci tapi sebenarnya berhati sangat kejam, mereka ingin kelihatan sok agamis tapi justru mendholimi ajaran agama itu sendiri karena mereka tidak memedulikan sesama yang mengalami kesengsaraan sebagai akibat dari pemerintahan Soeharto.

  37. From Martin Manurung on 30 January 2008 09:37:16 WIB
    Kasihan sekali Muhammad Irdan. Karena kehabisan argumentasi jadi menyerang orang lain.
  38. From wasty on 30 January 2008 10:55:28 WIB
    Setuju sekali dengan pak Wimar. Terima kasih karena sudah berani berpendapat "beda", Pak.
  39. From olangbiaca on 30 January 2008 10:56:05 WIB
    Asl..pak Wimar..salut sama Bapak, masih sekritis seperti dulu....Keep spirit.!
  40. From Audi on 30 January 2008 11:57:21 WIB
    Gue setuju banget dengan artikel ini!
  41. From boaz on 30 January 2008 12:38:36 WIB
    Salut buat WW yang masih meloloskan komentar dari saudara Muhammad Irdan. Kita harus banyak belajar untuk menyampaikan pendapat secara baik dan sopan.
  42. From albertus on 30 January 2008 17:12:54 WIB
    pak Wimar pasang bendera gak pak? ikut berkabung.

    saya setuju apabila kasusnya tidak boleh dibuat terus mengambang atau 'dieendapkan' kalau istilah presiden terpilih kita, akan tetapi murni langsung dimaafkan juga tidak masuk akal, dimaafkan dari apa? apa kesalahannya? saya setuju saja apabila presiden memberikan grasi, tetapi itu harus setelah sudah ditetapkan oleh pengadilan bersalah, dan kesalahannya dijabarkan secara menyeluruh. Rakyat umum hanya menilai 'jaman pak Harto segalanya lebih gampang, semuanya murah, sekarang mahal semua', persepsi ini harus dikoreksi.

    Ujung-ujungnya kembali ke penegakan hukum, disini saya sangat pesimis, hukum Indonesia sudah sangat hancur, dari polisi lokal sampai ke MA. Siapa sih sekarang ini yang berani usik-usik Mahkamah Agung? kemarin mau dicek kas liar saja menolak terus tidak ada kelanjutannya. Selama peradilan Indonesia bisa diperdagangkan, tidak mungkin Soeharto 'diadili'.
  43. From HMS on 30 January 2008 18:41:18 WIB
    Setiap Idul Fitri kita berucap Minal Aidhin walfaidzin. E, pengadilan dan penjara jalan terus tuh.

    Kalau secara politik (wakil politik RAKYAT siapa?): maaf atau tidak ?

    Kalau secara hukum (siapa yang jadi TERSANGKA / TERDAKWA?). Deliknya apa? Biar jelas siapa yang harus MENCARI / MENGAJUKAN bukti.

    Kalau diskusi bolak balik tanpa langkah-langkah a, b, c yang jelas. Ya hasilnya akan seperti pansus-pansus itu, muncul manakala DIPERLUKAN, tenggelam ketika semua SUDAH PUAS, terus berulang-ulang.

    Ada hal lain: Sering kita mencari-cari yang nilai materi sekian M tetapi karena menyangkut pribadi tertentu yang entah bagaimana bisa dinilai secara (saya tidak tahu secara apa) sekian T.

    Ada hal yang nilai materinya tinggi (bagi pengentasan kemiskinan, bukan sekedar GNP tinggi) tetapi karena menyangkut invisible power (saya juga tidak bisa melihatnya) entah bagaimana hasilnya timbul tenggelam, tidak jelas.

    Mungkin hanya demi kata PUAS?
  44. From richard on 31 January 2008 03:51:41 WIB
    Ada dua cara orang, ketika meyapu sampah. Orang yang pertama suka menyapu sampahnya ke pinggir, lalu menumpuknya hingga menjadi timbunan sampah baru yang membuat sampahnya lebih kotor dan berbau busuk. Orang yang kedua suka menyapu sampahnya ke tengah-tengah, lalu membakarnya habis.
    Saat kontemplasi diri, saya serig bertanya-tanya: "gue ini tukang sapu yang model mana ya"? LAW ENFORCEMENT STARTS WITH YOU!
  45. From bocah gemblung on 31 January 2008 11:36:59 WIB
    Hai para apatis dan pro status quo, pelestari orba dan para penjilat Suharto, baca nih!

    Ditengah kontroversi atas proses hukum yang diarahkan padanya, serta berbagai silang sengkarut kasus KKN dan
    dugaan adanya uang negara yang dikorupsinya, kita perlu secara jernih menanggapinya.
    Mengutip tulisan Bapak M. Pabottingi di sebuah harian pada Kamis 24/01/08 lalu : “Ada hal teramat penting yang dilanggar oleh hiruk-pikuk para pemohon maaf bagi mantan Presiden Soeharto: mereka tidak menempatkan tokoh ini dalam konteks nasion dan/atau republik kita. Mereka membela Soeharto sebagai mantan kepala negara dengan mengabaikan induk negara, yaitu nasion/republik tadi.
    Secara implisit mereka menempatkan Soeharto dan ipso facto diri mereka sendiri bukan hanya di atas negara, melainkan sekaligus di atas nasion/republik kita. Selain kepongahan, pelecehan, dan kesalahkaprahan yang sungguh tak pada tempatnya, di situ juga tebersit kekerdilan. Itu jelas merupakan perilaku Orde Baru dan demi kepentingan para ”bablasan” dan/atau cetakannya.
    Begitu juga mereka yang dengan enteng mengimbau agar bangsa kita segera meninggalkan dan melupakan segenap kontroversi menyangkut Soeharto dan segera beralih pada tuntutan ”pekerjaan rumah” dan ”perlombaan internasional”, di mana disebutkan kita begitu tertinggal. Mereka lupa bahwa menyelesaikan rangkaian masalah Soeharto yang sarat perkara HAM dan korupsi adalah bagian mutlak dan sentral dari pekerjaan rumah serta perlombaan internasional itu. Dengan menyatakan bahwa terus mempersoalkan masalah-masalah menyangkut Soeharto sebagai kontra-produktif, kekerdilan menjadi tiga kali lipat.”

    Tanggung jawab, sekali lagi pertanggungjawaban atas segala keputusan dan tindakan seorang kepala negara yang jelas sangat berdampak bagi segala lini perikehidupan rakyatnya.
    Memang Pak Harto pada sekitar 20 tahun pertama pemerintahannya berjasa dalam pembangunan, pemulihan ekonomi, serta kemajuan lain yang tak bisa diremehkan. Namun banyak yang terlupa, bahwa itu semua bertumpu pada pondasi yang sangat keropos, karena terlalu banyak bergantung pada bantuan luar negeri, dari keuangan sampai ke strategi implementasinya. Membiarkan korupsi membusukkan berbagai lini strategis negara, seperti pertamina, perbankan, dan industry, yang awalnya dilakukan oleh orang-orang dekatnya, namun pada akhirnya melibatkan pula anak-anak tercintanya yang beranjak dewasa.
    Pada awal kekuasaan ia melibas PKI, juga mantan Presiden Sukarno beserta keluarganya yang terbukti sama sekali tidak terlibat PKI. Sukarno memang menjadi tumbal keadaan ,karena pertikaian parpol saat itu sangat berpotensi memecah negara, maka beliau mengorbankan diri untuk kesekian kalinya menjadi orang ynag dipersalahkan atas semua keadaan yang kacau balau, termasuk menjadi batu injakan Suharto naik jadi pemimpin (walaupun suharto naik pun diragukan keabsahannya karena kotroversi supersemar).
    Setelah naik dan mengaku mendapat supersemar yang gak jelas itu, Suharto melarang anak-nanak Sukarno MEMBESUK BAPAKNYA SENDIRI, tidak memberikan obat secara teratur pada Sukarno, tidak boleh punya akses thd media komunikasi dan media massa apapun, dan menjauhkan Sukarno dari alat-alat kesehatan apapun. Benar-benar sebuah kekejaman dan tak tahu terima kasih dari suharto dkk. Meludahi dan merendahkan proklamator kemerdekaan negara mereka setara b******g. Bahkan kasur dan sprei Sukarno pun tak pernah diganti.

    Berbanding terbalik dengan kondisi eyang suharto yang meninggal dengan kondisi sangat layak, standar vvip. Dengan penghormatan setinggi langit dan upaya jilatan-jilatan terakhir dari a****g-2 setianya.

    Setelah menjabat sekian lama, akhirnya bukan cuma PKI dan Sukarno yang dilibas. Rakyat yang sangat mendukungnya pun dicekiknya sampai sekarat dengan berbagai kebijakannya yang sangat manipulatif, koruptif, kolutif, full dagelan, dan otoriter pula. Mulai hutang terus pada negara asing, korupsi sampai monopoli, dari properti, manufaktur sampai cengkeh. Pada akhir 80-an mulai tersingkaplah wujud asli Suharto beserta konco dan jongosnya. Ditambah pembungkaman mulut rakyat dan media, serta berita-berita kesengsaraan rakyat yang ditutuptutupi atas nama pembangunan dan stabilitas, serta tentu diembel-embeli demokrasi Pancasila (waduh kasihan betuuul Pancasilaku). Yang bikin tambah seru dan "saru", ditambah kutipan ayat suci dan mulut fasih memuji nama Sang pencipta, namun hati, pikiran ,keputusan dan tindakan mereka mementingkan nafsu duniawi sendiri sambil memasung, mencekik, menindas bahkan membunuh rakyatnya sendiri.

    Sebenarnya di era orba banyak pula kurang gizi, kemiskinan akut, tanah rakyat diambil paksa dan digusur paksa bak Kumpeni/VOC.
    Namun para cendikiawan kampus, mahasiswa, aktivis, masyarakat biasa, dan wartawan banyak yang dilibas bila ketahuan mempublikasikan/ membuka kenyataan itu. Maka banyak profesor yang jadi jongosnya asal selamat (akibatnya dirasakan sekarang : biaya pendidikan melangit, karena dikelola oleh menteri bermental jongos bentukan suharto/orba). Ternyata Suharto musuh sekaligus murid terpandai dari kumpeni belanda.

    Para pejabat lingkaran pusat yang bermental bajakan dan berpolah ABG (asal bapak gembira), berusaha sekuat mungkin mempertahankan kekuasaan Pak Harto dengan terus mengangkatnya sebagai Presiden, walaupun sang Bapak Pembangunan ini sudah menunjukkan sinyal-sinyal kelelahan. Tentu dengan maksud supaya segala jenis usaha/bisnis yang dijalankan oleh kroninya, semakin besar menggurita, mantap dan mapan mencengkeram negara di tengah kesengsaraan rakyat yang dikorbankan dan dibungkam serta tak terekspos.
    Kemauan, sekali lagi kemauan didasarkan niat untuk menegakkan kebenaran hakiki berdasarkan kebenaran itu sendiri, beyond segala UU dan hukum formal yang nyatanya bisa diputarbalikkan dan dipelintir sesuai kehendak uang dan nafsu.
    Jangan sampai kita memaafkan beliau dengan berpijak di atas pondasi pasir dengan penyangga kayu lapuk. Motif kita memaafkan itu didasarkan karena kita telah lupa/ telah letih menghadapi kesulitan hidup/ telah mapan dengan berbagai kenikmatan karena kecipratan hasil KKN? Di tengah kontroversi dimaafkan atau tidak, dengan berbagai versinya, maka kebenaran dan keadilan menjadi pegangan obyektif, tanpa usah mendengar emosi dan nafsu sesaat.
    Memaafkan harus jelas dulu kesalahan apa yang mau dimaafkan. Ehh, tapi orang-orang sekaliber Suharto dalam kezolimannya serta jongos-jongos setianya apa berani dan mau ngaku kesalahan2 mereka ya? Masak maling ngaku maling…?

    Pak WW, tetap teguh ya, di tengah suara-suara sumbang yang dihasilkan monyet-monyet bodoh lagi penjilat hasil bentukan dan cetakan Suharto/orba. Keep the faith!

    Matur nuwun
    botjahgemblung@yahoo.co.id
  46. From dayat on 31 January 2008 12:52:36 WIB
    kesalahan yg tidak bersifat sosial memang mintalah ampun kepada Tuhan, tetapi kesalahan yg menyangkut orang per orang memang harus mendapat pengampunan dari orang yang bersangkutan baru tuhan menyertai..

    itulah mungkin Tuhan mencipta neraka sebagai sarana penyucian dosa.. sebab kesalahan kita antara sesama manusia sepanjang hidup, kiranya takkan mungkin mendapatkan pengampunan yang sempurna..

    beruntunglah orang-orang biasa yang hidupnya tak menyangkut hajat hidup orang banyak.. jadi tak begitu banyak hutang maaf yang harus dibayar...
  47. From bud on 01 February 2008 00:39:15 WIB
    malahan mau dijadikan pahlawan nasional. sepertinya arwahnya masih bergentayangan disekitar kita...hi....
  48. From wimar on 01 February 2008 00:48:23 WIB
    terima kasih boaz, yang melihat apa yang saya coba kerjakan, yaitu bertukar pendapat secara terbuka. kalau sampai kesal baca tulisan sampai harus naik darah, lebih baik jangan baca, cari yang lebih cocok saja, sudah mulai banyak lagi tulisan pro-Soeharto kok.

    untuk didiet pob, kita latihan menemukan perspektif ya:

    jangan lupa juga:
    1. swasembada pangan tahun 84
    >>> dengan mengorbankan pendapatan petani dan keragaman paen

    2. yayasan supersemar yang manyantuni lebih dari 2 juta siswa dan mahasiswa tidak mampu
    >>> dengan mengambil uang secara bebas dari masyarakat dan menyimpan sebagian besar sampai sekarang

    3. program2 unggulan seperti KB, Puskesmas, Posyandu, KUD, dan kita bebas polio
    >>> memang bagus

    4. pembangunan irigasi dan waduk2 untuk pengairan sawah
    dan pembangkit listrik
    >>> dengan korupsi 30% menurut estimasi Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo dan pengakuan Bank Dunia

    5.stabilitas regional
    >>> bersama orang kuat lain di Asia Tenggara dan kerjasama adikuasa - jelas stabil menekan oposisi

    6. TMII yang dikunjungi 5 juta orang pertahun
    >>> pilihan lain adakah?

    7. stabilitas harga sembako
    >>> tanpa meningkatkan pendapatan petani dan sambil monopoli sistem distribusi oleh penguasa

    8. perumahan rakyat digalakan, kecuali kedung ombo yang di usir secara tidak manusiawi
    >>> wah sebagai developer kita berat sekali menanggung korupsi dalam sistem pendanaan perumahan

    9. perlu tambahkan point yang mengalahkan semua 8 yang bagus itu, yaitu korupsi terbesar di dunia dan pelanggaran hak azasi manusia terberat dalam sejarah modern.
  49. From wak tul on 01 February 2008 04:27:37 WIB
    Stabilitas Politik n Ekonomi...

    Istilah ini sangat saya sukai. Yg tidak saya sukai sama sekali adalah implementasi yg jauh melenceng. Tahun 1974 saya baru belajar membaca. Sobekan koran bungkus tahu goreng mengulas ttg perubahan kurs dari Rp 425,-/USD1,- menjadi Rp925,-. Dan sekarang Rp9.300.
    Hehehe, rasanya ga bisa ngitung lagi. Brapa persen tuh ?
  50. From dmitri on 01 February 2008 05:04:29 WIB
    Yang Maha Kuasa? emang siapapun diantara kita kenal, sampai berani sebut Dia yang Paling Dari Yang Terpaling?

    berkepercayaan atau tidak, apa yang sudah lewat memang sebaiknya disimpan saja. tapi kalau ada urusan yang belum kelar, bukan berarti pekerjaan sudah selesai.

    beda besar antara Percaya dan Membuat Orang Mengira Kita Percaya. sayang memang, orang Indonesia sering bersembahyang, namun dalam bekerja masih mencuri waktu dan uang, sambil berpura baik.

    kalau saya memang suka curi uang dan waktu, tapi saya ngaku. bedanya cuma itu, kok. ngaku apa enggak. kalo memang senang sama jasa Soeharto, ya terusin dong kerjaannya. cari korban terus supaya negara ini ekonominya stabil terus, dan terus bisa berswasembada. atau takut kehabisan korban sehingga kemudian harus mengorbani keluarga dan teman sendiri supaya tetap stabil dan swasembada? silahkan percaya atau tidak percaya. silahkan membusuk bareng kuburan basah pahlawan anda.
  51. From adhi on 01 February 2008 09:55:36 WIB
    Soal Soeharto, saya setuju dgn Sarwono. (lihat : http://www.sarwono.net/analisispol.php?id=94 )

    Ttg "orang biasa" yg skrg terlalu mengagungkan Soeharto?
    Saya kira, pertama, karena pemerintah(an) skrg tidak bisa membuktikan BISA lebih baik dari Soeharto. Shg tak ada cara lain selain mengatakan (scr implisit) bhw "kami ini kelanjutan dari bapak pembangunan tercinta".
    Kedua, spt kata Emha Ainun Nadjib, orang kecil (boleh ngga disini orang kecil saya terjemahkan sbg "orang biasa" ?) itu bersikap INSTIKTIF. Kita gak bisa menyalahkan mereka. Jadi kalo rakyat kecil memuja-muja Soeharto, yg mestinya koreksi adalah kita-kita yg ogah sama Soeharto.

    Ttg Amien Rais?
    Duh, dia makin amburadul aja ya?! Bahasa Inggrisnya maksa. Logikanya kacau. (dia pake logika agama --yg menurut dia lebih tinggi dari logika hukum. Rupanya logika itu jg dibantah oleh Emha, begini " lho kalo mau maafin boleh saja, tapi kan mesti tahu apa yg mau dimaafin.?" )
    Apa gara2 kemaren ketahuan makan duit DKP. Mestinya kalo mau memaafkan Soeharto dia "maafin" Rokhimin Dahuri dulu, dgn cara mengusahakan pembebasan Rokhimin. Iya kan?



  52. From rony on 01 February 2008 10:26:22 WIB
    Kawan-kawan, sepertinya perlu adanya reformasi jilid 2 (pas 20 taon nihh) tapi jangan kayak tahun 1998 yang banyak ditunggangi oportunis2/pahlawan kesiangan sehingga agenda2 reformasi justru banyak yang tidak dapat terealisasi. Salah satu agenda reformasi jilid 2 yaa menjalankan Tap MPR tentang pengusutan kasus mantan Presiden Soeharto. Daripada kita tunggu tahun 2009, dimana mungkin Presiden terpilihnya masih SBY ato mungkin malah dari Partai Golkar lebih baik kita gerakan saja gerakan reformasi jilid 2 sekarang juga, dan kita berdoa mudah2an dengan cara ini kita bisa mendapat pemimpin baru yang memiliki figur pemberani kayak Bung Wimar, sehingga kita bisa menaruh harapan kasus Pak Harto dapat dituntaskan.
  53. From Ayu on 01 February 2008 10:54:21 WIB
    Ini pikiran bodoh aja, ya ... Wong masih suka menyimpan dendam; dengan tidak memperbolehkan kroni2 yang dianggap mengkhianatinya bezoek di RS, kok bisa2nya ngarep maaf. Gimana sih? Ga nalar banget! :-)
  54. From sikinahiji on 01 February 2008 21:59:17 WIB
    Perbincangan dan Berita-berita yang berkaitan dengan Soeharto berkaitan dengan meninggalnya beliau saat ini sudah tidak pada tempatnya. Semua itu untuk saya pribadi adalah lelucon saja.

    Gimana tidak itu semua hanya lelucon (atau pengalihan masalah), ketika beliau masih hidup orang-orang hanya diam saja, saat dia sakit baru diributkan kembali baik mengenai jasa dan kejahatannya. Dan ketika beliau meninggal, semua orang saling beradu kata mengenai maaf, pengampunan, jasa, pahlawan nasional dsb yang sebenarnya malahan menghabiskan waktu dan energi.

    Menurut saya Bangsa Indonesia (yang besar) ini seharusnya :
    1. Menjadikan itu semua pelajaran dan tidak terulang kembali.
    2. Jangan pernah mengkultuskan atau mengagungkan seseorang yang saat ini hidup menjadi pimpinan-pimpinan.
    3. Masalah yang ditinggalkan almarhum diusut dan diselesaikan secara hukum, sehingga jelas mana yang salah dan mana yang benar.
    4. Kroni yang masih ada juga harus ditarik jika memang terkait dengan segala kesalahan yang dilakukan beliau.

    Mengenai maaf memaafkan ya nanti kalo sudah terbukti kesalahanya, baru terserah mau dimaafkan atau tidak. Bagaimana kita memaafkan seseorang, jika kita tidak tahu kesalahannya apa.
  55. From Wibisono Sastrodiwiryo on 02 February 2008 00:17:51 WIB
    Semua keberhasilan Soeharto dibangun dengan stabilitas nasional yang mantap. Stabilitas bisa dicapai dengan pemerintahan yang otoriter militeristik.

    Mending dalam stabilitas nasional yang mantap itu Soeharto benar benar mau membangun bangsa, kenyataannya harga stabilitas yang sangat mahal itu (panjernya 500 juta jiwa rakyat dibantai) tidak digunakan untuk membangun bangsa tapi hanya untuk membangun ekonomi yang rapuh berbasis hutang.

    Bangunan rapuh itu hanya untuk mengalihkan perhatian rakyat dari aksi korupsinya. Kalau sudah begini tak ada maknanya lagi semua "prestasi" yang dijabarkan oleh sdr didiet pob, karena itu semua semu.

    Pernah saya tulis di Blog saya:
    http://dendemang.wordpress.com/2008/02/01/waspadai-bahaya-laten-orde-baru/
  56. From Dani RM on 02 February 2008 00:21:58 WIB
    Yang aku tahu, bahwa kita tak akan pernah memulai apa pun, pada saat kita masih terbelenggu masa lalu! Mengapa bangsa ini tak maju2? Mengapa kita tertinggal jauh dari bangsa2 lain, bahkan dari negeri2 tetangga kita?? Saya yakin jawabannya adalah karena kebanyakan mereka (bangsa2 lain itu) sudah benar2 hidup di tahun 2008, sedang kita terus saja bergulat di 10 tahun yang lalu!!! 1998!! Ah, kasihannya bangsaku!! Bangunlah dari tidurmu yang panjang! Lihat dunia!!! Lihat dunia!!! Jangan mau terjerat masa lalu!!! Tugas kita sekarang adalah merebut hari ini! CARPE DIEM! (Dani Ronnie - Bumi Sriwijaya)
  57. From richard on 02 February 2008 00:42:54 WIB
    Makin lama makin keliatan kayak sinetron. Mungkin itu penyebab banyaknya station tv ya? Ada kaitannya nggak?(tanda tanya nih)
  58. From didiet pob on 02 February 2008 00:55:13 WIB
    saya setuju dengan adhi ttg amien rais..

    ditengah era ketidakstabilan ekonomi dan politik saat ini
    yang berujung pada tertunda dan semakin lambannya upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat...

    dengan dibantu media massa yang bertubi-tubi memberitakan almarhum presiden soeharto yang dibarengi ringkihnya ketahanan pangan dan kestabilan harga sembako...

    sepertinya rakyat diajak untuk kembali merindukan era kestabilan zaman presiden soeharto, terutama kestabilan politik,

    di mana saat ini demokrasi masih mencari formula terbaik dan dibarengi dengan oligarki partai politik yang akan semakin merajalela setelah disahkannya UU Partai Politik yang baru. dimana partai disinyalir akan semakin melenggang sebagai kekuatan utama tanpa ada yang bisa mengontrolnya termasuk calon independen yang diperjuangkan salah satunya oleh WW..

    menurut saya salah satu syarat mutlak perbaikan ekonomi adalah terciptanya kestabilan politik (tanpa harus menjadi rezim otoriter)....tinggal menunggu waktu saja kemuakan rakyat atas semua hal ini..

    apakah penyederhanaan parpol menjadi salah satu instrumen mutlak dalam menciptakan stabilitas???

    maybe "yes", maybe "no"
  59. From gilang on 02 February 2008 07:40:45 WIB
    Ga setuju banget ma bung wimar..kita ga bisa menyamakan ham yang berlaku di indonesia dengan ham ala amerika dan eropa yang diberitakan media2 asing itu..langkah pak harto sudah tepat..tapi stabilitas itu terlalu dinilai negatif oleh orang2,ide stabilitas nasional dipraktekan oleh malaysia,singapura,korea,china, dan mereka berhasil,kita pelopor stabilitas,negara2 lain kalo mo pake stabilitas,harus bayar karena itu HAK INTELEKTUAL INDONESIA..padahal stabilitas itu penting..demokrasi cuma bikin orang teriak2 ngatain orang sembarang yang bikin orang panas,trus orang pada masuk ke partai cuma mo nyari duit DI dpr..
  60. From aneeta on 02 February 2008 20:45:50 WIB
    --meski rada telat tetep pengen kasih komen--

    meski saya bukan salah satu korban (secara langsung), saya belum bisa memaafkan pak harto. belum selama keluarganya masih bilang kalo bapaknya tidak mempunyai satu sen pun di luar negeri!!!
  61. From asep on 02 February 2008 22:48:45 WIB
    Para pendukung ORBA dan Suharto, selalu blg bhw emg harus ada yg dikorbankan demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya kemudian kenapa yg harus berkorban para petani kedung Ombo, Badega, rakyat Aceh, Tapol2 di pulau Buru, Cipinang, Salemba, para petani cengkeh, petani jeruk dst dst ? ? ?

    Kenapa bukan Suharto, keluarganya atau Golkar saja yg berkorban ?
  62. From Dian Paramita on 03 February 2008 20:37:54 WIB
    Bagi saya, seluruh rakyat Indonesia adalah korban dari Soeharto, termasuk saya. Saya menjadi korban atas kenaikan harga2 sembako, politik negara labil, penegakan hukum lemah, pendidikan rendah, dsb. Sehingga tidak harus mereka yang pernah menjadi korban Soeharto secara langsung yg berhak memberikan maaf atau tidak, namun seluruh rakyat Indonesia, termasuk saya.

    Dan saya tidak akan pernah memaafkan Soeharto.
  63. From Handika Aditya on 04 February 2008 12:36:47 WIB
    kalau saya jelas maafin Soeharto, malahan saya berterima kasih kpd beliau, karena kalau ga ada dia, saya, bapak-ibu saya, keluarga saya dan semua teman-teman saya, mungkin saat ini sudah jadi penganut komunis.

    lagian kalau para korban HAM soeharto dikumpulin, pasti jumlahnya ga seberapa dibanding korban Kelaparan & Kemisikinan zaman SBY JK.

    oleh sebab itu saya mengajak kita semua masing-masing berusaha membangun kembali Indonesia yang sudah acak-acakan. kita bisa mulai dari diri sendiri, ga usah nungguin ada komando dari siapa-siapa, karena BERSAMA KITA GA BISA!
  64. From rully on 04 February 2008 16:43:44 WIB
    maafkanlah yang sudah berlalu ....
    kita perbaiki apa yang ada sekarang
    demi masa depan
  65. From Luky on 05 February 2008 10:34:04 WIB
    Wow!!! It's nice to see many good comments coming in. =)
    Kalau orang tua bilang: Orang besar itu salahnya banyak, jasanya juga banyak..and this applies to pak harto too menurut saya.
    Kalo pendapat ogut sih..terserah mau memberi maaf atau tidak..that's up to pribadi masing2..tapi seharusnya sih masalah yg terkait dengan Pak Harto itu harus ada penyelesaiannya..mau diselesaikan secara hukum or dilupakan saja selama-lamanya..ini tugasnya pemerintah sekarang nih - ayo pemerintah tegaslah mau ngapain. =) Tapi suka atau tidak suka..pak harto itu sudah menjadi sejarah negara kita..sama dengan pak karno. Sekian terima kasih.
  66. From mel on 06 February 2008 11:29:00 WIB
    Benar skl kl kt dipukul org yg berhak memaafkan org itu adlh kt sendiri bukan tetangga atau org disekitar kt. Aneh kok kt yg sakit org lain yg memaksa kt memaafkan.
    Politikus dan kroni HMS bersuara lantang menjadikan HMS pahlawan bangsa. Pahlawan bangsa yg mana yg pernah disejahterakan kehidupannya???????????
    Yg sejahtera hidupnya sampai 7 turunan adalah anak2nya dan kroni2nya. Rakyat.......???????????
    Wah tanya coba mereka di Irian, dipelosok Kalimantan, pedalaman, bahkan dipojok kampung di Jawa atau dikolong jembatan/tol..........yg di Iria sana masih spt primitif dan banya yg blm mengenal listrik apalagi kompor gas.
    Tidak usah ribut menjd pahlawan, spt pepatah bilang GAJAH MATI MENINGGALKAN BELANG kl memang punya belang rakyat ini jg tau tp ini meninggalkan penderitaan dgn keadaan yg parah ekonomi, mental, rasis, kacau taraf kesejahteraan & pendidikan moral.
  67. From duto on 06 February 2008 22:36:33 WIB
    dulu orang yang teraniaya jaman suharto masuk sorga,
    dosanya ditanggung suharto, sebelum mati suharto dihujat kelewat batas, nggak jadi masuk neraka suharto, kita yang nanggung dosanya suharto, ayo pada jadi pengusaha sukses aja trus ngasih sumbangsih pada orang miskin yang sampe sekarang gak diurusi negara, gak usah ngejar jadi presiden, gak usah demo, mengharap 1 orang presiden menyelesaikan masalah adalah hil yang mustahal. itu klo kita pintar benar, tanpa modal uang bisa sukses dan ngajak yang lain sukses, kalo perlu bantu negara lain. klo bodo pasti gak bisa kayak aku iniii miskin terus . uang juga kekuasaan loo..
  68. From dvomr on 10 February 2008 00:51:47 WIB
    Pak Wimar, masyarakat ternyata lebih memilih perbaikan ekonomi ketimbang perbaikan demokrasi. Ini wajar, karena perbaikan ekonomi bisa terasa secara langsung.

    Masyarakat mulai membandingkan antara jaman Orde Baru dengan sebelum dan sesudahnya dari sudut pandang perbaikan ekonomi. Pantas saja Orde Baru yang otoriter dan militeristik dianggap baik. Masyarakat tidak sabaran tentang pembelajaran demokrasi dan lupa bahwa Soeharto toh akan lengser juga. Artinya, jika ada pembangunan pada masa orde baru maka sifatnya hanyalah jangka pendek.

    Masyarakat lupa bahwa demokrasi belum gagal dan belum berhasil, karena proses belajarnya terpaksa berhenti selama 32 tahun. Pada tahun 1998, masyarakat Indonesia bisa dibilang belajar demokrasi dari nol lagi, karena generasinya tentu sudah sangat berbeda. Kita tidak sedang melanjutkan belajar demokrasi yang dari orde, tapi benar-benar dari nol.

    Jalan satu-satunya untuk membuktikan demokrasi (yang sebenar-benarnya demokrasi) adalah dengan perbaikan kondisi ekonomi lewat jalan demokrasi, dan ini saya rasa sulit terjadi dalam waktu dekat.

    Tapi, saya yakin, demokrasi akan memberikan yang terbaik dan ini jangka panjang. Hanya waktu yang dapat membuktikan :-)
  69. From putra pamungkas on 13 February 2008 20:58:38 WIB
    bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.saya sebagai masyarakat biasa tidak pernah memberikan maaf ke pada pak Harto, Karena saya tidak pernah merasa dilukai,justru saya menghaturkan beribu ucapan terimakasih kepada Pak Harto yang Telah berjasa terhadap negeri ini,membawa negeri ini lebih maju dan sebagai anak petani saya juga merasakan makmur dan tentram selama kepemimpinan Pak harto,
  70. From hendri on 16 February 2008 19:32:26 WIB
    Andakan sudah mengatakan pelunya dipisahkan konteks dimaafkan dengan penegakan hukum, tapi kemudian anda mengatakan lagi Tokoh seperti Amien Rais yang cenderung memaafkan Soeharto pada hakikatnya telah melukai rakyat yang pernah menjadi korban kekuasaannya.

    Bukankah apa yang di katakan Amien itu konteksnya dimaafkan secara pribadi.

    Jadi saudara Wimar ini juga nggak benar, politis dan tendensius. Rakyat sudah tau bos gimana kinerjamu waktu masih melacurkan diri menjadi juru bicaranya Gusdur dulu. Tidak lebih bagus dari Alfian Mallarangeng. Jadi sudalah jangan mempetakomflikkan lagi oarang lain dengan rakyat.

    Dulu saya kagum padamu waktu masih jadi aktivis tapi sekarang, No. Anda juga pelacur politik.

    saya sengaja mengutip coomen diatas, hanya ingin mengingatkan bahwa demokrasi harus menerima segala perbedaan,dan saya salut buat bung irdan yang berani menyampaikan pendapatnya, walaupun berbeda dengan yang lainnya . yang begitu sewot dan ngak terima bung wimar dikritik
  71. From kondeMAS on 21 February 2008 12:13:56 WIB
    Terlihat dari cara bicaranya, Bung Wimar ingin menunjukkan kebebasan berpikir bebas.Tekanan politik Soeharto telah mengusiknya untuk melawan dengan cara mengkritik.Tapi Bung Wimar juga harus kesatria. Kegagalan Soeharto, tak dapat dilihat hanya dari penderitaan si korban. Begitu juga kesuksesan Pak Harto, tak dapat dilihat dari keberhasilannya dalam membangun Negeri ini. Seperti kasus Kedung Ombo, dulu saya sempat merasakan penderitaan masyarakat setempat. Namun sekarang saya dapat melihat juga kemakmuran yg didapat oleh masyarakat purwodadi, yg sawahnya dialiri oleh waduk tersebut.Jadi apalah artinya bagi kita semua,untuk tidak memaafkan SOEHARTO...
  72. From dmitri on 26 February 2008 05:07:33 WIB
    seru sekali. tambah hari tambah banyak komen. saya boleh komen lagi, gak, om WW?

    kebetulan nih, lagi banyak googling Fidel Castro, Cuba, revolusi, komunisme, Soeharto, dst, dst. dan...

    ternyata Soeharto banyak kemiripan sama pemimpin otoriter kaum komunis, ya? paling jelas tentunya soal transmigrasi. si banyak daerah bekas Uni Soviet sampai sekarang masih ada benturan ras yang bersumber pada penggusuran paksa jutaan orang. kayak orang madura yang pada ngamuk di kalimantan itu. terus, urusan pengorbanan demi Pancasila itu mirip pengorbanan demi Garis-Garis Besar Partai, deh. terlalu mirip.

    kayaknya, nih, siapapun yang membela Soeharto, harusnya sih simpati sama komunis. kalau enggak, either dia enggak kenal Soeharto, enggak kenal komunis (on these cases, the person is naive), atau memang double-standard.

    sayang memang, sementara Stalin membunuh mereka yang kiss-ass sama dia, Soeharto membagikan hartanya kepada those who kiss-ass him.

    sayang. Soeharto could've been our answer to Che. kan Soeharto itu revolusioner Pancasila, benar toh?
  73. From kondeMAS on 26 February 2008 13:04:05 WIB
    Ada yg menebak nebak garis politik Soeharto mirip dengan penguasa komunis negara lain. Terlihat dari cara pandang mereka, sangat sempit dan naif. Membandingkan system komunis dan liberal, sama2 punya kelebihan dan kekurangan. Jika anda termasuk yg membenci Soeharto, berarti anda hanya melihat konteksnya saja tanpa melihat kontennya.Dalam garis kebijakan dan politis, Stabilitas adalah prasyarat utama yg harus diciptakan Soeharto untuk membangun Indonesia yg makmur dan sistainable.
  74. From dmitri on 26 February 2008 23:17:25 WIB
    lho, memang konteksnya sama kok. memang konteks komunis itu apa?

    singgah lah ke negara eks komunis hari ini, buka matanya. Soeharto itu sama seperti mereka.

    dan saya bukan mencari segi positif atau negatif dari ideologi apapun. yang namanya ideologi itu tidak akan pernah riil. boong aja kalo sampai iya. termasuk yang namanya demokrasi. yang saya ingin tekankan adalah, kalau seseorang harus mengangkat negara lewat pemaksaan dan pengorbanan (korbanin orang lain maksudnya), ya ngaku dong. jangan double standard kayak George Bush gitu... malu deh, ah..
  75. From kondeMas on 27 February 2008 14:15:28 WIB
    He..he.. Lalu apa Ideologi anda? Orang yg berkepribadian itu, harus punya garis ideologi atau paham bung. Bohong jika anda tak punya aliran atau sebuah paham sebagai komitmen hidup.Atau anda hanya ingin terlihat berbeda saja dari Soeharto, sehingga anda tak mampu menangkap paham atau garis politis Soeharto dalam mengantar Indonesia yg beradab, Atau anda termasuk orang Indonesia yg apolitis sehingga sulit menyalurkan kemauan secara personal.Korban Soeharto, hanya sebagian kecil yg terpikirkan dalam keterwakilan budaya.Dalam konsteks yg lebih luas, dia lebih memikirkan ratusan juta masyarakat Indonesia. Sedangkan anda,hanya sendirian dalam menyikapi kegagalan Soeharto...boleh jadi anda cemburu, karena anda tidak dapat masuk dalam lingkar kekuasaan Orde baru, lalu dengan sinis, anda menorehkan idealisme baru yg tak berbentuk,
  76. From dmitri on 27 February 2008 22:56:58 WIB
    maaf, nih, kebetulan saya lagi merasa kesikut. soalnya saya cukup sirik sih, enggak dapet cipratan harta Soeharto .. :P

    kalau Oom WW masih berkenan meloloskan comment yang satu ini, terima kasih.

    kita coba tengok Nazi Jerman. sampai hari ini bangsa Yahudi diakui telah dikorbankan, sampai berlebihan lagi. sementara itu tanya saja manusia eks Soviet manapun, dan mereka pasti bilang kalau korban nazi lebih banyak orang Soviet. terserah lah, siapa yang lebih dikorbanin. tapi, point yang perlu ditekankan (silahkan anggap ini konteks atau konten), telah terjadi pengorbanan.

    atau tentang perbudakan? masih beda konteks dan kontennya yang menyimpang? kan hari ini kita mengakui adanya kejadian itu. kita juga tau siapa-siapa saja yang mendukung perbudakan hingga detik terakhir hidupnya, meski saya enggak hafal. tanya wikipedia aja tentang itu.

    terus soal korban2 Gulag dan kamp2 lainnya di seluruh Eropa timur. sampai hari ini, hampir setiap negara eks komunis secara resmi mengakui terjadinya korban2, dan negara atas nama pemerintah meminta maaf. sampai2 pada saling menyalahkan, estonia menyalahkan rusia sebagai sumber kejahatan komunis, sementara rusia menyalahkan pembelot estonia sebagai pendukung nazi yang anti yahudi.

    saya sendiri belakangan tambah condong ke aliran politik yang condong otoriter, kok. jadi saya sendiri cukup simpatik dengan Soeharto dan pilihan2nya. hanya saja, kita enggak boleh buta. membuka mata pun bisa berlebihan jadinya, sampai lupa daratan karena akhirnya jadi penyakitan syndrome victimisation, tapi point yang harus dimengerti adalah: kalau ada korban, ngaku! terus baru bisa mulai proses saling memaafkan.

    katanya bangsa besar...
  77. From kondeMas on 28 February 2008 13:32:45 WIB
    Sudah saya duga arah pemikiran anda.

    Di era 70-80an, saya mencoba melakukan aktivitas yg bertentangan dengan segala kebijakan politik Soeharto.

    Sikap idealisme yg tinggi, telah memenjarakan seluruh isi kepala saya. Dan resiko yg didapat tentunya, saya berhadapan dengan alat penguasa Soeharto....dst, bisa anda tebak sendiri.

    Kala itu yg ada hanya perlawanan, karena tekanan politik telah mendorong saya untuk melakukan "ethical mind" pembelaan terhadap diri dan orang lain untuk sebuah kebaikan.

    Oh....sampai sekarang saya bukan Soehartois, tapi saya juga tdk ingin mengumbar sikap iri terhadap Soeharto. Karena setelah sekian lama, pergolakan demi pergolankan, kejadian demi kejadian, secara politis saya dapat memahami seluruh kebijakan Soeharto dalam konteks "empowerin state"

    ......Hal koment anda yg terakhir,menurut saya tak semuanya benar atau salah.Korban di Soviet, Estonia, Bosnia, bahkan di sebagian Eropa merupakan "Political Strugle" yg membawa kepentingan budaya, ras, ideologi, ekonomi, bahkan mungkin juga Terminologi.Jadi sangat situasinal....

    Untuk itu saya ingin membatasi pembicaraan pada topik yg sebenarnya, agar tak menjadi bias...

    Soal korban...atau sebuah pengakuan....
    Kita semua tak perlu mendengar lansung dari mulut Soeharto, Ucapan permintaan maaf, tak akan merubah nasib bangsa ini. Secara intelektual kita semua paham... Mundurnya Soeharto, diamnya Soeharto. adalah bagian dari bentuk "sebuah pengakuan" inikan yg anda inginkan....?!

  78. From dmitri on 28 February 2008 20:43:04 WIB
    maaf, jawaban saya diatas dikirim sebelum komentar KondeMas dimuat.

    sekarang, sekali lagi, untuk memperjelas aliran politik saya: demokrasi terpimpin. karena mirip komunis. tapi saya tidak setuju seorang pemimpin demokrasi terus bertengger lebih dari 5 tahun. kalau banyak yang mau 10 tahun silahkan. termasuk tidak setuju Soeharto.

    saya yakin, kalau di sebuah desa ada 100 orang, dan 4 diantara mereka memimpin bergantian selama 10 tahun, maka ke 96 orang lainnya akan mendapat kesempatan yang cenderung seimbang untuk menikmati keberhasilan/kegagalan sama-sama.
  79. From kondeMAS on 29 February 2008 11:16:21 WIB
    Saya tak ingin menyagkal paham anda. Demokrasi terpimpin, sudah Ok! Namun saya tegaskan, Adagium Demokrasi, sudah menjadi tujuan bagi seluruh pemimpin Dunia, termasuk Amerika yg menjadikan masyarakat Indian sebagai bangsa yg bodoh.

    5 atau 10 tahun bahkan lebih, bukan paham demokrasi yg dapat membatasi seseorang dalam memimpin.

    Yang penting, seorang pemimpin dapat mengkontribusikan seluruh kemampuannya untuk sebuah nilai kebaikan bagi masyarakat yg dipimpin.

    Selebihnya seorang pemimpin dapat memformat semua kebijakan politisnya ke dalam bentuk kerjanya[common sense] berdasarkan kebutuhan atau sebuah kondisi.

    Menikmati kegagalan/kesuksesan secara bersama-sama, justru dapat menyeret pada pertrungan politik yg tidak sehat. Kita tak akan pernah mampu mengikat seluruh kemauan masyarakat secara komunal.
    Contohnya; kepemimpinan SBY yg mengadobsi seluruh kemauan politis. akhirnya dia tak mampu menangkap seluruh komponen politik yg berkembang secara egaliter, bahkan SBY punya kecenderungan mencounter dari jarak jauh.
  80. From richard on 29 February 2008 22:08:04 WIB
    cuma mau inform, web site yang mengulas "cendana", dan diinform bang Fadjroel Rachman lewat blognya, dan lewat tayangan "Republik Mimpi" telah di hack. see on: www dot soehartoincbuster dot org Andaikan hacker tersebut bisa obok-obok database-nya CIA dan ambil data seputar SUPERSEMAR. Atau, coba katakan "horas bah", lalu tanyakan siapa yang berprofesi sebagai tukang juru tulis waktu itu? He he he ... ngomong apa sih saya? *eh, anu, oh...sok pinter deh saya. sambil ngangkat dagu gaya orang sok pinter*
    so far, membaca berbagai riset dalam web almarhum itu memang lebih logis dibandingkan memperhatikan berbagai debat kusir yang tak lebih dari "selfcenterness".
    He he he...salut sama WW yang tak membungkam debat kusir. I salute you bang! Biarkan mereka bicara ... kadang, debat kusir better than "Benny & Mice"
  81. From dmitri on 02 March 2008 01:40:09 WIB
    om KondeMAS, anda bilang begini:
    "Menikmati kegagalan/kesuksesan secara bersama-sama, justru dapat menyeret pada pertrungan politik yg tidak sehat. Kita tak akan pernah mampu mengikat seluruh kemauan masyarakat secara komunal."

    memang tidak bisa, Pak. tapi usaha dong. masa mentang2 gak bisa terus bilang 'enggak usah aja...' segitu doang usaha anda? memangnya anda sedemikian 'sakit kanker' sampai menerima untuk meninggal dan, yah, mumpung masih hidup, kita embat aja deh yang masih tersisa.

    ideologi itu tidak penting, om. Agama/nasionalisme/ideologi itu harus dibawah Ketuhanan dan Kemanusiaan. kasihlah ruang gerak buat atheist sekalipun, tapi dia masih tetap manusia yang kodratnya lebih tinggi dari Agama/nasionalsime/ideologi. jadi, enggak perlu paranoid sama komunis atau demokrat. sementara Soeharto itu paranoid sama yang kayak begituan, sampai orang lain dipaksa setuju sama dia.

    enggak pantes Soeharto jadi pahlawan, dan yang pantas memaafkan dia adalah para korban Soeharto.
  82. From kondeMas on 03 March 2008 13:36:06 WIB
    Lama kelamaan komen anda tambah ngawur.

    Pesan saya, pahami dulu posting saya yg terdahulu.

    Kemaren anda mengatakan condong ke paham demokratis terpimpin. Saya giring pada persoalan demokrasi, anda malah bias ke soal Agama dan ketuhanan. Sungguh aneh dan menggelikan.

    Sekali lagi pelajari pergolakan politik dalam negeri dulu dari sebelum th. 65 sampai pasca mundurnya Suharto, baru anda komentar.

    Terlihat dari cara berpikir anda, yg cenderung memahmi suatu persoalan secara dangkal......
  83. From kondeMAS on 04 March 2008 10:07:07 WIB
    Selamat pagi om...! mana comentarnya...? Ane tunggu ya,and jangan lupa banyak2 belajar. Pesan ane, pahami persoalan secara mendalam, baru koment. Dan satu lagi anda belajar konsisten terhadap apa yg anda tulis....
  84. From dmitri on 10 March 2008 02:28:49 WIB
    om KondeMAS, udah saya pikirin. kalau mau anggap pemikiran saya dangkal, silahkan. saya suka yang dangkal2. yang dalam perlu alat pernafasan khusus supaya tidak halusinasi (istilah menyelamnya, narkosis, kalau saya gak salah). jadi kalau anda merasa diri sebagai Pro dalam pemikiran yang dalam, mohon terima ucapan selamat saya.

    saya mau ulang dikit omongan saya(kira-kira nih, udah lupa juga. memang susah untuk konsisten dan memilih hanya satu sisi kehidupan sambil tutup mata sama lainnya):
    1. Soeharto mirip sama komunis, suka memaksakan aliran politik sendiri dengan alasan stabilitas/keamanan/ideologi.
    2. demokrasi juga enggak sempurna, jadi bisa buntu juga. sementara pemimpin yang kuat itu simpatik, terutama buat kultur seperti Indonesia, Cina, Rusia. saya sendiri simpatik sama pemimpin begitu.
    3. meski simpatik, rasanya memalukan kalau pemimpin kuat yang suka memaksa-maksa kehendak terus jadi Cult Hero, atau dianggap pahlawan, atau kesalahannya dilupakan.

    jadi kalau saya mau bilang Soeharto itu mirip komunis, dan anda naif, bukan berarti saya benci Soeharto, Om.

    [anda boleh bilang saya sirik sama Soeharto. cukup menarik untuk saya pikirken]
  85. From kondeMAS on 11 March 2008 11:06:09 WIB
    salam jumpa.....

    Saya dapat merasakan perubahan dalam cara anda berpikir....
    Namun, anda masih plin-plan atau bisa jadi memang sudah menjadi sebuah actitude caracter yg sulit untuk dirubah.

    Inilah yg saya katakan, inkonsistensi dan brain style yg envius telah mewarnai seluruh tulisan anda.

    Kembali ke soal Soeharto.. Sekali lagi, tulisan anda menunjukkan sebuah kedangkalan dalam pemahaman politik.

    Sudah saya katakan,Untuk memahami sebuah kebijakan, tidak cukup hanya berfikir secara segmental. Lebih dari itu memerlukan achifment politik secara dinamis. Jadi kalo boleh saya katakan, jangan memahami sebuah persoalan dari satu sudut dimensi yg sempit.

    Apa yg salah.... seluruh kebijakan soeharto sudah benar dan ter-arah secara konsepsional memlalui skenario repelitanya.

    Pemaksaan kehendak ala Soeharto tak akan terjadi, jika sebuah komponen dapat menghilang self interestingnya. Dan ini yg acapkali menjadi sebuah ukuran atu opini negatif bagi anda semua.

    Kesalan sudah pasti ada... tapi anda juga jangan bersikap naif...Dan sudah pasti pemimpin sekaliber Soeharto tahu terhadap apa yg dilakukannya dengan resiko yg terukur.....
  86. From dmitri on 18 April 2008 02:40:49 WIB
    anda ngomong apa sih? sana, jadi politikus Indonesia aja. malu-maluin.
  87. From edwin prasetia zen on 12 May 2008 20:37:09 WIB
    bang WW, sekali-kali tolong dibahas juga donk, masalah motivasi dan ethos kerja rakyat Indonesia. gimana supaya rakyat punya spirit buat ngerubah nasibnya sendiri. jangan cuma ngritik pemerintah melulu,rakyat juga musti introspeksi. sukses terus buat perspektif!
  88. From ••• on 19 July 2008 17:47:33 WIB
    pa soeharto mnrut saya walaupun dia pernah korup tapi dia pahlawan yg harus PATUT kita maafkan toh dia juga yg majukan negara indonesia dan masyarakat masih berpikir terlalu terbelakang ............
    lebih baik masyarakat bekerja saja biarkan pemerintah kita yg mengurus semua keperluan negara kita ....
  89. From hero on 03 October 2008 17:17:01 WIB
    Ya tu smua si sbenar na bkn slah
    pak harto smua....

    saya bangga jga kok krn
    di jaman dia menjadi pemimpin jrang skali bnyak
    tindakan kriminal...

    juga ngak banyak yang membuat kita berbeda-beda seperti skarang ini wlau sulit skali tuk mngeluarkan unek2 kita trhadap bangsa ini...

    tapi bangsa ni blum pantas tuk mbuka keran demokrasi yang trlalu besar....krn masih terlalu bnyak orang yang pintar yang mengakal-akali masyarakat yang
    tidak memiliki wawasan/pendidikan yang tinggi...

    ----menurut saya HERO banyak partai di negri ini hanya akan membuat bangsa ini terpecah belah oleh orang yang berpolitik tuk dirinya sendiri------kalah dlm suara bergerak tuk tak terima-------

    inilah negriku yang sekarang.

    pakharto tu manusia juga tapi dia tak pernah memecah belah ngri baik agama ---suku ----partai walau curang.........

    tapi saya bangga...atau keren lah dia............

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home