Articles

Sutiyoso = Soeharto kecil? UNAS bahas Pemilihan Presiden 2009

Perspektif Online
05 October 2007

Laporan oleh Lidya Wangsa dan Hayat Mansur

“Kunci langgengnya suatu kepemimpinan adalah cinta dan komunikasi.” Begitu ujar Wimar Witoelar saat ngabuburit bersama teman-teman mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) jumat sore kemarin (5/10). Dimotori oleh Didiet Adiputro yang juga bertindak selaku moderator, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNAS menggelar sebuah diskusi terbuka dengan tema Presiden Kita: Kriteria Orang Biasa dan Pilpres 2009.
 
WW menyatakan bahwa kita boleh memilih yang terbaik dari pilihan yang ada, siapa pun orangnya, asalkan dengan 'cinta' kita tidak membiarkan yang terpilih berjalan sendiri. Kritik membangun bisa digunakan untuk mewujudkan cinta tersebut. Jangan menunggu 5 tahun lagi atau mengharapkan pemilu berikutnya untuk memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Tunjukkan kepedulian sebagai orang biasa yang mendambakan hidup tenang dan keinginan untuk maju dengan tetap menghargai hak setiap pribadi yaitu dengan bersedia mengkritik dan bersuara.
 
Komunikasi yang baik juga turut menentukan langgeng tidaknya popularitas seorang pemimpin. Contoh, Soekarno dan Soeharto pada awalnya sukses menyampaikan pemikirannya dengan sangat komunikatif tapi pada akhirnya komunikasi tidak dibina dengan baik akibat bergesernya keberpihakan rakyat. Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.
 
Sore itu, ruangan Student Learning Center dipadati oleh sekitar 50 mahasiswa yang sangat antusias untuk bertukar argumen dengan Wimar Witoelar. WW menjelaskan bahwa orang biasa perlu membuka ruang bagi menghadapi pemilihan presiden 2009. “Kalau sejak awal dipersiapkan maka pilihan itu akan semakin banyak dan orang biasa bisa turut berkontribusi.”

“Sebenarnya kriteria presiden seperti apa yang sesuai dengan harapan orang biasa?'' tanya Sofi, mahasiswi Ekonomi Manajemen. Menurut WW, sederhana saja kriterianya, yang penting pemimpin tersebut disukai orang. Lebih lanjut ditambahkan bahwa presiden terpilih tidak bergantung pada dikotomi etnisitas. Selama para calon menunjukkan kepada publik bahwa mereka patut dan layak dipilih maka apapun latar belakangnya akan diterima oleh para pemilih.
 

Rombongan PO/IMX dengan Didiet Adiputro dan Adam, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNAS

klik untuk melihat foto lain

Sutiyoso bisa menjadi Soeharto Kecil

Pemilihan presiden (Pilpres) memang masih dua tahun lagi, tapi saat ini Orang Biasa sudah dihadapkan pada manuver politik para calon presiden, salah satunya Sutiyoso. Ada pertanyaan, bagaimana sosok Sutiyoso. Wimar Witoelar menjawab, “Sutiyoso bisa menjadi Soeharto Kecil”.  Mengapa? Karena disiplin, produktif, tapi korup.

Manuver para elit politik yang sudah menyatakan diri menjadi calon presiden 2009 menyita perhatian publik. Karena itu Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (Himajip) Universitas Nasional (Unas) dengan menggandeng perspektif.net berinisiatif menggelar diskusi mengenai Pilpres 2009 dengan menghadirkan pembicara tunggal Wimar Witoelar dan moderator Didiet Adiputro, ketua Kelompok Studi Mahasiswa Unas.

Diskusi dengan mahasiswa dan dosen UNAS memakai format tanya jawab karena WW memang hadir untuk menjawab pertanyaan Orang Biasa mengenai Pilpres 2009. Berikut ini beberapa pertanyaan yang diajukan peserta dan moderator.

Didiet: Siapa itu Orang Biasa dan bagaimana sebaiknya Orang Biasa menghadapi Pilpres 2009?
WW: Orang biasa bukan rakyat karena sekarang rakyat sering diartikan anti elit. Orang biasa adalah orang yang ingin perubahan lebih baik tapi tanpa berdemo, orang yang ingin kaya tapi tanpa korupsi. Orang yang ingin hidup tenang dan berkarya tanpa merampas hak orang lain dan tidak ingin haknya dirampas. Orang biasa tidak diakomodir dan tidak mempunyai akses ke kekuasaan. Orang biasa sangat susah mendapatkan peran. Saat ini waktu yang tepat bagi orang biasa untuk berkumpul dan bersuara karena Pilpres 2009 memiliki prospek yang baik. Semua kemungkinan masih terbuka, seperti perubahan peraturan masih memungkinkan dan calon-calon presiden lain masih bisa diangkat. Jika tidak bersuara sekarang rugi karena makin lama makin sedikit pilihan. Namun tentu saja pilihan itu bisa dibuka kalau orang biasa pro aktif.

Orang biasa diharapkan ikut serta dalam pemilihan presiden mendatang, boleh jadi salah satu calonnya. “Menang kalah tidak jadi soal, yang penting keikutsertaan orang biasa tersebut dalam pilpres mendatang berdampak dan mampu mewarnai proses pemilihan presiden 2009”, jelas WW.

Didiet: Sekarang sudah mulai muncul elit yang menyatakan maju menjadi calon presiden, seperti Sutiyoso. Bagaimana WW melihat Sutiyoso yang telah 10 tahun menjabat sebagai gubernur DKI?
WW:  Selama 10 tahun Sutiyoso telah mengumpulkan dana politik. Dia satu-satunya orang yang sama korupsinya dengan Soeharto. Sutiyoso merupakan Soeharto kecil. Kalau korupsi Soeharto US$ 20 miliar, dia mungkin belum sebanyak itu. Dia produk Orde Baru, dia berani melanjutkan praktek Orba di tengah arus reformasi.

Syahruddin: Bagaimana orang biasa membangun dukungan tanpa terikat Orba dan tanpa uang?
WW: Saya sempat bertanya kepada Faisal Basri (ekonom – Red) sebelum tersisih sebagai calon gubernur DKI Jakarta, darimana uang untuk Anda berkampanye nanti?  Faisal menjawab, “Kalau saya sudah menjadi calon, uang akan datang sendiri. Ini juga dibuktikan kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Barrack Obama yang berhasil mengumpulkan dana cukup banyak. Jadi kalau di negara demokratis dana itu akan datang dengan sendirinya.

Pemimpin itu seperti bintang sepak bola. Kalau tampil baik dengan mencetak banyak gol maka akan mendapat dukungan banyak penonton. Dalam kehidupan politik, pemilih akan mendukung calon terbaiknya.

Sofi: Pada pemilihan sebelumnya, masyarakat banyak yang kecewa dengan pilihannya yang menjalankan kekuasaan. Lalu, bagaiamana sebenarnya kriteria presiden yang sesuai dengan harapan Orang Biasa?
WW: Memilih presiden seperti memilih suami untuk pernikahan. Memilih itu baru tahap pertama. Agar pernikahan bisa langgeng maka perlu ada “cinta dan komunikasi”. Begitu juga kepemimpinan. Kita boleh memilih yang terbaik dari pilihan yang ada, siapa pun orangnya, asalkan dengan cinta. Setelah dipilih jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kita harus menjaga cinta dengan komunikasi Kritik membangun bisa digunakan untuk menjaga cinta tersebut. Jangan menunggu lima tahun lagi atau mengharapkan pemilu berikutnya untuk memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.

 

Acara diskusi berakhir dengan memuaskan semua kalangan. Karena itu muncul ide untuk ke depan menggelar kembali acara serupa. Pada akhir acara WW mendapat kenang-kenangan plakat yang diserahkan Ketua Jurusan Ilmu Politik Unas Dedi Irawan. Sebelum diskusi dimulai WW disambut hangat Dekan FISIP Unas Hasto Suroyo.  

Diskusi singkat selama satu jam ini menurut WW adalah kesempatan untuk menyederhanakan politik agar dapat diterima dan dipahami oleh orang biasa. Ingatlah walaupun negara itu penting, tapi yang paling penting adalah kenyamanan dan pemberdayaan orang-orangnya.

 

Bonus: wawancara Radio Hard Line Talk 100.6 FM, 2 Oktober 2007

Seperti Soeharto

Radio: Bagaimana tanggapan anda tentang tampilnya Sutiyoso sebagai calon Presiden?

WW: Saya rasa itu sudah dapat diduga, bahkan saya menulis tentang kemungkinan itu dalam artikel di Sindo dan wawancara di 'Indonesia This Morning'. Sudah kelihatan dari ketekunan Sutiyoso memenangkan pemilihan Gubernur DKI untuk Fauzi Bowo, yang akan mengamankan dana politik yang telah dikumpulkannya selama sepuluh tahun, selain menambahnya lagi dari proyek DKI yang baru.

Radio: Apakah proyek DKI seperti Busway itu tidak bermanfaat untuk masyarakat Jakarta? Mengapa anda tonjolkan korupsinya?

WW: untuk sebagian masyarakat bermanfaat, untuk sebagian lagi tidak. Tapi yang mengganggu adalah bahwa proyek itu menjadi ajang untuk korupsi, sampai kepala proyeknya masuk penjara.

Radio: Bukankah Sutiyoso punya kelebihan sebagai pemimpin yang banyak melakukan pembangunan?

WW: Seperti Suharto juga. Bahkan boleh dikatakan. Sutiyoso adalah pemimpin yang sangat mirip dengan Suharto. Militer, efektif, tegas, produktif, korup, memisahkan kawan dengan lawan.

Radio: Menurut anda, Sutiyoso akan mendapat dukungan partai?

WW: Pasti, karena dia sudah mengumpulkan banyak uang untuk menyumbang partai.

Radio: Partai mana kiranya yang bisa menjadi pendukung Sutiyoso?

WW: Partai yang bisa dibeli, mungkin juga semua partai karena uangnya banyak

Pak Tampubolon, pendengar: Saya tidak setuju Pak Wimar. Kita justru perlu pemimpin yang keras, supaya orang disiplin. Sebab sekarang orang radikal mengacaukan negara kita sejak tahun 98.

Radio: Bagaimana Pak Wimar? Bukankah banyak orang sependapat dengan Pak Tampubolon?

WW: Memang banyak sekali. Karena itu Suharto bisa berkuasa 32 tahun, karena itu juga Hitler bisa menguasai Eropah. Orang keras memang banyak pengikutnya, sebagian karena senang sama-sama keras terhadap orang lain, sebagian lagi karena tidak mengerti duduk perkara. Tapi kita lihat akhirnya orang Indonesia bisa meninggalkan kekerasan sejak tahun 98.

Radio: Apakah dengan dukungan partai itu Sutiyoso punya kesempatan besar untuk menang?

WW: Tidak, karena ada yang tidak bisa dibeli, yaitu rakyat pemilih. Dan pemilihan Presiden itu pemilihan langsung.

Radio: Apakah akan muncul calon baru pada Pilpres 2009?

WW: Tidak tahu akan atau tidak, tapi harus kita usahakan

Print article only

44 Comments:

  1. From Ben Tora on 06 October 2007 08:38:24 WIB
    haha..setuju sekali Sutiyoso=Soeharto kecil

    Sutiyoso berhasil membuai sebagian orang untuk menganggap dia adalah gubernur yang berhasil, seperti dulu Soeharto membuai orang untuk menganggap dia presiden yang berhasil.

    Pasti banyak pendukung Sutiyoso yang bilang "dia berani, tegas, Jakarta perlu dipimpin jendral dsb-nya", sambil menutup mata terhadap korupsi dan pelanggaran hukum yang dilakukan Soeharto, eh Sutiyoso.
  2. From reeree on 06 October 2007 10:26:50 WIB
    Ibarat sinetron, calon pemimpin kayak sutiyoso udah bisa ditebak jalan ceritanya. Setelah terpilih, cinta rakyat pasti bertepuk sebelah tangan deeh.... Biasanya juga khan begitu....

    So c'mon man... Kambing ajah gak mau ketipu dua kali...
    masa masih mo milih doi lageee????

    Cintanya si calon cuma di awal-awal... ajah abis itu basi abis... suka bikin yang enggak-enggak. Sutiyoso bisa jadi kayak gitu... jadi mending nggak usah cinta-cintaan dah...
    Cari ajah orang lain...

    Khan orang baik (bc: calon presiden - indipenden) juga pasti ada koq.... (...insyaallah)
  3. From Nurodin on 06 October 2007 11:13:14 WIB
    Wah pasti seru ya bang acara diskusinya kemaren. Saya sangat setuju bang Wimar, kalau bang yos sudah pasti pundi-pundinya sudah cukup untuk dana kampanye dia di pilpres 2009. Perlu diingat pembangunan yang begitu pesat di Jakarta era kepemimpinannya sudah pasti banyak sekali proyek2 yang sudah barang tentu banyak pula orang2 yang menyelipkan sesuatu ke kantong pribadinya, namun yang saya heran kok gak ada yang orang atau lembaga mau meng-expose hal tsb, atau nanti pas pilpres 2009 dan dia sudah pasti ikut jadi peserta akan ada lawan2 politiknya yang membongkar keburukan dia.
  4. From hananbajigur on 06 October 2007 15:49:37 WIB
    hahahahahaha benar kalau bang yos yang jadi presiden kita aman dari luar karena beliau sdh pengalaman di Kopasus cuma di dalam kita bisa tak bebas berkreasi
  5. From B Simarmata on 06 October 2007 16:07:48 WIB
    Kalau soal korupsi,saya tidak punya bukti apakah Soetiyoso melakukannya.Kalau pembuktian terbalik,semuanya juga korupsi,mana bisa dengan gaji PNS,pejabat di Republik ini,apa lagi pejabat DKI, punya rumah bagus,punya mobil bagus,dan lain sebagainya.Artinya kalau mau jujur tidak ada yg bersih.Kalau soal hebatnya prestasi,Soetiyoso hebatlah,buktinya dia diangkat oleh Suharto,loyal kepada Habibie,loyal kepada Gus Dur,diangkat lagi oleh Megawaty,loyal kepada SBY,pada hal SBY itu pernah menjadi anak buahnya,pada saat dia Pangdam Jaya,SBY menjadi Kasdam Jaya.Kalau soal berwacana mungkin dia kalah dengan SBY.Sekarang tinggal kita saja,mau yg sedikit berbuat lalu sedikit salahnya,atau banyak berbuat lalu banyak juga salahnya.Kumaha rakyat aja deh.
  6. From Butet on 06 October 2007 20:30:30 WIB
    Korup mungkin, tapi korupnya Bang Yos belum terbukti. Disisi lain efektifitas, result oriented dan disiplinnya diklaim sudah terbukti. Loyalitas? Katanya boleh dibandingkan dengan yang tadinya diangkat jadi menteri tapi belakangan merajuk dan mengundurkan diri karena maju menjadi lawan bekas presidennya. Daripada incumbent yang cuma bisa jual pesona tapi tiap kali ada masalah ditutupi secara adat, kan mending milih yang efektif, result oriented dan disiplin. Katanya lagi incumbent mungkin memang nggak mengambil langsung uang dari negara, tapi jika dititipi dana asing, trus membayar 'utangnya' dengan kompensasi kontrak karya, profit sharing contract, atau membuat kebijakan pro-investor (tapi nggak pro konsumen kebanyakan), ya mending milih yang nggak neko-neko dong.
    Atribut koruptor nggak untuk Bang Yos seorang, kayaknya kita semua juga. Sekarang cek saja harta kita, bandingkan dengan pajak yang kita bayar - apakah sudah masuk akal? Kalo belum, sesungguhnya kita koruptor juga. Di Amerika, dulu kalo calon pernah punya affair, pasti habis - tapi belakangan punya affair atau nggak, kayaknya udah nggak penting lagi karena (hampir) semua orang di Amerika melakukan itu, jadi udah nggak jadi faktor signifikan.
    Jadi, konklusi saya: kita harus nyari sisi jelek Bang Yos bukan dari sisi korupsinya (karena semua sama kotornya dalam hal ini), tapi harus kita serang dari sisi yang dia unggulkan: Kita serang klaim dia bahwa dia sukses di Jakarta. Itu baru akan efektif.
  7. From Karina Ayuningtyas on 07 October 2007 00:14:24 WIB
    Om Wim, kalo saya sih emang ga bakal milih Sutiyoso..Bukan karena dia korupsi..Saya ga punya cukup bukti untuk itu..
    Tapi sebagai makhluk awam, saya ngga suka aja gitu ngeliat bang Yos..Tidak berkharisma pun tidak beraura positif..

    Entah kenapa, setiap ngeliat bang Yos di TV, saya langsung pindah channel.. Yah, mudah2an acara si bang Yos ngga di relay semua TV..Atau kalo iya pun, cukup pindah ke layanan TV kabel itu.. Mendingan nonton E-News Om..hehe..

    Menurut saya, kharisma itu amat sangat penting dimiliki seorang pemimpin. Apalagi CAPRES! Betul kata Om Wim, kalo rakyat suka, pasti dipilih..Ga penting lagi lah gelar2 di depan atau di belakang nama. Jadi untuk bang Yos, duh bang, maapin aye nih.. Cuma aye mau jujur aje.. Aye kaga demen bang ame muke abang.. Bukan abang kaga ganteng.. Nape ye bang, ada nyang sale aje gitu bang.. Kesannye tuh, muke abang kaga "welcome"..jgn marah yak bang yak.. Pan opini..

    Yah, ampas banget ya comment saya..Hanya pikiran di kala menunggu waktu sahur..
  8. From Timothy I Malachi on 07 October 2007 10:53:42 WIB
    Sutiyoso boleh saja sukses di Jakarta tapi tidak akan saya pilih, imagenya sudah terlalu negatif buat saya....
  9. From asep on 07 October 2007 18:39:26 WIB
    Saya pikir kita jgn terkecoh dgn argumentasi "tidak ada bukti korupsi"nya, ya emang bukan kita, majalah TIME atau pun StAR PBB yg membuktikan Soeharto-Sutiyoso korupsi tapi ya Kejaksaan Agung dan Kepolisian donk...
    Kita, TIME dan StAR-PBB berhak menunjukkan indikasi korupsi sisanya aparat hukum Indonesia donk yg mesti tindak lanjuti, kalo semua dari kita, TIME dan PBB, ya berarti terima gaji buta donk Kejaksaan Agung-Polisi ):...

    Kan mereka dibayar dan mereka juga punya alat penyelidikan/hukum utk itu. Kalau kita masy biasa sih mau2 aja nyelidikin korupsi2 tsb tapi baru sampai di pintu jalan Cendana pasti udah dilarang ga boleh masuk hehheh....
    J
    adi utk Kejaksan Agung-Polri: Ayo kerja donk kerja!!! hehehhe....

    Jadi menurut saya tuntutan masyarakat ya tetap USUT KORUPSI Sutiyoso-Soeharto dan semua pejabat2 negara lainnya... mendiamkan pencurian/korupsi sama dengan telah mencuri/korupsi itu sendiri...
  10. From Chandra on 07 October 2007 21:18:55 WIB
    Sutiyoso gagal di Jakarta, kok berani beraninya jadi Presiden.
    Apa sih yg dia hasilkan selama 10 tahun memerintah Jakarta. Busway? Jakarta tidak perlu busway, tapi perlu MRT, dan selama 10 tahun dia gagal untuk bikin MRT. Banjir saja gak bisa menangani, apalagi gempa bumi, Lapindo, kebakaran hutan dan bencana2 lainnya. Sutiyoso itu levelnya paling banter Camat. Itu pun syaratnya gak boleh korupsi
  11. From M. Aguswandi on 08 October 2007 04:54:32 WIB
    betul sekali ramalannya
  12. From sofyan on 08 October 2007 09:15:41 WIB
    kalau saya akan pilih pemimpin yg jujur : GUS PUR
  13. From Pengamat on 08 October 2007 11:27:19 WIB
    Sekarang suasana Pemilihan Presiden yad sudah mulai hangat. Sudah bertambah yang mencalonkan diri, disamping calon calon dari mantan Presiden yang mau “recycled”. (Hanya Habibie dari para mantan Presiden yang tahu diri dan tidak mencalonkan diri).

    Calon baru ? Sudah ada yang malu malu kucing, seperti Din Sjamsudin (kapan sih Muhammaddiyah akan diketuai lagi oleh orang yang bukan politikus, seperti Syafii Maarif ?) dan yang tidak tahu diri ialah Sutioso yang ngira bahwa dia disenangi rakyat, dan mengira bahwa uangnya (yang cukup untuk membeli partai) akan cukup untuk membeli pemilih sebanyak (. Sekian % dari ??????..)..juta orang.
    SBY malahan menyatakan belum mau menentukan sekarang akan mau dipilih atau tidak.

    Reaksi di PO pun cukup banyak, dan beragam.
    Menurut pengamat tidak ada dari mereka yang mencalonkan diri itu yang berkwalitas lebih baik dari yang sekarang kalau dilihat dari segi reputasi, wibawa, penampilan dan kejujuran. Kelemahan SBY adalah kelemahan yang sangat manusiawi, ialah takut kehilangan support, hal mana sangat menguntungkan orang orang yang tidak tulus.
    Kelemahan lainnya adalah kurang pandainya dia berkomunikasi, baik dengan anggota kabinet maupun dengan rakyat,. Karena itu dia masih menggunakan “gaya Orde Baru” dalam berkomunikasi dengan rakyat.
    Kelemahan kelemahan pemerintahan dia juga ditonjolkan oleh pers yang memang bebas untuk mencari popularitas dengan menonjolkan terutama hal hal yang tidak baik.

    Justeru orang orang yang tidak tulus itulah yang bikin dia kerepotan karena menggunakan kelemahannya ini untuk kepentingan mereka. Kenapa mereka dipilih jadi menteri? Karena SBY ingin “demokratis”, jadi dia membentuk kabinetnya bersama dengan partai oartai, padahal mayoritas yang memilih dia cukup besar. Justeru orang orang yang menurut dia akan loyal dikesampingkan, dan hanya digunakan di”belakang layar”.
    Contohnya ? Wah, terpaksa harus sebut nama jadinya.
    -Yang menggunakan kesempatan ? Yusril (ingat berapa lama sebelum SBY memberhentikannya karena “kebaikannya” itu), Aburizal Bakrie (sekarang malahan jadi menteri dikuar bidang keahliannya sama sekali). Dan ...........terutama JK, yang (semua orang bisa lihat) yang jalan sendiri.
    - Yang loyal tetapi digunakan di”belakang layar”. ? Banyak, diantaranya Marsillam Simanjuntak, Todung Mulya Lubis. Moch. Chatib Basri dan banyak lagi orang orang yang biasa seperti kita>

    Pengamat beranggapan bahwa sebelum ada tokoh yang lebih baik (dan harusnya dari generasi yang lebih muda) masih SBY yang terbaik. Tetapi dengan syarat bahwa Wakil Presidennya orang yang seiringan dengan dia, dan bukan seseorang yang menikamnya dari belakang.
    Ada tulisan di Detikcom tg 24 September yl. yang berjudul: “Pencalonan Capres tak serius bila tanpa Wapres”
    Inilah tulisannya
    http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/24/time/225151/idnews/833820/idkanal/10

    Menurut pengamat ini sangat tepat, karena mereka itu harus merupakan “satu paket”.
    Apa syarat calon wakil SBY disamping bahwa dia seiring dengannya? Yang penting adalah: dia harus mengerti politik tetapi bukan politikus, tidak pernah terlibat skandal, tidak pernah terikat dalam pertikaian politik

    Dan yang terpenting adalah bisa berkomunikasi, terutama dengan rakyat untuk menjelaskan kebijaksanaan kebijakasanan pemerintah yang dipimpin Presiden.
    Jadi bukan mereka yang pintar (dan jujur) tetapi tidak bisa mengamalkan ilmunya kepada rakyat.

    Tentunya akan sangat bagus kalau dia itu juga adalah seorang yang bisa dijadikan “vote-getter”.
  14. From Sunarto on 08 October 2007 12:45:41 WIB
    Nobody's perfect. Al insanu makhalul khoto' wa nisyan. Kesempurnaan hanya milik Allah Robbul Jalil. Siapa saja presidennya asal membawa kemaslahatan dunia akhirat bagi seluruh rakyat. Amin ya robbal alamin. So boleh saja Gus Dur, Wiranto, Sutiyoso, Tutut, si Fulan, si Fulanah. Yang jujur, adil, tegas, tak hanya tebar pesona semata.
  15. From bramsakti on 08 October 2007 14:01:57 WIB
    Setuju dengan WW, kalo dipikir-pikir Sutiyoso emang bener mirip Suharto kecil plus plus; maksudnya plus narsis dan kurang simpatik seperti komentar #7 Karina Ayuningtyas; 'tidak beraura positif'.. entah kenapa, saya juga merasakan hal yang sama, kalo ngeliat si abang langsung gak percaya kalo die pernah 10 taun jadi gubernur gue hehehe...
  16. From Mukhlis on 08 October 2007 16:00:57 WIB
    gue juga eneg ama sutiyoso...tp geu lebih eneg ama orang seperti ente bung wimar...bisanya cuma kritik, tp ga berani maju ungkapin fakta....kl dia korup, ya join dong ama KPK jgn cuma ngomong doang di media, dll...kl gitu doang sih gue juga bisa...
  17. From khaidir anwar sani on 08 October 2007 16:31:11 WIB
    saya sepakat bahwa sutiyoso sama dengan soeharto kecil.
    MENURUT SAYA MEMBERIKAN KEPEMIMPINAN BANGSA KETANGAN MILITER ADALAH SEBUAH KESALAHAN,APALAGI MEMBERIKAN KEKUASAAN NEGARA KEPADA ORANG MILITER YANG MILITERISTIK SEPERTI SUTIYOSO...
    GAK SEDIKIT TINDAKANNYA YANG PERLU DISELIDIKI BAIK OLEH KPK MAUPUN KOMNAS HAM. MULAI DARI KEJAHATAN PERANG,KASUS 27 JULI,TRUS KASUS PENGGUSURAN SALAH SATU SMP DI JAKARTA,MASIH BANYAK LAGI YANG BERBAU UANG YANG MENJADI TUGAS KPK.
    MAS YOSO,TAHU DIRILAHHHHHHH
  18. From Drones on 08 October 2007 22:14:06 WIB
    Negara ini sekarang tanpa pemimpin. SBY walaupun dipilih secara mayoritas oleh rakyat dan bekas jendral, tidak mempunyai nyali. Di antara semua calon presiden yang akan datang, cuma ada 2 orang yang mempunyai nyali gede yaitu gus dur dan ....mungkin sutiyoso. kita butuh pemimpin, dan sayangnya tidak banyak pilihan. sutiyoso mungkin adalah the least of the evil.
  19. From budi on 09 October 2007 16:06:51 WIB
    Sutiyoso memang lihai dan hebat, pada tahun 1996 menjabat sebagai Pangdam Jaya pada era Soeharto pada peristiwa KUDATULI banyak kader PDIP dibawah pimpinan Megawati yang menjadi korban dan hilang waktu itu, tapi aneh bin ajaib Pada pemilihan Gubernur DKI tahun 2002 di DPRD DKI yang pada waktu itu PDIP adalah mayoritas di DPRD memilih Sutiyoso, Hebat Sutiyoso yang patut bertanggung jawab atas peristiwa 27 Juli 1996, bisa membalikkan sejarah, pada waktu itu anggota DPRD dari PDIP yang waktu itu ketua PDIP JAKARTA Tarmudi juga ikut mencalonkan jadi Gubernur DKI, digusur oleh Taufik Kiemas dan konon para anggota dewan dari PDIP menerima uang satu tas/orang untuk memenangkan Sutiyoso. Uang itu yang dapat diduga saat ini yang menyebabkan banjir Besar Di DKI karena diberikan kepada Perusahaan penyumbang (donatur)yang mendapatkan lahan strategis Di DKI membuat Mall/Square dan Apartemen sebagai kompensasi dukungan tersebut.
    Pada tahun 2007 ini Sutiyoso kembali menantang Megawati untuk ikut Pemilihan Presiden tahun 2009.
    Itulah politik tidak ada teman/lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan politik dan bagi-bagi uang serta kekuasaan.
  20. From bagman on 09 October 2007 22:01:25 WIB
    menurut aku ya...
    untuk memilih pemimpin untuk kita saat ini bukan hanya faktor like and dislike aza..tapi perlu sosok yang berani, tegas dan punya integritas..
    sehingga bangsa ini menjadi kuat.
    berani, untuk bertindak, mampu mengambil langkah yang extrem tapi untuk kepentingan rakyat banyak dan tidak takut terhadap ancaman pihak luar dan memiliki kecintaan terhadap negeri ini. hadi pemimpin itu bukan hanya berani diplomasi za, tetapi berani untuk memutuskan hubungan dengan negara yang telah menjatuhkan kredibilitas bangsa ini.
    contohnya, sby tidak memiliki rasa sayange, sehingga mau melepashe, wargane terbunuh di malasya e...

    heeh..
    kalo suharto terlalu taku tekanan dari eropa dan amerika, karena diancam tidak mendapat modal...


    jadi bagi warganegara yang memiliki kriteria seperti itu, walaupun gak sempurna boleh menjadi pemimpin bangsa ini.kalau sutiyoso di itu hanya terobsesi menjadi ri1 setelah menduduki dki 1
    begitulah kira kira pendapat aku....

    tapi yang tidak kalah pentinggnya, seorang pemimpin harus mampu mengakomodasi semua warga indonesia, karean indonesia tidak terdiri dari satu agama, satu suku tetapi suatu bangsa yang majemuk dan sangat pluralitas demukianlah..
    kalo menurut saya pemimpin yang layak itu adalah...........!!!!
    bung WIMAR WITOELAR
    heheh..
    merdeka
  21. From didiet pob on 10 October 2007 02:32:10 WIB
    memang saat ini kita merindukan kepemimpinan yang mengutamakan stabilitas...

    mungkin rakyat udah capek dengan kebebasan yang kebabalasan dari para elit.. semua cari duit sendiri2, dari buat lembaga2 baru, sampai perda2 pungli...

    utk kali ini saya setuju dengan Mas Mul (Mulyana W Kusumah) bahwa demokrasi kita sudah melenceng dari demokrasi konstitusionil ke demokrasi prosedural... terlalu banyak cos yang dikeluarkan untuk hal2 yang kurang bermanfaat, meskipun dari segi kebebasan rakyat kita sudah bisa merasakan apa yang dunamakan dengan FREEDOM of CHOISE..

    kita juga perl;u maklum karena kata VP Jusuf Kalla, 40 persen duit negara buat bayar utang dan bunganya yang dibuat oleh pemerintahan jenderal besar yang terhormat HM Soeharto..

    pokonya kita perlu Soeharto tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme...

  22. From nugirl on 10 October 2007 14:18:14 WIB
    halo om wimar salam kenal
    menurut saya sih sah2 aja kalo bang yos mau mencalonkan diri jadi presiden,kalo soal korupsi sih harus dibuktikan di meja hijau,kalo gak ada bukti kan gak bisa dibilang koruptor,emang sih kalo soal kharisma beliau ini kalah sama pres sby,kalo beliau resmi jadi calon presiden saya gak akan milih dia, soalnya ngurus jakarta aja gak becus apalagi ngurus negara,saya juga gak akan milih bu mega karena belia terlalu pendiam
    udah dulu ah ,love and peace
  23. From Tisna on 10 October 2007 22:36:38 WIB
    Setuju ama Karina.
    Kayaknya ada yg salah di muka Bang Yos. Koq ga bikin respect, alias no kharisma tea. Kurang susuk kali Bang? atau malah kebanyakan....
  24. From JakartaButuhRevolusiBudaya on 11 October 2007 13:13:04 WIB
    Whahaha Bang Yos udah keburu nafsu padahal bulan Ramdhan loh, bulan dimana kita harus bisa menahan nafsu...kenapa harus buru-buru bang ngumuminnya?ga takut klo dibilang pembangunan Busway sekarang buat nyari dana untuk 2009...mudah2an sukses deh bang..tapi ragu juga sih Jakarta aja kaga bener..eh salah belom bener..
    Terus gimana kabar Om Wimar?mau dijambret juga ga buat Tim Sukses?
  25. From wak tul on 12 October 2007 11:03:17 WIB
    Kenapa ga WW aja yg maju Capres ????

    Cawapres sudah ada. Tinggal Pilih BudSud atau MG. Ingat, negara ini punya potensi sumber energi yg sangat buuuuesarrr...
  26. From Rizka A Putranto on 16 October 2007 09:30:13 WIB
    Ide yang menarik tentang pendapat sutiyoso adalah suharto kecil

    bang yos, apa yang bisa kita lihat sejauh ini terhadap dia? Mantan Pangdam Jaya dan Mantan DKI 1 selama 2 Periode, dan di tambah dengan sejumlah raport2 dengan nilai baik dan buruk.

    yang mungkin sangat identik dengan kepemimpinan sutiyoso adl, "tegas, konsisten, sigap dan cepat bertindak (tipikal sikap2 TNI)" dan yang sangat identik dengan sutiyoso adalah "Busway, Banjir DKI Jakarta, Persija, 27 Juli, Reformasi, dan Timor Timur"

    terlepas dari raport diri bang yos, kita patut hargai dengan setulus hati kita walaupun faktanya jakarta masih di jalan yang penuh ketidak pastian sampai2 terpilih nya Bang Foke sebagai penerusnya.

    Dan, waktu pun tiba dimana Bang Yos sudah "Menganggur". apa yang akan dia lakukan ketika dia "Mengganggur" ?. Kita semua bisa lihat, bang yos tidak pernah mengenal kata "Menganggur" dalam hidup nya. setiap periode pasti ada saja apa yang dia lakukan. maka dari itu, selepas dari "Keberhasilan" nya menjadi DKI 1, dirinya pun ber inisiatif untuk menjadi salah satu kontestan di RI 1.

    Belajar dari pengalaman2 Gubernur di Amerika? mungkin bisa saja menjadi salah satu alasan dia mengapa dia memilih ikut berlomba menuju RI 1. sekali lagi, terlepas dari Raport2 Bang Yos, kita harus patut acungi jempol dengan keberanian dan inisiatif dia menuju RI 1.

    Sampai saat ini memang bang Yos "belum laku" dibel oleh para "Pedagang" di kancah politik nasional. mari kita bahas satu persatu siapa yang mungkin akan membeli dan memasangkan dia.

    1. PAN = bisa di sebut sebagai partai pertama yang melakukan "PDKT" terhadap bang yos, tapi pertanyaan berikut nya, apakah Bang Yos mau di beli PAN yang notabene nya hanya mampu meraup kurang lebih 5 - 8 % jumlah pemilih di Indonesia? dan di tambah dengan fakta keberadaan Din Syamsuddin dan Soetrisno Bachir yang bisa dibilang "Malu Malu Kucing"

    2. PDI-P = Partai ini sudah kita ketahui bersama dimana Ibu Mega adalah org No.1 dan sudah dipastikan menjadi Capres di partai ini, soo apakah masih mungkin bang Yos memaksakan dirinya menuju RI-1 melalui PDIP? mungkin peluang yang terdekat oleh Bang Yos jika mau maju melalui PDIP adl menjadi pasangan Ibu Mega. kita semua sudah ketahui bersama, Bang Yos cukup suxes di DKI 1 ketika PDI-P menguasai Kebon Sirih. tetapi ada sebuah kemungkinan yg akan terjadi dimana, Bang Yos mgkn akan melakukan sebuah "Impeachment" thdp Ibu Mega di tengah2 kepemimpinan nya mereka ber 2 (Jika terjadi). Bang Yos adl tipe2 org seperti JK, dimana dia susah di dikte dan berpendirian cukup tegak. so .. mgkn Bang Yos bisa memikirkan utk ber duet dg Ibu Mega, tetapi dia juga akan memikirkan Efek Samping nya jika berduet dengan Ibu Mega dalam waktu ke depan.

    3. Golkar = adalah partai yang cukup 'malas' untuk mengambil kader2 lain di luar golkar. Golkar mempunyai selusin kader yang mgkn bisa di promosikan utk menjadi petarung di RI 1 jika masih ada konvensi di tubuh partai ini (sebut saja: Surya Paloh, Agung Laksono, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Sultan HB, dan mungkin Prabowo). so .. apakah ada peluang untuk Bang Yos masuk di Jalur golkar? Kenapa tidak mungkin ???? Politik itu abu2 bung! semua mungkin saja terjadii ... tapi sekali lagi, Bang Yos susah menjadi Capres utk Golkar, karena dia bukan 'Putra Daerah' golkar (kecuali ada pengecualian dari eyang harto-harus kita akui dimana kekuasaan Cendana masih berpengaruh di tubuh partai ini). maka dari itu, jalan yang terdekat utk bang yos masuk dari partai ini hanyalh menjadi RI - 2 (sama seperti di PDI-P). tapi .. apakah JK ataupun siapa pun pemenang di konvensi nanti mau bersatu dengan Bang Yos ? jawab tsb bisa terjawab dengan IYA. Golkar merupakan partai yang cukup mencair dengan siapa pun pasangan nya, asalkan dia tidak menggangu dan menghancurkan masa depan partai ini dan mau sejalan dengan ide2 / prinsip2 golkar. JK - Sutiyoso? (Luar Jawa - Jawa) Sangat Mungkin Terjadi!

    4. Demokrat = Sangat Sulit untuk membawa Bang Yos. kita Skip saja

    5. PKB = Gus Dur adl kunci segala di partai ini, PKB merupakan partai yang tidak suka didikte karena kultur ini terdapat dari sosok se orang Gus Dur dimana dia tidak mau dibaca baik oleh lawan maupun kawan2 nya di medan perang. kemungkinan untuk membawa Bang Yos ? sangat mungkin ... di tambah dengan kemungkinan nya Gus Dur dijegal oleh KPU dan teman2 nya dalam pemilihan presiden tahun depan, ini akan menjadi sebuah pertimbangan bagi PKB utk menjadi supporter di kancah RI - 1 2009.

    6.PPP = Partai ini cukup mudah utk bergaul dengan siapa saja boleh dibilang, walaupun azas partai ini adalah ISLAM, tetapi mereka bersifat sgt realistis. maka dari itu Bang Yos tidak akan sungkan2 untuk mencari bantuan dari PPP utk Ri 1 2009.

    7. PKS = Bang Yos bisa saja tertarik dari tingkah laku grass root partai ini, dan partai ini pun juga bisa saja tertarik untuk menarik bang yos karena Bang Yos merupakan sosok idaman PKS (Terlepas dari raport baik dan buruk nya). kenapa?? Bang Yos cukup royal dalam berbagi harta, Bang Yos tidak sungkan bergaul dengan Rakyat (dibuktikan dengan kehidupan Persija dan The Jak nya), dan Bang Yos pun bisa membagi2kan sesuatu thdp kader PKS yng notabene nya 'masih mencari existensi'. tapi pertanyaan berikutnya adalah ... apakah Bang Yos dan PKS bisa bersatu dalam meluruskan Syariah Islam ?? sebuah Pekerjaan Rumah yang AMAT SANGAT BERAT utk Bang Yos .. tetapi ini mgkn bisa terjadi dimana PKS akan mensupport dia (terlepas dari 'Malu2 kucing nya Hidayat Nur Wahid').


    so ... bisa kita simpulkan bahwa Bang Yos akan mempunyai peluang yang cukup besar dalam pertarungan menuju RI - 1 2009. Kendala yang mungkin bisa terjadi dengan Bang Yos adalah pengaruh dari hubungan Luar Negri nya thdp negara2 Barat. Jika sudah memutuskan utk menjadi RI - 1, permainan harus di perluas, kita tidak bisa bicara dalam negri saja, tetapi kita harus bermain luar negri (world bank, IMF, US, UK, Aussie, UN, Russia, dll) harus menjadi catatan tersendiri utk seorang petarung RI - 1 2009.


    SBY cukup mempunyai gaya permainan yang disukai oleh pihak luar negri, apakah sutiyoso bisa menyaingi SBY dalam hubungan luar negri?? sebuah point yang bang yos harus sadari dan cermati lebih dalam dalam menentukan langkah nya ...


  27. From sawung on 16 October 2007 12:19:08 WIB
    inget sutiyoso inget siapa yang pegang komando 27 juli.
    ingat pula kstaf sutiyoso waktu itu yang sekarnag jadi presiden.
  28. From bocah gemblung on 24 October 2007 11:31:50 WIB
    Sutiyoso dalam beberapa hal memang sangat unggul. Apalagi dia besar di militer, dan besar dalam masa orba bimbingan petunjuknya eyang suharto lagi. Maka bakat kepemimpinan, egoisme, ketegasan yang sering kali ngawur dan mendekati otoriter seperti eyangnya, sehingga sangat terlatih.

    Dikombinasikan dengan bakat intelijennya yang sangat rapi dan indahnya menutup dan menyembunyikan kebusukan permasalahan yang diwariskannya, karena dia sendiri tidak pernah bertanggung jawab. Dia sebenarnya sama seperti tentara pengecut yang meninggalkan medan laganya. Seperti eyangnya yang membimbingnya.

    Maka sewaktu menjadi gubernur, ia tak sungkan menindas, membakar, menggusur, meratakan, - yang seperti teladan eyangnya - atas nama pembangunan. Namun tidak pernah memecahkan masalah. Jakarta ia tinggalkan dengan dagu mendongak berjalan di depan rakyat di perkampungan padat untuk 'berpamitan'. Rakyat yang sebenarnya dibuatnya sengsara, namun mereka tidak menyadari karena telah dibiusnya dengan formula warisan eyangnya, yaitu dengan janji-janji dan tebar-pesona (seperti malam terakhir tugasnya yang diliput salah satu TV swasta). Ia dengan gaya cool dan senyum khas jawa, masih gila hormat dengan berjalan menyusuri kampung, untuk menegakkan eksistensinya, di belantara kampung raksasa yang kumuh bernama Jakarta. Namun ia sebenarnya meninggalkan sejuta masalah baru. Seperti eyangnya yang memberi teladan.

    Bukan rahasia umum, kalau selama jadi gubernur, pendapatan terbesarnya bukan berasal dari gaji resminya sebagai gubernur, tapi dari sabetannya yang kelas paus. Contohnya seperti angpau yang diterimanya ketika meresmikan proyek properti swasta yang berdigit 10. Entah proyek itu melanggar peraturan dan AMDAL yang telah ditekennya atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Belum lagi banyak proyek pemerintah yang macet, seperti monorail yang dia teken. sebenarnya macet karena memang uangnya gak ada, atau uangnya habis dikorup berjamaah? Sama seperti pola eyangnya : suka menjilat kotorannya sendiri.

    Maka, setelah dirasa cukup mengumpulkan modal dalam masa 10 tahun kejar-setoran, dengan patriotisme militer yang dipelintirnya dalam keadaan mabuk kuasa, ia pun (tak malu maju) menepuk dada senriri mencalonkan jadi capres. Sama seperti rumus eyangnya.
    Kalau keadaan dan sistem yang bobrok itu mendukung, maka rumusnya : hisap sampai kurus - cari kesempatan - terjang - ambil dan hisap sumber yang masih gemuk.
    Tapi kalau keadaannya bikin terdesak, maka rumusnya : hisap sampai kurus - awasi keadaan - mundur - pembohongan publik - sembunyi sampai mampus sambil menikmati hasil penghisapan dulu yang gak habis 777 turunan.]

    Tapi yaaaa, balik maning nyang eyange. Watak sutiyoso sebenarnya adalah anti-kebenaran, anti-tanggung jawab, anti-pembaharuan, anti-keterbukaan, anti-akuntabilitas dan anti-keragaman.

    Suti, suti....
    Ah, kamu bisa saja. Gak puas dengan Jakarta, kamu gak mau kehilangan kesempatan mendapatkan Indonesia.

    Tampaknya wakilmu yang sekarang jadi gubernur, juga sedang mempraktekkan nasehat dan teladanmu.

    Terima kasih, Pak WW.
  29. From Arham on 27 October 2007 00:23:53 WIB
    saya setuju banget Om kalo bang yos itu soeharto tapi, mo tambahin nih, kalo ternyata soeharto++ lho. knp? karna dia suka dengan sepakbola...
  30. From asri on 27 October 2007 19:17:12 WIB
    orang Indonesia itu banyak yg pinter2 kayak oom WW nih, tapi koq yg muncul jadi pemimpin selalu saja tdk bebas korup.. mungkinkah para koruptor lebih pinter ketimbang orang2 pinter itu sendiri?? Ayo orang2 pinter Indonesia jangan kalah cerdik dgn para koruptor dong! Mau ngasah otak berapa dekade lagi utk ngalahin para koruptor?? Minimal bikin dong Indonesia nggak lagi ada sekolahan nyaris runtuh, jalanan nggak semrawut, bebas banjir, masalah sampah teratasi, transportasi umum lancar, layak pakai, comfort, dan murah..
  31. From EVAN on 27 October 2007 20:52:02 WIB
    Saya pernah mendengar quis di sejumlah pelatihan soal kriteria calon pemimpin yang paling baik. Ketika makhluk di dunia ini tinggal empat orang: Kyai,Pelacur,Bayi, dan Perampok, siapa yang paling tepat menjadi pemimpin di antara mereka? Jawabannya perampok! Benarkah?
  32. From bungdedy on 07 November 2007 18:49:31 WIB
    Konstitusi kita jelas mengatakan sistem politik yang digunakan adalah sistem presidensial, tetapi dalam prakteknya sistem politik yang dianut adalah "BANCI". Presidensial kagak parlementer juga nggak. Bahkan SBY yang dipilh secara langsung sebagai mandataris RAKYAT tidak berkutik dihadapan partai-partai.
    Sudah saatnya kita memilih pemimpin baru. Kalo bicara kriteria saya memilih SOEHARTO MINUS KORUPSI, atau "SOEHARTO KECIL" MINUS KORUPSI.
    Pak WW kenapa anda tidak mencoba jadi inisiator untuk mengungkap korupsi "SOEHARTO KECIL" alias Sutiyoso?
  33. From Dartono on 13 November 2007 09:29:04 WIB
    Duh Gusti...
    Siapa gerangan calon pemimpin kami yang tidak korup. Mas WW, tolong ungkap latar belakang para calon presiden, biar rakyat bisa milih dengan benar.

    yang korup - korup, omongin aja semua .....!
  34. From Iman on 04 December 2007 15:41:20 WIB
    Udah ga usah banyak comment, seret aja ke pengadilan hukum gantung aja...gantung...gantung...gantung.....cepek de korupsi...korupsi tapi presiden aja ga jago memberantasnya padahal banyak janji manis yg di umbar sebelum jadi presiden, banyak yang hebat sebagai analis masalah korupsi tapi begitu menjabat ekskutif ataupun legislatif ga punya nyali euy.....atau seperti bung W. Kusuma malah akhirnya masuk bui
  35. From zeus on 18 December 2007 19:14:31 WIB
    Opini sih boleh aja..cuman gak ada pejabat atau politikus yang gak korupsi intinya, jadi mau memilih siapapun pasti pernah atau akan korup!, DIJAMIN. jadi kalau udah gitu sih yaaa mendingan milih yg sudah jelas2 bisa memimpin secara tegas dan brani..paling tidak negara ini bisa jaya lagi seperti dulu. Sutiyoso atau tidak, harus yg berjiwa satria, tegas dan berani membela nama INDONESIA!!.
  36. From Tya on 28 January 2008 17:54:13 WIB
    Indonesia cukup mengalami satu kali orde baru, cukup satu Pak Harto. Mudah-mudahan mantan gubernur yang satu ini mau mengurungkan niatnya menjadi capres. Lebih baik mundur teratur dengan terhormat daripada turun teratur dengan tertunduk. Salam damai.
  37. From bud on 01 February 2008 00:52:28 WIB
    dari nama2 calon presiden yang basi tidak ada yang potensial. sutiyoso dengan jalan pikirannya yang bervisi lebih saya pilih daripada yang lain!! dan dia bisa mewujudkan visinya. berani ambil keputusan, tidak seperti presiden yang sekarang.
  38. From nama_palsu_mau_ditolak on 12 April 2008 03:57:24 WIB
    Koq ada yang tega bilang \"Sutiyoso berhasil pimpin Jakarta\"...
    duh duh duh...
  39. From doelkar on 14 April 2008 16:10:36 WIB
    aku heran lihat para pensiunan jendral2 ini, paling parah post power sindrome nya. spt agum gumelar yg kalah pada pilgub jabar, jangan2 pilbup bogor dia mau ikutan lagi, dan kalah pulak lagi,...? aku rasa mereka akan sakit bila tak ketemu orang hormat sambil posisi siap grrrrrrrrraak.
    ini cerminan masarakat yg sudah muak dgn tradisi spt itu
    udah deh biarkan kaum sipil kayak kami2 ini yg menjadi pemimpin, atau paling tidak militer itu dibelakang aja manakala ada yg coba2 curi wilayah kita sikat aja.
    bang yos, udahlah jadi gub dki itu sudah jabatan prestisius anda, puncak karir anda. ntar kayak agum kalah presiden/gubernur, apakah red beret modelnya gitu...?
    pantang menyerah tulang......!!!
  40. From divi on 15 July 2008 10:19:35 WIB
    jakarta 10 thn terakhir, semenjak pemimpinan bang yos, bisa dikatakan sgt maju. di dalam bidang gw , kedokteran. gw lihat sendiri betapa majunya puskesmas di jakarta. beda bgt ama didaerah laen, sistemnya bener2 tepat bgt yang dibuat sama kepemimpinan beliau. org2 yang punya ide cemerlang, idenya di terima dan diterapkan.
    dibandingkan capres lain yg jelas2 gak maksimal semua pas jadi presiden, ato capres yg belon ketauan gmana nanti pas mimpin mendingan gw pilih bang yos. kali emang korupsi, ntar juga pasti ketauan.
  41. From Helmi on 09 August 2008 20:54:28 WIB
    ada tidak yang perlu dibanggagakan dari pemerintahan sutiyoso secara suignifikan. menurut saya lebih baik sutiyoso tidak mencalonkan diri menjadi presiden. kecuali dia bersedia untuk mengeluarkan uang dengan banyak untuk mendapatkan simpatik, tapi menurut saya itu sangatlah susah, saya harap sutiyoso tidak usah mencalonkan diri menjadi presiden.please
  42. From Ir. Zulfahmi on 16 August 2008 14:49:57 WIB
    Menurut saya, Mr. WW hanya bicara besar and pembuat fitnah dengan mendiskreditkan seorang tokoh bangsa sekaliber Bang Yos. Apakah semua tuduhan, tudingan dan hujatan Mr. WW tersebut dapat anda buktikan bahwa Sutiyoso itu benar-benar pejabat yang korupsi? Kalau hanya sinyalemen anda saja Mr. WW sangat disayangkan, berarti anda adalah sebagai manusia tukang fitnah dan melakukan pembunuhan karakter terhadap Sutiyoso. Jadi saran saya, berpikirlah dengan normal jangan abnormal bung, berpikir positif dan dilanjutkan dengan bersikap dan bertindak positif akan lebih baik, ketimbang jadi Pimpro (Pimpinan Provokator) yang bisanya merendahkan orang. Ingat bung, apa yang anda pikirkan akan menjadi kenyataan dan karma bagi anda.
    Trims, semoga Tuhan YME menunjukkan jalan yang lurus dan hati nurani yang bersih kepada anda, lebih baik punya banyak teman daripada banyak musuh.
  43. From firman on 20 October 2008 14:52:21 WIB
    Perlu diingat : Sutiyoso berhasil menaikkan APBD DKI jakarta dari 1,7 Trlliun (1997) menjadi 20,9 Trilliun (2007),Sekolah Gratis,Jaminan Kesehatan untuk masyarakat miskin dan Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK), adanya taman-taman kota, Merubah prostitusi Kramat Tuggak menjadi Islamic Center, dan lain-lain.

    Suka atau tidak suka,nyata sekali keberhasilan dan kemajuan DKI Jakarta selama dipimpin Sutiyoso.

    Salam


    Firman
  44. From nur fasiha on 03 June 2009 21:02:43 WIB
    kalau ada soeharto kecil berarti ada soeharto besar juga donk??? trus sapa soeharto besarnya???? kayaknya lebih berbahaya tuch....
    setiap orang kan pasti ada buruk dan baiknya, sutiyoso pun juga begitu, ya gak?????
    saya menulis tentang unas tahun ini, ni alamtnya edukasibangsa.blogspot.com

« Home