Sutiyoso = Soeharto kecil? UNAS bahas Pemilihan Presiden 2009
Perspektif Online
05 October 2007
Laporan oleh Lidya Wangsa dan Hayat Mansur
“Kunci langgengnya suatu kepemimpinan adalah cinta dan komunikasi.” Begitu ujar Wimar Witoelar saat ngabuburit bersama teman-teman mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) jumat sore kemarin (5/10). Dimotori oleh Didiet Adiputro yang juga bertindak selaku moderator, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNAS menggelar sebuah diskusi terbuka dengan tema Presiden Kita: Kriteria Orang Biasa dan Pilpres 2009.
WW menyatakan bahwa kita boleh memilih yang terbaik dari pilihan yang ada, siapa pun orangnya, asalkan dengan 'cinta' kita tidak membiarkan yang terpilih berjalan sendiri. Kritik membangun bisa digunakan untuk mewujudkan cinta tersebut. Jangan menunggu 5 tahun lagi atau mengharapkan pemilu berikutnya untuk memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Tunjukkan kepedulian sebagai orang biasa yang mendambakan hidup tenang dan keinginan untuk maju dengan tetap menghargai hak setiap pribadi yaitu dengan bersedia mengkritik dan bersuara.
Komunikasi yang baik juga turut menentukan langgeng tidaknya popularitas seorang pemimpin. Contoh, Soekarno dan Soeharto pada awalnya sukses menyampaikan pemikirannya dengan sangat komunikatif tapi pada akhirnya komunikasi tidak dibina dengan baik akibat bergesernya keberpihakan rakyat. Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.
Sore itu, ruangan Student Learning Center dipadati oleh sekitar 50 mahasiswa yang sangat antusias untuk bertukar argumen dengan Wimar Witoelar. WW menjelaskan bahwa orang biasa perlu membuka ruang bagi menghadapi pemilihan presiden 2009. “Kalau sejak awal dipersiapkan maka pilihan itu akan semakin banyak dan orang biasa bisa turut berkontribusi.”
“Sebenarnya kriteria presiden seperti apa yang sesuai dengan harapan orang biasa?'' tanya Sofi, mahasiswi Ekonomi Manajemen. Menurut WW, sederhana saja kriterianya, yang penting pemimpin tersebut disukai orang. Lebih lanjut ditambahkan bahwa presiden terpilih tidak bergantung pada dikotomi etnisitas. Selama para calon menunjukkan kepada publik bahwa mereka patut dan layak dipilih maka apapun latar belakangnya akan diterima oleh para pemilih.

Rombongan PO/IMX dengan Didiet Adiputro dan Adam, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNAS
Sutiyoso bisa menjadi Soeharto Kecil
Pemilihan presiden (Pilpres) memang masih dua tahun lagi, tapi saat ini Orang Biasa sudah dihadapkan pada manuver politik para calon presiden, salah satunya Sutiyoso. Ada pertanyaan, bagaimana sosok Sutiyoso. Wimar Witoelar menjawab, “Sutiyoso bisa menjadi Soeharto Kecil”. Mengapa? Karena disiplin, produktif, tapi korup.
Manuver para elit politik yang sudah menyatakan diri menjadi calon presiden 2009 menyita perhatian publik. Karena itu Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (Himajip) Universitas Nasional (Unas) dengan menggandeng perspektif.net berinisiatif menggelar diskusi mengenai Pilpres 2009 dengan menghadirkan pembicara tunggal Wimar Witoelar dan moderator Didiet Adiputro, ketua Kelompok Studi Mahasiswa Unas.
Diskusi dengan mahasiswa dan dosen UNAS memakai format tanya jawab karena WW memang hadir untuk menjawab pertanyaan Orang Biasa mengenai Pilpres 2009. Berikut ini beberapa pertanyaan yang diajukan peserta dan moderator.
Didiet: Siapa itu Orang Biasa dan bagaimana sebaiknya Orang Biasa menghadapi Pilpres 2009?
WW: Orang biasa bukan rakyat karena sekarang rakyat sering diartikan anti elit. Orang biasa adalah orang yang ingin perubahan lebih baik tapi tanpa berdemo, orang yang ingin kaya tapi tanpa korupsi. Orang yang ingin hidup tenang dan berkarya tanpa merampas hak orang lain dan tidak ingin haknya dirampas. Orang biasa tidak diakomodir dan tidak mempunyai akses ke kekuasaan. Orang biasa sangat susah mendapatkan peran. Saat ini waktu yang tepat bagi orang biasa untuk berkumpul dan bersuara karena Pilpres 2009 memiliki prospek yang baik. Semua kemungkinan masih terbuka, seperti perubahan peraturan masih memungkinkan dan calon-calon presiden lain masih bisa diangkat. Jika tidak bersuara sekarang rugi karena makin lama makin sedikit pilihan. Namun tentu saja pilihan itu bisa dibuka kalau orang biasa pro aktif.
Orang biasa diharapkan ikut serta dalam pemilihan presiden mendatang, boleh jadi salah satu calonnya. “Menang kalah tidak jadi soal, yang penting keikutsertaan orang biasa tersebut dalam pilpres mendatang berdampak dan mampu mewarnai proses pemilihan presiden 2009”, jelas WW.
Didiet: Sekarang sudah mulai muncul elit yang menyatakan maju menjadi calon presiden, seperti Sutiyoso. Bagaimana WW melihat Sutiyoso yang telah 10 tahun menjabat sebagai gubernur DKI?
WW: Selama 10 tahun Sutiyoso telah mengumpulkan dana politik. Dia satu-satunya orang yang sama korupsinya dengan Soeharto. Sutiyoso merupakan Soeharto kecil. Kalau korupsi Soeharto US$ 20 miliar, dia mungkin belum sebanyak itu. Dia produk Orde Baru, dia berani melanjutkan praktek Orba di tengah arus reformasi.
Syahruddin: Bagaimana orang biasa membangun dukungan tanpa terikat Orba dan tanpa uang?
WW: Saya sempat bertanya kepada Faisal Basri (ekonom – Red) sebelum tersisih sebagai calon gubernur DKI Jakarta, darimana uang untuk Anda berkampanye nanti? Faisal menjawab, “Kalau saya sudah menjadi calon, uang akan datang sendiri. Ini juga dibuktikan kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Barrack Obama yang berhasil mengumpulkan dana cukup banyak. Jadi kalau di negara demokratis dana itu akan datang dengan sendirinya.
Pemimpin itu seperti bintang sepak bola. Kalau tampil baik dengan mencetak banyak gol maka akan mendapat dukungan banyak penonton. Dalam kehidupan politik, pemilih akan mendukung calon terbaiknya.
Sofi: Pada pemilihan sebelumnya, masyarakat banyak yang kecewa dengan pilihannya yang menjalankan kekuasaan. Lalu, bagaiamana sebenarnya kriteria presiden yang sesuai dengan harapan Orang Biasa?
WW: Memilih presiden seperti memilih suami untuk pernikahan. Memilih itu baru tahap pertama. Agar pernikahan bisa langgeng maka perlu ada “cinta dan komunikasi”. Begitu juga kepemimpinan. Kita boleh memilih yang terbaik dari pilihan yang ada, siapa pun orangnya, asalkan dengan cinta. Setelah dipilih jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kita harus menjaga cinta dengan komunikasi Kritik membangun bisa digunakan untuk menjaga cinta tersebut. Jangan menunggu lima tahun lagi atau mengharapkan pemilu berikutnya untuk memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.
Acara diskusi berakhir dengan memuaskan semua kalangan. Karena itu muncul ide untuk ke depan menggelar kembali acara serupa. Pada akhir acara WW mendapat kenang-kenangan plakat yang diserahkan Ketua Jurusan Ilmu Politik Unas Dedi Irawan. Sebelum diskusi dimulai WW disambut hangat Dekan FISIP Unas Hasto Suroyo.
Diskusi singkat selama satu jam ini menurut WW adalah kesempatan untuk menyederhanakan politik agar dapat diterima dan dipahami oleh orang biasa. Ingatlah walaupun negara itu penting, tapi yang paling penting adalah kenyamanan dan pemberdayaan orang-orangnya.
Bonus: wawancara Radio Hard Line Talk 100.6 FM, 2 Oktober 2007
Seperti Soeharto
Radio: Bagaimana tanggapan anda tentang tampilnya Sutiyoso sebagai calon Presiden?
WW: Saya rasa itu sudah dapat diduga, bahkan saya menulis tentang kemungkinan itu dalam artikel di Sindo dan wawancara di 'Indonesia This Morning'. Sudah kelihatan dari ketekunan Sutiyoso memenangkan pemilihan Gubernur DKI untuk Fauzi Bowo, yang akan mengamankan dana politik yang telah dikumpulkannya selama sepuluh tahun, selain menambahnya lagi dari proyek DKI yang baru.
Radio: Apakah proyek DKI seperti Busway itu tidak bermanfaat untuk masyarakat Jakarta? Mengapa anda tonjolkan korupsinya?
WW: untuk sebagian masyarakat bermanfaat, untuk sebagian lagi tidak. Tapi yang mengganggu adalah bahwa proyek itu menjadi ajang untuk korupsi, sampai kepala proyeknya masuk penjara.
Radio: Bukankah Sutiyoso punya kelebihan sebagai pemimpin yang banyak melakukan pembangunan?
WW: Seperti Suharto juga. Bahkan boleh dikatakan. Sutiyoso adalah pemimpin yang sangat mirip dengan Suharto. Militer, efektif, tegas, produktif, korup, memisahkan kawan dengan lawan.
Radio: Menurut anda, Sutiyoso akan mendapat dukungan partai?
WW: Pasti, karena dia sudah mengumpulkan banyak uang untuk menyumbang partai.
Radio: Partai mana kiranya yang bisa menjadi pendukung Sutiyoso?
WW: Partai yang bisa dibeli, mungkin juga semua partai karena uangnya banyak
Pak Tampubolon, pendengar: Saya tidak setuju Pak Wimar. Kita justru perlu pemimpin yang keras, supaya orang disiplin. Sebab sekarang orang radikal mengacaukan negara kita sejak tahun 98.
Radio: Bagaimana Pak Wimar? Bukankah banyak orang sependapat dengan Pak Tampubolon?
WW: Memang banyak sekali. Karena itu Suharto bisa berkuasa 32 tahun, karena itu juga Hitler bisa menguasai Eropah. Orang keras memang banyak pengikutnya, sebagian karena senang sama-sama keras terhadap orang lain, sebagian lagi karena tidak mengerti duduk perkara. Tapi kita lihat akhirnya orang Indonesia bisa meninggalkan kekerasan sejak tahun 98.
Radio: Apakah dengan dukungan partai itu Sutiyoso punya kesempatan besar untuk menang?
WW: Tidak, karena ada yang tidak bisa dibeli, yaitu rakyat pemilih. Dan pemilihan Presiden itu pemilihan langsung.
Radio: Apakah akan muncul calon baru pada Pilpres 2009?
WW: Tidak tahu akan atau tidak, tapi harus kita usahakan




44 Comments: