Articles

Calon Independen Dikabulkan! Jangan Senang Dulu?

Liputan6 & Berpolitik.com
24 July 2007

Liputan6: Mahkamah Konstitusi Mengabulkan Calon Independen

Liputan6.com, Jakarta: Setelah melalui perdebatan, Mahkamah Konstitusi akhirnya mengabulkan tuntutan calon independen agar Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah direvisi, Senin (23/7). Pasal yang direvisi itu berbunyi: hanya para calon kepala daerah yang didukung partai politik yang bisa mengajukan diri.

Dengan putusan itu, calon independen seperti Sarwono Kusumaatmaja mulai pemilihan kepala daerah mendatang bisa ikut serta. Namun, keputusan Mahkamah Konstitusi ini tak berlaku surut. Sehingga untuk Pilkada DKI Jakarta yang sedang berlangsung, calon independen tetap tidak bisa ikut. Baca selengkapnya

 

Berpolitik.com: Jalan Masih Panjang Bagi Calon Independen

Jangan terburu senang. Ini peringatan bagi mereka tengah bersuka cita lantaran pintu calon independen untuk bertarung dalam pilkada kini terbuka. Baik pembuat UU (pemerintah dan DPR) maupun KPU ditengarai punya keengganan menerima kehadiran calon independen, meski alasannya berbeda-beda.

Beberapa kalangan yang dihubungi berpolitik menyatakan, terlalu dini untuk bilang selamat datang kepada calon independen. Menurut mereka, pemerintah maupun DPR punya berbagai cara untuk mementahkan keputusan MK tersebut. Baca selengkapnya

 

Baca juga komentar seru di:

Print article only

34 Comments:

  1. From wimar on 24 July 2007 11:03:39 WIB
    iya lah, banyak yang mau mementahkan keputusan ini. Banyak yang takut sekali muncul calon independent, apalagi yang sudah investasi puluhan milyard di Fauzi Bowo atau Adang Daradjatun.

    tapi banyak juga yang mau berjuang untuk calon independent, dengan titik terang yang ada.

    terserah mana yang lebih banyak dan lebih semangat
  2. From bram on 24 July 2007 11:23:50 WIB
    Paling tidak peluang untuk perbaikan sekarang sedikit terbuka, walaupun tidak menjamin akan menghasilkan pemimpin yang lebih berkualitas. Mudah-mudahan kesempatan ini digunakan dengan pemikiran matang dan arif oleh mereka yang ingin maju dalam pilkada dimanapun di Nusantara ini. Dan semoga tidak akan berbuah konflik horizontal.
    Semoga..!
  3. From Bu_Tet on 24 July 2007 11:46:28 WIB
    Saya golput pada pilkada DKI kali ini, karena baik Foke maupun Adang nggak ada yang bagus. Kalo ada yang bilang Foke itu bersih dan jujur, pasti akan saya sanggah. Kalo ada yang kampanye kalo Adang itu hebat dan berkarakter, maka akan saya sanggah juga.

    Tapi, apakah saya sudah sampai pada kesimpulan bahwa sistem Parpol gagal dalam melakukan tugasnya untuk menampilkan calon yang layak? Saya belum sampai pada konklusi demikian.
    Karena di beberapa tempat, calon yang diusung Parpol adalah juga calon yang didukung mayoritas pemilih.

    Apakah perlu calon independent? Itu jalan darurat aja, dipakai jika Parpol nggak bisa menjalankan tugasnya. Jangan malah jadi jalur utama.
  4. From anggana on 24 July 2007 12:51:48 WIB
    pemilihan sekarang udah diplot 2 calon..

    tapi hasil putusan mk hanya menyangkut uji materi, sehingga mk tidak menjamin sedikitpun adanya peluang calon independen.

    kepentingan parpol saat ini sudah seemakin menjangkit semua sendi kepentingan nasional yang nyata2 sudah dipolitisir..

    smua bilang atas nama rakyat..

    lucu liat rohkmin dauhuri memelas minta keadilan...

    calon independen juga harus melihat kapasitasnya di kalangan masyarakat, apakah mereka mampu mengendalikan daerah dengan perangkat perundang2an yang serba minim..

    haruslah figur yang bertangan besi,, yang bisa mengendalikan parpol dan smua pengacau,, sampai2 diri sendiri yang jadi taruhanya..

    selamat berjuang
  5. From Didiet POB on 24 July 2007 16:49:04 WIB
    Salut buat Prof. Jimly Ashidiqie dkk,yang akhirnya diberi pencerahan oleh Tuhan, dengan merevisi UU tentang mekanisme pemilihan kepala daerah...

    selama ini masyarakat selalu menantikan hasil tsb dengan optimisme tinggi, karena rakyat sudah mulai muak dengan partai politik dewasa ini yang lebih berperan sebagai "makelar kekuasaan" yang dilindungi Undang2.

    akan tetapi keputusan luar biasa para hakim konstitusi ini tentunya tidak akan berpengaruh bagi perbaikan nasib jakarta 5 tahun mendatang. karena masyarakat DKI tetap dihadapkan dengan pilihan yang sangat minim dari para calon yang sebenarnya "jatuh dari langit" (tidak punya track record yang memadai)

    jadi perjuangan para tokoh yang luar biasa seperti pak sarwono, Faisal basri, Prof. Harun Al.Rasyied, bang fadjroel rahman dan juga WW.. sudah berhasil MEMBANTU menyadarkan para hakim konstitusi bahwa betapa pentingnya calon independen di dalam proses demokrasi di Indonesia yang sudah meyeleweng dari aspirasi rakyat.

    meskipun perjuangan tsb tidak bisa dinikmati masyarakat jakarta,karena KPUD DKI tetep kekeueh, tetapi putusan itu menjadi kado terbesar yang diberikan MK untuk rakyat Indonesia Indonesia ke depannya dalam menghadapi proses demokrasi..

    semoga putusan ini bisa menjadi bahan intropeksi bagi parpol, agar menjalankan fungsi arikulasi dan agregasi kepentingan rakyat dengan maksimal, tidak hanya jadi "MAKELAR KEKUASAAN" BELAKA!!!!

    untuk calon independen pada pemilihan presiden 2009???
    belom dulu kali yaa...

  6. From Redi on 24 July 2007 19:58:12 WIB
    Pertama terbukanya peluang buat calon independen mesti dicatat sebagai kemenangan kecil. Emang perjuangan selanjutnya gak kalah sulit. Parpol2 di DPR/DPRD dan presiden belum tentu setuju dgn ide calon independen dan mereka akan bikin terkatung2 soal ini. Nah krn di jalur Parlemen dan eksekutif kemungkinan mentok, maka harus memakai jalan di PARLEMEN dan Eksekutif yaitu memanfaatkan PILKADA DKI ini. Jika suara GOLPUT menggelembung sampai, katakanlah 90% lebih, otomatis DORONGAN untuk penerapan sistem bagi calon independen akan lebih kuat. Satu2nya ruang utk berbicara bagi masy ada di PILKADA ini! Setelah itu ruang akan tertutup sampai 5 tahun kedepan!
    Karena itu, ayo manfaatkan PILKADA dengan GOLPUT, untuk menunjukkan ketidakpercayaan terhadap sistem yg ada semakin besar! Semakin besar GOLPUT, semakin besar ruang BAGI CALON INDEPENDEN!
    berGOLPUT kali ini bukan cuma utk jakarta, tapi juga untuk membantu daerah2 mendapatkan contoh perlawanan menuju pemilu yg DEMOKRATIS dan BERSIH!
  7. From khaidir anwar sani on 24 July 2007 20:59:25 WIB
    SELAMAT BUAT BUNG fadjroel rahman dan kawab kawan yang telah memperjuangkan persamaan hakkonstitusiseluruh warga negara indonesia.
    semoga dengan ini kita menemukan jalan kehidupan berbangsa yang lebih baik dan demokratis setelah sebelum ini jan melalui partai politik yang tidak bisa diharapkan sebagai penyalur aspirasi kita.
    kita butuh orang orang seperti bung WW,fadjroel rahman dan tokoh tokoh lain untuk menyelamatkan bangsa ini agar tetap dalam jalur yang benar
  8. From didiet pob on 24 July 2007 23:04:08 WIB
    PILKADA DKI harus diundur atas nama demokrasi..

    masyarakat Jakarta harus diberikan akses yang lebih besar untuk memilih calon alternatif..dan ini dilindungi oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang mulia..

    jangan biarkan DKI Jakarta kita yang tercinta ini diperdagangkan dan dibagi-bagikan kepada 20 partai dan punya gubernur dengan track record yang kurang baik..

    PILIH GOOD GUY
  9. From taryono putranto on 25 July 2007 07:14:10 WIB
    kek.....kek....kek........ besok-nesok ndak perlu parte pulitik dong, nyang punya duit dan dapat masa bisa jadi calonlah...... selamat buat donggggg buat demokrasi masa depannnnnnnnnn
  10. From wimar on 25 July 2007 07:23:42 WIB
    Memang, calon independen bisa mengalahkan calon partai politik, seperti di Aceh. Kalau partai ingin menang lagi, maka partai harus mengajukan calon yang bersih dan dipercaya rakyat. Untuk itu partai sendiri harus melakukan pembersihan dan penggantian pimpinan. Partai yang bersih akan lebih kuat dari calon independen. Calon independen diperlukan untuk mengingatkan partai untuk memakai hak politik dengan baik.
  11. From febianto on 25 July 2007 08:40:53 WIB
    Bagi mereka yang nanti jadi pemenang, harus dapat melaksanakan tugas dan janjinya dgn baik dan bagi yang tidak terpilih harus legowo dan menenangkan pendukungnya.

    Pilkada diundur?!..... rasanya sulit terjadi (mudah2an pendapat ini salah..). Menurut saya MK mengikuti saran Mba' Ning (temennya Mba' Gandes) yg bilang 'ikannya dapet, airnya tetap jernih'. Selamat!.

    Paling tidak, sy bisa berharap kemajuan Indonesia dapat tumbuh dari byk daerah di Indo lainnya (cirebon, semarang, sby, makasar dll).Dan 10 th lagi, jakarta tidak menjadi kota yg paling seksi di indo.tks.
  12. From febianto on 25 July 2007 08:50:28 WIB
    Bagi mereka yang nanti jadi pemenang, harus dapat melaksanakan tugas dan janjinya dgn baik dan bagi yang tidak terpilih harus legowo dan menenangkan pendukungnya.

    Pilkada diundur?!..... rasanya sulit terjadi (mudah2an pendapat ini salah..). Menurut saya MK mengikuti saran Mba' Ning (temennya Mba' Gandes) yg bilang 'ikannya dapet, airnya tetap jernih'. Selamat!.

    Paling tidak, sy bisa berharap kemajuan Indonesia dapat tumbuh dari byk daerah di Indo lainnya (cirebon, semarang, sby, makasar dll).Dan 10 th lagi, jakarta tidak menjadi kota yg paling seksi di indo.tks.
  13. From didi ortek on 25 July 2007 09:36:42 WIB
    Dalam demokrasi yang sehat setiap orang boleh berpendapat. Ada yang bilang cagub ga ada yang bagus...monggo.
    Ada yang bilang pilih cagub yang terbaik dari calon2 yang buruk ...monggo juga.
    Ada yang bilang Foke yang paling tau Betawi yang laen tidak...monggo.
    Ada yang bilang Adang lebih bagus...monggo lagi.
    Ada yang bilang harus ada calon independen...monggo.

    dari semua itu yang tetep harus ada ya saling menghargai, jangan sok paling bener. Jangan sampai yang golput bilang yang milih adang/foke itu bodoh. Jangan sampai yang pilih calon independen bilang yang milih adang/foke/golput itu bodoh.
    Emang calon independen itu segalanya? Tidak toh. Sejak awal saya bilang apa yg diperjuangkan Sarwono? Mestinya dr awal danjauh2 hari berjuang untuk ketentuan calon independen,bukan setelah didepak partai baru tereak2 keabsahan calon independen, sehingga saat MK membolehkan calon independen mereka dibilang terlalu pinter...itu seh kecewa ga maju ya.
  14. From Satya on 25 July 2007 10:17:04 WIB
    taryono (no.9), logika salah! dengan melarang calon independen, justru yang punya duit lebih mungkin menang karena yang paling gampang disogok adalah partai. kalau ada calon independen, justru membuat parpol terpaksa bersih dan rakyat jadi ingin dukung parpol. CALON INDEPENDEN MEMBUAT PARPOL LEBIH BAIK.

    didi (no. 12) pengertian salah! kalo mau sok demokratis, justru parpol harus berani bersaing dengan independen. kalau mau menang tanpa bersaing namanya apa kek, tapi bukan demokratis. BUKAN DEMOKRASI KALAU TIDAK ADA PILIHAN.

  15. From gambler on 25 July 2007 12:39:24 WIB
    gile si bowo, sadikin pun berhasil dibujuknya.
    gimana nih komentar teman2 ttg ali sadikin dukung fauzi bowo di iklan tv.
    argumentasi diatas bagus. aye golput ah. RT saya jg ga datang2 untuk daftarin.

    tapi saya suka tuh liat semangat dari spanduk PKS yg berbunyi:
    gula pasIR ,manis rasaNYA
    jkt banjIR, kemana ahliNYA
    dan biasanya ada tulisan partai dibawahnya, tapi yg ini tulisannya: tim relawan.
  16. From ajeg on 25 July 2007 13:28:03 WIB
    PROSES Demokrasi yang berjalan baik, semua berawal dari PERATURAN. Ndak asal grasa-grusu, walaupun seringkali dibutuhkan untuk Pemimpin DPR / DPD yang bebal, telinganya tersumbat.
  17. From Chandra on 25 July 2007 16:46:20 WIB
    Usul ! Pertama, pintu calon independen pilpres sekarang terbuka, mari kita masuki. Bosen, tiap pilpres melulu pilih yg terbaik dari yg jelek2. Kedua, Sarwono tidak harus nunggu 5 tahun lagi, coba maju jadi gubernur. Dari jaman dulu sampai sekarang yg namanya gubernur Jabar gak ada yang beres. Jabar makin lama makin awut awutan aja. Kan kang Sarwono orang Jabar, lebih pas lagi.
  18. From anton on 25 July 2007 17:21:27 WIB
    Matilah demokrasi yang tersistematis....
    Calon independen perusak keseimbangan.Sistem Politik dalam bahaya....apa-apa'an itu MK buat keputusan calon independen?

    Apa mau yang jadi Hazairin-Hazairin baru seperti tahun 1955?


    ANTON

    Hidup Rano Karno
  19. From redi on 25 July 2007 19:03:22 WIB
    Ini parpol2 ngelunjak dan gak tau diri hehehe.. harusnya ya tuntutan optimal masyarakat tuh pengadilan bagi korupsi di Parpol2 mulai dari dana kampanye sampai dana DKP, termasuk juga pengadilan yg terlibat kejahatan politik . Skg masy seakan2 sudah memaafkan kesalah2an tsb krn masy kita emang pemaaf sihhh. Dan tuntutan calon independen merupakan tuntutan yg SANGAT MODERAT dari masy. krn calon2 independen itu akan bersaing dlm pemilu/pilkada dgn parpol2 yg GAK PERNAH DIADILI atas korupsi dan kejahatan politiknya. Eh... ini udah diminta yg paling moderat juga masih ngelunjak dgn menghambat calon independen...
    apa minta pengadilan korupsi dan kejahatan politik aja nih hehehhe (ane mah emang lebih setuju yg ini...)

    Kalau gak mo ada calon independen, jgn berpolitik kotor donk heheh.. emang ironis nih politik di Indonesia. Harusnya parpol tuh jadi wadah bagi masy. utk belajar politik, eh ini kebalik malah masy. biasa yg ngajarin parpol dan elit2 utk berpolitik yg bersih... emang dunia udah kebalik....udah gitu ngelunjak pula.... buseeett......
  20. From Intox on 26 July 2007 08:58:21 WIB
    Too good, too late. Timingnya "bagus" banget membolehkan calon independen masuk pada saat sekarang. Sekedar memperingatkan, bahwa peraturan adalah peraturan; they can be applied, they can also be revoked.

    Dengan banyaknya golput, itu (mudah-mudahan) bisa menunjukan extremely low voter turn out, supaya orang-orang yg "di atas" sadar bahwa kita tidak puas dan MENOLAK. Sebenarnya ini semua dimulai dari kita sendiri: dimana standard dan threshold kita. Kalo kita menerima terus the lesser of the evils, kapan kita mau maju? There ARE good people, they just don't have enough support. Mereka biasanya lebih radikal, dan kita mungkin bisa terperangah dengan solusi2nya. Tapi itu lah perubahan. Itu lah progres.
  21. From elsa on 26 July 2007 11:04:47 WIB
    Gak Kebayang deh..serunya pilpres, pilkada dimasa yang akan datang,dengan adanya partisipan dari parpol juga calon independen. Semoga Demokrasi bisa berjalan dengan lebih baik.
    Para calon independen jangan seneng dulu. Pe-er mereka jauh lebih berat dibanding calon-calon dari parpol. Personal branding para calon independen juga harus bagus dan meyakinkan. Bukan hanya mengandalkan deretan gelar akademis, tapi bisa memahami masalah Bangsa dan penyelesaiannya. Selamat berjuang.
  22. From henny on 26 July 2007 12:09:51 WIB
    akhirnya kita2 bisa pilih calon2 gubernur bukan dari partai
    so ga perlu repot2 lagi ngebayar partai2 yg mata duitan dech..

    HIDUP CALON INDEPENDEN...
    HIDUP KELUARGA CENDANA...
    HIDUP KEKUASAAN...
  23. From handika aditya on 26 July 2007 13:23:47 WIB
    apapun hasilnya, parpol2 pasti tak akan tinggal diam, kalau calon independen menang, parpol pasti siap menjegal di legislatif. ujung2nya pemerintahan jadi mandul. rakyat siap2 aza gali kubur...
  24. From bocah gemblung on 27 July 2007 15:28:32 WIB
    SELAMAT DATANG ERA BARU KEDAULATAN RAKYAT INDONESIA!

    Ini adalah hadiah kemerdekaan kita ke-62.
    Di tengah berbagai kontroversi yang mengiringi keputusan MK ini, ada harapan besar rakyat akan tersalurkannya aspirasi mereka. Aspirasi rakyat selama ini selalu dipinggirkan, dan selalu terkalahkan oleh kepentingan bisnis ala kapitalis amatiran-urakan-bodoh (kalau pakai bahasa Thukul : katrok, tapi katrok yang menyengsarakan dan mencelakakan) yang diterapkan oleh pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif. Terutama dalam hal ini adalah partai, yang seharusnya menjadi salah satu sendi demokrasi, namun ternyata menjadi pengeropos demokrasi. Pengeroposan ini beranak pinak menjadi pengeroposan berbagai sendi kehidupan bangsa, baik ekonomi, sosial dan budaya, yang terejawantah dalam krisis multidimensi yang abadi ini. Namun krisis tidak membuat semua pihak berintropeksi diri– terutama pemerintah dan parpol, namun mereka menjadi pemain-pemain baru yang lebih ulung dalam keegoisan, kemunafikan dan kelicikannya. Lebih lihai daripada pelatih-pelatih mereka dari rezim masa lalu (eyang (A)SUharto/orba/golkar) yang mereka hujat habis-habisan. Maka dampaknya pun menjadi berlipat ganda buruknya, karena pemainnya semakin banyak pula, disebabkan iklim yang sesuai, program pelatihan dan lambaian godaan yang intensif. Parpol menjadi salah satu ‘kekuatan pembunuh’ kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa.
    Lihatlah hasil karya ‘perjuangan nafsu’ mereka : korupsi, kemiskinan, kurang gizi, kesenjangan sosial yang tajam, anak jalanan, pengangguran seiring penjualan manusia budak ke luar negeri dalam kedok TKI/W, anak putus sekolah karena biaya sekolah kelewat mahal akibat pendidikan yang ‘dipercalokan’, real estate dan mall yang menjamur seiring pemukiman kumuh yang juga menjamur, bencana alam dan kerusakan lingkungan, korban lumpur yang terus diabaikan, kesenjangan antardaerah karena masih jawa-bali sentris, dlsb.
    Namun besar harapan supaya semangat kehadiran calon independen ini jangan sampai ternodai oleh para pemain lama yang bertopeng lugu (serigala berbulu domba) yang ingin mengembalikan romantisme “kemakmuran semu” rezim yang lalu. Kemudian para pemain baru tapi lama – yaitu pemain yang menjadi boneka para dalang intelektual di belakangnya yang punya jalan pikiran kuno dan ‘antik’ (dalam arti ketinggalan jaman dan sudah berkarat). Juga para pemain yang awalnya sangat berpihak pada rakyat, namun kemudian berubah pikiran dan berkhianat karena tergoda kekuasaan dan uang, bahkan bermesraan dengan asyiknya dengan para jongos rezim lalu yang dulu sangat dibencinya Dan para pemain baru yang asing – yaitu para pemain yang mengusung semangat mengagungkan nilai-nilai asing yang penuh kepalsuan, yang radikal, paranoid dan merasa diri paling benar - walaupun berkedok agama atau ideologi tertentu, yang berpotensi memecah bangsa dari dalam, dan selalu memakai strategi ‘maling teriak maling’.
    Kekuatan potensi buruk pemain-pemain yang tidak bisa dan tidak mau bertanggung jawab itu bisa merusak cita-cita luhur rakyat, bangsa dan pendirian negara ini. Waspadalah, waspadalah!
    Menurut nilai-nilai manajemen universal yang berlaku di setiap sudut bumi dan sampai ke ujung alam semesta ini, sistem demokrasi kita yang juga terejawantah ke dalam sistem birokrasi kita sudah tidak memenuhi standar efisiensi dan efektifitas, dan tidak memenuhi syarat akuntabilitas : Boros, mahal, bertele-tele, kaku, tertutup terhadap pandangan baru, feodal-minded, oportunis-minded, percaloan-minded, pragmatis-instan-sempit, manipulatif dan korup.
    Lihatlah Presiden Iran Ahmadinejad, yang seorang akademisi, bukan orang kaya, namun dengan sistem demokrasi dan birokrasi yang bersih dapat menjadi presiden. Kemudian lihatlah para pemimpin di beberapa negara Amerika Latin (Colombia, Venezuela, Chili), mulai dari Presiden sampai walikota, juga bukan berasal dari kalangan berduit. Tapi yang pasti mereka adalah manusia berkarakter, berani terbuka, berani jujur dan berani adil, serta selalu mau belajar. Dengan proses demokrasi yang bersih, murah, adil, terbuka bagi siapapun, namun efektif dan efisien, akan membawa pemimpin yang dihasilkannya benar-benar memutuskan kebijakan dan melaksanakannya di dalam bingkai peraturan yang berlaku dengan tingkat keadilan, kejujuran dan akuntabilitas yang tidak diragukan, dan menghasilkan kemajuan negara yang sangat mengagumkan dan patut diteladani oleh kita.
    Bagi yang sehat lahir-batin, yang jujur, tulus budi dan amanah mengemban aspirasi rakyat, yang berani, adil, dan tidak munafik, bersiap-siaplah maju menjadi para pemimpin baru dengan semangat melayani di era baru ini. Terutama kalangan muda (usia maksimal 40 tahun) yang tidak sempat tercemari dan mencemarkan diri dengan berbagai cara pikir karatan, pola perilaku katrok, mata duitan dan nafsu busuk para senior yang tak patut diteladani itu! Karena rakyat dan negara, serta harapan cita-cita luhur bangsa yang belum terwujud memanggil kalian. Niscaya rakyat pun dengan tulus memilih Anda, dan dengan tulus pula mendukung perjuangan Anda selama menjabat secara sah (legitimate) dan langsung. Karena terbukti berulang-ulang, partai telah mengambil jarak yang makin jauh dengan rakyat, yang selalu mengatasnamakan rakyat sebagai dalih sekaligus alas kaki yang selalu dinjak-injak oleh ‘perjuangan nafsu’ mereka yang penuh penyimpangan itu.

    Semoga keputusan ini dan proses yang berjalan nantinya menjadi jalan untuk semakin mendekatkan pada bentuk kedaulatan rakyat yang memerdekakan, memajukan dan menyejahterakan. Dan keputusan ini menjadi jalan untuk mencegah dan menghentikan pembusukan bangsa dari dalam. Tentu kita tidak mau seperti kerajaan Romawi, Persia dan Yugoslavia yang hancur karena busuk dari dalam, bukan? Sadarlah rakyat Indonesia, dengan terus belajar, usaha dan bekerja! Tetap menjadi diri sendiri, percaya diri mengusung jatidiri yang berkelanjutan dengan tetap berpijak tanah dan air kita sendiri untuk menghadapi segala tantangan.
    Merdeka !!
    Terima kasih Pak WW.
  25. From bsimarmata. on 27 July 2007 15:35:22 WIB
    Jadi calon independen,pasti akan memerlukan lebih banyak uang lagi.Saya duga,pada saat awal saja,pasti butuh pendukung minimal sama dengan syarat anggota DPD,misalkan 150 ribu untuk DKI.Zaman sekarang,siapa pula yang mau gratis mendukung seseorang yg tidak ada hubungan apa-apa,setiap dukungan ada bayarannya.Pada saat kampanye sang calonpun akan banyak mengeluarkan dana,karena sang calon independen tidak punya infrastructure,maka akan banyaklah tim ini,tim itu,dan sebagainya.Andaikan terpilih,sehari-hari dia akan kerja sama dengan anggota DPRD,yang juga orang parpol,harus bayar lagi,kalau tidak akan diganjal programnya.Lalu gimana dong,kalau begini,calon parpol dan calon independen akan sama saja? Tergantung orangnya.Orang parpol atau orang non parpol,bisa juga mengabdi kepada rakyat.Sama dengan orang akademis,banyak yang korupsi,tapi ada juga yang bersih.PNS pun demikian juga.
  26. From anggana on 28 July 2007 15:35:17 WIB
    mensesneg bilang pemerintah kyanya msh rada enggan ngeluarin perpu..

    jadi,,,, smua udah tau jawabannya,,, 2 calon tetep....
  27. From frans on 29 July 2007 20:02:04 WIB
    ...mo ngmg apa ya???
    oya, akan menarik ngmg soal memulai menyiapkan stok pemimpin2 baru... soal sekian tahun stok pemimpin kita disuplai sebagiannya dr dapur2 organ pemuda baik basis kampus maupun agama-ideologi..
    gimana oom??

    kalo jakarta tinggal sejarah lah anggap siapa pun yg terpilih adalah bagian dr peninggalan purbakala hehe..museum kale...
  28. From Anton on 30 July 2007 12:58:03 WIB
    Prediksi saya Pertarungan final Pemilu Presiden 2009 adalah dari dua kandidat calon dari Independen
    Wimar vs Tommy Winata....

    ANTON

  29. From Satya on 30 July 2007 13:08:29 WIB
    prediksi 2009? rano karno dibayar koalisi partai2 orde baru untuk iklankan sutiyoso
  30. From gambler on 31 July 2007 12:09:15 WIB
    jgn lupa, ada juga Jusuf Kalla utk 2009
  31. From frans on 31 July 2007 18:36:05 WIB
    apakah KPK sdh pernah memeriksa data kekyaan kedua psg calon u dki-1?? ada yg tau??
  32. From idner on 11 August 2007 19:33:15 WIB
    menurut akal pikiran gw dangkal ini, yang namanya calon independen gak perlulah pake harus ada syarat dukungan berapa persen jumlah penduduk segala. kok kayanya seperti dipersulit gitu sih?
    walaupun calon independen sudah diperbolehkan, tapi ada syarat sulit kaya gitu, yah sama aja boong donk!
    tau cara jadi anggota KPK? nah, lebih baik calon independen caranya seperti itu. ada tes-tes yang harus dijalani, baru kemudian dinyatakan sah sebagai 'calon'...

    yang namanya 'calon independen' kan harus bener2 independen,merdeka. dia maju sendiri sebagai calon tanpa dorongan dari siapapun. dan dia juga tidak boleh seseorang yang dikuasai, baik itu dikuasai oleh orang lain ataupun dikuasai oleh dirinya sendiri (nafsu berkuasa)
  33. From intw on 05 March 2009 16:49:06 WIB
    kalo menurut kita,mau yng independen ataupun yang engga.
    yang penting kualitas kemampuannya melebihi tahun2 sebelumnya.soalnya kita sebagai anak bangsa ingin negaranya lebih maju .
    pokoknya semangat buat capres yang akan datang .
    kita tunggu perubahannya,jangan cuma janji yaa...
    buktinya ditunggu lho..
  34. From partai rakyat apoh apah on 02 August 2011 03:10:14 WIB
    buat bang wandi yang sangat berkeinginan untuk menpertahankan kekuasaannya dalam masa menjabat sebagai gebernur aceh. saya rasa sudah sepatutnya abang melepaskan kekuasaan,gak usah harus ngebet ikutin hawa nafsu,kan masih banyak teman2 abang yang semasa berjuang bersama ingin merasakan gimana rasanya jadi orang number wahid diaceh.

« Home