Articles

Fauzi Bowo Kampanye Pakai Uang Pemda?

Perspektif Online
03 May 2007

Etika Fauzi Bowo Dipertanyakan Publik
laporan oleh: Hayat Mansur

Untuk kesekian kalinya Fauzi Bowo batal tampil di Gubernur Kita. Yang tampil malah dirinya dalam bentuk iklan Pemerintah DKI menyambut HUT Kota Jakarta yang beberapa kali diputar saat jeda acara Gubernur Kita. Karena itu publik mempertanyakan etika Fauzi Bowo yang sebelumnya juga sudah gencar memasang foto dirinya di sejumlah penjuru Jakarta. Saking gemasnya, mahasiswa menyarankan agar Fauzi Bowo digantikan Wimar Witoelar sebagai calon gubernur.

 

 Iklan Fauzi Bowo Iklan Fauzi Bowo


Ceritanya ini iklan HUT DKI, dibiayai oleh Pemprov DKI - uang rakyat

 

Setelah calon gubernur (Cagub) Adang Daradjatun kemudian Sarwono Kusumaatmadja tampil di acara Gubernur Kita, pada Kamis malam (3/5) semestinya giliran Fauzi Bowo menyampaikan visi dan misinya sebagai calon gubernur (Cagub). Namun seperti sebelumnya, publik kembali harus kecewa karena Fauzi batal hadir. Tak ada alasan jelas mengenai ketidak hadirannya.

Memang Fauzi Bowo mau hadir atau tidak di acara Gubernur Kita adalah haknya. Yang pasti adalah hak kita sebagai pemilih untuk memilih Cagub yang mau menampilkan diri atau hanya tampil di gambar-gambar saja. Terkait dengan sudah banyaknya beredar gambar diri para Cagub di penjuru Jakarta, bagaimana sebenarnya etika berkampanye di Pilkada Jakarta? 

Simak beberapa kutipan perbincangan di acara Gubernur Kita yang kali ini menampilkan M. Hamdan Rasyid (anggota KPUD Jakarta), Didik Supriyanto (ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi), dengan audience mahasiswa-mahasiswi Akademi Maritim Pembangunan Jakarta. Seperti biasa, acara ini dipandu host Effendi Gazali, Co host Iwel dan Fenny Rose, serta Panelis Ryaas Rasyid dan Wimar Witoelar.

 

Hak Pemilih

Effendi: Malam ini kita akan membahas mengenai etika kampanye.

Wimar: Lalu, bagaimana etika kalau diundang tidak datang?

Effendi: Itu juga penting. Tapi saya perlu menyampaikan informasi bahwa sebetulnya kita sudah mulai giliran untuk menyambut atau mempersilahkan mereka yang menjadi kandidat untuk datang ke sini. Pasangan Adang Daradjatun - Dani Anwar, dan Sarwono Kusumaatmadja – Jeffry Geovanie telah hadir. Malam ini sebetulnya kami ingin menyambut sekali Fauzi Bowo yang masih mencari calon wakilnya. Tapi karena sesuatu hal dan lainnya serta statusnya sebagai incumbent sampai kini belum bisa datang.

Wimar: Ini perlu dicatat karena saya suka dituduh memojok-mojokin orang yang tidak datang. Sebetulnya hak Fauzi Bowo sepenuhnya untuk datang atau tidak datang. Tapi adalah hak pemilih untuk memilih Cagub yang mau menampilkan diri atau hanya tampil di gambar-gambar saja.

 

Billboard Fauzi Bowo

Wimar: Untuk penonton yang penting adalah apa yang disebut pelanggaran. Apa yang disebut melanggar aturan Pilkada?

Didik: Pelanggaran dalam Pilkada ada dua yaitu Pidana dan Administrasi. Pelanggaran Pidana adalah pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam UU No.31 tentang Pilkada. Misalnya, dalam Pilkada tidak boleh meyakinkan orang melalui uang. Sedangkan pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan yang menyangkut persyaratan atau yang dibuat oleh KPUD atau pemerintah di luar UU tadi. Misalnya, pasang gambar sembarangan. Tidak boleh pasang gambar di jalan tol

Wimar: Saya mau tanya. Kemarin di jalan tol Slipi ada gambar Hari Pendidikan Nasional dengan foto Fauzi Bowo dan Sutiyoso tapi tidak ada gambar anak sekolahnya. Kalau dari jauh, kita pikir itu kampanye dengan Cagubnya Fauzi Bowo dan barangkali Cawagubnya Sutiyoso. Apakah itu melanggar?

Didik: Ini agak susah karena biasanya calon-calon dari incumbent biasanya mempergunakan posisinya dan fungsinya dengan baik. Saya pikir itu tidak hanya terjadi di Jakarta. Orang sich melihat itu suatu pelanggaran atau aturan main.

Wimar: Itu mungkin termasuk melanggar anggaran dan izin billboard

Didik: Itu bisa jadi

Effendi: Saya mau tanya, apakah anggaran itu ditanggung pasangan kandidat atau Pemda DKI

Didik: Kalau untuk Hari Pendidikan Nasional sudah jelas ditanggung Pemda DKI

 

Komentar Penonton

Berikut ini beberapa pandangan publik  melalui telepon dan dari dalam studio  terhadap ketidak hadiran Fauzi Bowo dan calon yang gambarnya tampil di berbagai billboard.

Abdullah (Jakarta): Mengenai etika kampanye, kalau dikatakan mencuri start memang belum ada garis startnya belum ada sampai sekarang. Yang menarik adalah masalah incumbent. Saya sebagai warga Jakarta berharap dengan adanya Pilkada nanti terpilih kepala daerah yang bisa melakukan perubahan terutama masalah birokrasi. Karena itu sebenarnya lebih fair kalau memang ingin mencalonkan diri dalam Pilkada, calon incumbent lebih baik mundur saja walaupun dalam peraturan pemerintah dibenarkan untuk mengambil cuti. Tapi ini untuk pendidikan politik maka sebaiknya mundur. Ini penting juga agar tidak terjadi politisasi birokrasi.

Robby (Mahasiswa Akademi Maritim Pembangunan Jakarta): Selamat malam. Sebetulnya kami berbondong-bondong datang ke sini dengan sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk Cagub kita tapi karena kondisi ini kita kecewa. Calon yang telah mengecewakan kita lebih baik siap-siap mundur saja. Saya lebih cenderung Pak Wimar saja yang menjadi gubernur.

Mahasiswa Akademi Maritim di Gubernur Kita
Mahasiswa Akademi Maritim Indonesia kecewa Fauzi Bowo tidak datang

Ali (Kebon Jeruk): Biar saja peraturan mau dilanggar atau tidak, tapi yang jelas etika dilanggar.

Johansyah (Cinere): Saya terus terang sangat muak dengan politisasi birokrasi. Ini seolah-olah berlangsung tanpa ada rem dari peraturan yang berlaku. Bahkan di acara ini tadi saya melihat iklannya telah melakukan politisasi birokrasi. Kedoknya HUT DKI tapi dibelakangnya ada gambar Fauzi Bowo dengan menyebut serahkan pada ahlinya. Ini tidak fair. Sebenarnya acara ini bagus tapi apa yang salah Bung Effendi selalu berusaha menghadirkan calon tersebut tapi tidak pernah hadir. Padahal acara ini bagus untuk mempromosikan dia.

 

Kedaulatan Pemilih

Iwel: Saya boleh dong tanya kepada Pak Wimar yang sudah professor dalam Public Relations. Bagaimana tips gratis untuk para calon ini supaya mereka tidak menempel dimana-mana dalam rangka memperkenalkan diri?

Wimar: Tergantung para calon. Barangkali beberapa calon sudah terbiasa menjadi gubernur pada zaman dulu dimana ditunjuk dari atas. Jadi sedikit mungkin bertemu wartawan, sedikit mungkin muncul di televisi. Yang penting bertemu Pak Harto atau siapa. Kalau sekarang barangkali yang penting bertemu pemodal. Kalau zaman sekarang makin banyak bertemu masyarakat makin terpilih. SBY sudah masuk ke pola yang kedua. Dia menghadapi masyarakat. Tapi di DKI ada calon yang belum yakin apakah dia perlu bertemu masyarakat atau hadir di Gubernur Kita, atau dia diam saja dengan pasang poster di sana-sini. Dia juga tidak pernah bicara apa-apa, hanya gambar saja. Dia juga tidak ada program, tidak ada keberpihakan, tidak bisa menerangkan tanggung jawabnya dalam 10 tahun di DKI kemarin. Dia hanya berharap bisa menang hanya dari fotonya saja. Jadi tergantung pemilih. Kalau pemilih bisa kena kibul sama foto maka kita tidak bisa apa-apa karena itu adalah kedaulatan pemilih.

Effendi: Saya mau menanyakan kepada mahasiswa sebagai pemilih muda. Kalau Anda melihat ada calon yang banyak sekali memasang iklan dengan seperti tadi politisasi birokrasi dibandingkan dengan calon yang hanya bisa memasang sedikit iklan karena uangnya sedikit. Apakah Ada yang mau memberikan suara untuk calon yang banyak memasang iklan dengan cara politisasi birokrasi tadi? Silakan angkat tangan

Mahasiswa: hu … hu… (Tidak ada satu pun yang mau mengangkat tangan)

Wimar: Mereka adalah orang-orang yang cerdas. Mudah-mudahan pemilih lain di Jakarta sama cerdasnya dengan mereka.

 

Penutup Wimar:

Saya hanya menganjurkan agar pemilih betul-betul melihat calon mana yang menyalah-gunakan uang kantornya, uang jabatannya dan mana yang tidak. Pilih yang jujur.

 

Anda pilih siapa: yang menampilkan diri dan berani menjawab, atau yang hanya tampil dalam gambar-gambar saja? You will get the Governor you deserve!

 

Baca juga:

Print article only

56 Comments:

  1. From Rivaldi on 04 May 2007 08:38:23 WIB
    Sudah bisa diduga bang Foke tidak akan tampil dalam acara semalam, tepat spt yg dikatakan bung Wimar bahwa ybs memang lebih senang(nyaman) tampil dalam gambar2, beberapa kali iklan hardiknas (peringatan hardiknasnya sih sudah lewat sehari yg lalu, tapi iklannya masih tampil juga :) muncul sebelum acara gubernur kita semalam, itu sudah menandakan bang Foke memang merasa cukup diwakilkan dengan iklan.
    Bung Johansya di Cinere, dengan jeli melihat pada iklan tesebut ada tulisan "serahkan pada ahlinya" dekat gambar bang Foke, saya pikir ini instruksi dari bang Foke bahwa kepemimpinan DKI agar diserahkan ke ahlinya, artinya beliau ikut meyerahkan ke ahlinya, kalau ini saya setuju.
  2. From komar on 04 May 2007 09:42:30 WIB
    Kemarin malan saya nonton acara perspektif. Mau ikut berkomentar tapi tidak tahu/tidak ingat no telpnya. Bagaimana kalau dalam acara berikutnya nomor telp.nya stays all the time di layar kaca?
    Komentar yang saya akan saya sampaikan mengenai etika kampanye adalah:
    Kalau calon pada "curi" start. "pakai" duit negara , pasang gambar yang tidak relevan dengan context bahkan katanya disisipkan dalam bantuan sosial dsb2 . menurut saya itu tidak etis.
    Kalau calon sudah tidak etis, "mencuri/pake uang yang bukan haknya/kampanye terselubung" bagaimana nantinya kalau dia terpilih dan memimpin dki? Orang tidak ber-etika/korupsi terang2an dan tindakan tercelanya dikampanyakan kalo bisa terpilih yah kebangeten bangsa ini, sudah tidak bisa membedakan baik-buruk.
  3. From Baskoro on 04 May 2007 10:25:08 WIB
    Saya menunggu beliau melepaskan jabatan Wagub-nya.
  4. From Nighthours on 04 May 2007 10:36:04 WIB
    Moga moga hanya org buta dan bisu saja yg memilih cagub model spt begituan.
    Gak kebayang kl nantinya malah jadi pemenang kontes,warga jakarta bakal dijadiin sapi perah nich.
  5. From agusjon on 04 May 2007 11:30:36 WIB
    Yang dilakukan bang Fauzi Bowo (berkaitan dengan iklan-iklan tsb) sebenarnya secara aturan tidak bisa disalahkan.
    Hanya saja caranya tidak etis dan bisa dibilang licik.

    Ambil positifnya saja, dengan adanya hal-hal semacam ini, bisa dilihat sebenarnya kualitas dan sifat asli dari si calon gubernur itu sendiri.

    Yang penting, bagaimana kita sebagai pemilih bisa menggunakan hati nurani kita dalam memilih nanti.
  6. From Hari on 04 May 2007 11:39:39 WIB
    Setuju dengan Agusjon. Fauzi belum terpilih jadi gubernur saja sudah berani memakai uang rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri. Bagaimana kalau sudah terpilih?
  7. From anton on 04 May 2007 12:26:14 WIB
    Rano Karno jangan sampai menjadi sekondannya Foke...Haram Hukumnya..

    ANTON

    PS. Gulirkan Wacana Effendi Gazali jadi Gubernur Sumbar!!!!
  8. From riyani on 04 May 2007 12:33:07 WIB
    semoga saja nanti tidak ada yang memimpin suatu daerah khususnya DKI Jakarta dengan hanya menampilkan gambarnya saja, ada suaranya sih, tapi cuma rekaman iklan aja kan..??
  9. From anton on 04 May 2007 12:47:19 WIB
    Foke emang orang Indonesia sejati, apa-apa doyannya gratisan, bahkan mau kampanye sendiri aja...kagak mau pake uang ndiri, sistem BODOL masih aja dianyang-anyangin, Foke...Foke...malu-maluin betawi aje ah...
    Muak liat kampanye akal-akalan kayak gini, gimana entar udah njabat main akal-akalannya lebih sadis..

    ANTON

    1. Tidak akan memilih Pilkada DKI, karena Foke udah pasti menang.
    2. Gulirkan opini untuk Effendi Gazali jadi Gubernur Sumbar
  10. From gambler on 04 May 2007 13:10:38 WIB
    saya mo pindah ke sumbar aje deh..... he he he
  11. From Iman on 04 May 2007 13:52:39 WIB
    Menurut saya bang foke, memang tidak akan datang ke acara Guberbur kita yang di tayangkan di salah satu stasiun TV semalam,tetapi kalau masang iklan di pinggir jalan berani, bagaimana mau di kenal oleh masyarakat DKI, nongol aja tidak pernah, menurut saya masyarakat harus benar-benar pinter memilih calon Cagub dan Cawagub untuk DKI, agar tidak ada penyesalan nantinya,untuk bang foke, selamat memasang iklan yang banyak, tetapi masyarakat lebih pintar siapa yang harus di pilih untuk masa depan DKI ini.

  12. From idoepsyaifuddin on 04 May 2007 14:44:34 WIB
    Fauzi bowo (foke) memang licik, untuk mengalahkan lawan politiknya sampai-sampai Kiai-kiai NU di wilayah kec. kalideres jakarta barat dikerahkan untuk melakukan Black Campaint terhadap calon lain.

    Salah satunya adalah " HARAM HUKUMNYA MEMILIH CALON GUBERNUR DARI PKS ", " POLISI TIDURNYA SAJA BIKIN ORANG SUSAH APALAGI HIDUPNYA " .

    Apa jadinya jakarta kalau di pimpin orang seperti ini !

  13. From brandon on 04 May 2007 15:04:07 WIB
    Serahkan Jakarta Pada Ahlinya. Ahli apa yach? Ahli Banjir? Ahli Curang? Ahli ngibul? Ahli Fitnah? Ahli Suap? Ahli Judi? Ahli Korupsi? Ahli apa donk?
  14. From ranto on 04 May 2007 15:07:00 WIB
    foke nggak datang karena masih ada pak wimar, takut dia ditanyain ntar bingung jawabnya
  15. From sandi on 04 May 2007 16:10:24 WIB
    ditanya wartawan egois, marah dsb. diajak dialog sama masyarakat ngga dateng. datengnya ke acara maulid ke maulid dg muka manisnya yg ngga ada tanya jawabnya. udah gitu ngga jantan banget menggunakan posisi wagubnya utk pilkada dg bukti iklan terus, mau narkoba, pendidikan, ultah jakarta. jadi mikir lagi...gimana ya?
  16. From hasan on 04 May 2007 17:21:15 WIB
    apa yang bisa diharapkan dari foke,
    banjir bebas banjir --- sudah terbukti gagal
    jakarta bebas macet --------- buktinya 0
    busway cuma ladang korupsi,
    Rumah sakit gratis ---------- gak janji

    mohon maaf pak fauzi bowo saya sangat tidak yakin
    kalo anda mampu membawa jakarta yang bersih,
    bebas banjir, jalan lancar, dan bebas korupsu
  17. From Munzir on 04 May 2007 18:50:32 WIB
    Kenapa sih kok pada sentimen ama Foke. Saya suka acara Gubernur Kita, tapi hak Foke untuk memilih mana talk show yg dia hadiri dan mana yg tidak.
  18. From Intox on 04 May 2007 19:14:27 WIB
    Hahahaha... jadi inget 2004 American Presidential Election; Semua orang sedunia bete sama Bush, tapi dia masiiiih aja menang walaupun dia udah jelas salah.

    Kalo menurut komedian Bill Maher, orang-orang seperti mereka itu menang karena mereka pintar menjual produk mereka. Sekarang ini era marketing, era product glossiness, poles teruuuuuus yg penting keliatannya enak dan bisa diterima masyarakat.

    Apakah kita cukup dewasa untuk bisa melihat lebih dari sekedar kulit luar?

    Kalo memang kita harus memilih "the lesser of the three evils", sebaiknya kita putuskan satu suara dan tekankan suara kesitu. Atau akan terjadi lagi tragedi "Nader 2000" (itu benar salahnya, terbuka untuk didebat).

    Gw bingung ngapain orang yg waras berebut pengen jadi Gubernur Jakarta... masalahnya gilaaaaaa, mau beresinnya mulai dari mana? Hahahaha...
  19. From Firry Wahid on 04 May 2007 20:40:06 WIB
    Positive thinking lah kita semua... Jangan langsung menghakimi Bang Foke begitu...

    Sapa tau beliau lagi sibuk pemotretan buat iklan selanjutnya... Maklumlah... Namanya juga foto model (khusus iklan layanan masyarakat yang memakai duit rakyat)

    WW for DKI 1 !!!!
  20. From Enda on 05 May 2007 08:39:48 WIB
    Kalo calon yang tidak rela melepaskan jabatannya dan ternyata memanfaatkan fasilitas dan layanan yang ada sich emang begitu ceritanya. Soalnya, keengganan untuk melepaskan jabatan memang untuk mendapatkan keuntungan seperti. Tapi ada perkembangan yang menarik loh dari Foke, mungkin sekarang dia udah bertobat. Beberapa kali menggagas acara Maulid Nabi SAW, dan dia sendiri yang jadi penceramahnya, hebat gak tuh.. Tapi tetep, menggerakkan kader-kader ibu kelurahan untuk menggerakkan massa ibu-ibu di daerahnya, bilangnya sich acara maulid, yaa pada ikut.. mereka gak tahu kalo yang ceramah itu Foke, apalagi sebelum ceramah si Protokoler menceritakan bahwa Foke itu orangnya begini..begitu...yang baik-baiklah supaya dipilih...bahkan terucap pilih Foke..Itu yang terjadi seperti di Masjid AT-TIIN Taman Mini dan di Cempaka Putih..
  21. From Vryza on 05 May 2007 18:17:30 WIB
    Kesadaran masyarakat untuk cerdas menggunakan hak pilih dikebiri oleh koalisi partai yang menyodorkan calon incumbent.Yang bodoh masyarakat pemilih atau fraksi di DPRD dan partai? Acara gubernur kita memberi peluang dan memperjelas hak, kewajiban,fungsi dan program cagub/cawagub, namun perangkat legislatif dan partai lebih senang membodohi rakyat. Takut untuk melakukan tranparansi fungsi jabatan dan terbuka kedoknya hanya untuk mendapatkan kekuasaan dan menjarah anggaran serta KKN dengan pengusaha hitam. Saatnya pejabat bermental demikian disingkirkan dari arena. Wass..
  22. From Handika Aditya on 05 May 2007 18:48:24 WIB
    Berbicara soal etika, khususnya etika para cagub yang akan maju ke pilkada DKI, rasanya sangat menggelitik, jadi biarkan saja etika menjadi sebatas kata, sebab tidak ada gunanya memperdebatkan etika para cagub kita kalau ternyata mereka pun tidak terlalu pusing soal etika.
  23. From pengamat kota jakarta on 06 May 2007 00:05:15 WIB
    wah ini sih bukan sifat orang jakarta. moto orang jakarta (betawi) kan "Lu jual Gw beli!", ini mah kagak gentle dah.
    harusnya sih klo mau maju jadi Gubernur sedangkan dia masih duduk di kursi empuk pemerintahan DKI, dia harus mundur dulu. berani kagak dia?
    kayaknya neh, roman-romannya kan orang jakarta banyak bgt yang masih miskin, ati-ati aja ama serangan duit gobanan-cepek ribuan. kayanya sengaja dimiskinkan dulu deh...biar nanti bagi-bagi duitnya gampang aja gitu...(yah, saya sih suudzon ajaaaa...^_^ )
  24. From care indonesia on 06 May 2007 23:49:38 WIB
    foke justru sedang gencar mempertontonkan kapabilitas moralnya, kuburan buat diri sendiri. trik-trik lama masih coba-coba di ulang, ini Jakarta Bung!
  25. From Hafit on 07 May 2007 11:59:56 WIB
    Salut sama Bang Wimar yang tegas dan lugas dalam menyampaikan kebenaran. Bahasa2 tegas seperti yang dilakukan bang Wimar di "Gubernur kita" sangat perlu, biar publik tidak tertipu dengan cara2 dan bahasa2 yang tersamar. MAJU TERUS WIMAR..!!!
  26. From Dedi Nurfalaq on 07 May 2007 12:25:12 WIB
    Atribut dari kecerdasan dan "leadership" seseorang adalah siap memaparkan apa yang diyakini dan mampu menjelaskan apa yang akan diperbuat secara bertanggungjawab. Sehingga, keberanian untuk berbeda pendapat dan menjawab pertanyaan orang lain dengan cergas adalah buah dari kecerdasan itu sendiri.

    Ketidakhadiran Bang Foke dalam acara "Gubernur Kita", rasanya menjadi bukti paling faktual, kredibilitas dia sebagai birokrat DKI. Secata tidak langsung, dia tunjukkan bahwa dia tidak siap untuk menjadi gubernur kota modern yang terbuka dan dihuni oleh warganya yang cerdas!!. Debat Publik adalah cara mencerdaskan warga, Bang. Gimana Ente....

    Kalau untuk ukuran title, tak bisa kita bantah, bahwa kemampuan intelektual beliau teruji karena berhasil menggondol gelar akademis dari Jerman. Tapi, kenapa prestasi tersebut, justru tidak teruji dengan keberaniannya untuk tampil di acara yang jelas - jelas didedikasikan untuk mensosialiasaikan visi dan misi gubernur DKI? di Jak TV pula? Kelaut ajeeee

  27. From EL on 07 May 2007 14:06:19 WIB
    RR yang sekarang menjadi orangnya Foke kelihatan sekali membela Foke jumat kemarin. Setiap kata2 WW yg berusaha netral langsung dijawab dengan nada keras oleh RR. EG jadi penengah. ini bukti kelicikan Foke, memilih untuk tidak akan pernah hadir di acara GK tapi langsung mengangkat RR sebagai corongnya.
  28. From betawi palmerah on 07 May 2007 16:58:43 WIB
    bang foke...bang foke... ente sebenernya OK, pendidikan OK, pengalaman OK, tampang apalagi lebih OK (dulu masih mudanya mantan model yach..)
  29. From vryza on 07 May 2007 17:01:18 WIB
    Masih ada waktu nggak kalau ngajuin calon tidak melalui mekanisme partai, jadi hak rakyat tidak terlanjur dikebiri. Saya lebih suka kalau yang maju calon independen. Misalnya Faisal Basri tetap maju didukung non partai atau bang Wimar deh. Kalau Sutijoso diganti Foke, itu namanya oleh orang awak sama saja dengan "baruak diganti cigak" alias podo wae Mas.
  30. From Lyan on 07 May 2007 17:18:20 WIB
    Seorang Cagub harus BERANI tampil donk di publik, jangan hanya berani tampil 'IKLAN / GAMBARNYA' saja, cape deh.....
  31. From betawi palmerah on 08 May 2007 11:10:35 WIB
    Problem jakarte sebenernye bukan kekurangan orang pinter, bukan dikitnya orang nyang jago ttg tata kota. Tapi sebenarnye masalah jakarte ntu masalah non-teknis !!! tul gak...percuma jago tata kota tapi cuma banjir ampe tenggelem. percuma jago tata kota tapi macetnye kagak ketulungan. Pasti kate ane ade nyang salah dari sisi non-teknis (terutama dari sisi moral dan lingkungan birokrat yang kagak bener !!!) kate ane mah gampang aaaaajeeee (ngikutin gusdur ^_^). JANGAN PILIH YANG UDAH JELAS GAGAL !!!
  32. From boggo on 08 May 2007 15:43:47 WIB
    Calon Incumben sangat bermasalah dan berpotensi CURANG untuk menghalalkan segala cara untuk memenangkan PILKADA DKI.
    Calon Incumben(Fauzi Bowo) akan menggunakan potensi BIROKRASI dari pusat pemerintahan DKI sampai dengan Kelurahan untuk memenangkan PILKADA = WASIT JADI PEMAIN
  33. From putra on 09 May 2007 08:01:47 WIB
    NIH. ELO DENGERIN PANTUN GUE

    BALON GUNDUL PECAH DI KERIKIL
    CALON GUBERNUR MASA NGGAK PUNYA WAKIL

    JALAN JALAN KE PILIFINA
    BAWA BAJU PAKE CELANA
    JANGAN PILIH ABANG POKE
    BISANYA CUMA MENGHINA

    CELANA KOTOR HARUS DI CUCI
    BIAR PAKE CELANA BERSIH
    PARA KORUPTOR JANGAN DI PILIH
    BIAR POKE TAU DIRI
  34. From bonggo on 09 May 2007 14:34:31 WIB
    Pantun Buat CAGUB yang Takut tampil di Acara Gubernur kita di Jak TV


    Menonton acara di Jak TV
    Acaranya Gubernur kita
    Cagub yang tidak tampil di Jak TV
    Jelas-jelas akan menggelabui kita
  35. From Doni on 10 May 2007 00:19:54 WIB
    udah lah foke itu banci tampil yang suka mejeng sana sini kaga karuan. gunain uang rakyat untuk kepentingan pribadi. coba fikir, seharusnya uang itu ( uang yang buat ngiklanin foke) bisa dialihkan ke program kesehatan atau pendidikan warga jakarta yang tentu lebih membutuhkan. saya yakin orang yang menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi pasti tidak amanah. saya juga sarankan kepada pembaca perspektif agar jangan menerima sama sekali tawaran ( mislanya uang 50 ribu ) untuk memilih cagub tertentu. sebab logikanya jika cagub memberi anda uang 50 ribu unyk memilih dia ( cagub ) nanti dia (cagub) akan menagih anda 10 kali lipat ( 500.0000 ) dan dengan cara-cara yang anda tidak ketahui ( dia korupsi dana APBD misalnya). padahal APBD itu kan uang anda semuanya. Betul tidak ? saya berfikir maka saya tidak memilih cagub yang cuma banci tampil!!!
  36. From Jajang on 10 May 2007 11:13:45 WIB
    Lha emang baru pada tahu kalo Bang Foke kagak punya nyali...kite orang sih udeh pade tahu dari dulu...apalagi nyang dulu tinggal di menteng en temen maennye foke...ente bayangin aje nih...die ngomong soal banjir harus begini ame begitu padahal die khan kagak pernah ngerasain banjir, nah rumahnye aje di Menteng mane die tahu Banjir. satu lagi nih...bang Foke ame Bang wimar khan dulu satu sekolaan tuh di canisius tentu tahu bener tuh gimane ulahnye bang foke dulu...kagak ade bedanye bang ame nyang sekarang ! kalo aye sih ogah dah disuruh milih bang foke...abis orangnye nggak keruan gitu sama temen,,,kalo orang betawi kagak kayak gitu deh.
  37. From laki2 on 10 May 2007 14:46:26 WIB
    untuk mas fauzi bowo,mendingan panjenengan jadi gubernur jatim aja dech, khan sampeyan orang jawa timuran.kalo bapak sampeyan itu orang malang,ngkong sampeyan boleh aja betawi tp khan panjenengan orang jawa nama sampeyan aja fauzi bowo kagak ade betawinya
  38. From Ruri Setiawan on 11 May 2007 11:01:06 WIB
    Saya setuju dengan WW, bahwa pilkada itu sesungguhnya merupakan pengadilan, dan bukan sekedar pemilihan. Oleh karena itu, memang selayaknyalah bahwa kita menggunakan kekuasaan dengan sebaik-baiknya, terutama pada hak satu suara yang kita miliki. Kita berhak menghukum para incumbent atau pejabat yang telah gagal mengemban tugas (banjir, demam berdarah, semrawutnya tata kota), pejabat yang menggunakan dana apbd yang diperuntukkan untuk mengkampanyekan jakarta tetapi malah mengkampanyekan dirinya sendiri, pejabat yang tidak malu untuk tidak mundur jika ingin mengikuti pilkada (memungkinkan terjadinya konflik kepentingan dan penggunaan fasilitas rakyat).
    So, kitalah hakim yang sesungguhnya dalam pilkada jakarta ini.
    Hidup kebenaran yang universal dan pantau terus gubernur kita melalui "gubernur kita".
  39. From kasmit on 11 May 2007 11:29:03 WIB
    Fauzi Bowo Cocoknya jadi AHLI TATA BOGA aja karena telah terbukti GAGAL membawa JAKARTA bersama SUTIYOSO ke arah yang lebih baik contoh :
    - Lahan hijau/daerah resapan 456 ha hilang karena sudah peruntukan untuk gedung, MALL & Square sehingga POTENSI BANJIR di DKI setiap saat jadi BESAR
    - Manajemen Transportasi AMBURADUL= karena cuma busway yang digalakkan sedangkan moda yang lain juga tidak dapat seperti SUBWAY= karena TIANG pancang BANGUNAN juga sudah banyak dimana-mana sehingga menyulitkan pembuatan SUBWAY (kereta bawah tanah).
    Busway cuma untuk ngejar setoran untuk membiayai Pilkada DKI, karena tidak ditata dengan baik, yaitu pengumpan busway juga tidak jalan, tempat parkir mobil/motor pengguna busway juga tidak ada, pengadaanya bus juga tersendat, jalan raya bogor hanya tinggal satu jalur karena satu udah dipake untuk busway.
    - masalah sampah yang meninggalkan bau busuk bagi warga sehingga menimbulkan wabah penyakit
    - Masalah pemakain dana untuk Bilboard/baligo dari PERHIMPUNAN PEDULI JAKARTA = tidak jelas organisasi apa ini, apa uang sumbangan PENGUSAHA= KOLUSI.
    Kalau dana BNP DKI, itu ada unsur penyalahgunaan wewenang dengan mengobral baligo untuk kepentingan sendiri=curang
    - Penyakit WABAH DEMAM BERDARAH dan FLU BURUNG = AZAB karena tidak amanah menjalankan PEMERINTAHAN yaitu KOLUSI dengan PENGEMBANG MALL/SQUARE.
    - Mengadakan pengkotakan WARGA atas ETNIS tertentu seperti ketua BAMUS DKI yang underbow FAUZI BOWO = berpotensi konflik akar rumput = FORKABI.
    - Perencanaan TATA KOTA yang tidak JELAS MASTERPLANNYA karena sudah tergiur dengan KOLUSI dengan PENGUSAHA= gampangnya pemberian lahan resepan/hijau untuk pengembang tertentu.
    - Kota JAKARTA jadi kota BANJIR, karena BURUKNYA sistem DRAINESE, SELOKAN, GOT karena sudah diisi oleh bangunan BETON yang menggantikan derah hijau dan berdampak penampungan untuk curah hujan di DKI.
  40. From yori on 14 May 2007 16:59:55 WIB
    Pertanyaan saya singkat untuk Bung Fauzi.... Apa yang sudah anda berikan untuk Kota Jakarta sebagai orang no 2 di DKI...
    dan Apa yang anda akan berikan untuk Kota Jakarta seandainya menjadi No 1 DKI... singkat aja Bung Jawabnya en bukan janji sorga...tks
  41. From ira on 15 May 2007 16:40:03 WIB
    saya benar-benar terganggu dengan aktivitas kampanye FB yang menggunakan aparat birokrasi dan anggaran Pemda. Benar kata bang wimar, jangan-jangan cawagubnya FB itu ya...sutiyoso.
  42. From yudi on 16 May 2007 13:46:07 WIB
    Saya pesimis Jakarta akan lebih baik lagi nanti ...:D:D

    selama orang2 seperti ini berebutan kekuasaan .....
  43. From Yobood on 18 May 2007 15:50:50 WIB
    Bung WW, bener juga, sih kata anda di acara Gubernur Kita waktu itu. Tapi, mo bagaimana lagi, Foke kan statusnya masih orang no 2 di jakarta( sebentar lagi...?). Ya gitu deh. mumpung jadi ketua panitia HUT DKI, kenapa nggak sekalian aja kampanye. mungkin itu dipikiran dia. tapi saya juga punya pertanyaan nih buat bung WW: Apa iya warga jakarta mau memilih pemimpin yang cuma bisa "bicara" melalui media tanpa ada interaksi dengan rakyat-rakyatnya?
  44. From Tien on 19 May 2007 10:23:49 WIB
    Kedengkian itu merupakan penyakit yang tidak bakal mendatangkan pahala dan juga bukan cobaan yang akan mendatangkan balasan baik dari Tuhan. Pendengki akan selalu panas ketika melihat oranglain mendapatkan kenikmatan dan kelebihan. Jangan kita menjadi pendengki karena ketidakhadiran FOKE di gubernur kita.

    Rumah yang senantiasa tenteram meskipun hanya ada sepotong roti didalamnya adalah lebih baik dari sebuah rumah yang penuh dengan makanan lezat tetapi tidak pernah lekang dari kegaduhan dan sumpah serapah.

    Untuk pa FOKE:
    Kritikan pada dasarnya adalah pertanda bahwa kita memiliki harga dan derajat, maka manakala kritikan yang dilontarkan makin pedas, maka semakin tinggi pula harga anda.
    (Jangan Bersedih)
  45. From ari susanto on 19 May 2007 12:23:38 WIB
    Memang susah hidup di dunia yang penuh dengan orang iri dan dengki tapi memang itulah kehidupan ada yang baik ada juga yang jahat jadi kalo ada orang yang ingin merubah dirinnya menjadi baik pasti ada halangan dan rintangan terbukti dengan bang foke yang mendapatkan banyak sekali hujatan tentang dirinnya tapi orang yang memberikan hujatan tersebut belum tentu orang yang mampu memimpin,bisa saja orang-orang tersebut memang orang yang kurang puas (namanya manusia pasti tidak pernah puas) atau orang yang ga ingin kalo negri ini menjadi maju


    Untuk Pa Fauji:
    Pa jangan pernah putus asa maju terus pantang mundur biasa pa namanya juga politik saya yakin bapak pasti mengerti ya pa kalo perlu buktikan ke mereka kalau memeng bapaklah orang yang terbaik di jakarta ini ya pa.

    Untuk oeang-orang yang mengkritik:
    jadilah manusia yang seutuhnya bukan menjadi boneka yang kapan saja bisa dimainkan oleh dalang berpikir positiplah hidup didunia tidak akan abadi ingat akan dosa dan karma masih ada musibah akan datang pada siapapun juga tidak terkecuali orang kaya,miskin,pintar,bodoh,politisi,sipil,atau mungkin oarang yang rajin ibadah sekalipun jadi saya sarankan untuk intropeksi diri kita masing-masing sudah benar atau belum baru kita komentar pada orang lain mungki masih banyak yang akan saya tulis lagi tapi mungkin dilain waktu saja kalau ada kesempatan lagi.
    jangan takut pa atau bersedih sekalipun kalau bisa tertawa saja yang keras biar dunia tau (ingat tuhan itu adil terhadap umatnya)
  46. From maulana on 20 May 2007 11:49:53 WIB
    assalamu'alaikum... pak wimar tolong dong dikritik tuh pemda, BNN, dan panitia HUT DKI yang jelas-jelas mengkampanyekan salah satu calon... berarti pemda dan instansi pemerintahan udah nggak netral dan udah menyalahgunakan uang rakyat jakarta yang masih pada susah... gimana kalau nanti jadi gubernur... wahh... nggak kebayang susahnya kayak gimana???
  47. From Jali on 21 May 2007 20:15:40 WIB
    Foke..foke bejat...amat moral loe...yach!, make duit rakyat seenaknya, inget tuh duit negara hasil pajak rakyat jangan dipake buat kampanye elo..., modal dikit dong....kere...amat sih loe!!!
  48. From bangpitung on 22 May 2007 14:32:20 WIB
    Assalamu'alaikum....

    Turut prihatin atas di cekalnya Om Wimar dari panelis acara GK...

    Keluarga Besar Anak Betawi sangat menyayangkan figur yang seperti Om wimar dirampas kemerdekaan pendapatnya di acara GK.

    Terus berjuang Om... Kita tahu koq, siape nyang bener sama siape nyang keblinger....

    kalo kata amin rais,... Rezim yang mulai pake budaya pembredelan... biasanye umurnya dah kagak bakal lama lagi...

    Terus berjuang OM... Kite ada dibelakng om... selagi Om tetap konsisten membela kebenaran... karena kalo orang pinter mah dijakarta udah banyak... tapi kalo orang bener, antiknya bukan maen...

    Wasalam


    Bangpitung
  49. From putra betawie on 22 May 2007 17:51:09 WIB
    Gileee beneeeeerrrr ! Gue ngebaca tuh judulnye aje, bulu kuduk gue merinding, ape lagi kalo gue ngebayangi tuh duitnye pemerentah kaya ape banyaknye, pantesnya kali yeh bisa triliyunan tuh duit ,bise berkoper-koper.

    Bujug bunennnngggg ! ape jadinye klo orang kaye diye jadi pemimpin di jakarte ini, ape bise die ngurusin rakyat nye, jangan - jangan lupe ame kite-kite orang.





  50. From finia on 23 May 2007 16:29:06 WIB
    sedih ngeliat jakarta keadaannya kayak gini. semoga masa depan jakarta ngga sampe jatoh ke tangan orang yang salah deh...bisa runyam. pilih sesuai hati nurani.

    untuk wilmar, semoga tabah dan tetap berjuang! we support you always!
  51. From Ning Eliana on 29 May 2007 12:24:43 WIB
    Kang Wimar, JakTV, Mr. Goh-Zali... Yth.

    Rasanya sudah cukup jauh apa yang anda gunakan bikin hidup ini makin ngeri aja. Belum lama Amien Rais dan SBY ribut-ribut, dan bikin rakyat jadi bingung menentukan mana yg bener, eh soal Pilkada DKI juga kagak kelar2 debatnya.

    Soal siapa yang bener dan salah, Kang Wimar kayaknya memang segala tahu. Jadi kalo gitu tolong beberkan bukti2 tentang semua yang bener dan semua yang salah, tapi jangan jadikan tivi ini sebagai alat dagelan untuk menghasut dan membodohi rakyat.

    Soal curi start kampanye... yaa itu kan semua udah pada tahu kalo semua calon udah begituan. Soal duit, apa Kang Wimar yakin kalo gak ada calon yang gak pake "duit gituan" ? Sama aje kalo gw liat sih. Nggak Adang-Dani, gak Foke, gak Sarwono-Jeffry, gak juga Agum Gumelar.

    Kalo Foke dianggap gagal membangun Jakarta bersama Sutiyoso, Adang dianggap polisi pada umumnya yang kaya gara2 duitnye (maaf, yang ngebiayain JakTV) dan "penghasilan tambahan" sebagai polisi, soal Agum yang gagal membangkitkan Olah Raga Indonesia dan terlalu asyik jadi komisaris MNC, atau Sarwono yang ikut2an tersangkut DKP... maka kita semua harus berpikiran sama. Kagak ada calon yang perlu dipilih.

    Tapi kagak bener kalo kita semua harus jadi Golput, karena berarti kita gak peduli dengan negara ini. Jadi biarkanlah orang-orang memilih sesuai dengan hati nuraninya sendiri, bukan karena hasutan dan pengaruh berita media yang kagak bisa dipercaya.

    Buat JakTV... mau gak melakukan otokritik... inget anda punya tugas sebagai media yang harus adil dan bijaksana di dalam menayangkan program anda. Jangan cuma karena ngejar rating dan nggak mau kalah sama station laen, anda nekad bikin program yang menghajar orang sana sini. Btw, apa anda juga gak malu kalo belom punya Ijin Siaran ? Gimana nih Mr. Goh-Zali... kan ente tau dan ngaku ngerti soal KPI dan aturan maennye? Sayang dong kalo Kang Wimar mau2 aja berkolaborasi sama tv kagak punya ijin siaran alias melanggar hukum... tapi kan kalo yang "punye" emang orang paling kaye di jakarta sih, ya semuanya bisa2 aja.

    Btw comment ini bakal dimuat kagak ye? JakTV berani ye ngaku kalo belon punye Ijin Siaran?
  52. From suud defriansyah on 19 June 2007 21:44:29 WIB
    fauzi bowo ga pantes jadi gubernur!belum jadi gubernur ja dah pake2 uang PEMDA,gimana jadi gubernur?korupsi melulu. see u next time.^_^
  53. From yudi on 01 July 2007 23:36:36 WIB
    oi foke, loe tu ngarti hukum kaga'? orang2 yg dukung loe tahu hukum kaga'? malu donk? masak nilep duit rakyat buat kampanye? ga takut mati yee?
  54. From kim on 25 July 2007 13:35:21 WIB
    Betul, harus diselidiki.

    Mestinya dugaan korupsi dibuktikan cepat karena kalau Foke sdh jadi gubernur, makin susah diadili.

    Coba cek riwayat hidup Foke, tdk ada keterangan riwayat hidup dimana Foke sekolah pada waktu SD, SMP, SMA kan?
    hanya ditulis lulusan Jerman sj.

    Beliau sekolah SD, SMP, SMA di sekolah Kristen, makanya dihilangkan agar masyarakat tdk tahu!

    Mana ada putra Betawi Islam sekolah di sekolah Kristen???
    Ini bukan masalah fanatik apa tidak, tapi kejujuran yg ditunggu bangsa Indonesia, ok!!!
  55. From Anak Angkat Roberto Baggio on 01 August 2007 21:54:14 WIB
    NO Foke, NO Adang, Ywses Roberto Baggio!!!

    Roberto Baggio sempre numero uno, Roby Baggio Ti Amo... Ooooooo miracolo!!!!
  56. From defrianto on 16 December 2007 21:55:04 WIB
    WAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
    GILEEEE!!!!!!!!!!
    sekarang pemerintah napa pada gile ya?
    ko bisa-bisanya uang PEMDA dipake orang edan?
    EEEEEE TANYA KENAPA????????

« Home