Adang tidak akan menutup tempat hiburan
Perspektif Online
19 April 2007
Laporan oleh: Maro Alnesputra
Yang ditunggu tunggu akhirnya tiba! Pada episode Gubernur Kita kali ini, hadir Cagub dan Cawagub Jakarta dari Partai Keadilan Sejahtera, Adang Daradjatun dan Dani Anwar datang untuk memaparkan visi dan misi mereka kepada warga Jakarta. Bagaimana mereka menghadapi pertanyaan?
ADDA: Adang Daradjatun - Dani Anwar
Banjir, Transportasi, dan Tempat Hiburan
WW: Sebagai orang baru dalam pemerintahan DKI, apa kelebihan anda misalnya dalam hal banjir dan transportasi dibandingkan Fauzi Bowo yang berasal dari pemerintahan yang sekarang ?
Adang Daradjatun: Mengenai banjir,mungkin sekarang sudah dilaksanakan oleh pemerintah saat ini dengan banjir kanal timur, tapi saya ingin menambahkan apa yang disebut dengan sistem sumur selatan di tiap tiap rumah dan meningkatkan kembali keberadaan waduk waduk baik di luar Jakarta maupun yang ada di Jakarta. Kalau bicara tentang transportasi, Busway dan yang sekarang berjalan sudah cukup baik, cuman mungkin perlu ditingkatkan dalam konteks sistem. Yang penting harus aman, nyaman dan tepat waktu.
WW: Tidak bisa disangkal bahwa Busway adalah sesuatu yang baik, saya saja kalau ke Mangga Dua pake busway.
Adang Daradjatun: Betul
WW: Hanya, belum tentu sekali setahun ke mangga dua.
Adang Daradjatun: Hahahahaha
WW: Tapi dalam prosesnya, tidak bisa dipungkiri proyek itu sangat tercemar oleh korupsi. Di koran dilaporkan ada banyak pejabat DKI yang diadili dan masuk penjara, ada rekanan yang juga masuk penjara.Apa pendapat anda tentang korupsi yang terjadi di pemerintah DKI. Apakah akan memberantasnya, atau memaafkannya? Mereka mengaku bahwa mereka hanya menjalankan instruksi Gubernur.
Adang Daradjatun: Kalau pada saat saya datang memang terbukti ada korupsi, kita tindak korupsinya. Tapi kalau memang tidak terbukti ya tidak kita tindak, karena proses reward dan punishment itu harus dilakukan.
WW: Karena anda dicalonkan oleh sebuah partai yang bermoral tinggi atau diyakini sebagai partai yang mempunyai nilai moral, saya ingin tanya apa anda akan mendukung penutupan tempat-tempat hiburan yang tidak halal walaupun itu mendatangkan penghasilan bagi daerah?
Adang Daradjatun: Pasti saya tidak tutup!
WW: Tidak akan tutup?
Adang Daradjatun: Pasti tidak!
WW: Partai juga setuju tidak ditutup?
Adang Daradjatun: Setuju tidak ditutup.
Effendi Ghazali: Bang Dani kalau mau menambahkan silahkan
Dani Anwar: Apa yang dilakukan oleh seorang Gubernur, pasti wakil gubernurnya akan mendukung, mensupport. Kaitannya dengan penutupan tempat hiburan, prioritas kita bukan pada sisi hal tersebut. Tapi prioritas kita adalah bagaimana membebaskan kemiskinan dari warga ibukota Jakarta ini.
WW: Jadi Pak Dani tidak akan mendukung Perda yang bernada syariah di Jakarta seperti di Tangerang? Tidak akan melarang perempuan keluar malam dan sebagainya?
Dani Anwar: Yah, di Jakarta ini kita tahu prioritas kan, bagaimana masyarakat sangat sulit mendapatkan pekerjaan, biaya kesehatan yang mahal, pendidikan yang mahal, itulah prioritas program kita, antara Pak Adang dan saya selama 5 tahun ke depan.
WW: Jadi PKS akan bersifat lebih pluralis dan terbuka?
Dani Anwar: Ya, Insya Allah
Fenny Rose: Jadi nggak ada larangan ya Pak? Jadi saya boleh keluar malam?
Dani: Nggak ada, nggak ada
Seni kepemimpinan Layang Layang
Ryaas Rasyid: Saya ingin bertanya tentang kepememimpian. Kira-kira perubahan apa yang akan Bapak lakukan untuk membuat pegawai negeri sipil lebih disiplin, teliti, lebih responsible, memperhatikan masyarakat, karena kan tentunya berbeda dengan waktu memimpin di kepolisian
Adang Daradjatun: Saya kurang sependapat kalau dibilang berbeda, karena kalau berbicara tentang seni kepemimpinan, saya ketika dulu di kepolisian selalu menurut proses hokum., dan apabila menjadi gubernur di DKI akan berlaku sebagai pegawai sipil. Istilah saya, kapan saya ngedet, kapan saya ulur, seperti main layang-layang.
Ryaas Rasyid: Kalau di kepolisian kan lebih ada ketaataan pada keputusan mutlak, sementara kalau di lingkungan sipil, bisa berbeda pendapat dan ada birokrasi
WW: Tapi di beberapa birokrasi beda pendapat mengakibatkan pembredelan..
Adang Daradjatun: Saat saya menjabat dulu, Polisi sudah jadi sipil, jadi sistem kepemimpinan saya sudah berbeda dengan polisi jaman dulu. Sudah tidak ada lagi harus ketemu wajib atau seperti itu. Jadi metodenya bisa dengan memberikan saran yang baik, dan hal-hal seperti itu.
Sistem pelayanan kesehatan harus modern
Azrul Azwar (Mantan Depkes dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia): Apa yang akan bapak-bapak lakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Jakarta ini apa ? Dibandingkan Yogya kita jauh ketinggalan.
Adang Daradjatun: yang pertama , pelayanan terhadap masyarakat itu sangat penting, jadi pos-pos pelayanan harus ditingkatkan. Kita juga tau masyarakat kita terutama – maaf - masyarakat menengah ke bawah sulit mendapatkan suatu pelayanan kesehatan, baik dalam konteks pelayanan maupun biaya yang murah. Jadi kalau bisa pelayanan masyarakat ditingkatkan dan kedua diharapkan rumah sakit yang murah tapi pelayanannya bagus
Azrul Azwar: Tapi sebenarnya semua tergantung biaya. Sistem pembayaran sekarang tidak sehat yaitu sistem pembayaran tunai. Yang bagus itu sebenarnya sistem asuransi. Kira-kira berani tidak ya bapak menjelang akhir jabatan mencanangkan sistem asuransi di semua rumah sakit di Jakarta ini.
Adang Daradjatun: Kita bicara tentang Jakarta yang modern dalam arti kata konteks spiritual dan fisik. Modern artinya apa ? Asuransi, membayar pajak, dll, itu hal-hal yang harus kita lakukan dan tidak bisa kalau dengan konteks sistem administrasi yang masih kuno , kita harus berubah maju ke sistem yang modern.
Azrul Azwar: Bapak akan lebih maju dari Departemen Kesehatan
dimeriahkan profesional kesehatan dki
Macam-macam
Penelpon: Citra kepolisian kan kurang bagus. Bagaimana Pak Adang berharap akan memimpin DKi dengan citra yang buruk begitu?
Adang Daradjatun: Ini ada yang lucu. Misalnya ada yang ngomong: Adang = Polisi. Polisi = Jelek. Berarti Adang = Jelek. Ini kan tidak bisa, tidak benar itu.
WW: Tetapi sebagai bekas Wakapolri, Bapak turut bertanggung jawab dong pada image jelek tersebut.
Adang Daradjatun: Yah memang benar, tapi tidak semua polisi itu selalu jelek
WW: Bapak pernah menindak kasus korupsi?
Adang Daradjatun: Banyak!
WW: Bagus kalau begitu.
Effendi Ghazali: Manusia itu kan ada lemahnya, kira kira menurut Bang Adang dan Bang Dani, apa kelemahan pasangan anda?
Adang Daradjatun: sampai saat ini sepertinya belum terpikir ya, yang penting kita berdoa dan berdoa.
Yah begitulah kira kira beberapa bagian menarik dari acara GK malam ini. Lepas dari apakah semua janji yang diucapkan pada malam ini akan terlaksana atau tidak, mari kita acungi jempol atas kedatangan pasangan ini ke acara Gubernur Kita, karena itulah salah satu contoh bagus dalam demokrasi Pilkada di Jakarta. Berani berjanji, berani menepati. Adang Daradjatun menyatakan, seorang pemimpin harus berani berpihak. Kalau tidak, jangan jadi pemimpin!
WW menutup dengan mengatakan, yang penting pada malam ini seorang Calon Gubernur yang resmi dan kuat, telah datang dan menghadapi audiens. Siapapun yang menang dalam Pilkada DKI, yang penting dia sudah menghadapi publik dan memperkenalkan dirinya. Dengan demikian keraguan bisa dibahas satu persatu. Misalnya, bagaimana bisa, PKS bergabung dengan Polisi. Pernyataan akhir ini disambut Adang Daradjatun dengan tertawa lebar.
Baca juga:




59 Comments: