Articles

Beras susah karena permainan harga

Wimar's World
20 February 2007

Anda pasrah atau cari perbaikan?

Banyak yang bilang masalah keterbatasan beras karena:

  1. pergantian musim
  2. pemerintah bagus, tapi rakyat harus sabar

Kalau begitu ga usah diomongin lagi. Tinggal pasrah dan mati kelaparan.

Sedangkan kalau kita memang cari perbaikan, inilah penyebab yang harus kita perhatikan:

  1. permainan harga pupuk
  2. kurangnya dukungan teknologi pertanian
  3. kurangnya pemberdayaan petani
  4. pemerintah tidak menangani spekulan (hanya meng-kambinghitam-kan)

Kalau mau menyalahkan alam, silakan. Tapi percuma.
Sama percuma dengan punya pemerintah tapi tidak berguna.

Anda pasti punya pendapat lain kan? 

Makanya kirim SMS dan telpon ke Wimar's World yang akan mencari siapa yang salah dalam masalah beras? Rabu 21 Februari jam 21.30 di Jak-TV LIVE!!

-

Operasi Sesar

Oleh ADHIE M MASSARDI

OPERASI pasar adalah pengangkatan beras dari gudang Bulog ke pasar. Kalau di pasar beras jadi banyak, harga tentu bakal turun. Begitu teori ekonomi "supply and demand". Dan pemerintah, tentu juga Ibu Sri Mulyani, ekonom kaliber dunia yang kini menteri keuangan, percaya hukum "permintaan dan kebutuhan" yang diajarkan di bangku SMP ini bisa menurunkan harga beras yang menggila sejak 2004.

Kalau beras di gudang tak mencukupi, Kabulog tak perlu risau. Akan muncul importir yang dengan sekali kedipan mata bisa mengucurkan beras dari langit hingga gudang luber. Karena itu, jangan tanya apa bedanya Kabulog dengan penjaga gudang.

Tapi bagaimana cara pemerintah menyuplai beras ke pasar yang tersebar di lebih dari 435 kabupaten dan kota dalam waktu bersamaan? Apa pula jaminannya beras Bulog dibeli langsung rakyat, dan bukan oleh para tengkulak atau spekulan beras? Tidak ada jawaban, karena pertanyaan ini tidak jelas ditujukan pada siapa. Jangan-jangan itu memang sudah bukan urusan pemerintah.

Tugas pemerintah hanya impor beras dan operasi pasar. Kalau harga tidak turun juga, salah Adam Smith yang bikin teori supply and demand itu. Tapi kata Adam teman saya, persoalannya bukan harga beras mahal, melainkan pendapatan rakyat yang rendah. Kalau pendapatan rakyat tinggi, harga beras otomatis (dipandang) rendah…!

Jadi benar kata ginekolog (dokter ahli kebidanan) yang nonton acara operasi pasar di televisi dan melihat ibu-ibu tua terjepit dalam antrean panjang tak menentu. Katanya, operasi pasar itu sebenarnya operasi sesar: pengangkatan janin dengan cara membelah dinding perut dan rahim.

Operasi ini sudah dilakukan sejak zaman dulu untuk menyelamatkan jiwa janin dari ibu yang meninggal menjelang persalinan. Konon kaisar romawi Julius Caesar dilahirkan dengan cara seperti ini. Karena itulah namanya dipakai. Peraturan Romawi melarang operasi sesar dialkukan pada wanita yang sehat. Tapi ibunya Caesar hidup cukup lama setelah operasi sesar.

Operasi sesar mulai dilakukan pada wanita yang masih hidup sejak 1610. Tapi karena resiko kematian yang tinggi, operasi ini tidak disarankan sampai akhir abad ke-19. Dulu memang ada syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan operasi sesar. Tapi sejak ilmu kebidanan dan teknik operasi makin canggih, dan rencana punya anak hanya satu atau dua saja, operasi sesar jadi dipilihan kaum wanita dan disukai para suami. Maklum dengan sesar "pintu masuk" kenikmatan sesksual tetap dimonopoli sang bapak. Tidak sempat dilewati kepala anaknya. Untuk menjaga harmoni perkawinan, katanya.

Maka bila operasi pasar terus-terusan, sama dengan operasi sesar terus-menerus. Akibatnya perut si ibu (Pertiwi) bisa dedel-duwel. Para bapak memang tak menanggung resiko ini. Tapi alangkah tak bermoralnya para Bapak yang membiarkan hal ini terjadi hanya demi memburu kenikmatan seksual, dan kenikmatan "rente" alias komisi impor dari tengkulak beras.

Print article only

20 Comments:

  1. From Ben Tora on 20 February 2007 15:55:44 WIB
    Kalau analogi bahwa operasi pasar adalah operasi sesar boleh saya teruskan, maka pemberdayaan petani adalah kunjungan pre-natal ke puskesmas, teknologi pertanian ibarat sistem ultra sound yang canggih, dan impor beras adalah pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil untuk menjamin kecukupan nutrisi.

    Lalu orang-orang yang kemarin ribut menentang beras impor mungkin kita analogikan sebagai orang yang kurang mengerti dan menganggap modern medicine dengan kecurigaan.

    Kalau mau lebih sinis, orang yang ribut menentang impor beras dengan alasan bahwa impor berarti jelek mungkin kita analogikan sebagai orang yang menentang bidan desa demi kepentingan dukun bayi tradisional.
  2. From Juswan Setyawan on 20 February 2007 17:25:50 WIB
    Bagi saya itu hanya tanda kebodohan dan kemalasan berpikir. Tahun 1950-an kita sudah mengenal pembagian beras catu dan minyak tanah di kelurahan. Saat itu dipakai kupon stensilan yang digunting saat kita menebusnya. Jadi tidak mungkin ngambil dobbel untuk dijual ke tengkulak. Setengah abad kemudian dikenal operasi pasar dan RASKIN tetapi kebobolan dan jatuh ke tangan tengkulak yang nyuruh kaki tangannya jadi joki. Masakan lima puluh tahunan merdeka soal manajemen bagi-bagi beras miskin saja kagak becus. Apa namanya ini?

    Mang Iyus
  3. From WiLLy Da\' KiD on 20 February 2007 17:58:14 WIB
    buat bung ben tora,
    anda dokter ya?he3x,keren juga analoginya....

    menyalahkan alam?waduh,sama saja seperti melangkahi kodrat.toh pasti pada waktunya kita akan kembali ke alam,ye khan??

    menurut saya, harga beras dipermainkan itu sudah hal biasa,khan yang menjual beras juga butuh uang untuk membeli beras,jadi biar tidak "tekor" dan bisa membeli lauk juga,harga beras dimainin deh.lagi pula kalau tidak ada beras,khan masi ada singkong atau ubi,knp harus pusing?

    kalau kata pepatah orang tua saya,"Namanya juga orang indonesia,kalau belum makan nasi,ya belum makan namanya..."

    menurut Willy Da' KiD(waduh,laga-laga), Indonesia termasuk negara agraris yang sebagian besar wilayahnya bisa dijadikan lahan pertanian,yang saya bingung kenapa Indonesia masih harus meng-impor beras dari luar,padahal kalau diusahakan sendiri, harga beras bisa jauh lebih murah,karna ongkos kirim bisa dihemat.menurut saya pemerintah sudah bagus dalam pengelolaan beras di Indonesia,tapi mungkin orang-orang yang menjual beras kemasyarakat yang memasang harga sendiri untuk dagangannya.

    memang kalau tidak makan lapar,tapi setidaknya harus dicari solusi terbaik untuk menekan harga beras,mungkin dengan mengurangi pasokan impor beras dan menambah lahan pertanian bisa mengurangi harga beras dipasaran.mungkin akan lebih baik dari kita,oleh kita dan untuk kita

    wasalam,Tuhan MEmberkati Indonesia........
  4. From De Truth on 21 February 2007 09:10:53 WIB
    Saya sendiri juga bingung kalau nonton berita operasi pasar beras di TV! Pelaksana lapangan operasi pasar itu yang TOLOL nya minta ampun atau memang sengaja dibuat semerawut agar ada peluang buat bisnis? Beras untuk operasi pasar atau untuk rakyat miskin yang dimuat di mobil pengangkut kan sudah ketahuan jumlahnya (bungkus maupun beratnya). Terbitkan kupon dengan nomor urut sesuai jumlah yang akan dibagikan, buat pembatas dari tali untuk antrian. Toh pada akhirnya semua pemegang kupon akan kebagian jatah beras karena sudah diperhitungkan sebelumnya (ndak tau ya kalo bersanya sudah disunat dulu dalam perjalanan). Jadi apa sulitnya ngatur jatah & cara baginya? Anak SD kelas 6 aja kalo disuruh ngatur ginian mah pasti beres.
  5. From anymatters on 21 February 2007 10:09:42 WIB
    Menurut saya, sudah waktunya produsen beras (petani) di Indonesia mendirikan koperasi raksasa berskala nasional dengan pengelolaan yg profesional selevel dengan korporasi.

    Segala penyebab yg ditulis di atas mungkin bisa diatasi. Ditambah dengan manfaat lainnya seperti dalam hal pemasaran, distribusi, hubungan dengan supplier, litbang dan pengembangan teknologi, dll.
  6. From anton on 21 February 2007 12:19:06 WIB
    jadi inget pak harto pidato di depan FAO tahun 80-an dulu....
  7. From ira on 21 February 2007 14:17:14 WIB
    Krisis beras di negri kita seharusnya nyadarin kita utk menggalakkan difrensiasi pangan, cuma dari dulu kita selalu di "doktrin" bahwa nasi adalah makanannya seluruh orang indonesia. Padahal ada sebuah kampung di Cimahi, Jawa Barat, yang turun temurun pantang makan nasi. Makanan pokok mereka yaitu nasi tiwul yang terbuat dari singkong. Leluhur mereka waktu itu menyuruh masyarakatnya buat gak makan nasi karena dia tau suatu saat mereka gak akan mampu beli nasi lagi .....wah....berarti ramalan sang leluhur pancen oye.....
    - Salam kenal pak, dari Ira @ www.iralennon.blogspot.com
  8. From Daus on 21 February 2007 17:41:03 WIB
    Saya ingin berbagi cerita. Kebetulan orang tua memiliki sebidang tanah yang ditanami padi. Pada suatu saat harga gabah (basah) sangat rendah sekitar Rp 140000 per kuintal sehingga kebanyakan petani melakukan posisi hold layaknya istilah pialang saham. Para pedagang beras lokalpun nggak ada yang berani melakukan pembelian gabah lebih dari harga itu. Tiba2 ada pedagang gabah dari luar kota datang dan menawarkan pembelian harga gabah Rp 200000 per kuintal. Tentu saja para petani serta merta menjual semua gabah yang dimiliki setelah sekian lama "puasa". Dan apa yang terjadi kemudian.... tidak sampai 2 bulan tiba2 beras menjadi langka dan harga beras melambung lebih dari Rp 5000 per kg. Dan petanipun harus ikut menerima dampak membeli beras dengan harga tinggi itu...


    So masalahnya memang kita harus sama2 selesaikan, termasuk olah kita sebagai konsumen kecil sekalipun. Pemerintah memiliki peranan besar tapi kita juga bisa turut andil.


    Salam
  9. From willy on 21 February 2007 23:43:55 WIB
    Katanya Indonesia sudah merdeka >60 tahun.
    Kok beras aja masih import?Apalagi dalam skala besar.
    Apa tidak mampu produksi beras sendiri?
    Sumber Daya Manusia nya ada. Lahan luas. Tanah subur.
    Masih kurang apa sih?
    sampai-sampai ada yang makan Nasi Aking pula. Yang lebih parahnya lagi,ada yang sampai mati kelaparan.
    Kemana tuh pemerintah?
  10. From Z I on 22 February 2007 07:50:39 WIB
    Semuanya memang kembali ke niat...

    Alam hanya merespon tindakan kita (termasuk saya dan semua rakyat, berikut pejabat dan koruptor).

    Di sisi lain, kartel perdagangan dunia masih memegang kendali. Ketika pejabat legislatif, exekutiv dan yudikatif masih menjadi (maaf) "pelacur", maka lupakan sajalah kesejahteraan.
    Negara maju bukan dari banyaknya mobil dan gedung tinggi, melainkan dari terpenuhinya kebutuhan dasar hidup dan pemeliharaan kepedulian lingkungan
  11. From Simor on 22 February 2007 08:57:26 WIB
    Krisis beras di negara kita itu sudah tradisi dari jaman Orde Baru, yang mengherankan banyak pakar pertanian yang sudah memberikan solusi dalam meningkatkan produksi padi, tapi kok masih tetap saja kurang.yang paling herannya setiap kekurangan stok beras pemerintah langsung segar melakukan operasi pasar, sampai - sampai pegawai yang tak pernah muncul dikantor bulog tiba tiba jam 6.00 pagi sudah ada di kantor karena ada operasi pasar. jadi menurut saya apapun solusi yang akan di tempuh atau dilaksanakan dalam mengatasi kekurangan beras di negara ini semuanya baik adanya dan sah - sah saja.namun yang paling utama adalah kembali kepada hati nurani kita semua termasuk para spekulan, pemerintah,apakah kita mau hidup sendiri atau mau berbagi dengan sesama. ya gak bung Wimar?
  12. From Dolly on 22 February 2007 10:13:16 WIB
    Bagi aku sich cuma mau pesan kepada para petinggi negeri ini, jadilah suri tauladan bagi umat manusia, karena amanat yang diemban akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah!

    Tips untuk pejabat / semua :
    Kalau ada kesenangan, maka kamu orang terakhir yang merasakannya, tapi kalau ada kesengsaraan, kamu menjadi orang pertama yang merasakannya!
  13. From chadijah ibrahim on 22 February 2007 15:48:27 WIB
    Menurutku pemerintah itu pinpinbo ( pintar-pintar bodoh), kalau dibilang bodoh mereka orang pintar yang sekolah tinggi-tinggi, tapi kalau dibilang pintar kok zaman udah globalisasi n canggih masih antri untuk beli minyak tanah dan beras.Apakah sudah tidak ada lagi ilmu dan teori yang bisa menagani masalah miskinnya Indonesia. Menurutku ilmu yang paling cocok untuk pemerintah Indonesia adalah ilmu psikologi, jurusan perbaiki mental.Jadi jangan hanya mikirin perut sendiri, tapi untuk masalah besar adalah lahan pertanian jangan lagi dijadikan perumahan, lapangan golf, atau ladang bisnis konglomerat. Tapi biarkanlah menjadi milik tetap petani kalau bisa diperluas lagi.
  14. From De Truth on 25 February 2007 08:05:45 WIB
    RASKIN dijual untuk rakyat miskin. Jadi untuk rakyat yang juga masih TIDAK mampu membeli RASKIN harus diberi julukan rakyat apa?
  15. From idham on 25 February 2007 19:48:50 WIB
    klo beras langka dipasaran, pemerintah masih mejawabnya dengan impor beras.Itu logis tetapi tidak solutif, karena impor sekedar untuk mengstabilkan harga di pasaran.

    Kelangkaan beras di pasaran selain karena spekulan, juga kenyataan produktivitas kit menurun, itu sudah byk diomongin orang, biasanya dijawab dengan perluasan lahan atau penggunaan bibit atau varietas unggul. Jaman jayanya revolusi hijau, Presiden Soeharto memadukan dua cara tesebut, bahkan sampai ke luar jawa melalui program transmigrasi. Tapi yang perlu diingat bahwa semua faktor yang menghasilkan swasembada beras di masa itu dari luar, bibit dari luar, teknoogi baru dan biaya revolusi hijau itu sendiri sebagian dari hibah dan utang luar negeri, sebagianny dibiayai oleh APBN dari surplus minyak saat itu.

    Kalau hari ini kita tidak bisa sasembada beras, itu karena semua faktor pendukung yang dari luar tadi sudah tidak ada. Dan dalam situasi seperti in tentu sulit mewujudkannya lagi, apalagi dunia pertanian kita benar-enar dalam cengkraman neoliberalisme.

    Saya sepakat denga pendapat bustanul arifin bahwa hanya reforma agraria yang bisa menyelesaikan soal itu. Artinya kelangkaan beras atau produktivitas dalam negeri hanya bisa terjamin dengan kedaulatan pangan, dan kedaulatan pangan hanya bisa dengan reforma agraria, sebab reforma agraria memasukkan kepemilikan tanah sebagai salah satu faktor produksi.

    Lebih jauh reforma agraria akan merombak sistem penguasaan, pemilikan dan pemanfaatan tanah dan kekayaan alam lainnya yang timpang. Selama ini pasar tidak tercipta dari petani karena surplus tidak ada. Itulah sebabnya dunia pertanian kita tidak menarik, dan banyak ditinggal orang desa dan menjadi tentara cadangan buat buruh perkotaan....

    semakin banyak orang urban, itu artinya semakin banyak orang menjadi konsumer murni beras, bukan sebagai produsen. Klo tidak ada upaya penciptaan ekonomi di pedesaan untuk menarik tenaga kerja ke desa berarti tiap saat negara haru memikirkan bagaimana menyiapkan beras kepada mereka.

    Karenanya Reforma Agraria adalawa jawaban atas krisis pangan yang telah dihadapi. Ada baiknya kita bercermin pada negara-negara yang telah berhasil membangun ekonomi negaranya melalui program reforma agraria, seperti jepang, korean utara, korea selatan dan Taiwan...

    salam
    idham
  16. From gambler on 26 February 2007 12:48:43 WIB
    spt jepang? setuju!.

    btw, nasi jepang kenapa enak ya?
    spt nasi hokben,.... beda. apalagi nasi sushi-tei.....yummy
  17. From Alex Maffay on 28 February 2007 12:57:10 WIB
    Untuk mengurangi kelangkaan beras, perlu adanya penganekaragaman pangan yang banyak kita ketahui. Makan roti sebagai pengganti makanan pokok beras sangat baik juga bagi kesehatan tubuh kita. Mungkin perlu adaptasi saja untuk membiasakan makan roti itu.
    Saya sendiri sedang mencoba untuk makan roti sebagai pengganti nasi. Karena saya melihat, semakin hari beras di Indonesia semakin mahal. Jangan sampai kita kelaparan di dalam lumbung padi. Khan kasihan kalo hal itu sampai terjadi.
    Cobalah rakyat kita untuk mencari alternatif lain selain beras sebagai bahan makanan pokok. Niscaya dengan sendirinya, harga beras akan menurun. Toh masih banyak khan alternatif lain sebagai pengganti karbohidrat tersebut.
    Selamat mencoba.
  18. From nur izzah on 25 October 2007 11:29:56 WIB
    krisis beras??masak seeh!!!negara kita kan pernah dapet swasembada beras.
    klo emang bener, itu salahnya sapa coba??
    ya salahnya mereka yang membuat kebijakan. pemerintah itu cuma bisa ngomong. seharusnya si pembuat kebijakan dulu donk yang merasakan! bisa aja seeh mereka mensosialisasikan makanan pengganti beras. tp ada gak yang menjamin klo mereka juga bakal memakan apa yang akan dimakan rakyat nantiny? siapa seeh pencetus ide ini? jangan-jangan ada konspirasi politik neeh!pemerintah koq ngebuat kebijakan sepihak yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.aduh2X!!
    katanya negara kita udah merdeka. tp koq kayak masih dijajah ya! klo singkong dijadikan makanan pengganti beras, itu artinya kita balik ke zaman penjajahan. gimana seeh!!!
    pak, tanggungjawab-mu besar lo! ini amanah rakyat. jangan sampai kekuasaan membutakan mata dan hati anda!!!
    inget, kehidupan di dunia itu cuma sementara. NERAKA menunggu di depan mata klo kezaliman masih terus merajalela.mau masuk NERAKA!! klo mo ya silahkan...
  19. From said on 05 May 2008 18:39:24 WIB
    Jompol buat Thailand !!!
    Nanti giliran negara-negara kartel minyak OPEC yang bertekuk lutut. Selama ini, mereka (negara penghasil petrol) bertingkah semena-mena
  20. From ADI on 18 February 2009 23:06:33 WIB
    ILMIAH

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home