Kasus Aa Gym mendorong sikap melawan poligami
Perspektif Online
10 December 2006
Daisy Awondatu dan redaksi: Perempuan yang merugikan diri sendiri
WW mengatakan, “Ada dua perempuan masuk berita akhir-akhir ini, mereka sangat lemah sekali. Ada yang mendukung poligami suaminya, ada yang menerima bahwa suaminya selingkuh. Kalau Ibu Menteri masih ada, saya usulkan agar dua wanita itu dicoret saja dari daftar perempuan.” Ucapan spontan ini disambut tawa dan tepukan tangan pengunjung yang hadir di Ballroom Four Seasons Hotel.
Sebelumnya Menteri Pemberdayaan Perempuan, Prof. Dr. Meutia Hatta, dalam pidatonya di book launching “Inspiring by Indayati Oetomo: Make Your Dreams Come True”, hanya mengatakan bahwa perlu ada empowerement bagi perempuan, dan diharapkan lebih jauh lagi perempuan dapat melakukan self empowerement. Menteri tidak menanggapi dua kasus pusat perhatian masyarakat dimana perempuan harus dibela.
Untung kelompok LSM Perempuan angkat bicara. Yayasan Jurnal Perempuan bersama Koalisi Perempuan serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat lainnya menolak praktek poligami. Alasannya, poligami melanggar hak-hak perempuan serta rawan terhadap kekerasan psikis dan fisik terhadap kaum perempuan. Hal tersebut mengemuka dalam jumpa pers dengan Jurnal Perempuan serta beberapa koalisi LSM lainnya di Jakarta
Perilaku Aa Gym adalah urusan dia sendiri. Apakah orang kecewa atau tetap senang padanya, itu urusan selera masing-masing. Aa Gym dan kedua istrinya tidak perlu dinikmati sebagai bahan gosip. Tapi poligami sebagai penyakit sosial sudah waktunya dipersoalkan dan kalau perlu dilarang. Mengapa? Karena poligami membawa dampak sosial yang merusak. Pertama, merendahkan derajat perempuan dan membuatnya rawan untuk diperlakukan secara tidak manusiawi. Kedua, membahayakan anak-anak keluarga bersangkutan dengan rasa ketidak pastian, diacuhkan dan di ekspose pada hubungan yang eksploitatif. Ketiga, mendukung sikap menjajah dari lelaki bermental penguasa. Tidak mungkin kita membangun masyarakat yang baik sambil menerima poligami yang merupakan kebiasaan pelecehan zaman dahulu.
Sebetulnya munculnya kasus Aa Gym harus disambut sebagai dorongan besar untuk mengangkat sindrom poligami ke forum keputusan publik untuk mempersoalkan untung ruginya bagi masyarakat. Bila merugikan publik maka layaknya dilarang. Poligami adalah pelembagaan pelecehan seksual. Aneh bahwa topik ini tidak dibahas pada forum perempuan yang dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan. Merupakan suatu tanda bahwa perempuan belum menyadari hak azasi secara penuh, dan bahwa Kementerian Pemberdayaan Perempuan hanyalah lembaga birokratis yang tidak menghayati masalah perempuan.
Pada acara book launching Indayani Oetomo, International Director JRP (John Robert Powers), dirayakan sukses Ibu Indayani sebagai business entrepreneur yang dalam 20 tahun menghasilkan kira0kira 21,000 lulusan kursus JRP. Diadakan talkshow dengan tema “What Do Men Say About Multitasking Women”. Multitasking disini maksudnya melakukan kegiatan di pekerjaan luar dan di rumahtangga secara bersamaan. Di deretan nara sumber ada Wimar Witoelar, Yuddy Chrisnandi (anggota DPR), Shahnaz Haque, dan juga Indayati Oetomo sendiri. Jadi bukan hanya "Men" yang bicara. Beberapa points dari pembicara:
Indayati Oetomo: “Kuncinya adalah sacrifice. Seorang perempuan harus rela capek, mengurangi waktu untuk dirinya sendiri, jadi ada pengorbanan.”
Yuddy Chrisnandi: “Bagi saya, multitasking woman itu sexy, dinamis, dan care. Ini merupakan implementasi dari kodrat seorang perempuan.”
Shahnaz Haque: “Suami harus tidak keberatan untuk melakukan peran istri di rumah, merawat anak, menceboki, dsb. Seperti suami saya, Gilang. Yang tidak bisa dilakukan hanya menyusui anak........... Setiap orang punya keinginan dan impian. Perempuan juga. Perempuan bekerja di dalam dan di luar rumah untuk balancing hidupnya. Jadi, merupakan sebuah penghargaan besar bisa menjadi multitasking women.”
WW: “Kegiatan ganda menunjukkan bahwa women are the superior gender. Mereka tidak memiliki sifat selfish...... Multitasking hanya dapat dicapai dengan kemandirian.... Yang diinginkan bukan bahwa istri mengabdi pada suami, tapi bahwa suami istri saling mengabdi."
Yah… susah-susah gampang lah menjadi seorang multitasking woman. Indayati Oetomo mengatakan, tidak mungkin seorang wanita sukses kalau tidak didukung oleh suaminya. Pria dan wanita merupakan sebuah team, dan harus saling mendukung, terutama di dalam keluarga. WW mengibaratkan,“Apabila pasangan lelaki-perempuan adalah pesawat terbang, maka lelaki adalah mesinnya, dan wanita adalah sayap dan angin yang mendukungnya, atau sebaliknya."
You are the wind beneath the wings.
Baca juga: Peringatan Hari Ibu: Perempuan Indonesia Bersatu Tolak Poligami



67 Comments: