Gubernur harus dipilih rakyat, bukan ditunjuk Presiden
Perspektif Online
03 October 2006
5 Oktober 2006 jam 21:00-22:00 mungkin mencatat sejarah baru melalui siaran pertama 'Gubernur Kita' di JakTV. Posting Daisy Awondatu, Hayat Mansur dan Maro Alnesputra memberikan tiga perspektif berbeda melaporkan konperensi pers di Balai Kota DKI yang didahului pertemuan di ruang Gubernur DKI Sutiyoso. JakTV, Effendi, Gubernur, punya ekspektasi masing2 dari acara ini, tapi kontribusi Wimar sederhana saja: "Mengembalikan pemilihan Gubernur kepada rakyat, sebab Gubernur yang sekarang ditunjuk oleh Presiden Soeharto dan dipilih kembali dalam proses demokratis sebagai hasil dagang sapi antara PDIP dengan entah siapa. Siapa tahu, dengan adanya acara TV dua mingguan ini orang akan sadar akan sistem pemilihan, issues yang dipertaruhkan dan karakter orang yang akan dipilih."
Mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat
Oleh Daisy Awondatu
Jak TV punya sebuah show baru "Gubernur Kita", dengan pemeran utama-nya adalah Effendi Gazali sebagai Host, serta Ryas Rasyid dan Wimar Witoelar sebagai Panelis. Gubernur Kita akan disiarkan live mulai hari Kamis, 5 Oktober 2006 jam 21.00 – 22.00 WIB. Untuk siaran perdana, Jak TV akan menghadirkan Sutiyoso, calon mantan Gurbernur DKI Jakarta, karena pasti dia tidak dapat dipilih lagi untuk tahun 2007.
Sehubungan dengan show "Gubernur Kita", siang tadi Jak TV mengadakan press conference di Balai Kota Jakarta. Dengan memakai Balai Kota Jakarta, menunjukkan bahwa Pemerintah, khususnya Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mendukung acara ini.
Acara berlangsung sekitar 30 menit, dimulai dari pukul 11.15 WIB dan berakhir pada 11.45 WIB. Erick Tohir (Dirut Jak TV), Ryas rasyid, Effendi Gazali, Wimar Witoelar, dan Timbo Siahaan (Program Director "Gubernur Kita") masing-masing memberikan opininya secara bergantian mengenai show "Gubernur Kita".
Effendi Gazali, mengatakan bahwa "Gubernur Kita" merupakan sebuah acara yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang khusus diadakan menjelang Pilkada. Show ini terdiri dari 3 garis besar. Pertama merupakan sosialisasi Pilkada itu sendiri, apa harapan masysrakat, belajar dari pengalaman Sutiyoso, dsb. Bagian kedua, mulai mencari siapa kira-kira "bintang" masing-masing partai, karena sampai sekarang masih belum jelas siapa saja yang sudah mendapat "tiket". Bagian terakhir acara akan memberi kesempatan masing-masing calon untuk memaparkan vuisi misi-nya, program-programnya, dan juga akan ada debat terbuka antar calon.
Ryas Rasyid menyampaikan harapannya lewat acara ini nantinya akan menghasilkan rational voters. Di berbagai pilkada, kebanyakan masyarakat memilih berdasrkan komunalisme. Akan tetapi lewat acara ini, walaupun menghibur, diharapkan mampu memberikan pencerahan policy preference pada masyarakat.
Wimar Witoelar menegaskan bahwa dia sangat mendukung acara ini, karena dia ingin mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat. Bukan seperti pemilihan yang lalu-lalu, di mana Gubernur ditunjuk oleh Soeharto dengan kedok demorasi, ditunjuk karena politik dagang sapi seperti yang pernah dilakukan Golkar atau PDIP, tapi benar-benar full partisipasi dari rakyat. Pihak yang paling dekat dengan masyarakat adalah media, karena itu peran media sangat penting di sini. Menurut Wimar, bagaimana cara menyampaikan informasi pada rakyat adalah lewat acara yang diselingi dengan humor dan dapat menghibur mereka yang menonton.
Dalam sesi tanya jawab, John (ANTARA) mempertanyakan kemungkinan adanya bias dari host dan panelis. Menurut Wimar, tidak ada jaminan pasti tidak bias, oleh karena itu butuh bantuan media, pers untuk dapat membantu mengontrol. Akan tetapi Wimar berjanji akan menunjukkan objektifitasnya dalam menggali kelebihan dan kekurangan calon. Apabila pertanyaan yang diajukannya berat itu bukan untuk memojokkan, tapi untuk "push people to their best"
Imam (Harian TERBIT) menanyakan kemungkinan adanya tekanan-tekanan terhadap Jak TV. Jak TV memberikan jamnan tidak ada, dengan alasan orang-orang yang di pilih adalah tokoh-tokoh yang kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan selain itu kepemilikan saham Jak TV adalah oleh pihak swasta, jadi tidak akan ada tekanan pemerintah dalam acara ini.
Yang terakhir, Budi (Harian WAWASAN) bertanya mengenai pemasangan iklan para calon di Jak TV. Pihak Jak TV menjawab, pasti ada kemungkinan para calon memasang iklan di Jak TV, akan tetapi pihak Jak TV akan membatasi spot iklan masing-masing calon. Hal ini merupakan bagian dari independensi Jak TV yang telah dijanjikan dari awal.
Jadi, bagaimana show ini akan berjalan, tidak ada seorang pun yang akan tahu. Kita hanya bisa menunggu hingga tirai dibuka pada waktunya nanti. Yang pasti, show ini disuguhkan dengan satu tujuan: Mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat.
Miss Indonesia untuk Gubernur Kita?
Oleh Hayat Mansur
Wimar Witoelar akan menjadi panelis tetap acara Gubernur Kita yang mulai tayang 5 Oktober 2006 setiap Kamis malam pukul 21.30 – 22.30 live di Jak TV. Pakar Komunikasi UI Effendi Gazali yang menjadi pemandu acara tersebut mengatakan sedikitnya ada 46 masalah yang akan dihadapi gubernur DKI Jakarta mendatang. Adakah kaitan salah satu permalasahan itu dengan Miss Indonesia?
Di hadapan 45 wartawan dari berbagai media (berdasarkan daftar hadir) yang hadir di launching acara Gubernur Kita, Wimar Witoelar menyatakan dirinya bersedia menjadi panelis karena berupaya agar pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta kembali kepada rakyat sehingga rakyat berpartisipasi.
"Gubernur yang dulu termasuk yang sekarang ditunjuk Presiden Soeharto," kata Wimar. Gubernur yang sekarang kendati untuk periode keduanya dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) secara demokratis tapi memakai politik dagang sapi. Jadi kalau Pilkada ini sekarang dibuka kepada rakyat maka hasilnya akan lebih baik. Karena itu rakyat perlu turut berpartisipasi agar terpilih gubernur yang baik.
Ketika wartawan Kantor Berita Antara Jhon menanyakan apakah tidak akan terjadi bias para pemandu maupun panelis karena ada berbagai kepentingan, Wimar menegaskan akan melaksanakan tugasnya tersebut secara profesional dengan serasional mungkin. Tidak ada preferensi Wimar terhadap satu pun calon gubernur dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada 2007.
Wimar mengungkapkan dalam menjalankan tugas sebagai panelis akan sangat kritis. Pertanyaan untuk Gubernur Kita tidak akan berbeda jauh dengan saat menjadi juri Miss Indonesia 2006 yaitu pertanyaan yang berbobot dan mewakili masyarakat.
Saat itu dirinya pun tidak mempunyai prefensi terhadap satu pun calon Miss Indonesia. Pertanyaan yang Wimar ajukan dinilai para Miss Indonesia sangat sulit dan berat. Tapi pada akhirnya semua Miss Indonesia berterima kasih karena dengan menjawab pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa Miss Indonesia itu tidak hanya sekadar cantik saja tapi juga cerdas.
Karena itu jika dirinya mengajukan pertanyaan yang sulit dan berat jangan dikira bias dan menyudutkan salah satu calon gubernur. Itu justru untuk kepentingan para pemilih termasuk untuk calon gubernur tersebut.
Jawaban pertanyaan sulit tersebut agar para pemilih lebih jelas memahami visi dan rencana dari calon gubernur. Sebaliknya calon gubernur bisa menjelaskan lebih jelas lagi visi dan programnya kepada pemirsa yang terkadang dalam penyampaian sering tidak jelas.
Banyak Communicator di Balai Kota
Oleh Maro Alnesputra
"A rocky start" alias jalan yang penuh guncangan pada awal perjalanan ternyata benar-benar bisa dialami seorang Wimar Witoelar dalam kehadirannya sebagai salah satu nara sumber di acara Press Conference Gubernur Kita di Balai Kota siang hari ini (3/10). Berkat ‘dorongan’ impulse dan penuh semangat yang kurang terkoordinir dari salah satu Petinggi di stasiun televisi ini , Bung Wimar hampir saja menabrak tembok dan harus merasakan jalur guncangan-guncangan kecil untuk menuju sebuah ruang rahasia tertutup bersama petinggi petinggi lainnya. Suatu hal yang sudah lama tidak dialami oleh seorang Wimar Witoelar.
Setelah ‘bincang-bincang tertutup’ itu selesai, Bung Wimar pun kembali keluar untuk menuju ruang Balai Agung, dimana Press Conference akan mulai dilaksanakan. Dengan ditemani Pasukan Pengawal WW yang terdiri dari 7 orang staff, Bung Wimar is ready to start the show!
Many ways lead to Rome, Banyak jalan menuju Roma,
Hal itu berlaku juga untuk menemukan Ruangan Balai Agung yang dijadikan ruangan Press Conference dadakan untuk acara Gubernur kita yang akan ditayangkan oleh Jak-TV.
Kita bisa memilih untuk melalui anak tangga sebanyak 17 tingkat, maupun memilih untuk turun tangga sebanyak 4 lalu masuk ke dalam lorong yang berujung pada sebuah lift. Dari sini kita bisa menuju ke lantai 1 dimana Press Conference di Balai Agung sudah di mulai berlangsung.
Tapi kadang-kadang hal hal jenaka sering juga terjadi dalam satu perjalanan, seperti misalnya ‘visit tak terduga’ ke lantai 2 yang ternyata merupakan level kantor Wakil Gubernur. Dari para staff Balai Kota yang ramah, rombongan kami pun tahu bahwa Balai Agung terletak di lantai I. Namun mungkin karena agak buru-buru sempat juga rombongan mampir ke lantai 3 dan bertemu seorang bapak-bapak penggemar Bung Wimar yang sangat ramah + suka berbasa-basi. Saking ramahnya sampai-sampai membuat pintu lift terbuka kembali dan gak jadi turun. Gak nyangka kalau ternyata banyak sekali orang ramah di Balai Kota!
Menuju lantai I, acara hampir dimulai, tapi as usual, the show would not be started until the star has arrived! Bung Wimar pun duduk di meja panelis dan acara pun dimulai.Sebelum kami sadar tahu-tahuErick Thohir, Ryaas Rasyid, Effendi Gazali, Wimar Witoelar dan Timbo Siahaan sudah duduk di hadapan pers dan siap menjelaskan konsep acara Gubenur Kita. Satu fakta besar yang perlu dicatat, HP Communicator dimiliki oleh semua pembicara tersebut kecuali oleh satu orang. Bisa tebak siapa? Coba terka melalui posting!
Secara singkat, Dirut Jak-TV, Erick Thohir mengungkapkan harapannya agar JAK-TV dapat menjadi stasiun televisi yang independent dan berharap media lain dapat juga bekerja sama dalam mempopulerkan program ini ke komunitas masyarakat Jakarta.
Effendi Ghazali sebagai moderator acara Gubernur Kita juga mengungkapkan bahwa program ini sangat istimewa bagi masyarakat Jakarta, karena daerah-daerah lain di Indonesia belum memiliki program setipe ini, dimana banyak masyarakat bisa belajar dan mendapatkan informasi tentang Proses Pilkada yang baik. Dirinya juga meminta bantuan dan kehadiran media untuk ikut membantu dan memantau agar tidak adanya ‘bias’ pada saat dia memandu acara tersebut. Apalagi tim research dari Fakultas Komunikasi UI telah menemukan 46 masalah di kota yang bisa dijadikan topikuntuk tiap episode program ini. Setelah itu Ryaas Rasyid sebagai satu dari dua panelis tetap di acara Gubernur Kita berharap agar program ini dapat memberi pencerahan pada publik dan bisa membentuk Rational Voters di kota Jakarta.
Bung Wimar sebagai panelis tetap lainnya memberikan komentar tajam pada Press Conference ini:
WW: "Agustus, pemilihan akan mengembalikan gubernur kembali kepada rakyat, karena pada masa lampau, gubernur Jakarta ditunjuk langsung oleh Soeharto, dan kemudian setelahnya merupakan suatu dagang sapi politik!"
Lebih jauh pada saat Tanya Jawab dengan wartawan, Bung Wimar jugamengatakan bahwa dirinya berharapakan bisa akan bertahan terus di program Gubernur Kita sampai Agustus 2007, karena dirinya sudah pernah mengalami penekanan dari pihak-pihak tertentudan di cut dari program yang dibawakannya. Dengan sergap Effendi Ghazali pun menambahkan,
EG: "Kalau kita ditekan, ya tinggal pindah stasiun TV, saya dan Bung Wimar mah sudah biasa dengan hal-hal seperti ini,"
Pada akhir tanya jawab dengan jurnalis, Erik Thohir sekali lagi meyakinkan para jurnalis bahwa program tersebut adalah program yang independent dan tidak akan mendapat intervensi dari pihak-pihak tertentu karena dirinya sebagai Dirut JAK-TVsendiri yakin, bahwa semua yang terlibat dalam program ini adalah pihak-pihak yang tidak akan mau diintervensi dan mempunyai integritas tinggi.
Acara pun selesai, dan rombongan pun siap kembali ke kantor, Rasa terima kasih juga kami ingin ungkapkan melalui tulisan ini kepada pihak JAK-TV yang sangat tinggi apresiasinya kepada keluarga besar InterMatrix. Mudah-mudahan ke depannya hubungan akan selalu terjalin dengan baik antara dua keluarga ini. Gedung besar dengan suasana Batavia Tempo Doeloe itu pun seakan menjadi saksi bahwa pasukan kami pernah menjejakkan kaki(plus kesasar ke lantai 2 dan 3 di Gedung itu.
Satu hal perlu dicatat! Banyaknya Communicator di Balai Kota mungkin dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa Communicator dianggap sebagai alat paling canggih untuk berkomunikasi dengan sesama (baik tentang pilkada, politik pekerjaan, atau pun informasi lainnya) di banyak tempat. Tapi untuk apa beli Communicator yang mahal kalau ada alat yang jauh lebih murah untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas?
Coba dong Perspektif Online! Alat komunikasi yang FREE dan ga bayar sama sekali untuk berkomunikasi dengan semua orang di seluruh dunia. Komunikaskan perspektif dan pikirain anda tentang pilkada, politik, atau pun issue issue lainnya hanya di PO!
Ps: Penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya pada pihak pihak yang telah memberi kesempatan pada penulis untuk naik kelas dari menebeng di Kijang Biru Langit B 8604 G dan untuk pertama kalinya mendapat kesempatan pindah ke Murano Orange B 8120 V. Thank You Bos Besar






19 Comments: