Articles

Wimar Witoelar, Si Tukang Protes (2/3)

Femina
23 March 2000

Tak lama setelah resmi menjadi mahasiswa ITB jurusan elektro, 1963, Wimar bergabung dalam Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB). Pada masa-masa itu memang tengah menjamur berbagai organisasi kemahasiswaan. Ada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia, onderbouw PKI), dan sebagainya. "Saya memilih PMB karena organisasi itu netral," tutur Wimar yang sejak awal enggan terlibat dalam 'perang tanding' antar ideologi, agama, atau kedaerahan.

Saat menjalani masa perpeloncoan di PMB, ia didaulat menjadi 'Jenderal Plonco'. "Mungkin karena badan saya paling gendut. Rambut saya diacak-acak. Saya dijadikan jenderal buat lucu-lucuan aja," katanya, terkekeh. Lewat PMB pula ia kemudian menjalin persahabatan dengan beberapa mahasiswa ITB - yang tetap langgeng hingga kini - antara lain Sarwono Kusumaatmadja (kini Menteri Eksplorasi Kelautan dan Perikanan), Arifin Panigoro (pengusaha), dan Jhonny Saleh (mantan atlet terjun payung, kini pengusaha). Rachmat Witoelar, Erna Anastasia (setelah menikah dengan Rachmat dikenal dengan nama Erna Witoelar, sekarang Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah), dan Ginanjar Kartasasmita juga anggota PMB.

Saat itu, suasana politik belum terlalu panas, meski sudah terlihat bahwa pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) makin kuat. Di kampus-kampus, termasuk ITB, CGMI juga makin agresif merekrut anggota. Para anggota PMB yang netral jelas tidak sesibuk para anggota CGMI yang terkenal revolusioner. "Di sela-sela diskusi, kami masih sempat pesta dan dansa-dansi, juga pacaran, meski saya tetap saja nggak pernah kebagian cewek...," ujar Wimar terkekeh. Karena tak kunjung dapat cewek itu pula Wima rmengasyikan diri dengan main tenis bersama Rachmat, Sarwono, Jhonny, dan beberapa teman lain.

Pada awalnya, Wimar menjadi aktivis hanya karena terbawa oleh suasana. Pasalnya, hampir semua warga kampus Ganesha (yang kebanyakan laki-laki) waktu itu aktif berorganisasi sekaligus berpolitik. Sebagai kelompok intelektual yang saat itu jumlahnya masih terbatas, posisi mahasiswa memang sedang naik daun. Tapi, walau tadinya hanya ikut-ikutan, lama-kelamaan Wimar dapat merasakan manfaatnya. Bakat bicaranya yang sejak kecil sudah kelihatan, makin terasah.

"Gaya bicaranya dari dulu, ya, tetap begitu. Bebas, spontan, lugas, agak agresif, cerdas, dan berani, termasuk berani bilang 'tidak' sementara semua orang bilang 'ya', sejauh itu merupakan keyakinannya," komentar Rachmat yang sangat mengenal karakter adiknya.

Tak heran bila pada tahun 1965 Wimar terpilih sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) Komisariat ITB mewakili PMB. Pada tahun 1966, beberapa bulan setelah pecahnya G30S/PKI, Wimar sibuk memimpin apel-apel siaga dan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa ITB untuk mengganyang sisa-sisa kekuatan PKI. Bersama KAMI, ia juga ikut memperjuangkan Tritura. "Waktu itu, semua orang sudah muak dengan komunis, pada Bung Karno, dan pada pemerintahan Orde Lama. Tak heran kalau kami mendapat dukungan penuh dari rakyat," kenang Wimar, seperti yang tertulis dalam buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

Ia juga ikut memimpin misi Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) mahasiswa ITB ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, yang bertujuan memasyarakatkan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Ia ikut berpidato di berbagai tempat, termasuk di Denpasar. "Misi ke Jatim dan Bali memang penuh dengan tantangan. Soalnya mayoritas penduduknya adalah pendukung fanatik Bung Karno. Awalnya mereka menuduh bahwa aksi-aksi mahasiswa itu bertujuan mendongkel Bung Karno. Untunglah akhirnya mereka bisa diyakinkan," tambah Wimar yang bersama rombongan misinya malah diundang menghadiri upacara keagamaan untuk 'membersihkan' Pulau Bali dari sisa-sisa PKI di Pura Besakih.

Makin asyik berpolitik di kampus, pada tahun 1968 Wimar tepilih sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa ITB, atau MPR-nya mahasiswa ITB. sementara sahabatnya, Sarwono Kusumaatmadja, terpilih jadi Ketua dewan Mahasiswa ITB. Saat itu, duet Wimar-Sarwono begitu poplernya, sampai-sampai keduanya sering dijadikan sumber berita oleh media massa. Di tahun yang sama, Wimar terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB (periode 1968-1969) menggantikan Sarwono. "Inilah puncak karier saya dalam kepimpinan mahasiswa," kata Wimar dengan bangga.

Cinta Bersemi di Perjalanan

Kegiatan di kampus boleh padat, teman boleh banyak, tapi semua itu tak mengganggu kekompakannya dengan sang kakak. Mereka masih tidur sekamar, meski di rumah yang mereka tinggali di Bandung terdapat beberapa kamar kosong. Ke mana-mana, termasuk ke kampus, mereka boncengan berdua naik skuter. "Kami sering diketawain teman-teman," kata Wimar mengenang.

Bahkan, Rachmat juga tak keberatan adiknya ikut menemaninya saat pacaran dengan Erna. Waktu itu, skuter sudah diganti dengan mobil Fiat tua. "Kalau Kang Rachmat mau nonton dengan Erna, saya biasanya diajak. Herannya, saya, kok, mau saja. Bahkan saya suka ngajak lagi Sarwono atau teman yang lain. Jadi, Kang Rachmat pacarannya selalu ramai-ramai."

Sebagai mahsiswa arsitektur yang hampir lulus, Rachmat sudah bisa mencari uang sendiri. Kalau uang kuliah Wimar masih ditanggung oleh orang tuanya, maka uang jajannya ditanggung oleh Rachmat. "Tapi, uang pemberian Kang Rachmat itu saya anggap sebagai utang, yang suatu waktu -entah kapan- harus saya lunasi. Dan, untuk hal itu saya ingin bersikap zakelijk pada diri sendiri. Saya bahkan pernah buku kecil yang mencatat uang yang pernah saya terima dari Kang Rachmat," tutur Wimar.

Dalam pandang politik, kakak beradik itu juga kompak. sperti halnya Rachmat, Wimar saat itu juga mendukung sepenuhnya pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto. "Waktu itu 'kan Soeharto masih 'lurus' dan masih mau mendengar pendapat orang banyak," ujar Wimar. Keduanya juga bisa dikatakan ikut berperan dalam berdirinya Golongan Karya (Golkar), organisasi yang mendukung Orde Baru.

Karena terlalu asyik main politik, studi Wimar jadi tak selesai-selesai. Sepanjang masa demo-demo itu, perkuliahan memang macet, tapi cuma sekitar 18 bulan. Selanjutnya lancar kembali.

Tidak demikian dengan Wimar. Tiap hari dia memang nongol di kampus, tapi bukan untuk kuliah, melainkan cuma nongkrong di student center untuk rapat ini-itu. Kalau tidak ke kampus, ia nongkrong di rumah Arifin Panigoro yang saat itu sering dijadikan tempat mangkal para anggota PMB.

Sebagai Ketua DM ITB, ia juga sering dikirim kemana-mana untuk menghadiri berbagai pertemuan dengan wakil-wakil mahasiswa dariperguruan tinggi lain. Dari pertemuan-pertemuan itu pula ia berkenalan (sebagian malah menjadi sahabatnya) dengan tokoh-tokoh mahasiswa Angakatan '66 lain, seperti Abdul Gafur, Cosmas Batubara, Marsilam Simanjuntak dan sebagainya.

Meski namanya sudah ngetop di ITB, bahkan juga di Bandung, dalam urusan cewek Wimar mengaku tetap masih kurang beruntung. "Anggota cewek di PMB termasuk banyak, bahkan terkenal cantik-cantik dibanding organisasi-organisasi mahasiswa yang lain. Tapi, saya tetap nggak kebagian, tuh. Kalau yang lain datang dengan teman-teman pasangan, saya datang dengan teman-teman lelaki. Yang lain asyik berdansa, saya cuma ngobrol. Padahal, saya laki-laki romantis, lho," ujar Wimar sambil terkekeh.

Tapi, menurut Jhonny Saleh yang pernah mendampingi Wimar dan Sarwono melawat ke sejumlah negara ASEAN selama tiga minggu untuk mengikuti program ASEUS (Association of South East Asia University Students), sebetulnya ada juga beberapa cewek yang mendekati Wimar.

"Dia (Wimar) saja yang nggak pernah menyadarinya, mungkin karena terlalu sibuk ngurusin politik. Tapi, seingat saya, dia perbah 'berkompetisi' dengan Sarwono 'memperebutkan' seorang mahasiswi ITB asal Kawanua yang cantik dan mungil. Tapi, rupanya Sarwono yang ngejarnya lebih agresifm sehingga dia yang dapat, ha...ha...ha...," kisah Jhonny. Kini, si cantik dari Kawanua itu menjadi istri Sarwono Kusumaatmadja. Ketika kisah ini dikonfirmasikan kepada Wimar, yang bersangkutan hanya terkekeh. "Ah, bisa aja si Johnny...," komentarnya.

Pada tahun 1969, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengundang sejumlah pimpinan mahasiswa se Asia Pasifik untuk melawat ke AS selama dua bulan. Wimar yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB diutus mewakili mahasiswa Indonesia. Di AS, para pimpinan mahasiswa diajak berkeliling ke beberapa negara bagian, anatar lain ke Washington, Taxas, San Fransisco, New York, Hawaii, bahkan Alaska. Kegiatan mereka antara lain melakukan tur ke Gedung Putih, meninjau Kongres, mengunjungi Wali Kota, berdiskusi dengan Dewan Mahasiswa setempat, dan sebagainya. "Istilah kerennya, berwisata politik, meski di sana kami juga jalan-jalan dan pelesir, termasuk...nonton striptease," cerita Wimar, tertawa.

Tentunya juga sembari berkenalan dengan gadis-gadis setempat. "Saya, sih, memang tidak berniat cari pacar. Tapi, terus terang saat itu saya ngiri juga pada teman yang dari Australia. Setiap kali mengunjungi suatu tempat, dia pasti dapet cewek. Habis dia ganteng, sih," tambahnya sambil tergelak.

Tak disangka, meski mengaku tak berniat cari pacar, justru lewat program itulah ia mengenal seorang gadis bernama Suvatchara Leeaphon, yang kemudian menjadi pacar dan kemudian resmi menjadi istrinya. Gadis itu merupakan wakil mahasiswa dari Thailand, seorang calon dokter dari Chulalongkorn University di Bangkok.

Dua bulan penuh selalu runtang-runtung bersama selama di AS, rupanya menumbuhkan benih-benih cinta di hati Wimar dan Suvat, begitu Suvatchara biasa dipanggil. "Entah kapan dan bagaimana mulainya, saya juga tidak terlalu menyadarinya. Tahu-tahu kami sudah saling jatuh cinta," kata Suvat saat ditemui femina di rumah mereka, di Jalan Madrasah, Cipete Jakarta Selatan, dengan wajah agak tersipu.

Seperti halnya Suvat, Wimar juga tidak menyadari kapan persisnya ia jatuh hati pada gadis bertubuh mungil, berkulit kuning bersih, dan berambut hitam panjang itu. "Bisa dibilang, kami jarang berdua-duaan. Selalu beramai-ramai dengan yang lain. Jadi, kapan, ya, persisnya saya mulai senang sama dia?" Wimar balik bertanya.

Yang pasti, sejak awal Suvat sudah senang bergaul dan bicara dengan Wimar. "Dia cerdas dan lucu. Kalau ada dia, suasana jadi gembira," Suvat mengakui. Sedangkan bagi Wimar, Suvat adalag gadis yang cerdas dan mandiri, juga tidak banyak tingkah. "Dia jauh lebih mandiri. Nggak seperti saya yang rada sulit berpisah dari keluarga," tambah Wimar.

'Bayar Utang' di Washington

Setelah program selesai, dalam perjalanan pulang ke Indonesia, Wimar mampir ke Bangkook. Ia sempat diperkenalkan kepada orang tua Suvat. Saat itu pula, keduanya membuat komitmen untuk menikah, tapi dengan syarat: Suvat ingin lihat dulu keadaan Indonesia, karena di negara itulah ia kelak harus tinggal. Kalau mendengan berita-berita tentang kondisi keamanan di Indonesia saat itu, wajar saja kalau gadis Thailand itu agak waswas.

Setelah kembali ke negara masing-masing, Wimar dan Suvat sepakat untuk melanjutkan hubungan lewat surat. Kendati begitu, masih ada sesuatu yang mengganjal perasaan Wimar. Kuliah yang dijalaninya selama hampir tujuh tahun, tak kunjung selesai. Ia bukan saja sering bolos kuliah, tapi juga bolos ujian.

"Lagi pula, sebenarnya saya tidak terlalu suka kuliah di elektro. Pelajarannya susah. Saya masuk ke situ 'kan untuk gaya-gayaan saja. disuruh betulin radio saja saya nggak bisa. Bisanya cuma ngitung rekening listrik, ha...ha...ha..." Padahal, Suvat -anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, berasal dari keluarga intelektual dan berada- sudah dipastikan akan jadi dokter dalam waktu dekat.

Merasa stres, begitu pulang ke Indonesia Wimar langsung curhat kepada ibunya. Sebagai Ibu yang demokrat, Toti setuju-setuju saja dengan pilihan anaknya, bahkan dengan senang hati mengundang Suvat ke Jakarta untuk berkenalan. Tapi, bagaimana dengan kelanjutan studi Wimar?

Akhirnya, Wimar menghadap Rektor (waktu itu dijabat oleh Prof.Dr.Dodi Tisna Amidjaja). Prof.Dodi mengatakan,"Kalau kamu tetap disini, kuliahmy pasti tidak akan selesai. Tapi, saya rasa kamu tidak terlalu bodoh, jadi saya bersedia memberi anda rekomendasi supaya kamu mendapat beasiswa ke luar negeri."

Akhirnya, Wimar memang berhasil mendapat setumpuk rekomendasi dari berbagai pihak. "Semua orang memberi rekomendasi. Mungkin supaya cepat-cepat pergi dari ITB...", kata Wimar sambil tertawa. Akhirnya ia berhasil juga mendapat beasiswa dari Asia Foundation untuk melanjutkan kuliah di George Washington University, di Washington DC.

Suvat berkunjung ke Jakarta beberapa bulan sebelum Wimar berangkat ke Washington. Dengan penuh kerinduan, Wimar menyiapkan penyambutan khusus buat sang buah hati. Sepasang cincin polos pertunangan sudah siap di kantongnya. Menurut Wimar, cincin itu dibeli dengan duit pinjaman temannya, Rachmat Toleng. Selanjutnya, Wimar meminjam mobil kakaknya untuk menjemput Suvat ke Bandara Halim Perdanakusumah. Dalam perjalanan pulang, di tengah keramaian jalan Sudirman, Wimar sengaja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, khusus untuk memasukan cincin tunangan ke jari manis kekasihnya...

Di rumah orang tua Wimar di Jakarta itu pula pertunangan Wimar dan Suvat dirayakan dengan sederhana. Selain pihak keluarga, hanya ada tiga orang teman dekat Wimar yang hadir, yaitu Sjahrir (kini Dr.Sjahrir), Dorojatun Kuntjoro Jakti (kini Dubes RI di AS), dan Yanti Subianto. Selanjutnya, Wimar berangkat ke Bangkok. Pada tanggal 27 Februari 1971, tak sampai setahun setelah pertemuan pertama, bertempat di gedung Kedutaan RI di Bangkok, kedua sejoli itu meresmikan pernikahan mereka.

Setelah menikah, keduanya berangkat ke Washington DC. Wimar melanjutkan kuliahnya di George Washington University, mengambil bidang yang sama, yaitu teknik elektro. Suvat yang saat itu sudah meraih gelar dokter, mengambil spesialiasi saraf di universitas yang sama.

Sewaktu masih di ITB, Wimar kuliah tujuh tahun tapi tak kunjung selesai. Di Amerika, mungkin karena beban tanggungjawab sebagai penerima beasiswa, Wimar berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu satu setengah tahun saja. Bahkan, karena berhasil mengantongi banyak nilai A, ia termasuk sebagai salah satu mahasiswa kehormatan. "Jadi, saya sebenarnya nggak bodo-bodo amat, kan?" katanya.

Di kampus yang sama, Wimar melanjutkan kuliah di bidang Analisis Sistem untuk meraih gelar MS (1974), dan pada tahun selanjutnya, 1975, ia kembali meraih gelar MBA, kali ini untuk bidang Keuangan dan Penanaman Modal.

Sebagai pasangan muda, kehidupan Wimar dan Suvat di Washington DC memang dipenuhi kerja keras. Setelah mendapat sertifikat sebagai dokter spesialis saraf, Suvat berpraktek di rumah sakit setempat. Adapun Wimar, di luar jadwal kuliah ia melakukan berbagai kerja sampingan (program beasiswa mengizinkan hal itu dalam batas-batas tertentu), antara lain sebagai pemandu acara Laporan dari Amerika yang waktu itu secara rutin disiarkan di TVRI. Acara ini adalah hasil kerja sama antara Kedutaan Besar RI di AS dan USIS (United States Information Service).

Hasil kerja sampingan inilah yang kemudian ditabungnya. Sebagian untuk membayar lunas utang-utangnya kepada sang kakak. sebagian lagi juga disetorkan kepada Rachmat, tapi untuk dijadikan modal membangun rumah di Bandung. Wimar memang berniat tinggal di Bandung setelah kembali dari Amerika.

Meski sama-sama sudah menikah dan terpisah jauh oleh jarak, kekompakan Wimar dan Rachmat tak pernah terganggu. Selain saling berkirim surat dan menelepon secara rutin, Rachmat selalu menyempatkan diri menengok adiknya ke Amerika. Selama empat tahun Wimar tinggal di Amerika, setidaknya sudah empat kali Rachmat berkunjung. "Kebetulan saya ada urusan di sana. Selain itu, saya memang kangen sama dia...", kata Rachmat agak tersipu.

Print article only

3 Comments:

  1. From muhamad khadafi on 31 August 2006 18:07:50 WIB
    saya tidak begitu mengenal bapak tapi saya suka gaya bapak yang ceplos2,mudah2an begitu ada kesempatan kami ke jakarta bapak berkenan meluangkan waktunya untuk bertemu delegasi mahasiswa padang,salam revolusi
  2. From Firman on 25 September 2006 00:00:12 WIB
    Pak WW, katanya ngak senang dengan jurusan elektro di ITB, tapi kok malah ambil jurusan elektro lagi di AS?
  3. From aviator on 05 May 2007 22:54:36 WIB
    saluuut dengan semangat bpk ww

« Home