Dari Makassar, pandangan mata di balik dan di depan layar
Perspektif Online
12 December 2005
Oleh Astrid
Sabtu (10/12) merupakan hari puncak kegiatan Wimar menyapa masyarakat Makassar secara langsung bertatap muka. Seperti kegiatan pagi pada umumnya, tim Perspektif Baru mengawali hari dengan sarapan di hotel. Wimar bahkan menyempatkan diri berenang demi menjaga stamina tubuh. Seusai sarapan, Wimar mewawancarai Hamid Paddu, seorang ekonom dan dosen Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengenai ketidaksetaraan dalam desentralisasi. Sementara itu, sebagian tim menjemput tim kedua Perspektif Baru di Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Lengkaplah tim peluncuran buku di Makassar.
Siang hari, acara di hotel diisi dengan menyantap makanan khas Sulawesi dari RM Woku-Woku. Tetapi kali ini kami menghindari menu ikan karena pada malam harinya kami kembali diundang oleh Triyatni menikmati masakan ikan khas Makassar.
Beberapa jam menjelang acara peluncuran, tim PB bersama tim Gramedia melakukan persiapan-persiapan di toko buku Gramedia Mal Ratu Indah (MaRI). Banner besar berdiri kokoh di depan toko, membuat pengunjung MaRI tergerak untuk masuk ke Gramedia.
Sekitar pukul 16.00 WITA, rekan-rekan media dan tamu acara mulai berdatangan. Meskipun kursi-kursi yang disediakan belum terisi penuh, tetapi keramaian sudah terlihat di dalam Gramedia. Sesuai dengan jadwal acara, tepat pukul 17.00 WITA, MC dari Gramedia membuka acara dan memanggil Wimar dan Triyatni Martosenjoyo. Triyatni yang adalah kawan lama Perspektif, kebetulan memiliki kapasitas yang pas untuk menjadi tamu acara itu.
Acara dilanjutkan dengan penjelasan Wimar mengenai sejarah Perspektif Baru dan profil Yayasan Perspektif Baru serta Konrad Adenauer Stiftung (KAS). Dijelaskan pula mengenai website Perspektif Online dan Perspektif Baru oleh Satya Witoelar selaku web masternya.
Sesi tanya-jawab menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang ingin berbincang-bincang dengan WW. Sama seperti talk show di radio SPFM sehari sebelumnya (9/12), pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat beragam. Antara lain: mengapa memilih kota Makassar sebagai tempat peluncuran buku, mengapa WW tidak lagi tampak se-nyali dulu di era pemerintahan Gus Dur, apa komentar WW mengenai ICMI dan mengapa WW sudah lama tidak muncul di TV. Hampir seluruh penanya menyatakan kerinduan mereka akan kehadiran WW di layar TV. Jawaban-jawaban sopan, tegas dan bijaksana keluar dengan lancar dari mulut WW. Kadang Triyatni turut mengomentari jawaban-jawaban WW sehingga acara berlangsung tidak membosankan. Apalagi ada hadiah buku dan souvenir dari Perspektif Baru yang dibagikan untuk penanya. Jatah hadiah yang awalnya dibatasi untuk 8 orang, terpaksa ditambah menjadi 11 hadiah, karena banyaknya penanya.
Tak kalah menarik adalah sesi book signing dan foto bareng Wimar. Para pengunjung terlihat sangat antusias akan momen tersebut. Dalam hitungan detik, meja Wimar penuh oleh penggemarnya. Mereka benar-benar menggunakan kesempatan untuk melakukan kopi darat. Wimar pun menanggapi dengan semangat.
Acara peluncuran berjalan dengan sukses hingga pukul 18.30 WITA. Semua tim yang terlibat sangat puas dan senang meskipun lelah. Sungguh merupakan kerja sama tim yang sangat baik antara Yayasan Perspektif Baru dan Gramedia. Bravo!




9 Comments: