Articles

Kamar Mandi

Djakarta
07 June 2005

Satu hari saya cari toilet ketika sedang berlangsung kongres internasional yang besar di hotal bingtang 6 di Nusa Dua Bali. Pas mau masuk, dihalangi oleh seorang pria tinggi tegap. Paspampres lagi, Pasukan Pengamanan Presiden. “Maaf Pak, toilet pria tidak bisa dipakai. Sekarang dalam keadaan steril, siap dipakai Presiden.”

Wah. Memang di ruang Sidang, Presiden sedang memberi sambutan. Dan seluruh kondisi hotel dipasang pada format top security.

“Jadi kalau Bapak ingin ke belakang, silakan pakai toilet wanita.”

Wah, masak sih. Tapi Bapak Paspampres itu jelas bukan orang yang suka main-main. Dia serius, menunjuk dengan sopan pada tanda boneka yang bernuansa perempuan. Masuklah si WW ke toilet wanita, untuk pertama kalinya seumur hidup. Menyimpang sebentar: seorang pemuda mengatakan, dulu dia sering masuk toilet wanita waktu kecil, dibawa oleh ibunya. Entah kenapa, saya nggak pernah mengalami. Barangkali saya waktu kecil tidak pernah diajak ke tempat yang punya toilet terpisah.

Memang asyik pengalaman masuk ke tempat yang belum pernah kita masuki sebelumnya. Teringat kata-kata “Star Trek” yang memanggil kita; "to boldly go where no man has gone before.” Ada apa gerangan di balik sekian banyak pintu misterius itu?

Ternyata, nggak ada apa-apa. Ruangannya biasa-biasa saja, ada wastafel, cermin, alat-alat. Malah perlengkapan utamanya kurang dari toilet pria, karena rupanya orang harus masuk ke kios-kios kecil untuk melaksanakan urusannya, seperti masuk ruang ATM tapi tidak perlu kartu.

Baru setelah urusan saya selesai, terasa ruangan itu beda dengan yang biasa saya datangi. Satu persatu terdengar orang masuk, bunyi kecil-kecil seperti tikus atau burung, bercampur bunyi elektronik dari telpon seluler dan PDA. Makin lama makin keras suara itu karena juga makin banyak orang yang masuk. Mungkin acara di ruang sidang sudah selesai, jadi orang memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke toilet.

Interesting.. tapi bagi saya, menghentakkan juga ketika saya ingat, saya tidak bisa meninggalkan tempat itu tanpa muncul dari kios saya dan masuk ruang utama dimana sekian banyak sedang bertukar suara. Beberapa menit saya menunggu, akhirnya diputuskan untuk menerima keadaan dan mencoba berbuat sebaik mungkin. Pakaian dirapihkan, pintu dibuka, dan saya melangkah dengan yakin ke ruang utama.

“Waaaaaw…” campuran suara dari alto sampai soprano berpekik di ruang sempit itu. “Wiiiiiiiiiiii…..” sampai saya salah tingkah, dan mencoba mengatasinya dengan menjelaskan dengan mengatakan: “Saya disuruh masuk kesini oleh Pasukan Pengamanan Presiden…..” tapi mereka kelihatan tidak mengerti, dan saling berucap: “What’s he saying? What does he want? Weeeiird… I’m getting out of here!!!”

Saya sadar mereka sebagian besar bukan orang Indonesia, karena itu kongres internasional, banyak orang serupa kita tapi orang Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia….. Saya mempercepat langkah keluar, malah lebih menimbulkan keonaran, karena mereka berpikir data bersikap agresif.

Yah, akhirnya saya bernafas bebas diluar, dan tidak berpikir lagi bahwa kamar mandi wanita adalah semacam ruang di kahyangan dimana para wanita cantik gemulai beterbangan dengan pakaian minim. Biasanya aja, malah ketakutan dan marah-marah.

Kamar mandi mengubah tingkat orang. Kalau saya ketemu para perempuan itu di bus kota atau di lobby bioskop, mereka tidak akan ribut kalaupun saya hanya satu-satunya pria. Tapi karena pria mencurigakan ini tertangkap dikamar mandi, maka panik menjalar. Konteks juga perlu, sebab sering di toilet pria, saya ketemu perempuan satu orang, tapi tidak ada yang bereaksi karena dia membawa ember dan kain pel. Mungkin kalau saya membawa ember dan kain pel, para wanita internasional itu tenang.

Print article only

0 Comments:

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home