Articles

Kejenakaan Pak Wewe yang Selalu Dirindukan

https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20210520/Kejenakaan-Pa
03 June 2021

Telepon itu datang sehabis salat Subuh. Wimar Witoelar diundang ke Istana Negara bertemu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di awal tahun 2000 itu. Pria yang kerap dipanggil dengan sapaan “Wewe”—akronim dari namanya, WW—tersebut diajak ngobrol Gus Dur sambil jalan kaki pagi hari mengitari kompleks Istana.

 

Tak lama kemudian, Istana mengumumkan penunjukan Wimar bersama Yahya Cholil Staquf (sekarang Katib Aam Syuriah PBNU) dan Adhie Massardi sebagai Juru Bicara Presiden. Sebelumnya, Gus Dur sudah memiliki Jubir sekaligus Kepala Protokol Istana, Wahyu Muryadi.

 

Keempat orang inilah yang menjadi ujung tombak Gus Dur. Wimar bersama Kepala Biro Pers dan Media Massa, Dharmawan Ronodipuro, dipercaya untuk mengurusi media massa luar negeri. Staquf dipercaya untuk mengurusi masalah politik, keagamaan, dan pesantren.

 

Adhie Massardi dipercaya mengurusi masalah sosial dan budaya. Sementara, Wahyu mengurusi agenda acara, perjalanan, dan undangan Gus Dur. Mereka memiliki tugas-tugas dan pekerjaan yang jelas dan saling berbenturan.

 

“Kami saling mengisi dan melengkapi saja. Ibarat pemain bola pro, kalau bola dioper pasti yakin ada kolega jubir yang ambil dan dribbling. Bagi tugas, karena daya tampung intelektual Gus Dur yang luar biasa. Teman-temannya sangat banyak dari segala lapisan masyarakat,” ungkap Wahyu kepada detikX, Kamis, 20 Mei 2021.

 

Wimar, yang memiliki perusahaan di bidang komunikasi, Intermatrix Communications (IMX), dinilai sangat profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai Jubir Gus Dur. Pesan penting Gus Dur disampaikan Wimar kepada masyarakat lewat media massa nasional dan internasional.

 

Wahyu mengenang, Wimar sangat menguasai masalah, jernih dalam memberi pernyataan, artikulatif, dan kadang diselipi humor yang menyegarkan tanpa kehilangan esensi pembicaraan. “Setiap pernyataan Wewe sebagai Jubir tak pernah menimbulkan riak reaksi berlebihan dari publik, tapi bikin adem dalam situasi politik panas pada waktu itu,” kenang Wahyu.

 

Pak Wewe perannya besar dalam memberikan pemahaman internasional tentang posisi pemerintah Gus Dur yang menginginkan ada rekonsiliasi, yang menginginkan proses demokrasi berjalan dengan baik di Indonesia."

Selain berteman cukup lama, Wimar dan Gus Dur dikenal sama-sama memiliki hobi makan atau gastronom. Keduanya sangat paham tempat-tempat kuliner yang menyajikan makanan enak dan unik. Wahyu mengaku paling sering dihubungi Wimar ketika akan menemani Gus Dur kunjungan kerja menumpang pesawat.

 

“Bung Wahyu, bolehkah saya dapat kebijaksanaan? Maksudnya, Pak Wimar? Saya kan dijatah naik kelas ekonomi. Bolehkah atas dasar kemanusiaan di-upgrade ke kelas bisnis? Maksudnya? Saya kalau duduk di kelas ekonomi kagak bisa nafas, badan kegencet, kesempitan… ha-ha-ha,” cerita Wahyu.

 

Di mata keluarga Gus Dur pun, Wimar yang kelahiran Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945, dikenal sebagai sosok yang humoris, jenaka, polos dan ceplas-ceplos dalam menyampaikan pendapatnya. Kejenakaan Wimar itu pula yang membuatnya dekat dengan Gus Dur.

 

“Sosok yang jenaka, spesialis, sosok yang penuh akan komitmen berjuang bagi kebaikan, bagi masyarakat banyak, tetapi beliau menyampaikan dengan humor dengan ceplas-ceplos, itulah yang membuat Pak Wewe dengan Gus Dur menjadi akrab,” kata putri sulung Gus Dur, Yenny Wahid.

 

Yenny terkesan pada sosok Wimar ketika menjadi jubir Gus Dur. Ia menilai Wimar mampu memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat internasional terkait sikap pemerintahan Gus Dur usai referendum di Timor Timur (kini Timor Leste) saat kunjungan ke Australia. Di tengah masih banyaknya kecaman, terutama dari pihak Australia, peran Wimar sangat penting, terutama terkait upaya rekonsiliasi yang dilakukan pemerintah.

 

“Itu Pak Wewe perannya besar dalam memberikan pemahaman internasional tentang posisi pemerintah Gus Dur yang menginginkan ada rekonsiliasi, yang menginginkan proses demokrasi berjalan dengan baik di Indonesia, itu peran Wewe sangat instrumental sekali,” terang Yenny.

 

Wimar, yang memiliki nama lengkap Wimar Witoelar Kartaadipoetra kini telah wafat di usianya yang ke-75 pada Rabu, 19 Mei 2021. Sebelum meninggal, ia diketahui sudah lama menderita sakit Sepsis. Wimar meninggal dunia ketika tengah menjalani perawatan di ICU Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, pukul 09.00 WIB.

 

Adik kandung Rachmat Witoelar dan adik iparnya, Erna Witoelar, mengatakan, selain jenaka, Wimar dikenal sangat vokal ketika menjadi aktivis mahasiswa. Wimar menghabiskan masa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1963. Wimar pernah menjabat sebagai Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Komisariat ITB pasca meletusnya gerakan G30S tahun 1965.Wimar muda sibuk memimpin apel siaga dan aksi demonstrasi mahasiswa ganyang PKI. Ia terpilih sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa ITB dan Ketua Umum Dewan Mahasiswa ITB antara tahun 1968-1969.

 

Ia lantas melanjutkan pendidikan ke George Washington University, Amerika Serikat. Ia sempat menjadi dosen di almamaternya pada 1975-1981. Ia mulai dikenal secara luas setelah mengisi acara bincang-bincang televisi bernama ‘Perspektif’ di SCTV sejak 19 Maret 1994. Setelah 70 episode, program itu ditutup 16 September 1996.

 

Banyak yang menduga, penutupan program itu Wimar terlalu keras mengkritik pemerintah Presiden Soeharto. Dua wawancaranya dengan Benjamin Mangkudilaga (saat itu Hakim Ketua PTUN kasus majalah Tempo) dan Gus Dur tak ditayangkan.

 

Setelah dua tahun kemudian, Wimar kembali mengudara melalui program bincang-bincang ‘Selayang Pandang’ di Indosiar antara 1997-2000. Setelah tak menjabat sebagai jubir presiden, Wimar kembali terjun secara penuh mengelola IMX. Ia juga masih menjadi Adjunct Professor dalam Jurnalisme dan Hubungan Masyarakat dari Deakin University di Melbourne, Australia.

 

Wimar sepanjang hidupnya telah banyak menulis artikel dan sering dimuat oleh media asing seperti Time, Newsweek, The International Herald Tribune, The New York Times, Wall Street Journal, The Washington Post, The Straits Times, Sydney Morning Herald, dan Australian Financial Review.

 

Selamat jalan, Pak Wewe!

Print article only

0 Comments:

« Home