Articles

Rasisme di Tahun Politik Amerika Serikat


12 July 2020

Oleh: Wimar Witoelar

 

Presiden yang Tidak Simpatik 

 

Pada 25 Mei 2020 terjadi kekejaman dan tragedi di jalanan perumahan di kota Minneapolis, di negara bagian Minneapolis, Amerika Serikat (AS). Seorang bernama George Floyd ditarik dari mobilnya dan tanpa ada tuduhan apa-apa diseret dan dibanting ke permukaan jalan dengan muka menghadap ke bawah, ke jalan. Kemudian lehernya ditekan oleh lutut seorang anggota polisi, sehingga dia tidak bergerak dan merintih merintih memohon dibebaskan dengan mengatakan, “Saya tidak bisa bernafas, Saya tidak bisa bernafas.” Dia juga memanggil ibunya berkali-kali, sedangkan ibunya sudah lama meninggal.

 

Ini menjadi awal dari rentetan kejadian protes oleh warga kulit hitam di AS dan sebagian kecil kulit putih juga karena menjadi contoh pengingat dari tingkah laku polisi yang kejam, tidak memperhatikan kemanusiaan, dan melanggar apa yang dibayangkan sebagai etika polisi. 

 

Hari- hari sesudah kejadian itu menjadi hari penuh aksi, bukan saja di Minneapolis tapi juga di kota-kota besar dimana polisi mempunyai reputasi kurang baik, yang kejam, dan dianggap sering melanggar kode kemanusiaan. Mula-mula di New York City, kemudian Louisville di Los Angeles, Washington, Philadelphia, akhirnya di mana-mana. Bahkan terjadi beberapa demonstrasi di ibu kota negara-negara Eropa yang juga mempunyai pengalaman kurang baik dengan polisi. 

 

Itu karena pimpinan negara, presidennya, tidak melakukan tindakan memberikan penyejukan berarti, permintaan maaf kepada publik, dan bahkan menyalahkan aksi sesudahnya yang sama. Ini berujung pada perusakan dan penjarahan, tapi dalam skala yang jauh lebih kecil dari pada protes kesedihan, dan kemarahan.

 

Donald Trump memang lebih dikenal tidak condong untuk membela minoritas atau kaum tertekan, dan bersimpati seperti orang garis kanan terhadap tindakan keras dari polisi. Bahkan ia menambah panasnya suasana ketika, pertama, tidak memberikan komentar atas peristiwa itu. Sekalinya mengeluarkan komentar kemudian berjalan ke luar Gedung Putih yang sedang dikelilingi masa, dan jalan kaki ke satu gereja di luar Gedung Putih khusus untuk diambil fotonya dalam ritual yang dikenal sebagai photo opportunity. Memang sesuai dengan watak Donald Trump yang senang tampil di foto, televisi, dan mengambil publisitas pribadi tanpa membahas dasar isunya.

 

Ini kemudian membuat orang menyusul kegiatan di Washington itu dengan kegiatan protes susulan. Itu karena kerumunan massa yang diusir dari luar Gedung Putih untuk memberi jalan kepada Donald Trump ke arah photo opportunity  diamankan oleh bukan saja polisi Washington, tapi juga polisi federal, dan national guard yaitu tentara cadangan yang dimiliki berbagai negara bagian.

 

Wali Kota Washington sangat keberatan terhadap tindakan Trump itu. Bahkan jenderal-jenderal ternama yang telah pensiun juga sangat berkeberatan terhadap kurangnya kemanusiaan Donald Trump, dan juga terhadap kurangnya keberpihakan pemerintah pada peristiwa dimana seharusnya simpati diberikan kepada korban kekerasan polisi, dan bukan pada unjuk rasa yang semata-mata menunjukkan sikap dan perasaan. 

 

Tidak kurang dari Jenderal Jim Mattis, mantan menteri pertahanan, mengatakan dia tidak bisa terima tentara digunakan sebagai alat politik oleh Donald Trump. Juga John Kerry, mantan Kepala Staf Gedung Putih, menyampaikan perasaan yang sama. Mark Esper, Menteri Pertahanan aktif, lebih sopan dan lebih terselubung tapi yang jelas dia mengatakan dia tidak mendukung bahkan dia mengatakan dia ikut dalam foto itu tanpa diberitahu apa acaranya.

 

Jadi tidak ada follow up positif terhadap Donald Trump sesudah acara itu. Sekarang belasan hari setelah peristiwa aksi makin lama makin banyak aksi unjuk rasa, terutama karena kita baru weekend. Aksi di Washington merupakan yang terbesar sejak Donald Trump dilantik dimana ada protes dari kaum wanita. Kemudian di Los Angeles, New York, dan di Buffalo ada lagi kejadian lain yang melibatkan kekejaman polisi terhadap warga. 

 

Jadi orang bertanya kemana akhirnya arah dari kejadian ini karena Donald Trump tidak punya dukungan politik. Tidak seperti biasanya. Senator Partai Republik pun ada dua orang yang tidak menyatakan pendapat dan yang lain bungkam. Jadi tidak seperti biasanya Donald Trump tidak kembali kekuatannya setelah melakukan tindakan yang salah itu.

 

 

Rasisme di Politik AS 

 

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Ini berangkaian mulai dari pembunuhan sampai kepada unjuk rasa, kekerasan dan reaksi balik Trump yang berlebih kejam. Tetapi di balik itu juga dasarnya sangat kuat dalam tradisi politik kebudayaan AS, dimana sejarah rasisme itu tidak hilang juga bahkan di masa pemerintahan Trump lebih dipertebal.

 

Rasisme itu bukan hanya ditoleransi oleh pemerintah AS, tapi bahkan diperkuat oleh Trump berkali-kali sejak peristiwa unjuk rasa di Charlottesville pada 2017 sampai komentar - komentar Trump pada ketidakadilan ras, ketidakadilan politik, maupun ekonomi yang diderita oleh kaum minoritas hitam dan minortitas imigran. Tidak pernah kaum minoritas merasa dilanjutkan peningkatan penghargaannya seperti di zaman Obama maupun pemerintahan Bush, Clinton, dan Reagan sebelumnya.

 

Jadi perasaan tertekan secara rasial sudah banyak sekali. Mudah saja bagi suatu contoh eksplisit daripada ketidakadilan alat negara yaitu polisi untuk menyulut ledakan di warga kota besar di AS. Kejadian-kejadian lainnya terjadi sebelum pemerintahan Trump, tetapi pemerintahan Trump tidak melakukan usaha untuk memperkecil kesenggangan yang ada atau disparitas sosial antara golongan hitam dan mayoritas kulit putih, sehingga warga Amerika Serikat terutama yang berkulit hitam frustasi.

 

Dalam sistem politik pun tidak ada gerakan dari politikus pada anggota Kongres atau anggota Senat untuk memajukan penghargaan terhadap kaum minoritas. Ditambah lagi bahwa sikap Trump tidak bersahabat kepada orang yang berpikir berbeda dengan dia dan bahkan langsung memihak pihak yang kuat dan tidak mendukung pihak yang lemah.

 

Kalau kita lihat juga dalam politik luar negeri, dia sangat berpusat pada dirinya sendiri dan merugikan AS dengan sikap yang tidak menghargai peran multilateral yang sudah lama dijalankan AS. Mulai dari sikap yang tidak simpatik pada North Atlantic Treaty Organization (NATO), World Trade Organization (WTO), kepada perjanjian perjanjian luar negeri. 

 

Terakhir dia tidak menghormati World Health Organization (WHO) yang sudah lama menjadi lembaga internasional di bawah PBB yang melaksanakan mandat untuk kesehatan umum. Trump malah mencabut dukungannya terhadap WHO, dan terakhir menyatakan bahwa AS akan keluar dari WHO yang oleh banyak negara dianggap sebagai patokan dalam menjaga kesehatan masyarakat terutama melawan epidemi dan pandemi.

 


Tahun Politik AS

 

Suasana menjadi panas juga karena tahun ini menjadi tahun Pemilihan Presiden AS dimana Trump sangat ingin dipilih kembali. Dia sudah pasti akan dicalonkan oleh Partai Republik. Sedangkan Partai Demokrat sudah mempunyai calon yaitu Joseph Biden yang didukung kuat. Itu karena Biden orang yang bersih yang sejalan pada pemerintahan Obama, dan juga tidak mempunyai sikap anti minoritas walaupun sebagai orang kulit putih.

 

Kalau ditelusuri sejarahnya memang juga tidak terlalu nyata kelihatan dia dulu membela nasib kulit hitam. Karir Joseph Biden sudah lama menjadi politikus, sebelumnya 40 tahun di Senat, dan sebelumnya sudah menjadi politikus pada tingkat negara bagian dan jabatan publik sebelumnya. Tapi dia mempunyai kepercayaan dari orang biasa.

 

Berbeda dengan Trump yang sangat dibenci oleh orang biasa. Tetapi Trump mempunyai dukungan yang kuat kira-kira 30% orang AS. Yang mendukungnya menjadi Presiden rata-rata dari kaum kulit putih dari negara-negara bagian selatan, dan pendidikannya kurang, serta kesulitan mendapatkan tempat dalam perekonomian AS yang sedang tumbuh.

 

Jadi pilihan presiden nanti antara Trump dengan sifatnya yang tidak disukai oleh golongan liberal dan pembela kemanusiaan. Trump merasa bahwa AS harus bangkit sebagai negara yang kuat dan tidak terlalu banyak menitik beratkan aspek-aspek kemanusiaan.

 

Politik luar negeri Trump juga menjadi masalah, dia sempat mengganti Menteri Luar Negerinya dari Rex Tillerson diganti menjadi Mike Pompeo yang sekarang. Di mana Mike Pompeo adalah orang aliran kanan yang mendukung Trump sedangkan Rex Tillerson adalah orang profesional, direksi dari perusahaan besar minyak Exxon Mobil.

 

Kemudian satu per satu orang yang tidak disukainya dipinggirkan dari lingkaran kekuasaan, hingga sekarang Gedung Putih itu isinya hanya orang yang mendukung Trump termasuk menantu Jared Kushner, dan anak perempuannya Ivanka Trump dan orang-orang dari golongan konservatif kanan.

 

Trump juga mengambil simpati dari Evangelists, dari orang pendukung agama. Jadi dia yang  hidupnya tidak bersih dari bermacam skandal dari mulai skandal korupsi sampai skadal seks  tetap mendapat dukungan dari kaum gereja karena mereka itu tidak senang politik liberal dari partai Demokrat dan dari Presiden Obama.

 

Di dalam hubungan luar negeri kekasarannya banyak menimbulkan gesekan dengan pemimpin dunia seperti Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Emmanuel Macron (Prancis), dan Angela Markel (Jerman). Kalau Borris Johnson dari Inggris memang saling mendukung dengan Trump, tapi Inggris adalah demokrasi yang cair jadi belum tentu mayoritas rakyat Inggris itu mendukung Trump.

 

Di luar negeri lain, tentunya Timur Tengah dan kawan-kawan sangat benci pada Trump karena sengaja Trump melakukan provokasi dengan politik yang mengobarkan kebencian dan sangat berpihak kepada Israel. Akibatnya, Israel disudutkan dalam posisi yang terlalu Yahudi sedangkan sebetulnya Israel bukan negara agama tapi negara sekuler. Sekarang hampir tidak kelihatan sekularismenya Israel.

 

Adapun dengan negara berkembang tidak kelihatan. Sebetulnya arahnya Trump hanya meneruskan saja yang sudah ada. Indonesia pun karena tidak terlalu peka terhadap liku-liku perilaku negara mitranya. Untuk Indonesia, asing itu tidak bagus mulai dari China, AS. Jadi rasanya AS tidak memberikan perhatian khusus pada Indonesia. Lagi pula sekarang Kementerian Luar Negeri AS yaitu Department of State boleh dibilang tidak  berperan lagi. Politik AS ini dijalankan oleh Trump dengan orang-orang kepercayaannya secara ad hoc, secara seperlunya. Garis kebijakan lain tidak kelihatan.

 

Indonesia kebetulan belum terkena perubahaannya, kecuali bahwa orang-orangnya Trump  cenderung untuk bermitra dengan orang Indonesia yang tidak bersih, yang terlibat korupsi, berpolitik kekuasaan. Jadi tidak memajukkan masyarkat sipil di Indonesia. Bahkan kalau ada kesempatan sebetulnya menghambat.

 

Juga dalam perjuangan lingkungan, AS meninggalkan perjanjian Paris dimana sebetulnya waktu itu Obama sangat berperan bersama Presiden Jokowi pada 2015. Namun kini AS keluar dari perjanjian Paris. NATO pun yang adalah pakta bersama dan didirikan oleh AS tidak banyak mendapat perhatian positif, bahkan sering mendapat teguran dan dikurangi iuran keuangannya.

 

Singkat kata, multilateralisme di bawah Trump sangat merosot karena memang Trump mengatakan prioritas pada Amerika. Make America Great Again (MAGA) adalah semboyan kampanyenya, padahal AS di bawah Trump bukan menjadi great malah menjadi sangat merosot. Minggu ini AS berada di ujung tanduk. Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya dalam dunia bipolar yang baru yaitu China melawan AS.

Print article only

0 Comments:

« Home