Articles

Babak Kedua COVID-19


12 July 2020

Oleh: Wimar Witoelar

 

 

Babak Kedua Dimulai
Babak kedua sudah hampir mulai. Kalau babak pertama itu adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan yang pertama diberlakukan di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta  sudah berakhir, sekarang sudah diumumkan bahwa PSBB itu diperpanjang sampai 22 Mei 2020. Jadi itu babak kedua. 
Pengertian babak kedua juga bisa lebih luas lagi. Misalnya, Singapore sudah sukses dengan hasil yang baik, ternyata tiba-tiba ada kenaikan tajam. Kenaikan sekarang jauh di atas sebelumnya. Katanya, mungkin karena pendatang atau buruh migran. Pokoknya itu adalah sesuatu yang tidak diperhitungkan, jadi akan ada perpanjangan untuk tindakan-tindakan pengetatan.
Di Amerika Serikat (AS), beberapa negara bagian sudah mendekati akhir babak pertama. Tapi itu tidak dihitung dari hari atau tanggal, melainkan dihitung dari statistik dan angka apakah penambahan kasus baru sudah mulai mendatar grafiknya atau apakah sudah mencapai puncaknya. Jadi kalau begitu maka diperkirakan seperti di New York sudah banyak sekali, tapi sudah merata mulai turun. Jadi mungkin mereka menghadapi suatu fase yang baru yang disebut babak kedua. 
Babak kedua lebih ringan tapi juga harus hati-hati, berjaga-jaga kembalinya pandemi dengan satu pembalasan karena ini seperti orang yang suka ada pembalasan. Jadi babak kedua ini kalau diandaikan menonton balap motor, maka lebih seru karena pembalapnya semuanya berpengalaman, baik virus maupun warga yang melawan virus sudah tambah pengalaman. Jadi kita lihat nanti di babak kedua itu bagaimana kelanjutannya.  
Pemerintah di negara-negara Eropa tidak begitu banyak terdengar di berita. Tetapi AS berisik sekali dan keras sekali seperti Donald Trump dalam menyelesaikan perjuangan melawan pandemi. Bahkan beberapa negara bagian menutup saja batasan-batasan, bahkan kota seperti Las Vegas bisa selisih paham dengan gubernurnya. Gubernurnya juga sering berbeda pendapat dengan presidennya. Tapi memang sudah mulai dinamis
Suasana saja kita tidak bisa yakin apakah akan terus begini saja atau akan mereda untuk kemudian meningkat lagi. Kita lihat saja bagaimana persiapan untuk babak kedua. Yang paling penting adalah dari segi kebijaksanaan menjaga jarak, mengurangi pertemuan orang, atau dengan kata lain memisahkan satu kelompok penduduk dengan kelompok yang lain. 
Ini berarti mudik pasti tidak akan diizinkan. Lain halnya kalau memang ada keperluan pulang. Kalau mudik dengan tujuan untuk pulang kampung dan kembali lagi, maka itu penyebar virus saja. Jadi mudik sebagai kegiatan rutin pulang kampung tidak diizinkan. Kalau ada keperluan khusus dia harus pulang atau dia tidak bisa hidup lagi di Jakarta maka keadaannya berbeda. 
Kita lihat saja bagaimana nantinya. Belum tentu juga semuanya akan tenang tapi kita harapkan orang bisa menjaga ketenangan.
Kapan  Menjadi Normal Kembali
Kita susah menentukan atau memperkirakan, kapan peristiwa-peristiwa yang dianggap normal itu bisa muncul lagi. Apakah itu sekolah, apakah itu shift pabrik, apakah itu toko, dan keramaian lain. Kapan itu semuanya bisa dimulai. Apakah pada akhir tahun ini sudah ada pertandingan sepak bola di stadion, atau apakah sudah ada konser. Mungkin kalau konser masih akan susah untuk ada. Tapi kalau pertandingan sepak bola karena itu bagian dari suatu sistem komersil maka pasti harus mulai. Kalau tidak maka kerugiannya luar biasa, bisa mencapai triliunan dollar di seluruh dunia. Jadi ada segolongan orang yang mulai memperkirakan proyeksi masa depan, bukan meramalkan tapi memperkirakan saja. 
Berdasarkan perhitungan-perhitungan itu maka orang mengatakan bahwa tidak mungkin misalnya orang bisa liburan pada musim dingin 2020, mungkin baru bisa tahun depan. Kalau sudah bicara soal jadwal liburan, lalu pertanyaannya ialah bagaimana dengan penerbangan? Bagaimana harga dan jadwal penerbangan? 
Satu hal yang akan punya banyak pengaruh ke banyak hal adalah perlunya social distancing. Jadi kalau pun kota-kota sudah tidak lagi  lock down, kalau pun orang sudah sampai bebas bergerak di luar, tapi tetap saja harus ada social distancing. Tetap orang harus berada paling dekat sejarak dua meter satu dengan yang lain dan kita harus tetap pakai masker. 
Jadi kehidupan yang kita tahu sekarang itu tidak akan kembali dan tidak tahu kapan akan kembali. Kalaupun kapan-kapan, kita harus siap bahwa keadaan kita nanti akan sangat berubah. Kita tidak akan lagi menjumpai keadaan sebelum COVID-19. Seperti orang yang pergi jauh pulang kampung, ketika ia kembali kampungnya sudah berubah. 
Dalam perubahan tidak kelihatan secara fisik, tapi dalam tatanan sosial akan berubah. Bagaimana orang itu saling menyapa, bagaimana orang mengatur pertemuan-pertemuan seperti biasanya, misalnya orang kerja yang sudah biasa dengan pegawai seribu orang nanti bagaimana. 
Kita kembali pada pembicaraan pesawat terbang. Bagaimana nanti ketika kita tidak bisa duduk satu baris terdapat tiga atau enam atau delapan orang. Kalaupun ada maka pasti penerbangan menjadi tidak ekonomis karena pesawat penerbangan tidak akan mau membawa penumpangnya kalau hanya satu orang satu baris. Seluruh tatanan kita akan berubah karena itu didasarkan pada persinggungan satu sama lain, kedekatan satu sama lain. Jadi itu yang susah. 
Perlunya Tatanan Baru
Sekarang orang-orang sudah mulai pasang kuda-kuda untuk membuat acara sesudah COVID-19. Tentunya orang-orang itu selain tertekan ekonomi, juga jiwa. Versi ringan dari tertekan jiwa adalah stres karena tidak bisa ke mana-mana dan dia kehilangan teman yang biasa ketemu, kehilangan acara-acara, kumpul-kumpul. Jadi hidup menjadi susah. 
Orang yang dewasa secara mental bisa menyesuaikan diri dengan melawan rasa-rasa depresi itu, tetapi tetap saja tekanan mental itu berat. Obatnya tekanan mental adalah mencari suasana baru seperti dengan jalan-jalan. Walaupun jalannya hanya ke mall, mungkin nantinya ke Bandung, ke gunung, atau lebih jauh lagi. Tapi itu salah satu obat yang paling dicari-cari adalah untuk kembali berpergian. 
Tidak mudah mencari kesempatan berpergian setelah COVID-19 selesai karena kita keluar dari COVID-19 ini harus berfase, harus bertahap, tidak bisa “nyemplung” begitu saja, seperti lompat dari pesawat tidak bisa menjatuhkan diri saja kemudian jatuh babak belur di atas tanah. Ini harus dengan alat seperti parasut dengan metodologi seperti biasanya turun dari gedung tinggi yaitu turun tingkat per tingkat, atau jaga cara turunnya, dan juga jaga jarak antara sesama orang yang sedang turun fase dari COVID-19. Itu karena kita tidak mau juga ketularan sambil kita melarikan diri dari COVID-19 ini. 
Semua usaha ini paling cepat bisa dimulai kalau mau aman baru bisa tahun depan. Barangkali untuk nonton pertandingan di stadion yang ramai, nonton konser, atau nonton di bioskop tidak bisa dalam waktu singkat. Pertama, vaksinnya harus ditemukan dahulu yang sampai sekarang vaksin itu belum ditemukan. 
Setelah vaksin ditemukan masih perlu satu tahun atau barangkali 1,5 tahun lagi untuk cara  mengelolanya, mendistribusikannya, menjualnya, mengedukasi orang, dan memilih tempat-tempat untuk diujicobakan vaksinnya. Karena sekaligus penggunaan vaksin itu dicatat untuk kemudian dikumpulkan datanya. Andai kata, semua persiapan itu bisa dilakukan tetap saja banyak hal yang tidak bisa kembali ke normal. 
Misalnya, berlibur. Ini susah kembali ke normal karena kalau naik kereta api berjejal-jejal dan social distancing tidak bisa terlaksana. Kalau naik pesawat udara apalagi karena di pesawat itu udaranya terkurung di satu tempat maka virusnya akan hinggap menularkan sesama penumpangnya. 
Jadi susah dibayangkan seperti apa dunia transportasi dan dunia ekonomi karena sudah banyak sekali kerugian yang diderita oleh penduduk, dan oleh perusahaan-perusahaan transportasi. Ini tidak bisa dengan uang beli tiketnya yang sudah terlanjur dibeli dikembalikan saja oleh perusahaan-perusahaan transportasi tadi. Tentu jawabannya subsidi, tapi subsidi juga cepat habis apalagi di Indonesia.
AS saja sudah sangat berat menanggung subsidi transportasi. Jadi tidak akan kembali ke normal, tidak akan kita bisa jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu melihat-lihat kiri-kanan ketemu masyarakat. Tidak bisa juga kita main ke Bogor, Malang, Surabaya. Nantinya tergantung pakai transportasi apa. Mungkin saja akan ada yang baru yang bisa ditanggung. Mungkin juga suatu ide yang radikal perusahaan transportasi global dengan keuangannya diatur lintas batas. Jadi semua perusahaan internasional dan kerugian bisa diatasi dengan investasi global. Investasi dari negara kuat untuk digunakan di negara lain. 
Tapi itu perlu penataan politik yang berbeda. Yang sekarang tidak akan kembali ke normal. Pikirkan saja apa yang sekarang kita lihat kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang normal. Ke pasar saja pasti tidak normal karena orang tidak boleh berjejal-jejal, berdekatan, kecuali kalau tidak mau tahu maka akan sakit lagi. Jadi kalau berjaga-jaga itu tidak dilakukan, sistem baru tidak diadakan maka bisa saja, tapi penyakit COVID-19 babak kedua dan selanjutnya akan cepat sekali kembali. 
Jadi ingat waktu perang dunia pertama pada 1917 ada wabah yang membunuh orang selama musim semi, kemudian mati puluhan juta orang, kemudian seperti reda, tapi kemudian di tahun itu pada musim gugur wabah itu kembali dengan lebih ganas dan lebih banyak korban. Itu yang terjadi jika orang tidak hati-hati keluar dari COVID-19. 
Mudah-mudahan itu tidak terjadi pada kita. Kita sudah cukup menderita. Tapi itu satu kemungkinan dan itu yang dikhawatirkan pada babak ke-2 dan selanjutnya dari COVID-19 yang luar biasa ini. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk membuat ramalan yang benar, tapi pada prinsipnya ingatlah Social Distancing akan tetap perlu, cuci tangan tetap perlu, keadaan tidak akan kembali normal, orang sekolah juga makin digilir lagi, atau bagaimana supaya kesempatan merata. 
Berarti menjaga kesempatan merata itu memerlukan juga tatanan sosial yang baru. Semua harus baru dan tidak ada yang kembali normal. 

Babak Kedua Dimulai

 

Babak kedua sudah hampir mulai. Kalau babak pertama itu adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan yang pertama diberlakukan di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta  sudah berakhir, sekarang sudah diumumkan bahwa PSBB itu diperpanjang sampai 22 Mei 2020. Jadi itu babak kedua. 

 

Pengertian babak kedua juga bisa lebih luas lagi. Misalnya, Singapore sudah sukses dengan hasil yang baik, ternyata tiba-tiba ada kenaikan tajam. Kenaikan sekarang jauh di atas sebelumnya. Katanya, mungkin karena pendatang atau buruh migran. Pokoknya itu adalah sesuatu yang tidak diperhitungkan, jadi akan ada perpanjangan untuk tindakan-tindakan pengetatan.

 

Di Amerika Serikat (AS), beberapa negara bagian sudah mendekati akhir babak pertama. Tapi itu tidak dihitung dari hari atau tanggal, melainkan dihitung dari statistik dan angka apakah penambahan kasus baru sudah mulai mendatar grafiknya atau apakah sudah mencapai puncaknya. Jadi kalau begitu maka diperkirakan seperti di New York sudah banyak sekali, tapi sudah merata mulai turun. Jadi mungkin mereka menghadapi suatu fase yang baru yang disebut babak kedua. 

 

Babak kedua lebih ringan tapi juga harus hati-hati, berjaga-jaga kembalinya pandemi dengan satu pembalasan karena ini seperti orang yang suka ada pembalasan. Jadi babak kedua ini kalau diandaikan menonton balap motor, maka lebih seru karena pembalapnya semuanya berpengalaman, baik virus maupun warga yang melawan virus sudah tambah pengalaman. Jadi kita lihat nanti di babak kedua itu bagaimana kelanjutannya.  

 

Pemerintah di negara-negara Eropa tidak begitu banyak terdengar di berita. Tetapi AS berisik sekali dan keras sekali seperti Donald Trump dalam menyelesaikan perjuangan melawan pandemi. Bahkan beberapa negara bagian menutup saja batasan-batasan, bahkan kota seperti Las Vegas bisa selisih paham dengan gubernurnya. Gubernurnya juga sering berbeda pendapat dengan presidennya. Tapi memang sudah mulai dinamis

 

Suasana saja kita tidak bisa yakin apakah akan terus begini saja atau akan mereda untuk kemudian meningkat lagi. Kita lihat saja bagaimana persiapan untuk babak kedua. Yang paling penting adalah dari segi kebijaksanaan menjaga jarak, mengurangi pertemuan orang, atau dengan kata lain memisahkan satu kelompok penduduk dengan kelompok yang lain. 

 

Ini berarti mudik pasti tidak akan diizinkan. Lain halnya kalau memang ada keperluan pulang. Kalau mudik dengan tujuan untuk pulang kampung dan kembali lagi, maka itu penyebar virus saja. Jadi mudik sebagai kegiatan rutin pulang kampung tidak diizinkan. Kalau ada keperluan khusus dia harus pulang atau dia tidak bisa hidup lagi di Jakarta maka keadaannya berbeda. 

 

Kita lihat saja bagaimana nantinya. Belum tentu juga semuanya akan tenang tapi kita harapkan orang bisa menjaga ketenangan.

 

 

Kapan  Menjadi Normal Kembali

 

Kita susah menentukan atau memperkirakan, kapan peristiwa-peristiwa yang dianggap normal itu bisa muncul lagi. Apakah itu sekolah, apakah itu shift pabrik, apakah itu toko, dan keramaian lain. Kapan itu semuanya bisa dimulai. Apakah pada akhir tahun ini sudah ada pertandingan sepak bola di stadion, atau apakah sudah ada konser. Mungkin kalau konser masih akan susah untuk ada. Tapi kalau pertandingan sepak bola karena itu bagian dari suatu sistem komersil maka pasti harus mulai. Kalau tidak maka kerugiannya luar biasa, bisa mencapai triliunan dollar di seluruh dunia. Jadi ada segolongan orang yang mulai memperkirakan proyeksi masa depan, bukan meramalkan tapi memperkirakan saja. 

 

Berdasarkan perhitungan-perhitungan itu maka orang mengatakan bahwa tidak mungkin misalnya orang bisa liburan pada musim dingin 2020, mungkin baru bisa tahun depan. Kalau sudah bicara soal jadwal liburan, lalu pertanyaannya ialah bagaimana dengan penerbangan? Bagaimana harga dan jadwal penerbangan? 

 

Satu hal yang akan punya banyak pengaruh ke banyak hal adalah perlunya social distancing. Jadi kalau pun kota-kota sudah tidak lagi  lock down, kalau pun orang sudah sampai bebas bergerak di luar, tapi tetap saja harus ada social distancing. Tetap orang harus berada paling dekat sejarak dua meter satu dengan yang lain dan kita harus tetap pakai masker. 

 

Jadi kehidupan yang kita tahu sekarang itu tidak akan kembali dan tidak tahu kapan akan kembali. Kalaupun kapan-kapan, kita harus siap bahwa keadaan kita nanti akan sangat berubah. Kita tidak akan lagi menjumpai keadaan sebelum COVID-19. Seperti orang yang pergi jauh pulang kampung, ketika ia kembali kampungnya sudah berubah. 

 

Dalam perubahan tidak kelihatan secara fisik, tapi dalam tatanan sosial akan berubah. Bagaimana orang itu saling menyapa, bagaimana orang mengatur pertemuan-pertemuan seperti biasanya, misalnya orang kerja yang sudah biasa dengan pegawai seribu orang nanti bagaimana. 

 

Kita kembali pada pembicaraan pesawat terbang. Bagaimana nanti ketika kita tidak bisa duduk satu baris terdapat tiga atau enam atau delapan orang. Kalaupun ada maka pasti penerbangan menjadi tidak ekonomis karena pesawat penerbangan tidak akan mau membawa penumpangnya kalau hanya satu orang satu baris. Seluruh tatanan kita akan berubah karena itu didasarkan pada persinggungan satu sama lain, kedekatan satu sama lain. Jadi itu yang susah. 

 

 

Perlunya Tatanan Baru

 

Sekarang orang-orang sudah mulai pasang kuda-kuda untuk membuat acara sesudah COVID-19. Tentunya orang-orang itu selain tertekan ekonomi, juga jiwa. Versi ringan dari tertekan jiwa adalah stres karena tidak bisa ke mana-mana dan dia kehilangan teman yang biasa ketemu, kehilangan acara-acara, kumpul-kumpul. Jadi hidup menjadi susah. 

 

Orang yang dewasa secara mental bisa menyesuaikan diri dengan melawan rasa-rasa depresi itu, tetapi tetap saja tekanan mental itu berat. Obatnya tekanan mental adalah mencari suasana baru seperti dengan jalan-jalan. Walaupun jalannya hanya ke mall, mungkin nantinya ke Bandung, ke gunung, atau lebih jauh lagi. Tapi itu salah satu obat yang paling dicari-cari adalah untuk kembali berpergian. 

 

Tidak mudah mencari kesempatan berpergian setelah COVID-19 selesai karena kita keluar dari COVID-19 ini harus berfase, harus bertahap, tidak bisa “nyemplung” begitu saja, seperti lompat dari pesawat tidak bisa menjatuhkan diri saja kemudian jatuh babak belur di atas tanah. Ini harus dengan alat seperti parasut dengan metodologi seperti biasanya turun dari gedung tinggi yaitu turun tingkat per tingkat, atau jaga cara turunnya, dan juga jaga jarak antara sesama orang yang sedang turun fase dari COVID-19. Itu karena kita tidak mau juga ketularan sambil kita melarikan diri dari COVID-19 ini. 

 

Semua usaha ini paling cepat bisa dimulai kalau mau aman baru bisa tahun depan. Barangkali untuk nonton pertandingan di stadion yang ramai, nonton konser, atau nonton di bioskop tidak bisa dalam waktu singkat. Pertama, vaksinnya harus ditemukan dahulu yang sampai sekarang vaksin itu belum ditemukan. 

 

Setelah vaksin ditemukan masih perlu satu tahun atau barangkali 1,5 tahun lagi untuk cara  mengelolanya, mendistribusikannya, menjualnya, mengedukasi orang, dan memilih tempat-tempat untuk diujicobakan vaksinnya. Karena sekaligus penggunaan vaksin itu dicatat untuk kemudian dikumpulkan datanya. Andai kata, semua persiapan itu bisa dilakukan tetap saja banyak hal yang tidak bisa kembali ke normal. 

 

Misalnya, berlibur. Ini susah kembali ke normal karena kalau naik kereta api berjejal-jejal dan social distancing tidak bisa terlaksana. Kalau naik pesawat udara apalagi karena di pesawat itu udaranya terkurung di satu tempat maka virusnya akan hinggap menularkan sesama penumpangnya. 

 

Jadi susah dibayangkan seperti apa dunia transportasi dan dunia ekonomi karena sudah banyak sekali kerugian yang diderita oleh penduduk, dan oleh perusahaan-perusahaan transportasi. Ini tidak bisa dengan uang beli tiketnya yang sudah terlanjur dibeli dikembalikan saja oleh perusahaan-perusahaan transportasi tadi. Tentu jawabannya subsidi, tapi subsidi juga cepat habis apalagi di Indonesia.

 

AS saja sudah sangat berat menanggung subsidi transportasi. Jadi tidak akan kembali ke normal, tidak akan kita bisa jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu melihat-lihat kiri-kanan ketemu masyarakat. Tidak bisa juga kita main ke Bogor, Malang, Surabaya. Nantinya tergantung pakai transportasi apa. Mungkin saja akan ada yang baru yang bisa ditanggung. Mungkin juga suatu ide yang radikal perusahaan transportasi global dengan keuangannya diatur lintas batas. Jadi semua perusahaan internasional dan kerugian bisa diatasi dengan investasi global. Investasi dari negara kuat untuk digunakan di negara lain. 

 

Tapi itu perlu penataan politik yang berbeda. Yang sekarang tidak akan kembali ke normal. Pikirkan saja apa yang sekarang kita lihat kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang normal. Ke pasar saja pasti tidak normal karena orang tidak boleh berjejal-jejal, berdekatan, kecuali kalau tidak mau tahu maka akan sakit lagi. Jadi kalau berjaga-jaga itu tidak dilakukan, sistem baru tidak diadakan maka bisa saja, tapi penyakit COVID-19 babak kedua dan selanjutnya akan cepat sekali kembali. 

 

Jadi ingat waktu perang dunia pertama pada 1917 ada wabah yang membunuh orang selama musim semi, kemudian mati puluhan juta orang, kemudian seperti reda, tapi kemudian di tahun itu pada musim gugur wabah itu kembali dengan lebih ganas dan lebih banyak korban. Itu yang terjadi jika orang tidak hati-hati keluar dari COVID-19. 

 

Mudah-mudahan itu tidak terjadi pada kita. Kita sudah cukup menderita. Tapi itu satu kemungkinan dan itu yang dikhawatirkan pada babak ke-2 dan selanjutnya dari COVID-19 yang luar biasa ini. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk membuat ramalan yang benar, tapi pada prinsipnya ingatlah Social Distancing akan tetap perlu, cuci tangan tetap perlu, keadaan tidak akan kembali normal, orang sekolah juga makin digilir lagi, atau bagaimana supaya kesempatan merata. 

 

Berarti menjaga kesempatan merata itu memerlukan juga tatanan sosial yang baru. Semua harus baru dan tidak ada yang kembali normal. 

 

Print article only

0 Comments:

« Home