Articles

Transisi ke Arah Perbaikan


11 July 2020

Oleh: Wimar Witoelar

 

 

Memulai lagi perekonomian
Banyak orang sudah mulai bicara bagaimana kita menghidupkan kembali perekonomian. Tentunya yang dimaksud kita adalah seluruh dunia, dan yang paling banyak disebut-sebut adalah Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump seperti tidak sabar ingin memulai lagi kehidupan perekonomian, ingin menghidupkan lagi pasar modal, perbankan, konstruksi, angka-angka tenaga kerja, dan sebagainya. 
Jadi ada kesan bahwak kesatu, dia ingin buru-buru. Kedua, ia berbohong. Memang orang sudah harus siap-siap untuk memulai lagi tapi kenyataannya tidak demikian. Menurut sebagian besar ahli, proses itu masih lama dan juga kalau pun terjadi itu bukan masalah kebijaksanaan presiden. Itu karena perekonomian juga tidak dihentikan oleh presiden tapi oleh kenyataan medis di lapangan.
Satu hal lagi, menghidupkan perekonomian tidak seperti menekan saklar lampu. Prosesnya tidak on dan off tapi harus pelan-pelan, dan harus dipikirkan apanya dulu yang dihidupkan, di mana dan bagaimana caranya. World Health Organization (WHO) mengingatkan bahwa suatu pencabutan restriksi yang terlalu cepat akan mempermudah kembalinya COVID-19 ke dalam gelombang yang baru. 
Gelombang pada pandemi kedua harus dihindari. Jadi di sini berlaku betul pepatah Indonesia, “Biar lambat asal selamat.” Belakangan ini khususnya di tingkat dunia lembaga seperti IMF, WHO dan sebagainya melihat bahwa Indonesia termasuk negara yang mungkin bisa aman kembali dari krisis COVID-19 karena ekonominya itu punya daya tahan dan ada harapan recovery yang baik.
Kedua, juga karena masyarakatnya bukan masyarakat yang gampang lepas kendali. Mudah-mudahan ini benar, kadang-kadang kesan kita adalah bahwa masyarakat di sini juga terlalu heboh. Tapi kalau secara keseluruhan tidak. Di sini tidak ada pemberontakan seperti di tempat-tempat lain. Juga mungkin kita lebih banyak kekhawatiran. 
Pada kenyataannya Indonesia berada dalam keadaan okay. Namun kita akan melihat lebih lanjut bagaimana urusannya dalam memulai kegiatan ekonomi. Bukan dari segi kebijaksanaan keseluruhan tapi sebagai pribadi-pribadi bagaimana kita siap menghadapi hidup yang baru setelah melewati portal kita ini. 
Pikiran Positif Selalu Menang
Pasti sebenarnya terlalu cepat, tapi orang sudah mulai memikirkan dan merencanakan bagaimana nanti kita keluar dari cengkraman pandemi ini, dan bagaimana langkah-langkahnya. Kalau keluarnya tidak hati-hati maka pandemi bisa kembali lagi dengan lebih dahsyat. Jadi jalan turun itu sama susahnya dengan jalan naik. 
Pengambil kebijaksanaan terutama merasakan tekanan ini. Misalnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan keputusan yang dia ambil ini mengenai kapan menghidupkan ekonomi AS lagi sebagai keputusan terberat yang pernah dia ambil, katanya. Walaupun istilah menghidupkan ekonomi kembali barangkali bukan suatu istilah yang berlaku bagi dia saja karena da tidak mematikan ekonomi. Ekonomi mati sendiri. Tetapi nanti ketika hidup, recovery-nya atau jalan menuju perbaikannya harus direncanakan dengan baik. 
Sama dengan orang yang sakit, ketika sembuh maka dia harus hati-hati. Jangan kemudian lompat-lompat dengan gembira, atau melakukan kebiasaan-kebiasaan lama. Tidak seperti itu, melainkan dia harus merasakan sudah lewat dari portal. Melewati portal dengan segala kekuatiran, penderitaan, dan juga belajar dari itu semua. Jadi kuncinya pada kehidupan baru sesudah pandemi adalah waspada, dan belajar dari pengalaman selama krisis pandemi ini. 
Masalah pengambil kebijakan berbeda dengan masalah korban satu per satu. Bagi orang satu per satu, masalahnya barangkali bukan bagaimana kebijakan umum untuk masyarakat tetapi bagaimana dia menghadapi kembalinya lagi, atau juga menghadapi yang tidak kunjung datang saat kembalinya itu. Masalah menggali kesabaran untuk tantangan yang tidak selesai saja itu merupakan masalah yang utama. Jadi sampai kapan orang atau kita sebagai pribadi harus merasa khawatir dan sampai kapan kita bisa berhenti untuk waspada. Jawabannya tidak ada karena itu berbeda untuk setiap orang. 
Tapi kalau mau berbagi, bagi saya pribadi, saya selalu berpikir bahwa pemikiran positif akan selalu dapat mengalahkan pemikiran negatif. Jadi kalau ada perasaan dalam diri saya yang khawatir terhadap kondisi saya menghadapi pandemi ini, dan andaikata kita masih sehat bagaimana kita nanti supaya tetap sehat. 
Kalau saya melihat pada pengalaman, karena memang saya sudah beberapa kali mengalami penyakit macam-macam dan ada juga satu-dua kali sampai hampir kehilangan nyawa, pada saat itu pun saya tidak panik karena saya sudah siap untuk yang terburuk. Mengharapkan yang terbaik tapi siap untuk yang terburuk. Juga saya bisa belajar banyak dengan melihat kiri-kanan, bagaimana orang lain bisa menghadapi masa yang sulit dengan sangat tegar dibandingkan dengan saya. 
Orang lain banyak yang lebih sulit, tapi namun mereka bertahan. Saya sering kagum dengan orang-orang seperti mereka yang sangat kuat. Jadi saya suka berpikir, kalau mereka kuat mengapa saya tidak bisa kuat juga. Itu salah satu kata-kata trik saya untuk memepertahankan ketegaran menghadapi kondisi yang makin berat. Nanti kalau suatu saat kita keluar dari krisis ini saya juga tidak tahu keluarnya seperti apa. Apakah mau diumumkan seperti orang masuk dari libur sekolah, atau apakah orang akan melihat kiri-kanan. 
Yang paling berbahaya barangkali kalau melihat kiri-kanan. Itu karena kalau melihat kiri-kanan, misalnya orang sudah boleh berpesta sehingga kita bisa ramai ramai di warung kopi, menonton bola, menonton konser, maka itu pasti tidak bagus dan tidak akurat. Kita harus mencoba memperbaiki kodisi itu langkah demi langkah. 
Satu per satu bahaya itu diuji karena kita tidak pernah tahu apakah bahaya itu sudah lewat atau tidak. Jadi kita hindari saja segala kegiatan yang tidak disarankan. Saya kira sampai kapan-kapan kita tidak usah bersalaman atau bersentuhan. Tetap saja ambil jarak, tidak berkumpul terlalu ramai. Jadi mengubah cara hidupnya itu bukan selama pandemi saja tapi sesudahnya. 
Kita boleh berharap bahwa itu akan lebih menyenangkan. Bagaimanapun kita batasi hidup kita. Kalau itu datang dari kita sendiri dan datang dengan perbaikan kesehatan, perbaikan ekonomi, maka kita akan merasakan bahwa hidup itu menjadi sangat berharga. Ini dari saya, sangat sederhana tanpa teori psikologi, tanpa teori agama yang eksplisit. Tentu perasaan keagamaan itu ada, tapi bagi saya itu dipegang secara pribadi, tidak usah jadi pegangan orang lain. Karena masing-masing orang akan punya pegangan sendiri. Menipu diri sendiri supaya kita tidak ketakutan. 
Jadi kembali pada judul bagaimana kita mengatasi transisi ke arah perbaikan setelah keluar dari “portal” ini. Waktu masuk kita tidak merasa karena terpaksa, tetapi keluarnya dari “portal” ini kita punya pilihan untuk keluar secara bijaksana atau tidak, keluar begitu saja atau sambil menikmati keindahan yang ada di kehidupan ini, dan bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk ikut megalami jalan keluar ini. Itu beberapa dari trik pribadi saya untuk memepertahankan keseimbangan baik pada waktu turun maupun waktu naik. Baik waktu gelap maupun waktu mulai terang.
Ekonomi Tidak Lebih Penting
Dunia usaha, dunia perbankan, pemerintahan, semua menginginkan orang mulai lagi berbisnis, keluar dari restriksi pandemi, dan sesungguhnya semua orang ingin cepat keluar. Tapi tidak ada satu orang pun yang ingin mengambil risiko akan sakit lagi. Orang itu menderita di sisi ekonomi karena mengimbangi kesulitan orang dalam soal medis. Tetapi soal ekonomi tidak pernah lebih penting dari soal medis untuk masing-masing pribadi kita. Barangkali bagi orang memegang kebijaksanaan atau memegang kekuasaan negara ada keinginan untuk mendahulukan penyelesaian krisis ini dengan lebih berani mengambil risiko dalam soal medisnya. Tetapi tidak manusiawi kalau ada orang yang ingin ambil risiko demi perbaikan ekonomi. 
Di negara-negara yang demokratis justru ini berbahaya karena hasil dari perbaikan masyarakat itu akan diukur dari kebijaksanaan pemerintahannya selama itu. Kalau krisis pandemi ini bisa dilalui dengan kerugian yang minimal dari segi ekonomi, maka bila ada pemilihan pimpinan orang yang memimpin pada waktu perbaikan ekonomi itu akan kuat posisinya. Jadi mungkin kalau orangnya termotivasi terhadap mempertahankan kekuasaan, mungkin saja dia akan tergoda untuk mengorbankan kepentingan umum dari segi medis demi kepentingan dia, atau kepentingan sistem untuk perbaikan ekonomi. 

Kita harus melihat dalam bulan–bulan ini siapa yang buru-buru ingin menyelesaikan masalah ingin mengakhiri restriksi terhadap kegiatan ekonomi, fisik manusia, dan siapa yang lebih bersabar menunggu. Kalau seorang pribadi pasti harusnya sabar karena tidak ada gunanya “grasak-grusuk” mempercepat proses perbaikan ekonomi kalau kesehatannya belum terjamin. Jadi nomor satu adalah faktor-faktor medis kesehatan masyarakat dan nomor dua perbaikan ekonomi bagi orang yang memikirkan kehidupan nyata. Pimpinan-pimpinan politik harus memilih seberapa jauh akan mengambil risiko untuk menyelesaikan krisis ekonomi ini.  

 

 

 

 

Memulai lagi perekonomian

 

Banyak orang sudah mulai bicara bagaimana kita menghidupkan kembali perekonomian. Tentunya yang dimaksud kita adalah seluruh dunia, dan yang paling banyak disebut-sebut adalah Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump seperti tidak sabar ingin memulai lagi kehidupan perekonomian, ingin menghidupkan lagi pasar modal, perbankan, konstruksi, angka-angka tenaga kerja, dan sebagainya. 

 

Jadi ada kesan bahwak kesatu, dia ingin buru-buru. Kedua, ia berbohong. Memang orang sudah harus siap-siap untuk memulai lagi tapi kenyataannya tidak demikian. Menurut sebagian besar ahli, proses itu masih lama dan juga kalau pun terjadi itu bukan masalah kebijaksanaan presiden. Itu karena perekonomian juga tidak dihentikan oleh presiden tapi oleh kenyataan medis di lapangan.

 

Satu hal lagi, menghidupkan perekonomian tidak seperti menekan saklar lampu. Prosesnya tidak on dan off tapi harus pelan-pelan, dan harus dipikirkan apanya dulu yang dihidupkan, di mana dan bagaimana caranya. World Health Organization (WHO) mengingatkan bahwa suatu pencabutan restriksi yang terlalu cepat akan mempermudah kembalinya COVID-19 ke dalam gelombang yang baru. 

 

Gelombang pada pandemi kedua harus dihindari. Jadi di sini berlaku betul pepatah Indonesia, “Biar lambat asal selamat.” Belakangan ini khususnya di tingkat dunia lembaga seperti IMF, WHO dan sebagainya melihat bahwa Indonesia termasuk negara yang mungkin bisa aman kembali dari krisis COVID-19 karena ekonominya itu punya daya tahan dan ada harapan recovery yang baik.

 

Kedua, juga karena masyarakatnya bukan masyarakat yang gampang lepas kendali. Mudah-mudahan ini benar, kadang-kadang kesan kita adalah bahwa masyarakat di sini juga terlalu heboh. Tapi kalau secara keseluruhan tidak. Di sini tidak ada pemberontakan seperti di tempat-tempat lain. Juga mungkin kita lebih banyak kekhawatiran. 

 

Pada kenyataannya Indonesia berada dalam keadaan okay. Namun kita akan melihat lebih lanjut bagaimana urusannya dalam memulai kegiatan ekonomi. Bukan dari segi kebijaksanaan keseluruhan tapi sebagai pribadi-pribadi bagaimana kita siap menghadapi hidup yang baru setelah melewati portal kita ini. 

 

 

Pikiran Positif Selalu Menang

 

Pasti sebenarnya terlalu cepat, tapi orang sudah mulai memikirkan dan merencanakan bagaimana nanti kita keluar dari cengkraman pandemi ini, dan bagaimana langkah-langkahnya. Kalau keluarnya tidak hati-hati maka pandemi bisa kembali lagi dengan lebih dahsyat. Jadi jalan turun itu sama susahnya dengan jalan naik. 

 

Pengambil kebijaksanaan terutama merasakan tekanan ini. Misalnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan keputusan yang dia ambil ini mengenai kapan menghidupkan ekonomi AS lagi sebagai keputusan terberat yang pernah dia ambil, katanya. Walaupun istilah menghidupkan ekonomi kembali barangkali bukan suatu istilah yang berlaku bagi dia saja karena da tidak mematikan ekonomi. Ekonomi mati sendiri. Tetapi nanti ketika hidup, recovery-nya atau jalan menuju perbaikannya harus direncanakan dengan baik. 

 

Sama dengan orang yang sakit, ketika sembuh maka dia harus hati-hati. Jangan kemudian lompat-lompat dengan gembira, atau melakukan kebiasaan-kebiasaan lama. Tidak seperti itu, melainkan dia harus merasakan sudah lewat dari portal. Melewati portal dengan segala kekuatiran, penderitaan, dan juga belajar dari itu semua. Jadi kuncinya pada kehidupan baru sesudah pandemi adalah waspada, dan belajar dari pengalaman selama krisis pandemi ini. 

 

Masalah pengambil kebijakan berbeda dengan masalah korban satu per satu. Bagi orang satu per satu, masalahnya barangkali bukan bagaimana kebijakan umum untuk masyarakat tetapi bagaimana dia menghadapi kembalinya lagi, atau juga menghadapi yang tidak kunjung datang saat kembalinya itu. Masalah menggali kesabaran untuk tantangan yang tidak selesai saja itu merupakan masalah yang utama. Jadi sampai kapan orang atau kita sebagai pribadi harus merasa khawatir dan sampai kapan kita bisa berhenti untuk waspada. Jawabannya tidak ada karena itu berbeda untuk setiap orang. 

 

Tapi kalau mau berbagi, bagi saya pribadi, saya selalu berpikir bahwa pemikiran positif akan selalu dapat mengalahkan pemikiran negatif. Jadi kalau ada perasaan dalam diri saya yang khawatir terhadap kondisi saya menghadapi pandemi ini, dan andaikata kita masih sehat bagaimana kita nanti supaya tetap sehat. 

 

Kalau saya melihat pada pengalaman, karena memang saya sudah beberapa kali mengalami penyakit macam-macam dan ada juga satu-dua kali sampai hampir kehilangan nyawa, pada saat itu pun saya tidak panik karena saya sudah siap untuk yang terburuk. Mengharapkan yang terbaik tapi siap untuk yang terburuk. Juga saya bisa belajar banyak dengan melihat kiri-kanan, bagaimana orang lain bisa menghadapi masa yang sulit dengan sangat tegar dibandingkan dengan saya. 

 

Orang lain banyak yang lebih sulit, tapi namun mereka bertahan. Saya sering kagum dengan orang-orang seperti mereka yang sangat kuat. Jadi saya suka berpikir, kalau mereka kuat mengapa saya tidak bisa kuat juga. Itu salah satu kata-kata trik saya untuk memepertahankan ketegaran menghadapi kondisi yang makin berat. Nanti kalau suatu saat kita keluar dari krisis ini saya juga tidak tahu keluarnya seperti apa. Apakah mau diumumkan seperti orang masuk dari libur sekolah, atau apakah orang akan melihat kiri-kanan. 

 

Yang paling berbahaya barangkali kalau melihat kiri-kanan. Itu karena kalau melihat kiri-kanan, misalnya orang sudah boleh berpesta sehingga kita bisa ramai ramai di warung kopi, menonton bola, menonton konser, maka itu pasti tidak bagus dan tidak akurat. Kita harus mencoba memperbaiki kodisi itu langkah demi langkah. 

 

Satu per satu bahaya itu diuji karena kita tidak pernah tahu apakah bahaya itu sudah lewat atau tidak. Jadi kita hindari saja segala kegiatan yang tidak disarankan. Saya kira sampai kapan-kapan kita tidak usah bersalaman atau bersentuhan. Tetap saja ambil jarak, tidak berkumpul terlalu ramai. Jadi mengubah cara hidupnya itu bukan selama pandemi saja tapi sesudahnya. 

 

Kita boleh berharap bahwa itu akan lebih menyenangkan. Bagaimanapun kita batasi hidup kita. Kalau itu datang dari kita sendiri dan datang dengan perbaikan kesehatan, perbaikan ekonomi, maka kita akan merasakan bahwa hidup itu menjadi sangat berharga. Ini dari saya, sangat sederhana tanpa teori psikologi, tanpa teori agama yang eksplisit. Tentu perasaan keagamaan itu ada, tapi bagi saya itu dipegang secara pribadi, tidak usah jadi pegangan orang lain. Karena masing-masing orang akan punya pegangan sendiri. Menipu diri sendiri supaya kita tidak ketakutan. 

 

Jadi kembali pada judul bagaimana kita mengatasi transisi ke arah perbaikan setelah keluar dari “portal” ini. Waktu masuk kita tidak merasa karena terpaksa, tetapi keluarnya dari “portal” ini kita punya pilihan untuk keluar secara bijaksana atau tidak, keluar begitu saja atau sambil menikmati keindahan yang ada di kehidupan ini, dan bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk ikut megalami jalan keluar ini. Itu beberapa dari trik pribadi saya untuk memepertahankan keseimbangan baik pada waktu turun maupun waktu naik. Baik waktu gelap maupun waktu mulai terang.

 

 

Ekonomi Tidak Lebih Penting

 

Dunia usaha, dunia perbankan, pemerintahan, semua menginginkan orang mulai lagi berbisnis, keluar dari restriksi pandemi, dan sesungguhnya semua orang ingin cepat keluar. Tapi tidak ada satu orang pun yang ingin mengambil risiko akan sakit lagi. Orang itu menderita di sisi ekonomi karena mengimbangi kesulitan orang dalam soal medis. Tetapi soal ekonomi tidak pernah lebih penting dari soal medis untuk masing-masing pribadi kita. Barangkali bagi orang memegang kebijaksanaan atau memegang kekuasaan negara ada keinginan untuk mendahulukan penyelesaian krisis ini dengan lebih berani mengambil risiko dalam soal medisnya. Tetapi tidak manusiawi kalau ada orang yang ingin ambil risiko demi perbaikan ekonomi. 

 

Di negara-negara yang demokratis justru ini berbahaya karena hasil dari perbaikan masyarakat itu akan diukur dari kebijaksanaan pemerintahannya selama itu. Kalau krisis pandemi ini bisa dilalui dengan kerugian yang minimal dari segi ekonomi, maka bila ada pemilihan pimpinan orang yang memimpin pada waktu perbaikan ekonomi itu akan kuat posisinya. Jadi mungkin kalau orangnya termotivasi terhadap mempertahankan kekuasaan, mungkin saja dia akan tergoda untuk mengorbankan kepentingan umum dari segi medis demi kepentingan dia, atau kepentingan sistem untuk perbaikan ekonomi. 

 

Kita harus melihat dalam bulan–bulan ini siapa yang buru-buru ingin menyelesaikan masalah ingin mengakhiri restriksi terhadap kegiatan ekonomi, fisik manusia, dan siapa yang lebih bersabar menunggu. Kalau seorang pribadi pasti harusnya sabar karena tidak ada gunanya “grasak-grusuk” mempercepat proses perbaikan ekonomi kalau kesehatannya belum terjamin. Jadi nomor satu adalah faktor-faktor medis kesehatan masyarakat dan nomor dua perbaikan ekonomi bagi orang yang memikirkan kehidupan nyata. Pimpinan-pimpinan politik harus memilih seberapa jauh akan mengambil risiko untuk menyelesaikan krisis ekonomi ini.  

 

Print article only

0 Comments:

« Home