Articles

Wimar Witoelar: Inti Pesan PSI Sudah Bagus dan Kuat


04 October 2018

Oleh :Annisa Yulita

Indonesia akan menghadapi masa pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden, serta anggota legislatif DPR pada 2019 mendatang. Seluruh partai politik berlomba-lomba mendaftarkan para anggotanya untuk menjadi calon anggota legislatif. KPU mengumumkan, sebanyak 16 partai politik yang akan mengikuti pemilu 2019.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI), merupakan salah satu partai politik yang untuk pertama kalinya ikut dalam persaingan politik di tahun yang akan datang. PSI terbilang partai anyar, yang didirikan usai pemilihan umum (Pemilu) 2014 dan mulai melebarkan sayapnya kepada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Dalam menyambut tahun pemilu yang akan datang, caleg PSI Bandung-Cimahi Ade Rachman mengundang Wimar Witoelar untuk turut mengikuti forum diskusi yang dilaksanakan di Bandung, Sabtu (22/09). Forum diskusi yang bertemakan “Jangan buang kesempatan Pilpres” tersebut, dihadiri oleh para simpatisan dan calon legislatif dari PSI.

Pada perbincangan santai tersebut, Wimar Witoelar mejelaskan faktor-faktor penting agar masyarakat tidak salah dalam memilih pemimpin. “Saat ini banyak orang-orang mengikuti kampanye yang bersifat negatif. Orang harus bersikap bijaksana sebelum menentukan pilihan,” ujar Wimar. Wimar pun menambahkan agar PSI harus mengajak masyarakat untuk berpikir logis.

Masyarakat Indonesia membutuhkan pemimpin yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Tentu kita tahu, tak sedikit para anggota legislatif yang mengingkari sumpahnya pada saat di lantik dengan melakukan tindak korupsi. “Kejujuran adalah mata uang yang berharga di dunia,” ujar Fajar Widianto, salah satu calon legislatif PSI saat mengikuti forum diskusi. Partai Solidaritas Indonesia ingin mewujudkan partai yang anti korupsi dan anti intoleransi. Wimar Witoelar pun setuju dengan inti pesan PSI mengenai hal tersebut. “Inti Pesan PSI Sudah Bagus dan Kuat,” tegasnya. Namun, Wimar menyoroti salah satu pesan kampanye PSI di media sosial yang sempat menyita perhatian warganet yaitu mengenai sawit.

Dalam video berdurasi 46 detik yang diunggah di media sosial Facebook, Instagram dan Twitter milik PSI, disebutkan bahwa sawit merupakan komoditi ekspor yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan devisa yang akan berbanding lurus dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar dan menurunnya harga barang impor, yang disoroti oleh PSI yaitu gadget. Dalam video tersebut, kesan bahwa PSI mendukung industri sawit sangatlah kuat hingga menimbulkan ribuan kritik, khususnya dari para aktivis lingkunga, salah satunya adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Sebagai LSM pejuang lingkungan tertua di Indonesia, WALHI memberikan kritik keras kepada PSI. "Kami menilai bahwa Sis Bro pengurus PSI gagal paham terhadap persoalan mendasar sawit di Indonesia dan bahkan dalam konteks global, dan semakin nggak nyambung jika dihubungkan dengan tujuan video ini, agar rupiah stabil. Pernyataan ini ingin menegaskan bahwa sawit sebagai penopang ekonomi bangsa Indonesia adalah sebuah mitos, termasuk adanya sawit putih," tulis WALHI dalam siaran persnya.

Selain WALHI, lembaga yang turut angkat bicara adalah Sawit Watch. Direktur Eksekutif Sawit Watch Inda Fatinaware mengatakan ada 10 juta buruh yang bekerja tidak terlindungi bahkan diperlakukan layaknya sistem perbudakan yang masih mewarisi sistem kolonial Belanda di lahan korporasi. Pada sisi lain, belasan juta hektare perkebunan kelapa sawit itu juga telah merubah fungsi kawasan hutan, menggusur rakyat dari hak dan wilayah kelolanya, menggusur lahan pertanian dan lahan pangan. "Sementara impor bahan pangan pokok terus berlangsung," kata Inda.

Sebagai ahli komunikasi lingkungan yang telah malang melintang di berbagai forum lingkungan nasional dan internasional, Wimar Witoelar sangat menyayangkan video kampanye PSI tersebut. “PSI cukup fokus dengan pesan inti mereka, yaitu ‘anti korupsi dan anti intoleransi’, dua poin tersebut sudah cukup kuat dan mampu meyakinkan banyak pihak. Adanya video tersebut malah menurunkan nilai PSI di mata publik, khususnya para aktivis lingkungan. Generasi milenial yang notabene merupakan target lumbung suara PSI sudah lebih memahami bahwa sawit dapat merusak lingkungan,  bahkan banyak gerakan-gerakan pelestarian lingkungan seperti kampanye anti plastik yang dicetuskan oleh kaum milenial.

Pesan Wimar dalam acara diskusi tersebut diamini oleh para caleg dan simpatisan PSI. Kedepannya Wimar berharap PSI tidak perlu menyerempet isu-isu yang diluar cakupan pesan intinya, yaitu “anti korupsi dan anti intoleransi”.

Print article only

0 Comments:

« Home