Articles

Menunjukkan Kemajuan Reforma Agraria Indonesia


06 August 2018

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Kita semua tentu sudah banyak mendengar kabar akan diselenggarakannya event kelas dunia Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Menjadi tuan rumah kegiatan tersebut merupakan kehormatan yang membanggakan bagi bangsa Indonesia. Namun selain Asian Games yang banyak dibicarakan dalam media massa, Indonesia juga akan segera menjadi tuan rumah event kelas dunia lain yang sebenarnya lebih penting yaitu Global Land Forum (GLF) 2018. Forum yang diikuti sekitar 900 peserta yang mewakili 70 negara ini akan diselenggarakan di Bandung pada 24 hingga 27 September 2018.

Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) merupakan organisasi yang selama ini menjadi ujung tombak gerakan pembaharuan agraria di Indonesia. Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika pada 27 Juli 2018 lalu mengunjungi kantor Yayasan Perspektif Baru (YPB) dan berbagi perspektifnya. 

Menurut Dewi Kartika GLF menjadi momentum yang penting bagi Indonesia, tidak hanya soal bagaimana kita menunjukan success story atau tantangan-tantangan yang masih harus dihadapi dalam kontes menjalankan reforma agraria. Tetapi juga bagaimana kita menunjukan bahwa Indonesia secara kebudayaan sangat beragam, dan kompleksitas masalah agrarianya juga sangat menantang. GLF penting juga untuk kita panen success story-nya. Jangan sampai nanti kita memanen kompleksitas masalahnya tapi tanpa solusi. Jangan menjadi forum curhat, atau shaming and blaming.

GLF merupakan forum pertanahan terbesar di dunia. GLF 2018 yang akan diselenggarakan di Bandungakan dihadiri oleh kurang lebih 900 peserta mewakili 70 negara. Tidak hanya gerakan masyarakat sipil yang akan hadir, tapi juga unit-unit Badan PBB dan kurang lebih ada 10 dari kementerian terkait pertanahan di 10 negara akan hadir juga di Global Land Forum 2018.

“Jadi tema besar Global Land Forum yang kedelapan ini disesuaikan dengan konteks nasional yang sedang berkembang, yaitu sedang ada momentum agenda reforma agraria dan sedang menghadapi tantangan sebenarnya pada tingkat realisasinya sudah sejauhmana. Apakah janji politik itu realisasinya sudah relatif kongkrit untuk memenuhi hak hak dasar petani,” ujar Dewi.

Reforma agraria merupakan isu yang sangat penting mengingat mayoritas petani Indonesia adalah kelompok petani gurem dengan pemilikan lahannya rata-rata di bawah 0,5 hektar, bahkan rata rata 0,3 hektar, dan bahkan banyak yang tidak bertanah. Ketiadaan akses terhadap tanah juga banyak menyebabkan konflik agraria. Data KPA menunjukkan di Indonesia ada 758 konflik agraria masih menunggu untuk diselesaikan di tahun 2017 yang lalu.

“Dengan momentum ini, kita ingin menunjukkan progress Indonesia mengatasi konflik, ketimpangan, dan social justice itu semacam apa. Tentu ini akan diserap oleh komunitas global mengenai pengalaman Indonesia menjalankan reforma agraria,” lanjut Dewi.

 

Ikuti wawancara selengkapnya di:

http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1166

Print article only

0 Comments:

« Home