Articles

Berbahaya, tindakan Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel

Perspektif Baru
10 December 2017

oleh: Wimar Witoelar

 

Pernyataan gegabah Presiden Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel disambut reaksi keras di seluruh dunia. Bukan saja demonstrasi di Jakarta dan Kuala Lumpur, tapi pernyataan keras mencela di dunia Arab, negara Eropah seperti Prancis, Inggris dan Jerman. Tidak kurang juga kritik dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri yang merasa ditempatkan dalam posisi berbahaya karena memancing amarah dunia Islam dan  kelompok keras. Pihak yang dibuat senang hanyalah pemerintah Israel dan kelompok kecil pendukung Trump yang menganggap itu sebagai utang kampanye. Secara rutin memang setiap calon Presiden menjanjikan hal yang sama, tapi tidak ada yang benar-benar melaksanakannya. Strategi Timur Tengah kedua partai besar Amerika selalu diarahkan pada usaha perdamaian Palestina, yang beberapa kali maju misalnya dengan Oslo Peace Accord 1993 tapi gagal misalnya dengan penolakan Yasser Arafat terhadap tawaran Ehud Barak di tahun 2001. Usaha perdamaian sering dilanggar tapi baru sekarang dilanggar oleh pemerintah Amerika sendiri.

 

Sejak pembentukan negara Israel di tahun 1948, situasi Timur Tengah tidak pernah lepas dari konflik. Salah satu isu konflik utama adalah status kota Jerusalem sebagai ibukota Israel. Isu lain adalah pemukiman Tepi Barat, Keamanan Israel dan Pengungsi Palestina. Jerusalem punya arti keagamaan yang sangat dalam untuk penganut tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam. Masing-masing mempunyai tempat peribadatan di kota itu. Sejak awal Jerusalem diklaim oleh Israel sebagai ibukota, sedangkan Jerusalem Timur direncanakan menjadi ibukota Palestina. Di balik perang dan konflik teritorial sekian kali, status quo Jerusalem tidak berubah. Sekarang tanpa ada desakan khusus, Trump tiba-tiba menyatakan secara sepihak bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel tanpa keterangan lebih lanjut. Malah Kedutaan Amerika akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Jerusalem.

 

Dilihat dari strategi politik ini sangat membingungkan dan berbahaya. Karena tidak ada dasar kebijaksanaan yang memberi bingkai pada keputusan. Tidak ada juga nilai tindakan ini dalam mendorong perundingan perdamaian. Kasarnya, AS menyerahkan sesuatu secara gratis tanpa mendapatkan imbalan. Dalam negosiasi politik ataupun dalam bisnis, prinsip adalah kalau memberi sesuatu, harus ada imbalannya. Entah imbalan apa yang didapatkan Trump. Ada yang mengatakan Trump lebih mementingkan konflik Iran v Saudi daripada Palestina v Israel. Dan dukungan domestik Trump lebih banyak dari kelompok kecil pro-Israel daripada Mayoritas Netral.

 

Yang dilakukan Trump membuat senang pemerintah Israel dan membuat marah banyak orang. Termasuk orang Amerika sendiri, karena kebanyakan tidak ingin memihak dalam konflik Palestina dan tidak ingin melibatkan negaranya kecuali untuk membantu menuju perdamaian. Sikap memihak mengundang reaksi garis keras terhadap orang Amerika di seluruh dunia.


 

Print article only

0 Comments:

« Home