Articles

Jawa Barat Menjelang Pilkada 2018


03 August 2017

Oleh : Panji Kharismajaya 

Tanah Sunda wibawa

Gemah Ripah tur endah

Nu ngumbara suka betah

Urang Sunda sawawa

Sing toweksa perceka

Nyangga darma anu nyata

 

Lirik pada bait pertama lagu “Tanah Sunda” yang diciptakan oleh Mang Koko tersebut mengambarkan suasana tanah Sunda yang bersahabat untuk semua orang, terutama bagi para pelancong yang singgah. Tanahnya Gemah Ripah (subur dan makmur) serta karakteristik penduduknya yang tinggal berkelompok dalam satu kawasan tertentu dan memegang teguh Darma (tugas) yang nyata. Tugas disini artinya adalah menjaga tanah leluhur serta warisan budaya mereka.

Jawa Barat terdiri dari 17 Kabupaten dan 9 Kota yang dikelilingi topografi pegunungan, sungai dan dataran rendah di utara dan selatan yang berbatasan langsung dengan laut. Cuaca dingin khas pegunungan yang identik dengan Jawa Barat memberikan kesan tenang, sama seperti karakteristik sebagian besar penduduknya yang ramah, murah senyum dan menyukai seni. Jawa Barat terkenal sebagai sentra kuliner dan kerajinan, khususnya kulit, serta seni panggung.

Jawa Barat dipimpin oleh seorang Gubernur sebagai kepala daerah. Tercatat 15 Gubernur pernah memimpin Jawa Barat, yang dimulai dari Mas Sutardjo Kertohadikusumo sampai Ahmad Heryawan yang sedang menjabat pada periode sekarang. Tahun 2018, akan diadakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih orang nomor 1 yang akan memimpin Jawa Barat selama 5 tahun berikutnya.

Selayaknya daerah yang akan melakukan Pilkada, Jawa Barat nuansa politik yang kental sudah terasa di Jawa Barat. Beberapa tokoh masyarakat mulai diangkat ke permukaan oleh media dan digadang sebagai calon gubernur. Sebut saja Abdullah Gimnastiar (ulama), Ridwan Kamil (walikota Bandung), Dedi Mulyadi (bupati Purwakarta), hingga Desy Ratnasari (Anggota DPR dan mantan artis).

Kita semua belum lupa, bagaimana situasi politik DKI Jakarta selama masa pemilihan gubernur sangat panas akan isu SARA, khususnya dalam toleransi beragama. Kita semua melihat bagaimana isu Agama menerpa masyarakat DKI Jakarta dengan begitu hebatnya sehingga bahkan bisa dibilang mempengaruhi hasil Pilkada. Hal ini tentu sangat disesalkan. Bukan kemenangan atau kekalahan salah satu pihak yang disesalkan, melainkan bagaimana isu SARA berhasil memporak-porandakan keutuhan masyarakat ibukota sehinga Jakarta, bahkan Indonesia, sekarang menyandang status “Darurat Intoleransi”.

Wimar Witoelar bersama Satu Indonesia 

Berbicara seputar Intoleransi dan Jawa Barat, Komnas HAM menyebutkan terdapat 97 pengaduan terkait kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat pada tahun 2016. Jumlah ini menjadikan Jawa Barat menempati peringkat Pertama sebagai provinsi paling Intoleran di Indonesia. Bahkan, dari 7 dari 10 kota paling Intoleran di Indonesia berasal dari Jawa Barat, yaitu Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Cianjur. Sebuah data statistik yang mencengangkan bagi salah satu provinsi terpadat di Indonesia menjelang Pilkada 2018.

Tindakan-tindakan intoleransi tersebut sebagian besar terjadi dalam konteks Izin pendirian tempat ibadah, beasiswa pendidikan, dan pelayanan publik yang menyertakan Agama sebagai suatu syarat, contohnya pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Meskipun terlihat suram, beberapa tokoh kepala daerah yang membela kepentingan rakyat minoritas sudah bersuara dan mengambil tindakan jelas. Bekasi punya Rahmat Effendi, walikota yang rela kepalanya ditembak daripada harus mencabut IMB Gereja Santa Clara. Bima Arya sebagai walikota Bogor juga mempersilakan dan menjamin kebebasan umat Syiah untuk melakukan perayaan Asyura. Ridwan Kamil di Bandung menyelesaikan permasalahan IMB 2 Gereja dan menjamin tidak akan mencabut izin tersebut meskipun didesak oleh berbagai pihak. Dedi Mulyadi di Purwakarta juga menerapkan sistem pendidikan Agama yang mengakomodir semua pemangku Agama secara berimbang, termasuk pemberian Beasiswa.

Seuweu Pajajaran

Muga tong kas'maran

Sing tulatén jeung rumaksa

Miara pakaya

Mémang sawajibna

Getén titén rumawat Tanah Pusaka

Masih ada harapan bagi Tanah Sunda untuk berToleransi. Seperti yang disebutkan dalam bait kedua lagu Tanah Sunda, bahwa Orang Sunda itu sejatinya “Sing tulatén jeung rumaksa” artinya harus menjadi teladan dalam bertindak, dan juga harus mengakui keberadaan orang lain, dalam hal ini toleransi. Toleransi yang sudah diajarkan dan ditanamkan sejak dini di budaya masyarakat Sunda, salah satunya ditanamkan melalui lagu ciptaan Mang Koko ini.

Gembleng sauyunan

singkil babarengan

ngangkat darajat Ki Sunda

Sunda kukuh kuat

Diraksa dirumat

Pasti jembar wibawa Indonésia

Bait terakhir lagu ini menceritakan tentang semangat gotong royong. Semua orang Sunda harus bersama-sama, bahu-membahu, bergotong royong untuk mewujudkan persatuan Indonesia berwibawa. Dan semua itu diwujudkan dengan persatuan masyarakat yang kuat. Semua orang Sunda harus bersatu untuk melawan Intoleransi. Demi mewujudkan “Wibawa Indonesia”.

Print article only

0 Comments:

« Home