Articles

Why Forests, Why Now?


21 March 2017

oleh: Hayat Mansur

WHY panel

Buku berjudul Why Forest? Why Now? ditulis untuk menjelaskan arti penting hutan tropis seperti yang dimiliki Indonesia untuk kehidupan kita semua di muka bumi. Wimar Witoelar menyebut Indonesia akan muncul sebagai negara adidaya hutan global, menggantikan ilusi menjadi negara adidaya minyak.

 

Peluncuruan buku “Why Forest? Why Now? The Science, Economics, and Politics of Tropical Frorests and Climate Change” karya Frances Seymour dan Jonas Busch (peneliti di Center for Global Development) digelar Selasa (21/3) di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Hutan Internasional.

 

Acara peluncuran diisi dengan diskusi mengenai buku tersebut.  Tampil sebagai pembicara Frances Seymour, Nirarta Samadhi (Direktur World Resources International/WRI Indonesia), Laksmi Dhewhanti (Penasehat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Kindy Rinaldy Syahrir (Kepala Bidang Kerja Sama Internasional dan Pendanaan Perubahan Iklim, Pusat Kebijakan Pembiyaan Iklim dan Multilateral, Badan kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan), Sonny Mumbunan (Peneliti di Research Center for Climate Change Universitas Indonesia). Sedangkan Wimar Witoelar (Chairman InterMatrix Communications) dipilih sebagai moderator.  

 

Dalam pidatonya, Frances Seymour menuturkan senang dan sengaja memilih Wimar Witoelar menjadi moderator acara peluncuran buku ini. Pertama kali dirinya berkenalan dengan Wimar pada 30 tahun lalu untuk program perhutanan sosial saat bekerja di Ford Foundation Indonesia. Setelah lama tidak kontak, kini dia senang Wimar masih memberikan perhatian pada perhutanan sosial dan masyarakat adat yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia sekarang.  

 

Frances Seymour menjelaskan  buku ini sangat memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Alasannya,  Indonesia yang merupakan negara berkembang memiliki hutan tropis yang luas ketiga di dunia. “Kami menggunakan banyak contoh dari Indonesia untuk analisa di dalam buku ini,” kata dia.

 

Menurut dia, hutan Indonesia termasuk gambut sangat penting bagi upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim karena hutan Indonesia berperan penting dalam pengurangan emisi dari sektor kehutanan dan menjadi faktor penentu untuk pencapaian target emisi global.

 

“Melindung hutan tropis merupakan salah satu strategi paling terjangkau dan dapat dilaksanakan untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celcius,” kata Seymour.

 

Berdasarkan hal tersebut, Frances Seymour melihat Indonesia bisa menjadi negara superpower dalam bidang hutan seperti disebut Wimar Witoelar dalam artikel opini di surat kabar nasional.

 

Sebelum acara tersebut, Wimar Witoelar telah menulis artikel opini yang dimuat di The Jakarta Post edisi 15 Maret 2017 berjudul “Why Forestry is Indonesia’s Best Hope”. (http://www.thejakartapost.com/academia/2017/03/15/why-forestry-is-indonesias-best-hope.html)

 

Nirarta Samadhi berpandangan Indonesia sedang menuju menjadi superpower di bidang kehutanan. Dia menganalogikan kondisi Indonesia saat ini seperti gambaran dalam film Spiderman 1. Sosok manusia biasa yang sedang berubah menjadi manusia super, Spiderman.

 

“Awalnya digigit laba-laba dan belum menyadari dirinya telah berubah memiliki kekuatan super. Kemudian menyadarinya dan melalui latihan-latihan akhirnya mampu memanfaatkan kekuatan tersebut. Indonesia juga demikian. Jadi harus menyadari memiliki kekuatan hutan dan melakukan perbaikan dan terobosan,” kata Nirarta.

 

Sebagai moderator, Wimar mengatakan semua orang sebaiknya membaca buku tersebut karena menjelaskan pentingnya hutan tropis serta kaitannya dengan ekonomi, politik, dan lain-lain. “Ada dua momen penting bagi saya dalam lingkungan hidup, yaitu diajak Frances Seymour berkeliling di hutan-hutan Kalimantan, Sumatera, Papua. Kedua, mendapat dan membaca buku Why Forest, Why Now karena menambah pemahaman mengenai hutan tropis Indonesia.


Jadi, “Why Not” (mengapa tidak) kita membaca buku tersebut. Juga “Why Not”  sekarang juga kita mulai menyadari arti penting hutan tropis bagi diri kita, Indonesia, dan bumi.Attachments area

 

Print article only

0 Comments:

« Home