Articles

Maman Suherman; 30 Tahun Menyebarkan Virus Literasi


16 February 2017

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

            

Maman dan kawan-kawan menunjukkan isyarat tangan salam literasi di CozyField Cafe (12/2)

Minggu siang, 12 Februari 2017. Suasana salah satu sudut CozyField Cafe Gramedia di Pondok Indah Mall tampak lebih riuh dikerumuni pengunjung lebih dari biasanya. Tampak pula wajah-wajah selebritas dan tokoh seperti Wimar Witoelar, Rano Karno, Desy Ratnasari, Indro Warkop, pelawak Komeng, Fira Basuki, Shanti Serat, Susy Rizky, dan lainnya.

Tokoh literasi dan jurnalistik Maman Suherman sedang menggelar peluncuran buku Trilogi GuMaman Kang Maman yaitu tiga buku "Notulen", "Sundul Gan!", dan "Aku Takut KehilanganMu". Event diskusi santai tersebut juga merupakan perayaan 30 tahun sepak terjang Maman di dunia jurnalistik dan literasi.

Maman bertutur bahwa ada banyak peristiwa dalam hidupnya yang menginspirasi untuk terus berjuang menulis dan menyebarkan virus literasi yang saat ini ia galakkan dalam kegiatan Gerakan Perahu Pustaka yang menyebarkan buku-buku ke pulau-pulau dan daerah-daerah terpencil di Indonesia.

"Yang menarik adalah yang saya pelajari dari Pak Wimar. Dalam hal teknik penulisan, beliaulah inspirasinya," ujarnya. Ia mengenang mengenal Wimar Witoelar sejak tahun 90-an dan ia juga belajar semangat untuk tidak tunduk kepada rezim Orde Baru sebagaimana Wimar Witoelar tidak berhenti berkarya setelah acara talk show televisi Perspektif yang diasuhnya dihentikan oleh pemerintah.

"Tahun 1995 ketika saya tidak membayangkan dapat membuat buku tiba-tiba saya harus menjadi presenter suatu acara televisi di edisi yang sangat spesial, edisi ulang tahun yang pertama. Acara itu sangat fenomenal karena diberhentikan juga oleh orde baru dan acara itu adalah Perspektif. Waktu itu saya hanya mengenal Pak Wimar dari jauh.

Saya terpesona oleh acara itu karena narasumbernya tidak harus orang terkenal. Saya paling terpesona ketika ada seorang joki "three in one" diajak duduk diwawancarai Pak Wimar dengan suasana sangat santai. Dan saya berpikir kapan saya punya acara seperti ini. Tanpa saya duga Pak Wimar menghubungi saya untuk menjadi presenter pada saat acara ulang tahun. Pak Wimar malah menjadi narasumber saya," kenang Maman.

Maman memiliki pengalaman 15 tahun di dunia jurnalistik dari menjadi reporter hingga pemimpin redaksi di salah satu media Kelompok Kompas Gramedia. Ia menggagas Panasonic Award dan kini tidak lagi berkantor namun menjadi "pemulung kata-kata", dan menjadi konsultan kreatif dan notulen Indonesia Lawa Club di Trans 7. Ia kini aktif di Gerakan Perahu Pustaka.

Dalam perjalanan-perjalanan hidupnya, ia terpukul oleh data UNESCO yang mengatakan minat baca orang Indonesia cuma 0,001. Artinya kalau 1000 orang Indonesia berkumpul hanya satu yang membaca. Berarti hanya ada 250 ribu orang Indonesia yang membaca dibanding pengguna narkoba yang jumlahnya 5,9 juta. Orang lebih senang narkoba daripada membaca. Tetapi Indonesia adalah negara nomor 5 paling cerewet di dunia. Dan Jakarta adalah kota paling cerewet di twitter seluruh dunia. Lima belas tweet per detik. Bisa dibayangkan, tidak baca buku tapi cerewet.

"Karena itu kita tebarkan gerakan virus literasi. Saya beruntung betul tanpa modal. Hanya mencari orang sebagai provokator tiba-tiba satu per satu orang datang. Orang-orang yang tak bernama mungkin ya. Yang tidak saya kenal, yang tidak saya ketahui. Yang berbeda keyakinan dengan saya. Tapi punya satu rasa cinta tentang keberpihakan kepada dunia literasi. Saya menjadi teringat satu kalimat dari joki "three in one" yang diwawancara Pak Wimar. Apa sih sebenarnya yang kamu cita-citakan? Cuma satu. Bisa selesai sekolah dan bisa baca buku," ungkap Maman.

Wimar mengatakan bahwa kalau ia harus menggambarkan sosok Maman Suherman dalam tiga kata maka kata-kata tersebut adalah manusia, serba, bisa. Karena serba bisa, ia susah mengomentari sosok ini. Wimar mengakui bahwa pengaruh Maman pada hidupnya mungkin ada 25 tahun dari 30 tahun sepak terjang Maman. "Saya pertama tahu ia adalah wartawan profesional. Kemudian saya tahu dia adalah penulis. Terus kemudian pelawak. Terus pengamat politik. Kita pernah satu partai tapi partainya tidak jadi. Jadi jelas ia adalah orang yang sangat-sangat menginspirasi," komentar Wimar.

 

                       

Maman berbagi kisah perjuangan menyebarkan virus literasi

                 

Peluncuran buku Maman Suherman dipenuhi pengunjung yang antusias (sumber foto: akun Facebook Yugo Isal)

 

Pasca peluncuran buku Maman Suherman, Wimar Witoelar berfoto bersama musisi-musisi muda yang menghibur hadiri selama acara, Gabriella Tania dan Glen.

Suasana meriah tapi santai peluncuran trilogi buku Maman Suherman dalam foto hitam-putih (sumber foto: akun Facebook Yugo Isal).

Pasca peluncuran buku Maman Suherman, Wimar Witoelar berfoto bersama musisi-musisi muda yang menghibur hadiri selama acara, Gabriella Tania dan Glen.

Print article only

0 Comments:

« Home