Articles

DIALOG CNN INDONESIA -WAJAH AMERIKA DI TANGAN TRUMP

CNN INDONESIA
25 January 2017

DIALOG CNN INDONESIA “WAJAH AMERIKA DI TANGAN TRUMP”

Dua hari menjabat sebagai presiden Amerika, sudah muncul banyak cerita mengenai Trump, salah satunya adalah mengenai demonstrasi dan sedikitnya yang hadir di inaugurasi. Apakah pemerintahan Trump kedepannya akan penuh gejolak?

sudah ada tanda-tanda seperti itu. Pertama kali sepanjang sejarah Amerika Serikat, belum pernah ada orang yang dilantik menjadi presiden dengan popularitas yang begitu rendah, dibawah 50%. Obama dulu 80%. Belum pernah ada presiden yang mengeluarkan ucapan yang begitu tidak sesuai dengan janji-janji kampanyenya. Kata-katanya membuat semua orang bingung. Namun semua orang sepakat akan satu hal, bahwa mereka semua cemas. Mereka yang melakukan aksi woman’s march di kota-kota besar itu sebenarnya bukan memprotes terpilihnya Trump, tapi memprotes nilai-nilai Amerika Serikat yang ditinggalkan. Siapa yang tidak ingat bahwa Amerika itu adalah pahlawan Hak Asasi, Hak Perempuan, Hak Penyandang Disabilitas, itu semua diingkari. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Amerika punya sistem sosial dan kesehatan yang sangat baik. Ini semua yang ingin dia bubarkan. Makanya banyak masyarakat yang khawatir. Mantan presiden Amerika, Barrack Obama mengatakan, setiap hari berbuatlah sesuatu untuk rakyat. Amerika masih butuh rakyatnya, karena Amerika adalah negara Demokrasi dan masih negara demokrasi. Jangan serahkan semuanya pada presiden, apalagi kalau presidennya mengingkari konstitusi.

Jadi bentuk-bentuk pengawalan oleh rakyat dilakukan dalam bentuk aksi-aksi turun ke jalan, begitu pak wimar?

Ya, karena partai politik tidak berhasil menjalankan perannya sebagai penyalur aspirasi. Ini bukan hanya Partai Demokrat, yang menjadi lawan dari Trump, tetapi juga Partai Republik sendiri, yang merupakan partai pengusung Trump, bingung sendiri. Karena banyak cara-cara Trump yang bertentangan dengan ideologi partai Republik itu sendiri, seperti misalnya, dia sangat anti dengan perjanjian dagang. Padahal salah satu sendi Partai Republik adalah free trade. Amerika sangat curiga dengan Putin, dia malah seneng. Jadi sangat bertentangan dengan pendapat-pendapat dan kebijakan yang ada. Lalu banyak orang bertanya-tanya, kok bisa menang ya? Jawabannya karena pada saat kampanye, orang senang karena ada jawaban yang baru, segar, lalu kalau dia sudah bicara ngaco, juru bicaranya selalu bilang “liat hatinya jangan Cuma kata-katanya” ya susah juga. Akhirnya mereka jadinya meletakkan nasibnya di tangan Trump, dengan harapan sesudah dilantik dia tidak akan jadi ngaco, ternyata tetap aja begitu.

Kalau tadi kita bicara seputar kebijakan-kebijakan Trump seperti free trade , Trump juga sudah direncanakan untuk bertemu dengan presiden Mexico dan Canada. Apakah kebijakannya nanti akan sesuai dengan janji kampanyenya? Bahwa dia akan membatasi imigran, membuat tembok, dan pembatasan warga muslim?

Mudah-mudahan janjinya tidak terlaksana, karena janjinya semuanya mengerikan. Bahwa semua orang muslim akan di daftarkan, itu semua tidak pernah terjadi. Bahwa dia akan memasang tembok di perbatasan Mexico, akan membubarkan semua perjanjian dagang, bahwa dia akan mencabut dukungan militer untuk Korea Selatan, Jepang, dan bahkan NATO. Itu semuanya mengkhawatirkan. Ahli-ahli militer itu khawatir. Bahkan orang-orang yang ditunjuk menjabat di Kementerian Pertahanan itu tidak setuju dengan ide itu. Ketika ditanya mereka akan bilang “liat nanti aja deh, ga mungkin kayanya kita meninggalkan NATO).

 

Jadi idenya itu gila sudah dari awal, tapi ternyata semakin kesini orang-orang takut semuanya kejadian kalau tidak dikawal, begitu?

Iya betul, dia itu tidak dianggap serius. Seperti yang Kellyanne Conway, manajer kampanyenya bilang, jangan liat kata-katanya, liat hatinya. Di dalam hatinya dia itu baik, di dalam sekali. Kalau bicara soal Trump akan sangat sulit untuk tidak tertawa, karena semuanya terlalu aneh untuk menjadi kenyataan. Tapi sekarang kejadian. Amerika sekarang menjadi Amerika yang bukan kita kenal. Bahkan banyak orang-orang Amerika yang meminta bantuan sama tokoh-tokoh demokrasi disini. Dulu kan Amerika bantu demokrasi Indonesia, sekarang Indonesia yang bantu.

 

Presiden Joko Widodo sudah mengucapkan selamat kepada Trump. Trump pun mengatakan cukup dekat dengan Indonesia karena punya banyak bisnis disini. Apakah itu nanti akan menguntungkan Indonesia juga?

Ya menguntungkan Bussinessman yang temen dia lah. Kan dia tidak bersahabat dengan rakyat Indonesia, tapi dengan pengusaha, kapitalis yang barangkali korup, ini dan itu. Padahal justru Indonesia in sekarang sedang reformasi menghilangkan konsentrasi kapital, menghilangkan praktik bisnis yang tidak memperhatikan lingkungan. Itu lain dengan arah bisnis nya Donald Trump. Donald Trump tidak percaya Climate Change, dia bilang itu hoax yang dibikin oleh China. Dia bilang dunia makin panas karena alam aja bukan karena manusia. Jadi bagaimana kita bisa percayakan pengembangan bisnis Indonesia dengan orang yang tidak percaya climate change. Hotel-hotel di Bali dan kota-kota besar lainnya harusnya environment policy yang kuat.

 

Jadi tidak ada sama sekali keuntungan Indonesia untuk memanfaatkan peluang kepemimpinan Trump ini untuk kepentingan Indonesia?

Saran saya, kita jangan melihat Trump sebagai Amerika. Amerika itu besar dan luas, punya Silicon Valley, kawasan hi-tech yang sama sekali tidak dipihak Trump. Universitas-universitas yang juga sama sekali tidak berada di pihak Trump, organisasi-organisasi perempuan dan hak asasi juga. Jadi kita bisa kuat dengan kelompok-kelompok di Amerika. Terima kasih saja jika Trump mau mendukung, tapi kalau tidak sesuai dengan prakarsa kita ya jangan dituruti, orang Amerika aja nggak nurut sama Trump masa kita harus nurut?

 

Kembali bicara soal kebijakan Trump kedepannya, “we will make America Great Again” apakah akan merugikan bagi Indonesia?

Emang sekarang Amerika nggak Great? Yang kita khawatirkan ”America Great Again” itu orang muslim di tangkepin, imigran dibatasi, perjanjian dagang dibubarkan, itu bukan membuat “America Great Again” tapi membawa Amerika seperti 50 tahun yang lalu, sebelum ada hak-hak sipil. Tentunya dia perhatikan pemilihnya, pemilihnya senang milih dia karena dia akan membuat Amerika aman untuk orang-orang kulit putih kelas menengah-bawah yang tidak suka orang-orang etnis lain. Padahal orang-orang keturunan etnis tersebut sudah lebih dari 50 tahun jadi warga Amerika. Ada anggapan orang kulit putih itu dirugikan oleh orang kulit berwarna. Padahal sebenarnya tidak, merekanya saja yang ketinggalan. Perkembangan teknologi semakin meningkat seharusnya mereka semakin mengejar ketertinggalan mereka tersebut.

 

Prediksi anda, sebagai orang yang pernah berada di posisi sangat dekat dengan orang nomor satu di Indonesia, 6 bulan kedepan akan seperti apa Amerika dibawah kepemimpinan Trump dan pengaruhnya pada dunia?

Ada dua kemungkinan, pertama : setelah satu minggu atauh satu bulan Trump memerintah, dia akan sadar bahwa memerintah itu tidak sama dengan kampanye. Bahwa memerintah itu perlu bekerja sama, berpikir rasional, karena dia harus didukung kongres, senat, menteri-menterinya sendiri, maka dengan sendirinya Trump akan membaik. Kalau tidak membaik, Amerika akan lebih terbagi lagi, dia akan tidak kuat, kepemimpinan dunia akan bergeser dengan in-word looking , (melihat kedalam), yang justru akan menghilangkan kekuatannya. Justru Amerika itu kuat karena posisinya sebagai pemimpin dunia. China sudah terlihat, kalau Trump masih tidak setuju Climate Change, dia yang akan memimpin. Dan Climate Change itu sudah jadi program PBB. Diikuti 92 negara, sudah ada Perjanjian Paris, sudah ada COP beberapa kali, dan Industri sudah menerima itu. Apa yang akan terjadi nanti konflik politik juga karena Partai Republik orangnya banyak yang sehat.

Jadi artinya Trump tidak semengerikan itu?

Saya lebih percaya pada kebaikan hati orang Amerika daripada kegilaan Trump.

Url : https://www.youtube.com/watch?v=ofoxzWe76ug&feature=youtu.be 

Print article only

0 Comments:

« Home