Articles

Kelemahan SBY terjadi justru di bidang kekuatannya

Seputar Indonesia
31 October 2005

Keinginan masyarakat untuk terjadinya reformasi dan pembrantasan korupsi sebagaimana ditekankan dalam janji kampanye SBY terbentur terus pada kasus-kasus mengenai pemerintah sendiri. Semua kasus ini penting, tapi mengurangi konsentrasi dari tugas utama pemerintah. Pejabat Orde Baru yang korup tetap terhormat, sementara reformis saling memotong. Seakan-seakan orang sekampung mengejar maling, tapi maling begitu susah ditangkap, sampai para pengejar maling saling menyalahkan dan bertikai antara mereka.

Dalam kondisi masyarakat yang tidak terfokus ini, diperlukan kepemimpinan yang pasti dari seorang Presiden. Memang betul bahwa semua kerancuan ini adalah tanda demokrasi. Keragaman adalah ciri demokrasi, tapi hanya dalam tahap proses berpendapat. Pada tahap eksekusi, demokrasi harusnya menuangkan kebijaksanaan yang mewakili keinginan publik. Masyarakat yang mengangkat masalah, pemerintah cq. Presiden yang membuat solusi.

Sayangnya, dalam satu tahun masa kepresidenan SBY, malah kepresidenan yang membuat masalah, dan masyarakat yang harus cari solusi. Kita saksikan pembengkakan anggaran kepresidenan. Yang paling menyedihkan bukan kenaikan anggaran itu sendiri. Yang menyedihkan adalah cuci tangan dan bantah membantah para pejabat. Jurubicara Presiden menyatakan kaget dan tidak tahu menahu. Menteri Keuangan mengatakan kenaikan anggaran Presiden diketahui semua orang, karena sudah dibahas di Sidang Kabinet. Ia membantah akan membeli pesawat terbang baru, sementara pejabat tinggi Departemen Keuangan mengatakan memang ada rencana beli pesawat. "Kita punya uang banyak kok,” katanya.

Kalau semua yang berwenang berbenturan ucapan, maka tinggal Presiden yang bisa memberikan kejernihan. Sayangnya Presiden tidak mau bicara kecuali dalam norma umum. Ini mengherankan, mengingat SBY sebagai bekas perwira tinggi harusnya paling terampil membentuk teamwork dan paling mengerti konsep tanggung jawab seorang pemimpin. Tapi dia biarkan anak buahnya mempermalukan diri di depan masyarakat.

Pemerintah belum maju dengan reformasi yang diinginkan. Issue yang menguasai berita sekarang adalah justru salah kaprah pemerintah, bukan inisiatif pemerintah. Bisa disebutkan juga berita-berita sekarang adalah “distraction”, atau pengalihan masalah, dari pemenuhan janji sentral SBY sewaktu kampanye untruk melakukan reformasi dan pembrantasan korupsi. Selain tidakperform, pemerintah juga tidak komunikatif. Ini mengherankan, mengingat SBY adalah public figure yang sangat komunikatif untuk dirinya.

Issue anggaran kepresidenan mengalihkan perhatian orang dari masalah yang lebih serius, kegamangan yang menyertai pembagian Dana Kompensasi BBM kepada 15 juta rakyat termiskin di Indonesia. Tidak mungkin kita mengukur kemiskinan orang dari data sukarela yang dikumpulkan BPS. Akibat salah ukur itu (siapa miskin siapa tidak), rakyat meluapkan ketidak puasannya pada kepala RT dan kepala desa dalam bentuk demo sampai pada kekerasan fisik. Banyak pejabat kecil menjadi korban amarah rakyat, sementara pimpinan pemerintah hanya berkomentar bahwa lumrah, jika orang menjadi korban berbagai peristiwa. Warga kelas menengah pro SBY mengatakan, tidak apa-apa, yang antri 10 juta orang, yang mati hanya beberapa. Tidak ada upaya pemerintah untuk minta maaf sementara rakyat dibiarkan saling tuduh dan saling merusak. Sangat tidak manusiawi, sementara SBY dikenal santun dan sensitif.

Seorang doktor ekonomi Indonesia di Universitas Yale mengingatkan, bahwa adalah satu tanggung jawab perancang program kompensasi BBM harusnya adalah memperkecil insentif untuk berlaku tidak jujur (minimize moral hazard). Menggantungkan keberhasilan program terhadap kejujuran responden, dapat dianggap sebagai pemindahan tanggung jawab kepada petugas BPS, Ketua RT, dan akhirnya Kepala Keluarga. Dengan mengharap terlalu banyak dari kejujuran responden, justru para perancang programtidak jujur dalam melakukan tugasnya. Dan pemerintah lalai dengan menyetujui program ini.

Ilmu ekonomi mengenal "the unintended consequences of human actions".Analisa kebijakan tidak hanya memperhatikan dampak langsung dari kebijakan tersebut, tapi juga insentif apa yang mungkin timbul dari kebijakan tersebut. Tim ekonomi SBY, dalam menjelaskan perlunya subsidi BBM dicabut, tampak fasih sekali dengan "the law of unintended consequences" ini. Alasan untuk mencabut subsidi sangat kental diwarnai dengan argumen ini: "subsidi selama ini mendistorsi harga/merubah sistem insentif sehingga kita tidak hemat, sehingga ada penyelundupan," dan seterusnya. Jadi jelas, konsep ini sebenarnya tidak asing bagi mereka. Tapi ternyata, kemampuan mereka untuk menjelaskan segala macam konsekuensi negatif dari subsidi BBM hilang ketika program dana kompensasi BBM tidak bisa mengantisipasi bahkan efek paling langsung dari program ini.

Apa perancang program dana kompensasi BBM dan pemerintah salah perhitungan? Mungkin. Tapi kata "ceroboh", "sembrono", atau "negligent", mungkin lebih tepat. Ini kembali mengherankan, mengingat SBY adalah orang yang teliti dan hati-hati. Kelemahannya kembali terjadi pada bidang yang menjadi kekuatan beliau.

Sementara itu Presiden tetap bersikap tenang dan senyum-senyum, memberi kesan bahwa semua kekacauan ini bukan tanggung jawabnya. Padahal kerusuhan dalam pembagian dan kompensasi ini bukanlah tanggung jawab siapa-siapa kecuali Presiden. Salah komunikasi antara kantor kepresidenan dan kabinet merupakan tanggung jawab Presiden. Jika tidak ada yang mau ambil tanggung jawab, maka pimpinan teratas harus “menjemput tanggung jawab”. Presiden Harry S. Truman memasang papan di mejanya di Gedung Putih dengan kata-kata: “The buck stops here.” Artinya, tanggung jawab berhenti disini, tidak bisa dioper-oper lagi. SBY adalah orang baik, jujur dan tulus. Tapi sikap politiknya tidak disertai dengan “decisiveness”, ketegasan yang harusnya menjadi ciri seorang jendral apalagi seorang Presiden.

Popularitas merupakan motif utama SBY. Mungkin beliau lupa, bahwa mandat Presiden sekarang adalah yang terbesar dalam sejarah negara demokrasi, dan bahwa oposisi politik tidak punya kekuatan karena semua partai mengambil sikap oportunistik. Mereka tidak bersatu melawan Presiden karena masing-masing berharap mengambil untung dari kelemahan Presiden. Tidak ada yang ingin Presiden ini jatuh. Semua setuju ia bertahan sampai 2009. Jadi bagi SBY, harusnya popularitas tidak dipentingkan. Yang lebih harus dipentingkan adalah efektivitas. Beliau boleh bersikap tegas, mengambil inisiatif untuk mengadakan perbaikan. Tidak perlu menghabiskan tenaga berkampanye terus.

Sekarang Presiden AS George Bush sedang menghadapi pengalaman pahit dalam menghadapi minggu terberat selama dia jadi Presiden. Bush memenangkan perang tapi tidak perform untuk rakyat. Baru saja terpilih setahun yang lalu dengan salah satu mayoritas terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, sekarang terpuruk dengan dukungan paling rendah selama menjabat. Ini bisa menjadi pelajaran bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tidak boros dalam menggunakan mandat kemenangan Pemilu. Tidak cukup menang kampanye, sekarang harus memberikan kerja nyata untuk orang biasa.

Wimar Witoelar, InterMatrix Communications – www.perspektif.net

Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang terbit dalam Harian Seputar Indonesia tanggal 1 November 2005 berjudul "Kelemahan SBY Justru di Kekuatannya"

Print article only

16 Comments:

  1. From Martin Manurung on 01 November 2005 08:00:50 WIB
    Beberapa orang memang kadang tidak sadar priviledge yang dia miliki. Seperti orang yang sudah punya mobil bagus, tapi dibawa dengan gaya supir mikrolet. Dalam sejarah Indonesia, SBY adalah presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat dengan mandat yang cukup signifikan. Tapi, mandat yang mewah itu, dijalankan dengan 'ngepot' ke kiri ke kanan, nabrak2 pinggir jalan dan nyenggol pejalan kaki. Sayang sekali, akhirnya mandat yang mewah itu penyok-penyok, lampunya pecah dan ban-nya goyang. Tapi, untungnya, masih bisa jalan.

    Yang lebih bahaya kalau orang yang kesenggol dan ketabrak itu akhirnya marah2. Dan mereka kehilangan kepercayaan pada transisi demokrasi, karena ternyata demokrasi tidak membawa perubahan terhadap penderitaan mereka. Kejadian yang sama di negara lain melahirkan kudeta militer, namanya Jenderal Musharraf. Di negara yang lain lagi, akhirnya menjadi failed states karena orang-orang sudah tidak percaya pada demokrasi dan masing-masing saling meniadakan.

    Kepemimpinan yang ambivalen, sangat membahayakan bagi transisi demokrasi.
  2. From vanya on 01 November 2005 14:59:36 WIB
    meskipun presiden-wapres kali ini merupakan yg pertama di pilih rakyat secara langsung, tapi kita juga tahu bahwa presiden SBY tidak didukung oleh partai besar sehingga harus cari dukungan kanan kiri. Inilah kekurangan yg mungkin muncul dari sistem multi partai sekarang. Jika pemilu mendatang ada presiden terpilih dari partai kecil lagi..dipastikan kejadian SBY ini akan terulang lagi.
    Sudah waktunya pemerintah membereskan partai partai politik yg sudah menjamur seperti sekarang.
  3. From Martin Manurung on 01 November 2005 20:19:36 WIB
    Sistem Pemilihan Presiden secara langsung justru untuk memperkecil peran partai dalam melegitimasi kepresidenan. Menurut saya, nggak ada masalah kalau SBY dari partai 'kecil' (sengaja pakai tandai kutip, krn sebenarnya Partai Demokrat juga bukan partai kecil kalau dilihat dari jumlah suaranya, cuma tdk mayoritas di parlemen). Legitimasi dari pemilihan presiden secara langsung sangat kuat. Presiden tidak perlu ragu, karena rakyat memilihnya secara langsung. Bahkan, legitimasi Presiden lebih kuat dari anggota parlemen, karena mereka tidak dipilih secara langsung, melainkan dengan sistem daftar terbuka yang terbatas (masih harus coblos gambar partai).

    Legitimasi SBY via pemilihan langsung, lebih besar daripada presiden-presiden sebelumnya yg dipilih oleh MPR. Apalagi, UUD sdh mengatur mekanisme impeachment yang sangat presidensial, sehingga presiden hampir tidak mungkin bisa dijatuhkan dengan kudeta parlementarian seperti terjadi pada Gus Dur.

    Partai Politik yang menjamur tidak perlu 'dibereskan' oleh pemerintah. Biarkan saja, toh kita lihat bagaimana the wisdom of voters dalam Pemilu yang menghukum partai berkuasa yang tidak berprestasi. Biarkan sistem demokrasi sendiri yang 'membereskan' partai-partai yang tidak representatif, bukan pemerintah.
  4. From wimar on 02 November 2005 06:40:29 WIB
    ada kesan bahwa partai harus dibikin senang. padahal SBY berusaha bikin seneng orang2 aja dan kelompoknya. nggak ada partai sih sekarang ini. yang ada kumpulan orang ngelobby SBY

    ini dalam bahasa Orang Biasa
    terjemahan kedalam bahasa resmi, tersedia
  5. From adinda on 02 November 2005 13:37:17 WIB
    SBY bukan Abunawas yang bisa menyulap secara instan kesulitan - kesulitan kronis yg dialami oleh kita semua dan untuk itu dia perlu waktu dan bantuan dari suatu tim yang baik dan kompak.

    sebagai freshman SBy saya beri nilai B-, hal yang mendongkrak adalah Tidak KKN (so far), sedangkan faktor utama yang menurunkan nilai adalah lebih banyak dikarenakan tidak didukung oleh tim yang baik.

    untuk kedepan SBY tidak perlu sungkan ,apalagi takut, untuk merombak/memperbaiki timnya.

    Singkat dan gampangnya sih begitu.

    from SBY Believer (...still)
  6. From Louise on 02 November 2005 15:44:30 WIB
    mungkin ini agak kurang nyambung dengan artikel diatas, tetapi ada quotation yang menurut saya patut untuk direnungi oleh orang-orang yang sangat "peduli" dengan pemerintah..

    hummm.. gini bunyinya: "don't try to teach a pig to sing, it annoys the pig, and it wastes your time"

    Gitu loh...

  7. From yudho raharjo on 05 November 2005 00:42:56 WIB
    Politik itu berdasarkan fakta dan kekuatan. Dan ketika kekuatan telah berubah menjadi kelemahan maka kita tinggal menunggu datangnya kekuatan baru yang akan menggantikan kekuatan lama yang tidak berdaya lagi. Saya tidak bermaksud merencanakan kudeta, walaupun buku favorit saya adalah karangan Edward Lutwaak yang berjudul kudeta. Tetapi, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada matahari kembar di pemerintahan. Bukan tidak mungkin wapres yang disebut Gus Dur dengan Van Der Kalla akan melakukan take-over secara de jure. Karena bukanlah selama ini beliau yang secara de facto menjalankan pemerintahan...(mari kita kembali mengingat apa yang disebut Wimar sebagai when the princess left his mentor, ketika Mega menggantikan Gus Dur)
  8. From superman on 05 November 2005 12:39:00 WIB
    sby+jk=indonesia hancur sumpah aku ora ngapusi
  9. From Muhammad Nasser on 07 November 2005 10:16:16 WIB
    Matahari Kembar ini yg membuat tidak seimbangnya Roda Pemerintahan. Seperti CD Original dan bajakan, dimana yg bajakan ingin meraih kelebihan dari segi penjualan dari pada segi kualitas CD tersebut. tentu saja CD original lebih enak di dengar daripada yg bajakan. tapi berhubung adanya Mafia, CD Bajakan lah yg bisa di Untungkan. Dengan menggeser CD original, dan CD bajakan yg akan naik menjadi nomer satu.

    Mungkin rada OOT ( out of Track ). tapi kiasannya mungkin kurang lebih seperti itu. CMIIW ( Correct me if I'm Wrong )
  10. From Hanif on 09 December 2005 18:46:57 WIB
    Siapapu Presidennya, tidak akan merubah apa pun selama sistem pemerintahan di Indonesia masih menggunakan SISTEM WARISAN BELANDA yang selalu diagung-agungkan oleh penganutnya.
  11. From mat gerobak on 28 January 2006 00:15:39 WIB
    benarkah sby+jk = pro rakyat atau malah sebaliknya
    sebenarnya mereka itu berniat gak sih merubah bangsa...kalau gak rugi banget gue milih mereka
  12. From Solu on 09 February 2006 08:17:49 WIB
    Saya cuman pesen dikit kepada bapak presiden, supaya perhatikanlah rakyat kecil jangan memperhatikan orang yang ada di atas aja? dan perhatikanlah kaum yang lemah kerena di indoneasia masih banyak orang - orang yang harus di perhatikan.
  13. From Pasbroh on 25 February 2006 09:37:54 WIB
    Kita seneng bgt SBY jdi presiden coz dy ganteng bgt...Tpi kok harga2 pda naik c....Padahal uang jajan kita ga naik lho..gmna dong om SBY..??? Kita sbg generasi muda kan jadi bingung om..Om SBY, salam yach sma anak2nya yg cakep kyak papanya....Salam jga ma istri yang cantik ok...Gtu aja dech..Da da om....
  14. From abhie on 01 February 2007 16:41:21 WIB
    Agama tidak pernah mengajarkan pada umatnya untuk berburuk sangka, tetapi melihat kenyataan yang terjadi bukan berarti berburuk sangka. sejak dipimpin oleh seorang SBY bangsa ini selalu dirundung bencana,4bulan pasca beliau berkuasa bangsa ini langsung dihantam badai Tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang, di susul lagi dengan berbagai musibah-musibah lain seperti tanah longsor,Gempa Bumi, hingga samapi detik ini yang tak kalah hebohnya adalah "Virus Kematian" flu burung. dan yang paling hangat terjadi adalah berbagai macam kecelakaan yang terjadi baik di darat, laut, dan udara yang kesemuanya seharusnya masih dapat di cegah apabila pemerintah tidak lalai dalam menjaga aset-aset vital transportasi.

    Tanpa mangurangi rasa hormat, ada baiknya kita fikirkan apa orang yang selama ini kita puja-puja bagaikan DEWA PENYELAMAT orang lemah memang seorang yang amanah, atau jangan-jangan bangsa ini telah digadaikan kepada hal-hal gaib untuk mendapatkan kedudukan sebagai Presidan dengan mengorbankan rakyat di Negara ini sebgaai tumbal persembahan....???
  15. From sweet girl\'s on 13 November 2008 14:58:10 WIB
    Om...SBY Tolong dunk..!!cepet turuNin HargA BBM Di IndOnEsIa Ini..,But.. Jangan Cuma GopeK Doang!!Cozz..HaRgA mINYak Dunia Kan UdaH tURun SeteNGaH hARga Dari HarGa YanG dUlU..!!tEYUzzz...Jamkesmas-Nya bener-Bener DiPeRhatIIn dunk..!!!!!!!!!!!!
  16. From Melisa on 07 October 2009 00:41:14 WIB
    sebuah bangsa akan menjadi bangsa yang makmur berasal dari masyarakatnya sendiri dan didukung oleh pemerintahannya.
    Daripada menggong2 akan pemerintahan, mengapa tidak mengubah diri sendiri agar Indonesia jadi lebih maju?
    jangan hanya mengandalkan pemerintah, karena nasib kita bukan bangsa yang mengatur, tapi kita sendiri
    pemerintah hanyalah alat untuk mengatur bangsa,
    tapi kemajuan bangsa tetap berada di tangan rakyat yang melakukannya..
    siapapun presidennya dan bagaimanapun pemerintahannya, bangsa tetap merupakan tanggung jawab SEMUA MASYARAKAT,
    so, LESS TALK DO MORE!

    musibah2 yang mendera Indonesia mungkin bisa dijadikan renungan, agar kita menyelamatkan BUmi kita dari polusi.
    karena sebenarnya bencana2 alam, kecelakaan, maupun penyakit kan manusia sendiri yang membuat..
    Bencana alam = kurangi polusi
    Kecelakaan = patuhi peraturan lalu lintas dan kalau memang kendaraan sudah layak pakai yah jangan dipakai, cari mati namanya
    Penyakit = kalau hidup bersih ga akan kena penyakit kok...
    DInalar maupun ilmiah tetep masuk akal kan???

« Home