Badai Pasti Berlalu
Perspektif Online
08 February 2010
Oleh Wimar Witoelar
Dalam suatu posting di perspektif.net, Didiet Budi Adiputro menulis bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menghadapi momen penting satu bulan mendatang. Bukan momen Pansus, bukan atraksi kerbau di bunderan HI atau demonstrasi ala bonek yang akhir–akhir ini marak terjadi. Tapi sesuatu yang jauh lebih penting dan akan berdampak besar bagi Indonesia, yaitu rencana kunjungan Presiden Barack Obama ke Jakarta Maret mendatang.
Kunjungan ini bukan hanya berarti untuk memuaskan rasa emosional karena masa lalu Obama yang pernah dilewati di Jakarta, tapi juga menyangkut masa depan politik luar negeri Indonesia, dan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat yang masih dianggap sebagai negara paling berpengaruh di dunia. Dalam acara Selamat Malam Nusantara di TVRI yang dipandu oleh Ansy Lema, Wimar Witoelar bersama Ketua Jurusan Hubungan Internasional UI DR. Hariyadi Wirawan berbagi perspektif mengenai hal ini. Indonesia menjadi negara yang penting bagi Amerika, bukan karena memiliki latar belakang historis dengan Obama, tapi seperti yang dikatakan oleh jurubicara Gedung Putih Robert Gibbs, Indonesia menjadi penting karena kini merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Dimana demokrasi menjadi suatu budaya baru yang berkembang di dalam masyarakat mayoritas muslim yang juga menjunjung pluralisme dan inlusivitas. Ini sebuah prestasi tersendiri, karena baru kali ini kita bisa berdiri sama tegak dengan Amerika.
Dengan modal itu, kita bisa memainkan posisi kita agar bisa terus bergerak maju terutama dalam kerjasama ekonomi, investasi dan juga transfer teknologi dari negara sebesar Amerika. Apalagi kita juga sedang menghadapi tantangan perdagangan bebas China – ASEAN, sehingga peningkatan mutu produk dan daya saing mutlak diperlukan. Namun menurut Wimar, kesempatan untuk melakukan partnership dan transfer teknologi ini bisa terganggu jika sebagian masyarakat yang tidak mengerti persoalan dan elit politik yang punya kepentingan jangka pendek terus merongrong orang–orang bersih di pemerintah. Sehingga demokrasi disalah artikan dengan menyerang orang yang ingin menegakkan pemerintahan bersih, lewat demonstrasi liar. “Kita harap ketika Obama datang demo-demo asalan sudah berlalu, sebab semua itu mengurangi makna demokrasi’, tambah juru bicara Presiden Wahid ini.
Hal lain yang menjadi penting untuk dilakukan adalah bagaimana para pemegang resources ekonomi dalam negeri seperti perusahaan–perusahaan besar bisa menerapkan good coorporate governance dengan konsisten. Seperti taat membayar pajak, transparan, dan menghindari praktek kejahatan ekonomi lainnya. Karena kondisi politik dan ekonomi dalam negeri akan berpengaruh pada citra dan perjuangan diplomasi Indonesia di luar negeri.
Jika kita terus berkutat pada politik jangka pendek seperti Pansus, isu pemakzulan, dll, maka sulit buat kita untuk bisa maju. Karena menurut Hariyadi banyak agenda yang bisa diperjuangkan dengan kedatangan Obama ke Jakarta, antara lain bagaimana membuat Indonesia lebih berperan dalam G20 seperti negara berkembang lainnya semisal China, Brazil dan India. Lebih baik Pansus bekerja merumuskan agenda yang lebih bermutu daripada menyidang semua pejabat seperti layaknya persidangan hukum.
Pandangan penulis politik muda Budi Didiet Adiputro ini sangat penting untuk disimak secara penting, bukan sebagai suatyu serangan terhadap pihak yang menyerang Sri Mulyani - Boediono - SBY, tapi sebagai peringatan bahwa kalau kita tidak berhenti cekcok, dunia akan melewati kita sekali lagi sebagaimana dia melewati kita di zaman megalomania Sukarno dan totaliterisme Suharto. Memang Indonesia negara yang kuat, tapi secara potensial, bukan secara wujud nyata. Tidak mustahil Indonesia bisa menjadi negara kuat, walaupun kini dalam keadaan paling rendah sejak reformasi dimulai. China kini menjadi keajaiban ekonomi dunia, setelah melampaui masa dimana tidak terbayang ada kehidupan ekonomi dalam bentuk selain komune yang tidak efisien kecuali sebagai sarana pengekangan politik. Rusia menuju kebangkitan kembali setelah melampaui seramnya komunisme Uni Sovyet, dan sama seramnya premanisme setelah Rusia men jadi negara sendiri. Penderitaan Indonesia yang kronis sebetulnya tidak seberapa dibandingkan dengan kesengsaraan yang dahulu menimpa China dan Rusia dan negara-negara lebih kecil seperti Albania, Myanmar dan Korea Utara. Apalagi kemampuan recovery Indonesia sangat kuat, mengingat kita memiliki manajemen ekonomi yang dikagumi dunia. Kalau sepakbola memiliki Cesc Fabregas pembagi bola terbaik di dunia, Indonesia memiliki Sri Mulyani Indrawati menteri keuangan terbaik sedunia. Jangan sampai Fabregas kembali ke Barcelona dan jangan sampai SMI kembali ke Salemba atau Depok.
Kelihatannya kekuatiran berhasilnya Golkar memkasakan kehendaknya semakin tipis, Secara internal mereka hampir pecah, hanya tertahan oleh 'miracle glue' yaitu uang Trilyunan yang sanggup dikerahkan. Tapi sekuat apapun ambisi politik dan kekuatan uang, kenyataan ekonomi dan perlunya tim ekonomi kelas dunia yang sekarang lebih kuat untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Jika terlihat demo yang semakin rendah selera dan serangan Pansus yang semakin irrasional, itu tanda keputus asaan seperti tendangan yang ditembakkan sembarangan dalam lima menit extra time dari satu team yang ketinggalan angka. Lain masalahnya PDIP, Jika PDIP bersikap kritis terhadap pemerintah maka itu wajar karena mereka partai oposisi. Dan dengan cara ini mereka bisa menjadi oposisi permanen. Disini banyak orang baik dan konsisten, walaupun ada juga politisi muda oportunis yang bosan kalah dan menyeberang ke NasDem.
Badai pasti berlalu. Sorry bung Eros, tidak minta izin dulu. Tapi tidak ada ungkapan yang lebih tepat :). Secara dingin dan analitis, wartawan senior Metta Dharmasaputra memberikan ikhtisar mengenai habisnya peran Pansus. Inti permasalahan adalah banyaknya bolong dalam kerja Pansus yang hampir berakhir. Belum secuil pun bukti penyelewengan dana penyelamatan Century diperoleh. Dengan ucapan terima kasih pada Pak Metta, kita kutip inti analisa tajam yang berdasarkan data dan fakta.
Persoalannya, hingga kini belum secuil pun data meyakinkan dikantongi tim Pansus untuk bisa membuktikan adanya patgulipat di balik keputusan penyelamatan dan aliran dana Century. Di tengah kebuntuan Pansus, sebagian publik kini justru balik mempertanyakan niat sesungguhnya Pansus mengusut kasus ini. Hasrat menggebu dari anggota Dewan yang meminta Boediono dan Sri Mulyani non-aktif, hingga munculnya wacana pemakzulan, mengundang kecurigaan: jangan-jangan semua memang ditujukan semata untuk mendongkel Sri Mulyani dan Boediono.
Kecurigaan publik akan adanya politisasi kasus Century kian besar, setelah belakangan bermunculan pula fakta-fakta yang menunjukkan bahwa suara para politisi Senayan ternyata tak konsisten. Kini mereka lantang mengkritik alasan pemerintah menyelamatkan Century yang dinilainya terlalu mengada-ada. Kekhawatiran pemerintah akan dampak sistemik di tengah krisis global jika Century roboh, dipandang sebagai ketakutan di siang bolong. Fakta penting lain yang tak mungkin dipungkiri, DPR telah menerima Laporan Keuangan Tahunan Lembaga Penjaminan Simpanan tahun buku 2008 pada 28 April 2009. Laporan diserahkan kepada Ketua DPR, Ketua Komisi Keuangan dan Presiden. Laporan itu pun telah diaudit BPK dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian. Di dalamnya tercantum penjelasan soal penyelamatan Century. Juga disebutkan bahwa hingga akhir 2008, dana penyelamatan yang sudah dikucurkan LPS Rp 4,9 triliun. Dalam hasil auditnya, BPK bahkan memberikan catatan bahwa hingga proses audit pada Maret 2009, dana penyelamatan sudah mencapai Rp 6,1 triliun.
Jika begitu, yang menjadi pertanyaan, kenapa kemudian baru pada Agustus 2009 para anggota Dewan tiba-tiba seperti tersambar geledek mendengar kucuran dana ke Century mencapai lebih dari Rp 6 triliun? Kenapa pula mereka berbalik mempertanyakan alasan penyelamatan bank itu?
“Anda sendiri bisa menginterpretasikan semua ini,” kata Sri Mulyani.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/302951/34/




21 Comments: