Arman dan Ken Arok
AREA magazine
27 January 2010
Wimar Witoelar
Semua hal yang penting bisa diterangkan lebih jelas dalam bentuk cerita. Daripada nulis Curriculum Vitae lengkap, buatlah "The Story of My Life" yang bisa dinyanyikan dalam tiga menit. Di SMP, Arman susah sekali menghapal tanggal kejadian sejarah dan tanggal-tanggalnya, seperti siapa Ken Arok? Lahir tanggal berapa? Berkuasa tanggal berapa? Baru selesai hapal, muncul nama lain, Ken Dedes. Arman yang berusia 12 tahun itu bingung, siapa lagi nih orang satu? Akhirnya dia switch off dan mendapat nilai 4 untuk sejarah. Untung nilainya tinggi di Matematika dan Fisika, jadi dia naik kelas.
Di SMA datang guru Pak Rahardjono yang datang tanpa catatan. Aneh juga, pikir Arman, pelajaran sejarah kok tidak disuruh hapalin tanggal. Kata Pak Guru, kalau mau tahu tanggal, lihat saja di wikipedia. Dia mau bercerita saja, Katanya, dan mulailah pak guru cerita mengenai Ken Arok. Arman kaget, "Wah, ini orang yang gua disuruh hapalin tanggal lahirnya. Males dengerin ah." Tapi begitu pak Rahardjono memasuki ceritanya, Arman seakan terhipnotis. Menurut Pak Rahardjono, Ken Arok adalah putra Dewa Brahma hasil selingkuhan sama wanita bernama Ken Ndok. Rupanya semua nama pakai "Ken" pada waktu itu. Gila, kayak infotainment, pakai selingkuhan segala. Karena malu punya anak tidak sah, ibunya membuang Ken Arok ke tempat sepi. Tapi kemudian ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong. Terusnya...cerita seru tapi Arman ngantuk karena abis main bola, tapi dia terbangun waktu terjadi adegan seru. Ken Arok membunuh raja Tumapel bernama Tunggul Ametung waktu sedang tidur. Entah bagaimana, dengan spin yang luar biasa dia bisa menjadi raja. Bukan itu juga, malah dia menikahi Ken Dedes istrinya Tunggal Ametung, dan menjadi raja Jawa yang besar. Tikam menikam seperti cerita politik hari ini.
Arman tidak disuruh menghapal tanggal dan tahun, Tapi dia cari sendiri di wikipedia dan sumber lain di internet. Dari matematika dan fisika dia jadi berminat pada sejarah, tapi tekanan sosial menggiring dia ke ITB dan sejarah menjadi minat diluar profesi. Semua karena cerita lebih berbicara dari fakta sejarah. Sejarah dunia penuh dengan cerita yang menjadi bahan subur buat buku dan film Hollywood. A picture is worth a thousand words, but a story is worth a thousand pictures.
Ilmuwan komunikasi mengatakan, cerita itu ada macam-macam, bukan saja dari seru tidaknya, tapi dari kekuatannya untuk menyampaikan message. Katanya, cerita itu kuat kalau dia benar. A great story is true. Kuat kalau dia konsisten dan otentik. Hari ini TV ramai dengan berbagai cerita, Selalu ada cerita seru bergantian. Tapi yang akan berdampak jangka panjang adalah cerita yang bisa dipercaya. Kepercayaan adalah resource yang langka. Kata pepatah jaman dulu, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya. Kelihatannya pepatah itu tidak berlaku lagi. Banyak orang yang lancung alias bohong sekian kali, korup, menipu, tapi tetap bisa menjadi wakil rakyat. Bagian-bagian media bisa tersangkut agenda politik dan dibeli uang besar. Tapi di akhir cerita kita, saya yakin bahwa yang benar akan dipercaya. Pembaca dan konsumen media punya kejelian untuk mencium inkonsistensi.
Bagaimanapun, semua bisa disampaikan dalam suatu cerita. Kalau tidak, dia kurang punya relevansi. Seperti dongeng anak-anak yang diceriterakan pada Arman waktu kecil, yang bagus adalah cerita yang membuat anak mengerti message yang dikandung. Atau paing tidak mengundang pertanyaan: "So, what is the message?"
Belum ketemu oleh Arman, apa message yang terkandung dalam cerita Ken Arok. Bahwa kekuasaan adalah semuanya, dan bisa diraih dengan kesungguhan, kelicikan dan keris sakti? Harusnya ada message yang lebih berguna dari itu.




12 Comments: