Sri Mulyani: Dilema Moral dan Politik SBY
Radio Nederland
18 January 2010
wawancara Radio Nederland dengan Wimar Witoelar di Bangkok:

Selasa ini keluar berita bahwa menteri keuangan Sri Mulyani akan diganti akhir Februari sehubungan perannya dalam kasus Bank Century. Berita ini terutama datang dari Partai Golkar, yang buru-buru mengajukan nama Anggito Abimanyu sebagai calon terbaik untuk jabatan menteri keuangan.
Wimar Witoelar, mantan jubir Gus Dur dan pakar komunikasi mengatakan, Golkar melakukan manuver ini untuk menyelamatkan Aburizal Bakrie. Jadi sekarang ada di tangan SBY, apakah dia akan menyelesaikan dilema ini secara moral atau politik. Ikuti tanggapannya kepada Radio Nederland Wereldomroep:
Menurut Wimar Witoelar, Presiden SBY jelas diserang oleh Aburizal Bakrie, Golkar dan kawan-kawan sehingga suatu saat hanya ada dua kemungkinan terjadi. Atau Golkar menang, dia jatuh atau Golkar mencapai satu akomodasi dengan Presiden SBY dan sama-sama setuju memberhentikan Sri Mulyani. Jadi kalau ada spekulasi sekarang itu hanya apakah ini SBY memilih akomodasi politik atau memilih mempertahankan stafnya yang bersih dan reformis.
KalauSBY membela stafnya, ini positif. Berarti menjalankan garis reformasi yang dimulai sejak dia memilih Boediono sebagai calon wakl presiden. SBY memang punya karakter untuk mempersilahkan keadaan itu kristalisasi sebelum dia mengambil keputusab akhir. Sebetulnya isyarat SBY sudah banyak yang positif, misalnya dengan mengatakan menyetujui bail out Bank Century dan tidak setuju memberhentikan Sri Mulyani dan Boediono.
Apabila Sri Mulyani dicopot, maka yang paling diuntungkan adalah Golkar sedang yang paling rugi adalah warga biasa yang menyimpan uang di bank, yang menghendaki keamanan di bank, serta investor asing. Seluruh sistim keuangan akan dipersulit. Tapi tidak sampai kolaps apabila digantikan oleh orang yang punya kemampuan ekonomi seperti Anggito Abimanyu. Dia orang trampil dan bersih tapi dia bukan seorang fighter seperti Sri Mulyani. Demikian Wimar. "Jadi kita akan kembali pada mild reform yang saya tidak tahu hasilnya akan sampai mana".
Bagi Golkar, siapa saja pengganti Sri adalah lebih baik asalkan bukan Sri Mulyani. Golkar juga tidak bisa menyatakan tidak setuju reformasi. Untuk sementara mereka ingin Aburizal Bakrie diselamatkan dari tuntutan pajak karena pengadilan pajak sedang dipersiapkan.
Ini seperti pengadilan Thaksin di Thailand. Thaksni mati-matian mempertahanklan diri karena inginmempertahankan uang yang dicuri dari negara. Sama halnya dengan Bakrie. Kita lihat saja apa akan diselsaikan secara moral atau politik.
Gus Dur dulu menyelesaikan soal korupsi secara moral. Buktikan dia jatuh. Sekarang sembilan tahun kemudian orang lihat apa kehebatan Gus Dur, karena sebagai presiden harus memilih apakah mau survive atau memberikan jalan baru untuk negaranya.
Menurut Wimar Witoelar, SBY akan diuntungkan apabila Sri Mulyani tidak dicopot. Karena SBY menang dengan 60% suara rakyat dan mereka itu sekarang belum bicara. Yang bicara itu hanya sekian anggota DPR, Pansus, Koran dan TV yang semuanya dikuasi oleh orang yang korup.
Jadi kalau dikembalikan pada rakyat, kalau dia meminta dukungan rakyat maka SBY akan untung. Dukungan rakyat itu tidak usah lewat referendum, bisa dilihat dari Twitter, Facebook, dan blog. Dukungannya kuat sekali. Barangkali SBY ini belum biasa bekerja langsung dengan rakyat walaupun dia menangnya 60% mandat rakyat. Dan itu masih ada.
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/sri-mulyani-dilema-moral-dan-politik-sby




40 Comments: