Social Media menjadi kekuatan masyarakat Indonesia
Koran Tempo
28 December 2009
Wimar Witoelar
.jpg)
Situs e27 berbasis di Singapura memasang berita pada tanggal 17 Desember dengan judul ‘Koprol Leading the Location Based Social Networking Wave in Asia?’..… Sesuatu yang tidak terbayangkan beberapa tahun yang lalu, atau bahkan satu tahun lalupun, ketika tidak banyak orang luar menyadari kecanggihan Indonesia sebagai masyarakat pengguna internet. Karena terbiasa melihat Indonesia menempati ranking rendah sebagai Negara dalam segala bidang mulai dari sepakbola sampai prasarana fisik dan social, ada anggapan dari sepuluh tahun yang lalu bahwa pemakai internet hanya sedikit. Dalam kenyataannya, data dari Nielsen Online, International Telecommunications Union yang dilaporkan pada tanggal 30 September 2009 melaporkan Indonesia masuk Top 20 dalam jumlah pemakai internet di dunia. Perkiraan menurut sumber tersebut adalah 30 juta pemakai, atau 12.5% dari jumlah penduduk 240 juta. Pada posisi ke-13 di dunia, Indonesia berada diatas Singapura, Negeri Belanda, Australia, Spanyol, Taiwan dan hamper 200 negara lain. Negara yang lebih banyak pengguna internetnya dibandingkan kita adalah negara super seperti Amerika Serikat, Jepang, India, Brazil, Jerman, Inggris, Rusia, Perancis, Korea Selatan, Iran dan Italia.
Jumlah pemakai internet di Indonesia lebih besar dari jumlah seluruh penduduk Australia atau Malaysia. Betul sekali kalau ada yang mengatakan bahwa itu disebabkan karena jumlah penduduk Indonesia memang besar. Tapi langsung kita bisa sambut dengan catatan, bahwa relevansi internet tidak perlu diukur dalam persentase penduduk, tapi lebih penting lagi adalah jumlah absolute penduduk. Kalau kita bicara mengenai 30 juta pemakai internet, maka dari segi ekonomi dan pemasaran kita bicara mengenai kekuatan pasar 30 pembeli produk dan pemakai jasa. Sebagai sasaran advertising dan sales, sangat besar artinya 30 orang, tanpa melihat dia merupakan berapa persen jumlah penduduk. Penjualan dilakukan pada orang, bukan pada statistik kependudukan. Perlu diingat juga bahwa daya beli 30 pemakai internet adalah lebih besar dari persentase penduduk yang diwakilinya, sebab pemakai internet bukan berasal dari masyarakat lapisan bawah ekonomi social.
Jika dilihat pada pengaruh masyarakat, jumlah 30 juta adalah jumlah yang besar, bukan diukur sebagai persentase dari jumlah penduduk, tapi dari pengaruh masyarakat. Sejak Pemilu 2009 telah kita lihat bahwa internet marketing dalam bidang politik mulai kuat di Indonesia, meniru sukses Obama yang mengandalkan kampanye kepresidenan tahun 2008. Contoh paling nyata di Indonesia dari efektivitas internet dalam isu masyarakat adalah ‘gerakan pembebasan’ Bibit-Chandra di facebook yang merupakan kunci strategis kemenangan masyarakat menghadapi politik bengis oknum aparat hukum. Setelah itu internet kembali membantu pembebasan Prita dari tekanan institusi yang arogan dibantu oknum penegak hokum.
Sekarang ini , internet kembali jadi forum pertarungan untuk pembebasan sandera politik yang lebih penting, yaitu Sri Mulyani – Boediono. Kalau Bibit-Chandra menjadi sasaran markus dan oknum lembaga penegak hukum, Sri Mulyani-Boediono diserang koruptor dan penghindar pajak menggunakan oknum anggota DPR. Nama-nama korban yang disebut sebetulnya bukan hal yang utama dalam drama politik yang berlangsung. Dalam ketiga kasus Prita Mulyasari, Bibit – Chandra, Sri Mulyani – Boediono, yang dipertaruhkan adalah Negara, masyarakat adil yang diganggu oleh elemen antisocial.
Tidak berlebihan kalau dikatakan internet adalah benteng demokrasi, seperti jelas terlihat di Iran. Sebagai senjata publik, social media adalah pedang berbilah dua. Di tangan orang baik, ia membawa perbaikan. Di tangan orang jahat, ia mendukung kejahatan. Beruntunglah kita bahwa orang baik jauh lebih banyak dari orang jahat. Orang terkaya di Indonesia bersama ex-pejabat terkorup mungkin bisa berkuasa sejenak dan membeli waktu media serta kursi politisi. Tapi pada akhirnya, people power ada di tangan people itu sendiri, orang banyak yang bersuara melalui jejaring social, karena kebanyakan situs tidak bisa dibeli untuk kepentingan politik korupsi.
Pertarungan masyarakat menggunakan social media tidak selalu dalam bidang bisnis atau politik. Topik paling hot pada waktu tulisan ini dibuat berkisar sekitar perseteruan antara meda mainstream melawan press vs social media. Konon kabarnya ada wartawan yang marah pada selebriti Luna Maya karena ia menegur wartawan infotainment di twitter (maaf kata kasar ditunjukkan untuk menyampaikan konteks): “Infoteinment derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”
Apresiasi orang Indonesia terhadap kemampuan rekan-rekan senegara tidak selalu muncul dengan tepat. Orang lebih membanggakan batik dan tarian walaupun tanpa wujud pengembangan yang nyata. Tidak banyak yang sadar bahwa kita bisa membanggakan kemampuan dan potensi lanjutan industri berbasis internet. Pengamat luar negeri mengagumi Indonesia sebagai Negara internet, sedangkan disini kita kurang sadar keseriusan potensi pasar internet, walaupun memang orang asyik memakainya untuk main-main, yang tidak salah juga. Keceriaan hidup adalah pangkal dari kreativitas. Tapi untuk menerjemahkan kreativitas menjadi produktivitas diperlukan prasarana bisnis yaitu jaringan investasi. Satu hal yang menarik dari posting e-27 yang disebut pada awal tulisan ini adalah, bahwa minat luarnegeri sangat kuat dilihat bukan saja dari entusiasme mereka tapi dari penghayatan terhadap potensi dalam negeri .
Dengan banyaknya venture capitalist dan investor institusional yang melirik situs potensial di Indonesia, pasti investor local akan takut ketinggalan kereta dan menawarkan modal sementara harga masuk belum melambung tinggi. Permainan antara investor dan investee sangat peka terhadap ‘timing’. Friendster yang gagal di Amerika karena terlalu lama menunggu investor, akhirnya 'terpaksa' jualan di Asia, tempat dia masih hidup. Akhirnya Friendster dibeli perusahaan Malaysia dengan harga murah.
Facebook telah menembus jumlah pemakai 200 juta di seluruh dunia. Dilihat dari angka penetrasi, Indonesia tidak termasuk teratas. Tapi Indonesia berkembang pesat. Karena ini pemain seperti yahoo dan service provider melirik secara aktif perkembangan social media dalam negeri. Yahoo yang ertantang di Amerika, berpaling ke Indonesia. Untuk tidak ketinggalan teknologi, yahoo memperkuat content dengan merekrut Budi Putra, blogger senior, sebagai partner Indonesia yg menjanjikan. Awal 2010 mereka akan buka kantor di Indonesia.
Pengamat pasar mengatakan bahwa dengan kecepatan pertumbuhannya di Asia, terutama Indonesia, social media menjadi ajang persaingan sehat antara berbagai kreasi. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan mendukung pemain luar negeri, atau juga memanfaatkan kemampuan jejaring social buatan dalam negeri dengan kekuatan lebih dalam ‘local knowledge’? Bukan soal nasionalisme, tapi soal pemberdayaan potensi.




19 Comments: