Articles

Indonesian Defense Minister Juwono Sudarsono educates US Secretary of Defense Donald Rumsfeld on international relations

Perspektif Online
07 June 2006
“Donald Rumsfeld found himself in an unusual position for an American secretary of defense: being browbeaten publicly by the defense minister of Indonesia. He—and other American Cabinet officers—had better get used to this treatment.” This came in an article in Slate, which quoted Indonesian Defense Minister Juwono Sudarsono as saying: "It is important to us because, as the world's largest Muslim country, we are aware of the perception, or misperception, that the United States is overbearing or overpresent or overwhelming in every sector of life in many nations and cultures ….
 
So, I was telling the secretary just recently, just two minutes ago, that your powerful economy and your powerful military does [sic] lead to misperception and a sense of threat by many groups right across the world, not just in Indonesia."
 
You may read the full article in Slate:  “Listen to Indonesia, Rummy! What a bizarre overseas encounter reveals about American foreign policy”. The article was written by columnist Fred Kaplan in Slate’s posting of Wednesday, June 7, 2006, at 10:32 AM ET .
 
The dialogue was also reported in The New York Times . An earlier interview with Juwono on President Wahid's dismissal of General Wirantgo was published by Time magazine in February 2000.
 
Allow us now  to present this to our Indonesian audience for comment.
 
Untuk pertama kali, pemerintah Indonesia menampakkan wajah tegar dan sikap intelektual dalam menningatkan pemerintah Amerika Serikat akan sikap arogan yang telah membuat negara adikuasa itu merosot jauh dalam respek dari masyarakat Islam moderat dan masyarakat sipil di Asia dan Eropah. Juwono yang selain Menteri Pertahanan juga adalah Gurubesar Hubungan Internasional dengan Ph.D. dari UC Berkeley memang mempunyai intelektualitas yang jauh diatas Donald Rumsfeld, politikus zaman Nixon yang direnovasi menjadi Menteri Pertahanan galak kesayangan Presiden George W. Bush.
 
Dalam konperensi pers setelah Rumsfeld keliling Asia Timur, dia dipermalukan oleh Juwono secara santun dan terpelajar. Juwono mengingatkan Menhan AS itu bahwa dalam penerapan undang-undang terorisme, sebaiknya AS menyerahkan tanggungjawabnya pada negara bersangkutan. Silakan klik disini untuk membaca artikel asli.
 
jr.jpg
 
Rumsfled menjawab dengan imut: "I have never indicated to any country that they should do something that they were uncomfortable doing." Slate yang memuat artikel asli memberi catatan bahwa pimpinan Eropah pasti punya komentar sendiri terhadap ucapan ini. Kita  ingat Robert Redford mengatakan dalam film “Indecent Proposal”: “I will never ask you to do anything you don’t want.” Ini dikenal dalam ilmu silat lidah sebagai “ucapan gombal.”
 
Kemudian Rumsfled kena pukulan besar lagi. Juwono menyatakan bahwa pemerintah Indonesia segan menandatangani ” Proliferation Security Initiative”, yang mengizinkan AS dan negara sekutu memeriksa kapal laut negara manapun di lautan lepas. Menurut Juwono, lebih baik kita buat kerjasama ad hoc saja, daripada membuat peraturan yang permanen.

Michael Gordon, wartawan New York Times, mencatat bahwa Rumsfeld kelihatan kaget mendengar ucapan bandel itu. Masak sih, ada orang Dunia Ketiga berani menasehati pemerintah AS dan meminta mereka untuk mundur?
 
“Slate” mencatat bahwa Juwono bukanlah orang yang senang ribut. Ia adalah intelektual berbahasa halus, Menteri Pertahanan Indonesia pertama dari kalangan sipil (PO: mereka tidak tahu pada awal RI sudah ada itu, Menhan sipil). Menurut “Slate”, orang seperti Juwono harus dihormati dan didengar secara baik, karena ia mengerti hakekat kekuatan global.
 
George W. Bush merasa bahwa karena AS menang perang dingin dan menjadi negara adikuasa satu-satunya di dunia, mereka bebas melakukan apa saja memerintah pemerintah lain.
 
Kenyatannya adalah bahwa pembubaran Uni Sovyet berarti hilangnya ancaman bersama yang memperkuat kedudukan AS. dalam dunia satu-kutub Sekarang, tidak ada lagi keharusan memilih pihak. Banyak negara yang ingin bersahabat dengan AS, tapi atas dasar “shared values,” kepentingan bersama dan keinginan bersama untuk tujuan bersama membuat dunia yang lebih aman. Tidak perlu semua negara mengekor pada pemerintah AS jika dianggap mereka melanggar prinsipnya sendiri seperti di Irak dan Afghanistan.
 
Singkatnya, kita ingin tetap bersahabat dengan Amerika Serikat, tapi tidak suka diperlakukan semena-mena oleh rombongan George W. Bush yang sedang berkuasa. Yang membesarkan hati adalah bahwa sikap ini juga dimiliki sebagian besar rakyat AS, yang memberi nilai yang sangat rendah pada kredibilitas Bush saat ini.
 
Dalam bahasa Partai Orang Biasa, "Kita senang Amerika Serikat, tapi tidak senang pemerintahnya." Atau lebih umum lagi: “Kita ingin aman, tapi tidak suka diperlakukan sembarangan.”
 
Fred Kaplan menulis kolom "War Stories" Slate, bisa dihubungi di war_stories@hotmail.com.
 
Foto Donald Rumsfeld oleh Jewel Samad/Agence France-Presse. Foto Juwono Sudarsono oleh www.liputan2.com. Editing foto oleh divisi fotografi Perspektif Online.

Print article only

19 Comments:

  1. From Lukidjan on 08 June 2006 05:44:03 WIB
    Hahahaha
    "The Ugly American" kena kali ini.

    YS membikin saya bangga (yang jarang sekali akhir akhir ini) jadi orang Indonesia
  2. From mbu on 08 June 2006 07:51:00 WIB
    Wheww.. Well, it's about time..
  3. From andriansah on 08 June 2006 08:26:36 WIB
    Gw hanya tau lewat tv, dan jarang nonton tv lagi :)
    Seharusnya setiap politikus yang bekerja di luar negeri atau yang sering berhubungan dengan luar negri/bahasa asing harus bisa mempelajari cara juwono menjawab

    Gimana caranya agar bisa menjawab seperti juwono?
  4. From Sri Rejeki on 08 June 2006 11:56:57 WIB
    Yuwono is a man of integrity and dignity that Indonesia badly need. He is capable of expressing his intelectual ,candid and bold standpoint without offending. God blees you Pak Yuwono and God damn you murderous regime.
    Inilah tipe pemimpin yang mempunyai integritas dan harga diri yang kita dambakan.Mampu berbicara secara cerdas dan berani tanpa harus menunjukkan sikap bermusuhan. WE LOVE YOU PAK YUWONO.....
  5. From Anton on 08 June 2006 11:59:44 WIB
    Lho, lupa ya kalo Amerika memang dibangun oleh orang-orang pandir macam Forrest Gump. Film Forrest Gump sendiri merupakan parodi yang membenarkan bahwa USA tidak butuh orang pintar tapi orang praktis. Justru disitu kekuatan mereka.

    Kalau butuh pemerintahan yang diisi kaum filosof, cendekiawan dan manusia-manusia yang gemar memburu makna, carilah di Eropa. Tapi kalo cari kaum cendikia di pemerintahan Washington sama saja mengharap matahari terbit di sebelah barat. Karena USA emang mbahnya pragmatisme.

    Sekali lagi pragmatisme, bukan kebenaran filosof disitulah kekuatan Amerika.

    ANTON
  6. From Guna Abadi on 08 June 2006 12:21:22 WIB
    Sebagai informasi kita pernah memiliki Menteri pertahanan sipil sejak era awal berdirinya negara ini, seingat saya Menhan pertama itu Bapak Sri Sultan Hamengkubuwono IX - yang terkenal saat mengatasi peristiwa Madiun 1948, kemudian Bapak Iwa Kusumasumantri namun setelah era demokrasi terpimpin tak ada menhan dari sipil, fungsi menhan digabung dengan fungsi komando walaupun awalnya di jaman Nasution fungsi menhan yang terwujud dalam KSAB tidak memiliki kekuatan komando sama sekali.

  7. From Berlin Simarmata on 08 June 2006 15:46:55 WIB
    Bahasa pak Yuwono mungkin punya dampak bagi mereka yang mengerti,maklumlah pak menteri yang satu ini kalau bicara kayak kasih kuliah aja,jadi sering publik tidak nanggap,entah apa yang dia maksud.Soal orang ndak suka pemerintah Amerika,tetapi suka rakyat Amerika,perlu dikaji lagi,buktinya rakyat AS milih Tuan Bush sampai dua kali.Hanya permainan kata-kata saja.Yang penting kita perbaikilah negara ini,jangan terlalu tergantung kepada siapapun.
  8. From nien on 08 June 2006 18:25:27 WIB
    hehehe, tadi pas kebetulan nonton di berita, asik aja liatnya, mestinya menteri laen ato anggota dpr belajar ama pak juwono kali ya ;p
  9. From anis on 08 June 2006 19:00:12 WIB
    kalau tahu gini, mestinya nggak hanya Rummy, tapi juga sekalian ada Bush dan Condy...biar prof JS nguliahi sekalian.....
  10. From santo on 09 June 2006 03:53:24 WIB
    sepakat!!
    policy yang bagus dan positif harus dibantu diperkuat.
    saya nilai, perspektif secara proposional, selalu ambil sikap positif untuk memperkuat hal2 yang positif seperti masalah Mr Juwono ini.



  11. From Bowo on 09 June 2006 22:24:46 WIB
    Luar biasa Menhan kita, sudah lama saya tdk bangga jadi orang Indonesia, sekarang baru merasa bangga. Di http://maskamto.blogspot.com ada wawancara Der Spiegel Jerman dengan Ahmadinejad dimana kemunafikan barat ditelanjangi habis.
  12. From Adrian Lim on 10 June 2006 20:38:49 WIB
    I agree too. Sometimes people abroad do not understand other cultures or other systems till they have experienced it first hand. Some people think they can help because they are powerful but that the poor or those not in thier position can feel inferior to it.
  13. From laundrypowder on 12 June 2006 17:34:49 WIB
    Saya setuju kalau pemerintah Amerika memang suka keterlaluan ingin ikut campur urusan negara org lain. Tapi kesetujuan saya ini (sayangnya) bermuka dua dalam hal terorisme di Indonesia, karena saya menyangsikan kemampuan pemerintah kita untuk memerangi aksi terorisme di dalam negeri. Saya ngerti kenapa Amerika "geregetan" pingin ikut campur dalam masalah ini, abis tuh si Abubakar Bashyir cuma dapat hukuman penjara ringan, padahal dia kan "dalang"nya pemboman Bali dll? Maaf kalau ada perkataan saya yang nggak akurat.
  14. From joel on 13 June 2006 14:37:29 WIB
    komentar menteri kita mengenai AS foreign policy memang tepat, walaupun warga AS juga sudah sadar bahwa Bush administration memang gagal total dalam hal ini.
    Tapi bicara soal malu dan harga diri bangsa, image Indonesia malah lebih memalukan lagi dalam hal Tenaga Kerja Asing (TKA) kita bekerja keras diluar negri yg diperas macam budak saja sblm berangkat dan ketika pulang. skandal BLBI yg masih gelap sampai sekarang ujungnya jadi acara anti lembaga donor??, korupsi yg sudah sampai membudaya mulai dari imigrasi di airport sampai pejabat BKPM, perpajakan yg semrawut, belum lagi keamanan yg terus2 menerus tdk terjamin karena milisi dan militan yg ingin membubarkan negara ini etc etc etc.
    Menhan kita memang intelek, tapi belum bisa menutupi image Indonesia yg sangat terpuruk sampai2 Foreign Direct Investment 5 tahun terakhir turun terus sangat jauh bahkan dibanding sesama negara ASEAN.
  15. From munzir on 13 June 2006 16:21:26 WIB
    Apa benar sih Abubakar Bashir itu teroris? Kita di dunia ketiga gampang kena sihir hipnotis mass media barat. Memang harus diakui, mass media barat begitu digdaya sehingga mampu memonopoli persepsi. CNN dan FOX bilang Bashir teroris, dan kita semua percaya, padahal tidak atau belum ada bukti2 yang meyakinkan. Dari pengadilan Bashir ada kesan yang kuat bahwa ia dihukum karena Indonesia mau berbaik hati ke Amerika.
  16. From laundrypowder on 14 June 2006 09:38:11 WIB
    Menjawab pertanyaan Munzir ttg Abubakar Bashir teroris atau bukan. Mungkin memang dia tidak campur tangan langsung dalam hal menyusun rencana pemboman dan lain sebagainya, tapi dilaporkan dia memberikan "blessing" untuk rencana2 tersebut, dan dia jg selama ini tidak keliatan menyesali terjadinya peristiwa2 itu. Nah, rasanya kita tidak perlu media barat untuk mendiktekan kepada kita apakah dia itu aliran teroris atau bukan.
  17. From cl on 19 June 2006 11:01:23 WIB
    punya blog juga ya juwono
    http://www.juwonosudarsono.com/
  18. From Iwan Zariawan on 21 June 2006 09:11:41 WIB
    Menjawab pertanyaan Munzir ttg Abubakar Bashir teroris atau bukan, sebelum CNN dan FOX lahir, di Indonesia sudah lari dikejar² intelijen dan menggunakan paspor palsu untuk jalan² ke segenap Asia Tenggara, herannya di Singapore atau Malay ngga diusut kegiatannya, kayaknya dia di pelihara oleh seseorang/kelompok dan berskenario untuk menghancurkan NKRI. Saya ngga nyangka kalo "ustad" tersebut bertindak sejauh itu. Ngomong-ngomong Munzir kelahiran berapa sih?
    Maklum bangsa kita kalo lihat londo mau londo amrik, londo jerman, londo jepang, londo arab pasti gampang heran. apalagi di kalangan pedesaan tiap orang mendengar Habib tingkahnya ngga ketulungan. Emang kita ini bangsa apaan?
  19. From munzir on 22 June 2006 12:08:34 WIB
    Saya cuma menanyakan benarkah Bashir itu teroris. Mungkin ya mungkin juga tidak, sebab saya kurang begitu sreg dengan Pengadilan kita yang mudah ditekan2.Bashir dikejar2 orde baru dan lari ke Malaysia karena di cap subversi gara2 berani menentang azas tunggal Pancasila. Walaupun saya tidak cocok dengan garis keras alirannya, kita harus berani mengakui bahwa orang2 seperti dia, Wimar Witoelar,dan Ali Sadikin adalah sedikit dari yang berani menentang rezim diktator Soeharto.Waktu itu sebagian besar orang takut dan media2 termasuk KOMPAS menjilat2 Orde Baru. Sampai sekarangpun masih banyak sisa2 orang yang mindsetnya dibentuk oleh Ali Murtopo dan militer Benny Moerdani termasuk mungkin Iwan Zariawan itu, yang alergi terhadap orang berjenggot dan rada2 rasis.
    Iwan nanya, "emang kita ini bangsa apaan sih", jawabannya kita bangsa besar, walaupun ada juga sisa2 sampah Orba, gitu loh.

« Home