Articles

Make People Know What They Don't Know


21 June 2017

Oleh : Wimar Witoelar 

Bicara mengenai Pancasila kita sebenarnya sudah beyond menghafalkan sila satu per satu atau membahasnya. Tapi kita terus rileks dalam kehidupan kita. Sebab apa yang kita alami adalah produk dari Pancasila. Bahwa kita bisa berekspresi bebas, bahwa kita bisa bergerak sebagai masyarakat plural yang sederajat semua suku, semua pemeluk agama, semua daerah, itu akibat Pancasila. Kegiatan-kegiatan yang akhir-akhir ini muncul membuat kita khawatir bahwa Pancasila itu tidak bisa dibiarkan bertahan dengan sendirinya tapi harus dibantu. Seperti saya yang sudah tidak bisa jalan perlu kursi roda. Tapi Pancasila belum masuk kursi roda.

Yang penting kita harus sadar challenge apa yang ada untuk Pancasila ini dan response-nya apa. Seharusnya terutama sejak negara ini didirikan, kira-kira satu bulan setelah saya dilahirkan tahun 1945, itu tidak pernah ada masalah untuk mempersoalkan pluralisme, pemisahan agama dengan negara, solidaritas, tidak ada. Dari jaman satu nusa satu bangsa, itu bukan hanya omongan sekolah tapi kita ini satu, we are one Bhinneka Tunggal Ika. Nah sekarang itu challenge dalam kegiatan politik dewasa ini. Tidak perlu sebut dari pihak mana tapi banyak lah yang mengatakan tidak, ini dasar negara kita seharusnya ini dan itu. Dan itu yang sama sekali tidak plural yang meminggirkan minoritas agama, minoritas suku dan sebagainya. Itu challenge-nya. 

Response-nya satu. Ini kita tidak bicara Pilkada. Pilkada berakhir dan ada salah satu calon kalah dan bahkan dipenjara. Response kita adalah membangkitkan semangat solidaritas. Bahwa okelah ada yang kalah dan ditangkap tapi warga tidak diam. Warga sadar bahwa hak kita harus dipertahankan sebagai masyarakat yang pluralistik. Nah itu adalah challenge-response-nya. Ada dari kita.

Kemudian dari negara thank God, syukur Alhamdulillah, terima kasih bahwa kita punya pimpinan negara yang sangat ok. Tapi negara itu seperti monster dengan bangunan yang tidak tahu kadang-kadang monster dengan kaki yang kuat, kadang-kadang cuma kepalanya saja. Nah ini yang kita lihat. Kita punya Jokowi yang hebat sekali. Kita punya Kapolri yang hebat sekali. Di bawah-bawahnya bagaimana? Suka ada polisi yang tidak benar juga. Kita punya presiden yang bagus sekali. Kiri-kanannya, kecuali Pak Tom Lembong, ada yang rasanya tidak benar. Sebagai orang biasa saya tidak mengerti kenapa si ini tidak ditangkap, si itu tidak ditangkap. 

Tapi kita bukan ingin mengorbankan kebencian sebab lawan kita bukan front ini, himpunan itu, atau apa tapi kebodohan. Kenapa orang mau ikut baris-baris tidak jelas mempengaruhi suasana politik memanaskan suasana? Itu karena ada orang bodoh dipengaruhi orang pintar. Kalau bodoh semua tidak apa-apa. Kalau pintar semua seperti di Norwegia mungkin, beres. Tapi ada banyak orang bodoh dan sedikit orang pintar, itu bisa dimanipulasi. Nah orang pintar banyak. Tapi orang pintar yang suka memanipulasi itu tidak sehat bagi masyarakat kita. Jadi sekarang challenge kita adalah membangkitkan orang pintar supaya aktif, kreatif, seperti kalian. Karena you are the future. I am the past. Paling untung the past and the present tapi jelas bukan the future. Saya sudah ditanya, "eh Pak Wimar masih hidup?"

Kebodohan itu lahir karena satu konsep. Bahwa you don't know what you don't know. You know what you know tapi you don't know what you don't know. Jadi orang bodoh yang percaya sama orang manipulatif yang pintar itu dia percaya saja karena dia tidak tahu bahwa di luar yang propaganda penghasutan yang diberikan itu sebenarnya ada banyak yang kita perlu tahu. Nah itu definisi kebodohan. Definisi mengatasi kebodohan itu make people know what they don't know supaya mereka bisa lakukan response yang benar.

Saya kira tidak ada golongan yang lebih tepat untuk menghadirkan response yang tepat kecuali golongan muda dalam kegiatan kreatif. Karena untuk menyampaikan pesan yang sangat baik itu harus kreatif. Suatu kartun yang bagus, suatu meme yang bagus, atau lagu yang bagus, it speaks a million words. One picture speaks a thousand words tapi one video, one song speak a million words. Dan itu yang harus kita kerjakan. Jadi kita tidak usah melawan propaganda negatif. Biar saja yang bodoh tetap bodoh tapi yang tidak ingin bodoh bisa jadi pintar. Dan itu karena anda semua. 

 

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home