Articles

Resesi Ekonomi: Kembali ke 2008? [analisa Dede Basri]

Kompas
28 September 2011

 

Resesi Ekonomi: Kembali ke 2008?
Rabu, 28 September 2011 | 02:08 WIB
Dibaca: 253Komentar: 0
|  Share:
Muhammad Chatib Basri
Gerimis membayangi pembukaan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington DC, 23 September lalu. Situasi ekonomi dunia memang jauh dari cerah.
Dalam pidato pembukaannya, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengingatkan pentingnya pemimpin dunia bertindak cepat dan kompak untuk memulihkan ekonomi global.
Secara spesifik ia mengingatkan: Eropa harus bersedia mengambil langkah apa pun dan kompak menyelesaikan krisis utang. Pada diskusi terbatas Independent Regional Advisory Board IMF untuk Asia Pasifik dalam pertemuan tahunan ini, saya diminta menjadi pembicara pembuka tentang apa yang harus dilakukan Asia dalam menghadapi situasi saat ini.
Saya kira, sumber dan skala persoalan saat ini berbeda dengan 2008. Saat ini, masalah ekonomi dipicu pertumbuhan ekonomi yang rendah di AS dan adanya risiko krisis utang Eropa. Penyelesaian saat ini jauh lebih rumit. Bagaimana rekapitalisasi harus dilakukan untuk menolong perbankan di Eropa? Bagaimana AS dapat mendorong ekonominya dengan kendala politik dari fiskalnya. Apakah negara yang mengalami krisis di Eropa akan taat menjalankan program reformasi ekonominya? Apakah negara Eropa lain bersedia dan mampu memberikan talangan untuk penyelesaian krisis utang di sana.
Persoalannya adalah kepemimpinan. Itu sebabnya pernyataan Lagarde agar pemimpin dunia bersedia melakukan tindakan apa pun untuk menyelamatkan ekonomi global amat penting. Memang ada kesepakatan dalam pertemuan itu untuk menempuh segala langkah yang diperlukan (whatever it takes), tetapi kita belum melihat solusi jelas dalam penyelesaian krisis utang Eropa. Akibatnya, ketidakpastian merebak. Benar, situasi saat ini belum separah kondisi ketika Lehman Brothers ambruk pada 2008. Namun, tak bisa dimungkiri situasi cukup mengkhawatirkan karena probabilitas pertumbuhan global di bawah 2 persen cukup tinggi.
Dalam pertemuan itu, salah seorang deputi Direktur Pelaksana IMF menanyai saya mengapa pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia, jatuh begitu dalam. Tak ada penjelasan tunggal. Namun faktor paling penting, menurut saya, adalah perilaku menghindari risiko dari investor. Krisis utang Eropa membuat investor menghindari perekonomian negara berkembang (EM), termasuk Indonesia.
Investor asing di Indonesia melikuidasi portofolionya. Di sini saya ingat terminologi animal spirits dari Keynes. Dalam situasi yang tak pasti, individu akan mencoba mengurangi risiko dengan bergerak mengikuti pola kelompoknya. Ini yang disebut herd behaviour. Animal spirits dengan kata lain komponen emosional yang tecermin dalam kepercayaan konsumen. Di sini peran confidence—akar katanya adalah fido dari bahasa Latin yang artinya saya percaya—menjadi amat penting.
Tengok saja: 21 September (22 September di Jakarta), Bank Sentral AS memutuskan melakukan kebijakan operation twist untuk menurunkan bunga pinjaman jangka panjang dengan cara menjual surat utang pemerintah jangka pendek (T-bills) dan membeli yang jangka panjang. Akibatnya, imbal hasil T-bills 30 tahun menurun tajam karena harganya meningkat.
Bagi investor, lebih baik meninggalkan aset berisiko jangka pendek di EM—termasuk Indonesia—dan mengalihkan dananya ke T-bills jangka panjang. Bisa diprediksi: harga obligasi kita jatuh, rupiah terpuruk. Rupiah yang terpuruk mendorong kepanikan di pasar modal.
Langkah antisipasi
Lalu apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk mengantisipasi situasi ini? Krisis belum terjadi, tetapi kita perlu berjaga-jaga. Pertama, jika krisis global merebak, pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat. Ekspor Indonesia akan menurun. Beruntung, China tampaknya akan tumbuh di atas 9 persen tahun ini sehingga permintaan terhadap komoditas dan energi akan relatif kuat.
Namun, tak bisa dihindarkan perlambatan ekonomi dunia akan tetap menurunkan harga komoditas. Namun, bagaimana tahun depan? Ekspor Indonesia yang terkonsentrasi pada barang primer akan terpengaruh. Implikasinya, pendapatan penduduk di luar Jawa akan menurun, sementara di Jawa pendapatan belum meningkat tajam karena sektor manufaktur baru mulai tumbuh.
Untungnya, pasar domestik kita besar. Karena itu, dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas. Ingat 2008, kita masih bisa tumbuh 4,5 persen. Namun, stimulus fiskal harus dilakukan. Masalahnya, daya serap anggaran kita terbatas. Bagaimana fiskal stimulus bisa efektif? Tahun 2008, kita punya ruang menurunkan tarif pajak. Repotnya, penurunan tarif pajak membutuhkan persetujuan DPR, yang memakan waktu lama. Maka, mau tak mau pemerintah harus memastikan proyek infrastruktur bisa jalan.
Kedua, jika stimulus fiskal dilakukan. Bagaimana pembiayaannya? Jika pasar keuangan global jatuh, pembiayaan akan menjadi sangat sulit dan mahal. Jika dibutuhkan, pemerintah bisa membuat skema deferred drawdown option bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, Australia, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Skemanya: jika imbal dari obligasi pemerintah melebihi batas tertentu, pemerintah dapat meminjam dana dari negara-negara dan institusi tersebut dengan bunga sedikit di atas LIBOR (skema ini pernah dilakukan pada 2008). Skema ini kontribusi Indonesia di G-20 tahun 2008, yang sekarang banyak diikuti negara lain.
Ketiga, buat saya, yang mengkhawatirkan adalah dampak jalur keuangan. Jika terjadi kepanikan di pasar keuangan, perbankan di Indonesia akan menghindari risiko dengan cara mengurangi pinjaman ke bank lain di domestik. Akibatnya, pinjaman antarbank akan anjlok dan tingkat bunganya naik. Bank kecil akan mengalami kesulitan likuiditas. Sejauh ini, kondisi perbankan domestik cukup baik. Namun dalam situasi krisis dan panik, jatuhnya bank—walaupun kecil—dapat memicu kepanikan dan penarikan dana.
Ini bahaya animal spirits. Itu sebabnya penting sekali bagi BI untuk menjamin likuiditas dalam pasar uang antarbank, termasuk, misalnya, menurunkan giro wajib minimum valas jika memang dibutuhkan. Yang amat mengkhawatirkan: kita tidak punya UU Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK). Saya tak yakin BI dan Kementerian Keuangan akan berani mengambil tindakan penyelamatan jika UU JPSK tak ada. Karena itu, UU JPSK harus segera rampung. Jika perlu, pemerintah mengeluarkan Perpu JPSK. Kita tak bisa menunggu terlalu lama karena risiko begitu tinggi saat ini.
Keempat, memang benar cadangan devisa kita cukup besar, tetapi ada baiknya BI berkoordinasi dengan BUMN besar dalam penggunaan valas agar tak memengaruhi fluktuasi nilai tukar di pasar.
Krisis global memang belum terjadi. Pertemuan tahunan IMF di Washington DC masih menyebut kemungkinan resesi, bukan kontraksi ekonomi. Namun menurut saya, lebih baik jika pemerintah, BI, dan terutama DPR mempersiapkan diri sejak awal dan bersedia melakukan ”whatever it takes” untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia. Jangan korbankan ekonomi karena kepentingan politik. ”The time to repair the roof is when the sun is shining,” ujar Kennedy. Pesan itu sangat relevan karena gerimis mulai turun di Washington DC dan Eropa.
M Chatib Basri Ekonom Universitas Indonesia
Share
 Tweet 

 

Rabu, 28 September 2011

 

Muhammad Chatib Basri

 

Gerimis membayangi pembukaan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington DC, 23 September lalu. Situasi ekonomi dunia memang jauh dari cerah.

 

Dalam pidato pembukaannya, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengingatkan pentingnya pemimpin dunia bertindak cepat dan kompak untuk memulihkan ekonomi global.

 

Secara spesifik ia mengingatkan: Eropa harus bersedia mengambil langkah apa pun dan kompak menyelesaikan krisis utang. Pada diskusi terbatas Independent Regional Advisory Board IMF untuk Asia Pasifik dalam pertemuan tahunan ini, saya diminta menjadi pembicara pembuka tentang apa yang harus dilakukan Asia dalam menghadapi situasi saat ini.

 

Saya kira, sumber dan skala persoalan saat ini berbeda dengan 2008. Saat ini, masalah ekonomi dipicu pertumbuhan ekonomi yang rendah di AS dan adanya risiko krisis utang Eropa. Penyelesaian saat ini jauh lebih rumit. Bagaimana rekapitalisasi harus dilakukan untuk menolong perbankan di Eropa? Bagaimana AS dapat mendorong ekonominya dengan kendala politik dari fiskalnya. Apakah negara yang mengalami krisis di Eropa akan taat menjalankan program reformasi ekonominya? Apakah negara Eropa lain bersedia dan mampu memberikan talangan untuk penyelesaian krisis utang di sana.

 

Persoalannya adalah kepemimpinan. Itu sebabnya pernyataan Lagarde agar pemimpin dunia bersedia melakukan tindakan apa pun untuk menyelamatkan ekonomi global amat penting. Memang ada kesepakatan dalam pertemuan itu untuk menempuh segala langkah yang diperlukan (whatever it takes), tetapi kita belum melihat solusi jelas dalam penyelesaian krisis utang Eropa. Akibatnya, ketidakpastian merebak. Benar, situasi saat ini belum separah kondisi ketika Lehman Brothers ambruk pada 2008. Namun, tak bisa dimungkiri situasi cukup mengkhawatirkan karena probabilitas pertumbuhan global di bawah 2 persen cukup tinggi.

 

Dalam pertemuan itu, salah seorang deputi Direktur Pelaksana IMF menanyai saya mengapa pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia, jatuh begitu dalam. Tak ada penjelasan tunggal. Namun faktor paling penting, menurut saya, adalah perilaku menghindari risiko dari investor. Krisis utang Eropa membuat investor menghindari perekonomian negara berkembang (EM), termasuk Indonesia.

 

Investor asing di Indonesia melikuidasi portofolionya. Di sini saya ingat terminologi animal spirits dari Keynes. Dalam situasi yang tak pasti, individu akan mencoba mengurangi risiko dengan bergerak mengikuti pola kelompoknya. Ini yang disebut herd behaviour. Animal spirits dengan kata lain komponen emosional yang tecermin dalam kepercayaan konsumen. Di sini peran confidence—akar katanya adalah fido dari bahasa Latin yang artinya saya percaya—menjadi amat penting.

 

Tengok saja: 21 September (22 September di Jakarta), Bank Sentral AS memutuskan melakukan kebijakan operation twist untuk menurunkan bunga pinjaman jangka panjang dengan cara menjual surat utang pemerintah jangka pendek (T-bills) dan membeli yang jangka panjang. Akibatnya, imbal hasil T-bills 30 tahun menurun tajam karena harganya meningkat.

 

Bagi investor, lebih baik meninggalkan aset berisiko jangka pendek di EM—termasuk Indonesia—dan mengalihkan dananya ke T-bills jangka panjang. Bisa diprediksi: harga obligasi kita jatuh, rupiah terpuruk. Rupiah yang terpuruk mendorong kepanikan di pasar modal.

 

Langkah antisipasi

 

Lalu apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk mengantisipasi situasi ini? Krisis belum terjadi, tetapi kita perlu berjaga-jaga. Pertama, jika krisis global merebak, pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat. Ekspor Indonesia akan menurun. Beruntung, China tampaknya akan tumbuh di atas 9 persen tahun ini sehingga permintaan terhadap komoditas dan energi akan relatif kuat.

 

Namun, tak bisa dihindarkan perlambatan ekonomi dunia akan tetap menurunkan harga komoditas. Namun, bagaimana tahun depan? Ekspor Indonesia yang terkonsentrasi pada barang primer akan terpengaruh. Implikasinya, pendapatan penduduk di luar Jawa akan menurun, sementara di Jawa pendapatan belum meningkat tajam karena sektor manufaktur baru mulai tumbuh.

 

Untungnya, pasar domestik kita besar. Karena itu, dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas. Ingat 2008, kita masih bisa tumbuh 4,5 persen. Namun, stimulus fiskal harus dilakukan. Masalahnya, daya serap anggaran kita terbatas. Bagaimana fiskal stimulus bisa efektif? Tahun 2008, kita punya ruang menurunkan tarif pajak. Repotnya, penurunan tarif pajak membutuhkan persetujuan DPR, yang memakan waktu lama. Maka, mau tak mau pemerintah harus memastikan proyek infrastruktur bisa jalan.

 

Kedua, jika stimulus fiskal dilakukan. Bagaimana pembiayaannya? Jika pasar keuangan global jatuh, pembiayaan akan menjadi sangat sulit dan mahal. Jika dibutuhkan, pemerintah bisa membuat skema deferred drawdown option bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, Australia, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Skemanya: jika imbal dari obligasi pemerintah melebihi batas tertentu, pemerintah dapat meminjam dana dari negara-negara dan institusi tersebut dengan bunga sedikit di atas LIBOR (skema ini pernah dilakukan pada 2008). Skema ini kontribusi Indonesia di G-20 tahun 2008, yang sekarang banyak diikuti negara lain.

 

Ketiga, buat saya, yang mengkhawatirkan adalah dampak jalur keuangan. Jika terjadi kepanikan di pasar keuangan, perbankan di Indonesia akan menghindari risiko dengan cara mengurangi pinjaman ke bank lain di domestik. Akibatnya, pinjaman antarbank akan anjlok dan tingkat bunganya naik. Bank kecil akan mengalami kesulitan likuiditas. Sejauh ini, kondisi perbankan domestik cukup baik. Namun dalam situasi krisis dan panik, jatuhnya bank—walaupun kecil—dapat memicu kepanikan dan penarikan dana.

 

Ini bahaya animal spirits. Itu sebabnya penting sekali bagi BI untuk menjamin likuiditas dalam pasar uang antarbank, termasuk, misalnya, menurunkan giro wajib minimum valas jika memang dibutuhkan. Yang amat mengkhawatirkan: kita tidak punya UU Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK). Saya tak yakin BI dan Kementerian Keuangan akan berani mengambil tindakan penyelamatan jika UU JPSK tak ada. Karena itu, UU JPSK harus segera rampung. Jika perlu, pemerintah mengeluarkan Perpu JPSK. Kita tak bisa menunggu terlalu lama karena risiko begitu tinggi saat ini.

 

Keempat, memang benar cadangan devisa kita cukup besar, tetapi ada baiknya BI berkoordinasi dengan BUMN besar dalam penggunaan valas agar tak memengaruhi fluktuasi nilai tukar di pasar.

 

Krisis global memang belum terjadi. Pertemuan tahunan IMF di Washington DC masih menyebut kemungkinan resesi, bukan kontraksi ekonomi. Namun menurut saya, lebih baik jika pemerintah, BI, dan terutama DPR mempersiapkan diri sejak awal dan bersedia melakukan ”whatever it takes” untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia. Jangan korbankan ekonomi karena kepentingan politik. ”The time to repair the roof is when the sun is shining,” ujar Kennedy. Pesan itu sangat relevan karena gerimis mulai turun di Washington DC dan Eropa.

 

M Chatib Basri Ekonom Universitas Indonesia

 

 

 

 

Print article only

3 Comments:

  1. From @Dewinov on 29 September 2011 16:55:20 WIB
    pencerahan yang bagus untuk para pemimpin negara. sudah saatnya menyadari kepentingan ekonomi rakyat di atas kepentingan politik sepihak
  2. From jonnikosw on 30 September 2011 06:28:54 WIB
    Terima kasih pak Chatib Basri utk uraian singkat padat dan jelas mengenai garis besar kondisi perekonomian global dan indonesia terkini..
  3. From Johnavon on 19 October 2011 20:33:35 WIB
    If not for your writing this topic could be very cnovoluted and oblique.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home