Articles

  • Saat ini DPR kerap jadi tumpahan cemooh masyarakat. Penyebabnya, antara lain, karena keterlibatan anggota-anggotanya dalam berbagai skandal korupsi dan sikap politik transaksional terang-terangan yang menjadi bahan berita hampir setiap hari.

    Sebagian besar dari citra negatif ini memang sudah sepantasnya, apalagi dilihat dari ekspektasi dalam euforia pasca-1998 yang mengharapkan demokrasi dan pemerintahan yang bersih. Namun, jika kita lihat lebih dekat, banyak juga bagian-bagian DPR yang berbuat usaha terpuji untuk kebaikan masyarakat meski hasilnya tidak selalu menggembirakan

    Read ›
  • The Jakarta Post 3 Oct 2017 Wimar Witoelar The writer was the spokesman for former president Abdurrahman Wahid (1999-2001). The views expressed are his own.

    As we reminisce on experiences of Sept. 30, 1965, my friend of 56 years opened his remarks by an observation that resolved many questions. Who set off the drama? Who was to blame for the rural massacre? Was Gen. Soeharto the solution or the problem? Why are some people raising the Indonesian Communist Party (PKI) as a current issue? His perspective cut through the noise that has enveloped social media. Here is what I learned.

    Read ›
  • As we reminisced on experiences of September 30, 1965, my friend of 56 years opened his remarks by an observation which resolved many questions. Who set off the drama? Who was to blame for the rural massacre? Was General Suharto the solution or the problem? Why are some people raising the PKI as a current issue? His perspective cut through the noise that has enveloped social media. Here is what I learned.

    Read ›
  • Bandung pada 71 tahun yang lalu yaitu tepatnya 23 Maret 1946, terjadi peristiwa heroik bersejarah di sana yang hingga kini dikenal dengan Bandung Lautan Api. Para warga berkorban membakar rumah-rumah mereka agar kota mereka tidak ditempati para pasukan kolonial.

    Kini setelah lama kita merdeka dan melewati berbagai rezim zaman telah berubah. Namun semangat kebangsaan menjaga keragaman tetap terlihat pada 17 Agustus 2017 tahun ini pada acara Deklarasi Relawan Kebangsaan Satu Indonesia yang digagas Satu Indonesia di Hotel Hemangini. Hadir sebagai pembicara di acara tersebut pendiri 

    Read ›
  • Tak hanya Indonesia, pada 9 Agustus tahun ini masyarakat dunia kembali merayakan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), the International Day of the World's Indigenous Peoples, yang dideklarasikan pengesahannya oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi 49/214, tanggal 23 Desember 1994. HIMAS tahun ini memiliki nilai yang lebih lagi karena merupakan Peringatan Satu Dekade (10 tahun) Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat

    Read ›
  • Senin siang, 7 Agustus 2017. Arief A. Soedjono, inisiator perkumpulan relawan kebangsaan yang bernama Satu Indonesia, dengan semangat menceritakan perkumpulan yang digagasnya di Studio Yayasan Perspektif Baru. Tidak tampak kelelahan yang lazimnya muncul pada orang yang baru saja melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang dengan ditambah dengan waktu macet yang tidak biasa hingga membutuhkan 7 jam perjalanan

    Read ›
  • Tanah Sunda wibawa

    Gemah Ripah tur endah

    Nu ngumbara suka betah

    Urang Sunda sawawa

    Sing toweksa perceka

    Nyangga darma anu nyata

    Lirik pada bait pertama lagu “Tanah Sunda” yang diciptakan oleh Mang Koko tersebut mengambarkan suasana tanah Sunda yang bersahabat untuk semua orang, terutama bagi para pelancong yang singgah. Tanahnya Gemah Ripah (subur dan makmur) serta karakteristik penduduknya yang tinggal berkelompok dalam satu kawasan tertentu dan memegang teguh Darma (tugas) yang nyata. Tugas disini artinya adalah menjaga tanah leluhur serta warisan budaya mereka.

    Read ›
  • Abdon Nababan Courtesy Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman)

    It never occurred to Abdon Nababan that his persistence in fighting for indigenous rights and campaigning for the environment in the past two decades would result in his being honored with the prestigious Ramon Magsaysay Award.

    Abdon, one of the country’s most prominent environmental activists, is among this year’s six recipients of the award, which honors leadership in solving society’s most intractable problems and is regarded as Asia’s Nobel Prize.

    Read ›
  • Sore hari yang mendung sejuk di restoran Tjap Toean The Breeze, BSD City, semakin hangat ketika penyanyi Titi Joe mulai memainkan lagu “Pancasila Rumah Kita”. Lagu yang dinyanyikan Titi yang namanya melejit setelah membintangi film dokumenter internasional “Jalanan” tersebut sangat pas sekali membuka acara diskusi Merawat Keragaman bertema “Pluralisme Kekuatan Positif Indonesia” yang diselenggarakan Yayasan Perspektif Baru (YPB) pada Senin 17 Juli 2017. Dengan santai namun mendalam lagu tersebut mengajarkan keragamann kepada kita semua yaitu bahwa Indonesia adalah untuk kita semua dan kita semua harus saling berbagi.

    Read ›
  • Diskusi Merawat Keragaman bersama Wimar Witoelar

    Senin, 17 Juli 2017

    Pkl : 17.00 WIB

    Di Tjap Toean Restaurant, The Breeze BSD City

    Yuk yang berminat datang bisa hubungi : Fa 0877 8898 9709

    Read ›
  • Bicara mengenai Pancasila kita sebenarnya sudah beyond menghafalkan sila satu per satu atau membahasnya. Tapi kita terus rileks dalam kehidupan kita. Sebab apa yang kita alami adalah produk dari Pancasila. Bahwa kita bisa berekspresi bebas, bahwa kita bisa bergerak sebagai masyarakat plural yang sederajat semua suku, semua pemeluk agama, semua daerah, itu akibat Pancasila. Kegiatan-kegiatan yang akhir-akhir ini muncul membuat kita khawatir bahwa Pancasila itu tidak bisa dibiarkan bertahan dengan sendirinya tapi harus dibantu. Seperti saya yang sudah tidak bisa jalan perlu kursi roda. Tapi Pancasila belum masuk kursi roda.

    Read ›
  •  

    Walaupun AS keluar dari Paris Agreement, Negara-negara dunia penandatangan Paris Agreement, pihak perusahaan multinasional, organisasi-organisasi internasional, dan stakeholders lain tetap mendukung Paris Agreement.  Sehingga, walaupun keluarnya AS akan membuat masalah, namun tetap akan bisa diatasi bersama. Nasib dan masa depan bumi ini bukan ditentukan oleh AS saja, melainkan oleh 146 Negara Pihak perjanjian Paris yang telah meratifikasinya, dan pihak-pihak terkait perubahan iklim, serta tentu saja oleh kita semua, warga dunia.


    Read ›
  • Ihad the privilege of having a one-on-one conversation the other day with a gentleman who heads the Indonesian office of a major multilateral institution. We structured the conversation in a Q&A on Indonesian current concerns.

    Read ›
  • Indonesia saat ini sedang berada dalam tahap waspada. Waspada akan isu yang bisa memecah belah kesatuan bangsa ini, isu yang sudah pernah digunakan dan terbukti berhasil dalam menggulingkan pemerintahan. Isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan).

    Read ›
  • Tsamara Amany berpendapat bahwa warga harus berbuat sesuatu secara politis untuk mencegah ancaman terhadap kebhinekaan Indonesia, Pendapat dari Ysamara sebagai Deputi Ketua Partai Soldaritas Indonesia, partai anak muda, disampaikan dengan tegas dalam wawancarta Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar.

    Read ›
  • “Di Indonesia, yang bisa memobilisasi Emosi lah yang menang.” ujar Rumadi, Ketua Lakpesdam Nahdhatul Ulama (NU).

    Saat itu siang di hari Kamis, tepatnya 4 Mei 2017, Rumadi bersama 5 orang pembicara lainnya dalam acara diskusi “Menimbang Keadilan Kasus Ahok” yang diselenggarakan oleh Partai Solidaritas Indomesia, mengungkapkan perspektif mereka mengenai kasus penistaan agama yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain Rumadi, hadir sebagai pembicara adalah Bambang Harymurti selaku Inisiator Petisi Keadilan untuk Ahok, Anggara sebagai Peneliti Senior Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Okky Madasari yang berprofesi sebagai Penulis, dan Dini Purwono seorang Ahli Hukum. 

    Read ›
  •  

    In this discussion he insisted that the government make its best effort to speed up the recognition of indigenous forests. "Now social forests which are still in process amount to 590.000 hectares. I have already instructed the ministries to act swiftly in distributing the land. I know that this is right of the indigenous peoples. If we give the rights to the indigenous peoples, I'm sure that the forests will be better kept and more green. I saw this myself in the field," says the President.

     

     

    Read ›
  • Peluncuruan buku “Why Forest? Why Now? The Science, Economics, and Politics of Tropical Frorests and Climate Change” karya Frances Seymour dan Jonas Busch (peneliti di Center for Global Development) digelar Selasa (21/3) di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Hutan Internasional.

    Read ›
  • “Jika ada Cinta, it will be always there!.” Seru Wimar Witoelar setelah melakukan Juice Cheers. Hadirin kemudian bertepuk tangan, beberapa ada yang menyerukan persetujuan, terdengar seruan “betul pak!” dari audiens di pojok ruangan. Juice Cheers mengawali acara peluncuran buku “Kitab Jodoh” yang dilakukan di Re.Juve Kota Kasablanka, Kamis, 9 februari 2017.

    Read ›
  • Minggu siang, 12 Februari 2017. Suasana salah satu sudut CozyField Cafe Gramedia di Pondok Indah Mall tampak lebih riuh dikerumuni pengunjung lebih dari biasanya. Tampak pula wajah-wajah selebritas dan tokoh seperti Wimar Witoelar, Rano Karno, Desy Ratnasari, Indro Warkop, pelawak Komeng, Fira Basuki, Shanti Serat, Susy Rizky, dan lainnya.

    Tokoh literasi dan jurnalistik Maman Suherman sedang menggelar peluncuran buku Trilogi GuMaman Kang Maman yaitu tiga buku "Notulen", "Sundul Gan!", dan "Aku Takut KehilanganMu". Event diskusi santai tersebut juga merupakan perayaan 30 tahun sepak terjang Maman di dunia jurnalistik dan literasi.

    Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›