Articles

Presiden 2009 Menghadapi Dunia Baru

Koran Sindo
17 December 2008

PP09

PRESIDEN KITA

Oleh: Wimar Witoelar

Bukan basa-basi untuk mengatakan,  bahwa dunia berkabung ketika Ali Alatas wafat belum lama ini.  Beliau adalah diplomat cemerlang yang memiliki sentuhan diplomasi yang luar biasa. Kemampuan artikulasi, negosiasi dan rekonsiliasi yang dipamerkannya dalam medan politik sama dengan yang dipertunjukkan Cesc Fabregas di lapangan sepakbola. Indonesia beruntung pernah mempunyai Menteri Luar Negeri dengan kelas dunia. Hanya satu hal yang menghambat Ali Alatas untuk tidak menjadi pemimpin diplomasi internasional sebagai Sekjen PBB, yaitu bahwa pemerintah yang diwakilinya selama karirnya bukanlah pemerintah yang menjunjung tinggi cita-cita manusia sedunia.

Karena itu ketika ada wartawan yang bertanya: "Apakah kita akan punya lagi seorang Ali Alatas?" maka jawabannya adalah: "Tidak tahu, tapi kita tidak perlu lagi seorang Ali Alatas." Kehebatan beliau sangat diperlukan dalam suasana dunia masa lalu, pemerintah negara Indonesia masa lalu. Sekarang sudah berubah, dan masa depan kita perlu seorang Menteri Luar Negeri model lain. Apa perbedaannya dunia Ali Alatas dan dunia tahun 2009 ke depan? Paling sedikit ada dua perbedaan besar.

Dunia masa lalu ditandai dengan karakteristik "bipolar" dimana dunia terbagi atas dua kutub, Barat dan Timur. Indonesia mencoba menempatkan diri dalam barisan "Non-Aligned", walaupun hanya dalam peristilahan. Dalam kenyataannya Indonesia berada sebagai pengikut Blok anti-komunis, kapitalis dan internasional. Tetapi dalam kenyataan di negeri sendiri, pemerintah Suharto menempatkan Indonesia sebagai negara otoriter dimana ekonomi dikuasai kekuasaan negara dengan pandangan dunia yang diwarnai nasionalisme sempit bahkan xenophobia, takut pada dunia luar.

Kita tidak perlu seorang Menteri Luar Negeri, apalagi seorang Presiden, yang berspesialisasi untuk berkiprah dalam dunia yang terbelah dua dan tidak menginginkan pula pemimpin yang meneruskan sikap nasionalisme sempit. Kita perlu seorang Presiden yang mampu menghadapi dunia baru, di luar dan di dalam negeri. Sentuhan pemimpin yang diperlukan ini bukan hanya diplomasi, tapi komunikasi.

Dengan bebasnya hak politik orang Indonesia dan semaraknya media menyediakan fasilitas akses lansung antara pemilih dan calon pemimpin, maka secara sederhana bisa dikatakan bahwa faktor kemenangan calon presiden di tahun 2009 adalah 60 persen komunikasi dan 40 persen organisasi. Komunikasi juga disebut sebagai public relations dan organisasi secara populer disebut sebagai "mesin politik." Kalau mau latihan matematika sederhana, SBY bisa menang di tahun 2004 karena dia efektif dalam komunikasi (katakanlah mencapai 50%) dan punya dukungan terorganisir sedikit katakanlah 10%. Hitungan ilustratif ini menghasilkan mayoritas 60% sedangkan efektivitas komunikasi Megawati hanya 20%. Walaupun dengan organisasi yang lebih baik katakanlah 20%, dia hanya mencapai 40%.

Beda sekali dengan faktor sukses politik di jaman Suharto yang boleh dikatakan tergantung 90% pada mesin politik Suharto/Golkar dan sisanya untuk komunikasi tinggal 10%. Itupun seluruhnya untuk komunikasi kepada Suharto dan perantaranya. Pimpinan politik tidak perlu nyambung ke rakyat, karena yang diperlukan hanya kemampuan nyambung ke Suharto. Sekarang, untuk tampil jadi pemimpin, orang tidak perlu "nyambung" ke Presiden. Yang perlu kedekatan pada Presiden hanya orang yang ingin memanfaatkan fasilitas perlindungannya untuk kepentingan bisnis. Dan kita sedang menyaksikan bahwa bisnis yang menggunakan perlindungan Presiden tetap akan tenggelam dalam krisis ekonomi, karena menghadapi pasar bebas selama ada orang yang menjaga keutuhan pasar.

Hendrik Hertzberg menulis dalam majalah "The New Yorker" bahwa dengan terpilihnya Barack Husein Obama, Amerika menunjukkan kembali kemampuannya untuk membuat surprise dan inspirasi bagi dirinya dan bagi dunia. Seperti "passing" Cesc Fabregas yang seakan dipandu oleh sinar laser dalam ketepatannya, Obama mampu mengajak negaranya keluar dari situasi terjepit melalui terobosan yang tepat. Apakah nanti Amerika dan dunia akan berhasil menerima inisiatif dan inspirasi Obama, tergantung pemain politik lain. Sama dengan apakah umpan terobosan Fabregas bisa diterima dengan baik oleh striker Arsenal.

Paling tidak, sejarah telah tercipta dalam pemilihan Presiden Amerika 2008.  Barack Obama telah membawa Partai Demokrat pada mayoritas kemenangan terbesar sejak kemanangan Lyndon Baines Johnson di tahun 1964. Obama melebihi John Kerry dalam hampir semua kategori di tahu 2004: kaum kulit hitam dan juga kulit putih, kaum liberal tapi juga konservatif, wanita tapi juga pria. Ia menang di kalangan Latino, golongan miskin dan superkaya, Katolik dan awam, dan kalangan yang paling berkepentingan terhadap masa depan yang lebih baik, yaitu generasi muda dan orang tua yang masih membesarkan anak di rumah.

Mau tidak mau, Amerika serasa menghadapi dunia baru. Di Indonesia, umpan terobosan yang membuka dunia baru terjadi pada than 1998. Sebetulnya yang memberikan umpan terobosan itu bukan saja mahasiswa dan reformis, tapi Presiden Suharto. Kalau ada jasa Suharto yang paling depan, maka itu adalah keputusannya untuk mengundurkan diri dengan damai. Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi andaikara Suharto membawa Indonesia dalam pertumpahan darah. Memang, tidak ada yang berhasil menerima umpan terobosan Suharto. Tidak Wiranto, tidak Prabowo, dan juga tidak tokoh reformis dan pemimpin partai. Bola dari Suharto lepas dan menggelinding kian kemari selama sepuluh tahun.

Orang malah hampir tidak sadar, bahwa Indonesia sudah bisa meneruskan permainan kenegaraan dengan cantik dengan menangkap bola lepas ini dalam cengkeraman sistem demokrasi. Semua perangkat formal sudah ada, tinggal memanfaatkannya dengan cerdas. Sekarang kita tidak perlu lagi menunggu umpan terobosan dari pemimpin, sebab sistem demokrasi memberikan umpan setiap lima tahun.  Kesempatan berikutnya ada di tahun 2009.

Sekarang pers sedang rajin membahas dimana Obama sebaiknya memberikan pidato besar kebijaksanan Amerika mengenai politik Islam dunia. Beberapa calon tempat pilihan disebut: Mesir, Turki, Qatar. Tapi ada yang menyebut Indonesia sebagai negara paling tepat untuk lokasi pidato itu, bukan saja karena itu tempat Obama dibesarkan selama empat tahun, tapi juga tempat dengan penduduk beragama Islam terbanyak di dunia dimana dipraktekkan persamaan hak beragama, dan dimana sistem demokrasi dipraktekkan walaupun dengan agak kacau balau. Obama bisa memberikan umpan terobosan dan Indonesia akan ditantang untuk menerima umpan itu sebagai negara yang masuk sorotan pers dunia.

Hertzberg mengakhiri tulisannya dengan membayangkan apa yang akan kita lihat beberapa bulan lagi. Sebuah pesawat Boeing 747 warna biru-putih dengan logo "UNITED STATES OF AMERICA" akan mendarat di bandara Halim Perdanakusumah.  Pintu akan terbuka dan kita menyaksikan dua orang melangkah keluar,  Barack dan Michelle Obama.

Itu memang angan-angan. Dalam realitas,  apakah Indonesia akan menciptakan sejarah dalam pemilihan Presiden Indonesia 2009? Apakah kita akan menghindari pilihan yang "gaya lama, itu-itu lagi", atau kita dapat memilih Presiden yang mencuri kejernihan dari kerancuan?

Jawabannya ada pada kita semua, sederhana saja:  Gunakan hak pilih dalam Pemilu 2009. Sebab kalau hanya mengeluh dan berkomentar, sama saja dengan nonton Arsenal dari layar televisi. Dalam Pemilu 2009, kita sangat berhak untuk ikut main, bukan hanya nonton.


Versi asli dari tulisan yang terbit di
Koran Seputar Indonesia

Print article only

27 Comments:

  1. From lekong on 19 December 2008 00:30:03 WIB
    Menarik analogi bolanya. Siapakah gerangangan tokoh jernih di tengah kerancuan itu? Sultan kah? Atau siapa? Kenapa prefesional yang bisa "make something done" macam Mbak Sri Mulyani misalnya tidak mencoba tampil ala Obama untuk menerima umpan terobosan itu? Padahal kata Majalah TIME edisi terakhir, Obama paling mundur baru dikenal publik sejak 2002 atau bahkan yang lebih pas sejak pidatonya di forum Demokrat pada 2004. Modal yang terbatas, tapi menggelinding seperti bola salju yang mampu mengalahkan dua tokoh: Hillary dan Mccain yang secara institusional jauh pada awalnya sulit dibayangkan bisa tumbang di hadapan kekuatan Obama. Ayo tokoh alternatif, muncullah. Bosan nih dengan wajah-wajah lama yang terbukti gagal membawa Indonesia ke pentas dunia yang semakin 'flat' ini...
  2. From salvan on 19 December 2008 02:12:42 WIB
    Rakyat sekarang butuh seorang pemimpim yang mampu membahasakan sikapnya dala bahasa-bahasa yang lebih konkrit ketimbang yang 'abstrak'. Ini penting agar bisa diterjemahkan bawahanya dengan tepat dan mampu melaksanakan dengan tepat pula.
    Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah kehadiran kelompok-kelompok ketentingan yang terkesan mampu bertindak melebihi kekuasaan negara. Saya pribadi tidak terlalu mempersoalkan adanya kelompok ini (ini bagian dari iklim demokrasi yang jaran bahkan hampir tidak terdengar era orde baru). Yang penting tiap kelompok kepentingan harus bersika terbka terhadap pebedaan dan bersama-sama mencari solusi yang lebih baik (bukan memaksakan kehendak)....Bravo Indonesia !
  3. From dmitri on 19 December 2008 03:59:43 WIB
    belum ada Obama-nya Indonesia. Obama Indonesia, kabur ke Amerika, dan jadi presiden. pemilihnya, juga, lama-lama pindah ke Amerika, kalau mau bijak ambil contoh dari Obama.

    suara yang tidak terwakili akan memberikan gambaran lebih jujur atas kondisi politik negeri. toh, yang paling banyak terpilih, akhirnya menjadi yg terbaik dari yang terburuk. tapi kalau suara anda tidak terwakili, jangan malu-malu. suarakan apa adanya, yaitu suara tak terwakili.

    Dunia sudah berubah di abad 21. dan kita masih terus dididik untuk menipu diri sendiri, lewat slogan "yang terbaik dari terburuk."

    hanya kalau menolak yang buruk, kita akan belajar mendapat yang terbaik. biarkan mereka yang berlomba, belajar bertanya sama kita, bagaimana cara terbaik mewakili suara kita.

    sukses!
  4. From suryaden on 19 December 2008 04:26:23 WIB
    tiada alasan tidak ikut pemilu, jika yang dicontreng ada yang sesuaai pilihanmu
  5. From aweteaw on 19 December 2008 07:18:01 WIB
    WOW.....................
    Saya kira ego peradaban Bangsa Indonesia telah mengalami perubahan yang cukup, dengan demikian Bangsa Indonesia tidak akan segan untuk menentukan sikapnya.

    Pemimpin dan Bangsanya akan menjadi cermin untuk dunia. Namun untuk mencapai cita-cita yang luhur bukan hal yang mudah, bukan?
  6. From ciroe on 19 December 2008 09:41:06 WIB
    seburuk apa sih jika golput menang ? dan buruk buat siapa.
  7. From anggana bunawan on 19 December 2008 13:00:01 WIB
    sebuah perubahan memerlukan momentum dan pemicu yang tepat. sehingga perubahan itu bisa menghasilkan dampak yang mencerahkan bukan membuat keruh keadaan..

    presiden ataupun calon presiden yang ada saat ini masih belum memberikan insipirasi untuk calon pemilih dan pemilih itu sendiri, masih banyak wajah dan stok lama yang seolah-olah baru dengan seperti kata ww, komunikasi yang diutarakan ya itu2 saja,

    memang isu kesejahteraan masih saja di pakai sebagai pamungkas, sekolah gratis, pangan, kelaparan, dll..

    tetapi itu kan juga merupakan hasil pemiskinan dengan mengatur sedemikian rupa keadaan ekonomi yang hanya mampu di mainkan oleh segelintir elite, sehingga yang tidak punya daya hanya jadi penonton dengan segudang harapan dan membawa piring kosong, meenunggu kapan jatah bagian itu akan meluncur ke atas piring mereka..

    tanah subur, air melimpah, hasil bumi melimpah, sinar matahari sepanjang tahun,,,, tetapi lingkup kegelapan pesimisme perubahan masih saja bernaung di setiap pemilihan setelah reformasi..

    andai ada mekanisme yang berpihak dan adanya revolusi moral dari kita smua untuk mau berpikir bahwa piramida atas dan bawah harus mendapat akses yang sama dalam memperoleh kesejahteraan sehingga smua bisa senang,, smua bisa bahagia..

    ayo pemimpin yang mendatang.. smangat memberikan kebaikan buat sekitar kita...
  8. From SK on 19 December 2008 15:14:24 WIB
    Tahun 2008 sudah akan habis dan akan datang tahun yang baru tahun 2009, Pemilu tahun 2009 sudah hapir tiba, dan kita membutuhkan presiden yang sadar betul kebutuhan masyarakatnya, jadi buat apa golput lebih baik kita memilih sesuai dengan pilihan kita masing-masing, yang susuai dengan hati nurani kita.OKE-OKE DEEHHHH.

  9. From |richard.p.s| on 19 December 2008 22:30:15 WIB
    bawaslu jangan hanya teriak awaslu sama siput (SImpatisan golPUT). ayo dong jadi EO yang asoy buat party kita.
    silahkan bangun team khusus dengan aparat hukum guna membuat klasifikasi yang bisa menetapkan politisi nakal hingga partai nakal sebagai penjahat politik, SESUNGGUHNYA!!
    Berikan SP 1, SP 2, dan jika yang bersangkutan tak mengindahkan juga, umumkan di berbagai media nasional sebagai penjahat politik. dosisnya, tiga minggu sekali untuk mengumumkan mereka. hukuman terberat, yang bersangkutan tak boleh ikutan dicoblos, dan partainya dikiloin saja ke tukang besi loak.

    ahaa... demi dana operasional yang independent, bangun REG(SPASI)PRIMBON, eh REG(SPASI)PENJAHATPOLITIK. pastilah antar pembesar parpol, simpatisannya, hingga rakyat yang jumlahnya potensial mencapai ratusan juta postingan(dikali dua rebu per posting) akan saling bersaing mengirimkan SMS mesra mereka.
    masa sih, sekedar cari politisi nakal saja harus bayar AC, mmm.. AC apa itu namanya yang suka surpey-surpey nggak jelas?

    setidaknya, dibalik seruan perubahan, kita mulai melakukan perubahan untuk semakin menjunjung tegaknya supremasi hukum di negri ini. Soal adanya team dari bawaslu & aparat yang berniat jadi keparat, ya monggo, sok lah, mari katong samua, eta ma, nyok mari kita jadikan musuh sentral dengan status pengacau pesta, yang nasibnya dijamin lebih sengsara dari pki.

    usul berlebih-lebihan tapi serius ini bermuara pada potensialnya ketidakpercayaan rakyat pada demokrasi, jika pesta demokrasi tak kunjung membawa bangsa ini pada keseimbangan pertumbuhan rohani, fisik, mental, dan sosial.

    piye toh baw? (bawaslu maksudnya)
    masa sih, rakyat terus yang ditendang-tendang jadi bola. padahal, ini kan negaranya rakyat ya :)
  10. From sonny retor on 22 December 2008 00:01:12 WIB
    Jika golput 'menang' tentunya akan buruk bagi citra bangsa secara keseluruhan. Juga akan lebih beresiko karena bagaimanapun "yang terbaik dari yang buruk" adalah lebih baik dari "yang buruk."

    'Kemenangan' golput tidak bisa diklaim karena mereka tidak mewakili satu garis perjuangan tertentu. Mereka sangat beragam, mulai dari yang terlambat ke TPS, hingga yang kehilangan partai dan belum sempat bikin partai baru..
  11. From Jerrico on 22 December 2008 09:41:28 WIB
    Lowongan Kerja :
    Dibutuhkan L/P min lulusan SMA untuk menjadi PEMIMPIN REPUBLIK INDONESIA. Syarat WNI. Penghasilan memuaskan. Kirim lamaran anda dengan menyertakan Fc KTP/SIM, Ijazah, Transkip Nilai ke PO.BOX:0000001 Paling Lambat Mei 2009. HRD Republik Indonesia.


  12. From wak tul on 22 December 2008 09:59:15 WIB
    Aku cuma butuh presiden yg punya prinsip kayak ZhuRongJi. Kalo tidak ada, maka semua capres memang layak dipilih. Biarlah semua presiden, rasanya rameee....
  13. From anton djakarta on 23 December 2008 12:09:00 WIB
    Andai tidak ada Gestapu mungkin DN Aidit-Ahmad Yani menjadi duet Pemimpin Indonesia yang tangguh.

  14. From jaka on 25 December 2008 01:22:22 WIB
    Sesungguhnya saya dan teman2 ingin ikut pemilu di kjri.Tetapi masih banyak keberatan2 yang membuat kami berpikir untuk turut serta.

    Terus terang saja, kami dikecewakan oleh banyak hal yang dilakukan pemerintah dan partai2 politik .Mulai dari penataan sistem politik yg amburadul,kebebasan beribadah dan beragama yg tidak adil sampai kesejahteraan rakyat yg jauh dari sejahtera,serta penjegalan2 politik terhadap lawan politik dengan cara yg sangat kasar dan kasat mata ( kasus gus dur dan pkb sbg contoh),semuanya itu tidak menunjukkan perubahan berarti seperti yg dijanjikan tahun 2004.

    Kami melihat dan merasakan bahwa semua yg dijanjikan dulu itu seperti buang gas dari perut (kentut-maaf).Orang yang buang gas tsb merasa nyaman dan lega,tapi orang orang di sekitarnya yang mencium baunya merasa mual dan ingin tumpah (maaf).

    Hal2 itu lah yg membuat kami merasa bersalah dan menyesal telah memilih kepemimpinan sekarang pada pemilu tahun 2004. melihat apa yg sudah mereka lakukan.

    Maksud Kang Wimar baik menghimbau kami semua.Namun selama partai politik masih berisi orang2 yang hanya untuk mencari isi perut(makan) dan bermental kombinasi ken arok brutus dalam berpolitik (meminjam istilah sdr Christianto Wibisono),orang akan bersikap apatis untuk pergi ke tempat pemilu. Dan bukan rahasia lagi kalau mastermind dari partai2 politik besar adalah ahli2 strategi peninggalan rezim masa lalu yg memiliki gaya masa lalu pula.

    Saran kami untuk orang2 partai politik (kami belum menyebut mereka politikus/politician,dikarenakan masih terlalu banyak dari mereka yg belum masuk standard level tersebut),buatlah program2 partai anda yang mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari2 sekalipun tidak ada pemilu.Kami yakin bahwa tanpa diiming2i janji dan uangpun, Rakyat Indonesia akan rela datang dalam pemilu dan memilih partai anda.

    Benar apa yg dikatakan Kang Wimar bahwa kita harus memilih pemimpin yg bukan gaya lama dan itu2 lagi..
    Tapi pertanyaannya ,apakah sudah ada pemimpin baru yang bergaya baru dan berbuat banyak untuk kesejahteraan rakyat Indonesia Raya? wallahualam.. atau mungkinkah kita meminta Barack Obama untuk memimpin Amerika Serikat dengan Indonesia bersamaan ?? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang..la la la la la...


  15. From wimar on 25 December 2008 05:55:07 WIB
    Pak Djaka, terima kasih untuk saran Bapak. Kami akan berusaha menghayatinya.

    Hebat benar ilmu Bapak, bisa mengerti semua persoalan bangsa kita dan mengetahui kelemahannya. Dan Bapak sangat cerdas untuk tidak ikut bertanggung jawab, menunggu ada orang yang menyelesaikan semua persoalan sebelum mau ikut memilih.

    Selamat menunggu pemimpin baru, yang satu saat dapat memenuhi keinginan Bapak dan membuat Bapak turun ke negara yang payah ini.

    Sementara ini, mudah-mudahan Bapak mendapat kepuasan untuk menjadi orang serba tahu yang melihat dari luar kami-kami yang harus bergumul dengan keadaan apa adanya.

    Kalau Bapak sudah puas dengan keadaan di Indonesia, kami akan sambut Bapak di bandara dan membawa Bapak ke kursi Guru Bangsa.
  16. From |richard.p.s| on 27 December 2008 21:06:33 WIB
    WW, yang benar itu pak Jaka, bukan pak Djaka.

    pak Jaka jangan ngambek ya, karena salah mengenali, eh dikenali oleh kang Wilmar, eh kang Wimar :p
  17. From jaka on 30 December 2008 01:16:23 WIB
    Kang Wimar yg saya kagumi dari dulu,kami akan merasa dipuaskan kalau kami nggak usah lagi kerja cuci piring,jadi pelayan restoran,pembantu di rumah orang, dayung sepeda dan kesusahan2 lainnya dalam mengadu nasib di negeri orang...

    Sementara keluarga kami membutuhkan pertolongan karena persoalan ekonomi,di negeri sendiri sulit untuk diharapkan..
    Orang2 yg seperti kami banyak sekali..dengan bermodalkan hutang sana-sini,kami nekat pergi untuk berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga..untuk memperoleh perbedaan kurs yg lebih baik dibandingkan bekerja dengan juragan2 di tanah air..

    Dengan pinjam komputer teman kost,saya dan teman2 kerja di restaurant (banyak teman2 saya senasib dari daerah2 di Indonesia)mengikuti berita2 dari tanah air(kalau sedang tidak cape sepulang kerja),termasuk dari blognya Kang Wimar ini serta pengalaman masing2 di Indonesia,sehingga sedikitnya kami jadi \"serba tahu\" alias sok tau he he he..

    Saya dan teman2 berharap Kang Wimar membantu kami2 untuk memilih siapa calon pemimpin kita untuk tahun 2009..karena kalau hanya mengandalkan berita2 di internet saja,kami tidak tau persis siapa yg cocok..sementara Kang Wimar jauh lebih mengetahui calon2 tsb (karena pergaulan dan pengetahuan Kang Wimar yg luas tentunya).

    Sesungguhnya kami masih berharap pak SBY memimpin Indonesia (karena beliau orang baik,mengutip tulisannya Kang Wimar),tapi dengan catatan beliau harus mengganti orang2 yg selama ini mengganggu pekerjaan beliau..supaya kami tidak usah cape2 naik bis kota ke kjri dan kecewa lagi di pemilu yg akan datang..

    Kang Wimar,terima kasih untuk joke nya..yang pantes jadi salah satu guru bangsa mah Kang Wimar atuh...he he he..

    Indonesia tanah air beta,pusaka abadi nan jaya..la la la (nyanyi aja deh mengobati kelelahan dan kerinduan pada tanah air)



  18. From wimar on 30 December 2008 05:38:36 WIB
    Bung Jaka, terima kasih untuk komentar anda yang tulus dan jernih. Sikap dan kecerdasan anda akan membawa anda dan teman2 ke arah solusi. Saya garisbawahi hal positif dari komen anda, agar bermanfaat bagi pembaca lain:

    Sadar akan nasib yang kurang baik, mengeluh tetapi mencari jalan keluar dari hal yang dikelugkan. Ini berarti anda menciptakan suatu issue politik dalam arti yang benar. Orang suka menyalah artikan issue politik sebagai gosip atau pertikaian, padahal sebanarnya issue politik adalah masalah yang harus dipecahkan secara politik, seperti masalah ketenaga kerjaan yang anda lukiskan.

    Kalau issue politik seperti ketenaga kerjaan ini bergulir, maka akan ada dasar untuk membuat pilihan pada Pemilu 2009. Sebab di negara yang matang, caleg terkait pada issue politik. Caleg mana yang pro UU pornografi? Caleg mana yang mengerti soal TKI? Caleg mana yang akan menjaga komunikasi dengan rakyat?

    Dalam hal anda, yang penting adalah: caleg mana yang punya gagasan untuk memperbaiki ekonomi di tempat asal anda? Itu yang harus menjadi dasar memilih, bukan hal lain, bukan juga mengikuti rekomendasi saya. Saya akan punya pilihan pada saat Pemilu, dan saya akan jelaskan dasar pilihan saya. Tapi tiap orang punya dasar berbeda, jadi paling baik adalah mengamati caleg dan sikap mereka terhadap berbagai issue.

    Kalau tidak kelihatan sikapnya, cari tahu atau tanya. Kirim email dan kirim pesan seperti komen anda. Dari jawabannya anda akan bisa menilai tiap calon. Kalau tidak menjawab, itu juga ukuran dari kesungguhan mereka berkomunikasi dengan pemilih.
  19. From faisal on 01 January 2009 15:00:52 WIB
    menarik untuk dibaca apa yang dipaparkan bang Wimar, saya kira perlu banyak wimar-wimar lain untuk dapat meberikan inpirasi, pemikiran, pemahaman dan pembelajaran politik. apalagi menyambut pesta demokrasi tahun ini. trims bang Wimar!
  20. From JET-LY on 06 January 2009 11:56:15 WIB
    Saya berharap RI 1 untuk 5 tahun kedepan, adalah orang yang tahu kepada siapa Ia harus membayar "HUTANG BUDI" nya sehingga Ia duduk menjadi RI 1. Ada nggak ya Om Wim orang seperti itu.???
  21. From herman tan on 07 January 2009 22:01:00 WIB
    kalau saya masih berharap SBY menjabat lagi di pemilihan mendatang...saya belum melihat orang yang mampu memimpin negara kita selain SBY pada saat ini
  22. From Ikhsan Lookey on 08 January 2009 13:09:22 WIB
    kalo saya mah, masih berharap sama yang sekarang jd RI 1 & 2. Mereka masih nge-top di mind saya. Sebabnya seperti yang kt liat, skrg dah byk prubahan2 yang terjadi, itupun sudah diterpa dgn banyak bencana/musibah tapi masih ttp bisa maju, gmana kalo bencana/musibahnya lebih sedikit kan bisa lebih byk kemajuan yang terjadi. Demi kejayaan negeri yang kita cintai, marilah jadi pemain (seperti analogi bola diatas) & bukan jadi komentator belaka yang saban hari nyari celah untuk jatuhkan orang & negatif thinking.
  23. From Arie on 26 January 2009 10:16:34 WIB
    Untuk Jaka nikmati saja lowest moment seperti ini, ratusan tahun lalu represi di Cina juga membuat orang2 pada kabur ke luar negeri dan tekanan untuk survive melahirkan generasi bermental kuat dan berhasil. Mungkin ini yang diperlukan bangsa kita -survival training- untuk sesuatu yang besar, belajar independent tanpa perlu orang lain yang menentukan nasib kita. Anda berusaha melakukan perbaikan disana & percayalah banyak dari kita yang melakukan yang sama didalam negeri. Your true voice is heard and I sense your pain and am with you.

    Someone who can summarize and sense the people\'s pain, craft the slogan in true deeds and have solutions without hurting anyone is my next president.

    My vote is for couple Hidayat Nur Wahid with Sri Mulyani if ever there is opportunity, I am not PKS member but his self reflection is consistent and independent from influence outside the voice of the people. We need leaders with those qualities and tough enough to say no when they have to.

  24. From Bientono Soedjito on 27 February 2009 22:09:28 WIB
    Sebetulnya Golput bukanlah berarti tidak mau menggunakan hak pilihya dan hanya sebagai penonton saja akan tetapi karena yang mau dipilih tidak ada yang memiliki kriteria seperti apa yang dikemukakan Bung WW.
    Kalau masalah kriteria untuk bisa menjadi presiden Indonesia itu banyak yang bisa mengajukan akan tetapi giliran siapa yang bisa memiliki kriteria itulah yang susah nyarinya. Coba Bung WW sendiri sebutkan siapa orangnya yang bisa memenuhi kriteria yang disebutkan Bung WW tsb., pasti jawabnya ya Bung WW sendiri kan. Itu kan menurut Bung WW, belum tentu orang lain setuju. Susah kan
    Karena siapapun yang akan terpilih menjadi presiden, rakyat tetap tidak ada jaminan perbaikan dan hanya orang2 yang terdekat yang bisa mengambil muka yang mendapatkan keuntungan maka rakyat malas untuk ikut bermain karena hasilnya sama saja. Main gak main tetap kismin.
    Ini memang kenyataan jadi akhirnya dari pada milih hanya karena supaya menggunakan hak pilihnya ya udah lebih baik jadi penonton saja karena hasilnya toh akan sama aja. Biarlah nanti Tuhan yang akan menentukan sendiri siapa yang layak untuk menjadi pemimpin bangsa ini seperti halnya ketika Tuhan dulu menurunkan Nabi2nya karena kondisi bangsa yang sudah sangat amburadul.
  25. From daniel on 01 March 2009 13:37:07 WIB
    om,aku ini kan seorang pemula blog

    oom,
    bisa tidak ngebimbing aku agar jadi blogger hebat dan terkenal kek oom.....

    boleh gag aku jadi murit oom.........??
  26. From SANDI on 20 April 2009 11:20:22 WIB
    KENAPA YAH ORANG-2 BERLOMBA JADI BUPATI, GUBERNUR, ATAUPUN PRESIDEN DENGAN ALASAN RAKYAT MEMBUTUHKAN. TAPI LIHAT KENYATAANNYA KALO NGGA TERPILIH...NGOTOT,NGAMUK, ETC!!!! BOS LO PADA PGN JADI PEMIMPIN KARENA RAKYAT ATAU PENGEN DUIT, KEKUASAAN, ATAU BAHKAN BIAR BS MASUK TV...HAHAHAHA(NARSIS AMAT)...KALO GA TERPILIH BERARTI RAKYAT GA PENGEN LO MIMPIN KALEE...UDH IKHLAS..KALO EMANG MAU MENGABDI UTK RAKYAT KALO EMANG GA KEPILIH NYALONIN AJ JADI KETUA RT.MASA KALAH MA RT SARMILI...GW SALUT KALO ADA YANG GA KEPILIH DI PILKADA ATAUPUN PILPRES MAU NYALONIN DIRI JADI KETUA RT.YANG CUMA JADI TUMBAL WARGA DAN GA DPT GAJI,ATAUPUN DUIT PROYEK...TAPI ITU SMUA KAN DEMI RAKYAT.KALO EMANG LO BERANGKAT EMANG UTK MENGABDI BUAT RAKYAT!!!!JADI KEPALA DAERAH REBUTAN,JADI PRES REBUTAN, JADI KETUA RT LARI DULUAN....MALU2-IN AJ PEMIMPIN KT YAH!!!!
  27. From zulmadi on 12 June 2009 11:15:21 WIB
    Mas Witular yang ganteng !!!
    Untuk menjadi Presiden Yang "mendunia", suatu saat nanti mungkin sudah perlu kita membuka kesempatan kepada seluruh umat di dunia ini, untuk dapat menjadi pemimpin atau presiden di suatu negara. Dengan demikian tentu mantan-mantan presiden yang berprestasi didunia dapat menjadi presiden di negara kita , begitu juga mantan-mantan presiden negara kita yang berprestasi juga akan dapat menjadi presiden di negara lain. Dan begitu juga halnya dengan anak-anak bangsa kita yang ada dan yang berprestasi juga akan dapat dan lebih cepat untuk dapat menertiban kehidupan dan kedamaian di dunia ini. Padahal aba-aba untuk mengarah kesana sudah dijelaskan dalam kitab Al-Qur'an sejak berabad-abad yang lalu, salah satu contohnya, bertebaranlah kamu sekalian dimuka bumi ku ini ! dan yang lkainnya suatu saat sebelum ku jatuhkan azab ke suatu negeri akan kami utus utusan kami untuk mengingatkannya terkllebih dahulu. Itu kata Al-qur'an lho Mas !!!, Dan hal lainnya yang menyiratkan adalah tentang sumber kita, yakni kita bersumber dari Sumber yang satu yakni Nabi Adam, AS, ini khan secara jelas menyiratkan bahwa kita di dunia ini juga berasal dari sumber yang satu, maka pemimpinnya untuk itu dapat juga dari seluruh kalangan kita yang ada. Ya untuk sementara dari pada repot-repot mari kita lanjutkan saja yang ada terlebih dulu, sambil menunggu formula baru untuk mencari presiden yang mendunia, mudah-mudahan saja nantinya aku atau mas witular yang jadi. terima Kasih
    wassalam

    Zulmadi
    Padang Sumbar

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home