SBY-JK Perlu Dipisah?
Perspektif Pemilu 2009
16 December 2008
Oleh: Hayat Mansur
Setiap menjelang pergantian tahun, banyak kalangan membuat catatan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan. Namun bagi orang biasa, yang penting dari evaluasi tersebut adalah apakah SBY-JK perlu dipilih lagi. Karena kita yang harus putuskan.
Data mengenai kinerja pemerintahan dan ekonomi sudah banyak dipaparkan, tapi apakah kita mudah mencernakannya?

“Inti dari kegunaan evaluasi adalah mencari siapa bad guy, siapa good guy, dan siapa yang harus dipilih lagi,” tegas Wimar Witoelar sewaktu menjadi salah satu pembicara dalam Dialog Ilmiah bertema, Evaluasi Kritis! Catatan Akhir Tahun 2008 Pemerintahan SBY-JK di Universitas Paramadina, Selasa sore (16/12).
Catatan penting bagi SBY adalah bahwa selama pemerintahannya, ia tidak memanfaatkan mandat yang diberikan rakyat dengan perolehan suara mayoritas dari Pemilu 2004. Misalnya, saat penyusunan kabinet dia tidak bisa memilih orang terbaik, malah dipengaruhi orang-orang yang masuk belakangan.
Dalam pemberantasan korupsi juga demikian. SBY-JK memang telah banyak menindak pelaku korupsi, namun kasus korupsi terbesar yaitu Soeharto tidak iproses sama sekali. Juga terhadap kasus-kasus terkait Aburizal Bakrie.
Wimar menyatakan, jangan sampai Golput karena Pemilu sekarang berbeda dengan zaman Orde Baru yang hasilnya ditentukan oleh Soeharto. “Kalau tidak bisa memilih yang lebih bagus, maka pilih yang tidak lebih jelek,” tegas Wimar.
SBY-JK Dipisah
Dalam Dialog Ilmiah tersebut tampil juga sebagai pembicara Ferrari Roemawi (DPP Partai Demokrat), Wijayanto (pengamat ekonomi), Panangiang Simanungkalit (pengamat perumahan), dan Budiarto Shambazy (wartawan senior Kompas).
Menurut Budiarto Shambazy, jika publik suka terhadap SBY-JK silakan pilih apalagi kalau yang lain lebih jelek dari mereka berdua. Namun dalam penilaiannya, SBY-JK sebaiknya berpisah karena selama empat tahun pemerintahan mereka berdua saling bersaing terus. Jadi kalau mereka maju lagi bersama hanya membuang-buang energi saja.
Kalangan wartawan Istana telah mencium adanya persaingan tersebut. “Gambarannya, hampir setiap pagi mereka saling intai. Antara kubu Merdeka Selatan dan Merdeka Utara saling intip ngapain RI 1 atau RI 2 hari ini,” kata Budiarto. Akhirnya hal itu membuat koordinasi diantara mereka lemah.
Jadi bagaimana menurut pembaca, apakah SBY-JK dipilih lagi atau dipisah?




17 Comments: