What is going on in Bangkok?

Perspektif Online
30 November 2008

Questions for experts on Thai politics

by: Wimar Witoelar

Political turmoil is common to Thailand, but it has always taken place against a backdrop of business as usual. Tanks would roll on the streets but people would still be working, and Thailand's prime industry, tourism, never ceased to thrive. It is different now. Swarms of protesters are occupying Suvarnabhumi airport, a glistening gateway to Thailand's hugely successful tourism industry, top in South East Asia. What started out as a reprise of the popular movement that toppled Prime Minister Thaksin Shinawatra in 2006 is now emerging as a nasty and disruptive mass action. Nothing seems to matter to this group except unseating  Premier Somchai Wongsawat, seen by the opposition as a proxy for the corrupt billionaire Thaksin.  Why such disregard for innocent bystanders? Why does nobody seem to be in charge? Why is the King silent for months? These are questions for Thai experts. Please speak up.


I remember my first impression of Thailand in 1969,  a tough nation demonstrating discipline that is  the exact opposite of today's chaos. Thailand was the calmest country in South East Asia, prospering in its role as beneficiary of the huge US presence in Vietnam, Cambodia and Laos. Hundreds of thousands of American soldiers chose Bangkok as their R&R (Rest and Recuperation) furlough from military duty.  This created the entertainment scene in Bangkok. Places such as Patpong Road and Pattaya Beach became icons of Thai tourism and would make  its mark in a more positive way on the tourism and hotel industry.

The Philippines were restless under President Ferdinand Marcos, Cambodia and Vietnam were escalating into objects of Kissinger's bloody experiments, Malaysia was just recovering from the race riots in Kuala Lumpur. Indonesia was feeling optimistic going into a New Order which promised democracy and development. Not many people were aware of the scale of violence that Suharto's army had imposed on the countryside in Central and East Java. All the students knew was that they  had tipped the scale to oust President Sukarno and his despotic regime. They were backed by the public, trading the aimlessness of his flamboyant persona for the calm demeanor of Suharto that brought Indonesia into the world community,  returning to the United Nations, the World Bank the Olympic Games.

As students we were sent abroad as a semi-official delegation for the first time after the isolation of Sukarno's Old Order. We were lionized by  student organizations in the South East Asian capitals we visited. Thai students at Thammassat and Chulalongkorn University were particularly attentive because they were wondering how young people in Thailand could assert themselves when their country is a model of stability and sound economic development. There was no reason to rebel but there was an uneasiness in the lack of democracy.

Thanom.jpg     1973.jpg

Four years later in 1973 these questions were answered. Students staged violent protest against the government of generals Thanom Kittikachorn and Prapass Charusathira. Watching from afar I was amazed by the violence of the happenings. And everybody was impressed when the outcome was pro democratic, albeit starting a difficult and  sometimes bloody transition from military to civilian rule, interspersed by several military coups.  For most of the 1980s, Thailand was ruled by prime minister Prem Tinsulanonda, a military man with democratic instincts. He restored parliamentary politics and made Thailand a democracy apart from a brief period of military rule from 1991 to 1992.

But the point to be made  is that with all those  military coups happening, life would go on.  In fact, it was  business as usual most of the time. While tanks rolled around government square, in other parts of town shops and offices would operate normally, maybe closing for half a day. At one time when Prem Tinsulanonda was Prime Minister he could distract himself from a coup attempt to  allow Indonesian special forces to storm and take over Woyla, the hijacked Garuda plane that was holding hostages in Bangkok’s Don Muang airport. The special forces were personally led by General Benny Moerdani. Unfortunately since that story broke on the day that President Ronald Reagan was shot in Washington DC,  Benny did not get much  publicity in the international media.

The situation is totally different today, World attention is on Suvarnabhumi airport. Hundreds of international passengers are stranded. Obviously the protesters would welcome military intervention to put the Prime Minister out of office. If this were Indonesia we would have generated fifteen conspiracy theories with the military. However, the military have been outspoken in their refusal to step in, calling instead for the government to call for fresh elections. Meanwhile the standoff is hurting the country economically in the life-sustaining sectors of the Thai economy: foreign investment and tourism.


HE King Bhumibol Aduyadej, Rama IX

I have just one final question for the Thai experts: Where is His Majesty King Bhumibol Adulyadej? All crises have ultimately been resolved by the greatest expert  on conflict resolution in the country. Also known as Rama IX, he has been King of Thailand 9 June 1946. He  is the world's longest- ruling  head of state and the longest-serving  in Thai history. Whether by skill or by stature, he has been the anchor that has kept Thailand as the most stable nation in South  East Asia. Will this be another laurel for him, or is this testimony to Thailand’s changing times?

Print article only


  1. From Enda Nasution on 01 December 2008 17:28:08 WIB
    As much as I respect the King, I think Thailand suffers from king dependency for too long.

    Someone must take charge, and take charge fast.
  2. From anton djakarta on 01 December 2008 21:55:50 WIB
    Raja di Thailand hanya akan mengeluarkan kebijakan bila kondisi negara dalam keadaan deadlock, namun sekarang tampaknya Kelompok Istana di lingkaran Bhumibol juga tidak menyukai kubu Perdana Menteri. Kelompok Militer secara konspirasi bekerjasama dengan pihak Anti Perdana Menteri yang di back up Thaksin.

    Lucunya, demo ini mirip dengan apa yang terdjadi di Djakarta pada tahun-tahun berbahaja 1965-1967. Dengan mengesampingkan dugaan faktor Konspirasi terselubung yang dilakukan klik Suharto post peristiwa Untung putsch,maka di djalan-djalan Djakarta terdjadi pertarungan djalanan. Sesungguhnya pertarungan itu menggambarkan peristiwa kelompok elite melawan akar rumput.

    Pada Demo 1966 yang memunculkan fenomena KAMI dan gerakan-gerakan mahasiswa non onderbouw partai yang disponsori dan dilindungi militer terkesan kelompok ini adalah kelompok elitis yang setuju dengan kebebasan ala barat. Sementara kelompok akar rumput tunggang langgang diburu dan dibunuhi dengan tuduhan : PKI, Baso =Barisan Sukarnois dan embel-embel yang mengerikan dimana traumanya menjadi histeria bawah sadar bangsa ini.

    Kelompok elitis urban ini yang pro pada Barat dan diuntungkan oleh aksi Militer Klik Suharto untuk menumbangkan Sukarno, kemudian terpecah dua. Menjadi Pak Turut Suharto, atau rela di bui demi konsistensi Orde Baru yang diyakininya, Sejarah membuktikan Wimar ada di barisan kedua, "Membela Orde Baru yang diyakininya sebagai Orde Demokrasi dan Modernisasi bukan Orde Fasis yang diamini teman-temannya demi sebuah prestise politik dan kenyamanan hidup dibawah pemerintahan Junta".

    Jelas Suharto adalah penyeleweng Orde Baru paling fatal dan ini telah disadari lalu dikoreksi oleh kelompok intelektual yang dulu paling anti Sukarno. Mereka bergerak melawan Suharto namun ternyata Suharto adalah anak didik Kolonialis Belanda paling cemerlang bahkan lebih kejam daripada gurunya, pemerintahan Hindia Belanda. Para mahasiswa yang berdiri paling depan dulu menghendaki Indonesia modern Post Sukarno diburu, dibui bahkan ditahun 1998 sampai ada yang dibunuh. Pada tahun 1974 kelompok intelektualis urban yang berani ditangkapi disatukan dengan PKI dipenjara Salemba. Justru kekuatan yang berlawanan di masa Sukarno disatukan dalam nasib di era Suharto. Namun mahasiswa dan intelektualis itu tidak ada pembelaan dari akar rumput. Karena apa? karena akar rumput yang patriotik sudah dihabisi oleh mesin teror Suharto. Cerpen KOMPAS minggu kemarin (30 Des 2008) "BANTIRAN" karya Gde Arya Soethama, dengan cerdas menggambarkan bagaimana akar rumput dibawa pada lorong ketakutan dengan metode komunikasi politik Suhartorian "Tangkap dan Bunuh". Demokrasi yang pada hakikatnya One Man, One Ballot, menjadi Demokrasi Dengan Acungan Senjata di bawah Orde Baru. Pergerakan yang mencari tempat yang digerakkan oleh kaum elite gagal total karena memang akar rumput sudah dihabisi oleh mesin militer Suharto.

    Namun perjuangan generasi terdahulu seperti Wimar, Arief Budiman, Soe Hok Gie, Bambang Sulistomo, Hariman Siregar yang berani masuk bui demi sebuah Indonesia yang cemerlang berbuah dengan masuknya Indonesia ke dalam tahapan Demokrasi. Walaupun terkesan demokrasi Indonesia masih artifisial ada harapan untuk membuka kembali ruang pergerakan rakyat dimana akar rumput bertemu dengan elitis penggerak dan melahirkan sebuah fenomena yang paling kita kenal dalam sejarah Indonesia : Sukarno!

    Wimar Witoelar adalah salah satu legenda hidup mesin demokrasi Indonesia, yang membuka dan mengkatalisator Indonesia membuka ruang pergerakan rakyat. Apa yang terjadi di Thailand adalah bentuk tidak adanya pertemuan antara Elitis (Raja, Militer, dan Elite Intelektual Urban) dengan massa akar rumput pedesaan yang termanifestasi dalam sosok Thaksin Sinawatra.

    Anton Djakarta
  3. From Alderina on 03 December 2008 20:39:23 WIB
    WW, saya kemarin di Bangkok waktu airport diblokade. Baru aja bisa pulang ke Surabaya siang ini.

    Kalau pengakuan beberapa orang Thailand, mereka sangat cinta Rajanya dan ga pengen Rajanya turun tahta. Ada teman yang sudah lama tinggal di Thailand bilang kalau dua kelompok ini sama-sama mendukung Raja namun salah satu kelompok merupakan kaum elite (kind of bangsawan kali ya)... Nah kelompok ini ketakutan kalau nanti rakyat biasa jadi penguasa negara dan mereka kekurangan proyek, makanya mereka mencatut nama Raja supaya mereka tetap bisa berkuasa. Kenyataannya PM Thailand sangat memperhatikan nasib rakyat kecil dan memang mengangkat hrkat hidup mereka. Makanya kaum elit ketakutan lalu membuat skenario... Ya begitulah yang saya dengar-dengar... Padahal kedua kelompok sama-sama mendukung Raja.

    Kalau udah tua lalu kekuasaan ter-rong-rong, bikin ulah deh. Makanya kan demonstran tuh enak banget di sana. Makan, minum cukup. Demonstrannya juga tua-tua gitu. Mereka kemakan omongan dan ketakutan Raja dicopot, padahal mereka sayang Rajanya.

    I think, kalau memang Rajanya baik dan bisa menolong rakyat, mengapa harus mengubah sistem?
  4. From jaka on 03 December 2008 21:02:52 WIB
    Kalau rajanya mati gimana? Pelanjut RAma IX itu kalau tidak salah seorang putri. Bgmn kepribadiannya? Pasti saat ini dia sudah didekati oleh berbagai macam kelompok untuk mendapat privilese.
    Thailand/Siam dulu besar krn mendapat "proteksi" dari para kolonialis di sekitarnya. Masa kini mereka (mestinya) harus sanggup berdiri sendiri. Atau "prethel" satu demi satu.
  5. From Alderina on 05 December 2008 15:50:04 WIB

    Wah, kalau bicara mengenai kepribadian menurut saya tidak pernah ada orang yang bisa memastikan kepribadian seseorang. Tidak pernah ada jaminan seseorang yang menjadi pemimpin itu punya kepribadian seperti yang kita inginkan, bagaimanapun cara memilihnya....

    Banyak hal yang tersembunyi dan sulit untuk percaya, maka selama saat ini keadaan baik dan belum ada fakta yang pasti mengenai pelanjut tahta. Masih lebih baik tetap mempertahankan sistem. Sebab setiap negara selalu memiliki cara tersendiri untuk mengelolanya. Kita tidak bisa berkata bahwa cara A selalu lebih baik dari pada cara B.

« Home