Proses Demokrasi Nyata hadir di Udayana Bali
Perspektif Online
15 October 2008
Perjalanan roadshow pendidikan pemilih menjelang Pemilu 2009 Yayasan Perspektif Baru mencapai titik kulminasinya di perhentian final roadshow 2008 di Kampus Fakultas Hukum Universitas Udayana Bali.
Antusiasme peserta yang sudah terlihat memadati ruangan sejak pukul 09.00 Wita walaupun acara baru mulai pukul 10.00. Karena penyelenggara selalu berusaha untuk memahami kebutuhan publik (hehehe) dan untuk menghormati antusiasme peserta, dimulailah acara 15 menit lebih awal.

Wimar Witoelar memulai diskusi dengan memorinya akan peristiwa demokrasi pertama sejak kejatuhan Soeharto yang dimulai di Bali. Bali di pertengahan tahun 1998 merupakan tempat diselenggarakannya kongres partai politik terbesar yang murni berasal dari antusiasme rakyat berdemokrasi dan diluapkan dalam pilihannya kepada PDIP lewat kepemimpinan Megawati saat itu.
Demokrasi yang lama tidak dirasakan sebelum era 1998 dimana semua keputusan berasal dari atas. Di Bali saat itu terasa sekali nuansa berdemokrasi karena aspirasi muincul dari bawah/grassroots ke atas.
Wimar kemudian mengundang beberapa mahasiswa mengeluarkan opini mereka tentang Demokrasi.
"Democracy is Crazy!"
"Demokrasi katanya tidak mahal tapi kenapa di Indonesia sering diperjualbelikan?"
"Kenapa sih Demokrasi di Indonesia identik dengan uang?"
"Apakah pemilu 2009 mendatang yang diwarnai oleh banyaknya partai itu pertanda kemajuan atau kemunduran demokrasi di Indonesia"
Keluh kesah mahasiswa tersebut akhirnya dijawab lugas oleh dua panelis, Syamsuddin Haris, pengamat politik senior LIPI dan I Made Gede Palguna, dosen Fakultas Hukum Internasional Universitas Udayana.
Perkembangan demokrasi yang kita alami selama 10 tahun ini menuntut kewaspadaan kita terutama Orang Biasa untuk menjaganya agar prosesnya selalu bisa mengamankan kepentingan rakyat bukan sekelompok orang saja.

Menurut Syamsuddin Haris, jika kita lengah ancaman-ancaman demokrasi akan cepat berkembang di Indonesia. Tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama atau etnis tertentu merupakan upaya untuk merusak proses berdemokrasi. Bagaimana menjaga proses demokrasi bisa terjaga dengan baik adalah dengan menjamin keabsahan/ legitimasi sbstansi prosedural Pemilu 2009 bisa tercapai.
"Maju mundurnya Demokrasi tergantung pada kita, bukan penguasa. Karena itu kalau tidak puas dengan keadaan sekarang, gunakanlah momentum Pemilu 2009 mendatang untuk menghukum parpol atau pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat" tegas Syamsuddin.
I Made gede Palguna, Dosen Fakultas Hukum Internasional Universitas Udayana menambahkan Demokrasi memang mengatasnamakan suara mayoritas, tapi juga harus diingat agar kepentingan yang disuarakan tersebut jangan sampai menindas hak asasi individu.
"Demokrasi bukan untuk menjamin kemakmuran, tapi tanpa demokrasi sudah dipastikan tidak akan terjadi keadilan di Indonesia"
Jika kita ingin belajar berdemokrasi, mulailah bersikap dan berpendapat. Demokrasi mungkin adalah sebuah puzzle bagi kita semua, karena ini adalah barang baru di Indonesia, tapi bukan merupakan problem bagi kita
Suarakanlah apa yang menjadi sikap anda, jika Bali tidak setuju RUU Pornografi, nyatakanlah, Jika tidak setuju dengan calon pemimpin yang ada, suarakanlah. Jangan terlalu pusing dengan banyaknya pilihan yang ada, nikmati saja karena sekarang kita punya banyak pilihan dan bebas untuk memilih" tutup Wimar di penghujung acara.




8 Comments: