Articles

Plus Minus Seorang Presiden

Perspektif Online
16 September 2008

PP09

Tiap orang punya plus dan minus. Menarik metafor yang jauh kedalam dunia usaha, kita tahu tiap perusahaan punya modal dan hutang. Tidak mungkin perusahaan bisa menjadi besar tanpa menggunakan sejumlah hutang. Karena itu kalau kita ingin tahu kuat tidaknya suatu perusahaan, yang cepat diketahui orang adalah harta yang kelihatan. Sedangkan harta adalah sama besar dengan modal plus hutang. Bisa saja perusahaan punya gedung mewah bertingkat, ruang kantor nyaman, mobil dinas mentereng, pabrik besar. Belum tentu perusahaan itu kuat. Harus lihat, berapa modalnya, berapa hutangnya. Dari situ bisa dihitung Net Worth atau nilai bersih perusahaan.

Apakah hutang itu jelek? Sama sekali tidak. Pertama, harus dilihat berapa besar hutang itu sebagai bagian dari harta. Wah, jadi semangat bahas analisa finansial nih. Tapi kita tidak akan bermetafor sejauh itu. Cukup yang penting-penting saja. Selama hutang itu tidak menjadi bagian yang terlalu besar dari harta, maka hutang itu tidak apa-apa, justru bagus sebab memungkinkan perusahaan menjadi lebih besar dari modalnya. Misalnya kalau kita lihat bank, modalnya pasti dibawah 8%, kewajibannya (liabilities) atau hutangnya 92%. Tapi lancar-lancar saja selama tidak sekonyong-konyong semua nasabah menarik uangnya. Ya ndak ada dong, karena sebagian terbesar uang banyak sedang dipakai proyek-proyek mulai dari perdagangan sampai pada investasi jangka panjang.

Yang penting juga adalah, bagaimana kualitas hutang itu. Apakah kita berhutang pada pihak yang baik-baik, atau kepada orang yang tidak jelas. Karena pihak yang meminjamkan uang kepada kita akan sedikit banyak menentukan perilaku kita juga. Berhutang pada bank beda dengan berhutang pada lintah darat.

Seorang pejabat akan punya plus dan minus. Pada dasarnya mutu seorang pejabat ditentukan oleh modalnya. Faisal Basri orang baik, modalnya jelas kuat dan bagus. Tapi untuk menjadi Gubernur DKI, tidak bisa dia hanya mengandalkan modal awal. Dia harus mengambil hutang dan memperbesar modal. Begitu juga semua kandidat politik. Barack Obama waktu mulai kampanye tidak terlalu kaya. Bagi ukuran kita lumayan lah, tapi dibandingkan dengan orang Amerika lain, dia tidak lebih kaya dari Faisal Basri dibandingkan orang Indonesia lain. Tapi begitu dia mulai kampanye, modal asli Obama ditambah dengan pinjaman untuk dana operasi, dan hutang itu disusul dengan tambahan modal. Sekarang Obama punya dana kampanye sangat besar, tapi dia tidak harus berubah karakter karena hutangnya dipilih, baik besarnya maupun kualitasnya.

Faisal Basri tidak berhasil menjadi Gubernur DKI karena tidak cukup banyak orang mau menambah dana operasinya, mungkin karena tidak banyak pemilik uang yang mempunyai nilai-nilai serupa dengan nilai-nilai Faisal Basri. Uang di Indonesia tidak dikuasai oleh orang baik. Setiap orang kaya di Indonesia mempunyai struktur plus dan minus yang beda dengan orang baik-baik.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah orang baik. Modal aslinya bagus. Tapi begitu dia menjadi tokoh besar, malah menjadi pejabat tertinggi di Indonesia, struktur modalnya menjadi tidak jelas. Kelihatannya beliau merasa berhutang pada pihak-pihak yang mendukung beliau, lepas dari baik buruknya pihak pendukung itu. Bahkan pendukung asli SBY yang sejalan dengan pikiran asli beliau banyak yang tergeser Padahal modal SBY terbesar adalah mandat kuat dari hasil Pemilihan Presiden 2004, yang membuat SBY menjadi orang yang meraih suara langsung terbanyak dalam sejarah dunia. Dengan jumlah suara jauh diatas semua saingannya dalam Pemilihan Presiden 2004, SBY tidak perlu terpengaruh oleh orang yang mendompleng pada kekuasaannya, apakah itu politisi, pejabat kabinet atau orang bisnis, apalagi orang yang merangkap ketiganya itu.

Dinilai secara obyektif, SBY punya banyak plus dalam dirinya. Karena itu dia bisa punya karir yang cukup baik dan reputasi positif. Tapi sejak menjadi Presiden, plus beliau tidak bertambah, malah minus jadi banyak. Yang paling mengecewakan adalah kelemahan beliau dalam mengambil keputusan. Kemudian kalaupun mengambil keputusan, seringkali keputusannya salah.

Seorang Presiden tidak bisa dipersalahkan seratus persen untuk pengambilan keputusannya, kecuali olah orang yang secara sengaja mencari titik lemahnya. Karena Presiden tidak bekerja sendiri, tapi dibantu oleh staf. Mutu seorang Presiden tergantung stafnya, tergantung Wakil Presiden, tergantung Menteri Koordinator, tergantung kabinetnya. Semuanya pilihan Presiden sendiri, jadi ujung-ujungnya memang SBY bertanggung jawab. Tapi dalam pelaksanaan sehari-hari kita bisa melihat plus dan minus Presiden tergantung pada penasehat dan pelaksananya yang menangani berbagai bidang tanggung jawab pemerintah.

Dalam kebijaksanaan ekonomi, tidak ada kesalahan Presiden. Banyak kekurangan dalam pelaksanaan, banyak penyimpangan. Tapi policy dasar ekonomi pemerintah cukup baik, dan kebanyakan kritik emosional tidak didukung pengetahuan dan informasi yang kuat. Kalau kita lihat dua pejabat yang bertanggung jawab untuk perumusan kebijaksanaan ekonomi, maka tidak heran bahwa pengambilan keputusan di bidang ekonomi tidak terlalu jelek. Beda dengan keadaan sebelum reshuffle dimana Menteri Koordinator bidang Ekonomi bukan ahli ekonomi dan banyak keterlibatannya dalam bisnis pribadinya.

Dalam kebijaksanaan lain, kepresidenan SBY mengandung banyak plus minus. Jenis keputusan yang paling mengecewakan adalah yang dilakukannya secara kurang cermat, Aneh, SBY yang sangat hati-hati justru sangat ceroboh dalam memutuskan untuk mendukung penipuan seperti Blue Energy dan beras Supertoy. Kelihatannya kecil, tapi kedua hoax atau penipuan ini mendefisikan citra SBY di luar negeri. Pers asing yang sudah lama kurang memperhatikan Indonesia membuat telepon berdering-berdering minta pendapat tentang sikap SBY tentang skandal Blue Energy dan Supertoy.

Susah menjawab mengenai kekhilafan Presiden, kalau Presiden sendiri tidak memberikan keterangan yang jelas. Dalam hal ini SBY dan pemerintah mengambil sikap diam. Ini sangat tidak menguntungkan kepemimpinan Presiden. Kalau orang berbuat salah, paling bagus adalah mengakui kesalahan itu dan melakukan langkah koreksi. Orang akan respek terhadap orang yang khilaf selama dia menunjukkan kemampuan mengatasi kekhilafan itu. It is not how you make mistakes, but how you recover from your mistakes.

Tanpa kesadaran itu dan tanpa staf yang punya komitmen terhadap perbaikan dengan mengenyampingkan kepentingan diri, modal Plus SBY akan lebih tenggelam oleh Minus yang muncul terus menerus.

Print article only

61 Comments:

  1. From mansur on 16 September 2008 13:01:36 WIB
    Politik adalah cara untuk mendapatkan dan menjalankan kekuasaan. Tampaknya SBY baru sebatas bisa untuk mendapatkan kekuasaan saja, sedangkan menjalankan kekuasaan belum bisa.

    Jadi harus berguru dulu nich seperti kepada Bung Wimar.
  2. From Rasno on 16 September 2008 14:01:57 WIB
    SBY harus berani mengambil sikap. Sikap tegas bagi para stafnya yang 'dodol', bukan saja membohongi presiden tapi sudah membohongi masyarakat.

    Seharusnya kekuasaan itu juga berlaku bagi staf-stafnya, bukan hanya diberlakukan ketika hendak menaikkan harga BBM yang mencekik kehidupan rakyat...

    Melihat kasus super toy dan Blue Energy, seharusnya SBY lebih mempercayai orang-orang kalangan akademisi dan orang-orang di lingkungan riset (LIPI). Setelah Super toy dan Blue Energy, kalau sampai ada kasus serupa lagi, yah,,,cape deh....
  3. From todung lumban toruan on 16 September 2008 15:33:54 WIB
    Bapak Ibu Yth.:Saya menulis buku berjudul: "63 ayat dasar -Seandainya Saya Jadi Presiden-" sudah beredar di TB Gunung Agung, Gramedia, MM Bookstore, Kharisma dll di seluruh Indonesia oleh penerbit. Terus terang saya tidak punya duit untuk resensi atau bedah, pada hal menurut pikiran saya buku itu sangat penting untuk perkembangan negara kita pada periode berikut.
    Dalam buku itu saya tulis pertama: betapa pentingnya komitmen akan Kesatuan NKRI, termasuk UUD 1945 asli, Pancasila, Sumpah Pemuda, kehati-hatian terhadap Amerika atas kawasan-kawasan bermasalah di Indonesia termasuk NAD, Ambalat, Natuna, Riau, Ambon, Papua serta telah lepasnya Timor Timor, dan kemungkinan akan lepas yang lainnya.
    Kedua: Prioritas pembangunan berorientasi dan kepada rakyat petani, buruh, nelayan, pekebun, untuk itu perlu mengembangkan daerah pertanian, pantai, perkebunan dan industri baik dengan otorita wilayah Kecamatan, Kabupaten Kota, Provinsi dan nasional, Prioritas pembangunan Kelautan sehingga 20 % rakyat penganggur masuk laut dengan segala industrinya termasuk perikanan laut, minyak dan gas off-shore, serta wisata laut, dan Prioritas ketiga yaitu Pembangunan Indonesia Bagian Timur yang 25 tahun tertinggal dari IBBarat dan 20 tahun tertinggal dari IBTengah. di setiap Pulau besar dan kecil dibangun jalan lintas antar pulau, dikembangkan pelabuhan besar dan kecil , dibangun bandara besar dan kecil sehingga tidak ada pulau yang terisolasi, serta setiap pulau kosong dimanfaatkan. Sertifikat tanah rakyat dibuatkan secara gratis, perumahan rakyat membangun kembali rumah rakyat yang sudah 100-150 tahun diutamakan dari pada membangun real estat dan apartemen yang justru diperuntukkan bagi orang luar pendatang baru yang tidak jelas keindonesiaannya, sementara orang desa pemilik tanah asli menjadi pengemis di kota-kota.
    Ketiga: pengembangan aparatur dengan seleksi Menteri, Gubernur, Duta Besar, Dirjen dan Direktur oleh Presiden secara ketat, Partai cukup 2 atau 3 saja, pelaksanaan Pilkada lebih disederhanakan, pengembagan birokrasi bermutu internasional, Presiden tidak hanya berkantor di Jakarta saja tetapi dihidupkan kembali semua istana negara dan istana lain bahkan bila perlu dibangun baru agar Presiden dekat kepada rakyat, Usia PNS dinaikkan menjadi 60 tahun dan gajinya disamakan dengan gaji pns di Departemen Keuangan dan gaji pegawai pegawai Pertamina. Proyek harus dihapuskan, karena sudah menjadi sumber korupsi terbesar di Indonesia, dan kegiatan rutin kantor sudah banyak yang diproyekkan, proyek hanya untuk pekerjaan berat. Menpower planning oleh BPPT dan Depnaker harus jelas, potensi negara di seluruh kawasan sudah harus dimiliki oleh BPPT dan merencanakan pada periode tertentu tenaga macam apa yang diperlukan negara sesuai dengan waktu eksplorasi sda pada waktunya
    Keempat, bahwa perekonomian ditingkatkan setara dengan perekonomian dan perdagangan internasional, kurs rupiah disamakan dengan kurs uang internasional, Pertamina, Perkebunan, dan Pertambangan dijadikan menjadi perusahaan besar namun kembalikan menjadi perusahaan negara yang dikelola oleh aparat negara, privatisasi harus dikembalikan menjadi Indonesiani, BUMN, BUMD dan anak perusahaan harus diawasi, kerjasama dengan semua negara dan interpol agar semua kasus dapat difasilitasi oleh negara-negara sahabat, semua piutang negara harus dikembalikan segera, serta koruptor (bukan/hapuskan istilah KKN) harus ditembak mati. Peranan BIN harus menjadi besar dalam hal keamanan negara, sehingga sudah akan lebih dahulu tahu peristiwa yang akan terjadi jauh hari sebelum kejadian. Kerjasama dengan negara-negara luar seperti Perusahaan Amerika di Papua harus dinegosiasi ulang.
    Kelima, pertanggungjawaban presiden pada akhir tugasnya harus jelas dan diterima oleh rakyat, Periode kepresidenan cukup satu periode saja, dan sebagai pengganti tidak adanya lagi Garis-garis Besar Haluan Negara maka sebelum menjabat harus menetapkan lebih dahulu program apa yang harus dikerjakan selama 5 tahun periode itu dan program itu pula yang harus dipertanggungjawabkan pada akhir jabatannya. Selama ini, semua presiden tidak pernah mempertanggungjawabkan tugasnya pada akhir jabatannya, begitu saja diganti oleh penggantinya.
    Inilah pentingnay bila buku tersebut turut juga disosialisasikan kepada caleg di Kabupaten Kota, Provinsi, Pusat serta pejabat/calon pejabat, DPR, Menteri, Kepala Badan Pusat serta Pembantu Presiden bahkan ke seluruh masyarakat Indonesia. Inilah harapan saya, terima kasih. (TodungL Toruan, tel 021 7702974, hp 08164816518, almt Jln. Danau Batur V/137 Depok Timur, Depok, 16417)
  4. From Chandra on 16 September 2008 16:20:12 WIB
    Artikel yang sangat bagus dan jernih. Kadang kita dibuat pusing dan bingung karena berpikir apakah kita harus pilih SBY lagi nanti 2009. Lha kalau bukan dia masak harus pilih si ibu lagi, atau Wiranto bin Soeharto.
  5. From albertus on 16 September 2008 20:32:57 WIB
    Mengenai Supertoy dan Blue Energy, yang saya heran adalah, walaupun sekarang sudah dua kali ketipu, sang 'staf ahli' terkesan (atau memang) tidak diapa-apakan, apa perlu menunggu yang ketiga kali?

    Disini terlihat lagi ketidaktegasan SBY, tidak tegas dalam mengambil keputusan, dan sekarang tidak tegas dengan bawahan.

    Saya yakin SBY orangnya baik, tapi tidak mungkin sebuah negara dijalankan hanya dengan 'good faith' (niat baik) belaka. Memang tidak baik apabila selalu paranoid mencurigai orang, tapi tidak baik pula apabila menganggap semua orang memiliki 'good faith' yang sama.. motivasi manusia beranekaragam.

    SBY harus lebih berani menilai seseorang, dan juga berani bertindak apabila memang ada yang harus ditindak, jangan terlalu bergantung pada 'inner circle'.. ingat kata-kata lama 'Who watches the watchmen?', tidak selamanya inner circle anda membisiki yang 'benar'.
  6. From paank Fachrezi on 16 September 2008 20:50:43 WIB
    Tindakan SBY beberapa waktu belakangan dalam 'menegur' staff dan (maaf) bawahannya menurut saya cukup bisa 'mengguncang' tradisi hubungan atasan-bawahan. Sependek pengetahuan saya, selain SBY belum ada Presiden yang secara langsung tunjuk hidung didepan forum ketika melihat ada pejabat yang (dalam istilah SBY) tidak menjalankan amanat rakyat.

    Terlepas dari kemungkinan maju-kembalinya SBY di Pilpres mendatang, menurut saya, kinerja SBY akan lebih baik jika didukung oleh staff yang 'sadar posisi'.
  7. From Weng Gautama on 17 September 2008 05:34:31 WIB
    Bung Karno berkata: "saat saya tepilih menjadi presiden, maka kesetiaanku pada partai lenyap dan digantikan dengan kecintaankua pada bangsa dan negara"

    SBY ... terkesan belum dapat melepaskan keterikatannya pada golongan - pendukung-2/kroni-2, seperti tampak pada ketidak tegasan --- bahkan cenderung akomodatif --- dalam kasus Lumpur Lapindo, pembiaran atas pernyataan yang seringkali kontradiktif diantara Pembantu-pembantu Presiden dan akhir-2 ini kasus Blue Energy dan Super Toy yang tak jelas juntrungannya.

    Bisakah SBY memperbaiki citranya dalam waktu dekat ini, disaat 'genderang perang' telah ditabuh oleh lawan-lawan politiknya dalam menghadapi Pemilu mendatang ... apakah SBY bisa dengan 'kepala dingin' tetap berupaya menyelesaikan PR-2 nya dan membuat kebijakan yang pro rakyat kecil (yang nota bene adalah mayoritas), atau melakukan 'serangan balik' dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat kosmetik.
    Jawabannya ... tanyakan pada rumput yang bergoyang

  8. From Budi Restianto on 17 September 2008 11:44:06 WIB
    Keliatan bgt SBY itu pinginnya byk yang dicapai secara spektakuler, sehingga tergoda untuk jalan pintas n instant kayak blue energi dan super toy.....andai kedua hal itu berhasil pikirnya akan mendongkrak bgt popularitas...sampai mengorbankan kaidah2 ilmiah.

    Sebenarnya menurut gw jadi presiden tuh...ga perlu berambisi semua soal selesai...jabat aja cuma 5 tahun...yang 32 thn aja ninggalin byk masalah..hehehe.... Jadi fokus aja dech, misal nich declare aja target yg terukur..misal dlm 5 tahun. Saya janji jalan tol trans jawa selesai semua, sehingga memiliki impact yang besar utk ekonomi, nah itu aja deh dah cukup....

    -salam hangat, penuh semangat-
  9. From bang rudy on 17 September 2008 12:04:23 WIB
    SBY sosok yang pas untuk mendapat kesempatan dua periode. Dengan catatan semua elemen kompak, mulai : Wapres, para anggota Kabinet, cendekiawan, ilmuwan, agamawan dan masyarakat. Semua wajib menerapkan dogma dan filosofi yang telah berurat berakar di Negeri ini.
  10. From dmitri on 17 September 2008 13:56:48 WIB
    kalau mau run a company, kenapa run for president? kurang power? jadi mafia aja, lebih prestigious. lebih bisa dimengerti, bahkan buat beberapa orang, lebih admirable. kita juga lebih mengerti aturan mainnya, apakah beradab, atau main kasar.
  11. From esti on 17 September 2008 15:53:10 WIB
    (terbukti susah jadi presiden)
    siapa ya yang bisa masuk kriteria:
    (1)Baik dan berniatan baik,
    (2)Tegas dan tahu alasan ketegasannya,
    (3)Mampu dan tahu ketidak-mampuannya,
    (4)Berpenampilan baik, agar ngga malu-maluin
    rakyat Indonesia.
    (5)Sehat Jasmani agar ngga menghabiskan APBN dengan
    pemilihan presiden pengganti ditengah jalan karena
    presidennya berhalangan.
  12. From sofyan on 17 September 2008 19:26:49 WIB
    Kalau menurut saya sebagai orang biasa sih, SBY seorang presiden yang selalu jaga image. Tidak mau bertindak dan membuat kepurusan tegas. Apalagi jika keputusan tersebut berkaitan dengan bawahannya.

    Kasus lumpur Porong, misalnya. Berhubung Bakri yang punya Lapindo, maka lihatlah nasib masyarakat disekitar lumpur dan para korban tidak jelas nasibnya sampai kini. Boro-boro penanganan lumpurnya....
  13. From tansil on 18 September 2008 14:39:26 WIB
    such a shame.. saya orang yang sangat percaya dengan SBY dan yakin bawa beliau punya hati yang tulus membangun Indonesia, tapi memang betul bahwa untuk jadi presiden, good will or good faith saja tidak cukup.. orang cuma mau lihat hasil..
    dua kali presiden tertipu, ada yang bilang, presiden terlalu excited dengan penemuan-penemuan baru sehingga tidak ditelusuri dulu kebenarannya..
    so far saya belum kehilangan kepercayaan kpd SBY, tapi pak, tolong stafnya diganti dengan orang yang lebih pinter dan berhati baik...
  14. From Asnawi on 18 September 2008 17:38:04 WIB
    Sahabat saya Rocky Putiray yang bekas pemain nasional sepakbola pernah bilang sama saya : Kalau sudah di atas lapangan teriakan penonton hanya ada dua akibat bagi pemain, menambah semangat atau justru membuat semakin terpuruk. Tugas pemain di luar pertandingan resmi adalah berlatih dan menjaga stamina. Buat pak SBY apapun komentar rakyat, tetaplah bersemangat. Apapun hasilnya berarti mnemang kemampuan kita saat ini adalah hasil maksimal yang kita capai. Rakyat sudah percaya terhadap anda pada pemilu 2004, Kita tunggu Pemilu 2009 apa masih dipercaya atau tidak, tergantung rakyat yang akan memilih. Para pemain politik berlatihlah selalu dan menjaga stamina, siapa tahu anda terpilih jadi pemain politik nasional, jadi nantinya di pertandingan politik tidak akan mengecewakan penonton politik. Kalah menang nggak jadi soal, yang penting semangatnya. Merdeka.
  15. From |richard.p.s| on 19 September 2008 02:38:40 WIB
    nomer.3 lupa mencantumkan nomer rekenening :P
    becanda atuh, jangan marah dong ah. sorry OOT : )

    nggak gampang marah itu bagus loh, namun kalau dikibuli sampai dua kali dan nggak marah, maka kita perlu bertanya pada rumput* yang bergoyang soal ada apa dibaliknya
    ________________
    *rumput hijau? o yeah, rumput hijau dan langit biru... semoga tak ada tender jalanan khusus terkait embel-embel langit biru dan bumi hijau yang bakal jadi tipuan ketiga ya?(tanda tanya) udah ah, mau sepedaan dulu di jalanan umum ;) *tring*
  16. From Danie on 19 September 2008 22:56:23 WIB
    Wacana yang bagus, tapi saya yakin SBY mampu bersaing dalam pemilihan 2009, keadaan diatas adalah bagian dari ketidaksempurnaan presiden dan dia cukup tegas dalam memberantas korupsi selama dia memimpin. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menjadi Presiden 2009? apakah akan membawa perubahan atau tidak?
  17. From Andy MSE on 20 September 2008 02:34:21 WIB
    memang nggak jelas... bosen aku... (sama SBY)
  18. From Elan Dewotono on 20 September 2008 06:24:15 WIB
    Saya masih \'melirik\' SBY dibanding lainnya pada 2009, kecuali ada generasi muda yang \'mirip\' Soekarno 70% saja. SBY masih lumayan tidak intervensi KPK, bayar utang rezim Soeharto, kasus BLBI tersendat tapi tdk direcoki, berani keluar dr OPEC yang mestinya sudah pantes dilakukan 4-5 tahun lalu, cost recovery Kontrak Bagi Hasil mulai di incar KPK yg tidak pernah terbuka 20 tahun berlalu .Ex Pejabat BIN yang biasanya \'untouchable\' dibolehkan ditangkap. Ini hal-hal kecil yang saya melihatnya positif meskipun ada se-abreg masalah yang belum terselesaikan seperti pengangguran, peningkatan kemiskinan dll dll.
    Last but not least, jangan bilang2 ya, uang pensiun Pegawai Negeri Sipil dan Tentara diam2 sudah dinaikkan secara berkala sampai lumayanlah. Yaa \'terpaksa\' cenderung SBY lagi kayaknya ...
  19. From Nyante aza lae on 20 September 2008 15:12:13 WIB
    SBY bukanlah seorang pemimpin yang "sempurna"...Ia cenderung "demokratis", "cari selamat" dan bbrp hal abu-abu lain. Pemimpin yang baik harus menunjukkan sikap. Konsistensi!!! Pemimpin yg baik hrs bisa membaca "tanda-tanda jaman"..tuk itu ia harus bersikap "situasional", pada saat tertentu lembut, bahkan lebih lembut dari salju...tp pada saat tertentu harus bisa keras, melebihi baja tentunya..
  20. From bramsakti on 20 September 2008 18:12:19 WIB
    Siapapun yang jadi presiden di Republik Maling ini, rasanya tidak akan mampu membereskan seluruh persoalan bangsa hanya dalam kurun waktu 4,5 tahun saja (0,5 tahun nya khan gak kerja, tapi sibuk kampanye!:P)

    Saya pribadi berpendapat, SBY sepatutnya mendapat kesempatan kedua, karena paling tidak pada CV nya, SBY sudah 'berpengalaman" menjadi Presiden.Sudah lebih tau harus bagaimana menjalankan managemen negeri ini. Dibandingkan kita harus mendapatkan presiden baru lagi; yang artinya menggantungkan harapan lagi yang sama sekali tidak menjamin kondisi akan lebih baik dari saat ini, bahkan malah mungkin lebih buruk. Coba saja lihat siapa2 saja yang sudah memproklamirkan diri menjadi capres, apa ada yang mungkin bisa lebih baik?

    Yang perlu diperbaiki adalah sikap ketegasan dan pemilihan 'pembantu-pembantu' yang lebih baik dan berakhlak lebih mulia. Insya Allah Indonesia bisa bangkit. Amiin...

    *optimis mode still on!
  21. From thea on 21 September 2008 19:20:43 WIB
    di tempointeraktif.com hari ini saya baca pernyataan wiranto yang meprediksikan bahwa the indoesia president berasal dari partai "divisi tengah". kira-kira SBY dan demokrat berasal dari partai mana ya???
  22. From paul on 22 September 2008 14:10:07 WIB
    Beginilah kalo cuman mengandalkan hasrat yg menggebu.
    Ingin banyak yg dicapai, tapi tak mengerti kemana orientasi yg konkrit dalam mengimplementasikan segala kebijakannya.
    Mungkin SBY akan lebih sering tertipu lagi.
    Hahaha....., mungkinkah ada tender proyek lainnya?
    Ternyata emang sulit menjaga image.., untuk sebuah alasan "agar dipilih lagi" hohohohh....
  23. From Berto on 22 September 2008 22:35:38 WIB
    SBY mau maju utk pilpres 2009, harus bisa membuat gebrakan yang berarti mulai sekarang dan nanti 2009, mencari orang-orang sebagai tim suksesnya, yang benar-benar membantu dengan tulus tidak mengharap imbalan.
  24. From viviana on 23 September 2008 02:44:38 WIB
    Heran sekali saya dengan orang yang mengatakan SBY itu jaga image atau tebar pesona. Bagi saya itulah apa adanya SBY. Mempesona, lembut hati, santun, sangat menghargai perasaan orang, bisa tegas tergantung si-kon serta beliau orang yang sangat saleh dan baik. Sangat pantas mendapat kesempatan kedua. Karena sejauh ini hanya dia saja calon tunggal dihati saya. Insyaallah saya percaya akan kepemimpinannya.

    Setiap manusia memiliki ciri, kelebihan dan kelemahan masing masing. Apalagi presiden !? Semua tindakannya selalu dipantau terus se-Indonesia bahkan sedunia.

    Siapapun dapat menemukan kelemahan atau kelebihannya :-)

  25. From shierly on 23 September 2008 12:09:26 WIB
    Menurut saya, terlepas dari baik dan buruknya komentar masyarakat... SBY juga manusia biasa yang punya kelemahan. Sejauh yang saya lihat, SBY berusaha untuk menjaga semua aspek kepentingan masyarakat Indonesia. Banyak orang yang berpikir kalau SBY hanya mau cari selamat, tapi yang harus anda pikirkan adalah beragamnya kultur dan budaya serta pola pikir masyarakat yang mengharusnya beliau untuk berbuat seperti itu.
    Masyarakat kita sudah 'kebablasan' dalam hal demokrasi, kita sudah berpikir setiap orang mempunyai hak untuk bersuara, memang itu betul...tetapi apakah kita juga sudah memikirkan suara orang lain?? yang berhak punya suara di negara ini lebih dari 200juta orang bung!!!
    Coba bayangkan kalau misalnya SBY mengambil langkah ekstrem untuk mengatasi setiap masalah. kita ambil contoh masalah keamanan : dulu waktu jaman ORBA siapa yang berani menghina presiden dimuka umum langsung ditangkap. Kalau sekarang diberlakukan, apakah mungkin? Yang ada demonstrasi2 tidak jelas kembali bergema dan alhasil akan banyak lagi kerusuhan2 yang jelas amat merugikan bangsa kita.
    Para mahasiswa yang 'doyan' demonstrasi pun sudah kehilangan akar dari perjuangannya, mereka menganggap kejatuhan ORBA adalah berkat mereka. Jadi sampai sekarang (10tahun setelahnya) mereka masih berpikir bahwasanya merekalah yang paling didengar suaranya, kalau mereka bersuara tetapi tidak didengarkan apa yang akan terjadi?? pengrusakan fasilitas umum, caci maki yang tidak seharusnya dikeluarkan oleh orang2 yang pernah mengenyam pendidikan dan lain sebagainya.
    anyway, ga perlu berpanjang cerita saya tetap mendukung SBY untuk jadi presiden tahun depan dan berdoa semoga pak wimar bisa jadi mentrinya :)

  26. From Mundhori on 23 September 2008 13:15:45 WIB
    Menilai seorang kepala negara sangatlah tidak mudah.Banyak parameter untuk mengukurnya. Konsep negara dalam kacamata sederhana mengandung unsure tanah air, bumi dg segala isinya, pemerintahan dan rakyat. Seorang presiden dg rezimnya mempunyai tugas mengelola negara. Memobilisir SDM, SDA dengan segala macam peraturan perundang undangannya. untuk kesejahteraan rakyat. Kemampuan menjaga, memelihara, mengelola tanah air yg isinya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya, punya nilai positip. Presiden mampu mempraktekkan dan mengendalikan untuk mengatur social, politik, hokum dan budaya, punya nilai positip. Dengan paramater rakyat, seorang presiden dituntut dapat memudahkan rakyat menjalani hidupnya, nilainya positip. Pada hakekatnya, titik focus dalam konsep negara adalah rakyat. Keberhasilan untuk rakyat, kegagalan diderita oleh rakyat. Kewajiban utama presiden menciptakan kehidupan rakyat dengan mudah. Mudah cari sandang pangan - mudah mendapatkan pendidikan, kesehatan, keamanan dan focus kesejahteraan. Itu intinya. Dan sekarang kita nilai hasil kerja presiden kita melalui entitas kepentingan rakyat.. Sudahkan rakyat dengan mudah dapat sandang pangan ? Belum. Nilainya negatip.Mudah dapat pendidikan ?? Sedang diusahakan. Nilainya sedang. Kesehatan, keamanan ?? Sedang diusahakan. Nilainya sedang. Politik, korupsi, hokum, keadilan dll, dinilai sedang sedang saja. Maka nilai nilai itu kalau dideretkan mendapatkan negatip cukup besar, sedang juga besar, positip kecil, maka hasilnya masih mendekati cukup. Itulah suara rakyat, salah satunya aku.
  27. From Satochid Sosrodiredjo on 24 September 2008 20:34:13 WIB
    Bung wimar,
    Apapun menurut saya pak SBY, orangnya cukup bisa dipercaya untuk satu periode lagi dan rasanya kandidat2 yang ada belum ada yang bisa menyaingi. Memang politk itu jahat bung, yang tadinya mendukung dan sekarang kurang diperhatikan marah dan malah melawan serta tidak mau mendukung lagi, itu namanya bukan teman akan tetapi mau enaknya sendiri.Mari kita belajar berpikir besar dab positif kalua sudah menentukan pilihan harus benar2 kita lakukan dengan benar, pasti akan memetik buahnya. terima kasih. Semoga sukses bangsa indonesia dalam tahun2 mendatang.kpan kita mau sukses kalau hanya iri????
  28. From |richard.p.s| on 26 September 2008 11:22:37 WIB
    Viviana di Nomer 24 great banget dah...
    Betul itu jeng, mungkin ada yang nggak neg-fans lagi karena proyeknya nggak di gol gol gol kan ya... hohoho... mungkin mengimplementasikan kebijakan ala nya terlalu canggih hingga tak dicerna pak SBY yak... atau ... sebaliknya ;)*
  29. From viviana on 26 September 2008 23:20:52 WIB
    |richard.p.s|No.28

    Thanks juga tanggapannya mas Richard :-D
    Kita sebagai orang awam aja tahu kalo semua yang dilakukan beliau itu tidaklah terlepas dari posisinya sebagai presiden.
    Dan rasanya rakyat sudah lelah berganti ganti presiden dengan program barunya. Kalau semua presiden dihujat, dikritik dan dibenci, kapan bisa majunya nih negara ??

    I love Indonesia. Lets do the best for our better government !
  30. From perduli bangsa on 27 September 2008 14:07:15 WIB
    Sejujurnya saya sudah terlalu letih melihat perjalanan bangsa ini (especially after reformation), hal ini bukan berarti sebuah sinyalemen bahwa saya mencintai Orba, tidak benar sama sekali.. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang TEPAT, yang disampaikan secara TEGAS, dan LUGAS menangani berbagai masalah di dalam negeri!!! seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau berdiplomasi, namun tetap memiliki keputusan/inisiatif untuk memajukkan si Garuda bin MERAH-PUTIH, dan celakanya SBY hampir tidak mempunyai kapasitas seperti yang saya sampaikan di atas (setidaknya ini menurut saya).. ingat, pemimpin adalah cerminan bangsa.. jangan samapai kita punya pemimpin yang hanya bisa berkata "ehem-ehem" dan "ehem-ehem".. MALU-MALUIN AJACH!!!


    Thx Om WW...
    Mahasiswa
  31. From teronk on 27 September 2008 16:43:04 WIB
    Saya yakin SBY itu baik. terlalu baik hati sekali sehingga tidak mau tegas kepada bawahannya yang jelas-jelas bersalah dalam sesuatu hal. Jadikan ini pelajaran, pilih pendamping yang terbaik pada pilpres selanjutnya.Jangan mau terikat dengan perjanjian yang merugikan.Saya masih berharap indonesia lebih baik lagi

    salam,
    http://me-ebook.blogspot.com
  32. From Tito C. Basworo on 27 September 2008 22:29:52 WIB
    semoga presiden mendatang dapat memahami bahwa sistem hukum lah yang harus mengatur sistem politik dan sistem ekonomi.
  33. From Artha on 29 September 2008 01:20:13 WIB
    SBY... awalnya sy punya harapan. Sejalan pemerintahannya sy setuju dg WW, minusnya jadi terlalu banyak.

    Tentang keputusn presiden. Selain ada yg ngasih tahu/membisik/nasehatin Presiden, keputusannya ada di tanganya bukan. Minta pendapat, alternatif, saran, pro/kontra... setelah cukup info, pake insting/gut feeling/doa/fakta ambil keputusan... Kalo belum yakin, suruh lagi tuh para pembantu untuk kerja, mempertajam lagi analisanya baru ambil keputusan. Dirinya sendiri berperan jg dong, bukankah di pemilu 2004 dulu dia mencalonkan dirinya bukan pembantunya kan... kog malah jadi kebalik pas memerintah.

    Memang tidak mudah jd presiden, terkadang sy miris dan geli juga lihat debat yg katanya capres\'09, wong policy gak ngerti berai ngomong kog, yg gini nanti kalo jd presiden mesti mengandalkan \"staff ahli\"nya deh, terus bakal terulang lagi nih kasus presiden \"dikerjain\"... hahaha,

    Soal blue energy yah mungkin presiden baca jurnal2 jadul kali yah, ini emang pernah \"in\" di kalangan scientific, sangking menang terus olimpiade fisika bahkan astronomi, SBY mungkin mikir yah mana tahu... mulia kan, demi mandiri energi. Padahal menristek-nya sendiri dah bilang enggak kog... yah, sudahlah.

    Eh muncul super\"le\"toy itu. Begitu tahu penjelasan gagalnya padi itu, langsung SBY di mata sy jatuh ke titik terdalam deh, bukankah SBY itu lulusan IPB?
    Duh, sy jadi letoy...
  34. From ibnu Nurcahyo on 29 September 2008 15:08:44 WIB
    saya sbg rakyat jelantah atau wong ndeso juga bingung...tuch
    gmn bisa ya...orang dgn mandat luar biasa tapi memble kayak tempe...bong wimar yg saya hormati,..gmn sih caranya biar saya dgn bekal seadanya juga bisa nulis buku,...tentang unek-unek saya ...walaupun yg baca cuma keluarga gpp.
  35. From Andre Cirebon on 29 September 2008 23:43:49 WIB
    Harusnya Presiden Indonesia itu masih tetap GUSDUR,makanya para politisi harusnya bersabar jangan main LENGSER-LENGSER saja. Kita lihat sebenarnya para politisi Indonesia itu banci, sama GUSDUR yang cacat aja takut. Beginilah ngurusi negara itu memang susah. Kena batunya kan kalau tidak sabar!!! Sok secara gamblang apa sih kelebihan dari pada politisi sekarang, Amien Rais cuman pengen jadi Presiden warga negara amarta, Megawati cuman lulusan SMA kalau dia tidak didukung ayahnya pasti tidak ada bekasnya,
  36. From Donald on 04 October 2008 23:14:43 WIB
    Setiap orang punya plus minus...mulai dari bajingan hingga ulama...pasti punya...tapi untuk SBY...mungkin ini dapat dijadikan masukan... SBYJK mengklaim berhasil meningkatkan anggaran pendidikan...padahal 20Úri APBN untuk pendidikan itu adalah amanat undang-undang...silakan Anda cermati (terutama untuk 24 dan 28... Itu satu...yang kedua...ketika kita sama-sama mengerti kehilangan ratusan (minimal) bahkan mungkin jutaan hak cipta; contoh dari pengrajin perak Bali.....SBY mendaftarkan hak cipta atas lagu-lagunya...sementara Ani Yudhoyono mendaftarkan hak cipta dan hak desain industri mobil pintar hingga ke Swiss...bayangkan tidak terniat di benak SBY untuk memudahkan bahkan menggratiskan pendaftaran hak cipta atau malah minimal mencacah hak cipta...O ya...informasi ini saya dapatkan karena kebetulan saya salah satu yang beruntung bisa hadir di konferensi/workshop tentang hak desain industri yang diadakan oleh DepkumHam cq Dirjen HAKI, akhir 2007 dulu di Jakarta...jadi...terserah penilaian Anda...bagi saya pribadi...hal itu cukup menyakitkan... Aulia Pohan akhir-akhir ini "dilepas" oleh SBY ke Hukum, dan MA "dijanjikan" Hakim Agung seumur hidup...sementara 2009 tinggal menghitung hari...jadi....

    Silakan Anda tentukan...terlepas dari plus-minus...SBY dah mendeklarasikan maju jadi RI1 untuk kedua kali...ada baiknya kita berhati-hati....
  37. From Cecep Lirpa on 08 October 2008 18:48:20 WIB
    Sejak awal saya tidak memilih SBY, tapi saya setuju kalau pemerintahan SBY plusnya tidak bertambah malah minusnya bertambah. Istilah \\\"Global\\\" baik itu situasi ekonomi, alam (bencana2), dll sering terucap sebagai alasan KETIDAK BECUSAN mereka mengelola negara. ALLAH akan tetap tidak akan memihak SBY bila \\\"ucapan tidak sesuai tindakan atau yang pernah ditindaki\\\", jujur saja...! Introspeksi diri lebih baik daripada memikirkan maju sbg Presiden 2009. Beri ruang sedikit untuk Rakyat yang sedang terhimpit. Kebijakan seolah-olah memikirkan Rakyat, tapi sebenarnya membunuh Rakyatnya perlahan-lahan. Jangan show up kalau menggunakan fasilitas Negara untuk keperluan pribadi atau keluarga.
    Akankah kita sebagai warga/rakyat Indonesia akan akan merasa lebih lega, sedikit senyum dengan keaadannya atau
    masih adakah cobaan Ilahi karena Pemimimpinnya????
  38. From tom aries on 11 October 2008 16:46:55 WIB
    plus dan minus,

    selama kita memberikan penilaian minus dari pembenaran orang lain, maka yang kita nilai akan biasa saja (sistem).

    selama kita memberika penilaian plus dari kesalahan diri kita, maka yang kita nilai akan biasa saja.

    ketika seorang presiden mengatakan satu kalimat/perintah/himbauan/guyonan/makian/dlsb serta satu tindakan yang bermoral dan tidak itu tak akan mempengaruhi saya dalam menyatakan hal ini...

    nilai plus dari seorang presiden ialah dia mau jadi presiden dan nilai minus dari presiden ialah dia mau menjadi presiden lagi.

    ok, semua selamat menilai..
  39. From Ahmad Kurnia on 16 October 2008 12:49:11 WIB
    Kuncinya ketegasan yang belum terlihat dari sosok militer sang presiden dan rasa sungkannya terhadap keterlibatan besannya dalam BI-gate..dan mediapun hampir luput tak mengulasnya, padahal itulah salah satu black image dari plus-minus beliau, semoga menjelang selesainya kepemipinan beliau ada ketegasan politik yang jelas saat beliau masih dianggap paling capable untuk saat ini.

    the best regard,
    http://akur-stbajia.blogspot.com
  40. From Kristoforus on 16 October 2008 15:31:17 WIB
    Sudah jelas bagi saya :
    PEMILU besok nggak pilih SBY !
  41. From Ainul on 16 October 2008 16:42:53 WIB
    tahu nggak kelebihan bangsa Indonesia..???
    punya hobi
    \"coba2\"...
    pemilu kemaren pas SBY menjadi presiden kita, juga tak lepas dari \"hobi\" kita yang suka coba2, dimana banyaknya peluang untuk mencoba SBY menjadi presiden. disamping itu, adanya kekecewaan terhadap \"percobaan2\" yang lalu yang mengecewakan...!
    mungkin pemilu kali ini pun bila ada \"muka\" baru lagi dari partai yang tak jelas banyaknya (kayak mengerebutin jatah zakat)
    akan kembali di \"coba\" oleh masyarakat kita yang sangat bermurah hati memberi kesempatan pada masyarakat ramai untuk \"mencoba\" memainkan nusantara ini.
    ..
    kalau nggak da \"muka\" baru
    kayaknya SBY naik lagi.......!!!
  42. From Jerry on 17 October 2008 15:18:43 WIB
    Kepada Yang Mulia RI-1. Tolong Janji Anda Pada Tanggal 20-21 Oktober 2008 Ini Direalisasikan Sudah 2 Tahun... Janji Anda Disebrang Istana Anda......
  43. From Jati on 18 October 2008 22:43:35 WIB
    Syukur Alhamdulillah semua doa saya dan sebagian besar rakyat terhimpit atas kondisi saat ini :
    1. Harga Crude Oil utk BBM turun serendah-rendahnya, agar tidak ada alasan bagi Pemerintah SBY bahwa Harga Minyak di pasar internasional tinggi membebani APBN kita dan rakyat dituduh mendapat subsidi atas itu.
    2. Harga Batubara turun serendah-rendahnya, agar supply batubara bisa mengalir ke PLTU, dan listrik nyala teruss.
    (1. 2. Apakah SBY tahu persis apa itu UUD \\\'45 pasal 33 ayat 3, sampai mengorbankan rakyat dan inflasi tinggi).
    3. Harga CPO utk minyak goreng turun serendah-rendahnya agar rakyat kebagian jatah migor sehingga tidak harus antri
    lagi.
    4. Dll.nya harga2 yang menyesuaikan \\\"globalisasi\\\" sebagai alasan agar rakyat tenang.
    5. Harga saham turun agar tahu bahwa ketergantungan sama Amerika (liberalisasi/globalisasi) sangat tidak sesuai dgn
    kondisi Rakyat/Bangsa Indonesia yang masih miskin, lain lagi kalau kita bisa Pendapatan per kapitanya..jangan jauh2
    seperti Malaysia saja...ok lahh.

    Rakyat Indonesia sudah Pesimis & hampir tidak percaya bakalan mengembalikan harga seperti semula seperti tahun lalu saja.... Apakah itu keberhasilan SBY JK ???.

    Pemimpinku sudah lupa filsafat Jawa, Ojo kagetan, ojo gumun, ojo dumeh. Jangan kagetan, jangan heran,
    jangan mentang-mentang, merupakan pegangan hidup, sehingga tetap tegak menghadapi cobaan seberat apa pun.
    Sehingga adanya Blue Energy, Padi Super Toy, menjadi gumun,kagetan dan dumeh....... yang akhirnya ?????

    Nek aku tambahke OJO DIPILIH MENEH NEK NYALONKE MENEH..?

    Kadang kasihan dan ikut prihatin selama SBYJK memimpin koq banyak sekali kejadian/musibah dll, apakah Allah swt. tidak memihak pemimpinku ?? atau Rakyatnya yang banyak salah ??
    atau Rakyat dan Pemimpinnya yang tidak tahu diri ??, sombong ?? atau kalau Cobaan/Musibah itu datang bukan dari Allah ...hanya Globalisasi ?? Global warming, global ekonomi, dan global2 yang lain sehingga peringatan Allah tidak pernah diperhatikan..??? Jujurlah pada diri sendiri.. ? Jujurlah pada Allah swt.
  44. From paul on 20 October 2008 10:32:09 WIB
    @.43. bung jati
    saya ingin menambahkan statement anda.

    SBY itu hanya mampu mendengarkan jeritan kolapsnya LAPINDO.
  45. From aroebabat on 20 October 2008 21:34:54 WIB
    Sby plusnya bagus tampilan bin cassingnya untuk yang lain kita tunggu sampe akhir jabatan n apa yang dia lakukan apa seindah/sebagus/segarang cassingnya
  46. From samtaha on 21 October 2008 16:51:57 WIB
    jadi ingat iklan :
    kalau sudah duduk lupa berdiri

    salam,
    Eyang Batam
  47. From Sumantri on 22 October 2008 09:05:55 WIB
    MESTINYA SBY KALAU MAU KAMPANYE TIDAK PAKAI \"AKAN\" LAGI.
    \"AKAN\"NYA KAMPANYE DULU JUGA BELUM JADI \"SUDAH\", MAU BERBUAT CURANG SAMA RAKYAT, MAU BERBOHONG LAGI SAMA RAKYAT?
    SBY TIDAK BISA DIPERCAYA, CUCILAH DIRI SENDIRI SEBELUM MENCUCI ORANG LAIN...HE..HE..HE..
  48. From yasir on 28 October 2008 17:23:10 WIB
    SBY tuh kelebihannye banyak,yaitu benyak kekurangannya
    kekurangannya cuma satu, yaitu g punya kelebihan..

    turunin BBM dulu SUS!! buat nambah2 plus ente
  49. From Midun on 31 October 2008 14:39:24 WIB
    NYATANTA SBY ITU DIEM2 JUGA RAKUS DAN DOYAN SAMA UANG RAKYAT YA....!!!!! 1000% ANDA TIDAK AKAN TERPILIH PIPRES 2009. SBY HOBINYA KORUPSI UANG JATAH RAKYAT BUAT DANAIN KAMPANYENYA... KPK TERNYATA TAKUT JUGA YA SAMA SBY. INGAT PAK SBY UANG YANG ANDA TELEN SKRG INI UANG RAKYAT DAN UANG BOLEH PERIH.... INGAT SBY ANDA BUKAN SUHARTO..!!!! DAN ANDA SANGAT KOTOR BERMAIN-MAIN DENGAN UANG RAKYAT.
  50. From wahyuintan on 03 November 2008 21:43:01 WIB
    sby adalah masa transisi, beri kesempatan di periode kedua untuk menuntaskan programnya. kerja belum selesai, belum apa-apa.... kalo ganti presiden di 2009, maka kita mulai dari 0,5 lagi, gak akan pernah selesai.
  51. From wahyuintan on 03 November 2008 21:44:15 WIB
    sby adalah masa transisi, beri kesempatan di periode kedua untuk menuntaskan programnya. kerja belum selesai, belum apa-apa.... kalo ganti presiden di 2009, maka kita mulai dari 0,5 lagi, gak akan pernah selesai.
  52. From JETLY on 04 November 2008 12:00:45 WIB
    Saya juga setuju nilai nya SBY sudah tidak terlihat lagi karena telah tertutupi dengan nilai - yang semakin hari justru semakin nyata, apalagi dengan mendorong untuk segera disahkannya RUU Pornografi demi menambah kekuatan politik dari basis islam. Dengan menegur bawahannya di depan umum atau kemarahannya dipublikasikan lewat media TV saat beliau pidato ada yang tidur, sama sekali tidak menambah popularitasnya. Karena apa yang ditunjukkan didepan media, tertutupi dengan apa yang terjadi dibelakang media berupa kebijakan-kebijakan yang tidak populer yang cenderung pro kelompok tertentu dan bukan pro rakyat.
  53. From FILLY on 04 November 2008 15:58:28 WIB
    Kalau saja SBY ingin merebut kembali simpati rakyat, inilah kesempatan yang paling baik yaitu dengan menurunkan BBM seperti sebelum tahun 2005. Yang jadi masalah kalau BBM turun konsekuensinya BLT harus dicabut. Padahal mungkin BLT ini akan digunakan sebagai "amunisi" untuk memenangkan pertarungan 2009, lumayan "amunisi" gratis menggunakan APBN, nggak perlu repot-repot cari donatur tuk pasang iklan. (Saya hanya mencoba memahami kebingungan R-1 soal tuntutan penurunan BBM)
  54. From Indri Pebriani on 05 November 2008 17:01:40 WIB
    puntennya.........!!!!
    jadi pemimpin itu sulit looo..!!! masih gampangan mimpin anak Tk dech!!! dri salut dech, emang umur dri baru 17 tahun, tapi dri juga memperhatikan kok perkembangan nagara ini. memang banyak yang bilang SBY itu suka plin plan dalam mengambil keputusan..ya jelas lah!! toh memang ga butuh pemikiran yang cukup berat untuk mencari yang terbaik untuk jutaan penduduk Indonesia. saya juga kalau milih pakaian suka kebinggungan!!! kalau SBY nyalonin lagi, saya bakal milih pak SBY. smangat ya pa SBY.....SING SABAR NGURUS MASYARAKAT INDONESIA
  55. From Neyla Hakim on 15 November 2008 09:53:25 WIB
    Siapa pun tidak akan bilang kalau jadi presiden itu mudah. Tapi seorang presiden yg benar tidak pernah pantas utk menunjukkan bahwa tugas yg diembannya adalah sulit!

    Dan rakyat seharusnya tidak usah pusing mikirin kesulitan2 yg dihadapi pemimpinnya. Karena sang pemimpin itulah yg mempunyai tanggung jawab untuk memikirkan kesusahan rakyatnya!
  56. From Jerry on 21 November 2008 09:56:23 WIB
    AKU BANGGA MENJADI RAKYAT INDONESIA
    Dikala pemerintah sekarat: Rakyat yang mengobati
    Dikala pemerintah krisis : Rakyat yang bertanggung jawab
    Dikala pemerintah galau: Rakyat yang harus tegar
    Dikala pemerintah buang2 uang rakyat: Rakyat yang bayar pajak
    Dikala pemerintah menaikan BBM: Rakyat yang mengantri
    Dikala pemerintah menyelenggarakan PEMILU: Rakyat jadi korban
    Dll.............
    DIKALA RAKYAT INDONESIA MENDERITA : PEMERINTAH "...."

    Aku bangga mejadi rakyat indonesia karena rakyat indonesia adalah pemimpin negara ini (menanggung semua beban negara).!!!!
  57. From jaka on 02 December 2008 03:36:25 WIB
    AKU TIDAK MENGERTI MENGENAI SIKAP ORANG2 YG MEMIMPIN NEGARA INDONESIA INI..
    SBY SEKOLAH DI AMERIKA SERIKAT ,MENTERI2 LULUSAN LUAR NEGERI RATA2 S2,S3 DARI AS JUGA..PARA POLITISI LAIN BANYAK YG BERPENDIDKAN DI LUAR NEGERI PULA.BAHKAN ANAK2 MEREKA AKU KETAHUI DIKIRIM SEKOLAH KE LUAR NEGERI DAN BUKAN RAHASIA LAGI KALAU SEBAGIAN DARI MEREKA MEMPUNYAI GREEN CARD AMERIKA SERIKAT DAN AUSTRALIA. TETAPI SATU PERTANYAAN AKU, MENGAPA MEREKA TIDAK BELAJAR MENERAPKAN HAL2 YG SANGAT BAIK YG MEREKA PEROLEH DI LUAR NEGERI ???? CONTOH YG SEPELE :

    * DILAKUKAN PENATAAN KEPENDUDUKAN BERUPA SOCIAL SECURITY NUMBER BAGI SETIAP WARGA INDONESIA. KETIMBANG KTP WARISAN SUHARTO UNTUK KEPENTINGAN NGINTIP WARGA INDONESIA DI RT /RW ,LEBIH BAIK MEMBUAT SISTEM INI .

    DENGAN ADANYA SOCIAL SECURITY NUMBER UNTUK SETIAP PRIBADI AKAN JAUH MEMPERMUDAH PEKERJAAN DAN PENGONTROLAN UNTUK SETIAP ORANG. TIDAK TERKECUALI RAKYAT YG JADI PEMIMPIN ATAUPUN RAKYAT BIASA..KITA AKAN TAHU SIAPA BERBUAT APA..

    DARIPADA UANG UTANGAN DARI LUAR NEGERI DICOLONGI PARA MALING UANG NEGARA, LEBIH BAIK DIGUNAKAN UNTUK MEMBUAT PROGRAM INI.

    AKU KIRA BUNG WIMAR DAN POLITISI2 YG AKU SEBUT DI ATAS MENGERTI YG AKU MAKSUD..

    PERSOALANNYA ADALAH MAU ATAU TIDAK MELAKUKAN INI..SEHINGGA BANGSA INI TIDAK USAH LELAH DAN FRUSTASI MEMAKI2 PARA POLITISI MEREKA !!

    INILAH SAATNYA BAGI SBY UNTUK MEMBUAT PENINGGALAN SEJARAH YG BERARTI BAGI PENATAAN NEGARA DAN BANGSA INDONESIA DARIPADA DIMAKI MAKI RAKYAT DIKEMUDIAN HARI, SEPERTI PENDAHULUNYA YG SUDAH ALMARHUM..
  58. From Muhammad Khabib Tegowanu on 17 December 2008 19:05:45 WIB
    Memang berat dan sulit menampung banyak keinginan, apalagi masing-masing mempunyai keinginan yang berbeda, memang mudah menyalahkan, mengkritik orang, yang sulit itu mengakui keberhasilan seseorang. yang lebih sulit lagi adalah memahami bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan alpa. walau bagaimanapun SBY sudah memulai, yang lain tinggal meneruskan dan melengkapi,anda kalau di posisi "Dia" belum tentu bisa berbuat banyak..... keuasaan itu cenderung korup. Waspadalah!, Waspadalah!dan Korupsi itu muncul terjadi karena ada yang dikorup dan di jarno ae karo sing ngerti!ngerti-ngerti deweke diuber-uber ama KPK, blaik!
  59. From Asnawi on 29 December 2008 14:02:59 WIB
    Membaca 58 komentar di atas, rasa-rasanya saya mampu jadi presiden menggantikan SBY. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, bisakah saya memuaskan 58 komentator terhormat dengan berbagai macam keinginan dan pendapat ? Saya butuh rakyat yang mampu menerima "kekalahan" dalam satu periode tertentu. Saya tidak mungkin memuaskan ke 58 komentator. Dan saya juga begitu yakin 58 komentator butuh presiden yang mampu memuaskan masing-masing dirinya. Menurut saya demokrasi hanya masalah kesabaran menerima "kekalahan" dalam satu periode. Demokrasi kita adalah musyawarah dan mufakat. Pemilu adalah salah satu bentuk mufakat. Artinya tetap menghargai suara terbanyak sampai periode yang ditentukan selesai. Saya masih bersedih dengan kurikulum pendidikan kita yang masih jauh dalam usaha mengenalkan demokrasi yang sebenarnya.
  60. From Arie on 07 February 2009 12:14:37 WIB
    pak Asnawi, ya itu ekses dari demokrasi kan pak, bebas berpendapat, ngga perlu seorang pemimpin itu harus memuaskan semua keinginan dan pendapat, kuncinya membantu mengarahkan keinginan dan pendapat yang ngga kehitung itu pada alasan yang sebenarnya, pada satu tujuan yang utama, bermanfaat dan menguntungkan. Jadi bapak ngga usah sedih, pendidikan demokrasi kita ada hasilnya kok, tuh buktinya kita sudah jadi lebih kaya ide padahal cuma dengan 58 komentator. Bayangin software microsoft pak, jutaan komputer ngirimin send error report ke server buat di tidak lanjuti, bukti mereka piawai ambil benang merah dari masalah yang dikirim untuk inovasi kedepan.

    Soal plus minus presiden itu wacana kepedulian, tapi hebat sekali kalau presidennya bisa mengalihkan perhatian dari dirinya pada masalah2 yang lebih penting yaitu bahwa masalah kekurangan dan kelebihan dia tidak sebanding dengan masalah mendasar yang harus dihadapi bersama. Jadi mengalihkan yg negatif ke positif, hasilnya orang tidak lagi bilang wah microsoft suka error nih, tapi \'wah hebat nih microsoft sampe ada fasilitas error report buat masalah gw\'. Microsoft ga usah jawab tiap report tapi bikin jawaban dengan bikin program yang lebih bagus lagi.

    Ibarat software Software -SBY- rentan virus, dan udah kena virus trojan. Kita tunggu kalo SBY bisa respons error report dari kita dengan kelengkapan anti virus baru, tapi saya sangsi kayaknya perlu di format ulang dan ganti software deh, sama yang lebih tahan virus.
  61. From thomas Setyoso on 28 June 2009 12:16:12 WIB
    Kalau aku menilai SBY itu kelihatannya Baik " coba lihat Iklan pendidikan gratis " disitu seolah-olah mengucapkan terimakasih kepada Guru....trus mengucapkan terimakasih kepada nelayan. SBY dalam hal itu, sembunyi di balik kegagalannya, dan dipoles ( bertopengkan )Satria yang minta maaf. Kepura-puraan seperti itu bahaya bagi pendidikan Mental Masyarakat. SBY juga malah saya anggap presiden yang lebih gagal ketimbang Megawati. Oleh sebab itu, mungkin keluargaku akan tidak lagi memilih SBY, namun memilih Megawati yang didukung Prabowo sangat bisa memperbaiki kehidupan masyarakat. Rezim SBY telah membuat masyarakat terpuruk hidupnya ( mental/fisik ) ke lembah yang paling hancur selama Negeri ini ada.

« Home