Articles

Presiden yang Kita Perlukan

Koran Sindo
07 July 2008

PRESIDEN KITA

Oleh Wimar Witoelar

Dengan segala kekecewaan orang terhadap SBY, kelihatannya Presiden kita yang keenam ini akan bertahan sampai selesai masa kerjanya di tahun 2009. Jika memang demikian jadinya, maka ia akan mencatat satu keberhasilan: Presiden pertama yang memulai dan mengakhiri jabatannya secara normal. Apa maksudnya 'normal'? Menjadi Presiden melalui Pemilihan Umum, dan berhenti karena Pemilihan Umum juga. Itu kalau dia tidak terpilih ulang di tahun 2009.

Semua Presiden kita sebelum SBY tidak 'normal': Sukarno tidak dipilih dan diberhentikan oleh tekanan Orde Baru. Suharto dipilih oleh MPR yang tidak wajar representasi nya terpilih ulang melalui pemilihan umum yang dibuat-buat dan hanya memilih MPR, yang kemudian memilih ulang tanpa ada calon lain. Akhirnya berhentinya bukan di akhir masa kerja tapi melalui pengunduran diri. Habibie dengan agak kaget mengisi kursi Presiden yang dikosongkan Suharto. Ada sedikit misunderstanding, sehingga sampai akhir hayatnya Pak Harto tidak mau ketemu mantan favoritnya ini. Abdurrahman Wahid terpilih melalui Sidang MPR demokratis yang pertama, tapi diberhentikan oleh lawan-lawan politiknya dalam Sidang MPR tanpa ada alasan resmi. Megawati tidak ikut mundur bersama Presiden Wahid dan menghabiskan masa kerja sisa, dan tidak terpilih kembali. Baru SBY yang normal.

Dari perspektif lain kita lihat bahwa peran sejarah masing-masing Presiden itu berbeda.

Megawati menjadi mantan Presiden yang paling menggunakan kebesaran jabatan, diluar Suharto. Tengoklah di Bandara Sukarno-Hatta, keberangkatan Ibu Mega dengan kemegahan protokol layaknya seorang presiden yang sedang memerintah, bandingkan dengan kesederhanaan mantan presiden lain. Kalau Megawati nyaman memakai atribut protokol feodal, sebaliknya Abdurrahman nyaman menikmati dukungan orang biasa di daerah dan di negara dunia lama promosi pluralisme. Mantan Presiden Habibie tidak lagi punya forum untuk mempromosikan industri pesawat terbang, tapi dia bisa menunjuk pada tempatnya dalam sejarah yang menyaksikan pembebasan pers dan tahanan politik dalam tahun pasca-Soeharto. Habibie tidak menghalangi kemajuan demokrasi, Abdurrahman Wahid memperluasnya dalam terobosan konkrit melawan militerisme, menuju perdamaian di Aceh dan Papua, dan menjadi pemimpin dunia menuju pluralisme. Setelah Megawati memberikan istirahat nasional, Susilo Bambang Yudhoyono maju sebagai "Presiden Normal" pertama. Sayang bahwa dia tidak membawa maju perjuangan reformasi, tapi paling tidak dia tidak menariknya mundur. Penunjukkan pejabat tinggi pemerintah akhir-akhir ini menunjukkan perbaikan mutu dibandingkan dengan pejabat yang semula menduduki kursi masing-masing. Bisa dikatakan bahwa SBY memperhatikan kepentingan publik, sayang dua pejabat yang tidak menghormati rakyat masih kuat dalam jabatannya. Mudah-mudahan kalau SBY maju untuk kedua kalinya, dia sudah mampu menyisihkan ‘bad guys’ ini.

Dalam diskusi panel bersama Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, banyak hadirin memuji kestabilan Indonesia dewasa ini. Tragedi Mei, separatisme Aceh, permusuhan luar negeri. Dari sudut pandang pemimpin Timor Leste, Indonesian adalah negara dewasa. Memang buat kita begitu, karena kita sudah mengalami sekian banyak ekstrimitas. Hanya kita masih mengeluh mengenai pemimpin kita, presiden kita. Ini bisa dijelaskan kalau kita pakjai perspektif yang tepat. Masyarakat kita makin dewasa, pemimpin makin kecil. Justru pada saat kita punya pemimpin besar seperti Sukarno dan Suharto, masyarakat kita menjadi kerdil, masuk kedalam lembah ekstrimitas dan memuja kultus individu.

Jadi presiden apa yang kita perlukan di masa mendatang? Bukan yang terlalu kuat, terlalu hebat, tapi presiden yang bisa memanfaatkan kekuatan masyarakat Indonesia, presiden yang bisa memfasilitasi berbagai dialog publik. Dialog dengan civil society yang punya segudang keahlian dan pandangan. Dialog dengan empati kemanusiaan, seperti dalam kasus penyalahgunaan kekuasan dan ketidak pedulian penguasa. Dialog internal dalam masyarakat kita sendiri.

Kita juga perlukan presiden yang bisa melakukan dialog dengan dunia luar, baik untuk mengembangkan masa depan Asean maupun untuk membuka potensi forun Pasifik Barat. Memberikan bobot kepemimpinan yang sudah disambut baik oleh Timor Leste, Papua Nugini dan Australia Utara. Paling penting juga, partisipasi dalam dialog dengan negara besar dalam issue besar: pemanasan global, restrukturisasi pasar energi, harga pangan dan penyakit global.

Guna mendapatkan presiden yang kita perlukan tersebut, kita semua harus menyadari bahwa presiden tersebut tidak dijatuhkan dari langit. Kita sebagai orang biasa yang menentukannya melalui sistem demokrasi bernama pemilihan presiden. Apalagi kini sistem pemilihan di Indonesia telah membuka ruang dan memberi hak pada semua orang untuk memilih presiden secara langsung Ini menjadi tantangan bagi kita untuk menunjukkan bahwa proses terbuka akan menghasilkan presiden yang kita perlukan

Sebagai pemilih, kita harus aktif agar terpilih presiden yang kita harapkan. Mulai sekarang kita harus mencari tahu dan berbagi kepada sesama mengenai jejak rekam setiap calon presiden yang sudah bertebaran di media massa. Jangan hanya menunggu saja. Karena itu kita dalam menggunakan haknya tersebut, termasuk bila memutuskan tidak memilih, harus berdasarkan pertimbangan secara matang dan mendengarkan hati nuraninya karena pilihannya bisa menentukan masa depan negeri ini.

Jadi jangan lagi sekadar memilih presiden hanya berdasarkan  kesamaan suku, agama, ras maupun golongan. Tapi lihatlah kompetensi yang diperlukan tadi. Presiden itu ibarat nahkoda. Kemahiran dan keandalan nahkoda menjadi penentu kapal  bisa mencapai pulau tujuan atau karam di tengah laut.

Print article only

81 Comments:

  1. From wadiyo on 07 July 2008 12:35:14 WIB
    hidup SBY?
  2. From nda on 07 July 2008 15:10:11 WIB
    Saya setuju dengan pendapat dan opini Om Wimar, Indonesia tidak perlu pemimpin atau presiden yang super hebat, tapi pemimpin atau presiden yang bisa memanfaatkan kekuatan masyarakat Indonesia, presiden yang bisa memfasilitasi berbagai dialog publik.

    Karena Indonesia itu negara yang sangat luas yang tiap provinsinya punya bahasa daerah sendiri yang berbeda dengan bahasa nasional kita (tentu pola pikir dan budayanya berbeda pula). Indonesia menurut saya bahkan jauh lebih majemuk dibanding Amerika Serikat (betul g?).

    Hanya pemimpin yang mampu memfasilitasi dialog dengan baik yang dapat menyatukan dengan sempurna keberagaman sekaligus kekuatan bangsa Indonesia ini. Jadi, pemilu 2009, kita pilih pemimpin kira-kira punya kriteria diatas ya, jangan salah pilih lagi. :D
  3. From R Muhammad Mihradi on 07 July 2008 15:46:02 WIB
    KITA BUTUH MALAIKAT,BUKAN PRESIDEN

    Bagi saya, Indonesia adalah kardus besar yang sudah penuh sesak dengan masalah. Kerusakan lingkungan, korupsi hingga akhlak. Prestasi kita melorot. Dulu kita membantu Vietnam, sekarang kita sudah meluncur dibawahnya. Bisa jadi, kita juga kesusul nantinya oleh Timor Leste.
    Dipikir-pikir, yang kita butuhkan bukan lagi Presiden, tapi malaikat. Malaikat itu ada dan dekat di sanubari orang yang menggunakan nurani serta moralitasnya yang seiring sejalan dengan akalnya. Jika hanya mengandalkan IQ tanpa EQ atau ESQ, maka konyol sudah. Sebab, kita tidak pernah kekurangan orang pintar. Kita hanya defisit parah orang yang bermoral.
    Jika hampir setengah penegak hukum dan trias politica kita korup--apa lagi yang mau dikatakan pada IQ?
    Entahlah....
    Pa Wimar, saya kangen pengen ngobrol-ngobrol seperti dulu, sehingga harapan dapat dilahirkan kembali---tanpa basa-basi.
    R Muhammad Mihradi
    Perspektif SCTV 17 Juni 1995
  4. From Bang Toyib on 07 July 2008 16:46:15 WIB
    GAk peduli berhasil atau kagak, yg penting pengennya sih semuanya murah dan mudah biar bisa hidup normal. Sekarang buat hidup normal aja susah kok. Susah bro.....kepala jadi kaki, kaki jadi kepala masih tetap aje susah buat cari makan. Ukuran suksesnya tuh apaan ??? Oke gue bilang sukses asal UMR setaraf Rp. 3.000.000,- (terbilang tiga juta rupiah saja, dibayar tunai per bulan) gimana hayo siapa berani ?
  5. From M Fahmi Aulia on 07 July 2008 21:36:37 WIB
    Bagi saya, SBY merupakan presiden yg tidak berani mengambil keputusan yg (lebih) memihak rakyat. Barangkali pengaruh JK, sebagai pebisnis, yg lebih menguntungkan pihak pemerintah dan (sekaligus memeras) dunia usaha ;-)
  6. From ivn on 08 July 2008 11:41:43 WIB
    jadi inget pas pemilihan presiden dulu waktu nenek saya mau nyoblos calon presiden yang wanita eh malah kecoblos calon yang kiyai...
  7. From rizky on 08 July 2008 15:49:08 WIB
    Dan jangan sampai juga kita mendiskreditkan seorang calon presiden hanya karena tampilan berbau agama, ras maupun golongan.

    Tapi lihatlah kompetensi yang diperlukan tadi. Presiden itu ibarat nahkoda. Kemahiran dan keandalan nahkoda menjadi penentu kapal bisa mencapai pulau tujuan atau karam di tengah laut
  8. From Novita Faturohman on 08 July 2008 16:04:44 WIB
    sayang dua pejabat yang tidak menghormati rakyat masih kuat dalam jabatannya (bad guys)???
    (menerka-nerka..)


  9. From paul on 08 July 2008 16:36:28 WIB
    SBY?...,cape deh...
    2009...., gak ah, mending yg laen aje.
    1 priode udah babak belur, plontang plentong,tersoak sowek...gedebrak gedebrong.. wualahhhhhh posing aku.
  10. From abah on 09 July 2008 16:28:38 WIB
    Bang, Emha ainun Nadjib, dukung dong jadi presiden ! LUAR BIASA tuh orang
  11. From msabir on 09 July 2008 19:31:45 WIB
    bang wimar saya setuju dengan komentarnya, dan saya tidak setuju nih kalau listrik mati terus... komentar saya pemerintahan sby-jk, dari militer-pengusaha, pada gak tegas dan bikin bangkrut negara. ini gila... negara kaya kan?
  12. From anggana bunawan on 10 July 2008 00:27:46 WIB
    presiden di masa mendatang memang mendapatkan tantangan.

    Kenaikan harga BBm di tahun 2008 menjadi pekerjaan tambahan besar bagi pemimpin selanjutnya dimana proses pemulihan daya beli, pendapatan, iklim investasi, ketahanan pangan, ketenaga kerjaan, dan sebagainya membutuhkan perhatian ekstra agar kondisi ekonomi dan politik yang stabil dapat diraih di masa kepemimpinan mendatang

    president di masa sekarang harus yang 100% indonesia, 100% kecintaannya kepada bangsa ini, president yang mau mengatakan "YA" mampu mengatakan "TIDAK" bukan president yang hanya mampu berpidato.

    SBY sejatinya sudah hampir memenuhi kriteria dasar president yang baik, hanya saja banyak faktor yang merusak nama besar beliau. entah mengapa sallah satu anaknya bisa bertemu jodoh yang membuat sebagai pemimpin nampak tidak tegas dengan komitmen "memberantas korupsi"

    di sisi lain dianggap sebagai pemimpin yang sudah tidak memiliki kewibawaan sebagai orang no.1 di negri ini. dihujat sana sini kok ya cuma diem. lawan dong dngan perbuatan yang konkrit.

    masa mendatang harus harus harus dan harus terpilih pemimpin yang bener-bener melek hati, melek pikiran, melek nurani, dan melek demokrasi.klo 2009 masih dapet muka lama yang kejadiaan adalah mgkn 50 taun lagi harus menunggu...

  13. From dee yan on 10 July 2008 00:55:59 WIB
    MAsih dukung SBY, memang dia masih di setir oleh pengusaha. Tapi disisi lainnya dia bagus, apalagi jika diberi 1 periode lagi, karna unutk beresin akar masalah di Indo yaitu Korupsi, maka butuh minimal 2 periode.
  14. From Ray Rizaldy on 10 July 2008 19:02:46 WIB
    Susah ya "SABAR" itu. Tiap hari minta melulu. Kok kayaknya bergantung terus sama pemerintah ya. Pemerintah2 itu memang harus berubah, harus lebih baik. Tapi kita juga harus. Ayolah gak usah main gontok2an. Terus pamer-pamer kebaikan. Mending mulai membantu negara kita secara kongkrit. Jangan sampai negara ini kolaps.

    Mulai dari yang kecil, jangan buang sampah sembarangan. *lhooo
  15. From Chandra on 10 July 2008 22:07:31 WIB
    Melempemnya SBY tidak ada kaitannya dengan JK. Memang sejak sebelum jadi presiden, orang udah pada kawatir nih orang tipe peragu. Maunya semua orang dirangkul,pingin jadi nice guy,tidak bikin musuh, jadinya tidak berbuat apa2. Jadi jangan tarik2 JK, kasian tuh dia.
  16. From utami on 11 July 2008 09:32:40 WIB
    Presiden SBY tidak mampu, tidak kapabel melakukan apapun. Terakhir beliau tak mampu mengundang investor dari Timur Tengah. Padahal beliau sdh tour kesana bulan lalu. Kalah khan sama TKI dan TKW? Dan beliau memanfaatkan moment pertemuan D8 untuk mengulangi hal itu lagi.
    Kegagalan Pak SBY sangat bejibun. Terakhir adalah krisis listrik. Siapa yang tidak kena? Semua kena! TApi beliau kelihatan santai dan tidak peduli!
    Negara kita memiliki sistem yang lemah. Kelemahan ini akan selalu memunculkan figur-figur yang bisa memanfaatkannya. Pak SBY dan orang-orang beliau tahu itu. Ketika KPK memburu koruptor di Senayan sebetulnya yang menang bukan sistemnya. Sebab borok koruptor di lembaga lain seperti DPR akan dimanfaatkan figur tertentu untuk meningkatkan citra. Termasuk figur seperti Pak SBY. Itulah ironisnya.
  17. From dwihar on 11 July 2008 10:41:45 WIB
    saya kurang setuju klo di sisi lain SBY dianggap sebagai pemimpin yang sudah tidak memiliki kewibawaan sebagai orang no.1 di negri ini.hanya krn dihujat sana sini cuma diem. ?

    Bagi sy justru SBY menunjukkan tipikal seorang pemimpin yg bijaksana, klo hanya utk memikirkan balas dendam terhadap hujatan orang, kapan mikirin negara nya? itu berarti beliau msh menunjukkan bahwa kepentingan negara adalah yg utama dibandingkan dgn hanya sekedar mengurusi org2 yg hanya bisa menghujat tanpa \" DO SOMETHING \".

    Untuk siapa yang pantas menjadi orang No.1 di negeri ini. Yg pasti Orang tersebut bukan hanya sekedar punya misi atau visi utk memajukan bangsa dan negara.!! pilihlah orang yg bukan hanya pinter berbicara akan misi dan visi , cari orang yg memang \" Telah dan sedang melakukan sesuatu buat negara \" . Get the right person for the right position

    Percuma Negara Maju dan dipuji dunia, klo masyarakatnya miskin , miskin harta, miskin pendidikan, miskin kesehatan , miskin moral dan miskin jiwa Nasionalisme. hanya gara2 kita memilih pemimpin yg hanya memikirkan visi dan misi memajukan negara, tanpa punya keinginan memajukan masyarakatnya. amien.... semoga bangsa ini bisa menjadi bangsa yg Baik,...
  18. From Rangga Aditya on 11 July 2008 18:15:20 WIB
    Megawati masih kepingin jadi presiden, Wiranto yg dulu gagal juga kepingin jadi presiden, sutiyoso udah gembar gembor kepingin jadi presiden, si aki gus dur roman-romannya kayaknya juga kepengen jadi presiden...
    Kalow gitu... Ogud pengen ah jadi Presiden. 100 hari pertama saya janji 100 koruptor digantung. Hehehe
  19. From adi prima on 11 July 2008 23:02:54 WIB
    Orang komentar tentang presiden A,B,C,D, gak akan pernah puas. Itu wajar, manusiawi, tapi kalo kerjanya mengeluh memaki tidak kapabel dan seneng gonta ganti presiden itu juga gak akan menghasilkan apa apa.

    Come on wake up! masih mau aja nih bangsa kita dimaen maenin ama politikus2 dadakan yang bisa nya cuma protes? kita terlalu mudah lupa, dan terlalu mudah terbuai dengan omongan orang

    Terserah deh mo pilih yang mana, asal jangan yang terlalu nyaring bunyinya, biasanya cuma tong kosong, yang gak berisi.

  20. From masadrians on 12 July 2008 07:15:57 WIB
    yang penting peduli ama rakyat deh...
  21. From Hendra on 12 July 2008 11:10:58 WIB
    Jika kita berharap mendapat pemimpin yg baik, maka diri pribadi kita dahulu yg mesti sekuat tenaga untuk menjadi baik.

    Bukankah Pemimpin itu cerminan dari rakyatnya?

    Semoga hal ini jadi renungan bersama..
  22. From Manji on 12 July 2008 11:18:53 WIB
    Dulu sering mengkritik Gus Dur, trus diangkat jadi Jubirnya Gusdur langsung Ho.oh aja, abis itu Bungkam.

    Sekarang mulai lagi kritik kritik presiden, tapi bisa ditebak .. paling-paling kalau ada yang kasih jabatan lagi langsung ho.oh lagi trus bungkam.

    Untuk yang kayak begini mah sebaiknya bungkam aja dari awal.
  23. From yu parmi on 12 July 2008 15:18:42 WIB
    nebak bad guy >> JK sama aburizal bakrie heee salah ga ya

    presiden RI harus kayak gajah mada (habis bca bukunya soalnya)tegas, keras, bahkan kalau perlu sedikit otoriter.
    la gimana lagi negara kita ini kan terdiri dari berbagai macam suku,agama dan kebudayaan yang kalau tidak dipimpin dengan tegas, rakyatnya jadi banyak maunya (banyak kepentingan)mikirin kepentingan sukunya,agamanya.tapi presiden RI juga harus punya latar belakang yang memihak rakyat...pokoknya seperti gajahmada lah yang melakukan sumpah palapa (klo bahasa jawanya laku prihatin)sehingga tahu persis penderitaan yg dirasakan rakyatnya.seperti juga nabi Muhammad SAW atau yang paling dekat ya presiden iran ahmadinejad...semoga nantinya presiden Ri seperti itu...mari kita doakan bersama2...amin.
  24. From fiona purnawan on 12 July 2008 16:51:12 WIB
    yang kita perlu untuk jadi presiden,ya orang biasa aja, yang masih ada napasnya,masih mau makan nasi,masih mau minum air tanah,bukan yang suka minum bensin dan makan lumpur bung wimar

    yang biasa biasa aja, asal baik,tenang,kalem,jujur,sayang sama kita kita rakyatNYA.

  25. From dmitri on 12 July 2008 20:52:15 WIB
    SBY perlu dianggap gagal. satu2nya alasan terbaik yang bisa dipakai pemilih untuk nyoblos SBY lagi, adalah kalau dia mengaku ke publik akan kesalahannya, dan menyatakan bahwa dia tau bagaimana memperbaikinya.

    kalau enggak begitu, perlu nyoblos yang lain. mending salah bergantian, daripada yang itu-itu juga tapi enggak tau salahnya sendiri dimana.
  26. From albertus on 12 July 2008 23:49:50 WIB
    Peraturan jadi presiden maksimum 2 kali juga harus dirubah sedikit, 2 kali itu termasuk kalau namanya sudah ikut pemilu. Biar tidak sembarangan orang main mencalonkan diri, dan ada regenerasi.

    Soalnya ntah kenapa kalau tidak sepertinya di Indonesia ini kebanyakan orangnya kekeuh. Kalau begini bisa-bisa jadi presiden Indonesia itu cuma ngantri.. daftar namanya udah ada, yang ada cuma makin panjang.

    2x SBY, 1x Mega, 2x Wiranto, ngantri deh ke belakang.. Udah kayak ke bank, tekan nomor tinggal tunggu panggilan.
  27. From Ludjana on 13 July 2008 08:51:55 WIB
    Pilihannya hanya: SBY-Kalla atau SBY-bukan Kalla.
    Bagaimanapun saya masih akan memilih SBY, tetapi kalau dia tidak berpartner dengan Kalla.

    Kesan yang diberikan pemerintahan SBY kepada kita adalah ketidak mampuan. Tetapi kalau dilihat (seperti ditulis oleh WW) ada beberapa hal yang merupakan pertama kali dilaksanakan/dialami oleh Preiden Republik Indonesia: terutama dia dipilih rakyat dan –keduanya- berhenti karena masa karya nya sudah selesai (kecuali kalau dia “dijatuhkan” sebelum Pilpres yad). Yang keduanya merupakan kemajuan.

    Kita lihat siapa calon lain yang sampai sekarang disebut sebut ? Megawati, Wiranto ,Sutioso, Jusuf Kalla dll. Atau yang kelihatannya berambisi (seperti ketua PAN yang saya tak hafal hafal namanya).
    Apakah diantara mereka itu ada yang lebih layak dipilih daripada SBY ?
    Menurut saya tidak ada.

    Marilah kita tengok hasil pemerintahan SBY sampai sekarang, dimana positifnya dan dimana negatifnya, tentu dengan membandingkan dengan sebelumnya.

    Yang negatif ?
    Yang jelas menjengkelkan dari keadaan (dan tindakan) anggota pemerontahan SBY adalah tindakan sehari hari. Tidak ada hari berlalu tanpa berita negatif di koran mana saja. Tentu sebagian sebab dari berita berita negatif ini disebabkan oleh sesuatu yang kita inginkan: kebebasan pers. Dan pers nya sedang mampang mungpung menikmati kebebasan yang baru dinikmati.
    Berita yang baik mengenai “pribadi” SBY sangat sedikit, paling paling mengenai dia mengarang lagu.

    Sekarang apa yang positif ?
    Kata ahli ahli keadaan ekonomi “makro” membaik (sekarang lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari kini). Meskipun hati hatilah kita untuk percaya, katanya rakyat makin miskin (?). Jangan lupa bahwa keadaan sekarang adalah warisan dari masa lalu. Listrik, BBM dll dll

    Tindakan anti korupsi mulai terasa. (meskipun yang korupsi barangkali tidak -atau belum- berkurang. Yang sinis tentu mengatakan bahwa masih tebang pilih. Saya tidak kebayang kalau tidak ada “tebang pilih”. Yang korupsinya saja makin banyak, malahan sekarang dilaksanakan oleh manusia manusia yang megang jabatan executive, legislatif maupun judikatif. Barangkali saja sekarang mereka mulai takut.

    Sebetulnya apa yang bisa dianggap tanggung jawab dan kelemahan SBY ?
    Barangkali keenggannya untuk melaksanakan perubahan (Sebaliknya dari Obama yang bilang “we want change”). Lihat saja yang pernah dicoba oleh Abdurahman Wahid untuk lebih berdemokrasi dalam tata cara, dirubah lagi oleh SBY lebih menghendaki tata cara Megawati yang menurut WW diatas yang “ nyaman memakai atribut protokol feodal”.

    Sehingga sekarang terjadi hidupnya kembali Orde Beru” yang pimpinannya lebih jujur (?).

    Disamping itu (atau karena itu) , dia lebih senang damai. Karena itu dia lebih dekat kepada orang orang yang kita sangsikan loyalitasnya daripada kepada teman teman “sejatinya” yang terus disimpan di garis belakang (karena mereka toh akan tetap loyal kepada Indonesia. Salah satu contoh adalah “kebaikan” dia terhadap Yusril.
    Contoh paling menonjol adalah didukungnya Kalla dan Aburizal Bakrie yang jelas menggunakan kedudukannya di pemerintah untuk memajukan usaha pribadinya.

    Kami perkirakan memang SBY perlu “dana strategis”, tetapi kenapa yang dipakai Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie ? Yang sudah dikenal vested interestnya ? Kan banyak orang kaya lain, malahan banyak yang mendapatkan kekayaannya tanpa dibantu fasilitas dari pemerintah.

    Jadi kesimpulan saya: saya akan milih SBY kalau cawapres orang baik.
    Bagaimana kalau SMY tetap maju dengan JK. Jawaban saya pada sa’at ini.

    “Frankly, I don’t know”.
  28. From amigo on 14 July 2008 00:57:43 WIB
    BBM? Benar-Benar Menjatuhkan?. Kik...kikkk...kiiik my butt.
    Apakah Presiden terpilih 2009 dan seterusnya memiliki Resep Mujarab bila BBM international naik terus?
    Seandainya setelah Pemilu 2009, harga BBM international turun drastis apakah dapat disebut itu Keberhasilan Pemerintah / Presiden pada masa itu? ataukah hanya KEBETULAN saja? The Luckiest Person in The Right Time?

    Don't be naive. Semua pihak / partai "menyembunyikan" resep mujarab itu, terlepas mereka tahu atau tidak akan resep itu.

    APBN itu hanya dua point penting: mensejahterakan Indonesia atau Dunia / kreditor. Utang yang ada memang harus dibayar. Siapa nyana negara gemah ripah masih harus berhutang. Dan yang lebih bodoh adalah ketika kekayaan negara dilego dengan harga murah. Periksa semua kontrak dan kerjasama, mana yang paling menguntungkan dan mana yang paling merugikan.

    Masalah kesejahteraan, apakah menjamin UMR Rp10.000.000,- harga kerupuk kulit masih tetap Rp500,- sepotong. Nah kalau rupiah 1.000,- per dollar. Mungkin semangkuk bakso dapat Rp150,- kembali.

    Kecuali jadi negara komunis (bukan atheis lho), semua disediain negara, manula diberi tunjangan, tetapi yang berkemampuan lebih harus dibatasi agar dapat menunjang yang lemah, pastilah semua murah.

    We don't need a president, a parlemen, a tetek bengek yang laen, just we need PEOPLE yang tahu mana yang menguntungkan rakyat mana yang menguntungkan diri sendiri dan orang lain.
  29. From dadang on 14 July 2008 09:26:07 WIB
    menurut saya, secara umum pemerintahan SBY sudah bagus.. stabilitas aceh, papua, pemberantasan korupsi, penegakan hukum,.. lumayan bagus lah,.. kasih nilai 8.
    tapi sayang, negara yang mayoritas penduduknya muslim justru kondisi sosial budayanya memojokkan umat muslim dengan dalih "terorisme, aliran sesat, dsb".. dan yang lebih memprihatinkan, dalam insiden UNAS, SBY sama sekali tidak mau "urun rembug" padahal penyerangan itu mencoreng citra institusi pendidikan tertinggi (universitas) dan polisi. sedangkan dalam kasus monas, keesokan harinya SBY sudah "koar-koar" di media dengan statementnya. dan anehnya lagi, tidak ada pejabat atau media yang mengeluarkan pendapat bahwa Tibo cs adalah gerombolan teroris. padahal jelas2 mereka melakukan teror dari kampung ke kampung. apakah kata "teroris" hanya diperuntukkan bagi umat islam?? dengan semua kejadian ini saya jadi teringat isu pilpres 2004 bahwa SBY adalah antek2 amerika melalui jaringan CIA yang ada di Indonesia. tapi apapun adanya hanya Allah yang tahu dan semoga Allah menguatkan iman kita dengan semua cobaan ini. sebelumnya saya mohon maaf kepada pak SBY atas prasangka yang tidak baik ini.. semoga ini hanya sekedar prasangka, bukan kenyataan yang sebenarnya, dan anda bisa memaafkan saya sehingga Allah mau mengampuni dosa saya. kalaupun semua ini benar sesungguhnya kebenaran hanya ada di sisi Allah SWT..
  30. From Leo Alexander on 14 July 2008 17:07:29 WIB
    Kalau Menurut saya, kita membutuhkan presiden yang :

    1. Perintisannya dari Bawah, artinya dia naik menjadi
    presiden sdh merasakan dunia nyata bangsa Indonesia. Jadi ]
    bukan hanya teori doang

    2. Masa lalunya bukan dari para pejabat atau anak pejabat,
    karena saya yakin dan percaya pohon tidak jauh dari
    buahnya.

    3. Bertindak tegas dan sedikit otoriter. Maaf melihat
    kondisi bangsa seperti ini diperlukan seorang yang
    otoriter karena bangsa ini sudah kebablasan.

    4. Mempunyai wawasan yang tinggi dan pola pikir yang
    tinggi, tidak seperti para calon sekarang pola pikir dan
    wawasannya sempit.

    5. Rela berkorban kepada rakyat indonesia.

    6. Mengharagai dan mengakui Pluralitas.

    7. Bekerja tanpa memandang SARA. maaf kalau point ini agak
    keras. karena bangsa ini mundur kebelakang dalam hal
    berpikir, bahkan ada yang kepingin kembali ke zaman batu.
  31. From wak tul on 14 July 2008 18:22:05 WIB
    ya udah....


    WW aja yg jadi presiden :-D
  32. From anto on 15 July 2008 13:53:00 WIB
    SBY / JK aja dah....
  33. From nowhereman on 15 July 2008 14:06:57 WIB
    kata kunci kali ini a good landing sbg sebuah prestasi buat pemerintahan Indonesia, tapi juga bisa warning dr org biasa, skrg tinggal bgmn SBY melihat warning ini, memilih melihat kritik ini spt rambu lalu lintas utk berhati2 dan membuat penyesuaian pada kendaraannya atau menerka kalo ada udang dalam setiap batu kritikan dr org biasa, semua diserahkan SBY.....

    saran saya dlm pendaratan yg baik tetap diperlukan koordinasi yg baik dgn team mate-nya dan juga para kru
    pesawat.

    kesan saya: it's a good journey captain!, and I thank you for this trip, I forgive you for every unpleasant situation we've faced together up there. and it's time to prepare a happy landing. thanks once again captain!...


    If I have a chance to flight again with you again, it's a God's Will

  34. From cakdul on 15 July 2008 16:46:29 WIB
    SETUJU SEKALI LAGI SETUJU.

    kita semua sebagai rakyat indonesia harus sudah bisa berpikir secara dewasa dan bijak. bahwa setiap pemilihan presiden kita harus cermat dan cerdas memperoleh histori seseorang apakah mereka mumpuni menjadi pemimpin yang bisa mengayomi semua element masyarakat serta jujur dan amanah dalam "masa jabatannya".
    salam damai
    cakdul
    warungkopicakdul.blogspot.com
  35. From D2MQ on 17 July 2008 11:05:59 WIB
    Kalau di ingat-ingat.... di renung-renung...... di pikir-pikir....
    Kayaknya B.J. Habibie memiliki kemampuan untuk (paling tidak) membuat bangsa ini berada dalam posisi datar lagi aja dulu deh... sehingga pondasi Indonesia terbangun lagi, dan kalau mau nerusin, silahkan kaum kawula muda maju...
    www.blogfaikao.wordpress.com
  36. From alfrizzy on 17 July 2008 12:44:49 WIB
    Sebaik apapun kebijakan pemerintahan SBY tidak pernah berjalan dgn baik karena pembantu2nya yg dari parpol lain menjalankan kebijakan tsb dgn buruk,saya justru kasihan melihat SBY dikerjai bawahannya tapi disisi lain saya merasa dirugikan oleh pemerintahan ini.Seandainya saja ada komitmen PKS untuk tidak memberi angin ormas2 kampungan macam fpi dll,saya akan coba pilih Presiden dari PKS...naif ya..saya ini
  37. From kampus on 17 July 2008 13:10:16 WIB
    Bang, Emha ainun Nadjib, dukung dong jadi presiden ! LUAR BIASA tuh orang

    www.gnckampus.com
  38. From Nenyok on 18 July 2008 02:06:03 WIB
    Salam
    Indonesia butuh pemimpin yang membumi, yang memihak kepentingan rakyat, bukannya jadi garda depan antek barat.
  39. From Yedi Chrisnandhi on 18 July 2008 13:01:21 WIB
    Setuju ama D2MQ!!!
    Yang babat dolar dari 15.000 jadi 6.000 dalam waktu 1 tahun BJ habibi kan?
  40. From hendry on 19 July 2008 02:40:11 WIB
    honestly, merindukan presiden dengan pemikiran sekaliber GUSDUR, mudah-mudahan muncul figur presiden baru sekaliber GUSDUR , kalo nggak ada ? ya GOLPUT deh...
  41. From ltl john on 19 July 2008 10:29:49 WIB
    Memiliki semangat dan konsep berfikir dan bertindak sesuai dengan visi misi dan cita cita KEMERDEKAAN INDONESIA sebagaimana termaktub dalam amanat proklamasi yaitu dijabarkan pada preambule UUD 45 alinea ke 4.

    Memiliki fantasi dan keberanian akan KEINDONESIAAN yang melampaui batasan ruang dan waktu sebagaimana keyakinan keyakinan yang ada pada kesadaran mulai dari era Pangeran Sabrang Lor yang menyerang Portugis di Tumasek sampai pada era Yos Soedarso dalam merebut kembali Irian Barat dari penguasaan Belanda.

    Memiliki harapan agar bisa mati dalam upaya dan usaha memperjuangkan visi misi cita cita fantasi keberanian tadi sebagai perwujudan rasa cinta pada INDONESIA dengan goresan di batu nisan nya sebagai PAHLAWAN TIDAK DIKENAL.
  42. From Teddhy on 19 July 2008 16:05:23 WIB
    Benar seperti yang dikatakan bang Wimar. Ga usah Presiden yang hebat. Tapi yang terpenting adalah carilah Presiden yang didukung oleh semua elemen bangsa Indonesia. Sebab tanpa adanya dukungan maka tidak akan pernah ada presiden yang dapat membangkitkan bangsa Indonesia. Ayo kita dukung presiden yang terpilih tp sambil kita berikan masukan dan kritikan supaya presiden yang terpilih tidak melenceng.
  43. From Isye on 20 July 2008 10:48:32 WIB
    Presiden Indonesia ???????

    saya kok jadi cenderung apatis utk mikirin siapan presiden indonesia tahun 2009. Gimana gak apatis partai aja 34 apa itu bukan suatu pencerminan semua orang indonesia seneng \"mencari keuntungan dalam proses kebetulan dan mumpung\" heheheh mumpung pemilu neh buat partai kan dapat duit....... negara maju seperti Amerika aja partainya 2..........hohohoh Indonesia 34 booooooo jadi bingung milihnya. DImana soal multiple choice pilihan terbatas tapi mikirnya sampai botak, eh ini 34 partai gimana gak stress and akhirnya \"emang gue pikirin alias apatis dan ujungnya gol pot\" ..........

    Kebayang ada calon presiden 34...... busyet aja tayangan TV bisa penuh dengan manusia2 \"mumpung ini\"

    Katanya \"orang muda\" sudah saatnya memimpin..... tapi kok orang muda yg sering tampil dimedia jg aura nya koruptor heheheheh udah deh mending \"jadi presiden utk diri sendiri deh\" heheheh Muda tua sama aja koruptor.......
  44. From fadil on 20 July 2008 13:16:20 WIB
    KIta butuh presiden yang BERANI ngambil keputusan yang BENAR dengan CEPAT dan CERMAT. Saya setuju sama Chandra #15 kalo SBY emang tipe orang peragu, maunya semua orang dirangkul, pengen jadi nice guy, tidak bikin musuh, jadinya tidak berbuat apa2. Akhirnya sekarang banyak masalah yang terkatung2 gak selesai2 sampe rakyat akhirnya lupa karena udah ada masalah yang baru lagi.
    Gak usah mimpi 1USD bisa turun jadi Rp6000an lagi, karena itu juga akan ngeganggu ekspor kita ke LN, ato UMR yang berjuta2 karena kita masih sangat butuh investor yang bisa ngebuka lapangan kerja buat para pengangguran yang udah meningkat terus.
    Abdurrahman Wahid gagal ngewujudin perdamaian di Aceh, dan relatif baru tercapai di zaman SBY ini, itu juga setelah ngasih konsesi dan keuntungan2 yang banyak banget buat GAM, jadi \"perdamaian\" di Aceh bukanlah sebuah keberhasilan bagi SBY.
    Pemberantasan korupsi juga gak konsisten, karena cuma tergantung sama \"keberanian\" KPK. Selain itu SBY juga gak punya komitmen kuat, terutama karena kedekatannya dengan pengusaha2 hitam, dan keraguan tentang \"kesucian\" kekayaan pribadi SBY sendiri, masak pensiunan tentara bisa sampe punya Istana Cikeas begitu?
    Jadi bagi saya, SBY sudah cukup mendapat kesempatan, dan ternyata gak ada hasilnya. Semoga tahun depan ada calon presiden dari kaum muda yang bener2 baru, tapi udah punya rekam jejak dan kredibilitas yang bersih dan bagus.
    Semoga..
  45. From David on 20 July 2008 17:03:28 WIB
    Bangsa Indonesia sekarang butuh sosok pemimpin yang peduli dengan nasib rakyatnya, tegas dalam sikap (Apalagi sikap terhadap kaum-kaum kapitalis).

    Ya.... Klo di ambil contoh, seperti Bapak M. Ahmadinejad, Evo Morales, Hugo Chavez, Mahatma Gandhi. Yang berani mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat dan tegas dengan Amerika.
  46. From jelitar on 20 July 2008 21:59:24 WIB
    Jabatan president dinegeri ini adalah pelengkap penderita. Dia dipilih langsung oleh rakyat tapi tidak punya kekuatan apapun untuk memimpin barisan nasional. Sesuai semangat reformasi, ada regulasi yang sudah disyahkan dan menjadi system ketata negaraan kita " President tidak berhak menentukan APBN, tidak berhak mengangkat hakim, tidak berhak menentukan Gubernuh BI, tidak berhak menentukan Panglima ABRI, Tidak berhak angkat gubernur atau bupati. Tidak berhak menentukan direksi BUMN. Tidak berhak menentukan POLRI. Tidak berhak angkat DUBES. Tidak berhak memilih BPK, MK, KPK, Dan demi menjaga stabilitas kabinet maka presidentpun harus berkompromi degan partai atas hak prerogatifnya untuk menentukan menteri" jadi kalau semua hak sudah tidak ada lagi pada president maka apa yang mau dinilai kinerjanya ? Kemiskinan , tidak terbangunnya infrastucture, kenaikan BBM, dll terjadi karena memang kondisi APBN dibuat seperti itu. Ketidak adilan terjadi karena memang HAKIM dibuat seperti itu. Siapakah yang patut dipersalahkan ?

    Saya akan memberikan analogi seperti ini. Anda sebagai president direktur perusahaan. Hak memilih Direktur Keuangan ada pada Dewan komisaris, Hak memilih auditor ada pada Dewan komisaris, hak mengangkat kepala cabang ada pada pemegang saham, hak mengangkat satpam ada pasa komisaris. Hak menentukan anggaran ada pada Dewanm Komisaris dan terakhir untuk memilih menejerpun anda harus kompromi dengan wakil pemegang saham agar kepemimpinan anda aman. Nah gimana nasip anda sebagai president direktur ? jawabannya adalah karena saya boneka bermesin.

    Dalam system ini jelas sekali bahwa jabatan president adalah pigure yang ditakdirkan untuk jadi pecundang oleh para elite politik. Jadi kalau ada yang berniat untuk jadi president maka harus dipertanyakan niatnya ? Kok mau jadi pecundang ???? Ingat sumpahnya ..akan melaksanakan UUD , UU dan Peraturan dengan sesungguh sungguhnya...
  47. From MSanthom on 21 July 2008 19:55:26 WIB
    Buat saya sekarang in yang nggak bener yah sistem kepartaiannya, gimana presiden kerjanya bisa bener kalau terus menerus bimbang karena tarik ulur pelobi parpol pendukungnya. Lebih baik, mari bersama-sama kita ganti sistem kepartaian Indonesia, cukup dua atau tiga partai aja dan tidak boleh ada koalisi karena ujung-ujungnya pasti duit.
  48. From Fathin on 22 July 2008 10:39:45 WIB
    Hmm, aku nggak setuju kalo ngejudge negatif SBY, cuma karena kebijakannya menaikan harga BBM, menurutku, siapapun presidennya, pasti akan menggunakan langkah yang sama. Rada sebel juga melihat calon presiden (yang dulu pernah jadi presiden) koar-koar menjatuhkan SBY karena hal ini, menurutku SBY jauh lebih baik darinya.

    SBY memang ada celanya, bisa jadi dikatakan buruk dll, cuma dibandingkan dengan calon-calon yang lain... aku pikir SBY masih jauh lebih baik (setidaknya dari sudut pandang org awam semacam aku)..

    entah jika nanti ada tokoh baru yang benar-benar meyakinkan... nggak MKK (modal koar-koar) doang... yang memiliki mental baja dan keseriusan mencalonkan diri tanpa harus menjatuhkan lawan...
  49. From |richard.p.s| on 22 July 2008 16:29:28 WIB
    richard vote Wimar Witoelar-Faisal basri, or Faisal Basri-Wimar Witoelar! Gus Dur Ketua MPR nya, Fadjroel Rachman Ketua DPR nya. Antasari Jasa Agungnya. Polisinya tambah konsep Pecalang ala Bali (hi hi hi tapi bukan model satgas-satgas binaan ya).

    he he he ... sotoy banget ya gua .... *tapi dari hati nih*




  50. From Berlin Simarmata on 25 July 2008 13:29:04 WIB
    SBY mungkin sudah capek senyum,toh tidak ada perbaikan.
    JK juga sudah capek bisnisnya,rakyat sama saja.
    Istirahat saja,yang pasti dapat rumah dan tercatat dalam sejarah RI.Kasih kesempatan yang lain,siapa tau lebih baik,kalau lebih jelek,nasib bangsa inilah itu.Mari kita pergunakan hak pilih,jangan golput ah,tidak baik itu.OK,Ya.
  51. From frans on 26 July 2008 15:51:04 WIB
    bagaimana dengan tokoh2 daerah seperti gubernur daerah ku sumatera barat : gamawan fauzi atao gub gorontalo: fadel muhamad??
    keduanya memang belum terlalu terkenal secara nasional terutama bagi org DKI, tp py prestasi yang membanggakan daerah yang dipimpinnya lo.

    oom wimar is still my wapres 2009..
    kalo onno w purbo menkominfonya... siapa selanjutnya??? hihihi
  52. From rofi on 26 July 2008 21:12:06 WIB
    WADUHHHHHHH G NYANGKA NIH BISA KETEMU FORUM NYA PAK WIMAR.. ikut nimbrung neh..
    klo mengenai presiden... hhmm.... belum ada pilihan yg mendekati apa yg kita harapkan pak, paling tidak ada sedikit karya dan prestasi beliau.. di antara yg muncul ini skrg.. g satupun yg bikin selera makan naik mas.. hehehe.. kebanyakan karbitan mulu.. mulai dari iklan di TV, karna pencitraan, pokoknya rekayasa yg tidak sholeh.. hehehe... tau kapan ada pemimpin itu >>> from www.rofie.co.cc
  53. From Msanthom on 30 July 2008 12:22:02 WIB
    Saya nggak peduli siapa presidennya, mau tua boleh, muda juga boleh asalkan beliau memenuhi syarat sbb:
    1.Menghormati kebhinekaan Indonesia
    2.Menjunjung tinggi Pancasila
    3.Bijaksana dan sabar
    4.Memelopori dan menerapkan meritokrasi dalam birokrasi maupun pendidikan
    5.Memberikan subsidi bagi pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi rakyat miskin
    6.Berani membubarkan DPR, bila DPRnya kualitasnya seperti sekarang
    7.Berani membubarkan organisasi-organisasi mafia berkedok apapun apalagi yang berbau SARA
    8.Berani mengubah sistem kepartaian Indonesia yang sangat ngawur dengan multi partainya
    9.Berani mundur bila performancenya jelek
  54. From Roni on 01 August 2008 18:16:50 WIB
    klo saya maunya sich presiden yang bisa \"marah\",jangan hanya senyam-senyum aja..sperti gak ada masalah

    kalau melihat yang sekarang ini, pemerintah itu sperti TP2 alias tebar pesona...
    apa ndak bisa melihat realiata....gimana ancurnya sekarang indonesia ini..

    saya sangat setuju dengan persfektif pak Wimar ini...
    saatnya kita memilih yang betul2 memiliki kompetensi seperti yang diutarakan Pak Wimar diatas


  55. From Eko on 02 August 2008 13:34:10 WIB
    Yang membuat saya seringkali ngerasa enek adalah sikap dari para politis tua yang notabene tidak lagi dikehendaki oleh rakyat dan telah secara legitimate membuktikan bahwa mereka gagal tetapi dengan penuh percaya diri dan tanpa rasa malu masih 'ngotot' untuk kembali bermain dimuara kekuasaan dengan berbagai cara, iklan dan jargon - jargon yang sudah basi, kalau toh tidak demikian mereka akan sangat kritis dengan segala kebijakan dan apapun yang dilakukan oleh pemerintah yang sedang bertugas (baca; berkuasa)

    Sampai kapan permainan politik yang sedemikian ini akan berlanjut? sementara bangsa lain sudah mengalihkan agenda kebangsaan mereka dan kita masih berkiutat dikubangan yang sama...

    Siapapun presidennya dan apapun kebijakkannya seharusnya semua orang mendukung, kan tujuannya tetap sama untuk kejayaan bangsa, tapi................... apa iya begitu agenda sebenarnya atau...... ?!

    Pusing deh :-)
  56. From robby,sh on 03 August 2008 00:45:40 WIB
    presiden yg bisa mengalokasikan lokasi perjudian minimal satu di stiap pulau yg ada di Indonesia.. (contoh 1 di pulau sumatera , 1 di pulau jawa , 1 di pulau kalimantan , 1 di pulau sulawesi , 1 di papua , dll )
    shingga pendapatan negara pun bertambah..

  57. From Jets on 03 August 2008 20:03:19 WIB
    Sementara ini memang Presiden SBY "masih normal", lha wong beliau menjabat masih dalam satu periode aja kok (cuman 5 tahun). Kalau seandainya beliau menjadi presiden hingga berpuluh-puluh tahun, mungkin nasib akhirnya pun akan sama pula dengan presiden2 lain yang turun secara "tidak normal" alias dipaksa lengser.

    Di luar dari semua itu, sosok presiden yang diperlukan oleh negri ini sebaiknya merupakan sosok yang jujur, bersih, cerdas, berpandangan jauh ke depan, serta juga mengerti dan peduli dengan bangsa yang akan dipimpinnya itu. Kira-kira siapa yah?

    Salam,
    http://private-jets-charter.blogspot.com/
  58. From Yose Rizal on 06 August 2008 08:26:54 WIB
    Presiden atau pemimpin suatu bangsa, bagi saya juga mencerminkan "watak politic" masyarakatnya.... buktinya?...lihat saja sistem rekruitmen politic kepartaian..baik untuk kepemimpinan nasional maupun parlemen....kita semua adalah bangsa yang berada didalam kodisi gagal membangun "character nation".......
  59. From drajat on 08 August 2008 17:00:47 WIB
    Salut buat bang Wimar, mengenai Capres 2009, saya baca tulisan Budi Praptono dengan Judul : Menyoal titel PhD Bagi capres 2009,di www.opinimasyarakat.com,sepertinya bisa nambah-nambah pemikiran. Saya asih terngiang kuliahnya Alm. Prof Andi hakim Nasoetion, mengutip dari G B Shaw, beliau berkata : Kalau ada satu buah durian, lalu durian tersebut ditukar maka akan tetap menjadi satu buah durian, tapi kalau ada satu buah pemikiran lalu ditukar dengan satu buah pemikiran lagi maka akan menjadi dua buah pemikiran. Wass
  60. From robbie margostyo on 14 August 2008 12:14:11 WIB
    Presiden yang kita perlukan adalah seorang pemimpin yang memegang teguh pancasila dan adil dalam memerintah, tidak diskriminatif terhadap SARA. Siapapun boleh jadi presiden baik golongan muda maupun tua asalkan dia berkompeten.
  61. From PrimaryDrive on 15 August 2008 19:01:18 WIB
    Wimar mengatakan: "Jadi jangan lagi sekadar memilih presiden hanya berdasarkan kesamaan suku, agama, ras maupun golongan..."

    Betul sekali. Mereka yg melakukan ini ikut bertanggung jawab atas penenggelaman negara!

    Sri Mulyani ranya adalah kandidat terbaik yg kita miliki pada saat ini. Sayangnya ybs tidak mencalonkan diri. Tapi mungkin kalau masyarakat mau menunjukan dukungannya? Paling tidak bis sebagai bahan pertimbangan untuk tahun 2014.
  62. From widhi on 19 August 2008 07:51:24 WIB
    ya...
    jujur secara saya adalah termasuk salah satu pemudi penerus bangsa, pastilah punya harapan yang besar terhadap presiden yang akan menjabat nanti.
    permasalahannya disini ada beberapa mantan presiden yang sudah banyak orang ketahui tidak bagus dalam pemerintahannya dulu, mencalinkan diri kembali..

    kenapa penerus yang lain tidak diberi kesempatan?

    klo tahun depan umur saya genap 17 insya ALLAH saya akan mendukung pak SBY, karena sebelumnya menerut saya dia adalah presiden yang bersih dari presiden2 sblmnya.
    aslakan tidak dipasangkan kembali dengan pak JK sang pengusaha itu..

    karena pak Jk yang terhormat itu hanya mementingkan keuntungan para pengusaha saja.itu menurut saya lho...

    sebelumnya minta maaf ya bwat para presiden...
  63. From Alanda on 20 August 2008 18:36:16 WIB
    Tapi kok salah satu calon presidennya Barack Obama wannabe ya? Hihi :p
  64. From Rini on 22 August 2008 16:11:34 WIB
    Aku akan milih presiden yang bisa menaikkan pendapatan perkapita, contohnya fadel muhammad, beliau bisa meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat gorontalo
  65. From Mohammad Agus Sakti Pamungkas on 26 August 2008 10:03:07 WIB
    DH,
    Bagaimana kalau saya mencalonkan diri menjadi Presiden Ri dari capres perseorangan.
    Untuk membucka wacana bangsa.
    Tq
  66. From Bientono Soedjito on 27 August 2008 00:36:06 WIB
    Wah wah wah ternyata masalah pemilihan presiden menjadi primadona sehingga memberikan jumlah komentator yang terbesar .... 65 ditambah lagi 1 dari saya ha ha

    Mau ikutan milih gak ada yang smak, mau gak milih nanti keenakan yang terpilih yang punya duit dari partai yang besar sehingga bisa menggalang dukungan padahal gak becus alias memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk memperkuat dan memperkaya golongan atau sekutunya yang telah memberikan bantuan materi guna memuluskan usahanya menjadi presiden. Jadi enaknya gimana ini bung Wimar, apa anda saja yang jadi presiden tapi sayangnya udah ketuaan nanti yang tua2 pada iri. Nah supaya gak ada yang saling iri saya sarankan untuk ngebon aja seorang pemimpin dari luar yang sudah kondang seperti mantan2 presiden amerika yang jago2. Kan orang kita senengnya kalau dipimpin orang asing. Buktinya orang indonesia yang pinter2 senengnya kerja di perusahaan asing karena merasa dipimpin oleh seorang yang memiliki kualitas managerial yang tinggi dan gajinya cukup besar. So apa bedanya kita kerja di perusahaan asing dengan kalau kita dipimpin oleh orang asing tapi bisa memberikan kehidupan dan kesejahteraan yang layak kepada rakyat indonesia. Di pimpin bangsa sendiri tambah sengsara bahkan kita sering merasakan tidak dihargai kemampuan kita bahkan lebih dijajah dari pada dijajah oleh bangsa lain.
    Yah itu sekadar omong kosong aja abis udah gak tahu lagi mau gimana menghadapi orang2 yang senangnya mencalonkan diri menjadi pemimpin tapi sebetulnya gak becus jadi pemimpin.
    Memang banyak orang2 indonesia yang pinter2 tapi nanti kalau sudah gilirannya jadi kepala selalu lupa diri dan gak tahan ngelihat uang, maunya dimakan aja.
  67. From Dora Iskanada on 28 August 2008 09:55:19 WIB
    Presiden yg punya visi & misi kuat untuk membangun Indonesia menjadi superpower bahari sperti dahulu Majapahit dan Sriwijaya.
    1. Nelayan makmur
    2. Potensi bahari terkelola maksimal
    3. Ekspor andalan adalah ikan dan udang laut
    4. TNI AL punya kapal tempur 2000 unit, kapal selam 10 unit, dan pesawat tempur 50 skuadron, dgn jumlah personil marinir minimal 1 juta orang.

    (MIMPI kali yeeee...)
  68. From HAYAT ZAINUNI on 01 September 2008 15:07:17 WIB
    Tahun pertama sibuk konsolidasi dengan partai pendukung yang juga berharap kadernya diakomodir untuk duduk di eksekutif

    Tahun Kedua : konsolidasi intensif dgn para menteri dari partai dan kunjungan ke daerah yang luasnya na'uzubillah ini.

    Tahun ketiga : Mulai menyusun program dengan mengakomodir kepentingan-kepentingan yang ada.

    tahun keempat mulai melaksanakan program-program secara nyata dengan hambatan utama kepentingan pribadi dan golongan diantara pejabat yang ada.

    Masuk pertengahan tahu keempat mulai konsolidasi buat calon presiden berikutnya.

    SO HANYA SETENGAH TAHUN SAJA PRESIDEN KITA BEKERJA DENGAN BENAR.

    Untuk itu rasanya beri kesempatan sekali ini saja buat SBY unuk melakukan kerjanya selama empat tahun, dan nampaknya akan jauh lebih efektif. Pada diri SBY nampaknya ada titisan aura SUKARNO DAN SUHARTO dua orang presiden yang secara nyata dapat dirasakan manfaat eksistensi pada zamannya.

    Tinggal cari wakilnya yang muda dan revolusioner serta SMART tentunya... banyaklah itu. DISANA ADA (YUSRIL, JIMLY, HELMY YAHYA, MALARANGENG, SRI MULYANI, FADEL MUHAMMAD DLL)

    BEGITU MENJADI PEJABAT PUBLIK MAKA LEPAS SEMUA BAJU DAN BAU PARTAINYA SERTA GOLONGANNYA DEMI BANGSA DAN NEGARA SERTA KEMAKMURAN RAKYAT SEMESTA INDONESIA RAYA
  69. From Silvia (Chiphie) on 05 September 2008 13:02:32 WIB
    Presiden yang bisa memberantas korupsi seperti di RRC, yang bisa punya menteri yang bener-bener kerja membantu Presiden untuk kepentingan rakyat, bukan menteri yang harusnya mensejahterakan rakyat, malah menyengsarakan rakyatnya di sidoarjo (kebayang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan dan anak-anak yang masa depannya jadi ga jelas) dan yang penting bisa menaikkan taraf hidup rakyatnya.

    ngerti sih sekrang yang terjadi ini ada yang sisa-sisa peninggaln rezim sebelumnya, tapi ya jangan berarti diem aja dan ga berbuat sesuatu memperbaikinya.
    Secara keseluruhan..SBY ga jelek-jelek amat sih..cuma suka keliatan lemot karena ragu-ragunya itu. Selama SBY, lumayan juga tuw banyak yang ketangkep yang korupsi-korupsi.

    Tapi kelanjutannya gimana ya ? Maksudku, duit-duit hasil korupsi yang disita itu ditaruh kemana dan dipergunakan untuk rakyat lagi ga sih ? kasian kita nih rakyat kecil...karena korupsi yang kelas high class makin high class, yang lower class mau makan aja makan dan ngasih susu anak aja susah. Jomplang banget kan ada yang bisa menikahkan anaknya sampe 10 M (ponakannya menteri), sementara ada yang ga bisa kasih susu buat anaknya karena g mampu. Padahal yang perlu susu itu generasi penerus bangsa ini, aa jadinya nanti generasi selanjutnya dari bang sa ini ?
  70. From Raden Riezha on 05 September 2008 14:06:58 WIB
    Nusantara Indonesia ini adalah Bangsa yang besar, masa dari 250 juta jiwa gak ada yang mampu memimpin negeri ini ?
    tapi kalo pemimpin tokoh politik yang ada sekarang gak pantas memimpin negeri ini, mereka2 lebih cocok jadi setingkat bupati aja, ya membawahi kabupaten, kalo negara belum ada yang pantes,mereka harus belajar lagi, masalahnya sekarang mereka udah tua2 utk belajar lagi gak mungkin kayaknya,negeri ini butuh orang yang kuat seperi sukarno dan suharto
  71. From andreas on 09 September 2008 01:04:43 WIB
    Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan sebagaisebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan


    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang 'memimpin', pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com
  72. From oneng on 10 September 2008 13:31:06 WIB
    kalau indonesia g d presidennya gmn??? sby kenapa harus didampingi jk
  73. From viviana on 11 September 2008 00:41:12 WIB
    SBY lagi saja. Terbukti tegas dan serius !
    Yang lain ? Nggak mau aah ... Masih pengen SBY.
    Semoga aja wakilnya lebih baik dari sebelumnya.
  74. From Tito C. Basworo on 17 September 2008 13:42:57 WIB
    SBY TEGAS??? coba selesaikan kasus lumpur Lapindo dulu...
  75. From Weng Gautama on 22 September 2008 15:42:59 WIB
    "maka ia akan mencatat satu keberhasilan: Presiden pertama yang memulai dan mengakhiri jabatannya secara normal"
    -------------------------
    Dilihat dari sisi lain, itu bukan sebuah keberhasilan, karena untuk menjatuhkan seorang Presiden secara konstitusional hanya dimungkinkan melalui keputusan DPR yang dikuasai oleh partai-partai besar melalui fraksi-fraksi nya.
    Jadi untuk menjaga 'kursi', yang dibutuhkan hanya 'kompromi dan toleransi' dan membiarkan mereka berbuat seenaknya asal jangan menggugat. Demikian juga pada wakil-2 Partai yang duduk dikabinet ... berikan 'akomodasi' yang super ueenaakk, seperti yang diberikan pada menteri-menteri yang diduga terlibat dana kasus BI, juga pada 'bad guys' (dalam artikel).

    Jadi, kunci menjaga kursi ... berikan 'kompromi dan toleransi' pada DPR dan berikan 'akomodasi' pada wakil Partai yang duduk diKabinet ... biarkan mereka berbuat semaunya ... bahkan bila mereka membuat perundangan/kebijakan yang tidak 'pro rakyat'.

    apakah itu sebuah keberhasilan ... atau bukti ketidak-tegasan ... atau politik 'jaringan pengaman kursi' ... atau ... atau ... atau
  76. From BUKTI SITEPU on 29 September 2008 16:37:42 WIB
    seya sangat setuju dengan pandangan bung wimar, bahwa pemimpin di indonesia kedepan harus mampu memanfaatkan segala potensi masyarakat yang ada di indonesia.dan mampu membina hubungan internasional yang lebih harmonis.jadikan negara kita menjadi negara pertanian yang modern. masalah korubsi kita harus belajar banyak dari negara cina. mengenai isu presiden harus jawa dan islam, itu harus dibuang jauh jauh. di negara kita ini bukan islam dan jawa saja yang berjuang, dari sabang hingga maroke dari hindu,budha,kristen,konghucu dan lainnya. yang sudah pernah memimpin tolong nggak usah lagi ikut ikutan.beri kesempatan bagi orang lain.

    MEJUAH JUAH KITA KERINA
  77. From Mundhori on 08 October 2008 12:48:37 WIB
    Saya dukung budayawan MH Ainun Najib. Cuma sayang UUD kita mengisyaratkan bahwa rekrutmen presiden harus dicalonkan oleh partai politik. Sehingga perjuangannya lebih panjang,yaitu harus melalui amandemen UUD kita.
  78. From SUMATERA on 13 October 2008 13:00:14 WIB
    sumatera MERDEKA aja dari NKRI......MALU mas ama negara tetangga...
  79. From yasir on 29 October 2008 20:22:54 WIB
    HB X aje dah
    tar bahan pokok jadi murah lagi

    @sumatera
    jangan ngaco dah mao misah2
    kayak udah mampu berdiri sendiri aje
    apa2 masih minta sama pemerintah pusat aje udah mao maen api nih
    ckckkckk
    Rukyah juga nih orang...
  80. From SUTIKA on 03 November 2008 00:18:09 WIB
    SBY diantara calon-calon presiden yg lain masih layak untuk saat ini dipakai karena:
    1.Mempunyai moralitas tinggi
    2.Konsekuen dalam menentukan sikap
    3.Tidak mempunyai rasa balas dendam
    3.Tegas dalam bersikap
    4.Yakin akan kebenaran
  81. From CAETANO on 17 February 2009 08:05:37 WIB
    menurut saya SBY akan tetap urutan pertama dalam pemilihan 2009 karena di lihat dari kepimimpinanya Dia sangat menonjol. selamat SBY

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home