Articles

Gus Dur mengenai Pancasila dan Islam: Sejak Dulu Menghormati Pluralisme

Perspektif Wimar
02 June 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Nilai-nilai Kebhinnekaan, toleransi dan pluralisme yang menjadi salah satu esensi dari Pancasila, ternyata sudah dipraktekan jauh sebelum Negara kita merdeka, bahkan sebelum pancasila itu sendiri disusun. Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang menjadi narasumber di Perspektif Wimar kali ini mencoba mengungkapkan kembali pentingnya semangat toleransi dan pluralisme dalam perjalanan bangsa.

Mengenai sikap saling menghargai diantara para pendiri bangsa, Gus Dur menceritakan pada tahun 1919 ada tiga orang sepupu yang suka berkumpul. Mereka adalah H.O.S Cokroaminoto (mertua Bung Karno), KH. Hasyim Ashari (Pendiri NU) dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU). Saat itu mereka sering mendiskusikan tentang Islam dan nasionalisme. Sehingga kedua paham yang berbeda ini tidak saling dipertentangkan satu sama lain. ”dulu orang bisa ngobrol erat sekali walaupun beda aliran politiknya”, ujarnya

Ini berlaku juga dalam menyikapi bentuk negara yang ideal, dimana pada tahun 1935 dalam muktamar NU di Banjarmasin telah dibuat keputusan yang menyatakan kalau warga NU tidak harus mendirikan negara Islam jika ingin melaksanakan syariat Islam. Jadi bisa terlihat kalau dari dulu kelompok Islam sudah menghormati pluralisme. Sehingga Gus Dur pun mengakui kalau pluaralisme adalah gelombang dari masa depan.

Jika berkaca pada kasus Ahmadiyah, kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diatur dalam konstitusi kita tampaknya belum sepenuhnya bisa dipahami oleh semua kalangan. Menurut Gus Dur, Ahmadiyah harus dibiarkan hidup meskipun fatwa sesat sudah meluncur dari MUI.

Karena bagi mantan Ketua PB NU ini, MUI hanya salah satu ormas Islam biasa yang selama ini mendapat wibawa besar  sebagai kompensasi dari tidak boleh berdirinya negara Islam. Gus Dur juga yakin kalau organisasi yang fundamental dan sektarian akan merumuskan pengetian nasionalismenya masing-masing, karena UUD kita sangat nasionalistik.

Menurut Gus Dur, justru  sekarang malah pemerintah yang takut pada MUI. ”MUI dan Departemen Agama harus diganti dengan orang yang kelakuannya waras”, ujar pendiri The Wahid Institute ini.

 

Baca juga:

Print article only

92 Comments:

  1. From paul on 02 June 2008 09:23:18 WIB
    Kita berharap sikap plural tidak hanya ada dikalangan elit NU saja.
    Ada baiknya Gus Dur memperhatikan kalangan bawah yg base build karakternya tak pernah tersentuh.
  2. From Robby on 02 June 2008 09:33:37 WIB
    Saya benar-benar bersyukur karena Indonesia masih memiliki figur seperti Gus Dur. Kalau Gus Dur mengatakan soal kewarasan, saya pikir hal ini benar juga. Menurut saya, masyarakat kita saat ini cenderung paranoid. Ini realita. Terimakasih buat Gus Dur yang berani bicara terbuka dan menunjukkan bahwa Indonesia masih dihuni orang-orang nasionalis.
  3. From Ratna on 02 June 2008 10:36:00 WIB
    Sudah bertahun-tahun merdeka agak mengherankan juga jika masalah pluralisme masih juga jadi perdebatan alot. Apalagi aksi FPI kemarin, sungguh langkah mundur ke titik nol lagi. Indonesia itu plural, jangan diciutkan jadi selebar saputangan dengan penyeragaman yang menggelikan. Yang seperti FPI itu sebaiknya segera ditindak tegas. Selain playing God, mereka merasa tak tersentuh hukum. Ini berbahaya, Gus dan oom Wimar.
  4. From Muhammad Nur Hata on 02 June 2008 10:45:30 WIB
    apa orientasi kiri islam pemikiran politik gus dur?apakah setelah bersinggungan dengan ideologi global atau tradisi aswaja indonesia (NU)atau kedua-duanya mewarnai?
  5. From Budi on 02 June 2008 11:05:27 WIB
    Jangan menghalalkan kekerasan dengan mengatas namakan agama, didunia ini tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kekerasan apalagi pakaian dan atribut tampilannya sok paling suci, tetapi kelakuannya lebih jahat dari orang yang tidak beragama.Hidup Gus Dur sebagai Bpk Pluralisme, semoga ada tampil lagi Orang2 seperti Gus Dur dimana mau membela kaum Minoritas.
  6. From Pdt. Arthur Sitorus Jatiwaringin on 02 June 2008 11:11:36 WIB
    Saya sangat appreciate dan antusias mengikuti perspektif wimar sejak awal ditayangkan bahkan jauh sebelumnya distasiun tv lain.
    Edisi Gusdur dalam politik luar negeri Indonesia tentang Pancasila dan NU memotivasi kita untuk terus terang menyatakan kebenaran. Kebenaran tak dapat ditutupi dan disembunyikan. Bravo bang wimar!! Horas...
  7. From Ardi Ashary on 02 June 2008 11:30:46 WIB
    Mungkin dibutuhkan lebih banyak lagi tokoh yang mengangkat pluralisme dengan cara yang sederhana dan mengena
  8. From febianto on 02 June 2008 12:06:46 WIB
    setuju lagi,tks.
  9. From baba on 02 June 2008 12:27:02 WIB
    Tidak salah tuch Gus? di tanah kelahirannya aja ahmadiyah sudah dianggap keluar dari islam, yang sesat menyesatkan, lembaga rabithah alam islami juga memutuskan ahmadiyah sesat dan menyesatkan. Kalau orang-orang di MUI yang menyesatkan ahmadiyah adalah orang-orang yang kurang waras berarti ulama-ulama yang tergabung di rabithah alam islami juga kurang waras? menurut saya sich yang kurang waras itu bukannya Gus ini? yang sudah kena stroke berulang-ulang sehingga perlu hati-hati kalau bicara.
  10. From tri on 02 June 2008 12:48:16 WIB
    menghargai pluralisme memang harus dilakukan oleh seluruh warga negara indonesia maupun dunia tetapi untuk masalah ahmadiyah menurut saya pemerintah harus memutuskan secara tegas.untuk menjadi orang islam kita harus membaca syahadat yang menyatakan mengakui tuhan yg satu yaitu allah dan mengakui nabi muhammad sebagai rasulnya. apabila orang mengaku islam tetapi mengakui ada nabi lain setelah muhammad maka dipastikan ajarannya sesat. kalo negara membiarkan ahmadiyah tetap hidup dan masuk kedalam salah satu kelompok islam, seharusnya pemerintah juga melegalkan ahmad mosadeq dan ajarannya. menurut pendapat saya sebaiknya ahmadiyah dimasukkan sebagai agama lain diluar islam seperti di negara lain
  11. From Yusuf Suryadin on 02 June 2008 13:30:38 WIB
    sekali lagi kita tidak boleh menghakimi yang sudah menghakimi

    kita luruskan apa yang semestinya dilakukan ormas sekelas FPI, sebaiknya mereka dibina dan diarahkan, seperti untuk pengembangan masyarakat, dan permasalahan yang dihadapi sekarang seperti penggerebegan tempat hiburan atau penyerangan terhadap pihak tertentu sebaiknya di lihat motifnya selain tindakannya yang benar2 kita sesalkan

    bila memang polisi dan aparat hukum lain bertindak tegas terhadap pengelola tempat hiburan, dan juga bertindak tegas pada FPI yang menyerang pihak lain, pasti kondisi seperti sekarang tidak akan terjadi

    so.... maksimalkan peran polisi sebagai pelindung masyarakat
  12. From Gus Durians on 02 June 2008 14:53:04 WIB
    Gus durians, berbicara pluralisme kayaknya masih banyak yang tidak ngerti apa pluralime, contohnya FBI, ngapain sampai ngamuk-ngamuk sepeti itu kalau mereka ngerti pluralisme. aneh ya orang pinter seperti mereka FBI masih ngak ngerti plurarisme. anak TK aja tau apa pluralisme. hari gini masih ngamuk-ngumuk ngak zamannya lagi;
  13. From akiasgar on 02 June 2008 14:58:42 WIB
    Sangat sedih dan prihatin memperhatikan tindakan saudara2ku sesama muslim; yang kurang menghayati link antara "hablumminallah" dengan "habluminannas". Diperlukan Gus-Dur2 lain yang berani angkat bicara dan bertindak untuk meluruskan sikap paranoid yang sektarian tersebut, apapun alasannya....
  14. From bobby on 02 June 2008 15:10:21 WIB
    terimakasih gus atas pencerahannya, bang wimar perlu waktu lebih panjang untuk menggali pemikiran dari orang yg langka seperti gusdur
  15. From blossom on 02 June 2008 15:46:09 WIB
    gak banyak komentar lagi buat gusdur. hope gusdur sehat,panjang umur dan God bless him (om wimar juga ).
  16. From Chandra on 02 June 2008 16:15:16 WIB
    Kayaknya gerakan pluralisme harus memakai ikon yang waras juga supaya jangan jadi bahan cemoohan dan tertawaan. Habis, Senin pagi Gusdur di PW bilang FPI tidak perlu dibubarkan, eh kemarin di TV Swasta dia bilang FPI harus dibubarkan. Ini bukan jaman diktator Soekarno atau Soeharto dimana perbedaan atau pelanggaran hukum disikat dengan pembubaran. Orang2 FPI yang main pukul kemarin harus ditangkap diadili dan dijebloskan ke penjara.
  17. From bagus on 02 June 2008 16:30:02 WIB
    Pluralisme, ok
    Penodaan, no
  18. From J. Sulaiman on 02 June 2008 18:03:57 WIB
    Dari kelima Presiden pengganti Bung Karno, menurut saya, Presiden Gus Dur adalah yang terbaik, karena lebih berpihak kepada rakyat kecil yang lemah, kelompok agama dan etnis minoritas. Gus Dur juga seorang Pluralis yang menentang eklusivisme. Tapi ternyata Gus Dur tidak termasuk dalam Notonogoro ramalan Joyoboyo : No-Soekarno, To-Soeharto, No-Tresno, Habibie artinya cinta atau tresno. Berikutnya Go-Mego yang menunjuk pada Gus Dur/Megawati. Karena intervensi Poros Tengah Gus Dur mendahului Megawati, pemenang Pemilu Legislatif 1999 selama 1.5 tahun. Selanjutnya adalah Ro- ini sebenarnya menunjuk kepada Amin Ro\'is, tapi karena kalah biaya iklan dan kalah ganteng daripada calon lainnya, Pak Amin tidak jadi Presidan. Siklus Notonogoro kembali ke No - Yudoyono yang menjadi Presiden. Nanti pada Pemilu 2009 kita akan tiba pada To - Siapa ini ????? Apakah Wiranto ? Atau bisa jadi Soeharto lagi, artinya Loyalis Soeharto. Kalau sudah begini kita harus waspada, karena bisa2 kita masuk ke Orde Baru Jilid 2...tak usah ya !!
  19. From mahmud on 02 June 2008 19:07:37 WIB
    para pemimpin yang ada di indonesia ini yang masih waras dan jujur saya rasa adalah gus dur, beliau berani jujur berbicara apa adanya. mudah2an banyak org indonesi nantinya berjiwa nasionalis yang spt gusdur, salut buat beliau.. FPI itu bajingan!!!!
  20. From Abraham Ganda Mandaputra on 02 June 2008 20:04:30 WIB
    Benar apa yg diucapkan Gus Dur. UUD\'45 dan Pancasila jelas2 mendukung kebebasan rakyatnya beragama, termasuk Ahmadiyah. Apakah karena kepercayaan mereka, lalu harus dimusuhi, dikecam, dibubarkan, dsb. Toh mereka tidak melanggar hukum bukan?

    Ormas2 yg selama ini mengatasnamakan agama dan berbuat seenaknya, harus segera dibubarkan dan pemimpinnya ditangkap. Ini karena mereka dapat mengancam stabilitas nasional masyarakat Indonesia. Tatanan sosial Indonesia sebagai negara yg majemuk akan dirusak. Contoh nyata adalah FPI. Mereka adalah milisi sipil, alias sipil yg dilatih utk tujuan tidak benar bahkan dipersenjatai (dalam bentuk apa pun, lihat insiden monas mgu 1 juni 08).

    Organisasi semacam ini tidak cocok lahir apalagi berkembang di Indonesia. Kalau mau berperang, silahkan ke Irak atau Afganistan. Negara ini sudah cukup susah mengurus rakyatnya, tidak perlu ditambah dg warga negaranya yg fanatik sinting!!!!!

    Pemerintah SBY semoga dapat bersikap tegas bertindak.Jgn sampai pemerintah semakin kehilangan wibawanya, dg mudah dipengaruhi oleh ormas2 yg tidak jelas. Ormas yg dengan berani \"menampar\" wajah pemerintah melalui konferensi pers mereka di media. Kita tunggu bagaimana reaksi dan tindakan tegas SBY dalam persoalan ini......hopefully

  21. From Ken Mahesa on 03 June 2008 09:03:11 WIB
    Sayah setuju dan menghormati pluralisme, lebih dari itu sayah mendukung kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama sebagai hak manusia yang paling tinggi.

    Untuk para politikus Indonesia, please deh untuk mulai bermain fair, ingat lho kata-kata anda mungkin SANGAT AMAT mempengaruhi pandangan rakyat, jadi kalau anda gampang bicara apalagi bicara yang belum ada dasarnya berarti anda justru yang menjerumuskan rakyat.

    Untuk Gus Dur, anda bilang H.O.S Cokroaminoto (mertua Bung Karno), KH. Hasyim Ashari (Pendiri NU) dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU) bisa ngobrol erat sekali walaupun beda aliran politiknya.

    Pertanyaannya :

    Apakah Gus Dur juga bisa ngobrol erat sekali walaupun beda aliran politiknya dengan pihak lain ?

    Apakah Gus Dur sudah bisa menerima pendapat yang sangat berbeda dengan dirinya dan tidak memaksakan bahwa pendapatnya yang paling benar ?

    Apakah Gus Dur sudah bisa berhenti menuduh orang berbuat salah dan dirinyalah yang benar ?

    ---------------------------------------------------
    Menurut sayah yang penting saat ini adalah stop kekerasan, stop kebohongan, hargai setiap orang dan jujurlah dengan hati anda sendiri.
  22. From UmanK on 03 June 2008 09:17:31 WIB
    GD memang selalu apa adanya...
    Yup plularisme dan islam menurut saya meruapakan hal yang tidak bertentangan (menurut saya lho!)
    Thx PW sudah menampilkan GD dengan topik yang ciamik..
  23. From Rini on 03 June 2008 09:40:23 WIB
    Musuh suatu agama adalah bukan agama lain, melainkan kemiskinan dan kebodohan, jadi tolong pemilik modal kasih orang2 FPI pendidikan dan pekerjaan, biar hidup mereka bisa memberi manfaat buat orang lain, bukan sebaliknya.........kasihan mereka......
  24. From Ladung on 03 June 2008 12:19:49 WIB
    Setuju dengan Rini, betapapun kita menuding FPI toh dedengkotnya tetap mengatakan bahwa apa yang terjadi di MONAS itu adalah tindakan yang dilakukan secara pribadi dan diluar koridor FPI. Bahkan Ketua FPI juga mengatakan bahwa mereka itu LPI.

    Pemerintah juga harus tegas dalam memberikan ijin terhadap berdirinya sebuah organisasi. Kata LASKAR itu sekarang ini memiliki konotasi negatif. Hal ini ditunjukan dengan maraknya kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang menggunakan label LASKAR.

    Barangkali para pelaku yang kemarin itu, tidak akan berbuat seperti itu apabila taraf kehidupan mereka diperbaiki, memiliki pekerjaan yang tetap yang membuat kualitas hidup mereka menjadi lebih baik. Sehingga tidak mudah diracuni oleh pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh. Paling tidak bila mereka memiliki pekerjaan yang tetap, mereka pasti akan mikir-mikir untuk ikut mbolos seperti kemarin itu .. hehehe ..
  25. From |richard.p.s| on 03 June 2008 12:49:50 WIB
    Pluralisme itu buahnya keseimbangan pertumbuhan rohani, fisik, mental dan sosial (see. Pancasila). Sayangnya, banyak orang beragama yang pertumbuhannya timpang, makanya susah membedakan antara sungguh-sungguh dengan ekstrim. Ekstrim bersahabat dengan kepentingan pribadi dan golongannya semata. Makanya, semua yang ekstrim ekstrim itu perlu dibongkar aktor intelektualya, diketahui kepentingannya, lalu diluruskan sesuai aturan main yang berlaku.
    Sayangnya, kebanyakan orang lebih suka sebatas nuding kesalahan sampai dosa orang, daripada duduk bersama, lalu mencarikan solusi supaya orang-orang yang bersalah dan yang berdosa itu tak lagi berbuat kesalahan dan berdosa lagi.
    Tapi repot juga, kalau si terdakwa hobbi merubah dirinya. Yang anti proses begini, ya emang bagian menuju kiamat. Menjelang kiamat memang semakin banyak orang brengsek. Dan brengseknya itu berbalutkan kebaikan pula, namun nggak bener. Layaknya kuburan berdinding marmer yang megah, tapi dalamnya hanya berisi seonggok bangke busuk.
  26. From Tjiauw Kian Bok on 03 June 2008 13:15:52 WIB
    Dur Dur, mbok yo tobat lah. Sampean ini mau jadi presiden lagi aja kok jual prinsip. Masih banyak kok kiai bener yang lebih toleran dan pluralis dari anda. Kasihan orang-orang di bawah anda yang jadi korban provokasi anda. Hidup ini sebentar aja kok Dur. Beramallah dengan baik. Kasih tau para pengikut anda yang Islam untuk shalat dengan benar. Itu aja dulu deh
  27. From zen avesta on 03 June 2008 13:56:56 WIB
    orang2 fpi itu pengangguran, tolong mereka kasih pekejaan, sudah tersingkir, hidupnya sulit,
  28. From Zain Alfa on 03 June 2008 14:08:34 WIB
    GusDur yg selalu membela kaum minoritas, anti diskriminasi, pembela demokrasi, belum mau juga berhenti berjuang. Seandainya ia mau seperti Mahatir atau Fidel castro yang menyerahkan jabatannya, Mungkin GusDur udah bisa hidup enak. Tapi inilah Gus Dur yang selalu berpegang pada prinsip yang beliau yakini tanpa peduli popularitasnya menurun.
    Semoga doanya habib Rizieq yang menginginkan seribu Gusdur segera dikabulkan
    (jangankan satu Gus Dus, seribu Gus Dur pun saya (hb. Riziq) tidak takut)
    semoga Tuhan melindungimu Gus...
  29. From ahmadinejad on 03 June 2008 15:26:41 WIB
    Gus...gus...piye toh dapat piagam perdamaian koq gak bisa damaikan partai nya sendiri..malah ngobok2 urusan MUI piye toh?Partai Koq Berantem ( PKB )

    PATUTKAH ORANG INI DI DENGAR DAN DI PATUHI ?!!!
  30. From duto on 03 June 2008 17:12:45 WIB
    setahuku kesepakatan hidup antara kita adalah
    tidak ada tuhan selain tuhan yang esa,(klo ngerti pake ini)
    atau
    tidak menuhankan salah satu diantara kita alias semua manusia adalah sejajar (klo gak ngerti pake ini).
    aku bukan tuhanmu, dan kamu bukan tuhanku. aku bukan budakmu, kamu bukan budakku.orang islam bukan tuhan, orang yahudi bukan tuhan, orang kristen bukan tuhan,orang islam bukan budak, orang yahudi juga bukan budak.
    klo nggak ngerti ya nggak papa wong ngerti gak bisa dipaksakan dan bisa saja pengetahuanku dangkal ato malah salah.
    sejelek-jelek orang adalah pembohong serta curang dan sebaik-baik orang bisa salah omong, kenapa kita mudah mengiyakan setiap omongan orang meski akhirnya terbukti nantinya kebenarannya klo sekarang KITA tak benar benar NGERTI.
    orang baik mendidik orang lain agar tak mudah mengiyakan semua perkataan termasuk perkataannya bahkan suruh membenarkan bila omongan dirinya salah (terus belajaR). orang jelek minta diyakan dan diamini meski orang gak ngerti maksudnya. beda jelas orang yang amanah orang yang ingin diamanahi. beda jelas orang yang ingin mendidik dan orang yang ingin diyakan dan diamini saja.beda jelas orang yang belajar dan orang yang mengiyakan saja.
  31. From Azwar on 03 June 2008 17:43:59 WIB
    Persoalan mendasar bangsa kita adalah 'mindset'.
    sangat ditentukan oleh multidimensi dari banyak aspek, : ekonomi, politik, ideology, agama, social, budaya, ilmu pengetahuan - teknologi, sumberdaya alam – mineral, letak geographis, manusia, dll.
    Dalam kurun sepuluh tahun terakhir bangsa ini mengalami masa sulit dan kritis, sehingga kehilangan arah. Hal ini terutama disebabkan oleh karena proses reformasi yang tak terkendali. Disisi lain pemahaman dan pengawalan terhadap konsep dan jalannya kurang efektif.
    Midset kita adalah Falsafah dan kepribadian bangsa : Pancasila. Namun saat ini itu hanya menjadi sekedar slogan saja. Kita kehilangan jatidiri, bingung, sensitive, reaktif, emosional. Kita beranggapan krisis ini karena doktrin yang salah, dan kita sibuk berupaya menyempurnakan falsafah itu, bahkan ada yang menyatakan tidak sesuai lagi di abad modern ini. Falsafah itu hampir ditinggalkan. Mengapa demikian?. Kita tidak ikhlas, karena kita beranggapan dulu falsafah ini menjadi alat bagi penguasa untuk ‘mengawal’ jalannya program pembangunan 'peradaban' bangsa. Falsafah / doktrin adalah mindset utama bangsa sebagai ‘kacamata, teropong, kerangka dasar berfikir, dan alat analysis/mencermati’ guna menginterpretasikan apa dan bagaimana yang kita hadapi, berinteraksi sesama dan dengan suku, bangsa dan agama lain. Selama lebih dari 10 tahun kita telah terombang ambing dengan beragam doktrin dan mind set, selalu terjadi perselisihan pemahaman, dalam bermusyawarah, bahkan berujung pada bentrokan. Persoalannya hanya mencari kebenaran masing-masing. Kita sefaham semua falsafah tujuannya pasti baik. Namun itu akan menjadi tidak baik bagi kelompok lain kalau terkontaminasi oleh kepentingan salah satu kelompok.
    Bangsa ini akan baik, jika masing-masing orang mau dengan arif dan penuh motivasi mencermati dan mengamalkan Pancasila secara benar.
    Jika ada kelompok masyarakat yang meragukan pancasila ini, Itu semua terpulang kepada “bekal ilmu” yang dimilikinya. Ilmu itu akan sangat menentukan cara meng-interpretasi doktrin Pancasila.
    Satu hal yang perlu dipahami adalah : untuk orang – orang spt itu, perlu dilakukan indoktrinasi, mungkin dengan cara menyempurnakan ‘kurikulum’ Pedoman Penghayatan dan Pangamalan Pancasila. Konsep pancasila itu sudah sangat jelas, dari sejarah dan dokumen pendukung yang mengiringi lahirnya adalah untuk kemuliaan dan kemakmuran bangsa. Jangan cari kambing hitam. Tidak perlu main hakim sendiri, menganiaya orang kafir dalam Islam juga tidak dianjurkan. Sikap brutal, tidak arif dan merasa benar sendiri adalah cermin dari kebodohan alias peradaban yang rendah...
  32. From mustofa_gh on 04 June 2008 02:16:35 WIB
    Persoalan Ahmadiyah - yg memicu terjadinya insiden monas - memang merupakan masalah sensitif bagi umat islam, tapi bagaimanapun juga tindakan anarkisme samasekali tidak dapat dibenarkan.
  33. From adi on 04 June 2008 09:32:05 WIB
    Betul Islam mengedepankan pluraslisme,tapi untuk kasus Ahmadiyah harap dibedakan..INI PENTING. Jika JAI mengatakan agamanya adalah Ahmadiyah jelas orang Islam tidak akan resah, namun mengaku Islam tetapi mengatakan Nabi terkahir bukan Muhammad SAW tentu akan menjadi lain.
    Lihat di tempat kelahiran Ahmadiyah,apakah dia dikatakan Islam,jawabannya TIDAK.
    Selalu mengkritik orang lain tidak paham perbedaan...apakah Gus Dur mau menerima perbedaan pendapat...introspeksilah. Lihat bagaimana Gus Dur mengelola PKB. Sudah berapa Ketum PKB yang diganti ditengah jalan.Padahal takan terlupakan bagaimana nunduknya Muhaimin pada GusDur, bagaimana Muhaimin sangat menyanjung Gus Dur...sampai mengatakan siapa yang 'ngrasani' Gus Dur akan sakit.
    Kemudian lihat, apakah Gus Dur mau berakrab ria dengan orang Islam yang berbeda pandangan dengan dia? Lihat sendirilah.
    Jadi untuk semua pihak introspeksi!
    Dan yang belum tahu sejarah dan apa Ahmadiyah, apalagi Non Muslim...jangan berkomentar.




  34. From Ir. Hoo Boen Wie on 04 June 2008 09:47:10 WIB
    Yth. Sdr. Didiet,Maaaf tolongjelaskan apakah ada dua pendiri NU yaitu KH Hasyim Ashari danKh A. Wahab Habullah? Apakah tak ada salah tulis. Pendengaran saya y. satu ialah pendiri Achmadyah.

    Tolong dlm. penulisan lebih akurat supaya tak ada kesalahan dalam penafsiran sejarah
  35. From Marisa on 04 June 2008 11:35:43 WIB
    Asal jangan hanya jadi wacana.
    Seandainya setiap politisi yang melindungi pluralisme di negara ini dituduh Zionis, ehem, bisa berabe. Masyarakat jadi bukan hanya malas belajar, tapi takut belajar.

  36. From |richard.p.s| on 04 June 2008 12:04:46 WIB
    Ir. Hoo, tak ada yang salah dengan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Tebuireng Jombang) & KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tambak beras Jombang) sebagai pendiri NU.
    Google please.
  37. From nur on 04 June 2008 12:47:50 WIB
    gus..
    masalah UNDAR gimana yah..
  38. From robert on 04 June 2008 14:46:47 WIB
    bravo gus dur, biar banyak orang yang nggk benar berusaha membengkokkan prinsip pluralisme, gus dur tetap plural & nasionalis, negara yang damai adalah negara yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat beragamanya,hal ini harus dipertahankan di Indonesia,memang MUI itu menurut saya orang-orangnya mungkin harus diberikan pembekalan kembali mengenai Pancasila(kalau disebut tidak waras mungkin tidak etis)karena fatwa yang dikeluarkan kadang-kadang bisa menggangu keamanan negara & toleransi umat beragama, cth fatwa yang menyatakan orang islam bersembahyang dgn umat beragama lain itu haram hukumnya, walaupun mungkin dilandasi perspektif islam,namun secara ideologi negara jelas-jelas fatwa tersebut salah karena bisa menimbulkan pertikaian umat beragama, sebaiknya mengeluarkan fatwa yang bisa membawa kemajuan & kedamaian umat.Sering-sering dong mengangkat tema pluralisme,toleransi, dengan kedamaian di negara ini, soalnya banyak orang-orangnya udah stress.. jadi gampang tersesat, malah ada yang jadi teroris..ok!
  39. From duto on 04 June 2008 21:07:47 WIB
    jalan yang yang benar memang cuma satu (tapi semua mengaku jalannya benar)karena kita lahir ceprot didunia tanpa ilmu (bodo)dan tiap hari lahir orang bodo tanpa pengetahuan,
    namun ada cara untuk mempertemukan semua kejalan yang benar yaitu jujur dan mau mencari ilmu(belajar)
    bukankah bila seseorang itu diatas jalan yang benar klo gak jujur disebut munafik dan menjadi tidak benar. kita dibagi dalam kelompok :tahu yang benar tapi krn ingin dunia jadi pembohong,(penjudi) tidak tahu yang benar hanya menduga tapi mengatakan yang dibawanya benar (bisa jadi yang dibawanya memang benar ato bisa saja salah krn cuma dugaan), tidak tahu yang benar dan bilang tak tak tahu (jujur), tahu yang benar dan mengatakan yang benar (jujur&berilmu)
    di indonesia memang pural ada komunis (kayak cina),ada kapitalis (kaya amerika milih ngasih makan mobil darpada ngasih makan orang), ada nasionalis, ada agamis, ada preman, ada teroris,ada pemberani, ada penakut,ada setanis,ada yang jujur, ada yang munafik, ada yang pluralis, ada yang miskin,mati gak bisa makan(kayak di etiopia ajaran dibawa siapa ya sampe ke indonesia), ada nyamuk, ada kecoa, ada harimau, ada komodo, ada pohon, ada ranting, klo kurang tambahi lagi sendiri

    TENTUKAN DEH MANA YANG BOLEH DI INDONESIA DAN MANA YANG TIDAK YA!!!
  40. From Jans on 05 June 2008 02:31:44 WIB
    kepada nyang lagi asyik kasih komentar, jangan ribut mlulu.

    Smua pada ngerasa pendapatnya nyang paling benar. OK deh memang smua ada baiknya, tapi selanjutnya...

    Bangkit barengan yuk...demi INDONESIA. Ayolah demi negeri yang kita cintai, buktikan smua yang terbaik nyang bisa dipersembahkan ke ibu pertiwi.
  41. From Band\'s on 05 June 2008 06:28:56 WIB
    Pluralisme boleh2 saja asal jangan menyinggung umat lain. Berbeda pendapat juga harus menghargai tidak dengan mengatakan orang tidak sependapat itu tidak waras ini sama saja dengan pemaksaan kehendak, apakah seperti ini disebut dengan demokratis? Bukan orang yang besar bisa menghargai pendapat orang lain?
    Jika kita lihat NU mengeluarkan Fatwa sesat terhadap Ahmadiyah, sedangkan Gus Dur berlawanan. Jadi apa pantas Gus Dur membawa NU sebagai massa akar rumput dalam membela Ahmadiya?? Wallahhualam
    Maaf jika pendapat saya ini menyinggung perasaan.
  42. From gh_mustafa on 05 June 2008 13:58:25 WIB
    Sensitifnya kebanyakan Umat Islam terhadap isu2 agama termasuk kasus Ahmadiyah karna disebabkan adanya Formalisme Islam, serta adanya ketidakjujuran dalam memaknai sebagian pesan yg ada dalam Al-Quran.

    Formalisme Islam memiliki kecenderungan untuk lebih melihat secara tekstual dan hanya memberi sedikit ruang untuk kontekstual. Padahal dalam Al-Quran jelas disebut bahwa kehidupan alam semesta beserta seluk-beluknya merupakan Ayat2 Tuhan yg amat nyata.

    Serta ada satu ayat dalam Al-Quran yg mengakui bahwa Umat selain Islam yg beriman kepada Allah (Tuhan) dan Hari Akhir serta berbuat kebajikan akan mendapatkan pahala. Namun ada tendensi dalam menafsirkan kata Beriman - yaitu lengkap dg Rukun Iman dan Rukun Islam - yg otomatis harus Islam.

    Wallahualam Bissawab.
  43. From Jans on 05 June 2008 14:16:00 WIB
    Sahabat Band\\\'s, klo dulu pejuang kita mati-matian melawan penjajah demi NKRI. Kini bangsa kita nyang besar sedang dilema dengan pertikaian anak bangsa. Negara kita bagaikan orang tua dengan banyak anak...seperti orang tua kita nyang nggak tega membuang anaknya meskipun durhaka. Pemberontakan PKI sudah melukai bangsa ini. Mungkin sekarang kita mesti lebih panjang sabar aja kali ya...supaya nggak ada lagi pemberontakan dari saudara\\i kita.
  44. From |richard.p.s| on 06 June 2008 01:59:12 WIB
    Pluralisme kok ada yang mengartikan pasif ya? Maksudnya mau adem ayem seperti 32 tahun itu? Buset dah, saya minta petunjuk bapak dulu ya untuk ngikutin konsep itu.

    Pluralisme terkait agama, seharusnya menciptakan kerukunan antar umat beragama, bukan kerukunan beragama.
    Makanya saya lebih suka menggunakan istilah negara agama dibandingkan negara beragama. Karna pluralisme yang kita anut sepertinya diarahkan pada suatu kotak yang tidak lagi bisa diganggu gugat. Kalau memang tidak demikian, 2009 bisa nggak terima keturunan Tionghoa yang Buddha untuk jadi Presiden?

    Kalau memang pluralisme, biarkan semua aktif dalam hak dan kewajiban yang sama. Soal ada yang hyper aktif, ya dipelajari saja kepentingannya. Dan kalau ada salah jalan, ya diluruskan oleh yang berwenang dong.
    Kalau hyper aktifnya merugikan, ya dibina, lalu dibina. Kalau sampai tiga kali nggak berhasil dibina, ya dibinasakan aja. Masa penyakit dipelihara? Tapi jangan main bungkam ya, nggak demokratis itu.

    TIPS SEDERHANA MEMPELAJARI KEPENTINGAN YG HYPER AKTIF:

    1.Cari tahu, setahun berapa kali beraksi.(Katakan 1000 kali)
    2.Rp.30.000(uang makan) kali 1000 orang kali 1000 aksi
    3.Rp.30M tuh (non spanduk, kaos, flyers, operasional kantor)
    4.klik tombol UU KIP
    5.Lihat asal uangnya, dan ketahuilah kepentingannya

    Hyper aktif yang berbau agama, semoga nggak nyuci uangnya untuk ngumpetin orang di belakang layarnya. Semoga nggak ngejawab, \\\\\\\"nggak dosa nyuci uang di pemerintahan yang kafir ini\\\\\\\". Soro soro ..... menghalalkan segala cara sih boleh-boleh saja, tapi jangan yang haram dimata Tuhan lah. Kan dosa ya... *

    _____________________________
    * kalo nggak merasa, kok marah? Ayo sana, cuci cuci aja yang bersih, dan buat misi visi yang aduhai. Biar banyak yang kepincut.
    Najis banget sih, kalau mulai udara bersih sampai sorga, masih aja dibisnisin. **sambil muter baut 13 diroda depan sepeda** Ada nggak ya yang kayak gitu? (tanda tanya nih)

    ngibbbriiittttt ........... ah......
  45. From budiluwung on 06 June 2008 08:07:52 WIB
    assalaamualaikum...
    dari Banjarmasin nich...
    eiii..eling..eling...yang namanya pluralitas dan kebebasan beragama memang harus di akui.tapi kalo udah menodai agama ya lain lagi kisahnya...tuh kaya ahmadiyah itu namanya penodaan Agama. Jadi selamatkan Islam dari Ahmadiyah..Bubarkan segera.. jadi yang mohon maaf yang BAJINGAN tuh siapa....
  46. From paul on 06 June 2008 09:30:19 WIB
    Biasa deh.., kalo ada kelompok yg terdesak kepentingannya agamanya, lalu mendekati tokoh yg selalu menggaungkan prinsip moralitas dan pluralisme.
    Basi....deh lu.., mayoritas ummat Islam sudah dapat membaca dan menangkap apa yg jadi missi orientasi kepentingan jangka panjang kalian.
    Seharusnya anda anda ini menyadari. Kenapa persoalan perbedaan Agama selalu menjadi titik pertikaian diantara kaum beragama.
    Pluralisme tak dapat mengikat kepentingan taklik dalam eksistensi sebuah Agama.
    Jadi, kalo ada pertentangan diantara dua agama, tak serta merta dapat dikendalikan dengan rumus sok pluralis.
    Dan GD tak perlu merangkul komunitas lain, karena hal ini hanya akan mmemperkeruh keadaan, atau memang GD senang dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok lain demi hanya ingin mengejar popularitas murahan? {tanyak loh}
  47. From R Muhammad Mihradi on 06 June 2008 15:46:08 WIB
    Saya seorang demokrat sekaligus juga mencoba konsisten dengan aqidah Islam. Bagi saya, sesuai fatwa MUI, Ahmadiyah sesat karena mengaku ada Nabi sesudah Nabi Rasul Muhammad SAW. Tapi, saya sebagai demokrat, tidak sepakat jalan yang ditempuh FPI dengan kekerasan. Demokrasi memberikan solusi. Tidak puas, tekan pemerintah agar menerbitkan SKB tentang Pelarangan Ahmadiyah. Demonstrasi juga dibolehkan, asal jangan anarki. Jika SKB keluar, harap diperhatikan hak asasi, jangan sampai diganggu hidup orang-orang yang menganut Ahmadiyah--hak hidup dan hak bekerjanya--dijamin oleh Konstitusi dan Juga Islam. Jadi, mekanisme demokrasi harus dikedepankan. Dialog silahkan sepuasnya, namun jangan pakai senjata dan kekerasan. Sebab, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).
    Mihradi
    Bogor
  48. From mustafa_gh on 06 June 2008 19:02:41 WIB
    @Hardline_muslims, sebenarnya banyak seruan Islam yg - se-olah2 - kontradiktif, salah satu contoh yaitu tentang seruan agar bersikap keras terhadap kemungkaran, namun di sisi lain juga menyerukan agar bersikap bijaksana, UD-UU ILAA SABIILI RABBIKA BIL HIKMAH WA MAUIDHOH HASANAH (serulah ke jalan Tuhanmu secara bijak dan pengertian yg baik). Kontradiksi tersebut - sepertinya ditujukan - untuk memberi ruang otonomi thd pemeluknya agar bijak/dewasa dlm mempergunakan - anugerah paling mulia - akal budi guna menyikapi berbagai dinamika persoalan, shg dapat memberikan implikasi positif untuk kemslahatan bersama. Fundamentalisme Islam maupun Formalisme Islam bisa jadi merupakan buah dari sikap parsial dalam memahami Islam serta ke-kurangjujuran dalam memaknai sebagian pesan2 Islam. Sehingga terkesan mengesampingkan misi dan tujuan Islam yg sebenarnya yaitu penyempurnaan budi pekerti serta sbg rahmah untuk seluruh alam. Pemahaman yg parsial/bertendensi terhadap pesan2 Islam hanya akan mendangkalkan makna sebenarnya dari Islam.

    Fenomena Gus Dur sebenarnya tidak terlepas dari mainstream di atas, yaitu pergumulan antara Fundamentalis vs Moderat Islam. Sikap maupun gagasannya yg - sering dimaknai - kontrovertif tidak lain merupakan sebuah upaya untuk menempatkan fungsi Islam yg sebenarnya, yg universal, yg harmonis terhadap berbagai dinamika problematika umat.

    Wallahualam.
  49. From Robert on 06 June 2008 19:54:02 WIB
    ribut terus itulah indonesia sekarang ini, masalah ahmadiyah aja kok sampe dibuat besar begini, apa nggk sebaiknya mereka ini kalau memang sesat diberikan petunjuk & teladan bagaimana mereka bisa sadar & bertobat,bukan malah dihujat,diintimidasi, malah diserang,negara indonesia khan adalah negara hukum, ada toleransi agamanya, jgn berbuat anarkis hanya didasarkan karena ajaran ahmadiyah, yang mesti dilawan di Indonesia sekarang ini adalah kelaparan,kebodohan,kemiskinan, orang susah sekarang gampang tersesat,gampang berpikiran pendek,saatnya kita berjuang bersama-sama berjuang membereskan masalah yang ada, jgn malah kayak JI yang jadi teroris tapi berkedok agama, padahal khan jelas agama tidak membenarkan/menyetujui menyerang, menyiksa, apalagi membunuh orang, apalagi alasan karena disuruh oleh Allah,bisa-bisa tambah kualat loh...semoga indonesia tidak lagi mau dibodohi oleh paham-paham sesat yang mengancam,membunuh jati diri indonesia sebenarnya, berdasarkan ideologi Pancasil & UUD 45, salam kasih dari Tuhan Yang Maha Esa...Semoga bangsa Indonesia bisa sadar secepatnya... kalau tidak bencana ini tidak akan habis2nya
  50. From hanafi on 07 June 2008 20:43:49 WIB
    Wajah islamindonesia yang telah lama terbangun sebagai islam yang toleran dan moderat akan sangat tercoreng oleh ulah sekelompok yang hanya ingin menampilkan islam ewat jalan kekerasan. Pesan gus dur sangat jelas bagi umat islam di indonesia.
  51. From Burhanudin Sengkowo on 09 June 2008 15:16:36 WIB
    Awal Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia.
    Dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, sebelum keberangkatannya, Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.
  52. From J. Sulaiman on 09 June 2008 16:34:46 WIB
    Saya setuju dengan pendapat Gus Dur untuk membiarkan Ahmadiyah hidup, karena itu sesuai dengan UUD 45. Penentang Ahmadiyah mengatakan bahwa (1) Kesalahan mereka adalah mengaku Islam tapi mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi/Imam/Al-Masih (2) Pengikut Ahmadiyah harus memilih bertobat atau keluar dari Islam.
    Akibat sikap ini, pengikut Ahmadiyah seperti makan buah simalakama. Mau "bertobat", mereka merasa dipojokkan, karena sudah meyakini ajaran Ahmadiyah, tapi kalau harus keluar dari Islam, ini juga bertentangan dengan iman mereka. Kalau mereka dipaksa bertobat dan mereka mau demi perdamaian, akhirnya mereka terpaksa hanya berpura-pura menjalankan ajaran Islam yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Bagaimana mungkin kita bisa mengatur isi kepala seseorang?
    Bila seorang Ahmadiyah sangat yakin bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, tetapi sesudah itu ada Mirza Ghulam Ahmad yang katanya mendapat wahyu, mengapa mereka harus dipaksa untuk menyangkalnya? Mengapa mereka harus diperangi karena dianggap menodai Islam, kalau mereka hanya menjalankannya untuk diri sendiri? Lain halnya kalau diadakan dialog atau penyuluhan, dan sesudah itu ada pengikut Ahmadiyah yang dengan rela tanpa paksaan meninggalkan Ahmadiyah dan memilih Islam yang mainstream. Marilah kita mawas diri dan menghargai kebebasan setiap orang dalam memaknai agama yang diyakininya.
  53. From Imam Maulana on 09 June 2008 19:27:30 WIB
    SKB sudah keluar. Keputusannya: Aktivitas Ahmadiah dilarang. Doa saya: Semoga tabah. Semoga "aktivitas keyakinan" anda tetap terlindungi.

    Sebentar lagi bakal ada lagi korban fatwa "Penjaga Kebenaran ala Abad Pertengahan/MUI & FPI)". Syiah barangkali? Bahkan NU atau Muhammadiyah? Wahid Institute? Perspektif.net?

    Duh Gusti, haruskah kita tersesat di jalan kebenaran?

  54. From umar on 09 June 2008 20:42:15 WIB
    Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra.:
    Bahwa Nabi saw. berangkat untuk berperang di bukit Uhud lalu kembalilah sebagian dari mereka yang ikut bersama beliau sehingga terpecahlah para pengikut Nabi saw. menjadi dua bagian. Sebagian mereka mengatakan kita akan bunuh mereka dan sebagian lagi berpendapat tidak. Lalu turunlah ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik.
    wahai umat muslim....
    janganlah kita merelakan akidah kita dan menukarnya dengan paham pluralisme...
    sungguh itu tipu daya yahudi.
  55. From dino on 09 June 2008 21:18:47 WIB
    menurut saya
    gusdur sebagai seorang nasionalis pendapatnya soal ahmadiyah adalah benar.
    Tapi gusdur sebagai seorang kyai pendapatnya jelas" salah
    Jikalau Ahmadiyah mengaku bukan muslim dan mendirikan agamanya sendiri itu wajib kita hormati, tetapi masalahnya Ahmadiyah mengaku sebagai seorang MUSLIM YANG TIDAK MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI NABI TERAKHIR.

    Apakah itu benar dalam Islam Menurut Anda semua???
  56. From wong on 09 June 2008 23:20:00 WIB
    Kita harusnya hati-hati terhadap sikap Gus Dur. Jangan terlalu memuja GUs dur seorang pluraris.kadang sikapnya bertentangan lo.FPI salah melakukan dakwah islam dengan kekerasan, tapi orang islam juga gak mo agamanya dibajak Ahmadiyah. demikian agama yang lain. Jangan ada lagi kekerasan di bumi ini, masih banyak orang kelaparan.,mbok yo energinya buat sesuatu yang berguna. saya harap FPI berubah, gak ada gunanya saudaraku, agamamu tidak mengajarkan begitu.
  57. From calio on 10 June 2008 17:00:29 WIB
    Gus..........Gus..........Gus.......
    Sampeyan kuwi kebablasan masalah pluralisme.
    Wong nyata-nyata ahmadiyah itu keluar "jalur" Islam kok sampeyan belo......kebangetan sampeyan kuwi.
    Kalau yg dipermasalahkan masalah siapa yang berwenang membekukan atau membubarkan ya memang bukan porsi pemerintah (menurut hemat saya lho ya...). Kuatirnya di masa mendatang timbul lagi masalah seperti ini bagaimana hayyyooooo????
    Terus timbul masalah tuntut menuntut yang tidak selesai-2, tambah parah kerukunan umat Islam Indonesia, merasa paling bener. Mbok ya dicoba rukun .....gak usah memperuncing perbedaan. Contohnya gampang......masalah penetapan 1 Syawal malu gak tuh? Tahun kemarin nyata2 terjadi perbedaan 1 Syawal (bukannya jadi Rahmatan Lil Alamin malah jadi "BENCANA"/"KEMUNDURAN" dll))
    Ayo Gus sing rukun......!!!!!!
    Indonesia sekarang lagi bokek berat itu yang harusnya jadi prioritas. Sing nganggur sik akehhhhhhh GUS......dudu digawe kroyokan ....Nggilani pooolllllllll......!!!!!
  58. From Ricky on 11 June 2008 09:06:28 WIB
    sebuah pencerahan dari seorang Gus Dur mengenai pluralisme yang memang telah menjadi nilai-nilai Islam dari semenjak zaman Rosululloh SAW.Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sikap Gus Dur terhadap penghinaan besar-besaran yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah dengan mengakui adanya Rosul setelah Muhammad SAW dan juga mengakui tazkiroh sebagai wahyu yang jelas-jelas telah melanggar hak umat Islam yang juga dilindungi oleh konstitusi...terima kasih
  59. From Denny on 11 June 2008 10:23:10 WIB
    Kalau menurut anda, para ekstremis yang mengaku memahami Islam, bahwa menuntut seseuatu yang keabsahannya hanya bisa diakui oleh Tuhan seorang sebagai suatu keharusan. Berarti Anda sendiri berperan layaknya Tuhan. Apa Anda kira hanya cukup dengan membaca satu kitab dan terus-menerus mendengarkan doktrin yang itu2 saja akan menjamin masuk surga? Kalau Anda mampu menyakiti orang lain untuk meyakinkan bahwa Anda benar, mengapa tidak sebaliknya? Lalu, apa yang menjadikan Anda sebagai penganut Islam yang benar? Sudahkah Anda pernah berdialektika dengan golongan lain tentang topik lain selain kaidah agama semata? Jangan-jangan, Anda sedang terpenjara oleh pemikiran Anda sendiri.
    Saya percaya bahwa pengikut Islam yang baik akan terpancar dari perilakunya, bukan kedzalimannya.
  60. From Zaki on 13 June 2008 15:25:12 WIB
    Islam adalah agama yang sangat fleksibel, buktinya aja kalau lagi sakit kita bisa solat sambil duduk, kalo ga bisa duduk kita bisa sambil tidur..nahh soal saling menghargai antar umat beragama Islam sangat menjunjung tinggi, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah yang sangat menghargai penganut agama lain Beliau juga bisa berdagang dengan siapapun tanpa memandang Agama dan suku. Tapi kalau sudah meyentuh masalah prinsip beribadah sebagai Muslim kita tidak boleh lembek, bila menyimpang dari AlQuran dan Hadist, dan merusak isi dari AlQuran dan Hadist maka kita harus meluruskannya. Kalau saja Ahmadiyah tidak mengaku Islam dan keluar dari Islam (tidak mengaku Allah sebagai tuhan, tidak mengaku Quran sebagai kitab dan tidak mengaku Muhammad sebagai Rasul), maka saya sebagai Muslim tidak akan mempermasalahkannya.
    Yang menjadi masalah sekarang adalah banyaknya aliran Islam emnyimpang (seperti NII, Islam protestan dll) yang masuk2 ke dalam kampus (terutama Negeri) dan sekarang sudah banyak pengikutnya..
    sebagai seorang ulama besar dan terpandang di Indonesia gimana Gusdur menghadapi perusak nilai2 islam seperti itu???apakah kita akan terus membiarkannya??
    Persoalan MUI, menurut saya sekarang sudah tidak ada lagi Ulama-ulama yang memiliki nama besar yang mampu menggerakan hati umat agar mengajak ke kebaikan dan mampu mempersatukan umat,, yang ada sekarang Udztad komersil (Dzikirnya "duit...duit...duit 33X"), Udztad politik (ngurusin politiiiikkk teruuuuusss)dan Udztadtainment (kerjanya keluar masuk Infotainment)...gimana nih Indonesia??katanya mau bangkit???agamanya aja masih pada memble...
  61. From J. Sulaiman on 15 June 2008 21:33:21 WIB
    Setelah SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah diterbitkan, kita melihat sikap Pemerintah yang berusaha mengambil jalan aman. Pemerintah tidak memihak dan mengambil jarak yang sama terhadap kelompok Ahmadiyah dan kelompok penentangnya. Kaum Islam moderat cenderung menerima keputusan itu, tapi kelompok seperti FPI tetap menuntut pembubaran Ahmadiyah karena dianggap telah menodai Islam. Menurut beberapa orang yang beraliran keras, keyakinan adanya nabi sesudah Nabi Muhammad, telah melukai umat Islam sehingga harus dihentikan. Tapi menurut Gus Dur, kalau Nabi Muhammad adalah Rasul atau Pesuruh Allah, maka jemaat Ahmadiyah mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Pesuruh dari Pesuruh Allah, jadi ya sama saja dengan para ulama biasa. Yang membuat saya heran, mengapa keyakinan atau pikiran seseorang, walaupun tidak dikatakan kepada siapapun, bisa dianggap menodai agama, atau mampu menodai agama. Bila seorang penganut Ahmadiyah meyakini ajaran itu dan tidak menyiarkannya kepada orang lain, tapi melakukan ibadat untuk dirinya sendiri secara tertutup, apakah dia tetap dianggap menodai Islam? Kalau pikiran seseorang yang tidak diutarakan bisa dipermasalahkan, ini tentu melanggar hak azasi orang untuk berpikiran bebas.
  62. From Chairryu Asy-syibli on 17 June 2008 08:54:45 WIB
    Gus, ya jelas njenengan dijegal terus untuk memimpin negara ini. Lha wong njenengan tahu semua kebobrokkan para politisi sekarang.Kalau njenengan jadi pressiden lagi, bisa-bisa preman-preman berseragam dan berdasi seperti DPR atau polisi nggak bisa narik iuran tambahan.alias sepi objekkan. Orang-orang yang sering mengangkat tema kesehatan njenengan sebagai sasaran caci maki sebenarnya menunjukkan kualitas otaknya, yang masih saja tidak digunakkan sebaik-baiknya untuk berpikir. Orang yang ngakunya berpendidikkan tinggi ternyata kalau sudah mendengar pemikiran njenengan bisanya cuma mengkritisi kondisi fisik njenengan, sama sekali tak mencerminkan kalau mereka berpendidikkan. Maklum gus, di negara ini orang yang terdidik ternyata malah harus dididik.
  63. From ILhamsyah on 20 June 2008 00:41:17 WIB
    Negara memang menjamin kebebasan beragama. Akan tetapi jangan sampai merusak ajaran agama. Ajaran islam sudah baku, jadi untuk JAI jangan di tambah atau dikurangi. Kalau merasa anda benar, dirikan lah agama sendiri..dan anda akan dilindungi oleh undang-undang sebagai sebuah agama di indonesia. Dan buat Mr. GD, jangan hanya mencari popularitas, sebagai Ulama..alangkah lebih baik kalau anda lebih konsentrasi berdakwah...dan membimbing umat islam menjadi lebih baik tanpa harus membuat atau berprilaku yang dapat menimbulkan perpecahan bagi negara ini..Maju Indonesia Ku.
  64. From febianto on 20 June 2008 10:10:24 WIB
    @ Sdr. Ilhamsyah

    mungkin anda tidak terlalu paham dgn kata IKHLAS, boleh jadi krn anda jarang mempraktekkan sikap ikhlas in your life ;) sorry ye!
    kalo Gus Dur tidak melakukan semua ini dgn ikhlas beliau tidak mungkin popularitas sebesar ini.
    Dan tolong diingat Indonesia itu dasarnya Pancasila (so pancasilais dikit nggak apa2 ye!)
    terakhir sama dgn mas ilham..maju Indonesiaku..;)
  65. From bernadette pakpahan on 20 June 2008 10:57:30 WIB

    klo tidak mau merujuk MAZHAB Gus Dur, serius! negeri ini menuju senjakalanya. meniti jejak yugoslavia, belfast---irlandia, sunni v syi'ah ala nuri el maliki,moqtada el sadr dll. bombastis memang! tolong renungkan selami model2 watak/karakter rizhiq shihab, munarman,michdan cs.seolah-olah ia sudah meng-kavling KPR-btn aras surga.(jangan pandang agamanya apa!) tapi watak, karakter dasar yang tercermin dari mereka2, SUNGGUH sangat menggelisahkan saya sebagai anak bangsa.

    akhir kalam
    bernadette pakpahan

    semoga Gus Dur panjang umur. Amin
  66. From J. Sulaiman on 20 June 2008 22:31:50 WIB
    Sdr Ilhamsyah menganjurkan agar JAI mendirikan agama sendiri karena Islam sudah baku, jangan ditambah atau dikurangi karena kalau ya berarti merusak Islam.

    Masalahnya, JAI berkeyakinan bahwa mereka adalah Muslim tapi mengakui juga ajaran Mirza Ghulam Ahmad yang mendirikan JAI. Apakah memang pikiran setiap Muslim harus seragam? Dulu penyeragaman dalam segala hal misalnya P4, Golkarisasi ABRI dan Pegawai Negeri, Kuningisasi dll. dilakukan rezim Orde Baru.

    Sekarang tendensi penyeragaman kembali lagi dilakukan oleh orang-orang yang merasa diri paling benar. Hal ini cukup meresahkan dan menggelisahkan banyak kelompok yang merasa agak berbeda, misalnya yang berpaham Syiah, dan lain-lain. Tanggal 20 April 2007 kelompok Ahlussunah sudah berdemo menuntut agar lembaga2 Syiah dibubarkan. Sikap Pemerintah yang terkesan lemah akan sulit mencegah terjadinya konflik di masyarakat, yang mungkin tak lama lagi akan terjadi.
  67. From Abu Joko Spt on 20 June 2008 22:47:33 WIB
    Ikutan ah.... kebeneran acara kupas-tuntas otak dan mulut KH GUS DUR (ghosedower).Dulu saya kagum dengan sosok ghose duur karena ketua NU tapi setelah tau isi otak dan bau mulutnya saya curiga jangan2 dia itu komunis eh ternyata dia atheis yang sepaham dengan nurchlis majid yang sekarang (Insya Allah) sedang mendapat siksa kubur yang amat pedih (wallahu alam)
    Bagaimana tidak menyenangkan kaum yahudi dan nasrani di Indonesia lha wong ghose dower sudah berani menghina Qur\'an yang jelas2 sebagai firman Allah apalagi hamba-hambaNya yang taat sudah pasti dihina abis. Untungnya dia ini tidak hidup dijaman sahabat nabi (Umar) pasti sudah dibunuh. Nah sekarang kenapa dibiarin hidup? karena sedang dipelihara oleh zionist. Yang lucu adalah para pengikut dan penghambanya seperti orang yang kena sihir (nampak bodoh dan ubuddunnya) aneh kan? Bapaknya dan orang2 dulu disamakan dengan pendapatnya supaya orang percaya bahwa dari dulu dia itu bener padahal dia sedang memainkan ke dhoweran mulutnya aja dengan memutar balikkaan fakta. Suasana seperti inilah yang disukai wimar witular karena uang dia rela sebagai pengikutnya. Doa saya semoaga KH Abdurachman Wahid dan keluarganya Allah membukakan mata dan hatinya dengan hidayahNya. Sadarlah Allah masih memberikan kesempatan sedikit lagi untuk DUsDur, Wimar, dan pengikut2nya. Ahmadiyah sebaiknya dibubarkan pemerintah atau pemerintah yang dibubarkan? Ahmadiyah haarus bubar, masjid harus diambil alih kepengurusannya tidak bolh yang masih berpaham ahmadiyah demi keselamatan bangsa indonesia. Tahun 2009 hati-hati pilih presiden dan wakilnya, jangan pilih lagi SBY-JK, Gus Dur, Megawati, mereka itu orang2 gagal karena kebodohannya dan ketamakkannya. mereka bukan pemimpin yang mikirin kesejahteraan rakyat tetapi mereka adalah pemimpin yang menyengsarakan rakyat. Kalau mau pilih saya aja... enggaklah. pilihlah yang sesuai dengan analisis otak waras anda bukan pilih dengan hati nurani kareana hati nurani anda mudah sekali dibohongi. Terbukti khan? nurani anda dibohongi mereka?
  68. From febianto on 25 June 2008 06:48:33 WIB
    @ abu joko spt

    jadi th 2009 nanti anda pilih siapa mas? pilih anda sendiri juga boleh ;) tapi itu sy nggak ikutan mas, soalnya sy seneng dgn org yg pribadi tdk spt ini.

    ".....hati nurani anda mudah sekali berbohong...."
    koment sy : menurut sy hidup anda cukup menyedihkan, penuh curiga, susah tidur, dst....;). Saran sy tarik napas lebih dlm berpikir positif, olahraga, ato kl merasa uzur bisa ikut senam pagi di RS fatmawati jam 7 pagi ;)
    terakhir dr sy mohon maaf lahir dan batin atas smua komen2 sy ini.thx and pis!.

    n.b.: Indonesia ini begitu banyak ragam org dan suku didlmnya, bahkan lebih daripada yg pernah anda lihat atau rasakan, jadi ikhlas saja dan menjadi besar karenanya.thx.

    Anda mungkin mampu membedakan antara warna hitam dan putih
    Anda mungkin bisa menilai ketika seseorang berbuat dosa
    Anda mungkin juga bisa merasa saat seseorang berbuat amal kebajikan
    Tapi anda tak mampu utk menghitung lalu membuat selisih antara keduanya.
    Hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.......

    *langsung ngacir takut dikira uztad...;)*
  69. From MSantom on 25 June 2008 11:31:35 WIB
    Kalau baca comment dari anda sekalian terus terang saya takut 10 tahun lagi apa Indonesia tercinta ini masih ada. Kalian maaf, kurang bisa menghargai orangtua bahkan mengolok-oloknya sungguh hal tersebut jauh dari budaya Indonesia yang katanya berbudi luhur. Berbeda pendapat di alam demokrasi adalah wajar tapi yang perlu diingat kesopanan dan moralitas harus dijaga jangan kurang ajar apalagi sama bapak bangsa entar kualat lho. Menurut saya, pemikiran dari saudara=saudara kita yang ekstrim adalah akibat kurang diberikannya pendidikan budi pekerti sehingga keegoisan yang mengemuka. Kita boleh hidup dengan keyakinan dan agama kita tetapi apakah didalam agama kita diajarkan untuk menghakimi orang yang berbeda, saya yakin 100% tidak ada satu agamapun yang mengajurkan kekerasan. Oleh karenanya saudaraku, kita harus bersama-sama mengusir politisi busuk yang berupaya memecah belah Indonesia karena percayalah mereka akan terus mengorbankan rakyat untuk kepentingan pribadinya.
  70. From Arebuuud on 25 June 2008 13:16:00 WIB
    Sebenarnya saya jenuh banget mengikuti diskusi seperti ini. Tapi ya siapa tahu ada manfaatnya.

    Saya ingin coba ikut urun rembug;

    Pertama: Tentang Ahmadiyyah menurut Islam

    Kalau dalam pemahaman saya terhadap buku-buku mereka, sebenarnya hanyalah perbedaan ta\'wil saja, nggak beda dengan perbedaan antara NU dan Muhammadiyyah, MUI dengan JIL, cuman perbedaan ta\'wil disini dalam permasalahan yang lebih mendasar. Tapi kan sangat wajar apakah orang itu harus sama pendapatnya, kan tidak bisa.

    Kalau saya memahami konsep \"khatamunnabiyyin\" yang tertera dalam Al-Qur\'an, sebagai \"penutup para nabi\".
    Tetapi Ahmadiyyah memahaminya sebagai \"materai/penghulu/tersempurna diantara para nabi\". Berarti mungkin ada nabi setelahnya.

    Semuanya itu sah-sah saja, tapi saya lebih yakin dengan yang pertama, kalau Ahmadiyyah lebih sesuai dengan yang kedua ya silahkan.
    Saya punya dasar, mereka pun punya dasar (coba buka buku Lisan al-Arab, disitu dua penafsiran itu sama-sama mungkin),tergantung kecenderungan penafsirnya. Wajar dong penafsiran dan pena\'wilan itu nggak harus sama. Coba kita buka buku warisan ulama-ulama\' kita dahulu, disitu akan kita temukan beribu-ribu persengketaan tentang berbagai hal, dan itu biasa.
    Sedangkan dalil hadits Nabi Saw. \"La nabiyya ba\'di\" itupun tafsirannya macam-macam. Kalau saya lebih yakin \"tak ada nabi setelahku (Nabi Muhammad Saw.)\", sedangkan sebagian ulama diantaranya dari golongan Ahmadiyyah menafsirkan \"tak ada nabi yang membawa syariat setelahku\". Penafsiran mereka sesuai dengan perkataan Siti Aisyah Rha. isteri Nabi Saw. \" katakanla khatamunnabiyyin tapi jangan katakan akhirunnabiyyin\".
    Ya sekarang tinggal kita mau pilih yang mana, terserah kita sendiri, mana yang lebih kita yakini. Wong La ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama).
    Bukan cuma Ahmadiyyah, kalau kita mau buka-buka buku warisan ulama dahulu akan kita temukan perbedaan, Ibnu Sina, Ibnu Sab\'in juga mengatakan yang kurang lebih sama dengan Ahmadiyyah. Jadi kita tidak perlu kaget dengan penafsiran yang seperti itu.
    Susahnya itu, kalau kita memahami Islam hanya dari satu sisi ya jadinya ekstrimisme seperti itu, dikit-dikit kafir, halal bunuh, na\'udzubillah.

    Kedua; Ahmadiyyah dan Indonesia
    Yang harus diingat, negara kita negara demokrasi Pancasila, bukan negara Islam ala Wahabi, Nu, Persis, atau sebagainya, Ingat Pancasila.
    Sangat simpel sebenarnya, sila pertama Ketuhanan yang maha esa.
    Kan sudah sangat jelas, Ahmadiyyah itu tuhannya juga Esa lho, syahadat mereka sama dengan lainnya. Bahkan seandainya syahadatnya separo juga tidak masalah, cuma yang depan saja misalnya. itu kalau dalam koridor ke Indonesiaan, yang penting kan berketuhanan yang maha esa. Sebagaimana tertera dalam Pancasila. Sudah sangat jelas bukan. Hal inipun juga dijamin UUD 45 pasal 29 ayat 1 & 2.
    Yang tidak boleh itu kan orang yang tidak mengakui adanya tuhan, memang tidak berhak menjadi warga Indonesia, orang tak bertuhan baru berhak menjadi warga Indonesia kalau sila pertama nggak ada.
    Kalau alasan pembubaran Ahmadiyyah, karena pasal penodaan agama. Coba kita tanya kepada diri kita sendiri, apakah anggota Ahmadiyyah kiranya ingin menodai agama Islam. Atau coba kita bergaul dengan mereka, baru kita tahu dari semangat mereka mengagungkan Islam.
    Ini sangat lain dengan kasusnya Salman Rusydy. Kita harus bisa membedakan antara orang menghujat dengan penafsiran yang di yakini. Hal seperti itu bisa dirasakan dengan mempelajari semangat yang dibawa oleh mereka, dan buku-buku mereka.
    Sudahkah kita membaca buku-buku mereka dengan seksama? disitu hujatan atau penafsiran, kita harus bisa membedakannya.
    Bahkan seandainya ada seseorang mengkaji tentang Nabi Saw. dan mengkritik apa-apa tentang beliau, itupun tidak bisa dibilang menghujat, kalau yang semangat yang dia bawa adalah semangat ilmiah.

    Ketiga; Kita sebagai manusia
    Keyakinan adalah salah satu hal diantara yang paling berharga yang dimiliki manusia, sangat menyakitkan kalau keyakinan itu harus dipaksakan, bahkan lebih menyakitkan dari kematian. Siapa yang pernah merasakan hal itu, akan benar-benar tahu rasanya. Sangat menyakitkan.
    Keyakinan ada dihati, edanlah bagi orang yang memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Kalau itulah keyakinan orang Ahmadiyyah, ya silahkan saja. Masak dipaksa di selaraskan dengan kita, atau kalau tidak, harus nggak ada keyakinan seperti itu, atau harus ganti agama. Lha wong mereka itu yakin agamanya Islam kok dipaksa keluar dari islam, ini kan pemerkosaan hati, mengerikan sekali.

    Maaf ya, malah ngoceh, heheheeh
    Ma kasih.

    Wong Kairo
  71. From |richard.p.s| on 27 June 2008 01:08:29 WIB
    Salam kenal ah sama Arebuuud... *cosss 2 jempol*
    terutama buat yang ini:

    Arebuuud: "Keyakinan adalah salah satu hal diantara yang paling berharga yang dimiliki manusia..."

    nambahin ahh...:

    Dan yang suka maksa itu merasa lebih hebat dari Tuhan. Wong Tuhan aja nggak maksa kok. Kalau Tuhan memang maksa, ya nggak ada pendosa toh. Kita semua ini bakal mampus dibuatNYA. iya toh? Memang ada yang berani mengatakan, kalau dalam sehari ini super kudus alias tak berdosa sama sekali? Bukankah bisa benar itu suatu anugrah? Lalu kenapa merasa lebih kudus?
  72. From paul on 27 June 2008 14:16:21 WIB
    @-71
    Keyakinan harus ada dasar filosofinya bung. Dia akan sangat berharga jika kita dapat mengarahkan sesuai dengan garis doktrim ketuhanan.
    Keyakinan anda akan lebih berharga, manakala anda tidak melakukan dispraising atas keyakinan pihak lain.
    Sesuatu yg konyol, jika setiap manusia dapat membentuk keyakinannya menurut imaginasi masing masing.
  73. From Arebuuud on 29 June 2008 22:50:24 WIB
    Maaf mas Paul.

    Doktrin ketuhanan itu doktrin ketuhanan yang mana ?
    Bahkan setiap doktrin pun akan terbagi menjadi berbagai cabang doktrin lagi.
    Dan pemahaman terhadap doktrin-doktrin tersebut jelas akan sangat di pengaruhi imaginasi setiap manusia itu sendiri.

    Budha, memahami dunia ini sebagai tempat yang menyengsarakan karena sangat di pengaruhi oleh perputaran karma, dah untuk merubahnya harus menghentikan perputaran tersebut. Ini kan juga imaginasi.

    Kristen meyakini konsep trinitas, itu kan juga pemahaman yanga sangat berhubungan dengan imaginasi.

    Islam meyakini tuhan itu esa, satu thok til, itu kan juga imaginasi.

    Imaginasi ini, merupakan imaginasi kebenaran menurut keyakinan masing masing.

    Mungkin kita perlu untuk membaca "Sejarah Tuhan" nya Karent Amstrong sekali lagi, walaupun banyak yang sayapun tidak setujui, tapi mungkin dapat menambah pemahaman kita tentang kedamaian dalam keyakinan

    Terima Kasih

  74. From Arebuuud on 30 June 2008 06:59:42 WIB
    Salam kenal juga buat mas Richard p.s
    Terus berjuang ya, heheheh.
  75. From paul on 30 June 2008 10:31:52 WIB
    Maaf juga...,
    Saya sangat menghargai terhadap apapun tentang keyakinan anda.
    Silahkan yg kristen meyakini Trinitasnya, atau ummat Budhis memahami sang Budha sebagai Tuhannya.Atau, boleh saja seseorang meyakini sapi dan pohon besar sebagai bentuk imaginier Ketuhanannya.
    Namum, dalam konteks Ahmadiyah yg tak meyakini Muhammad sebagai Nabi terakhirnya ummat Islam,Maka persoalannya akan menjadi berbeda.

    Penyangkalan terhadap keyakinan ummat Islam, merupakan bentuk penghinaan yg dapat memicu pertentangan Agama.
    Lalu prinsip keyakinan model apa yg ingin anda bela?

    Saya tak pernah mereferensikan prinsip pencarian Ketuhanan, atau kedamaian Karent Amstrong.Karena saya berpendapat, model pencariannya hanya mengadopsi kejadian sejarah masa lalu, tentang kenapa kita harus beragama dan kewajiban manusia menemukan Tuhannya dengan damai.pergolakan jiwanya yg absurd, justru dia tak akan menemukan apa yg ia cari.Dan saya menempatkan karangan dia tak lebih dari sebuah testimoni belaka. atau saya kategorikan pada bentuk karangan seni saja.
  76. From duto on 01 July 2008 09:21:21 WIB
    lucuuuu banget, kayak lagunya roma irama, klo dinyanyikan serius juga bikin ketawa dan menghibur.

    akkbb tidak menampung orang yang punya keraguan dan kebimbangan nggak ya, padahal banyak saudara kita yang bimbang dan ragu nih, jangan-jangan yang debat ini masih ragu-ragu aqidahnya sendiri, krn agamamya dari keluarganya dari lingkungan dan ikut-ikutan kyainya, terpengaruh bacaan jangan-jangan yang dimilikinya bukan keyakinan tapi keraguan karena belum pada ketemu ya.(aku masuk juga gak ya)

    tip agama / jalan yang benar
    kitabnya isinya menyuruh tidak menjadikan dugaan sebagai sandaran.
    menyuruh jujur dan mencari ilmu.
    mengharamkan saksi palsu. aku bersaksi bahwa......(klo gak ngerti berarti dosa apa nggak ya).
    tidak membolehkan membaca tanpa pengertian.
    tidak ada amal tanpa ilmu.dsb (kurang banyak)

    nggak ngerti itu nggak papa (cuma malu kayak aku dikatain bodo)
    menduga boleh dikit asal dikatakan ini dugaan dan tak boleh dijadikan patokan.
    ikut-ikutan tanpa mengerti maksudnya itu gak boleh klo sudah berakal.
    berbohong itu kayaknya gak boleh deh
    jujur dan mencari ilmu itu wajib kan

    pemakaian kata-kata yang spesifik juga membantu :
    seperti beda antara kebebasan dan tak ada penjajahan/penindasan. kebebasan kayak masih bisa disalah artikan.
    adanya tuhan dan tidak adanya tuhan selain.....(yang benar-benar tuhan). adanya tuhan kayaknya juga masih disalah artikan deh.

    padahal tujuan agama menidakkan dan meniadakan yang berlaku seperti tuhan selain tuhan. seperti menahan rezeki orang (maaf buat kapitalis fantastis)klo dulu makanan orang diambil untuk makanan anjing sekarang makanan orang diambil untuk jatah mesin industrinya, mesin perangnya (jatah makan hanya untuk orang kaya dan berkuasa). maaf buat bangsa etiopia kami sedunia minta maaf. disini juga sudah ada kok yang mati ngak bisa makan sepertimu

    keyakinan, mengerti, keikhlasan tak bisa dipaksakan dan bila dipaksakan kepada seseorang akan menjadikan seseorang pembohong. wong masih ragu-ragu disuruh yakin (lain dimulut lain dihati, jadi pembohong kan ). wong nggak ngerti dipaksa ngomong ngerti (jadi pembohong kan).

    klo pandai dlm berkata tentu akan mengerti juga hari terakhir adalah sebenarnya hari.
    klo pandai dalam analogi juga mengerti tuhan itu adil, alam ikut tuhannya dan adil dan menyeimbangkan.klo kita tak adil cepat ato lambat akan diadilkan alam. ntar kebanyakan lagi

    salam, dan ikut-ikutan omongan para imam dan para pendidik yang jujur klo diatas sesuai dengan yang kebenaran dipake aja klo salah jangan dipake dan buang aja.






  77. From Abu Tsani on 01 July 2008 19:36:38 WIB
    Bangsa Indonesia akar budayanya adalah Animisme Dinamisme, setelah mengenal Hindu dan Bhuda baru Islam masuk untuk menyampaikan agama yang benar, namun ketika Islam berkembang baru tumbuh tunas, batang dan daun jika berbuahpun belum masak benar, serta mutu buahnyapun tidak kwalitas export alias buah lokalan,datang yang namanya wereng/hama para kafirun Belanda, Portugis, Ingris dan Jepang merusak tanaman Dinul Islam tersebut.
    Jika Pancasila dianggap sebagai ruhnya bangsa Indonesia, itu tidak salah tetapi yang perlu menjadi perhatian kita adalah bahwa dengan menempatkan Pancasila sebagai dasar dan sumber dari segala sumber hukum bagi kehidupan kita ini secara pribadi, secara otomatis akan menempatkan quran dan hadis yang merupakan sumber hukum dinul Islam menjadi hiasan saja atau sekedar bacaan tanpa ruh,ini berarti pula membatalkan hukum-hukum yang bersumber dari Allah.
    Saudaraku yang seiman tahukah kamu apa akibat dan konsekuensinya meninggalkan hukum Allah, jika dengan sadar anda melakukannya anda telah melepas keimananmu dan anda telah keluar dari Islam menuju kekafiran seperti lepasnya busur panah.
    Jika kamu orang yang taat dan takut akan Allah dengan sebenar-benarnya rasa takut. Anda tentu akan kembali menempatkan dinul Islam sebagai sumber dari segala sumber hukum, karena hanya dengan itulah tauhid anda akan lurus seperti yang diajarkan para nabi dan rosul Allah. Tinggalkanlah Pancasila, Pancasila hanya rekaan dari Sukarno , Yamin, dkk. yang tak pantas disejajarkan dengan Allah, apa lagi kalian tempatkan keutamaannya di atas Allah, ini sungguh kesalahan besar, itulah sebabnya bangsa ini tidak pernah diridoi Allah, kerusakan dimana2.
    Wahai Gus dur Yang mengaku Islam, Siapa sih tuhanmu tentu anda menjawab Allah, memang itu yang diajarkan Islam, La Illah ha ilallah maknanya jelas sekali bahwa islam menolak segala bentuk tuhan-tuhan yang ada kecuali satu Tuhan yaitu Allah.
    Bagaimana dengan Pancasila, Ketuhanan Yang maha Esa tidak akan pernah sama dengan Islam, Ketuhanan Yang Maha Esa memberi justifikasi bagi orang-orang yang membuat tuhan-tuhan baru selain Tuhan yang berhak yaitu Allah. Tuhan bagi Pancasila adalah siapa saja, atau apa saja yang penting dia disembah oleh orang atau kelompok orang, Pancasila secara teks tidak membenarkan Islam, sebab kalau tuhan yang satu ini hanya Allah tentu tuhan-tuhan yang lain tidak punya tempat,faham Pancasila seperti fahamnya jahiliyah di Mekah yang mengaku banyak tuhan untuk sesembahan,dengan inilah Allah mengutus rosulnya untuk merubah kejahiliyahan mereka ke jalan yang benar dengan meluruskan ke agama tauhid/ dinul Islam. Lalu apakah setelah mendapat petunjuk yang benar kita kembali kejahiliyah lagi, karena kita didoktrin dengan Pancasila yang mana paham Pancasila bisa memasukkan siapa saja jadi tuhan selain Allah. Ini jelas racun bagi umat Islam, kalau umat lain menerima Pancasila silahkan tapi bagi Islam La illaha ilallah adalah harga mati.
    Saya berharap Gus Dur kembali ke tauhid yang benar mengajak para nadiyin untuk kembali ke Islam sesuai ajaran para Rosul, tentu tujuannya untuk keselamatan umat, dan pancasila adalah thougut yang harus di jauhi.
    semoga anda mendapat hidayah amin....
  78. From Arebuuud on 01 July 2008 23:46:19 WIB
    Terima kasih mas Paul.

    Saya tidak membela keyakinan manapun.
    Saya hanya akan mendakwahkan apa yang saya yakini kepada orang lain. Orang mau menerima atau tidak, itu hak dia.

    Penyangkalan dan penyangkalan, sampai kapanpun kita akan banyak menemui penyangkalan. Kalau kita sayang dengan keyakinan kita, ya kita dakwahkan kepada orang-orang. Tapi tidak dengan memberantas keyakinan orang lain. Bahkan sampai melarangnya. Selama keyakinan itu tidak melanggar undang-undang negara.

    Kalau masalah penyangkalan Ahmadiyyah itu disebut penghinaan sepertinya kok sangat lucu sekali.
    Sekali lagi, itu hanyalah masalah penafsiran.
    Kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk membuka buku-buku ulama Islam terdahulu, kita akan sangat banyak sekali menemukan berbagai penafsiran, saling menyesatkan, benar-benar amat sangat banyak.

    Kalau Ahmadiyyah menafsiri "Khatamunnabiyyin" sebagai stempel/penghulu/tersempurna diantara para nabi, itu hak mereka. Mereka juga mempunyai dalil.

    Mungkin perlu kita buka buku "Lisan al-Arab" karya Ibnu Mandhur, buku ini adalah kamus bahasa arab berbahasa arab, disini kita bisa menemukan ma'na satu "kata" sampai sepuluh penafsiran. Semuanya mungkin, tergantung korelasi dengan keterangan-keterangan lainnya, pemahaman dan imaginasi dari si penafsir.

    Apakah pendapat umum harus selalu yang dimenangkan, wah lucu sekali jadinya, masalah keyakinan kok mengikuti keyakinan umum.

    Sejarah mencatat bahwa dalam Islam banyak sekali terdapat aliran. Kalau kita meyakini bahwa keyakinan kita adalah sesuai dengan sabda nabi Saw. tentang "Ahlussunnah wa al-Jama'ah", aliran lain pun juga meyakini seperti itu. Syiah menurut syiah pun Ahlussunnah wa al-Jama'ah. Mu'tazilah pun mengaku sebagai Ahlussunnah wa al-Jama'ah.
    Lalu siapa yang benar-benar Ahlussunnah Wa al-Jama'ah? Kita serahkan kepada tuhan. Tugas kita hanya melakukan dan mendakwahkan kebenaran sesuai dengan yang apa kita yakini tanpa memaksakan. Saya yakin Allah amat maha bijaksana, tidak terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti itu, Allah lebih melihat amal perbuatan kita, seberapa baik kita bertanggung jawab terhadap hidup ini, seberapa kuat kita berbuat baik kepada orang lain.

    Bahkan, kalau kita memaksakan, saya hawatir justru kita yang akan di laknat oleh Allah.
    Ingat "La Ikraha Fi al-Din" Tidak ada paksaan dalam agama.
    Jangan sampai kita mengkafirkan orang lain.
    Ingat hadits nabi "Man Kaffara Musliman Faqad Kafar" Siapa yang mengkafirkan muslim lain, maka dia sendiri menjadi kafir.

    Terima kasih.
    Asik berdiskusi dengan bung Paul dan bung Richard
  79. From J. Sulaiman on 04 July 2008 22:34:18 WIB
    Arebuuud, saya setuju dengan anda. Pemaksaan keyakinan kepada orang lain adalah sangat mengerikan. Itu yang sekarang terjadi kepada penganut Ahmadiyah. Penentang Ahmadiyah menuntut supaya Ahmadiyah dibubarkan. Kemudian orang2nya? Ya terpaksa harus mengingkari keyakinannya sendiri. Bagi penentang Ahmadiyah istilahnya bertobat, tapi bagi penganut Ahmadiyah sama saja dengan dipaksa untuk murtad dari ajaran yang telah mereka yakini. Itu pilihan mengerikan yang pertama.

    Pilihan kedua tak kalah menakutkan, yaitu harus keluar dari Islam bila tidak mau bertobat!

    Sementara dihadapkan pada dua pilihan mencekam itu, kekerasan terhadap mesjid dan rumah mereka terus berlangsung. Penganut Ahmadiyah, terutama kaum wanita dan anak2 dicekam rasa ketakutan luar biasa. Ini tak ubahnya seperti kejadian penganiayaan di luar batas terhadap orang2 yang dituduh komunis tahun 1965. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang penuh dengan kasih sayang.

    Hal ini masih ditambah dengan sikap Pemerintah yang terkesan lemah dan kurang melindungi warga negaranya. Kita harus ingat, bahwa penganut Ahmadiyah bukanlah warga negara kelas 2, mereka adalah warga negara yang harus dijamin hak-haknya secara penuh.

    Penganut Ahmadiyah juga Muslim, jadi tak mungkin terpikir oleh mereka untuk menodai Islam. Bila mereka yakin, bahwa setelah Nabi Muhammad ada nabi atau imam lain yang tidak membawa syariat, seperti dijelaskan Arebuuud, mengapa mereka harus disalahkan? Mereka sudah yakin itu, bagaimana mungkin orang lain bisa mengubahnya? Jangan pernah menghakimi atau menyalahkan orang lain berdasarkan apa yang dia yakini, karena tidak akan berhasil. Saya melihat berita di TV hari ini, seorang Habaib yang datang secara baik-baik kepada pemuka-pemuka Ahmadiyah, untuk mempertobatkan mereka. Kedatangannya disambut dingin, dan usahanya ditolak mentah-mentah, sehingga Habib itu dan rombongannya pulang dengan tangan hampa.

    Sementara itu Abu Tsani menyoroti Pancasila dari perspektif Islam, dan mengajak supaya kita meninggalkannya karena tak pantas disejajarkan dengan Islam.

    Tentu saja Pancasila tidak berpretensi menyaingi agama dan memang tidak perlu, karena domain-nya memang berbeda. Pancasila adalah dasar bernegara, sedangkan agama adalah domain pribadi masing-masing orang. Bila salah satu silanya menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, maksudnya adalah Pancasila menghargai dan menghormati hak beragama setiap orang.

    Para pendiri negara ini dengan bijaksana telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, karena dari semula pendirian negara ini didasarkan pada penghargaan terhadap perbedaan suku, agama dan keyakinan politik.

    Domain agama mutlak harus dipisahkan dari negara, karena bila negara didasarkan pada Agama, akibatnya agama menerima kekuasaan politik. Dan Agama yang memiliki kekuasaan akan menjadi tirani atau diktator religius.

    Sejarah telah membuktikan bahwa ketika di Eropa, Gereja atau Agama Kriten memperoleh kekuasaan negara, Gereja menjadi tirani dan melakukan penindasan dan penganiayaan. Mengapa? Karena agama yang seharusnya menjadi domain pribadi, mendapatkan legitimasi kekuasaan sehingga keyakinan semua orang dipaksa untuk diseragamkan dan orang yang punya keyakinan yang berbeda, apalagi beragama lain, mau tak mau akan dianiaya.

    Sekarang setelah Gereja kembali ke posisinya yang benar, penganiayaan itu tidak terjadi lagi. Paus Katholik hanya menjadi pemimpin politik dalam sebuah negara yang terkecil di dunia, walaupun ia masih menjadi pemimpin spiritual umat Katholik di seluruh dunia.

    Semua negara memisahkan domain agama dan negara, kecuali mungkin Arab Saudi. Dan saya kira yang namanya Departemen Agama memang hanya ada di Indonesia dan sedikit negara lain, karena agama memang urusan pribadi dan bukan urusan negara.

    Bila ada yang menginginkan ditegakkannya Syariat Islam di Indonesia, menurut Gus Dur, Nahdatul Ulama dalam salah satu kongresnya menyatakan bahwa Syariat Islam telah ditegakkan di Indonesia. Tidak secara formal, karena memang tidak perlu dan bertentangan dengan cita-cita para pendiri Negara ini.

    Kita dapat merasakan bahwa sebenarnya Syariat Islam telah menjadi bagian kehidupan kita bernegara. Misalnya ketentuan Hukum yang berlaku di Indonesia tentang pelarangan judi dan konsumsi minuman keras. Kedua hal itu ilegal, dan pelanggarnya dapat dipidana. Bila seseorang berjudi atau minum minuman keras, dia sebenarnya tidak merugikan siapapun. Tapi dia tetap dapat dipidana karena Hukum kita sebenarnya sebagian telah mengadopsi Syariat Islam.

    Jadi marilah kita menjalankan agama kita secara benar, tapi tetap menghargai penganut agama lain, atau penganut agama yang sama tapi mempunyai keyakinan yang berbeda.

  80. From Arebuuud on 09 July 2008 08:47:46 WIB
    Terima kasih Saudara j. Sulaiman

    Sekedar, untuk tambahan referensi.
    Bagi teman-teman yang ingin membaca tulisan-tulisan tentang Ahmadiyyah, silahkan kunjungi http://arebuuud-download.blogspot.com/ Siapa tahu bermanfaat, dan menambah pengetahuan kita tentang berbagai penafsiran-penafsiran dalam agama.
  81. From Argo Wuryanto on 15 July 2008 08:07:18 WIB
    Assalamu\'alaikum,

    Salam kenal semua, sedikit memberikan komentar tentang ahmadiyah. Jujur saja sebagai seorang muslim saya sangat2 tidak sependapat dengan aliran ini, jikalau menisbatkan ada Nabi baru setelah Nabi Muhammad s.a.w., tapi saya juga sangat tidak setuju dengan cara2 FPI menggunakan kekerasan.

    Pluralisme yang sekarang ini sedang digembar-gemborkan di Indonesia kalau boleh tahu dari mana sich asalnya??
    Baratkah (Amrik, Eropa atau manakah?), sebegitu tinggikah negara2 tersebut menghormati keberagaman, sampai2 menyerang negara2 yang notabene muslim dengan dalil memlindungi warga negara negara tersebut (conto kasus Irak).
    Sementara kita sebagian bangsa indonesia malah ikut2an dengan hal ini. oh iya aku ga anti barat lho..., wong saya kerja di perusahaan bule kok.

    Bagaimana Islam terhadap Pluralisme, kayaknya udah masyhur dalam sejarah ketika Islam menguasai Palestina, Spanyol dan dalam penaklukan Makkah seperti yang pernah GusDur sampein, Islam (para pemimpinnya) sangat menghormati perbedaan, silahkan beragama sesuai dengan keyakinannya masing2.
    Malah ada kisah bagaimana Ali bin Abi Thalib seorang pemimpin Islam yang masyhur juga, sering terlambat sholat shubuh, penyebabnya ternyata beliau mengikuti seorang tua yahudi karena beliau takut dia terjatuh di jalan.

    So kalau saya pluralitas dalam artian beragama menurut keyakinan masing2, monggo....
    Yang menjadi masalah adalah pluralitas dalam agama, sehebat apakah kita ??? dalam agama cuman ada 2 sumber hukum utama Qur\'an dan Hadist ga ada yang lain, kalau ada masalah kembalikanlah ke sana, terlepas ada Ijma\' qiyas dsb. tetapi itu hanya bisa dilakukan oleh ulama2 utama bukannya oleh para ulama kita yang senang berpolitik dan mencari kekayaan dunia semata.

    Sedikit tambahan masalah Qur\'an dan Hadist, ada perkataan 4 Imam Madzhab (Imam hanafi, Imam Maliki, Imam syafi\'i, imam Hambali)==> Jika ada pendapatku yang menyelisihi hadist yang datang setelahku, maka ikutailah hadist itu janganlah perkataanku ==>
    Apa yang di Indonesia tiap orang (yang ngakunya ulama)ngomong sendiri2, ya ga bisa gitulah ada yang bisa dijangkau oleh akal kita tapi ada yang ga, sehebat apa sich akal manusia.
    so kalo aku masalah keyakinan tetep qur\'an dan sunnah patokannya, kalo memang salah ya salah ga terus berlindung di pluralisme dsb.

    Wassalam,
    argo
  82. From akhyari hananto on 11 August 2008 14:06:10 WIB
    sebelum bicara demokrasi lain lainnya, baiknya Gusdur bicara demokrasi di NU, dan PKB.
  83. From husen al-atas on 18 August 2008 20:27:17 WIB
    hahahaha...gusdur...gusdur jadi si buta dari gua hantu aja dechhh Nt gus dur....oraNg udah tau gusdur itu pernah kena stroke,yaa pastiii otakNya juga udah cacat..ini masih ajeee ada yaNg suKa..dapet duit berape sichh nt..udah nt sichhh kiyai buangan aja..depat saMa ana juga nt palinggg strokeNyee kaMbuh truss modarr dechhh...eCchhh inget sbeLum ngomong periKsa duLu tuch otak nt yaaa durrrrrr.haahahahaha...

    saLam dari habib se indoNesia mudah2an Nt insyaf kaLau g jadi laknatALLAH sama nt..insyallah..Aamiin
  84. From Timur Bagaskara on 14 October 2008 12:16:14 WIB
    Pancasila selalu menjadi tolak ukur untuk menilai orang atau kumpulan orang di Indonesia. Sebenarnya orang atau kumpulan orang seperti siapakah yang bisa disebut pancasilais, apakah seperti sukarno penggali naskah pacasila yang mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup dan semena-mena memperlakukan istri-istrinya, atau seperti Gus Dur yang jelas-jelas tidak melihat tapi bisa ngomong kalau Inul jogednya tidak porno atau siapa? tolong kepada siapapun yang percaya pada pancasila beri saya contoh siapakah orang yang berjiwa pacasila? ada atau tidak? kalau tidak ada ngapain dipakai sebagai landasan hidup orang indonesia?
  85. From syaifull on 24 October 2008 11:07:09 WIB
    gusdur....Ketika PKB sedang seru-serunya berseteru, tiba-tiba Gus Dur pergi keluar negeri tepatnya ke Amerika. Mengapa Gus Dur yang sampai mencak-mencak ketika bersitegang dengan Muhaimin berebut PKB, secara tiba-tiba melakukan lawatan (begitu kabar resminya) ke negeri Paman Sam? Mirip tentara dipanggil komandannya, ngibrit.

    Saya membaca beberapa berita yang menjelaskan alasan Gus Dur ke Amerika. Ternyata Simon Wiesenthal Center akan memberikan penghargaan Jewish Medal of Valor pada tokoh ulama nasional Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Gus Dur sendiri yang mengumumkan bakal menerima penghargaan yang merupakan salah satu torehan prestasi dalam perjalanan hidupnya. Penghargaan itu pastilah sangat berarti bagi cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu. Bahkan Gus Dur menyebut 6 dari 12 penerima penghargaan serupa berlanjut dengan anugerah nobel perdamaian.

    Tapi, apakah Simon Wiesenthal Center? Siapa di belakangnya? Simon Wiesenthal Center adalah LSM internasional yang didirikan untuk melindungi umat dan kepentingan Yahudi di seluruh dunia.

    "Berdiri bersama Israel, membela keselamatan umat yahudi di dunia, dan mengajarkan hikmah holocaust pada generasi mendatang," demikian sekelumit profil Simon Wiesenthal center dari situs-nya yang beralamat di http://www.wiesenthal.com. Eksistensi LSM yang bermarkas di Los Angeles tersebut sudah diakui oleh lembaga-lembaga internasional lainnya. Wiesenthal mengklaim berkekuatan 400.000 kader di AS dan sudah terakreditasi PBB, UNESCO, dan Konsul Eropa. (Selengkapnya baca di Detik).

    Apakah memang benar sinyalemen selama ini bahwa Gus Dur adalah antek yahudi? Dia sengaja direkrut sebagai agen yahudi untuk mengacaukan Indonesia yang dianggap sebagai sumber kekuatan kebangkitan Islam. Sepak terjang Gus Dur selama ini selalu berseberangan dengan kelompok Islam lain dengan alasan pro demokrasi atau hak azasi. Sinyalemen tersebut mulai terbuka dengan pemberian penghargaan dari Simon Wiesenthal Center.

    Bahan: Antara, Detik, Indonesiamatters
  86. From uslih on 18 November 2008 12:02:31 WIB
    gue paling gak terima kalo da yang sampe mendiskriminasikan Gus Dur. trus terang gue AGB (Anak Buah Gusdur dan pasti ga rela kalo tokoh pavorit gue da yang ngelecehin? sbgai mahluk yang bernama manusia gue sadar bangt bahwa kita tidak luput dari khilaf dan salah bgtu jga dngan Gus Dur. tapi bagi yang meng under estimate Gus Dur gue mau tanya sdrhana aja, sudah berapa kitab yang lo ngaji? udah berapa buku yang lu baca, and udah brapa riset yang lu buat? Sbagai mahluk yang punya hak bebas beropini gue sangat apresiasi hal itu. tapi pake akal sehat lu dong kalu mau berparadigma! pesen gue, janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu tidak berlaku adil kepdanya! bye...
  87. From prambudi on 03 December 2008 15:45:04 WIB
    Buat yang merasa Islam
    Jaman berbalik sudah, pandangan berbalik, pikiran berbalik, manusia yang sesungguhnya membuat onar, provokasi dengan pendapat-pendapatnya, virus akidah(Islam), penentang Allah SWT sesungguhnya, dianggapnya manusia yang cerdas, moderat, demokratis (demokrasi produk orang kafir yang tak kenal halal haram), di puja-puji sana - sini.

    Kalau memang dia demokratis mengapa mengurus PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)malah menjadi PKB (Partai Kyai Beringas)?

    Buat simpatisannya, semoga anda tidak keliru dengan memuja berlebihan. Lebih suka mana, "Islam dihina" atau "Gus dur dihina? Tentu jawabnya pilihan pertama, seperti waktu tampil di TV, ada yang rela mati demi GD, kasihan ya?! Meninggalkan Islam begitu jauh tanpa terasa, tapi berprasangka dapat pahala! Mintalah pahala pada GD! Jika dia mampu!

    Semoga bukan tanda-tanda Matahari akan terbit dari arah Barat.
  88. From rudi on 03 December 2008 16:06:10 WIB
    @ Uslih
    Uslih said ...
    gue paling gak terima kalo da yang sampe mendiskriminasikan Gus Dur. trus terang gue AGB (Anak Buah Gusdur dan pasti ga rela kalo tokoh pavorit gue da yang ngelecehin? sbgai mahluk yang bernama manusia gue sadar bangt bahwa kita tidak luput dari khilaf dan salah bgtu jga dngan Gus Dur. tapi bagi yang meng under estimate Gus Dur gue mau tanya sdrhana aja, sudah berapa kitab yang lo ngaji? udah berapa buku yang lu baca, and udah brapa riset yang lu buat? Sbagai mahluk yang punya hak bebas beropini gue sangat apresiasi hal itu. tapi pake akal sehat lu dong kalu mau berparadigma! pesen gue, janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu tidak berlaku adil kepdanya! bye...

    Rudy Reply
    Bukan patokan seorang itu ahli dan lurus-lurus saja dalam beragama dengan banyaknya kitab yang dikaji, buku yang dibaca,riset yang dibuat. Siapa saja, aku, kamu, mereka, dan seluruh umat Islam yang di dunia, jika melenceng dari Al Qur\'an dan Sunnah, sesat namanya, Menampik kebenaran Al Qur\'an dan As Sunnah, kafir namanya, meskipun hafaz Al Qur\'an dan hafaz hadits <400.000 hadits. Anda bersahadat 1.000 kali sehari, dan menganggap semua ucapan GD (khususnya) dan orang lain benar, syirik namanya. Bagi saya, biarpun sejagad raya ini ada yang menganggap seseorang itu ahli agama, alim, suci tetek bengek gelar yang \"wah\" saya tak begitu saja percaya sebelum ucapan dan tindakannya sesuai dengan Al Qur\'an dan Al Hadits, untuk hatinya saya serahkan pada Allah SWT.

    Uslih.....
    Saya lebih tak rela dari kamu, jika Gus Dur itu sombong sampai rukun haji (syai) ditinggalkan dengan alasan Islamnya berbeda dengan Islam lain, menghina al Qur\'an, sebagai panutan berselingkuh (padahal menisbatkan diri pada Islam), membela Israil, menjelek2an Islam di mata kaum Non Islam (lihat VCDnya pada acara di Gelora Senayan yang dihadiri 10.000 pendeta).

    Aku tak minta kau percaya dengan pendapatku, yang aku minta gunakan sebaik-baiknya akalmu untuk memahami kitab Tuhanmu dan Petunjuk Rasulmu. Insya Allah jalan yang terang akan ada dihadapanmu.
  89. From Cahyo Baskoro on 01 February 2009 07:03:32 WIB
    Sudah bisa ditebak, setiap ummat islam sedang berkepentingan dengan filosofi dasarnya (baca:Aqidah), maka muncul sinisme dari kelompok ABANGAN.
    Atas nam Pluralisme, HAM, dlsb, kelompok(militan)islam digempur ramai2.
    Dalam matematika, tentang keragaman,bila ada 5 kelompok/variabel, sebarannya 70%,6%,4%,15%,5%, maka hampir pasti indeks keragamannya amat rendah, artinya, komunitas itu DOMINAN pada yang 70% tsb.
    Kalau Pluralitas saya padankan dengan keragaman,dan variabelnya adalah populasi penganut agama di Republik ini, maka kita tampak lucu bila dengan gagah mengatakan: Indonesia amat Plural, amat sangat heterogen.
    Yang mungkin heterogen adalah di kota besar, atau di ruang kantor Pusat PDIP.
    Di NTT, pasti dominan Katolik, Di Bali pasti dominan Hindu, di Tapanuli Utara (amat mungkin) dominan Protestan.
    Jadi tidak usahlah berteriak soal pluralisme, hanya untuk memuluskan agenda kelompoknya sendiri yang ingin lepas dari aturan agama(baca: sekuler).
    Kristen, Katolik mungkin telah membiasakan diri dengan 'Separasi' antara agama dgn negara, karena mungkin tidak ada "syariat" yg mengikat penganut agama ini. Tapi, tidak gampang memisahkan ummat islam dari ikatan syariatnya.
    Kecuali pada kaum penganut Islam KTP,yg tdk pernah mau tahu urusan agmaya, karena tdk pernah mempelajarinya. Sehingga, pengetahuan ttg Ilsam hanya sebatas acara / ritual pokoknya saja, misal: kelahiran, perkawina & kematian.Selebihnya, hanya 'mengadopsi' aturan2 hidup dari berbagai sumber , termasuk dari pemikir nin muslim.
  90. From Yopie on 06 May 2009 19:52:29 WIB
    Semasa GUSDUR jadi peresiden kalu dia menyindir tokoh biang rese suatu kerusuhan pasti dengan inisial Misal nya Kolonel K, tehnik seperti itu seperti kondektur bus mencari penumpang yang kentut diantara bayak orang dia tinggal bilang: wah yang kentut belum bayar nih.. si penumpang yang kentut tapi merasa sudah bayar akan teriak :Sudah kok...
    nah itu lah Gusdur ABU NAWAS abad 21
  91. From Rimbow on 09 July 2009 14:34:58 WIB
    Pemilu selanjtnya saya harapkan Gus dur bisa membuat partai baru agar Gus dur bisa mencalonkan kembali menjadi president menurut saya gampang-gampang aja itu Gus dur membuat partai baru toh juga sampai sekarang pendukung dari Gusdur tetap loyal kepada Gusdur. bikin partai baru itu sih gamapang aja.... gitu aja kok repot.
  92. From strez on 19 November 2009 13:05:15 WIB
    yah GUS, begitu semakin banyak bermunculan sekte-sekte puritan. Kelemahan dunia pendidikan "formal yang sok formal" di negeri ini tidak bisa membendungnya.

    Betapa penting seharusnya pendidikan sejarah di negara kita, mampu memahamkan generasi muda saat ini agar lebih memaknai kata "menghargai keberagaman" lebih dalam. seperti yang tertera pada landasan pijak lambang negara kita burung Garuda $ "Bhineka Tunggal Ika".

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home