Articles

Pilkada DKI: Menarik Pelajaran dari Kekecewaan

Tempo
09 July 2007

Tempo minta Wimar menulis soal Pilkada DKI. Mereka memuatnya hari ini dalam Majalah Tempo edisi 15 Juli 2007 dengan judul "Pelajaran dari Kekecewaan". Di bawah ini adalah teks versi aslinya.

Wimar Witoelar

Demokrasi melaju dengan cepat di Indonesia, dan Pilkada DKI 2007 diharapkan akan membawa kemajuan mutakhir. Maunya sih begitu.

Kenyataannya, demokrasi akan anjlok pada Pemilihan Gubernur DKI bulan Agustus 2007 ini, kalau tidak terjadi mukjizat politik.

Persaingan sudah hilang ketika semua partai kecuali satu ramai-ramai mendukung satu orang. Calon satu lagi didukung satu partai saja. Partai yang ramai-ramai itu tidak punya visi yang sama, kecuali keinginan berbagi kekuasaan. Calon yang didukung juga tidak banyak bersikap, hanya menampilkan wajahnya di billboard, iklan televisi dalam publikasi DKI yang dibiayai APBD.

Pinter juga tim suksesnya. Mereka merasa calonnya pasti menang, Jadi, buat apa ambil risiko dengan menyatakan sikap? Menghadapi wartawan, cuman bikin naik darah aja, karena mereka selalu menyalahkan dia untuk  banjir, macet, kesemerawutan, mentang-mentang dia Wakil Gubernur. Kalau bilang dia nggak bersalah, harus menyalahkan Gubernur yang mensponsor dia.

Kampanye saingannya, Adang Daradjatun, kena di hati. Tidak menggunakan uang DKI, dan menunjukkan kepedulian:

“Mau banjir terus? Cappee deh...”.

“Bosen Macet ? Susah Kerja? Hidup Sulit?”

dan yang paling nyentil:  “Narkoba Makin Menggila”

Sayang partai pendukungnya kurang nyaman untuk semua orang. Terus, calon yang dipilih tidak memancarkan kebersihan. Dari mana uangnya yang banyak itu? Hasil jabatan sebagai orang kedua di Kepolisian RI? Katanya uangnya dari istrinya yang menjadi pengusaha. Usaha apa?

Bram yang mengaku sebagai ‘rakyat non-partai’ menulis di website perspektif.net, ‘Saya pribadi sedih sekali melihat, sebuah partai yang lumayan 'bersih' (dibandingkan partai yang lain) terpaksa mendukung calon busuk dengan alasan yang sampai sekarang tidak diketahui oleh kader2nya sendiri. ‘

Banyak pendapat lain dalam demokrasi kita. Mitra bisnis DKI yang artis, kontraktor, konsultan, developer dan pakar yang masuk tim sukses Foke. Juga stasion televisi, pemilik toko dan pengelola mall yang dihidupi oleh Gubernur DKI.

Setahun sebelum Pilkada, orang berlomba ingin sosialisasi. Tapi begitu menghadapi isu nyata, buyar. Seperti tim sepakbola yang main cantik tapi tidak bisa bikin gol. Acara sosialisasi di televisi berawal dengan cantik, tapi akhirnya tidak mampu membedakan ‘good guy’, dari ‘bad guy’.

Sekalinya orang mempertanyakan penyelewengan kampanye di televisi, malah diberhentikan. Sebaliknya anggota tim sukses dipertahankan. Jadinya lucu-lucu tapi tidak ada nyali. Lucunya lagi, calon gubernur yang paling sibuk kampanye tidak mau tampil depan kamera ‘live’ kecuali ada jaminan tidak akan ada pertanyaan yang susah.

Pilkada DKI semula memberi harapan akan muncul orang yang bersih. Tapi, seperti ditulis Redi dalam website perspektif.net, ‘Foke tidak bisa diterima karena sebagai Wagub. Prestasinya tidak luar biasa: bajir, macet, kemiskinan, harga mahal dst dst. Adang juga tidak bisa diterima karena sebagai pejabat tinggi polisi, prestasinya juga tidak luar biasa: tingkat keamanan yg rendah, kasus pencurian, perampokan, kejahatan jalanan dst dst... Kedua kandidat bukan calon yg baik.’

Beberapa bulan orang masih optimis, dengan munculnya nama-nama yang mendapat kepercayaan seperti Rano Karno, Faisal Basri, Agum Gumelar, Sarwono Kusumaatmadja. Faisal Basri berteguh pada sikap dan terlempar dari percaturan. Agum maju mundur sampai hilang di tempat parkir. Sarwono bisa memikat dan mengikat PKB dan PAN, tapi kemudian lepas lagi oleh arus pragmatisme di kedua partai itu.

Kasus Rano Karno lebih mengecewakan lagi. Bersiap-siap selama dua tahun dengan citra kuat sebagai Anak Betawi, kuat dalam retorika dan banyak pendukung, dia pernah dianggap calon legitimate. Tapi akhirnya dia hanya jadi pemain iklan Fauzi Bowo, menjual brand paling sukses seumur hidup dia. Kasihan, Si Dul.

Harapan akan adanya calon independen sudah hilang untuk kali ini. Seperti diduga, elite politik  menolaknya, termasuk pakar yang dibeli oleh partai. Calon independen membuat ngeri calon yang sudah keluar modal milyardan. Fadjroel Rahman menunjukkan bahwa sebenarnya cagub di Pilkada DKI sudah melanggar,  berdasarkan praduga mereka menyetor ke parpol. Djasri Marin dan Slamet Kirbiantoro mengatakan dengan jelas bahwa mereka menyuap petinggi partai politik. Baca

Pengalaman Pilkada DKI membuktikan bahwa partai politik kita tidak bisa dipercaya. Terima kasih kepada 20 parpol yang membuktikan kepada  kita bahwa mereka belum siap memberi pilihan kepada rakyat.

Tapi demokrasi tidak diukur dari hasil sesaat. Demokrasi tidak menjamin keadilan dan kesejahteraan, hanya meletakkan dasarnya. Paling penting, demokrasi tidak ditentukan dalam satu Pilkada, tapi dalam proses sehari-hari. Dengan kekecewaan Pilkada DKI 2007, lebih beralasan lagi menuntut pembersihan partai politik, termasuk menambah dukungan untuk calon independen.

Baca juga:

Print article only

88 Comments:

  1. From Satya on 09 July 2007 09:51:21 WIB
    sempet ragu kok ada yg anggap rano karno calon legitimate. very nice guy, tapi kan cuman artis. ternyata maen iklan fauzi bowo. oh ya wajarlah, sesuai kemampuan.

    maen iklan? serahkan pada ahlinya!
  2. From febianto on 09 July 2007 11:17:11 WIB
    Mungkin 'cara' membangun dmokrasi harus diubah dgn tidak lagi fokus pada perkotaan atau top down effect atau lainnya, tapi lebih penting membangun demokrasi dari tataran periperal ato pingiran seperti ala mao ze dong dgn cara 'desa mengepung kota' ato ala sudirman dgn ber-gerilya-nya, dgn konsekwensi waktu yg dibutuhkan lebih lama dr harapan smua org.
    Ato mungkin sebagian org sudah melakukannya? tapi belum nyata hasilnya (plg tdk hslnya tdk terlihat di DKI)?
    teuing ach, peuting!! :))

    plg tdk forum ini berguna utk trus dilanjutkan.
    thx Pak Wimar!
  3. From bsimarmata. on 09 July 2007 11:21:15 WIB
    pilkada dki adalah gambaran pilpres yang akan datang.kalau sekarang kurang sreg dengan foke dan adang,karena pilihan kita antara nilai 5 dan 4,sama-sama tidak lulus,tetapi karena harus punya gubernur maka gue pilihlah yang punya nilai 5.pilpres tahun 2009 pun sama saja,seperti kata orang L4,lho lagi lho lagi.Artinya nama-nama SBY,JK,Mega,Wiranto dan Amin.Paling nama baru Yusril,karena sakit hati sudah bilang mau maju,tapi semuanya juga cuman nilai 4 dan 5.selanjutnya bisa tebak sendiri.
  4. From Bram on 09 July 2007 14:42:43 WIB
    Pelajaran dari kadal-kadalan Pilkada kira-kira apa ya pak Wim?
    Karena menuntut pembersihan partai politik, kayaknya agak absurd dan mustahil dilakukan kalau tidak dari 'dalam'. Menambah dukungan untuk calon independen pun pintu konstitusi nya pun sepertinya sudah ditutup. Bukannya anti demokrasi, tetapi disini faktor figur pemimpin nya yang masih lemah, kita butuh pemimpin yang mempunyai AKHLAK yang baik, bukan yang punya uang banyak. Bisakan pemimpin model ini berjaya dengan sistem Demokrasi?
  5. From wahyudin permana on 09 July 2007 18:52:20 WIB
    Apapun berbagai macam pendapat yang ada tentang pilkada DKI nanti, namun kita sebaiknya tetap tidak golput. Kita tetap harus memilih diantara dua calon yang ada. Memang, semua calon apapun pasti ada kekurangannya.

    Maka dari itu, pada kedua calon yang maju, kita harus memilih dengan hati2 dan dengan hati nurani kita. Menurut saya, sampai sekarang, kalau rakyat jeli, sudah keliatan calon yang mempunyai visi misi, walaupun calon tersebut bukan tanpa cacat.

    Maka dari itu, kita tetap harus memilih, baik adanga maupun foke, kita harus memilih diantara keduanya. Namun, setidaknya pilihan kita dari hati kita masing2, bukan karena pengaruh orang lain.
  6. From Zavry W. Zaid on 09 July 2007 18:58:06 WIB
    Yang kuat modal yg menang, krn semua kini bisa dibeli. Kasian yg idealis dan tentu jg kasian rakyat Jakarta or Indonesia. Demokrasi? Dimana makna dari Rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat? Rakyat yg mana? Makanya bangkitlah kaum muda yg berintegritas! Jgn 4L lg,udah bosan incl. RI-1, jangan 4L deh. Kaum muda yg tergabung dalam Lingkar Muda Indonesia mesti ada yg berani nyalon 2009. Kumpulin dana halal dr masyrkt dn kembalikan dalam bentuk prestasi n kinerja tinggi kpd masyrkt. Sementara utk DKI, gmn khabar GJM-nya Fadjrul, apa msh ada peluang dukung calon independen? Msh tunggu MK? Klo yg maju cuma Foke or Adang, kacian deh Jakarta sbg barometer Pilkada, maka menangislah Indonesia. Quo vadis?
  7. From Heri Muharadi on 09 July 2007 19:05:04 WIB
    Yang pasti pilihan untuk golput sangat membuat kita mundur 100 langkah kebelakang... karena media partisipasi kita sbg rakyat dalam membangun daerah kita ya lewat pilkada... walaupun dengan sangat menyesal dan kelemahan undang-undang membuat cerminan demokrasi saat ini masih jauh dari nilai ideal...

    mari sama-sama kita kembali kepada hati nurani kita... sekali lagi memang kita semua khususnya warga jakarta ada dalam posisi yang sulit....

    Tapi saya masih optimis pilihan terbaik saya sampai saat ini saya jatuhkan kepasanagan Adang-Dani...

    sekurang-kurangnya ada 3 Alasan kenapa pemimpin Baru harus Hadir di Jakarta...

    Pertama,ADANG-DANI lebih memilih berkoalisi dengan rakyat ketimbang dengan elit parpol sehingga jika pasangan ini menang akan menumbangkan budaya Oligarki Politik di Indonesia yang berimplikasi positif pada perkembangan demokrasi kedepan.... di samping itu Pasangan ini lebih sedikit memiliki HUTANG POLITIK jika nantinya menang.

    Kedua, ADANG-DANI didukung oleh Parpol yang selama ini masih jauh lebih baik dibanding Parpol-parpol lainnya... Tetap komitmen untuk bersih dan peduli terhadap kepentingan rakyat banyak.PKS juga terkenal dengan modal SDM nya yang relatif muda dan berpegang kepada idealisme yang kuat serta modal intelektual yang memadai untuk membangun jakarta.

    Dan Yyang ke Tiga, ADANG-DANI lebih berani tampil dimedia untuk menyampaikan gagasannya membenahi jakarta juga secara berani menampik segala tuduhan yang selama ini menyerangnya mulai dari isu pruralisme sampai kepada keterbukaan Adang terkait harta keluarga yang dimilikinya....

    dan ketiga alasan ini yang membuat saya masih optimis Jakarta yang kita cintai ini masih bisa kita benahi....


    Heri Muharadi, Kalideres

  8. From Nurcahya on 09 July 2007 22:19:58 WIB
    Buat Pak Heri Muharadi,

    "Koalisi dengan rakyat" itu menurut saya hanya klaim sepihak, rakyat yang mana yang berkoalisi dengan calon tersebut? Rakyat simpatisan PPP, PAN, PBB, PKB? Rakyat simpatisan PDI-P, GOLKAR, PD? Kayaknya kok nggak, hanya AD-DA dengan rakyat PKS aja.

    Didukung oleh parpol yanng (ngakunya) lebih baik? Itu klaim sepihak juga. Kalo benar SDM-nya bagus, kok nggak mencalonkan Cagub dari internal PKS aja?

    Berani tampil di TV? Dulu juga Anwar Fuadi brani tampil di TV mencalonkan diri jadi presiden tapi nggak ada yang milih dia, bukan? Nggak ada hubungan antara brani tampil di TV dengan kualitas kepemimpinan. Memimpin itu bukan soal tampil indah dan pintar menjawab aja, emangnya kontes Putri Indonesia?

    Saya nggak bilang AD-DA itu jelek, tapi alasan yang dipake Pak Heri itu nggak relevan. Cari alasan lain, deh...
  9. From asep on 09 July 2007 23:14:47 WIB
    Benar Bung WW, pengalaman Pilkada membongkar kebusukan parpol2 yg ada termasuk politik uangnya (termasuk partai2 yg NGUSUNG NAMA AGAMA). Nah skg masyarakat kembali belajar bahwa parpol2 yg ada sekarang (termasuk parpol2 bawa2 nama agama kaya PKS) jg sama buruknya dengan GOLKAR.(sama2 terima DKP, sama2 terlibat politik uang, sama2 haus kekuasaan). Buktinya, mereka yg ngakunya bersih dan kalo bener berkoalisi ama rakyat (huh jargon benerrr...) mundur donk dari proses pilkada. Ini yg keliatan lebih kayak org ragu2..maju-mundur-maju-mundur, (padahal klo mundur, nama PKS bakal melambung dan dapat investasi politik yg besar utk pemilu 2009!). Tapi Gua sih yakin PKS bakal maju terus for all the cost, karena udah terlanjur terima duit Adang sih hihi. Kalo mundur, bisa dibongkar ama Adang tuh politik uangnya (mirip Djasri Marin dan Slamet Kirbiantoro) dan siapa yg tau kalo Adang bukan agennya Golkar juga hihhii tapi kalo maju terus, ya jadi bulan2an Parpol2, KPUD dan keliatan watak PKS yg asli yi haus kekuasaan...jadi ibaratnya kayak tikus kena perangkap hehehe.... tapi bagus juga ada pengalaman gitu, jadi kebongkar kan wajah aslinya parpol2 yg haus kekuasaan hihihih Trims parpol2 udah nambahin ilmu ke kita2 masy biasa!
  10. From Intox on 10 July 2007 01:15:01 WIB
    Saya masih bisa tersenyum soalnya diantara kita masih ada yg ingat bahwa demokrasi itu adalah kebebasan memilih, bukannya keharusan memilih pemimpin.

    Golput bukan artinya tidak peduli, tapi berkeyakinan lain. Dan kebebasan untuk tidak memilih itulah demokrasi.
  11. From redi on 10 July 2007 10:40:26 WIB
    Yg seru dari Pilkada DKI kali ini adl, para Golput-ers gak perlu cape2 kampanye, pasang iklan, cuap2 jargon, jualan politik, sogok kanan kiri, janji2 palsu/buaya, bawa2 nama agama dst tapi tetap aja bakal menang ngalahin Foke dan Adang... hebat gak tuh Golput..

    Kayaknya kalo ada pemilihan politikus for the year tahun ini ya para Golput-ers ini! Bung WW di angkat donk golput2ers ini

    Ayo GOLPUT maju terus!!!!
  12. From sandy on 10 July 2007 12:05:07 WIB
    rasanya memeng kurang seru PILKADA DKI hanya diikuti 2 calon, itu pun dengan calon yang kurang meyakinkan, sayang sekali DKI yang juga ibukota RI tidak bisa melahirkan seorang pemimpinnya yang berkualitas dengan tidak adanya pilihan lain bagi warga DKI untuh gubernurnya. Sayang seribu sayang...
  13. From abiawab on 10 July 2007 13:42:49 WIB
    Benar Bung Intox, saat ini golput pilihan tepat bagi kita yang masih meragukan partai-partai, Saya termasuk masih golongan golput, termasuk dalam pemilihan presiden kemarin, buktinya juga samakan presiden kita belum bermutu benar. Kayanya memang belum ada partai yang baik dikita itu, semua orang partainya masih perhaluan isi perut sendiri-sendiri. Atau mungkin ini karena sejarah yah, konon kita kan nene moyangnya orang pelaut, lah apa orang pelaut itu pelarian atau lari dikerjar, lah sejarah juga mengatakan dari dulu tentang penghianatan Ken arok dan hayam wuruk, lah apa para pemimpin kita itu keturunan ken arok pa yah?
  14. From bowo on 10 July 2007 14:47:58 WIB
    Beberapa pekan lalu gw nonton Gubernur kita. Bung Effendi Ghozali bertanya kepada tim sukses Ad-Da tentang Syariat Islam. Kalo nggak salah nama panelisnya M Holid, katanya : "PKS telah menang di 77 daerah pemilihan tapi tidak satupun daerah dilaksanakan Syariat islam, bahkan dari partai lain yang melaksanakannya".

    Y kalo gw mau kumpulin data. Di Tangerang yang sempet heboh syariat Islam, Walikotanya dari Golkar. Di Sumatra Barat, Gubernurnya dari PDIP dan dia juga jalanin syariat islam.

    Mungkin masalah ini OM WW bisa share dengan bung EG.

    Oh ya kira-kira OM WW bakalan golput nggak ya.....
  15. From wisga on 10 July 2007 14:52:45 WIB
    sebenarnya saya bukan orang Jakarta, apalagi orang jakarta yang ngerti politik. Saya cuma bisa liat-liat jauh dari padang. Tapi paling tidak saya ada satu harapan sama Pak wimar tentang Pak Agum, Pak Fauzi Bowo, dan Pak Bibit yang notabene calon-calon favorit berbagai partai. Kenapa mereka favorit ? Ada dua indikasi. Pertama, mereka benar2 orang yg hebat sehingga balon lain tidak begitu dilirik atau. Yang kedua, mereka benar2 orang-orang yang paling mudah dimasuki berbagai kepentingan sehingga begitu diincar berbagai partai. Harapan saya adalah yang pertama. Mudah-mudahan mereka orang yang 'hebat', tidak sekedar ingin berkuasa dan bisa membuktikan janji-janjinya. O ya Pak Wimar, saya ada sedikit pesan kalau bisa disampaikan sama Bapak2 itu. Saya nggak suka sama calon2 pemimpin yang mengatakan : "Kalau program saya yang ini dan itu tidak berjalan..., saya bersedia mundur ...dst". Itu bukan ciri pemimpin yang solutif. Itu adalah ciri pemimpin yang suka melarikan diri dari masalah. Jadi, saya titip pesan sama Pak Wimar kalau mereka sempat berkata2 yang demikian sewaktu kampanye atau kapan lah namanya, tolong sampikan pesan tadi ya !!! dan juga pastinya Pak Wimar bisa menilai karakter mereka sesungguhnya kelak. Thanks ya Pak
  16. From Heri Muharadi on 10 July 2007 15:59:24 WIB
    to : 8. Nurcahya

    Memang warga jakarta saat ini dihadapkan pada pilihan yang sulit.

    Saya yakin Anda punya alasan sendiri dalam menentukan cagub pilihan terbaik anda.

    Terkait Klaim "koalisi Bersama Rakyat" yang dilakukan ADANG_DANI merupakan satu-satunya cara kalau mau lepas dari pengeroyokan yang dilakukan Koalisi Jakarta terhadap PKS.
    dan itu bisa kita lihat langsung melalui dukungan ORMAS KEDAERAHAN (FBR,IKB,Ormas Sunda, Padang, dan yg terkini Papua) dukungan juga sudah terlihat dari komunitas musik seperti Slankers,OI, dan juga The Jak Mania. dan secara organisasi dukungan itu publikasikan di publik, bahkan juga sudah sampai kepada atribuutisasi di komunitasnya masing-masing.
    Yang Pasti Secara kuantitatif "koalisi bersama Rakyat" ini bisa kita lihat setelah tanggal 8 Agustus nanti.

    Terkait dengan klaim sepihak PKS sebagai "parpol yg Lebih Baik" akan lebih berimbang kalau anda juga tampilkan menurut anda ada perpol yang lebih baik selain PKS saat ini! tapi yang pasti secara kuantitatif dan legitimate kita harus Akui bahwa PKS sebagai Partai Pemenang Pemilu 2004 di JAKARTA. dan yang pasti dukungan masyarakat mengalir ke PKS pada pemilu lalu bukan datang tanpa alasan.

    Terkait pemberdayaan internal PKS secara langsung bisa kita saksikan bahwa DANI ANWAR adalah satu-satunya Figur didikan Parpol yang saat ini ikut bertarung untuk mendapatkan DKI 2. Kenapa tidak DKI 1 ? silahkan anda tanyakan ke PKS... yah masih lebih baiklah ketimbang tidak ada sama sekali...

    Media adalah sarana publik melihat dan menilai pilihannya. faktor lainnya, publik juga bisa melihat melalui track record-nya selama ini. dan itupun pencitraanya bisa dilihat ya melalui media. jadi jangan salahkan media juga jika dijadikan rujukan publik dalam menentukan figur pilihan terbaiknya.

    Pilihan terbaik kita terletak dari dalam hati nurani kita sendiri...

    Silahkan anda tentukan pilihan anda ... secara subyektif saya menilai pasangan ADANG-DANI saat ini masih lebih baik ketimbang yang lain, apalagi 'pasangan' GOLPUT, gak la yau...

    Terimakasih Pak Nurcahya atas tanggapan Anda...

    Salam persaudaraan

    Heri Muharadi, Kalideres

  17. From adi s on 10 July 2007 16:10:20 WIB
    buat 9. asep

    saya termasuk simpatik dengan gerakan & terobosan politik yang dilakukan PKS selama ini.

    Maaf, komentar anda koq terkesan sekali yah kalo anda seorang antek yang sedang melancarkan black kampaign PKS.

    Sorry bung, disini tempat orang-orang yang udah pada melek dan gak gampang kena hasutan murahan.
  18. From Nurcahya on 10 July 2007 17:13:44 WIB
    Balasan No. 16 (Heri Muharadi)

    Nggak, saya termasuk yang memilih untuk tidak memilih.
    Saya cuma mengkritik klaim sepihak, tapi wajarlah karena semua kecap memang nomor satu.
    Pengen juga tahu bagaimana klaim kubu Foke, supaya kita bisa sanggah juga.

    Salam,
    Nurcahya
  19. From asep on 10 July 2007 17:17:54 WIB
    Mas Adi, ok tunjukkan bagian mana dari argumen saya yg menghasut? lalu kita akan berdebat POIN PER POIN! setuju?
    Kalo tidak, saya bisa mulai lebih dahulu: bukan hasutan kalo PKS terima dana DKP (padahal ngaku anti korupsi), bukan hasutan kalo seluruh proses kampanye dibiayaain ama Adang (Tifatul sendiri yg ngaku), bukan hasutan kalo adang-dani no 1 daftar ke KPUD (setelah digertak Foke soal calon boneka heheheh), bukan hasutan kalo statemen PKS selama pilkada ini maju mundur... Jadi saya mah gak perlu cape2 balck propaganda PKS, PKS sendiri udah membongkar kualitas dirinya. POin saya adalah, PKS bikin blunder dlm Pilkada ini dalam:
    1. memilih Adang sbg Cagub,
    2. sendirian tanpa koalisi calonin Adang (ya anda sendiri yg gak nutup diri gak mo koalisi kok skg malah nuduh di keroyok? piye toh?) akibatnya ya fight sendirian
    3. Maju terus dlm pilkada padahal udah disaranin ama Fajdroel/Gerakan Rakyat Merdeka utk mundur krn anda akan dapat 2 poin pertama investasi anda utk 2009 akan naik krn "menyelamatkan demokrasi"; kedua anda toh tidak akan menang dlm pilkada ini (liat aja di kerjain ama KPUD heheh) kecuali sbgjadi batu loncatannya Foke-Golkar utk naik jadi Gubernur. Yah blunder ini bsia dipahami sih krn PKS emang masih baru jadi nafsu kekuasaannya gede bgt heheh.. thx ilmunya PKS
  20. From redi on 10 July 2007 17:22:08 WIB
    Politikus yang paling bersih mah dlm Pilkada ini ya GOLPUT-ers hehhehe.. gak ada politik uang, gak terima dana DKP, gak di sogok, gak menjilat, gak jualan janji, gak buat dosa dgn membohongi publik, gak ngancem2...

    Kalo ikutin hati nurani jawabannya ya.... GOLPUT!
  21. From rahman saleh on 10 July 2007 18:34:27 WIB
    Ya penting dalam proses komunikasi politik terdapat pesan-pesan yang jelas, terhadap sebuah visi misi, selama saya kuliah di pengantar ilmu politik, janji kampanye adalah sebuah proses yang memang harus dilalui oleh orang yang mencalonkan sebagai pejabat politik dan eliet politik di dalam sistem pemerintahan.Ini proses yang sah dan diatur oleh konsitusi (walaupun banyak pelanggaran dalam urusan tempo waktu)
    Jadi istilah ngobral janji, ngecap sebenarnya adalah klaim yang terlalu dini terhadap seorang calon pejabat publik yang melalui proses politik tersebut.
    Dukungan PARPOL terhadap para calon adalah sebuah bukti bahwa terdapat pengakuan publik dari para calon tersebut. Karena dalam sistem politik indonesia, satu-satunya rekruitment pejabat publik secara demokratis -- terlepas juga para calon harus bayar mahar untuk bisa menjadi calon -- hal ini dibuktikan dengan tidak bisanya calon independen, masuk dalam sistem PILKADA. Walaupun mereka sudah membayar mahar, toh parpol memiliki pertimbangan lain bukan sekedar uang. Kapabilitas tentunya menjadi pertimbangan, dalam proses PILKADA tersebut.
    Jadi teman-teman dan kawan2 sekalian, GOLPUT bukanlah sikap partisipasi politik yang relevan untuk PILKADA kita. Para calon bukanlah setan seperti AMERIKA dan kapitalist Eropa, yang memiskinkan negara seperti kita dengan konspirasi ekonominya. Sooo tetep tentukan pilihan anda mau NO 1 atau 2. Pilih yang terbaik. Orang yang cerdas adalah ketika dihadapkan dengan dua pilihan yang buruk dan mendatangkan ketidakpuasan. Dia bisa memilih mana yang paling minimal menimbulkan keburukan. GOLPUT atau tidak tetap akan ada yang memilih, ADANG maupun FOKE tetap salah satu dari mereka akan menjadi Gubernur. DANI maupun PRIJANTO tetap akan menjadi salah satu pemimpin kita di DJAKARTA.
    Kecuali anda seorang revolusioner yang mampu merubah segala.
    OK ........
    KIta dukung Proses demokratisasi dalam seleksi pejabat publik ini secara bijaksana.
    Kita tetap belajar dan dalam proses belajar wajar terjadi kesalahan. Separh-parahnya kedua calon, tidak akan mungkin menjual JAKARTA ke Negara lain. Bangsa ini sudah banyak masalah, dan anda jangan menjadi bagian orang yang CUEK, mari kita mulai menjadikan Indonesia MACAN dari JAKARTA.
    Siiiiiip .....
  22. From Indra on 10 July 2007 18:56:25 WIB
    saya bingung, kok yang di ungkit kalo masalah PKS, selalu dana DKP. Kenapa kok nggak yang lain karena masalah inilah yang paling empuk jadi sasaran. Dan PKS nggak punya kasus lain.

    Sekarang saya tanya, pernah nggak dulu saat kecil tanya sama orang tuanya, waktu kasih uang jajan. 'Yah uang jajan ini hasil korupsi nggak??, kalo hasil korupsi aku nggak mau'. Pernah nggak???

    Setahu saya kader PKS yang terima dana DKP karena jasa mereka membantu Pak Rochmin. Fahri Hamzah Contohnya. Dia yang paling besar terima dana itu. Kenapa kok dia dikasih. Karena dia yang bantu nulis Pidato-pidato pak Rochmin, dia juga yang membantu tugas-tugas pak Rochmin di IPB, karena disaat menjadi Menteri. Pak Rochmin masih menjadi Guru Besar di IPB.

    Kalo Saudara Redi pernah diminta tolong sama orang lain, pernah nanya nggak "ini dana dari mana". atau "ya terima aja karena itukan hasil kerja profesional saya"??

    Oke saya akan membantu sedikit men-clear-kan masalah.

    1. Kenapa kok PKS nggak pilih cagub dari kader sendiri. Karena PKS sudah dicap sebagai "kelompok penegak syariat" walaupun seperti yang dikatakan mas Bowo di 77 daerah pemilihan yang dimenangi PKS tidak satupun adanya penerapan syariat islam. Dan PKS sadar, Jakarta adalah wilayah yang pluralitasnya tinggi, jadi calon dari luar sebagai pilihan. Kita lihat Pilkada di Kotamadya Bekasi bulan Januari nanti PKS mengusung kadernya sendiri. begitu juga di kabupaten Bogor dan Kotamadya Tangerang (PKS akan mengusung Jazuli Juwaini, dia ini Guru ngajinya Khairiasyah Salman) juga kader PKS. Karena memang daerah2 itu berbeda dengan Jakarta

    2. Info tentang Adang. Saya cuma punya satu, dia yang memenjarakan Komjen Suyitno Landung dan Ismoko disebabkan kasus BNI (walaupun memang cuma 2 tahun tapi memenjarakan 2 orang Jenderal adalah hal yang langka saat ini, terlebih mereka satu korps dengan Adang). Ini mungkin juga menjawab pertanyaan Bung Wimar tentang "Apakah Adang pernah menghukum kasus Korupsi"

    3. kenapa PKS dikeroyok, karena PKS itu partai kere. Dia nggak bisa 'beli' partai-partai lain. Dan kalo emang bener Adang kasih uang ke PKS, harusnya Adang bisa 'tegas'sedikit sama PKS. Atau se-enggak-enggaknya main belakang kan boleh. Tapi yang kita lihat Adang terlihat tenang-tenang aja kalo dia nanti bakalan di keroyok, kalo ditanya masalah ini dia selalu bilang: 'Ya anda bisa tanya ke PKS'. padahal Adang bukan orang Polisi lagi terlebih dia nggak punya hubungan dengan birokrat secara langsung. Jadi bagaimana dong??.
  23. From Bu_tet on 10 July 2007 21:28:17 WIB
    Buat Bang Heri Muharadi (posting 16)
    Hanya menang di Jakarta <25% sudah brani meng-klaim terbaik? Lha, Golkar menang untuk Indonesia dengan kursi >30% berarti lebih baik dong..!

    Buat Mas Indra (posting 22):
    1. PKS di Jakarta nggak mengusung cagub dari internal, sedangkan untuk Bekasi, Bogor, Kodya Tangerang mengambil dari kader sendiri -> Jangan-jangan kualitas kader PKS ya hanya untuk kelas Bekasi, Bogor, Tangerang, sedangkan untuk kelas DKI belum ada yang memenuhi syarat?

    2. Klaim kalo Landung dan Ismoko itu prestasi Adang, itu pasti akan dibantah oleh Jend. Sutanto. Sutanto pasti akan bilang, "Landung itu bintang 3, yang memeriksa dan masukin ke penjara ya pastinya polisi bintang 4".

    3. Salah, PKS itu nggak dikeroyok, cuma nggak didukung oleh yang lainnya. Dari mulanya PKS terlalu percaya diri karena untuk Jakarta, PKS berhak mengusung calon sendiri. Coba tanya orang PBB, PAN, dan PPP yang sakit hati karena nggak diajak PKS. Nggak ngajak-ngajak, ngapain juga harus didukung?

    Golput aja deh..., iya kan?
  24. From bram on 10 July 2007 22:14:25 WIB
    wuih.. kalo threat ttg pilkada DKI pasti blognya pak Wim langsung rame euy! Saya bingung kok jadi ribut mengenai PKS sih. Udah laah.. semua khan lagi belajar apa yang namanya demokrasi (termasuk saya, walaupun saya gak terlalu percaya demokrasi bisa membawa kesejahteraan buat rakyat indonesia, tanpa adanya pemimpin yang berAKHLAK)

    Jadi kita sebagai rakyat biasa sama-sama belajar dan mengambil pelajaran dari mereka yang sedang bertarung politik saja. Siapa tahu nanti suatu hari kita yang muda-muda ini yang ada di posisi mereka, jadi gak mengulangi kesalahan yang sama.

    Yang dukung PKS ya monggo tapi jangan fanatik laah, semua orang ada cacatnya apalagi partai yang merupakan kumpulan dari pemikiran dan kepentingan banyak orang. Beberapa kasus dan kejadian memang membuat kredibilitas PKS agak turun, tapi pertanyaan besarnya sebenarnya adalah : Apa sih alasan utama PKS mengusung Adang? Kok jawaban ini sampai sekarang tidak saya temukan, temen2 yang kader PKS pun termasuk yang di dalam struktur tidak bias menjawab ini.

    Yang mau dukung Foke (kalo ada) ya silahkan, mungkin alasannya bisa di share di sini, supaya yang lain mendapat informasi yang berimbang.

    Yang mau golput... mmmhh.. apa perlu golput? Tapi ya terserah lah. Golput khan hak untuk memilih tidak memilih dari pilihan yang ada.

    Saya pribadi sih gak bisa ikutan milih, karena tidak terdaftar euy!

    -rakyat non partai-
  25. From Domba Garut! on 11 July 2007 01:42:55 WIB
    Jakarta, kampung halaman yang setiap kali saya pulang cuti kokmakin lama makin semrawut yah? Memangini tanggung jawab kita semua, dan kritisi dari situs web ini adalah kontribusi positif warga Jakarta untuk kemudian terus digelorakan agar sedikit-demi-sedikit bisa mengubah dan menyemangati para 'grass-roots' utk tidak apatis.

    Kayaknya calon independen umumnya loyo kalah dengan money-poli-tricks-nya mereka disana.., mau sampe kapanyah situasi terpuruk berlanjut - malu khan sama tetangga sebelah yang terus membangun, sementara kita nggak habis2 kelahi dan saling jegal.. cape deeh!!
  26. From Pengamat on 11 July 2007 08:44:37 WIB
    Tahun lalu, waktu Jak-TV mulai menyiarkan acara "Gubernur kita", pengamat mulai dengan optimisme (memang agak terlalu sering pengamat itu optimistis), karena melihat trio Effendhi Gazali, Ryaas Rasyid dan Wimar Witoelar, tiga tokoh yang tidak usah disangsikan keahliannya dibidang masing masing.

    Sehingga pengamat berharap rakyat (pirsawan Jak-TV) akan dapat pelajaran dalam praktek demokrasi, dimulai dengan cara memilih Gubernur DKI.

    Ternyata saya tidak lama langsung merasakan bahwa optimisme saya itu lagi lagi tidak berdasar, karena ternyata bahwa WW "is not on the game". Contohnya, hanya dialah yang berani menngeluarkan kritik kepada kesalahan kesalahan pemerintah DKI (termasuk Wagubnya), sedangkan yang dua lainnya memang ikut ketawa, tetapi mereka tetap "sopan" dan dalam "rel" (ialah "rel mendidik masyarakat").

    Tidak heran kemudian bahwa terjadi dua hal: cagub tinggal bersisa dua, ialah yang direstui. (Entah siapa yang merestui). Ini sudah menghilangkan arti acara "Gubernur kita", karena kita harus pilih dari dua yang disodorkan. Sehingga tidak ada faktor "pendidikan" itu.

    Yang kedua yang terjadi adalah "dipecatnya Wimar" (bulan Mei 2007 ?), yang barangkali terlalu "vokal" (mengenai entah siapa), sehingga dia dianggap tidak bisa ikut jiwa acara itu. Nota bene acara lain yang digunakan Jak-TV untuk memberikan Wimar suatu peranan Utama di Jak-TV sampai juga dibatalkan.

    Pokoknya "WW is not wanted".
    Untung –menurut info yang saya peroleh- WW hidupnya tidak tergantung dari siaran TV.
    Saya tidak menuduh apa apa kepada Effendhi Gazali dan Ryaas Rasyid, kecuali bahwa memang mereka lebih berbakat untuk bisa acceptable kepada semua pihak.

    Komentar terakhir dari pengamat:
    Wimar selalu mengakhiri sesuatu dengan nada optimisme, bahwa ada "kemajuan". Kali ini dia mengakhiri artikel di Tempo itu dengan kalimat:
    "Tapi demokrasi tidak diukur dari hasil sesaat. Demokrasi tidak menjamin keadilan dan kesejahteraan, hanya meletakkan dasarnya. Paling penting, demokrasi tidak ditentukan dalam satu Pilkada, tapi dalam proses sehari-hari. Dengan kekecewaan Pilkada DKI 2007, lebih beralasan lagi menuntut pembersihan partai politik, termasuk menambah dukungan untuk calon independen."
  27. From Putu Semiada on 11 July 2007 11:34:28 WIB
    Halo Bung Wimar,

    Setelah sekian lama mencari-cari akhirnya saya bisa menemukan anda (lewat internet tentu). Saya adalah salah seorang penggemar anda terutama sejak anda mulai memandu acara Dialog Aktual di Indosiar beberapa tahun yang lalu. Sejak acara itu dibredel saya bingung dimana saya bisa menikmati acara yang anda pandu ataupun tulisan anda sampai akhirnya saya membaca tulisan anda di atas di majalah Tempo.

    Kalau boleh saya kasi saran sebaiknya anda tetap berada 'di luar ring' seperti sekarang. Jangan lagi masuk 'lingkaran dalam' seperti anda pernah coba waktu jamannya Gus Dur. Sehingga anda tidak kehilangan daya kritis anda. Ngomong-ngomong apakah anda memiliki semacam 'komunitas/milis', dimana saya bisa bergabung.

    Terimakasih,
    Salam dari Pulau Dewata

    Putu Semiada
  28. From didiet KSM UNAS on 11 July 2007 13:06:23 WIB
    sebenernya hal-hal tadi yang membuat kita semakin terperosok dalam pilihan yang makin sulit untuk bersama -sama mementukan masa depan DKI 5 tahun mendatang..
    dan WW berkali2 mengatakan track record calon itu sangat penting!! misalnya Foke?? kita sampai hari ini pun tidak tahu apa Job Description wakil gubernur DKI itu selain gunting pita dan penyuluhan narkoba!!! kok bisa2nya bilang dia berkualitas???

    kalo Adang?? sami mawon!! dia seperti polisi yang tiba2 terjun dari langitdan kita belum jelas mangatahui track recordnya. lain halnya jika calon dari polisi seperti Pak Sutanto (terkenal bersih, anti judi,bisa menangkap gembong narkoba), pak makbul (mantan Kapolda, sukses nangkap Tommy Suharto) atau pak I made mangku pastika..

    JADI KENAPA PILKADA DKI JAKARTA BUTUH CALON INDEPENDEN/ALTERNATIF???
    memang dalam UU no 32 thn 2004 mekanisme pemilihan gubenur harus melewati partai politik, karena parpol memang sebagai elemen utama demokrasi modern dengan sistem perwakilan yg berfungsi anatara lain mengagregasi dan mengartikulasi aspirasi masyarakat.
    akan tapi dalam hal Pilkada Jakarta semuanya berbeda. parpol disini dengan jelas tdk melaksanakan proses recruitment untuk menciptakan pemimpin (hal ini dpt dibuktikan dgn tidak adanya kader parpol utk calon gubernur!!). sehingga kita melihat parpol sekarang hanya menjadi "makelar politik" saja (siapa yang bayar paling besar itu yg didukung!!!)

    hal lainnya yang dapat dijadikan indikasi kegagalan parpol adalah gagalnya penyerapan aspirasi masyarakat sehingga menciptakan irasionalitas dalam pilkada di tengah warga jakarta yang pintar. bayangkan saja ,sekitar 90 % masyarakat jakarta menilai pemerintahan daerah DKI gagal mengatasi berbagai masalah seperti kemacetan ,banjir dan pengangguran (data LSI 2007). akan tetapi sekitar 75 % suara parpol (20 parpol) mendukung calon incumbent yg dinilai masy jakrta GAGAL!!! sementara calon lainnya belum bisa memnbangun rasionalitas pilkada itu sendiri. jadi kita ini terkungkung oleh dua pilihan buruk diantara yang terburuk..

    makanya setelah sarwono gagal maju akibat kesewenangan parpol, maka calon independen menjadi mutlak untuk memeberikan pilihan seluas-luasnya bagi warga DKI.. tentu saja dengan syarat yang tidak mudah bagi calon independen untUK MAJU
  29. From Nurcahya on 11 July 2007 13:19:58 WIB
    Buat Bang Bram (Nomer 24)
    Abang nanya pertanyaan besar : Apa sih alasan utama PKS mengusung Adang?
    Pertanyaan saya : Apa sih alasan utama Partai-partai lain mendukung Foke?
    Jawaban dari kedua pertanyaan itu SAMA. Makanya, nggak usah nanya-nanya lagi : GOLPUT aja.
  30. From Mihradi Mhs MIH Untar on 11 July 2007 15:23:40 WIB
    Demokrasi memang tak pernah mulus. Bila rule of game ga jelas dan tidak tersedia alternatif cukup, demokrasi memang bisa wafat seketika. Problemnya, politik orang partai memang alergi ama saingan dan alternatif. Baginya, share power dan jaminan establish adalah diatas segalanya. Mungkin, sudah saatnya, politik orang pinggiran ikut bicara. Kata Habermas, justru komunikasi bebas tekanan di ruang-ruang pinggiran yang seharusnya diacu sehingga terjadi demokrasi deliberatif. Sayang, untuk Pilkada DKI, "saya dengan ini menyatakan keprihatinan". DKI tidak lagi menjadi barometer demokrasi malah justru tempat selubung otoriterian bersembunyi. Sebuah bahaya besar buat masa depan.
  31. From redi on 11 July 2007 17:29:59 WIB
    utk 22.Indra, kenapa soal DKP PKS jadi sorotan? sama kayak sorotan ke SBY: keduanya ngaku paling anti korupsi ternyata nerima korupsi juga! Poinnya adl: jadi sorotan karena HIPOKRIT.

    Kalo cuma krn bantuin pidato, kok dibayar ama dana DKP ampe puluhan juta???? pidatonya pake tinta emas ya? hehe Waktu kecil pun, kalo dikasih uang jajan puluhan juta, ya saya juga pasti nanya kaleee hihih

    Anwy, gini deh poin utamanya, citra PKS yg claim anti korupsi semakin merosot sejak: terbukti terima dana DKP dan milih Adang sbg Cagub.

    Jargon PKS sebagai pluralis skg makin gak dipercaya krn dari pengusungan Adang aja udah sendirian? terus gmana mo pluralis? Kalo menurut saya sih, bukan cuma soal itu, PKS juga ogah berbagi kekuasaan yak kalo menang nanti? hehhe

    Soal syariat Islam, kalo emang bukan gubnernur2 PKS yg ngusung syariat Islam, PKS tegas donk menolak
    1. penerapan Syariat islam di daerah2 tsb
    2. menolak RUU APP
    3. menolak poligami.

    Salama mencla mencle, citra PKS akan merosot terus dan ambruk di 2009 nanti... Kacian kan udah jeblok di Pilkada DKI, jeblok juga 2009 nanti (padahal ini kan tujuan nya hehhe)...
  32. From slamet riyanto on 11 July 2007 20:27:53 WIB
    ini membuktikan rezim parpol ingin tetap berkuasa...
    memang parpol adalah intermediator antara masyarakat dengan pemerintah, tapi jika fungsi intermediatornya tidak dilaksanakan apakah masih layak disebut penghubung antara masyarakat dengan pemerintah???

    sepertinya parpol mulai ditinggalkan konstituennya.
  33. From angga on 11 July 2007 21:46:44 WIB
    2 calon,, man to man,, seru secara kompetisi tapi tidak secara demokrasi,,

    sampai calon2 lain pun bisa2nya jadi cinta ma bang fauzi bowo,, tadi siang agum gumelar menyatakan "kemesraan" dan "kerelaan" mendukung foke&prijanto,,

    tapi kali ini mungkin skenario foke berjalan lancar, tapi tunggu selama proses kampanye sampai pilkada dan puncaknya saat pengumuman pemenang pilkada, bisa "mabok" jajaran KPUD dan pengadilan,, siapapun yang menang akan saling gugat,,

    adang saja udah mulai tidak nyaman menjadi kandidat, coz fauzi bowo udah mengeluarkan smua "ajian2" yang dimiliki, biar adang masuk dalam skenario yang sudah di set oleh foke dan parpol..

    pilkada 2007 udah kya pesta sweet seventeen buat fauzi bowo...
  34. From GOLPUT on 12 July 2007 10:33:34 WIB
    Ayo golput karena Golput itu baik untuk KESEHATAN.

    Dengan Golput anda akan terbebas dari berbagai penyakit:
    1. Bebas dari bahaya stroke (karena gak merasa berdosa menghianati hati nurani)
    2 Bebas dari Kolesterol, darah tinggi dan asam urat (karena gak makan dari uang haram hasil sogokan dan korupsi)
    3.Bebas dari sariawan, radang tenggorokan (karena gak perlu menjilat atau berjanji dusta)
    4. Bebas dari stress (krn gak perlu sakit hati kalo janji2 cagub yg ternyata janji buaya doank hhehe)

    Ayo GOLPUT karena golput itu mengandung 3 SEHAT!

    SEHAT dalam politik!
    SEHAT dalam pikiran!
    SEHAT dalam kehidupan!

    Dan yg terpenting... tidak membohongi hati nurani dan TUHAN! hehehe
  35. From wisga on 12 July 2007 12:53:55 WIB
    Saya jadi teringat semasa SMP / SMA dulu. Waktu itu saya belum bisa ikut pemilu/ pilkada. Rasanya ingin sekali.
    Tapi setelah punya hak suara banyak orang yang menyia-nyiakan.
    Saya sekarang agak gimanaa gitu melihat komentar para golput
    1. Kalau anda golput, mending nggak usah saja ngasih komentar ini itu, anda kan nggak akan terlibat, ngapain banyak omong dan banyak tanya (meskipun ngomong itu HAM, tapi harus pada tempatnya). Jangan jangan anda nggak sekedar golput tapi ada maksud tertentu.
    2. Kalau anda golput berarti anda telah menzalimi orang lain. Why? Paling kurang biaya negara telah keluar untuk mendata anda, eh rupanya anda memilih untuk tidak memilih.
    3. Kalau anda salah satu pendukung demokrasi, anda harusnya tidak golput. Demokrasi kan di tangan rakyat. Kalau rakyatnya telah rela tidak bertangan (tidak bersuara/golput), yang terjadi di negeri ini bukanlah demokrasi, tapi kondisi tidak peduli dan tidak mau tahu. Anehnya, udah nggak mau tahu, tapi tetap saja menuntut demokrasi yang hakiki. NATO (No action Talk Only)
    4. Kalau anda (para golput) berasal dari jakarta, maka seharusnya anda berpikiran panjang. Seperti yang kita tahu, kondisi negara ini sedikit banyaknya dipengaruhi kondisi ibukota. Kalau ibukota kondusif, akan sedikit mengkondusifkan negara dan sebaliknya).Jadi saya himbau kepeduliannya tidak hanya pada Jakarta, juga pada kami-kami yang ada di daerah.

    Tapi kalau masih ingin golput, silakan saja. Amanat rakyat itu bukan di tangan wakil-wakilnya di DPR yang lemah, tapi di tangan rakyat itu sendiri. Kita tidak akan berubah kalau sekedar menyaksikan tapi tidak melakukan. Amanat ini akan kita pertanggungjawabkan kelak, bukan pada presiden atau anggota dewan tapi pada Tuhan. Sudah banyak jasa yang diberikan daerah/negara pada kita. Pendidikan, pekerjaan, kehidupan, keamanan (kalau anda aman), tapi akhirnya kita sendiri yang tidak mau tahu dengan masa depan daerah kita sendiri.

    Manusia itu gak ada yang sempurna bung, kalau kita selalu melihat dan membahas sisi jeleknya, kita tidak akan pernah percaya. Tapi coba donk sedikit berpikiran positif dan mencoba untuk lebih percaya.

    Saya himbau kepada semua pembaca untuk tidak golput dengan alasan-alasan di atas !!!
  36. From febianto on 12 July 2007 14:18:53 WIB
    Mas Wisga,
    Saya sih sebenarnya tidak mau (golput), cuma situasi yg menjadikan saya berada diposisi ini.

    Situasi yg saya maksud, a.l.:
    - pertama, saya tidak terdaftar sbg calon pemilih (btw ane tinggal di jkt & punye katepe jakarte)... kalo ini komentarnya: kacian dech lo!! :)), that's ok!
    - kedua, kalo pun punye tapi kite kagak sreg, menurut ane kita boleh pilih yg lain (memilih utk tdk pilih keduanya).
    Seperti kalo anda pergi ke bandung dr jkt pake mobil, anda bisa lewat tol cipularang ato puncak. Tapi kalo anda pilih lewat subang (dan tdk pilih lewat tol ato puncak)ya boleh saja, betul khan!?.
    Jadi terserah anda..


  37. From novrie on 13 July 2007 00:37:27 WIB
    Ngomong-ngomong soal golput nih ceritanya.
    Kita anggap Jakarta sebagai sebuah organisasi. Dalam pemilihan pimpinan organisasi, anggotanya khan berhak untuk memilih. Yang dipermasalahkan sekarang adalah ada anggota yang berhak untuk memilih akan tetapi tidak mau menggunakan hak nya untuk memilih.
    Seandainya jika pimpinan yang terpilih tadi tidak becus bekerja, yang tidak menggunakan hak nya untuk memilih tidak berhak untuk memprotes pimpinan tersebut.
    Yah, salah satu contoh ptotes rakyat amerika yang menentang perang irak. Mereka hanya bisa berkoar-koar menentang perang tanpa bisa melakukan yang lain, ini disebabkan mereka tidak ikut memilih pimpinan mereka, baik di senat maupun di pemerintahan.
    Yah, apa salah nya sih memilih, berdo'a saja moga-moga yang kita pilih itu lebih baik dari calon lainnya. Tidak semua keinginan kita dapat terlaksana.
    Saya tidak setuju dengan dengan analogi saudara Febianto.
    seharus nya analogi nya "mau ke puncak menggunakan kendaraan apa?" Jika kita ikut memilih, itu seperti kita naik bus atau naik sedan. Nah jika tidak ikut memilih ini seperti naik becak atau jalan kaki. Nah, silahkan pilih,mau sampai di puncak kapan?

  38. From Bu_Tet on 13 July 2007 08:48:36 WIB
    Buat bang Novrie (posting 37)
    Anda bilang "mau ke Puncak menggunakan kendaraan apa?", Pilihan yang ada adalah naik bus atau naik sedan. Kalo kita tahu kedua bus dan sedannya rem-nya blong, ya mending batalin aja ke Puncaknya. Kita tahu tadinya ada pilihan lain: Jeep yang lebih laik jalan, tapi nggak boleh dijadikan pilihan. Ya mending batalin aja ke Puncaknya.

    Ini masalah berekspresi dan menyatakan pendapat, bahwa sebenarnya kita nggak setuju dengan 2 calon yang buruk itu. Ngapain juga maksain milih salah satu diantara mereka? Kalo anda disuruh milih: nyebrang sungai A resikonya dimakan dimakan buaya atau nyebrang sungai B resikonya diserang kuda nil, kan mending nggak usah nyebrang, bukan?

    Kalo kita tetap diharusnya milih, sebaiknya sediakan pilihan lain: mungkin seperti gambar kosong. Nanti kita nggak Golput, deh - kita akan milih gambar kosong tersebut.
  39. From redi on 13 July 2007 09:44:37 WIB
    Setuju Butet!
    LAgian argumen, kalo gak milih gak boleh ikut protes itu gak TEPAT! Walo umat Islam gak milih Bush tapi tetep aja kita bisa donk PROTES invasinya Bush di Afgan dan Irak!
    Walo Pemerintah Israel bukan kita yg pilih, boleh donk kita protes kekejaman mereka terhadap rakyat Palestina!
    Protes mah hak setiap orang yg ngliat ketidakadilan, Jangan di monopoli donk heheh Ini belum sampai kekuasaan aja udah mo monopoli, gmana kalo udah dikekuasaan gubernur? hhiih
    ketahuan lagi deh belangnya...

    Selanjutnya, katakanlah kita ikut milih dan ikut semua prosedur terus si Foke-Priyanto ato Adang-Dani ternyata buaya darat, lalu kita protes.. emang ada jaminan bhw protesnya para pencoblos akan lebih didengar? Emang mereka inget siapa aja yg milih mereka? hehhee inget kasus SBy: warga porong ampe berbusa2, Suciwati ampe pegel bela kasus suaminya (munir), toh SBY diem2 aja tuh...

    Gak ada jaminannn ikut pilkada akan lebih baik.. jadi lebih baik GOLPUT!
  40. From gambler on 13 July 2007 12:57:24 WIB
    ha ha ha , jd pd ngomongin ke Puncak nih....abis ini, pasti ngomongin nyebrang sungai ya? he he
    tapi, bwt redi, contoh yg bagus tuh...soal bush & israel.

    kalo gw blg sih...Golput boleh jg, semata2 gw cuman pengen tau, nanti bisa ketahuan ga ya...jumlah yg golput bisa lebih besar ga dr yg milih... Kalo bisa, nah..gampang deh, berarti menang kan? Jd tinggal pilih pemimpin Golput nya dan dialah yg akan menjadi org no 1 di DKI. setuju ga?
    apa gw mulai ga relevan lg? he he he
  41. From Bowo on 13 July 2007 14:21:33 WIB
    Sebenarnya saya berniat untuk menanggapi komentar saudara redi, namun setelah melihat dari alur diskusi yang tidak berujung sampai-sampai menggunakan analogi 'jalan-jalan'. Saya rasa tidak akan menemukan titik temu. Jadi saya akan menghormati keputusan dari teman-teman yang akan Golput. Toch kita semua ingin Indonesia yang lebih baik. Dan nantinya waktu yang akan menjawabnya, karena kita bukan serombongan malaikat yang selalu baik dan benar.

    Dan saya bisa katakan saudara redi dan teman-teman yang aktif mengumandangkan "suara golput" disini telah menutup kemungkinan akan menggunakan hak pilih mereka. hal ini berbeda dengan bung Effendi Ghozali dan Prof. Imam Prasodjo yang jelas-jelas mengatakan sebagai kelompok Golput aktif yang saat ini golput namun bisa jadi akan berubah pikiran disaat hari h (untuk memilih). Dan saya sepakat jika kita semua berhak untuk bersuara apa yang kita anggap benar bahkan suara golput sekalipun. Namun saya khawatir apa yang kita utarakan tidak mendasar, belum kita klarifikasi kebenarannya. Ini yang seharusnya kita jauhi, mulai saat ini.

    Sebelumnya saya mohon maaf jika ada kata-kata kasar.

    salam
  42. From ZWZ on 13 July 2007 19:05:40 WIB
    Sekedar komentar tak ada efek riel,tindakan nyata. Tapi memang Pilkada DKI menarik krn mestinya bisa jadi contoh pilkada daerah lain di Indonesia. Awal th depan Pilkada Kab.Tangerang,incumbent udah nyontoh Foke, pasang foto melalui spanduk narkoba, nyuri start kali yee. Sayang juga klo yg di contoh bukan hal positif yg pantas diteladani. Ngomong2,buat warga DKI jangan golput-lah, kan ndak ngaruh. Wong ndableknya setengah mati, biar mayoritas suara warga menghendaki calon independen, KPU cuek bebek azja. MK ulur2 waktu ngambil putusan, padahal yg nunggu dibolehkannya calon independen bukan Jkt aja, tapi Indonesia. Partai punya suara hanya utk dpt kursi dewan, setelah duduk lupa, mewakili rakyat yg mana juga ndak jelas. Wakil kok ndak kenal yang diwakili! Mestinya ada hak rakyat menghentikan dan mencabut mandat perwakilannya juga langsung seperti waktu milih, agar yang ngaku wakil bisa sadar, jangan semua diserahkan ke partai! Akibatnya dalam konteks
    cagub DKI yaa kita terima calon yang gimana gitu hlo. Yg ngusung partai koalisi, rakyat or konstituennya dikebiri, tapi ndk sadar juga, gimana gitu hlo? PKS ndak mo sekalian koalisi dan pd detik terakhir ndak mo narik calonnya. Takut diganti clon pendamping or penggmbira jaman orba, tapi kini apa bedanya sih? seperinya nggak jauh-jauh amat alias sami mawon mas. Ada yang mo jawab ? silahkan.
  43. From Ning on 14 July 2007 14:47:19 WIB
    Ada yang bilang, "pemimpin yang baik lahir dari rakyat yang baik juga, dan begitu sebaliknya rakyat yang baik hanya akan lahir jika dipimpin orang yang baik". Nah, jadi di sini siapa yang salah... rakyat termasuk Oom Wimar? Saya sependapat dengan Bung Redi bahwa kita ini bukan serombongan malaikat yang selalu benar. Dan menurut saya (yang juga termasuk bersalah, kalee!) kesalahan rakyat adalah karena kita tidak peduli lagi dengan sesama. Jadi, pergilah ikut Pilkada. Soal milih gak milih, yang penting datang ke TPS biar legitimasi "Golput" sendiri memang bisa dibuktikan dengan angka. Soal orang Jakarta Golput, saya juga gak yakin kalo mereka semata-mata gak setuju sama para calon pemimpin ini. Saya yakin kalo mereka lebih memilih Golput karena... males!!! Jangan2 ntar hari yang "diliburkan" buat Pilkada malah beneran dipake buat liburan... jalan2 ke Bandung menggerayangi Factory Outlet di sana, menghirup udara segar di Mekarsari, atau asik nonton TV Kabel di rumah. Jadi malu dong sama abang tukang bajaj, tukang ojeg, mpok pedagang sayur, dsb yang pada rela libur mencari nafkah demi ikut Pilkada.

    Buat Oom Wimar, salut dengan keberanian anda... but please, kasih juga pemikiran buat rakyat dan negeri ini, tanpa harus membuat bingung dan kegundahan rakyat. Kata orang Sunda mah "laukna beunang caina herang"... Ikannya Dapet, Airnya Teteeepp Jernih!!! Love You, Oom Wimar, terutama sama rambutnya!!! wow, kereeen!!!
  44. From redi (GOLPUT) on 15 July 2007 10:39:04 WIB
    Gara2 pendukung cagub2 jadinya logikanya pada kaco balau nih (dan mudah2an bener2 cuma krn kampanye bukan krn du... tit ..sensor heheh)

    Coba diluruskan lagi biar debatnya gak debat kusir nih...

    Foke-Priyanto-20 parpol dan Adang-Dani-PKS skg mengemis ke masy utk MINTA SUARA lewat pilkada krn pengen naik ke kursi gubernur dan kekuasaan. Nah, suara ini tentu bukan suara yg gratis. Mereka mo bayar mahal utk itu (kampanye, jilat kanan kiri, sogok sana sini, tipu ini itu, janji atas bawah dst dst...), tapi bukan itu yg masy butuhkan!

    Masy mau berikan suara dengan SATU TUNTUTAN yaitu: CALON INDEPENDEN. Ini yg Foke-Adang gak mo berikan pdhal mereka BISA krn punya kaki di DPRD. Kalo emang concern ama demokrasi, Foke-Priyanto-Adang-DAni bisa lobi 20 parpol dan PKS utk revisi UU pilkada. Tapi ini tidak ada yg melakukan, apalagi parpol2 tsb (20 parpol+PKS). Atau mereka berdua bisa mundur dari proses pilkada shg bisa dimundur sampai ada revisi UU. Tapi krn tidak ada jg yg mlakukan, masy menrjemahkan bahwa pilkada DKI kali ini: TIDAK DEMOKRATIS---karena itu kami memilih GOLPUT!

    Jadi skg klo gak mo ada golput ya buka donk ruang utk calon INDEPENDEN!
    Bukan sogokan, janji buaya, jilat sana sini, yang masy jakarta butuhkan tapi PILKADA DEMOKRATIS!
    Gitu aja kok repot muter2 hehehe..
  45. From ronny on 15 July 2007 11:24:11 WIB
    Saya tidak pernah akan percaya dengan janji, dan ucapan dari para calon kampanye PILKADA - PIKADA termasuk DKI, selama mereka maju didukung oleh partai. Sebagai rakyat saya bisa lihat dan baca dikoran bagaimana tindak tanduk anggota partai, anggota DPR/DPRD hanya mementingkan kelompoknya atau dirinya sendiri. Sebaiknya kita tidak memilih anggota DPR/DPR-D biar tidak ada biaya tinggi yang harus dikeluarkan rakyat untuk mereka. Untuk memilih Gubernur terserah rakyat yang mana kira-kira masih bisa dipercaya tanpa harus melihat partai mana yang mendukung. Kalu nggak sreg ya nggak usah pilih.
  46. From ZWZ on 17 July 2007 16:22:02 WIB
    Makanya bila kaum muda mo ikut nyalon n independen Pilkada/Pilpres, kudu nyiapken diri untuk 2014, soalnya 2009 udah telaat KPUD udah ndablek,nggak mo denger suara independden. Rame2 tekan MK buat putusan acc calon indepeneden. Dari sekarang siap galang dana kayak Barack Obama soal dananya kini udah unggulan Clinton. Bikin program yg visioner untuk daerah/indonesia, tunjukan karakter n prinsip hidup yang baik kpd masyarakat. Klo perlu kayak Obama terbitkan buku dari kini. Percayalah rakyat udah melek, ngerti klo dibohongi, ngerti juga yang mana emas or loyang. Bila rakyat udah percaya (soalnya kite lagi krisis kepercayaan nih) pungut dana via "susu tante purnganty" alias sumbangan sukarela tanpa tekanan dan campur tangan party (partai). Jadi bergerak azja sendiri rame2 jangan lagi hiraukan parpol or anggota DPR/DPRD yang jelas2 tidak mewakili rakyat bnyak or masyarakat indonesia lagi, tapi wakil dirinya sendiri dn party! wass
  47. From khaidir anwar sani on 17 July 2007 22:33:31 WIB
    siapalagi orang hebat yang di belioleh f***,setelah deddy mizwar yang merapatkan barisan,si doel bersama keluarga betawinya yang sebagi anak betawi gagal jadi cagub,agum gumelar juga akhirnya mendukung karena tidak ada yang mendukung dirinya.who's next?
    semoga saja bukan bung WW.AKU YAKIN ITU GAK AKAN TERJADI.
    bener kan?
  48. From Pro PKS on 18 July 2007 02:24:28 WIB
    Sandingkan Depok dan City of York

    Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mempunyai cara menarik untuk mengukur progress kota yang dipimpin kadernya. Kemarin, di gedung DPR, FPKS menggelar diskusi yang menampilkan Wali Kota Depok Nurmahmudi dan Wali Kota The City of York, Pennsylvania, Amerika Serikat, John S. Brenner.


    Kedua pemimpin daerah itu duduk bersama untuk mendiskusikan strategi pengembangan kota berbasis good governance and public services. Dalam acara yang dipandu Robin Bush, deputy country representative, The Asia Foundation, itu, kedua pemimpin pemerintahan kota tersebut menyampaikan berbagai program dan capaian yang sudah dilaksanakan semasa menjabat.

    Misalnya, Brenner yang berhasil mendapat penghargaan sebagai kota ternyaman untuk ditinggali (Best Place to Live) pada 2005 itu mengatakan, untuk membangun kota, pihaknya selalu melibatkan warganya. "APBD kami banyak diserap dari investor yang datang dari luar negeri. Mereka banyak membangun usahanya di kota kami," ujarnya. Setiap tahun terbuka 2-3 ribu lowongan untuk calon pekerja.

    Dengan masuknya investasi, kota berpenduduk 40 ribu jiwa tersebut mampu membayar gaji petugas keamanan dan polisi secara mandiri dengan menggunakan APBD-nya. Banyak apartemen yang dibangun dekat pusat bisnis. "Kota kami sangat aman. Anda tidak perlu khawatir meninggalkan mobil atau motor di pinggir jalan menuju apartemen dan hanya perlu jalan kaki menuju tempat kerja," jelasnya.

    Brenner juga mempunyai program unik untuk mempercantik kotanya. Antara lain, dengan mengundang para seniman dari luar kota untuk berekspresi di kotanya. Mereka diperbolehkan tinggal untuk beberapa waktu di wilayah kota tersebut. Para artis diperbolehkan menggambar indah tembok di ruang publik yang diizinkan.

    Dalam pemaparannya, Nurmahmudi Ismail menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi daerahnya adalah kemiskinan, kebodohan, hingga kemacetan lalu lintas. Meski pendidikan sudah sangat maju, masih ada sekitar tiga persen warga yang berpendidikan rendah dan buta huruf. Namun, dengan program pemberantasan buta huruf, angka tersebut sudah bisa ditekan hingga satu persen.

    Terkait dengan proses transparansi manajemen kepemerintahan, Nurmahmudi boleh berbangga. Sebab, tahun lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan penghargaan kepada Pemda Depok sebagai kota paling transparan di Indonesia. "Tentu saja kami bangga dengan predikat tersebut," tandasnya. (cak)

    (JawaPos)


  49. From wimar on 18 July 2007 06:06:55 WIB
    untuk no 47: apakah ww akan mendukung fauzi bowo, jawabannya: baca PO dong.... dua-duanya calon tidak bisa didukung, sayang sekali pilkada terbuang.
  50. From mel on 18 July 2007 09:12:48 WIB
    sy sd dr awal mau golput kl tidak ada calon independent. Itu hak sy dong krn sy tdk mau memilih diantara yg buruk yg katanya ada yg punya kebaikan sedikit. Lho kebaikan kok sedikit, sy ingin yg mutlak punya niat dan itikad pemimpin yg ingin memajukan rakyatnya, memberikan citra baik bagi kotanya, memberi keamanan bagi warganya, keadilan bagi semua golongan, itu tidak bisa ditawar. Sekarang pilihan yg ada tidak mewakili itu semua krn sdh terbukti selama mrk memangku jabatan kok tdk ada perubahan, malah bisa mempunyai kekayaan yg mengherankan bila ditinjau dr gaji yg didpt selama ini, kok kayanya impossible.
    Sy akan mendukung 100% WW kl dia sbg calon independen. Cuma ragunya apakah WW akan bertahan dgn tonjokkan dr partai korup????????????????
  51. From wimar on 18 July 2007 10:13:17 WIB
    utk 50 mel: gak usaha mikirin WW lah, karena saya juga bukan calon Gubernur. Lihat saja orang2 yang mau aktif dicalonkan
  52. From FIRDAUS NOOR on 18 July 2007 20:26:05 WIB
    Sikap KPU DKI Jakarta membingungkan, apakah ingin menyukseskan pilkada atau mengemban misi salah satu calon. Kenapa diminta untuk mengundurkan waktu pendaftaran pemilih tidak mau ? (hasil survey dari beberapa lembaga independen dan pengamatan di lapangan menunjukkan banyak pemilih yang belum terdaftar). Pelaksanaan pilkada dapat dikatakan sukses apabila terselenggara secara 'jurdil' dan banyaknya peserta pemilih yang menggunakan haknya, bukan semata-mata karena terlaksana sesuai jadwal waktu kegiatan.
  53. From Wak Tul on 19 July 2007 14:01:40 WIB
    Saya sependapat dengan Bu Ning(posting No. 43)


    Karena itu, memang semestinya pejabat daerah adalah pejabat karier. Pemilu Camat dipilih dari Lurah yg merupakan hasil pemilu lokal. Walikota dipilih dari pemilu camat. Dan selanjutnya Gubernur dipilih dari pemilu para walikota.

    Tapi ide begini khan ga modern yaaaa ?
  54. From masbenu on 19 July 2007 14:22:47 WIB
    kayaknye semakin panas aje berita pilkada DKI. dari yang mau golput, minta calon independent, atau dukung salah satu calon. kalo menurut ane, yang terpenting saat ini adalah pembelajaran politik. saya sepakat kalo kita sekarang sedang belajar tentang demokrasi, bukan "Democrazy". Tapi yang aye kagak tau,kenapa di pilgub DKI yang seharusnye (kalo sesuai regulasi didukung min 15% suara partai kan 100%/15%=6) ya minimal ada 5 calon lah, tapi koq kenape jadi rontok satu-persatu karena partai pendukungnye malah ramai2 ngumpul2 "koalisi" (jangan2 karena kualinya minta diisi atau malah berebut kue lisi)
    Yang aye salut malah ama kekompakan kader2 PKS, mereka betul2 berjuang untuk memenangkan pilkada walau sendirian. aye denger sich sloganya "Kas kami adalah kantong kami", dan itu betul2 dibuktikan dengan "GALIBU" (Galang limaribu, limapuluhribu, limaratusribu), dan mereka kumpulkan dana bahkan setiap pekan. kalo kite itung2 kader PKS di jakarta sekitar 100.000. kalo sepekan minimal terkumpul 5M, angka yang fantastis. mereka berjuang dengan mengeluarkan uang mereka sendiri, dan otomatis kerja2 mereka nggak minta imbalan/upah. Jadi wajarlah kalo partai2 nyang laen nggak mau gabung, soale bukanya dapet duit, tapi malah diminta keluarin duit buat biaya sukseskan pilkada. aye pernah denger pak tifatul sembiring bilang, kalo mau koalisi dengan PKS ayo, tapi kalo minta duit kagak ade. Sedangkan partai nyang pade koalisi bener2 masing2 partai minta kualinya diisi karena dukungannya, terus berapa biaya yang harus dikeluarkan cagub untuk biaya suksesinya??? darimana???
    hal lain lagi, aye juga salut sama pak adang, dia dengan ikhlas mau melepaskan jabatanya sebagai wakapolri, hanya untuk maju di pilkada DKI, kan ibaratnya udah jadi RI-2 (tapi dikepolisian)((padahal kan belum tentu jadi). tapi itulah pengorbanan.
    kalo di kubu koalisi elit politik, koq denger2 kayaknye malah tambah kisruh aja. ada yang klaim betawi, klaim ahlinya, dan apalagi????
    Emangnya jakarta cuman milik betawi (padahal warga betawi 30% dari seluruh wagra DKI) jadi keberagaman harus dijaga. dan buktikan kalo memang cagub-cawagub sebagi betawi asli, jangan hanya klaim saja.
    kalo bilang ahlinye, kok selama ini jakarta bukanya semakin kesini semakin baik, tapi malah semakin ancur. terus ahlinye kemana aja????
    kite warga jakarta jangan dibodohi, berikan pembelajaran politik yang benar dong.
    saya yakin kita semua sudah bisa menyimpulkan. tapi yang pasti aye gak akan golput, karena golput itu hanya orang2 apatis dan pengecut yang tidak berani mengambil konsekwensi apapun. ibaratnya kalo enak ikut, kalo nggak enak kabur dan cuci tangan. Dan pasti aye akan pilih calon yang bukan cuma omong kosong, pengecut, dan main curang.
    semoga jakarta menjadi lebih baik.
  55. From Eq on 20 July 2007 03:29:43 WIB
    PILKADA. Pemilihan Kepala Daerah? apakah jakarta gk punya figur lain? ini adalah pertanyaan orang2 yang memiliki tatapan dingin terhadap wajah jakarta...
    Tapi dibalik pertanyaan itu terdapat kekeritisan yang mendalam terhadap nasib Ibukota...? Si Bedul yang berharap banyak akan nasib dan jg masa depan keluarganya., rupanya harus pupus jg kandas harapannya...seperti Kandasnya PSSI dikandang sendiri melawan KORSEL.
    kenapa hanya dua calon? siBedul sewot. Tapi jangan kaget Dul inilah wajah cantik Jakarta, kita bisa apa? partai2 yg katanya mewakili Rakyat, kemampuannya segitu doang. Jadi Dul kalau loe akhirnya Anti Partai gw jd mendukung loe. Buat apa kita usung dan besar2in Partai, kalau akhirnya kita jd kecewa. BUBARIN AJA ya.... juga PSSI. dua-duanya ngabisin Uang negara yg diambil dr pajak Rakyat. Nasib nasib,,, kata pak Oagah.
  56. From Bu_Tet on 20 July 2007 09:02:33 WIB
    Buat Mas Benu (No. 54),
    Anda salut malah ama kekompakan kader2 PKS? Harusnya salut juga atas kekompakan Partai-partai lain, yang beda ideologi dan asas tapi kompak mendukung satu orang yakni Foke.

    Bedanya apa, kader PKS nyumbang Adang Rp. 5000/orang, dengan Kadernya Foke yang nyumbang 5juta seorang? Sama-sama nyumbang, kan?

    Nggak usah terlalu fanatik ndukung Adang (dan PKS), deh..
    Adang pensiun emang karena udah waktunya pensiun aja, masih untung sebelumnya dia diperpanjang 1 tahun masa tugasnya.

    Alasan anda ngawur. Golput aja, pilihan terbaik saat ini.
  57. From Bu_Tet on 20 July 2007 11:57:17 WIB
    Buat Eq (No. 55),
    Sama dong, kita kecewa terhadap Partai (karena nggak bisa ngusung CaGub yang hebat) dan PSSI (yang masih dipimpin oleh NH+pengurus yang buanyak anggotanya, tapi milih 11 pemain bola top aja nggak bisa).
    Mendingan kita bisa tanpa partai, tapi bisa memunculkan Pemimpin hebat - juga tanpa PSSI, tapi bisa punya TimNas yang hebat, kan?
    Apa perlu kita naturalisasi bekas Walikota NYC Rudy Giulani sehingga memimpin DKI, dan menaturalisasi 6 orang Brasil untuk jadi Pemain TimNas kita (5 lagi: Elie Aiboi, Syamsul, B. Pamungkas, Ponaryo dan Markus)???
  58. From gambler on 20 July 2007 12:24:43 WIB
    sementara ini , saya ikut dgn keluarga Bajuri deh.... he he he itu maksudnya pemimpin baru.... adang ato independen sih?
  59. From redi on 20 July 2007 15:46:16 WIB
    Yg penting tuh liat di 2009 nanti. Antara Adang (polisi-PKS) dan Foke (koalisi parpol) mana yg paling bisa nglancarin naek Sutiyoso jadi RI 1. Lebih bagus lagi kalo dua2nya kerjasama, sutiyoso makin seneng tuh heheheh... Bagi parpol2 (koalisi parpol dan PKS) jg gitu. Liat jg, mana yg paling efektif utk kekuasaan (adang-dani ato foke-prijanto). Suara masy. mah gak jadi ukuran. Kalo kurang, ya bisa ditambahin. Toh ada duit dan kekuasaan ini hehhe...
    Kalo skg mah, kampanye dan janji2 buaya cuma buat formalitas aja biar kesannya demokratis. Liat aja nanti juga, speerti juga di daerah2 lain, PKS, PDIP, golkar, PAN dst dst akan pada koalisi sana sini utk 2009.
    Kalo Foke menang, PKS nanti jg akan ngajak koalisi, gitu jg sebaliknya kalo Dani menang...Alasan omong kosong aja kalo ngaku di keroyok parpol2. Ini politik indonesia cing, gak pake etika2an, apalagi moralitas agama (cuma bawa2 nama agama aja) hehhe ... makanya saya jg gak percaya analisanya Gumay klo bakal ada kekerasan di Pilkada DKI... (pertarungan Foke-Adang-PKS-20 parpol yg relatif dari satu "kandang" dan gak ada perbedaan ideologis gak akan membawa pertarungan berdarah2).

    Persekutuan BUSUK ini yg mo dibongkar lewat calon independen dan Golput!
  60. From asep on 20 July 2007 21:57:16 WIB
    Sebenarnya analogi yg paling cocok utk Pilkada DKI kali ini bukan "memilih yg terbaik dari yg terburuk", tapi ibarat memilih baju item kotak2 putih (Foke-Priyanto) ato baju putih kotak2 item (Adang-Dani)... dua-duanya sama aja bow... mending gak pake baju deh..
  61. From redi on 21 July 2007 10:13:31 WIB
    Kandidat yang bakal menang skg adalah yg bisa adjustmen sama Orba (melindugin keluarga Cendana dan militer dari pengadilan korupsi dan pelangaran HAM; merawat bisnis tentara dan cendana spy tetap awet dst dst). Sutiyoso, setelah kalah start ama Yusuf Kalla, udah adjust dirinya, mis waktu Suharto ultah, doi udah dtg sowan. Nah, cagub2 yg ada skg jg mesti bisa jg adjust dirinya ke Orba dan sutiyoso. Adang dgn polisi-PKS dan Foke dgn 20 parpol dan birokrasinya tentu sangat menjamin kelanggengan Orba. Cendana gak pgn lagi ada pengadilan buat dirinya, setelah tommi, si anak emas, udah jadi tumbal dan pencuci dosa bagi sodara2nya dan suharto. jadi kalo disusun secara bertingkat: Sutiyoso adjust dirinya ke Orba, Foke-Adang ke Sutiyoso. PKS makanya udah bagus tuh mulai ikutan korup dgn terima dana DKP hehe jadi semakin mirip ama Orba, semakin deket ke kekuasaan... hehe..Yang penting bukan morality good but politically good .... ironis ya...

    Jadi kesimpulanya, sebelum tanggal 8 hasil Pilkada mah udah bisa di tebak skg.. siapa pun yg menang akan melanggengkan Orba. Dan sebernnya sebelum pilkada pun Sutiyoso dan Orba udah menang duluan. Mereka cuma perlu "rekrutmen" tgl 8 nanti 2 org utk posisi cagub dan wagub utk menjamin kelangsungan kekuasaan THE BIG BROTHER hehehe...
  62. From ZWZ on 23 July 2007 21:00:46 WIB
    Klo ndak salah kolom Budiarto S di Kompas nulis klo perilaku penguasa orba bukan manusia. Jadi klo cagub juga berkiblat ke cendana, wah berarti kecolongan dong! Jadi bingung kok ada manusia dipimpin oleh bukan manusia (perilakunya)? Susah bertindak manusiawi dong ya! Coba WW pikir gimana memanusiawikan manusia lain bila yang mimpin benar udah tidak berlaku manusiawi lagi. Betul2 mumet negri ini. Ayooo dong intelektual muda, jangan sampai ada reformasi jilid dua. Kan rizal ramli bilang bisa2 ada krismon kedua. Janganlah yaw.. rakyat jadi capek deeeh!
  63. From fikri on 25 July 2007 22:04:21 WIB
    PILIH ADANG AJA DARIPADA GOLPUT, biar g nyesel, daripada
    yang jd gub-nya foke, masih lebih baik adang, trus sapa
    tau aja jika kpilih adang bakal penuhi janji2nya, kyknya g
    mustahil jika jakarta bisa 'klo g saya bilang pelan tp
    pasti' bebas banjir, pendidikan gratis mpe SMU krn saya
    pernah baca, jika dia g bisa penuhi janji2nya silakan
    lempari rumahnya dengan tomat busyuk.

    PILIH ADANG AJA DARIPADA GOLPUT, biar g nyesel, jangan lupa
    'ini kelemahan bangsa kita yang pling parah' apa yang tlah
    diperbuat ma foke selama 10 tahun jd WAGUB, bukankah
    banjir tiap tahun slalu ada, pengangguran nambah trussss,
    kesehatan mahal, seharusnya semua itu kita inget biar kita
    bisa cermat dalam memilih pemimpin kita entah itu presiden
    mpe rt/rw
  64. From Mamat on 26 July 2007 04:22:08 WIB
    Gw seh udah gak percaya sama pemerintahan sekarang tapi apa boleh buat emang bener kenyataannya KORUPSI di tangani dengan BIJAK... Hidup Mas YOS.!!! Hidup DPRD.!!! Korup terus sampe ente pada kenyang..!!!!!
  65. From didi on 26 July 2007 21:06:03 WIB
    kalo nanti yg punya hak pilih tapi ga pake bukan berarti dia golput seperti..orang2 pinter kaya bung redi/butet dkk,bisa aja lagi halangan/sakit/kerja ato emang lagi males aja...jadi jgn anggap kalo golput gede berarti rakyat sadar politik...apalagi cuma tereak golput di forum ini...
  66. From peters on 27 July 2007 12:20:30 WIB
    Saya pesimis terhadap penyelenggaraan demokrasi kita di indonesia, mengingat penerapan multi partai sangat rentan terhadap kompromi dan deal-deal politik. Akibatnya siapa pun yang memimimpin Indonesia, baik dari presiden, menteri, gubernur, sampai kepada bupati, legitimasinya sangat lemah. Hal itu disebabkan oleh sistem yang diterapkan adalah balance of power, dimana setiap para penyelenggara pemerintahan dalam mengambil satu kebijakan tidak bisa tegas karena selalu mengakomodir segala kepentingan khususnya partai-partai yang mendukungnya menjadi kepala pemerintahan. Saya kira sistemnya harus diubah. Demokrasi cukup 2 partai saja, ada partai pemenang, ada partai oposan, dengan demikian siapapun yang menang pemilu akan menjadi penyelenggara pemerintahan. Selanjutnya yang kalah menjadi opisisi pemerintah. Bagi partai pemenang pemilu akan mencalonkan kembali kandidat-kandidatnya misalnya dalam pemilihan Gubernur. Partai tersebut wajib melakukan fit and proper test terhadap seluruh calon gubernur. Kandidat-kandidat tersebut kemudian akan mempresentasikan visi, misi, rencana strateginya serta program kerja ke depan sehingga masyarakat dapat mengetahui arah kebijakan dari masing-masing kandidat. Bila kandidat tersebut lulus dari fit and proper test dari partai, maka partai tersebut akan mempublikasikan calon-calon gubernur, dan setiap calon harus mampu melakukan debat public, sehingga figur, kemampuan, dan kecakapan dari masing-masing kandidat dapat dinilai oleh masyarakat. Masyarakat dapat memilih kandidat yang sesuai sehingga tidak lagi seperti membeli kucing dalam karung.
  67. From redi on 27 July 2007 15:01:05 WIB
    Lucu juga deh liat alur perdebatan di ruang ini. Kalo utk pendukung Foke emang gak ada yg bersuara jadi gak perlu di bahas, tapi yg pendukung adang-PKS ini perlu dibahas nih hehheh... kyknya udah berbagai sudut dijelasin knp cagub2 ini di tolak yg terutama menunjukkan proses pemilihan cagub yg gak bersih (terlibat politik uang, track rekord gak bersih dst dst) juga knapa parpol2 bermain curang (deal yg gak jelas dgn cagub2, terima dana dkp dst dst), trus juga udah digambarin kenapa perlunya calon independen dan golput. Tapi herannya argumen yg diajukan pendukung cagub terutama Adang-PKS selalu argumen yg sama yg diulang2 dan jargon kosong... aneh jg ya... tugas seorangpendukung emang meyakinkan org lain, tapi klo argumen yg dipake terus diulang2 (adang bersih, adang lebih baik, pks bersih, adang berani dst dst) padahal udah dibantah jadinya perdebatannya jadi macet dan org2 jadi males berdebat lagi. Tapi yg bisa disimpulkan, proses kampanye dan perdebatan pilada ini mnunjukkan kualitas yg rendah sekali krn tidak ada pendidikan politik yg didapat oleh masy lewat perdebatan/kampanye2 tsb, dan yg lebih penting lagi tidak ada dialog! tiap kandidat tentu py program dan masy punya tuntutan tapi kalo materi kampanyenya terus sama dan gak ada proses negosiasi dan perubahan isi kampanye artinya ya gak ada dialog.. kampanye di gedung2 dan ruang ini cuma kyk ngomentarin spanduk dipinggir jalan aja... heheh yg lebih ngeri lagi, krn gak bisa berdialog dan pendukung2nya ini yg ada dibawah sdg si adang mah diatas sana, kalo nanti ada masalah di jkt (banjir, kemiskinan, penyakit dst) apakah mereka bsia menghadapi kritik ato jgn2 nanti yg keluar lagi2 jawaban jargon (adang hebat, adang bersih, adang baik, adang berani dst)...heheh sedih deh kita
  68. From asep on 27 July 2007 22:52:26 WIB
    utk komen no.65, si eep emang nulis di kompas selasa dgn poin persis seperti anda: tingginya golput tidak berarti tingginya kesadaran politik. Tapi tulisannya si eep itu klo ente baca ye logikanya gak runut dan menunjukkan kekacauan berpikirnya si eep. penyebabnya ane gak ngerti deh, mungkin doi lagi puyeng dikejar deadline hehhe...Gak logisnya gini, diawal dia mulai dgn poin bhw golput skg tidak punya makna perlawanan politik kyk jaman orba. Kata doi, klo skg di beri makna patriotisme, maka jadi kayak pahlawan kesiangan. Tapi ujung2 dia blg, mnurunnya partisipasi dlm pilkada scr nasional/tingginya golput itu bahaya sbg gejala politik. Lah ini gmana sih logikanya. Tidak mencoblos emang alasannya bsia macam2. Tapi apapun alasannya itu, kalo ratenya tinggi, nunjukkin bhw SEBAGIAN BESAR masy. memilih sengaja ato tidak sengaja, TIDAK IKUT PENCOBLOSAN. Seperi jg no. 65, klo masy gak ikut milih krn sakit, halangan, kerja ato apapun, artinya buat masy pilkada itu GAK PENTING. Nah tugas anda dan Eep deh buat cari jawabannya knapa buat masy. pilkada dianggap gak penting (lebih penting kerja atu ngurusin yg lain) klo kita2 yg golput mah udah tau jawabannya hehehhe...
  69. From budi on 30 July 2007 19:24:05 WIB
    para cagub katanya mau perbaiki jakarta, tapi baru kampanye aja udah kotori lingkungan. lihat tuh, pamflet, stiker, dll. semrawut, belumn lagi pamflet lawannya yang disobek-sobek. jadi tambah gak bikin indah jakarta (yg emang gak indah). apa gak ada kampanye yang lebih bersih, benar-benar bersih. bersihin ciliwung kek rame..rame..tim sukses, pendukung, partisan. jangan cuma lewat doang cari massa. pamflet ditempel sembarangan. gak boleh lihat tembok orang bersih..tempel!!! tiang listrik nganggur...tempel!!! orang baru ngecet pager..tempel!!!!
    kalo kayak gini...
    gimana mau jadi gubernur...................
    yang realistis lah.....
  70. From pengamat kota jakarta on 31 July 2007 00:07:57 WIB
    hahahahahaha (biarkan gw tertawa terlebih dulu)
    sukses bgt om wimar bikin tulisan yang banyak bgt komentarnya (gimana caranya sih om?)
    gw bingung nih, dari tadi yang gw liat komentarnya kebanyakan ampir-ampir nge-black campaigne PKS sih? ada apa dengan PKS? gw bingung sangat-sangat bingung.
    yagn gw tau sih, pas kemaren banjir, cuma partai atu ini yang bikin posko banjir duluan, partai lain cuma slogan doank! SRY,GW BUKAN KADER/Simpatisan PKS (setidaknya untuk saat ini).gw cuma ngeliat kenyataan doank kok.
    klo boleh gw bantuin simpatisan PKS yg ada dlm forum ini, PKS nerima duit dari ADANG itu pasti. bukankah pilkada butuh biaya yg tidak sedikit? tapi apakah itu bisa dinamakan bahwa PKS maruk kekuasaan?
    emangnya ketika PKS masuk kedalam wilayah kekuasaan nama partai ini langsung jadi jelek? apakah yg namanya kekuasaan itu jelek?
    klo benar yg dinamakan kekuasaan itu adalah suatu hal yang jelek, berarti partai-partai yg lebih maruk lagi akan kekuasaan seperti golkar,pdi-p, dll adalah partai jelek donk?
    yg gw bingung gini, setiap PKS mau memimpin sebuah institusi pasti deh langsung ada cap jelek buat partai atu ini. kenapa sih?
    tentang pilkada jakarta, si foke sendiri gw baca di sebuah forum, katanya pernah minta dukungan ke PKS sebelum mencalonkan diri sebagai cagub. ini dia lakukan sebelum minta dukungan dari 19 parpol lain lho! ngapain dia minta dukungan ke PKS? berarti si foke beranggapan bahwa PKS bisa membantu dia jadi gubernur DKI selanjutnya donk. 19 parpol itu tuh yg menganggap PKS common enemy, musuh bersama, mungkin karena PKS mau membenahi jakarta kali ye?
    ijinkan gw tertawa sekali lagi : HAHAHAHAHAHAHA!
  71. From bahlulente on 31 July 2007 08:55:25 WIB
    to no. 70.
    ye..eloe..ngaku pengamat kota jakarta...gak pede ya ngaku orang pks. kacian deh loe
  72. From redi on 31 July 2007 10:26:22 WIB
    utk komen panjang lebar no. 70, jawabnnya sederhana saja:
    jika kekuasaan dikaitkan dengan agama apalagi bonceng agama demi kekuasaan maka dia jadi JELEK. Agama adalah urusan personal, politik adlaah urusan publik (seperti anda katakan ada uang yg main disitu). Harus dipisahkan.
  73. From pengamat kota jakarta on 02 August 2007 21:46:40 WIB
    hahahahahaha...lucu juga ngeliat komen di atas (komen no.72) (yang komen no.71 sih gw yakin cuma iseng2 doank)

    benarkah politik itu untuk urusan publik? publik yang mana yah? kok gw sebagai 'publik' gak ngerasa efek dari politik?
    oooohh, itu mungkin karena politik di Indonesia belum berMORAL.

    bonceng agama demi kekuasaan maka dia jadi jelek? klo gitu mendingan PKS,PPP,PKB,PDS, dan parpol2 berbasis keagamaan lain mendingan bubar aja. dan kita akan kembali pada masa orde baru dimana parpol yang tersisa adalah parpol2 licik bin korup!
    padahal mereka-mereka (PKS,PPP,PKB,PDS,dll) berlandaskan MORAL(AGAMA) agar mereka tidak melenceng dalam berpolitik.
    yah, bisa diliatlah parpol yg gak berbasis MORAL(AGAMA) kayak gimana keadaannya.

    lagian yang mau ngatur-ngatur agama orang lain siapa sih? kan agama udah diatur dalam kitab suci? ya kan?

    no offense...
  74. From pengamat kota jakarta on 02 August 2007 21:51:37 WIB
    sry om WW, komen gw di atas melenceng dari tema yah?

    mengenai GOLPUT. golput sih udah dari dulu ada kali. gak cuma pas pilkada jakarta aja. mungkin karena calonnya cuma ada dua kandidat. padahal klo kita cermati, kita bisa pilih salah 1 nya...
    jadi ngapain juga GOLPUT?
    GOLPUT tuh ibaratnya, klo pilkada ini gagal menghasilkan gubernur yg ok, dia bakalan ngomong;"tuh apa kata gw...!"

    tapi giliran pilkada ini menghasilkan gubernur yang oke, dia diem-diem menikmati juga kebijakan2 gubernur ok tadi...

    dengan kata lain GOLPUT tuh orang munafik...

    no offense lagi...
  75. From Intox on 03 August 2007 09:15:22 WIB
    Sejarah mengatakan bahwa kesatuan antara agama dan pemerintahan berakibat selalu buruk. Terlebih lagi, "peraturan agama" bisa menjadi hasil dari ego segelintir orang yg mengatas namakan "agama" demi bisa mengatur hidup orang lain. Siapa, di antara partai2 yg berembel2 agama, yang mempunyai kredibilitas tinggi yg tak korupsi, merusak lingkungan, memecah umat, dan progresif?

    Sebelum menjawab, sebaiknya dilakukan sedikit research. Kata2, slogan2, dan peraturan2 di buku hanyalah "pemanis", kita harus lihat lebih dalam daripada itu semua. Apakah mereka benar2 menjalankannya?

    Terus mengenai golput: Sekali lagi, memilih adalah HAK, bukan KEWAJIBAN. Untuk SEKARANG, banyak dari kita yg merasa para cagub gak ada yg bener, makanya ada yg golput, karena tidak mau dibelenggu pemilihan antara 2 calon yg gak beres. Tapi kalo nanti ternyata pemenangnya memang melakukan hal yg baik, ya memang sudah sewajarnya. Itu bukan sesuatu yg "wah" atau "aneh". Memang itu lah yg harus dilakukan seorang pemimpin, terlepas dari manapun dia datang. Kenapa ini menjadi hal yg personal "tuh kan, lo dulu gw bilangin ini yg paling mantep!" hahahaha, ini bukan pemilihan ketua kelas mas. Memang tujuannya ini semua apa? Jadi pemenang dan pemimpin, atau ngeberesin Jakarta? Ego ego ego...

    Kalo kata Pak Gus Dur "Gitu aja kok repot".
  76. From riadi GOLPUT on 03 August 2007 15:15:36 WIB
    Emangnya partai2 beragama gak korup? sama aja deh kayaknya pada korup juga... Yg bisa mngkontrol nafsu org utk berkuasa dan kekayaan (termasuk korupsi) tuh bukan agama, tapi HUKUM. Jgn dibalik ... (sekali lagi liat aja kasus DKP)

    partai2 basis agama sih boleh2 aja tapi jgn emmanfaatkan agama utk politik mis yg sederhana aja, jgn kampanye politik di tempat ibadah, jgn pake ayat2 utk kampanye dst dst hehehe sanggup gak nih PKS?... Yg kasian tuh kader2 dibawah yg lurus dan ideologi, tapi elit partainya sbnrnya oportunis krn ada itung2an politik reel...(innget argumen Rama pratama dari fraksi PKS waktu PKS berubah mndukung kenaikan harga BBM? doi bilang ini politik bos... heheh)

    Sbg publik gak ngrasa efek dari politik? Aneh jg logikanya nih kecuali jgn2 Lo gak bayar pajak ya...? hehe bayar pajak kan aktifitas politik juga sebagai publik... yah ketahuan deh belangnya...

    Soal menikmati.. lah emang yg nusuk ADang-Dani, trus yg menang di Fauzi bowo, PKS gak bakal nikmati? Begitu jg sebaliknya... Gmana sih nih mikirnya heheh... Ngaco lagi deh kamu..... SECARA golput dan non golput bayar pajak, ya emang kewajiban gub itu donk mejalankan kewajibanya.. emang mereka kerja gratisan? emang kita yg golput gak bayar pajak buat gaji dia...?
    Aduh mas ini logikanya dibolak balik mulu deh... Nafsu kekuasaan sih boleh2 aja mas, tapi mikir tetep lurus donk biar gak makin keliatan belangnya... heheh
  77. From OKE on 04 August 2007 14:18:12 WIB
    hidup independen (GAM) and (GJM) all the best.
    Freedom for the choise, the leader in the country.
  78. From tuxer on 04 August 2007 16:27:56 WIB
    Yang saya sayangkan adalah iklan dengan tema yang tidak mendidik. Masa iklan mempromosikan rambut di atas bibir. Selain itu ada juga yang mengunggulkan sifat "kedaerahannya", emang penduduk DKI cuma dari satu etnis? Pokonya banyak banget iklan - iklan yang ga mendidik dan ga bermutu dari calon gubernur yang katanya terhormat.

    Saya liat pilkada DKI ga beda dengan lawakan Srimulat... hehehe
  79. From damar on 05 August 2007 09:34:02 WIB
    Ini topiknya koq jadi nggosipin PKS, nulis ngelantur kesana kemari.

    Kalo mau jadi golput ya udah golput aja.. semakin banyak golput, semakin besar kans AD-DA untuk menang :)

    PKS maju terus, pantang mundur ! Benahi Jakarta!
  80. From gie on 06 August 2007 10:09:05 WIB
    Spakat sama bang damar,
    Ane dukung bang Adang same Bang Dani jadi Gubernur and Wakil Gubernur DKI Jakarta.

    PKS maju terus, Inallaha ma ana.
  81. From Chandra Marsono on 06 August 2007 12:23:34 WIB
    Saya malah tidak setuju dengan golput. Saya tidak terlalu tergila-gila dengan Adang, tapi setidaknya saya lebih merasa nyaman dibanding punya gubernur yang menjadi puppet untuk banyak partai. Tapi ya, Pilkada memang dagelan, acara debat antar calon saja bikin saya jijik, saling mencari aman. Sampai sekarang saya belum tau adanya bentuk program yg ditawarkan dari calon, just promises.
    Berapa sih gaji gubernur. Apa dalam 5 tahun bisa mengembalikan uang yang digunakan untuk Pilkada? If not... ya mereka harus nurut yg bayarin dong. Thats why I feel safer with PKS.
    Golput?? You gonna let a man thats bad news and controlled by many parties lead this city. Use your head man.

    Ingat. Coblos 1 sah, coblos 2 ga sah... :-D
  82. From redi on 06 August 2007 17:27:16 WIB
    Ya betul! jgn lupa nanti tgl 8 untuk coblos... : DUA2NYA heheh.. ingat kita harus berlaku ADIL. Jgn cobloa salah satu krn nanti akan bikin iri kandidat yg lain. Tidak adil mencoblos hanya satu kandidat. Jadi coblos lah keduanya! atau jgn coblos sama sekali..

    Ingat ADIL! kyk pesannya Partai KeADILan Sejahtera!

    Krn Adil itu dekat dengan Tuhan...

    JAdi Coblos kedua kandidat atau jgn coblos sama sekali!
  83. From asep on 06 August 2007 17:32:44 WIB
    utk no. 81.. ya kita Golput-ers emanng gak pake otak tapi pake HATI...

    Karena kita jujur ama HATI bhw, keuda kandidat tidak bermutu
    bahwa kedua kandidat dan SEMUA partai pendukungngya tidak BERSIH

    Use your HEART man... GOLPUT!
  84. From idner on 06 August 2007 21:21:14 WIB
    ada yang bilang ketika kita berada dalam dua pilihan. dan kedua pilihan tersebut sama-sama buruk, kita harus memilih yang paling sedikit membawa petaka.

    klo para calon GOLPUT-ers besok pake 'hati nurani' tentunya mereka bisa memilih diantara dua pilihan tersebut.
  85. From risdi on 07 August 2007 10:53:35 WIB
    Dont use your head but use your BRAIN and HEART

    Basi deh dpt pilihan terburuk mulu, 2004 gitu skg gitu lagi... Nanti 2009 pasti sama lagi, pilih yg terbaik dari yg terburuk.. Nasib kita para voters kok sial mulu tiap pemilu...emang kita para voters bodoh2 apa ditipu mulu dgn "ada yang bilang ketika kita berada dalam dua pilihan. dan kedua pilihan tersebut sama-sama buruk, kita harus memilih yang paling sedikit membawa petaka."


    Sekali dalam hidup manusia harus MENENTUKAN SIKAP sebab kalau tidak, dia TIDAK AKAN JADI APA-APA!

    Use your brain and Heart for GOLPUT!

  86. From adi on 07 August 2007 16:01:29 WIB
    Kata-kata seseorang mencerminkan kualitas orang tersebut.kalo sebuah teko isinya air putih, maka ia akan mengeluarkan air putih pula. saudara-saudaraku, jangan mudah terpancing untuk mengeluarkan kata-kata kurang pantas.
    Mengenai dana Adang-Dani, bukankan sudah diberitakan melalui media massa, sebagian besar dari sumbangan-sumbangan pribadi. PKS adalah partai kader, bukan massa mengambang yang mempunyai jaringan ke akar. mereka memang menggalang dari kantong pribadi dari seribu, lima ribu, dan seterusnya. PKS menerima dana DKP? saya kira anda perlu telaah kembali beritanya, yang menerima adalah individu salah satu kader PKS, bukan partainya, itupun sudah diklarifikasi yang bersangkutan.
    Kenapa kader PKS tidak di DKI1? tentu mereka mempunyai pertimbangan cermat, bukan sembarang. dan saya himbau pada saudara-saudara untuk tidak Islampobia, Demi Allah Islam agama yang damai.gambaran selama ini hanya kamuflase dari pihak tidak bertanggungjawab, ataupun karena pihak yang kurang arif dalam mengambil keputusan sehingga terkesan keras.
  87. From idner on 09 August 2007 21:27:34 WIB
    udah jelas sekarang siapa yang bakalan jadi gubernur jakarta. bang kumis, klo kata gw ini adalah pilihan terbaik bagi warga jakarta dari 2 pilihan. yang mungkin kata golput-ers, ini adalah salah satu pilihan terburuk.

    semoga di pilpres 2009 kita bisa punya pilihan yang terbaik dari yang terbaik
  88. From a ratumakin on 28 October 2008 11:02:30 WIB
    AYO GABUNG 1-SUARA dengan gerakan RAKYAT-NON-PARTAI, kita ikut Pemilu 2009 dengan daya tawar yangtinggi !

    Silahkan masuk ke www.rakyatnonpartai.com

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home