Articles

Kota Seks(i), Groningen, dan Gus Dur

Male Emporium
04 July 2007

Seperempat Putaran Bumi

Ketika orang di Belanda mulai tidur, teman di Indonesia mulai bangun. Seperempat putaran bumi membuat kehidupan dua tempat jadi sambung menyambung. Tatkala Belanda menutup satu hari dalam perjalanan hidup mereka, Indonesia memulai hari berikutnya. Amsterdam dan Groningen menyambut hari baru dengan kejenuhan budaya mapan. Jakarta dan Sidoardjo menyongsong pagi dengan harapan bercampur kecemasan dan ketidak pastian.

ME

Suatu malam belum lama ini ada siaran berita televisi dari Amsterdam dalam rangka keramaian pawai tahunan yang menghiasi kanal-kanal tersohor. Pawai itu diikuti belasan ribu orang, semua telanjang bulat. Jakarta sering melihat pawai ribuan orang, sudah biasa. Tapi terbayang hebohnya orang Jakarta kalau melihat pawai di Amsterdam dimana belasan ribu orang telanjang bulat, perempuan dan lelaki, naik sepeda, naik perahu, berderet di jembatan dan mengisi gedung parkir multi-tingkat. 

Tidak mungkin foto jelasnya dimuat di majalah Indonesia. Bukalah sendiri melalui search engine kesukaan anda di internet. Selain kagum mengamati ribuan orang bugil di layar televisi berita, geli juga membayangkan bahwa di Jakarta justru jang jadi topik adalah apakah  perempuan Indonesia yang sudah berpakaian lengkap perlu makin ditutup lagi tubuhnya. Cappee deh… 

Amsterdam memang sudah lama menjadi pusat kebebasan moral di dunia. Hak kaum gay dan lesbian dipertontonkan secara terbuka. Bahkan mereka bisa nikah antara lelaki atau antara perempuan. Kaum hetero melampiaskan kebebasan dengan tontonan seks lengkap di panggung komersial. Prostitusi berjalan bebas dan dipromosikan oleh PR. Pusatnya di ‘Red Light District’ hanya beberapa blok dari tempat wisata mainstream Damrak dan Kalverstraat. Lukisan Rembrandt asli bekerjasama dengan film porno sebagai mesin pariwisata penghasil devisa besar. Sampai-sampai Bush dengan keluguan yang khas mengucapkan kalimat sakti,  “Ämsterdam is my favorite country.”

Mungkin Bush senang Amsterdam karena dia lelaki, dan lelaki suka yang ditawarkan Amsterdam? Memang, dari anggota parlemen Inggris sampai pemain sepakbola Denmark, mereka berbondong-bondong ke ‘Red Light District.’ Tapi terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa orang yang datang ke daerah begituan adalah juga konsumen perdagangan seks. Buktinya, mobil yang keliling daerah Dolly di Surabaya bisa menghibur rombongan lelaki dan perempuan muda profesional. Bukan PSK tapi profesional PR. Wita yang masih muda excited sekali melihat tempat yang exciting itu. Walaupun tidak terpikir untuk mencobanhya, lagipula kelihatan Dolly memang khusus untuk lelaki.

ME

Amsterdam bukan negara, Mr President George W. Bush. Amsterdam itu kota. Dan lelaki di Amsterdam sama saja dengan di tempat lain. Yang beda adalah sarana promosi industri yang di Jakarta pasti lebih besar volumenya, apalagi dalam bentuk retail. Amsterdam sih biasa-biasa saja, apalagi negaranya. Negaranya itu Nederland, artinya Tanah Rendah. Memang dataran rendah semua, malah ada yang lebih rendah daripada permukaan laut. Tanah pegunungan di propinsi Limburg menampilkan titik tertinggi di negeri Belanda, gunung Vaalserberg setinggi 322.7 meter,. Pantas banyak sekali lapangan sepakbola di negeri Belanda, tidak perlu meratakan tanah. Asal tega mengurangi tempat makan sapi hitam dan sapi coklat khas Belanda. Mudah sekali menciptakan lapangan sepakbola atau pelataran parkir di negeri Belanda. 

Jakarta dengan tempat yang sempit masih dipadati oleh mall sementara lapangan olahraga makin sedikit. Wajar lah, karena komisi pejabat DKI untuk pembangunan mall lebih tinggi daripada untuk taman hijau. Di negeri Belanda, mall sedikit saja dan kecil-kecil tapi taman hijau dan fasilitas olahraga mewah dan besar. Kalau DKI mau maju, mungkin harus tambah Cagub dari Belanda, menggantikan Gubernur yan senang menjejali kota dengan beton sampai banjir makin hebat saja.

Metropolitan di dalam kepala

Karena sudah ratusan tahun mapan, masyarakat Eropah tinggal fokus pada kelebihan masing-masing dan melestarikannya baik untuk penduduknya maupun untuk pendatang. Masa kini, pendatang yang penting tentunya turis. Tanpa usaha khusus, negeri Belanda sudah menarik bagi turis. Pertama adalah urusan makanan. Tiap negara punya makanan favorit. Kalau lihat negara tetangga saja, Jerman, yang kaya dengan daging dan macam-macam sausage, Belgia dengan kentang goreng, maka trademark Belanda mungkin ada pada ikan.

Indonesia punya aneka ragam makanan yang tidak habis dipamerkan dalam acara makanan di televisi setiap hari. Tapi yang menjadi kunci pariwisata sebetulnya bukan makanan, bukan sex show Amsterdam (capek juga orang nonton begitu terus-terusan) tapi prasarana, kata sok-ilmiah yang berarti kemudahan untuk kesana kemari dan tinggal nyaman. Terutama untuk kesana kemari. Kota-kota negeri Belanda itu tidak dahsyat banget sampai orang mau bersusah payah mengunjungi. Tapi kalau mudah, mengapa tidak? Pernah saya dari ujung Utara Groningen, ketemu teman di wilayah pusat Utrecht, terus sama-sama ke Maastricht di pojok paling selatan dan timur. Setelah teman turun di situ, saya kembali pake kereta api ke Groningen. Satu negara dijelajahi dalam sehari, dengan satu tiket kereta api. Itu yang dimaksud dengan prasarana jempolan. Kereta api yang jadwalnya dijamin sampai menit, dengan sistim perkarcisan yang sederhana. Negara kita memang luas. Tapi coba di DKI saja. Dari Cilandak, ketemu teman di Jalan Thamrin, antar dia ke Meruya, balik lagi ke Cilandak, mungkin makan waktu lebih lama daripada keliling negeri Belanda.

Orang jadi seneng jalan sekedar untuk jalan , menjadi turis sepanjang hari tanpa pusing karena kereta api, bus dan tram tersedia kemana-mana. Orang Indonesia banyak yang tidak biasa dengan transport publik karena di kota seperti Jakarta proyek transportasi jadi obyekan Pemerintah Daerah mengorbankan pemakai. Di Belanda, angkutan umum merupakan cara bepergian paling nyaman. Jadi di satu kota tidak perlu terlalu banyak pusat keramaian. Kota Groningen hanya punya satu tempat kumpul yaitu Grote Markt, artinya Pasar Besar. Di alun-alun inilah orang kumpul, terutama musim panas, untuk macam-macam hiburan. Sebetulnya tempatnya hanya pelataran kosong dimana semua bus lewat. Yang seru,  hiburan bergantian diadakan disana. Yang paling sering adalah kios-kios jualan, dari pakaian sampai aksesori sampai keju, ikan, buah dan bunga…. Dimana-mana bunga. Pada minggu-minggu tertentu ada pasar malam seperti Dufan kecil. Pada Koninginnedag (ulang tahun Ratu) atau kalau klub sepakbola FC Groningen menjuarai turnamen, orang berpesta disini. Ada juga musik. Kalau mau lihat, klik saja webcamnya di http://webcam.exception.nl/ . Katanya minggu-minggu ini mau diisi pasir untuk main volley pantai dan sepakbola pantai.

Amsterdam bukan negara, bahkan tidak bisa dikatakan mewakili negeri Belanda. Groningen yang kurang terkenal barangkali lebih mewakili. Bagi orang yang tinggal lama di negeri Belanda, keistimewaannya adalah keasrian habitat. Kualitas hidup tinggi bagi orang santun terlihat dalam kendali terhadap konsumsi. Orang kaya orang miskin sama-sama tinggal di rumah kecil tapi lengkap fasilitas. Sampai-sampai menular ke mahasiswa Indonesia di negeri seberang ini. Kalau di California orang tua mahasiswa Indonesia bisa dibedakan dari merk mobil, apakah Ford atau Maserati, di Belanda semua mahasiswa naik sepeda, bus atau kereta api. Rasanya hanya pejabat aIndonesia yang masih main jemput-jemputan pakai mobil mewah kedutaan. Di masyarakat mapan, pamer harta identik dengan selera rendah.

Kehidupan ideal bagi sementara orang di Groningen sudah tercapai bila beruntung menempati apartemen kecil tapi lengkap fasilitas, apalagi dengan gudang di luar untuk menyimpan sepeda, tapi kalau sepdanya murah, cukup digembok dan ditinggalkan di pinggir jalan bersama sepeda lain.

ME

Gudang dan dinding apartemen sesekali diperbarui dengan reparasi dan pengecatan. Bukan oleh penghuninya, tapi oleh Dinas Kota Groningen. Soalnya, perawatan kota berarti perawatan gedung-gedungnya. Kalau di DKI ini bisa sumber korupsi, hal begitu tidak terpikir di Groningen. Negara memang sudah dititipi tanggung jawab untuk merawat infrastruktur kenyamanan hidup, bukan menjadi pengganggu. 

Dalam negara demokrasi maju, tidak perlu ada kekayaan pribadi kecuali dalam kekayaan pikiran. Materi kehidupan disediakan sebagai infrastruktur kehidupan. Pilih walikota yang jujur, bayar pajak, maka pagar rumah kita akan diberi cat baru setiap tahun. Di Indonesia, malah jalan diperbaiki oleh warga, tapi pajak juga jarang yang bayar. Seperempat putaran bumi, seperempat putaran gaya hidup.

Seorang PR practitioner yang pintar dan cantik bernama CL mengatakan: ‘metropolitan in state of mind .. jadinya mature, controlled citizens. bukan kaya jakarta yg metropolitan in trend and lifestyle, jadinya  consumerism, corruption and hipocrisy’. Tapi kita boleh bangga banyak yang menghubungkan Belanda dan Indonesia, walaupun dalam masa lalu. Cobalah jalan di kota manapun di Belanda, terlihat banyak jalan dengan nama kota di Indonesia. Bilitonstraat, Sumatralaan, Soerabajastraat. Presiden Indonesia yang bernama Gus Dur fasih berbicara Belanda menjadi satu-satunya kepala negara yang diberi kehormatan menginap di istana kerajaan Belanda. Dia senang sekali ketika diundang ke Eindhoven karena disitu markas kesebalasan favorit dia, PSV.

Sebaliknya banyak kaitan yang putus, antara lain jalur penerbangan Garuda Jakarta-Amsterdam tidak lama setelah pahlawan hak azasi Munir mengalami nasib naas dibunuh oleh kelompok misterius. Orang Belanda jaman sekarang sudah tidak tahu hubungan mereka dengan Indonesia, dan nama jalan tadi tidak bunyi apa-apa, bahkan jarang menimbulkan pertanyaan.

Tiap negara harus punya panggilan sendiri, tapi ada beberapa nilai yang harus diusahakan dinegara manapun. Nilai itu adalah demokrasi dan pluralisme. Belanda tidak lagi mentolerir VOC yang menekan orang Indonesia dan Indonesia tidak lagi mendukung nasionalisme yang menentang negara Barat. Dua-duanya negara demokrasi. Bedanya, demokrasi di Eropah Barat sudah merupakan lifestyle sejak lama, sedangkan di kita ini trend yang baru. Tergantung generasi sekarang apakah Indonesia akan menjadi masyarakat santun. Itu suatu tantangan selain suatu kehormatan. Lebih menantang dan lebih terhormat daripada sekedar memuaskan diri di ‘Red Light District’ Amsterdam. 

Dari Majalah ME (Male Emporium) Juli 2007

Print article only

33 Comments:

  1. From abiawab on 05 July 2007 00:14:57 WIB
    Tapi ingat bung wimar belanda mapan karena telah mencaplok negara sana sini, dan saya masih optimis indonesia masyarakatnya masih lebih santun dan bermoral (religi) dari masyarakat belanda, terus terang tiga kali saya diam dibelanda dan sekarang juga sendang, saya masih lebih senang dengan keadaan dan kondisi di indonesia dari pada dibelanda yang menjemukan dan membosankan jadi menurut saya indonesia masih lebih memuaskan saya dari berbagai asfek dari pada di Belanda.
  2. From Patrick AMP Manurung on 05 July 2007 02:48:10 WIB

    Abiawab, tolong deh... di Indonesia kan banyak orang luntang lantung di jalan. Ribuan anak jalanan, banyak yang mengemis, banyak yang gak dapat kerja, sehingga banyak perampokan.

    Untuk banyak urusan, orang (tua) kita membudidayakan budaya sogok menyogok. Dari bikin KTP sampe kalau mau wiraswasta mesti pinjam duit dari bank. Hampir selalu dimintai "upeti". Sampai sekarang.

    Koruptor ada dimana-mana. Di bangku sekolah, ada murid yang
    bebas nyontek, lalu ada guru yang rajin menyuplai kunci jawaban. Sampai ke lingkup yang lebih besar, misalnya, departemen agama (konon tergolong layak dijadikan kiblat untuk perkara moral) juga banyak koruptornya.

    Di Indonesia, banyak orang hilang hanya karena berpedapat lain.

    Di negara maju, banyak sekali yang tertata baik. Pedesaannya tidak identik dengan keterbatasan dan kemiskinan. Tapi di Indonesia, "Siapa yang mau tinggal di desa?".

    Di negara maju, sekolah dibuat sangat murah atau gratis, sehingga kalau kebetulan orang tua berpendapatan sedikit, mereka tidak perlu kuatir ttg pendidikan anak-anaknya. Tidak kuatir tentang biaya kesehatan, tidak kuatir tentang biaya hidup hari tua, semua di tata usahakan sejak jauh hari.

    Saya gak ngerti, kok bisa dibilang Indonesia lebih santun dan bermoral?
  3. From wimar on 05 July 2007 05:11:01 WIB
    Seperti biasa, perbedaam pandangan tergantung perspektif. Bagi Abiawab, Belanda membosankankan dan Indonesia lebih memuaskan. Abiawab menggunakan sudut pandang pribadi. Patrick melihat dari perspektif umum. Saya yakin Indonesia juga memuaskan bagi Patrick pribadi, tapi Patrick memandang dari kepentingan umum. Bagian terbesar orang di Indonesia hidup jauh dari memuaskan, sangat kurang nyaman dibandingkan dengan Abiawab dan Patrick yang bisa bolak balik ke negeri Belanda.

    Tinggal kita pilih perspektif mana yang kita pakai. Kalau mau hidup enak, memang lebih enak di Indonesia. Banyak yang hidup terlindung dari ketidak nyamanan, malah banyak yang hidup mewah di Indonesia. Di Groningen, mahasiswa naik sepeda baik dalam cuaca terik musim panas maupun dalam angin menyayat seperti pisau dingin di musim dingin. Semua bekerja tanpa pembantu dan membersihkan rumah sendiri, memasak dan cuci piring, buang sampah, dan belanja dengan membalans karung di atas sepedanya. Pasangan muda menghadiri undangan malam dengan membawa putrinya usia 3 tahun naik sepeda, hanya memanggil taksi waktu pulang karena hujan. Kalau bawa barang naik sepeda, kalau barangnya banyak naik bus, kalau banyak sekali sewa taksi bayar saweran.

    Tapi Belanda terasa santun dan nyaman, karena semua hidup dalam kondisi yang sama, tidak ada perbedaan kaya miskin kecuali dalam tabungan bank. Gaya hidup sama semua. Indonesia banyak bicara moral agama dan moral politik, tapi Gubernur yang korup bisa terpilih lagi melalui wakilnya. Di Belanda moralitas bukan soal norma, malainkan soal penghormatan satu sama lain orang. Di Belanda, koruptor tidak diperpanjang fasilitasnya.

    Memang Belanda membosankan. Lebih menarik hidup di Indonesia jika orang tertantang untuk melawan arus dan mengusahakan perbaikan. Atau sekalian hidup ikut arus dan menikmati kemewahan elite.

    Kalau orang tidak mau berjuang, hanya ingin berkarya, hanya ingin berlaku santun dan diperlakukan sopan, Indonesia belum bisa menyediakan lingkungannya kecuali dalam kelompok terbatas. Kelompok terbatas itu diusahakan meluas oleh usaha orang biasa. Langkah pertama ialah mengakui kekurangan kita dan melakukan response yang positif. Bukan rakyat Indonesia yang salah, tapi pemimpinnya.
  4. From abiawab on 05 July 2007 14:23:32 WIB
    Bung Patric and bung wimar, taun 2000-an saya pertama kali ke belanda, saya liat tuh orang-orang belanda rapi banget buang sampah ditempatnya dan taat banget tuh sama yang namanya lampu merah dijalanan, nah sekitar taun 2004 -an aku kesana lagi, mulah berubah deh tuh orang-orang, mulai banyak yang suka buang sampah sembarangan dan mulai nerobos yang namanya lampu merah, lah tahun 2006-an tuh sudah mulai neh aku liat bayak coretan dan sampah juga aku liat kurang terurus dan pelanggar lampu merah murah bayak, dan tahun 2007-an nih sudah engga karuan deh hampir sama dah kaya di Indonesia aku rasa. Kenapa sebab?, sekali lagi tuh orang-orang mulai bosan pada apa yang nama tertata rapih dan teratur banget, itu kan sifat orang secara individu ingin yang namanya kebebasan. Nah yang namanya di Belanda itu kan Tuh Pemerintah ngatur banget dan memang sih jadi agak kentara wong rakyatnya sedikit jadi tuh pemerintah ngaturnya enak juga lagian tuh pemerintah sudah ngoloni dan ngumpulan emas untuk bangun tuh Belanda ratusan tahun tuh temasuk dari Indoneisa kita itu, jadi yah engga susah-susah amat untuk itu ngatur and nata termasuk yantunin dia punya masyarakat. Nah sementara di Indonesia betul bung wimar yang kurang ajar itu bukan masyarakat (penduduk indonesia)nya tapi Penata/penguasa (termasuk presiden, menteri dan DPR, DPRD, gubernur dan bawannya, yang penting penguasa) itulah yang memang bokbrok banget alias koruptur. Jadi deh tuh kekayaan indonesia dimakan sama mereka semua, dan rakyat keci nih yang bermoral dan agamis dikadalin sama mereka, dan mereka jadi kebagian jatah kesejahteraan sedikit dan jadi kan tidak merata, makanya jadi bayak anak jalanan, pakir miskin, pengangguran dan lll. Tapi disatu sisi kita lihat di masyarakat kita itu punya budaya malu dan sopan, ini yang tidak dipunyai masyarat belanda, sehingga saya mengatakan Dari sudut kemasyarakatan, masyarakat indoneisa (kecuali pemerintahannya) jauh lebih bermoral dibandingkan masyarat Belanda.
    Itulah sebabnya saya lebih optimis kedepan entah 10 atau 20 tahun lagi, Negara indonesia akan jauh lebih maju dari Belanda, karena nanti lihat sajah 20 tahunanan lagi saya memprediksi Belanda akan jauh lebih kalau tananannya dari pada di Indonesia, kenapa Tabungn emasnya sudah menipis, dan masyarakatnya mulai bertambah. Tidak jauh beda dengan Paris, saya lihat tuh kota paris sama dengan tanah abang sekarang kroditnya. Brapo rakyat indonesia, mesti aku bolak-balik Indoensia Belanda- Paris nih aku apresiasi Indoneisa jauh lebih baik dari berbagai asfek dari pada tuh negara Belanda dan Paris.
  5. From anton on 05 July 2007 14:48:32 WIB
    Sungguh beruntung mahasiswa Indonesia di Belanda sekarang yang kuliah tanpa harus di spioni Raadsman,

    ANTON

    Hidup Rano Karno
  6. From Z I on 05 July 2007 15:53:13 WIB
    Yaaaach...


    Semua ada positif dan negatifnya.
    Mari kita belajar dari kekurangan, OK ?
    Kalo cuma ributin yg udah ada, buat apa ?

    Kehidupan, termasuk kehidupan bernegara adalah sebuah proses. Dan lazimnya proses, berlangsung pula pendidikan.
    Kita contoh aja yg baik, OK ?
  7. From wahyudin permana on 05 July 2007 18:47:54 WIB
    Memang, kita harus banyak belajar dari Negara-negara maju, khususnya eropa. Peradaban yang maju, tetapi kehidupan yang wajar dan rapi, disiplin tinggi, menghargai rakyat dan hak orang lain.

    Kita memang perlu banyak belajar dari negara eropa, walaupun begitu, sebenarnya secara umum, untuk moral kemanusiaan, indonesia masih menjunjung tinggi ( kecuali oknum2 pemerintahan yang korupsi abis2an). Indonesia masih punya sopan santun dalam berpakaian, pergaulan ( walau pun ada pergaulan bebas di indonesia, namun pada umumnya itu hanya pada masyarakat edonis saja). Hal ini harus kita pertahankan dan ditambah dengan budaya disiplin, rapi, bertanggung jawab, profesional, etos kerja dari negara2 eropa.

    Dengan kombinasi moral kemanusian yang baik ditambah dengan budaya negara eropa yang tinggi, maka indonesia merupakan bangsa yang mempunyai potensi yang sangat besar ( harusnya begitu, karena penduduk kita banyak).

    Namun pada akhirnya dikembalikan kepada pribadi kita masing2. kita dihadapkan pada 2 pilihan:
    1. apakah mau mengurusi indonesia yang kayak gini, dibenerin agar jadi baik ( dengan pengorbanan yang besar dan hasil yang bisa dirasakan mungkin pada anak2 kita).

    2. atau keluar (hijrah) ke negri orang untuk mendapatkan kemakmuran yang lebih bagus.

    Terserah pada kita. Hidup ini pilihan.
  8. From ajeg on 06 July 2007 00:05:04 WIB
    Yang bikin "TIDAK NYAMAN" Indonesia itu "KUHP"-nya. Dimana ada SANGU di situ ada UANGS lho :))

    Mungkin karena di semua kitab Suci Agama yang "beredar" di Indonesia hanya ada kata JANGAN mengambil yang BUKAN merupakan HAKMU, diubek-ubek tidak ada kata KORUPSI apalagi sering ada slogan JANGAN menolak "REZEKI" parahnya lagi kalimat ini berangsur-angsur menjadi WAJIB "memberi".

    Soal kecil: tetangga saya sering bercerita, kalau di LN bersih, permen karet saja dilarang. Ada denda macam-macam.
    Tadi pagi saya ngintip (untung tidak bintitan:)) si Nyonya cuek aja tuh buang tissue (di tempat sampah :)).

    Kemarin hampir ditilang karena salah jalur, si Pol ngeluarin Price List untuk macam-macam pelanggaran yang sudah diatur UU yang baru itu. Ayo tebak, Si Nyonya pilih apa?

  9. From Marsha on 09 July 2007 08:27:33 WIB
    WW, memang hidup di negara-negara barat yang sudah maju terkesan lebih stabil dan 'monoton'. 'Pace of lifestyle' di barat dan Indonesia memang beda... mungkin karena jam operasi toko-toko yang lebih pendek, mungkin juga karena demonstrasi di luar negeri terkesan lebih teratur dan tidak merusak properti orang lain.

    Sejujurnya, enak atau tidaknya tinggal di suatu tempat tergantung pada pilihan tiap orang. 'Standard of living', keamanan, pilihan lifestyle dan 'earning potentials' adalah beberapa hal yang sering digunakan untuk membandingkan enaknya tinggal di satu tempat versus tempat lain. Tidak usah jauh-jauh membandingkan tinggal di Indonesia dengan di luar negeri, antara Jakarta dan Bandung saja sudah cukup pelik kok pilihannya ;))

    "Lebih menarik hidup di Indonesia jika orang tertantang untuk melawan arus dan mengusahakan perbaikan."
    --> saya kurang setuju. Perbaikan yang memiliki public awareness yang luas memang sebaiknya dilakukan di Indonesia, tapi bukan berarti keabsenan fisik dari tanah air menihilkan kemampuan untuk merubah negeri sendiri. Kalau hidup di Indonesia lebih gampang ikut demo untuk menentang korupsi sih... tapi yang merantau juga bisa menebas mitos 'orang Indonesia itu korup', mitos 'orang Indonesia tidak berpendidikan', mitos 'orang Indonesia tidak memiliki toleransi pluralisme' dan mitos-mitos lainnya yang marak dianut di luar negeri. It's powerful and convincing to have your non-Indonesian friends dispel the myth(s) of "how low Indonesians could be"... by showing them how we hold our integrity intact and promises true.
    Perbaikan dari jajaran atas pemerintahan sangat membantu dan berguna dalam meningkatkan profil negara dan bangsa di mata kalangan internasional. Grassroot efforts from expat Indonesians around the world plays a personal and direct influence on how others around us perceive Indonesians to be. Well, that's how I see the world goes round nowadays anyway :))
  10. From wimar on 09 July 2007 09:07:58 WIB
    Dear Marsha, terima kasih memberikan komentar sangat serius dan akurat terhadap tulisan ini. Saya setuju semua points Marsha

    Andaikata saya tulis ini sebagai surat pribadi kepada Marsha, maka isinya akan beda. Tulisan ini dibuat atas permintaan majalah ME, Male Emporium, yang semula minta saya menulis mengenai gaya hidup orang lelaki di negeri Belanda. Well, meskipun saya lelaki (I think), gaya hidup saya di Belanda tidak begitu menarik untuk diceriterakan. Bangun, email, ym, mandi, bersih-bersih kamar, nonton tv, browsing, sekali-sekali keluar naik bus ke Grote Markt.

    Tapi gaya hidup yang kelihatannya tidak menarik itu bagi saya menarik, karena sangat berbeda dengan gaya hidup saya di Jakarta, dan sangat refreshing mental dan fisik, sampai waist size turun satu setengah dan tulisan berlipat ganda memenuhi permintaan media.

    Sebagai orang media memang saya - for better or for worse - menulis sesuai audiens. Karena ME ingin cerita sexy lifestyle, saya beri tema demikian, tapi dengan menyelipkan komentar mengenai civil society di Belanda. Tau-tau redaksi malah senang bagian non-sexy itu dan saya diminta menambah tulisan 50% dengan serba serbi lebih luas.

    Jadilah tulisan itu yang tidak sengaja memberikan a glimpse of social values untuk pembaca yang biasanya hanya mencari foto wanita cantik (no offense to you, Marsha, you are a different kind of beauty).

    Kalau dibaca oleh orang yang sudah mapan dalam pandangan masyarakat, tulisan itu terkesan naive dan simplistis. Be that as it may, no apologies offered and none expected.

    Wah jadi terbawa dalam gaya tulisan Marsha.. we should do this live in a little corner of London or Groningen or even Cilandak .. :))

    final note: if you really want to know my thoughts, you should read other stuff I have written around this topic, among them the reports on the pertemuan PPI di Groningen dan Amsterdam (kapan London?) dengan tema: "there is a lot you can do for Indonesia in your life abroad." Seratus persen sama dengan pikiran Marsha.
  11. From chandra on 09 July 2007 20:32:10 WIB
    Amsterdam rapi, transportasi lancar, orang hidup tanpa korupsi, jujur bersih,HAM dijunjung tinggi, intelnya tidak ngeracun aktivis LSM, Pemdanya ngecat pagar rumah dan dinding apartemen. Mengapa ? Jawabannya karena Gubernurnya bukan Sutioso.
  12. From william on 17 July 2007 16:28:54 WIB
    rumput tetangga selalu nampak lebih indah....
    betul tidak ?????
    yang jadi permasalahan adalah bagaimana membuat rumput sendiri tampak lebih indah?
    ada inputan untuk masalah ini ?

  13. From Ari Gusyanto on 20 July 2007 14:02:18 WIB
    selamat datang direpublik mimpi....indonesia raya...!!!
    Saya berdoa moga2 indonesia bisa menjadi negara yang demokrasi islamis...jangan sampai ada orang2 lari telanjang bulat di jakarta....
  14. From OKTIA on 24 July 2007 21:19:29 WIB
    SEHARUSNYA INDONESIA MENCONTOH HAL-HAL POSITIF DARI NEGARA BELANDA,INDONESIA HARUS MEMPERBANYK TAMAN TAMAN KOTA,MEMBUAT TROTOAR BAGI PARA PEJALAN KAKI DAN LAIN-LAIN.DI BELANDA NEGARA YANG SANGAT MAJU,SEHINGGA PARA PEJABAT DSANA TIDAK BERPIKIR UNTUK MELAKUKAN"KORUPSI"BERBEDA DENGAN DI INDONESIA YANG DIJADIKAN LAHAN KORUPSI,,,,,,,INDONESIA HARUS BSA LBH MAJU LAGI DARI BELANDA.............................AMIN
  15. From jerry on 26 July 2007 10:33:31 WIB
    duh..tuh abiawab.dan lain2nya....kalian pada punya duit sih ..ngga pernah ke senen yang tiap malemnya ..ribuan orang tidur
    di pasarsenen.dan tempat2 lainya..kalian turum naik mobil...paling rendah bussway...gimana yang naik truk rame ibu2pake kebaya kondangan....dll..ini yang dibilang lebih enak....weleh2..makasih om wim
  16. From rachmat adi on 01 August 2007 15:57:25 WIB
    kalau indonesia di bilang cantik, itu betul
    kalau indonesia di bilang jelek, itu benar
    kalau indonesia dan luar negeri dibilang beda,itu bisa benar atau betul
    semua tergantung dari proses pembelajaran
    kita lihat saja sepak bola di inggris "sudah tertib" menonton di studio, di indonesia "sudah mulai tertib" nonton di stadion.
    jam bung karno membuat bangunan besar untuk kebanggaan, tapi sekarang negara lain sudah ada yang lebih besar dari indonesia.
    di amerika kasus korupsi "bisa di tekan", tapi di indonesia "mulai di tekan".

    jangan hanya di jadikan masa lalu jadi sampah tak berguna, jangan jadikan kehebatan orang lain menjadi iri kita,,,
    jadikan proses untuk lebih sukses,,, amin....
  17. From yus on 27 August 2007 10:53:04 WIB
    Yaach .. kalo mau membanding-bandingkan antara satu dengan yang lain , pasti ga bakal ada habisnya bung...dan Tuhan sendiri sudah menciptakan kehiduoan di dunia ini selalu berpasang pasangan,bagus dengan jelek,kaya dengan miskin,adil dengan zalim,jujur dengan korup,plontos dengan kribo,tambun dengan kurus yaaa semuanya sudah berpasangan bung,hanya tinggal kita nya saja sebagai mahluk bumi yang paling mulia ini,bisa menempatkan dirinya secara benar sesuai dengan ajaran (agama) dan pendidikan duniawiah nya.
    jujur saja bung wim..orang yang selalu membanding-bandingkan itu yaa buat saya pribadi tidak menjadikan orang tsb akan lebih baik,hanya akan menimbulkan manusia-manusia perfectionis. dimana tidak ada di muka bumi ini yang paling sempurna kecuali Allah SWT.

    Thanks
  18. From azev on 01 September 2007 16:49:01 WIB
    Bung Wimar, bukankah selama ini apabila kita melihat orang tdk berbaju kita sebut suku anak dalam yang primitif? Baju adalah hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan. Orang yang tidak mau berbaju di muka umum adalah anti ilmu pengetahuan.
  19. From agus gunawan on 06 September 2007 18:48:13 WIB
    Mau telanjang atau tidak yang penting tidak ada niat merugikan, menghilangkan, dan merampas hak orang lain. Itu totally personal matters dan bagian dari kebebasan berekspresi yang punya sejarah panjang di Eropa sana.
    Lebih baik kita concern pada masalah2 besar yg ada di indonesia. Yg mengesankan sy, pembayar pajak di eropa mendapat indirect return yang amat baik dr pemerintah dalam bentuk subsidi pendidikan, skema pensiun, perawatan kesehatan, infrastruktur, dll. Saya membayar pajak sudah belasan tahun, belum terasa benefitnya yah..... Setidaknya dari segi demokratisasi politik kita sudah keluar dari belenggu, dan semoga kita akan lebih baik, entah kapan itu terjadi.....
  20. From atten on 19 September 2007 10:32:08 WIB
    Mental orang indonesia dan orang belanda berbeda
  21. From VERI IRAWAN on 22 September 2007 16:40:08 WIB
    MARI KITA JUNGJUNG DEMOKRASI BANGSA.DENGAN DI LANDASI NILAI AGAMA.
  22. From thecat on 29 September 2007 13:15:16 WIB
    kita punya dua tangan,dua kaki,satu kepala,satu tubuh yang sama...yang membedakan adalah kita terlalu banyak bicara,sedikit bertindak....
  23. From Bhakti Dharma on 03 November 2007 03:30:46 WIB
    Sebagai orang asal dari Indonesia yang sudah lama sekali tinggal di Belanda saya ada pendapat tentang kehidupan di Belanda. Bagaimana hidup di Belanda dianggap tergantung dilihat dari segi apa (pribadi, umum, Belanda, Indonesia).
    Kalau dilihat dari orang luar yang baru tiba disini Belanda tampak teratur, tenang dan aman, membosankan (hiburan sedikit), bebas, tempat dimana "tidak bisa jadi orang kaya".
    Sekarang pertanyaannya hidup di Belanda itu lebih enak dari di Indonesia atau tidak? Mari saya analisa kesan2 pertama itu dari segi lebih umum:
    Teratur: betul, hukum2 di Belanda lebih teratur dalam praktek, korupsi kurang. Tapi juga terlalu ketat dan burokratis. Misalnya kalau kita mau bikin loteng kecil dirumah sendiri perlu dulu puluhan surat izin yang rumit2. Kalau kita sakit memang ongkoks RS terjamin, tapi sebelum kita bisa masuk RS ada waktu tunggu yang bisa sampai 1/2 tahun. Biar punya uang tetap musti tunggu.
    Tenang dan aman: di kampung masih begitu, tapi Amsterdam sudah lama bukan kota teratur, banyak kotoran, kriminalitas naik dan banyak persoalan huru hara diantara orang asing (terutama Maroko, Surinam) dengan orang Belanda. Saya seumur hidup 2 kali dirampok, bukan di Indonesia atau negara "tidak aman" seperti Mexico, tapi di Amsterdam.
    Hidup membosankan? Memang di Belanda tidak ada mall2 mewah seperti di Jakarta, kalau ada uang tidak bisa beli mobil bagus baru semudah dilakukan orang kaya Indonesia. Tapi ia, kita kadang2 bisa pergi ke Eurodisney atau Itali tanpa visum, bisa naik sepedah tanpa jalan macet ke-mana2, bisa dengan mudah dapat CD2, DVD2 dan buku2 dari puluhan negara. Apa itu hidup yang bosan?
    Bebas: mungkin tampak orang sini bebas bicara, tapi coba menghina terang2an ratu Beatrix, atau kritik orang2 asing dari Surinam, Turki, dll. Tidak bisa, bisa sampai kita diuber dan diancam.
    Tidak jadi kaya? Di Belanda orang yang betul2 kaya sedikit, tapi orang2 melarat juga sedikit. Yang lain status sama, semua bisa pergi ke Spanyol ke camping yang sama kalau musim panas. Naik kereta api yang umum bersama kerumah teman atau pekerjaan, tanpa pikir cuma saya sendiri yang bisa melakukan itu. Apa itu bukan juga semacam kekayaan?
    Yang jelas jawaban dimana lebih enaknya, Belanda atau Indonesia susah terjawab, sangat kompleks dan harus dilihat bukan hanya dari segi pribadi sendiri tapi juga dari segi umum kedua belah pihak.
  24. From Lephen P on 20 January 2008 00:51:03 WIB
    Belanda memang maju, karena dulu menjajah kita. Kita saudah pernah dijajah kok tidak bisa memahami kehebatan Belanda dan yang mampu berbahasa Belanda makin kurang. Saya pikir, kita harus bisa meniru kebaikan dan kedisiplinan serta tak malu bersepeda. Kini kalau gak naik motor anak muda bisa marah dan membunuh ibunya. Di Belanda sepeda saja OK. Ah memang kita konsumtif dan boros. Jadi miskin tapi sok kaya... monyet.


  25. From JAKA LELANA on 09 February 2008 01:54:32 WIB
    KALIAN YG SUDAH PERNAH ATAU SEDANG HIDUP DI NEGARA BARAT,SELALU TERJEBAK KE DALAM SIKAP KACANG LUPA KULIT..APAKAH KALIAN TIDAK MALU DENGAN SEMUA HAL YG KALIAN TULIS DI WEBSITE INI..BAGAIMANAPUN KITA INI LAHIR DI INDONESIA RAYA,KITA KE NEGERI BARAT INI JUGA DENGAN RUPIAH..
    SAYA TIDAK TAHU APAKAH KALIAN YG MENULIS DI WEBSITE INI ORANG2 LEGAL ATAU ILLEGAL DI NEGARA BELANDA .TAPI ADA SATU HAL YANG PENTING,YAITU DI MANAPUN DAN DALAM KEADAAN APAPUN KITA HIDUP,KITA HARUS BELAJAR BERSYUKUR..MEMANDANG HAL2 YG POSITIF TENTANG HIDUP YG KITA ALAMI,TANPA MENGHAKIMI SATU SAMA LAIN. TEMAN SAYA (supir gus dur kalo lagi di belanda)BERKUNJUNG KE AMERIKA SERIKAT,DAN MENGATAKAN KEPADA SAYA ,KALAU BANYAK ORANG INDONESIA DI BELANDA ITU LAGAKNYA LEBIH "BELANDA" DARIPADA ORANG BELANDA SENDIRI.MESKIPUN MEREKA ITU ILLEGAL STATUS.WAH LUAR BIASA YA..HAMPIR SAMA DENGAN ORANG2 INDONESIA DI AMERIKA DONG..HE HE HE..
  26. From Soerdjadie Hadiningrat on 19 April 2008 15:44:41 WIB
    Semua yang merasa Belanda bagus dan Indonesia jelek, lantas birokrat di Belanda baik dan Indonesia busuk, jangan melupakan masa lalu! Belanda sudah pernah memasuki fase, di mana merampas tanah dan hasilbumi bangsa lain adalah sah-sah saja, dan bangsa lain tidak lebih dari nyamuk yang bisa dibunuh kapanpun nyamuk mulai menggigit (atau bahkan belum). Di kita, itu belum. Mungkin Ganyang Malaysia dulu hampir begitu, tapi toh kita tidak berlama-lama menggigiti bangsa lain. Kalau Belanda, ratusan tahun Bung!

    Semua hasil pembangunan di Belanda yang kononnya maju itu uang darah dan airmata bangsa lain, termasuk diantaranya kakek moyangmu! Apa yang sekarang dilakukan Belanda untuk menebus dosa masa lalu? TIDAK ADA! zilch, nada.. NOL BESAR!

    Kalau dalam konteks mengurus bangsa sendiri, okey, itu Belanda bagus, tapi membandingkan Indonesia dengan Belanda ngga bisa apple to apple comparison donk?! Kita bangsa yang pernah terjajah, Belanda yang pernah menjajah. Dulu juga waktu politik etis mulai disuarakan, you tau berapa aktivis LSM tempoe doeloe itu yang hilang di Belanda? Sama aja dengan Pemerintah kita dulu atas nama menghalangi perubahan.

    Jadi... persetan sama itu Belanda! Belanda dan sistem yang munafiknya itu bahkan tidak layak untuk dibandingkan dengan tahi!
  27. From Yudha on 22 May 2008 21:24:08 WIB
    Saya menikah dengan orang Belanda, tapi saya belum pernah kesana, Insya Allah dalam waktu dekat, so dari sana saya kasih comment, ok !
  28. From Kukuh on 22 August 2008 14:55:57 WIB
    Ehm, let me say, even a word (lebihh kaleeee.., hehe)
    Ngomongin Belanda ya, negara Mbah Beatrix itu kan (lho, kok Mbah? Ya udah, Emak Beatrix aja deh, hihi)..
    Terlepas dari apa yang mereka lakukan pada kita beratus-ratus tahun yang lalu, meneladani sesuatu yang baik yang ada pada orang lain bukanlah suatu hal yang salah. Seseorang boleh saja terstigma buruk atas apa yang dilakukan di masa lalu (meski untuk urusan kolonialisme jaman Mbah Kakungku itu, orang-orang Belanda yang ada saat ini belum tentu semuanya mudeng kan?).
    Well, sebagian orang yang ngasih komen di atas menunjukkan pengalamannya atau pengetahuannya tentang apa sih Belanda, Gimana sih orang-orangnya, keadaan pemerintahnya, n tetek bengeknya, yang bikin saya makin mengernyitkan dahi... Trus yang bikin saya ketawa adalah kritik terhadap keadaan jakarta yang intinya nggak keurus karena gubernurnya adalah Sutiyoso, haha... Aja-aja ada neh orang! Ya, meskipun sebagian orang ngerasa nggak puas dengan apa yang ada di Indonesia, ya mau nggak mau kita mesti terima. Saya ngelihatnya sih dari kaca mata yang sederhana aja lah. Saya bersyukur udah bisa makan tiga kali sehari tanpa ambil pusing apa yang bakal saya makan tiap kali makan. Sementara saudara kita yang lain, jangankan mikir apa yang bakal mereka makan, untuk mikir urusan, apakah hari esok mereka makan atau tidak, itu masih jadi beban bagi mereka. Saya juga bersyukur udah bisa sekolah ampe perguruan tinggi, mengenyam banyak ilmu lewat pergaulan dan buku-buku yang tentu tidak semua orang di Indonesia berkesempatan untuk menikmati hal-hal tersebut. Ketimbang memberi kritik atas apa yang ada di Indonesia ataupun mengutuk Belanda (seperti yang sebenarnya difokuskan dalam artikel ini) yang telah menjajah Indonesia sampe klenger, kenapa kita tidak mencoba untuk memberi kontribusi positif lewat karya-karya kita? Kalo nggak bisa, ya diem aja, nggak usah banyak komentar.. Cz saya melihat, komentar-komentar itu bikin tambah keruh suasana. Kita bisa berkaca dari hasil penelitian yang pernah dimuat dalam sebuah harian nasional (yang saya nggak yakin juga sih, apakah ini penelitian beneran atau candaan doang). Di harian tersebut dikatakan, berdasarkan hasil penelitian, rahang manusia Indonesia Indonesia itu lebih besar dari pada rahangnya. Dari hasil penelitian tersebut, peneliti mengambil kesimpulan berdasarkan keadaan yang ada di Indonesia. Yang kebanyakan ada di Indonesia sekarang ini bukanlah pemain sepak bola berbakat, tapi komentator berbakat.
    So, bukankah akan lebih baik jika kita bertindak, daripada
    sekedar ngemeng doang?
    It depends on U altogether!
  29. From nilam on 28 April 2009 13:02:45 WIB
    wah, kpengen tuh ikut meramaikan, hehehe...
  30. From Must on 20 May 2009 16:27:44 WIB
    ww ikut nimbrung..

    Bung Soer, gw suka gaya loh....Merdekaaaa!!!
  31. From zain on 22 November 2010 04:31:08 WIB
    pihak satu ngomongin moral/malu...
    pihak satunya lg ngomongin budaya/kedisiplinan.....
    sampe kiamat g akan ketemu....
  32. From Edgar on 14 March 2012 00:03:21 WIB
    teeettt .koreksi pertanyaannya.Emang Pancasila udah ada waktu kita (bangsa Indonesia) ngisur penjajah ya???????????Kapan si Pancasila di buat?Siapa yang mbuat?Ting tong!!!Sadar ga sih, Indonesia emang sudah kehilangan wilayahnya.Timor-Timor, dengan alasan apapun Timor-Timor sempat jadi bagian wilayah Indonesia.Ga perlu lah membesar-besarkan masalah tentang budaya negara apa yang sedang trend di negara kita.Kalo ga suka, ya ga usah di ikutin.Ga semuanya yang dari arab itu baik, ga semuanya yang dari amerika itu baik. (Arab & Amerika tu di sebelah barat kita (Indonesia) kan?) Jadi ga semua yang dari barat itu baik man!!!!Kalo yang dari timur gimana? .sodara tua kita (Jepang) Wah gua jadi inget romusha ni Udah ahSetau gue sih, udah berabad-abad Islam masuk Indonesia, tapi ga pernah de Arab njajah kita, tul ga?Tapi kalo lo sukanya nongkrong di sekitaran Hotel Sentral bisa jadi lo ngrasa lagi di jajah orang Arab kali ye!!!Wah kalo ini yang terjadi, gue setuju ama elo bro!!!Tu arab k*nt*lnya kan gede-gede (lebih gede dari bule), masa cewek-cewek kita di pake! Mereka doyan duitnya apa anunye si?Gue setuju kalo yang lo maksud ini, kita lagi dijajah orang Arab!Bro & Sis ternyata die bener, kita lagi dijajah Arab Gimana neh?Be Smart!!!!
  33. From ozon perangin angin on 19 July 2012 23:50:08 WIB
    horas ...bah, jujur saya tertarik banget ni ngulas masalh ini,seperti kedai kopi aja,,,tpi klo coment dari saya, cukup ambil yg fositif aja dah,,gk usah malu kalo negeri kita ini penuh dengan basa basi yg busuk, toh logika nya seperti itu kan, kalo ngulas belanda macam ngulas nomer togel aja kayak opung opung di patar tuak,walau belanda itu penghisap darah nenek moyang ku and saya cucunya negri ini ikut bayar denda yg baru lunas thn 2010 kemaren oleh compeni yg kejam itu, tpi tetap saya msi mengakui kalo negri londo itu masi lebih baik dari negri ini dari segi ekonomi struktur bangunan dan keamanan,,,,,,kalo ngulas tempat tinggal itu so easy , ne saya kasi contoh coba anda suruh raja kerbau dewasa tidur di atas sofa terrrr empuk di dunia, aku garansi 10000000000% sang raja akan lebih memilih di dkubangan,,,,,,,,begitu juga kita kita ini kawan kawan..,, ahahai hai hai,,,botol tak ?

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home