Articles

Soeharto, The Never Ending Story

Majalah Tempo
11 June 2007

Oleh Wimar Witoelar

Anak-anak saya dulu senang sekali lihat film 'The Never Ending Story'. Jalan ceritera film itu tidak banyak sangkut pautnya dengan tulisan ini, tapi judulnya senada. Soeharto, koruptor kelas dunia, kok bisa lolos terus dari jangkauan hukum sejak mundur terpaksa. Mundurnya terjadi mendadak, tapi pertanggung jawaban kejahatannya  terhalang oleh seribu alasan.

Hambatan terakhir menyangkut hilangnya berkas perkara tapi hambatan sesungguhnya bukanlah kendala teknis semacam itu. Berkas hilang bukan penyebab tapi akibat dari keengganan untuk menghukum Soeharto. Contohnya, keterangan Muladi bahwa kasus Soeharto sudah selesai. Menurut berita Tempo Interaktif 23 Mei 2007, Muladi minta semua pihak tidak menghabiskan energi untuk mengurusi atau memperdebatkan masalah-masalah di masa lalu seperti pengadilan bagi mantan presiden Soeharto. Muladi melihat bangsa Indonesia kurang fokus terhadap masa kini dan masa depan padahal masalah yang akan dihadapi ke depan sangat banyak. Kalaupun ada hal-hal di masa lalu yang perlu ditindaklanjuti, lanjutnya, haruslah masalah-masalah yang besar dan strategis saja sementara masalah yang kecil tidak perlu dipersoalkan lagi.

Loh kok masalah yang kecil? Bukankah jumlah uang yang diambil Soeharto itu besar sekali, sampai tidak terbayangkan? Apalagi kejahatan yang merampas nyawa manusia, pelanggaran HAM yang kita takut menyebutnya sampai sekarang, karena para pelaksananya masih berkeliaran bebas. Memang, Pak Muladi yang sekarang Gubernur Lemhanas, tapi jaman Soeharto adalah Menteri Hukum dan HAM, jadi sudah jelas kedudukannya dimana. Sama dengan menanyakan Donald Rumsfeld apakah serangan atas Irak itu benar atau salah. Kalau Muladi menyalahkan Soeharto, ia akan menguap seperti Harmoko.

Kita ambil kutipan orang yang seharusnya lebih kredibel, Jusuf Kalla. Wakil Presiden dalam pemerintahan yang lahir dari reformasi melawan Soeharto. Seharusnya Jusuf Kalla menghargai sejarah singkat yang membuat seorang pedagang macam dia bisa menduduki jabatan nomor dua di negara Indonesia. Dia mengatakan, pemimpin yang melihat masa lalu, kata dia, tujuannya bukan masa depan tapi kejayaan di masa lalu. "Jangan kita menyalahkan masa lalu tapi mari bergerak dalam kondisi kekinian," ujar Kalla. So far so good. Bagus, Pak. Tapi dia teruskan, menurut posting Tempo Interaktif yang sama, bahwa perdebatan hal-hal yang kurang penting harus dikurangi. Kalla mengatakan, berdebat boleh saja dilakukan tapi tidak boleh sampai menghabiskan waktu dan menghalangi upaya penyelesaian permasalahan bangsa. Halo Pak? Apakah pengusutan Soeharto 'menghabiskan waktu dan menghalangi upaya penyelesaian permasalahan bangsa?'

Bukankah justru permasalahan bangsa adalah menegakkan keadilan? Sungguh fantastis, rasionalisasi berbagai orang untuk tidak mengusut kejahatan Soeharto. Kelihatan sekali bahwa ketidak lengkapan berkas, atau hilangnya berkas, hanya merupakan alasan teknis menghindari tanggung jawab. Ingat Jeffrey Winters kan, ahli politik ekonomi Indonesia yang sangat cerdas dari Northwestern University. Katanya, sejarah lebih menguntungkan diktator yang mencuri Milyardan Dollar, bukan Jutaan.

Kata Winters, sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang melakukan pelanggaran, lebih aman kalau dia melanggar pada skala yang demikian besarnya sehingga tidak banyak orang percaya bahwa itu mungkin. Orang yang hanya mencuri remeh-remeh ditangkap KPK. Tapi kalau yang dicuri itu Milyardan Dollar, berarti puluhan Trlyun Rupiah, tidak bisa dibayangkan orang bisa mencuri sebanyak itu. Apalagi kalau orangnya bersikap sederhana dan senyum terus, sakit dan tua. Kasihan, ingatlah jasanya katanya. Orang tidak melihat bahwa pengacaranya kaya raya, anaknya melempar uang puluhan juta dollar kesana kami dan tinggal di rumah bernilai puluhan juta dollar perumahan termahal California. Uang sisanya masih dipakai untuk dana politik Pilkada dan Pilpres.

Dibantu oleh bankir dan funds manager top di dunia dan perangkat hukum yang tahan banting, makin susah lagi menangkap Soeharto. Atau dibalik, makin mudah lagi menghindari penangkapan Soeharto. Sekalinya seorang Jaksa Agung seperti Abdulrahman Saleh mulai mempersiapkan perkara Soeharto dengan serius, dia kena reshuffle. Kebetulan atau sengaja? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

 

Tulisan ini adalah versi asli kolom opini yang terbit di Majalah Tempo edisi 11-17 Juni 2007

Baca juga:

Print article only

28 Comments:

  1. From shaifeenkum on 11 June 2007 17:42:44 WIB
    Cukup kawan.... tak ada satu manusia pun yang sanggup mengadili Jenderal Besar Soeharto. Tidak juga KAU! biarlah takdir dan malaikat yang menentukan keadilan akhir untuknya.Adili Koruptor ...Maybe Yes - Maybe No !
  2. From nina on 11 June 2007 21:29:31 WIB
    it is futile to bring Soeharto to the green court.
    but then again i do hope this article would open the eyes of indonesian, so they won't consider this as a small matter...
    keep writing, mr Wimar:D
  3. From bsimarmata. on 12 June 2007 12:10:13 WIB
    Sudahlah WW,masalah Soeharto itu sudah dibuat jadi komoditas politik,jadi sampai kapanpun itu tidak akan selesai.Buang energi saja,pikirkan yg lain saja.Ok.
  4. From Sikinahiji on 12 June 2007 16:11:55 WIB
    Oom WW, saya juga bingung sama bangsa kita ini, wong di Filipina saja bisa mengungkap masalah Marcos (walaupun tidak semuanya), kok di kita susah banget. Saya rasa pendapat Oom Winters juga kurang tepat jika kita melihat kasus Marcos.

    Menurut saya jika ada keinginan dan keyakinan pasti kita bisa mengungkap masalah ini. Orang tua saya mengajarkan semua masalah yang dibuat oleh manusia pasti bisa dijawab dan dipecahkan oleh manusia.

    So mari kita tetap berjuang dan berjuang untuk itu semua.
  5. From Satya on 12 June 2007 17:42:47 WIB
    selama apa yg dilakukan soeharto dianggap sah, koruptor bebas beraksi

    korupsi besar-kecil masih berjalan terus tiap detik, dan mereka sangat berharap orang non-korup nyerah mengusut suharto. tiap ada satu orang yg nyerah mengusut soeharto, adalah nafas tambahan untuk kegiatan korupsi besar-kecil. soalnya begitu ada pemerintah yang berani bilang soeharto korup, koruptor besar ditangkap, koruptor kecil menjadi orang biasa lagi, dan korupsi jauuuh berkurang.
  6. From angga on 12 June 2007 20:06:21 WIB
    cerita pak harto itu sedih tapi seru,, apalagi ditambah kasus mayang-halimah Vs Bambang tri.,... seru kan..

    PAK Harto and The Story Goes...

    3 presiden sudah berlalu blum ada yang sanggup..

    mungkin harus ada orang yang berani mati, berani susah, berani sengsara ketika memutuskan mau mengadili soeharto.

    jujur saya pribadi pun bukan orang yang berani dalam menghakimi masalah soeharto, kenyataannya saat ini memang lebih tidak baik dari keadaan masa lalu, kecuali dalam beberapa hal yang sifatnya fatamorgana... keliatanya ada dan baik ternyata NOL..

    mending bilang maybe yes, maybe no,,,,,,,,
  7. From dwi purwanto on 13 June 2007 09:53:18 WIB
    Dahulu ketika Habibie menggantikan pak Harto setelah lengser ke prabon ....
    sebagai presiden banyak hal permintaan rakyat yang di penuhi Habibie

    1. Rakyat minta DOM di Aceh di hapuskan, habibie pun segera mengabulkanya
    2. Rakyat Minta Harga Minyak Di turunkan Habibie nekat pula mengabulkanya
    3. ketika rakyat minta cabut dwi fungsi abri... habibie lagi2 berani mewujudkan hal tersebut
    4. ketika Rakyat pro sosialis menginginkan Timortimur merdeka diapun memberi jalan untuk demokrasi memilih...dan Timor pun merdeka
    5. kalangan bisnis menjerit karena dolar sangat tinggi, habibie berhasil memaksa dolar turiun setengahnya.
    6. semua hal yang diminta di penuhi oleh habibie dan dia cuma punya satu permohonan atas semua kinerjanya yaitu : jangan paksa saya mengadili SOEHARTO!

    Fakta : semua presiden setelahnyapun tidak mampu dan juga tidak bisa menjawab permintaan rakyat selain itu

    salam
    dwi_p@dnet.net.id
  8. From Adisti on 13 June 2007 10:05:39 WIB
    Cape aja gitu kaleeeeeeeeeeee ngurusin kakek-kakek yang satu itu! Tokh bentar lagi juga dy bakal mati.
    Mendingan kalo mau di usut tuh junior2nya. Tanpa maksud utk membela si doi itu nih ya, tapi klo di pikir2 dy tuh ngasih dan udah berbuat banyak buat negeri ini. CUMA junior2nya aja tuh suka kemanjaan n main monopoli. Naaah gimana klo junior2nya aja di usut ampe pada kurus kering hhehehehehe klo mau izin ga ikut sidang karena sakit kan ga ada alasan tuh. Wong masih pada sehat wal afiat semua kok. Buktinya masih pada kuat tuh nerusin hobi kawin-cerai
    Lets pick our own size!
  9. From Intox on 15 June 2007 22:51:02 WIB
    "selama apa yg dilakukan soeharto dianggap sah, koruptor bebas beraksi" - Satya

    ITU DIA!

    Suharto belum menjadi sejarah, kita masih bisa terus ungkit kasusnya. Sakit? Tua? Disabled? Hahaha... alasan tipikal para tyrants dari jaman baheula. Koruptor adalah koruptor, dan dengan jumlah yg sebegitu besarnya, berapa ratusan juta orang yg terdzalimi?

    Lagipula, apakah para penerima uang korupsinya itu sakit2 atau tua2 juga?

    Jangan biarkan kasus ini meluap!
  10. From pandi1012 on 16 June 2007 10:02:32 WIB
    soharto lagi suharto lagi...
    sebenarnya apa sih yang diharapkan oleh rakyat kita terhadap Suharto? ingin dihukum penjara? dihukum mati? atau apa...

    lebih baik putuskan saja, Suharto bersalah atau gak. Kalo bersalah, tinggal sita aja hasil korupsinya. trus digunakan untuk bayar utang dan keperluan lainnya. kalo gak bersalah, ya udah. selesai. jadi harus ada orang yang berani memutuskan. nah, itulah masalahnya???
  11. From Ria Wibisono on 17 June 2007 10:49:41 WIB
    Siapa bilang mengadili Soeharto berarti melihat masa lalu dan tidak fokus ke masa depan? Menurut saya, kita harus melihat efek jangka panjang yang akan terjadi jika koruptor sekaliber Soeharto dibiarkan begitu saja. Ini akan mengilhami calon2 koruptor selanjutnya untuk berbuat sama. Toh nggak diadili, nggak diapa2in, bisa tetap hidup tenang dan sejahtera. So, korupsi, siapa takut? Kalau sudah begitu, kasihan dong bangsa kita, tambah merana, karena berbagai dana untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat nggak jelas bermuara ke mana....
    Jadi proses peradilan dan pengusutan itu harus tetap ada, walaupun nggak bisa maksimal karena data yang berserakan, tapi setidaknya tunjukkan ke masyarakat bahwa hukum di Indonesia memang ditegakkan.
  12. From knowless on 17 June 2007 13:21:51 WIB
    banyak orang berpendapat untuk mengadili soeharto membutuhkan polictical will yang kuat dari presiden yang berkuasa.

    but for me isn't only a political will but its ethical will.

    sudah pantas belum jika korupsi dibilang pekerjaan yang etis ?

    jadi biar dia meninggal sekalipun kasus ini harus tetap dibuka.
  13. From bagman on 17 June 2007 17:07:15 WIB
    suharto..suharto..
    susahnya menangkap ya yang mimpin masih antek dia semua...
    kan kalo ada yang menangkapnya
    ya
    nanti kena deh dia nya
    lebih baik pengadilan rakyat
    yang memutuskan..!
  14. From Muli on 18 June 2007 16:09:55 WIB
    Siapapun pemimpin bangsa kita ini, pasti akan mengalami dilematis yang luar biasa...bring back the past or let's get it on to a better future, dua duanya sama-sama penting, tidak ada yang tidak penting. Ada asap ada api, kalo apinya ngga dimatiin asapnya kapan berhenti, tapi kalo sibuk matiin api, kebulan asepnya bisa ngerepotin orang juga...jadi gimana caranya matiin api sambil ngilangin kebulan asep yang makin tebel? yah itu sih selalu jadi PR pemimpin kita yang tentunya harus didukung oleh masyarakat Indonesia,terutama oleh Tokoh-tokoh hebat seperti salah satunya WW yang selalu mengingatkan kita pada hal-hal yang seakan-akan *sengaja* dilupakan.
  15. From Anton on 19 June 2007 12:20:57 WIB
    Mengadili Suharto adalah tugas paling penting dari reformasi 1998. Mengabaikan pengadilan Suharto berarti mengabaikan kehendak sejarah. Dan pengabaian terhadap kehendak sejarah adalah jalan terbaik untuk memperpuruk bangsa.

    Pengadilan terhadap Suharto adalah tugas masa depan, ini untuk pelajaran bagi pemimpin masa depan. Berani berbuat berani bertanggung jawab.

    Yang menjadi pertanyaan, penundaan dan separuh pembelaan terhadap Suharto apakah merupakan manifestasi dari perasaan kita yang sesungguhnya ikut berdosa atas kejahatan Suharto yang sangat keji? atau persengkongkolan Jahat diam-diam (Monsterverbond) antara kita dan Suharto...

    ANTON

    Perjuangan Manusia Melawan Kekuasaan, adalah Perjuangan Manusia Melawan Lupa.
    (MILAN KUNDERA)
  16. From erwin erlangga on 22 June 2007 01:59:27 WIB
    pokoknya suharto harus dihukum dan diusut sampai tuntas masalah-masalah yang sydah banyak ngerugiin bangsa indonesia. mulai dari jaman PKI sampai sekarang, suharto masih bisa enak dengan penyakitnya.
    ambil uang-uang suharto tuh kan duit rakyat
    pemerintah juga harus bisa tegas dan jangan takut sama antek-anteknya. bisa dibilang suharto meninggalnya lama karena dia banyak dosanya sama rakyat, rakyat belum maafin suharto dan dia juga ga mau minta maaf dan ngaku kalau he's the best coruptor which indonesia have
  17. From bocah gemblung on 22 June 2007 15:18:52 WIB
    LANDASAN PIKIR AWAL YANG KACAU BALAU

    Presiden SBY mengatakan bahwa kasus Soeharto diendapkan terlebih dahulu untuk menghindari perpecahan bangsa, sampai kondisi memungkinkan untuk membuka kembali kasus itu (Seputar Indonesia RCTI, 21 Mei 2007). Ternyata Presiden kita masih setengah hati dalam mewujudkan aspirasi rakyat yang memilihnya. Dia ternyata tidak berpihak pada rakyat yang jauh lebih besar jumlahnya, sangat penting. mendasar, dan berkelanjutan, namun malah berpihak pada tirani beserta kroninya yang kecil jumlahnya yang telah menghancurkan negara selama 32 tahun. “Perpecahan bangsa” yang bagaimana dan yang mana yang dia takutkan kalau dia membuka kasus itu ? Kalau dia tidak membuka kasus ini segera, maka keamanan dan ketenangan yang tercipta selama ini menjadi semu, hambar dan kehilangan makna, karena sekaranglah kesempatan untuk membuka segala kedok kejahatan masa lalu, dan mengambil kembali uang milik rakyat dari tangan perampok-perampok yang otoriter itu. Tentu kita tidak lupa, bahwa setiap orang itu sejajar di mata hukum. Suara rakyat dalam pemilu yang telah memilihnya sepertinya belum juga membuat Presiden SBY percaya diri dan yakin untuk melakukannya. Dan ketaatannya beribadah juga masih membuatnya ragu pada Tuhan sehingga tidak berani mengambil tanggung jawab untuk membuka kasus Suharto. Saya tidak tahu seberat apa dosanya jika dia terus meremehkan suara rakyat dan meragukan hidayah Allah. Namun yang jelas, kemiskinan dan kesengsaraan rakyat yang berkelanjutanlah yang menjadi hasil tuaiannya.
  18. From dmitri on 25 June 2007 20:33:11 WIB
    saya malu sama komentar syaifeekum. gimana kalau diganti kata-katanya:

    masih mungkin ada orang Indonesia yang rela membantu Soeharto berhitung ulang dengan Malaikat dan takdir. Karena niat baik kita untuk meluruskan kelakuan sesama kita akan memperkaya hidup kita semua, disini dan di alam nanti.

    Soeharto can be a hero, and we can help him become one, if we show him how to return the money he owe us.

    langkah pertama? mungkin lebih jeli memilih calon pemilihan apa saja, termasuk mendukung calon independen kalau perlu.
  19. From Robert on 29 June 2007 18:58:24 WIB
    Saya heran.........kenapa bangsa ini senang sekali melihat keburukan-keburukan manusia termasuk para pemimpin kita.
    Sekali-sekali kita lihat bagaimana Soeharto berjasa dalam memajukan negara Indonesia ini.
    Bagaiman pada masanya segala sesuatu mudah didapat, sekolahan murah, transportasi tidak semahal sekarang ( Krn Subsidi BBM) dan segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara diperhatikan dan diperhirungkan untuk masa jauh kedepan ( Program REPELITA).

    Jika kita hanya memikirkan kesalahan Soeharto (Belum tentu beliau yang salah...bisa saja diperalat oleh antek-antek dan keluarganya )........!!

    Memang lebih mudah melihat keburukan seseorang dibandingkan dengan kebaikan dan jasanya........

    Please deh...!!!
  20. From Maudi adam on 27 July 2007 11:16:54 WIB
    Dari perspektif orang seperti saya, sewindu bukanlah waktu yang hanya sebentar, empat bukanlah hitungan yang hanya sedikit, milyar bahkan triliun digelontorkan untuk kepentingan KPU, PILKADAL, Kampanye, Study banding, canangan pensiun, akomodasi anggota Dewan, hanya untuk mencari seorang pengganti Sang Begawan ini, Inpres diganti BOS...sama, yang tidur di dalam sidang sama, pengoplosan, penimbunan, penyelundupan, pengimporan jatah makanan rakyat makin menggila, korupsi jalan terus, subsidi dikurangi, yang paling parah adalah masalah kemiskinan dan pengangguran yang tidak bisa di bendung lagi, alih2 bencana disana-sini...TKI diperkosa, manusia jadi kanibal, dimutilasi, dilaut dirampok, diudara nggak boleh mendarat...saya hanya bisa pasrah...apakah dosa Pak Hartomemang sudah terlalu parah
  21. From rachmat adi on 02 August 2007 09:21:13 WIB
    coba dilihat saja, sbenarnya pemilihan presiden di dukung oleh siapa saja, kalau pendukung itu tetap setuju pada dihentikannya proses hukum suharto berhenti maka presiden tersebut secara tidak langsung akan tergoyahkan posisi nya, untuk mem pertahankan posisinya tersebut maka lebih memilih cari aman,
    sekarang kita lihat saja presiden kita dulu gusdur memank dia naik ke president secara tidak langsung dukungan dari poros tengah, yang sebenarnya berpikir gusdur gampang diatur tapi apa buktinya gusdur tidak mau diatur oleh siapapun. Tak lama dia jadi president akhirnya dia turun juga.
    kalo dilihat dari pengalaman itu kalau seorang president kuat akan pendukung dan pendukung tersebut bersih, maka pemimpinnya pun bisa bersih pula... amin....
  22. From bocah gemblung on 22 August 2007 15:51:42 WIB
    Untuk Tuan Robert (29/06/07), please dechhh !!
    Open your eyes, ears, mind and your inner heart !!

    Anda sedang Anda di mana dalam waktu 32 tahun kekuasaan Mbah Harto? Anda lahir sebelum dia berkuasa, atau lahir dalam masa kekuasaannya?
    Kalau Anda dalam kurun waktu rezim orde baru, rumah mewah, merasa enak dengan posisi Anda, kenyang perut Anda, atau mempunyai banyak usaha dengan cara sogok sana-sogok sini, jilat kesana kemari, yaaa saya maklum dengan pernyataan Anda.
    Namun kalau tidak, mohon Anda koreksi penyataan Anda tanggal 29 juni itu, sadarilah dan banyak belajarlah.
    karena kalau pandangan Anda masih demikian, Anda telah menyatukan diri sebagai antek-antek Suharto yang mewariskan kekayaan sangat besar untuk 777 turunannya, namun mewariskan kerusuhan, kebangkrutan, kesengsaraan dan hutang luar biasa, serta mental korup, KKN yang sampai sekarang menjangkiti sebagian besar pemerintah dan rakyat kita.
    Saya sebagai generasi muda siap mengajari Anda jika Anda mau belajar dari DOSA MASA LALU yang dilakukan GENERASI TUA YANG KARATAN, supaya KITA TIDAK MENGULANGINYA LAGI. Atau jangan-jangan adalah bagian dari generasi karatan itu.

    Pak Robert, kalau Anda beriman Nasrani, gunakan naluri cinta kasih Anda untuk memandang hal yang ruwet ini.
    Mari kita sama-sama menyembuhkan penyakit mental budaya orba yang karatan itu.

    Terima kasih Pak WW.
  23. From delicious on 01 October 2007 22:27:51 WIB
    Saya setuju kok sama Tuan Robert (29/06/2007)

    lagipula emang uang hasil korupsi beliau masih ada yah?
    yaaa... kali aja udah dijajanin ama mas tommy, yang sekarang entah dimana.. jalan2 ke bulan kali yahh??
  24. From Sam on 20 October 2007 14:07:05 WIB
    Saya setuju sama opini Om Wim. Dan saya melihat sudah banyak (mungkin terlalu banyak) opini yang kurang lebih diutarakan menyangkut pada permasalahan yang kurang lebih itu-itu juga. Kalau saya bicara kroni Soeharto & the Gank bisa banyak judul yang muncul. Wah pokoknya banyak pisan ajah. Kadang kita jadi cape sendiri, membaca cerita mengenali pelanggaran, korupsi, kolusi nepotism dll tapi belum juga ada hasil yang dengan ujung cerita memuaskan rakyat banyak (tapi siapa juga yg bisa puas ya..). Paling tidak update berita mengenai tindak lanjut penyelesaian kasus per kasus harus jalan terus jadi cerita yg berurutan, berhubungan tidak pernah putus. OK Om Hidup Indonesia.

    Kapan kita kumpul lagi (wargi ti manonjaya tea..?)
  25. From defrianto on 27 December 2007 20:18:31 WIB
    kalo omm soeharto mahh.. pahlawan bertopeng
    gue juga ga tau ntah kapan dia mau buka tu topeng...
    emang sich kita mesti trima kasih ma doi..
    karena pernah memimpin negara indonesi yang berdarah niii
    tapi tetap aja dibalik smua korupsi n tragedi ada omm soeharto
    Tapi ya udah deh.. sekarang gue coba berdoa buat DOI biar DOI tenang dihari tuanya n mudah-mudahan di akhirat juga... bye-bye opung SOEHARTO
  26. From si belok on 22 February 2008 09:01:52 WIB
    however,suharto did somethin 2 us.
    yah mungkin kaga tahan aja kale,liat duit bergelimangan grandpa jdi berubah.
    ato grandpa haus kekuasaan.
    tapi gimana pun grandpa udah berusaha menyenangkan orang_
    paling engga anak istri sodara sodari 7 turunan.
    ya udah lah.

    life must go on,with or without him.

    moga go to heaven ya grandpa!
  27. From Mr.Nunusaku on 06 April 2008 12:40:07 WIB
    Bagaiman kita dapat maafkan Soeharto yang telah membunuh rakyatnya sendiri...? kalau memang mereka dapat dihidupkan kembali dari kuburan...? baru kita dapat memaafkan jendral diktakdor Soeharto . selama mereka berada dalam liang kubur, selama itu dosa Soeharta gak dapat di maafkan.

    Kalau memakai istilah memafkan...?yang yang berlaku di nagara RI ini, pasti ada perbuatan yang nanti dilakukan penguasa jenderal lain...? kan ada istilah dipakai maafkan mereka...? berarti budaya wong Jowo tetap menang, berarti kita masih dalam permainan pembodohan wong Jowo.
  28. From bakaruddin Is on 03 October 2008 10:51:27 WIB
    Saya pikir apa yang dialami rakyat indonesia saat ini, kemiskinan yang luar biasa, koruptor berjamaah kmerajalelala, tidak lain dari "hasil pembanguanan" yang dilakukan oleh Soherto selama 32 tahun sebgai "Bapak Pembangunan". Kalau saja dia memrintah Indonesai dengan baik dan benar selam 32 tahun itu, Indonesaia pasti sudah mammur. Tidak ada busnung lapar, tidak ada rakyat yang mati kelaparan, tidak ada orang tua yang membununh anak-anaknya sendiri karena stress karena kelaparaan dan tak punya masa depan

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home