Articles

Jadwal Pilkada DKI 2007 (Pemilihan Gubernur Jakarta)

Perspektif Online
10 May 2007

Tanggal 8 Agustus, penduduk Jakarta memilih Gubernur Baru

Kalau anda pusing atau tidak tahu undang-undang, ingatlah, untuk memilih tidak perlu tahu undang-undang. Pilih orang yang anda paling senangi. Kalau tidak senang semuanya, pilih orang yang paling tidak menyebalkan. Pokoknya, pilihlah seseorang.

ww.JPG

Itu closing statement dari Wimar Witoelar, dan satu-satunya message dalam episode 'Gubernur Kita' 10 Mei 2007 di JakTV. Selebihnya, episode Gubernur Kita 10 Mei berlangsung datar tanpa konten berupa isu, kecuali kesepakatan semua pembicara di dalam dan di luar studio menyayangkan sikap tidak etis seorang Calon Gubernur yang kelihatan menggunakan fasilitas Pemerintah DKI untuk membiayai kampanye.

Penampilan Muflizar dari KPUD Jakarta dan pengamat LIPI Indria Samego memperkuat perasaan awam yang waswas terhadap calon yang melakukan penyalahgunaan jabatan tesebut, yang menurut Direktur Ekselutif CETRO Hadar N. Gumay dapat berakibat pada pembatalan pencalonan.

Yang penting, siaplah aktif memilih Gubernur yang anda suka.

 

Jadwal Pilkada DKI 2007 seperti disampaikan Muflizar dari KPUD:

  • 1-7 Juni: Pendaftaran Calon
  • 16 Juni: Penetapan Calon
  • 20 Juni: Pengumuman daftar nama pemilih sementara. Cari nama anda di daftar, ada tidak? Jika tidak ada, masih ada waktu tiga hari untuk melaporkannya
  • 26 Juni: Pengumuman daftar pemilih tetap (DPT))
  • 21 Juli - 4 Agustus: Kampanye resmi
  • 5-7 Agustus: Hari tenang
  • 8 AGUSTUS: HARI PEMILIHAN (libur lho...)
 

Baca juga:

Print article only

11 Comments:

  1. From Zavry W. Zaid on 12 May 2007 12:22:03 WIB
    Memang topik jadual pilkada kurang menarik. Yang ditunggu pemirsa pasti sikap dan tanggapan Foke bila dicecer pertanyaan Panelis Gub Kita. Tampaknya tak berani hadir karena takut keliru menjawab lagsung secara spontan dan disorot kamera, mana pertanyaan pada kritis lagi. Karena untuk kepentingan masyarakat Jakarta dan Indonesia umumnya sebagai calon gubernur Metropolis ataukah Megapolis, sebaiknya Foke dan calon wakilnya nanti hadir, biar ketahuan kualitas, sikap dan gayanya ketika dihadapkan dengan panelis yang ok. wass.
  2. From Dona Kurniawati on 13 May 2007 07:51:31 WIB
    I like "Gub Qta" very much, it makes our mind so free and comfortable, the host are credible and propotional. Bravo Wimar, we love you, continue your opinion, don't afraid with people but Allah S.W.T. with you. Thank you so much for Jak TV, you are a good TV station.
  3. From bonggo on 14 May 2007 11:35:39 WIB
    Waspadai :
    - Politik uang yang mengalir dari CALON INCUMBEN ke HABAIB, USTADZ , ketua ORMAS untuk memenangkan PILKADA sehingga mempengaruhi WARGA yang IKUT MAJELIS TAKLIM
    - POLITISASI BIROKRASI sehingga WASIT JADI PEMAIN
  4. From putra on 15 May 2007 12:53:27 WIB
    betul tuh apa kata mas bonggo
    Di daerah kelurahan kamal rw. 09 kalideres ada Kiai yang dibayar sama pauji bowo, yang klo ceramah gak lain memfitnah partai tertentu dan calon gubernunya. Saya punya bukti rekaman tatkala dia sedang ceramah. Bahkan banyak ketua RWnya yang mengaku sudah di bayar sama Foke.
  5. From Chiko Ferdian on 17 May 2007 19:21:38 WIB
    janganlah menganggap Pilkada ini sebagai suatu yang patut ditakutkan. kita sebagai warga punya plihan sendiri. yang penting calon itu jujur dan teruji kepemimpinannya.

    Berusahalah untuk tidak Golput.!!
    Diantara calaon-calon yang ada itu, merekalah yang terbaik menurut partai yang mencalonkannya, dan semuanya pasti ada plus minusnya.

    Maka pilihlah yang punya banyak plus dan sedikit minusnya.

    Lihat, Amati dan pilih.!!
    Jadilah Warga yang berkepedulian terhadap kemajuan Jakarta dan perubahan untuk Kesejahteraan kita semua.

    Untuk Bang Wimar, kalau saya lihat masih sedikit kurang Netral, masih condong kesalah satu calon walau itu bukan calon yang ada saekarang.

    Semua orang tau Bang Wimar itu anak buahnya GUSDUR, jadi condong kemanapun kita bisa lihat.

    Sukses buat Perspektif dan Gubernur kita...!!
  6. From Candra on 18 May 2007 08:32:28 WIB
    Dilihat dari pengalaman kita bersama, memang setiap pemilihan umum baik untuk kepala daerah, ataupun yang tertinggi ...
    adalah suatu moment yang selalu dinantikan oleh semua rakyat Indonesia ...
    Karena disamping bisa menjadi harapan ke depan, mereka juga ingin perubahan yang cepat dan konkret .....
    Namun pernahkah kita memilih secara langsung sesuai dengan sosok yang kita idam - idamkan .....
    yang memang sama sekali bersih, dan yakin bisa menyesuaikan dengan keadaan saat ini ......
    mungkin harus kita cermati pula bahwa adanya pra pemilihan / public opinion yang bisa dijadikan jalan awal yang kemudian dijadikan pedoman berbagai pihak termasuk parpol yang memang sarana bagi pemilihan umum mendatang (PILKADA) .... sangatlah penting
    Dengan kata lain, berilah kesempatan rakyat Indonesia memilih langsung sosoknya baru diberikan kepada parpol...
    nantinya parpol baru ajukan kandidat yang dipilih rakyat tersebut ...
    Yang berjalan saat ini kan parpol yang menyediakan kandidat,rakyat tinggal memilih ........
    Ditakutkan nantinya bakal timbul suatu balas jasa diantara pihak (rakyat juga yang ujung-ujungnya jadi korban) ...
  7. From koko on 20 May 2007 11:28:26 WIB
    Segera daftarkan nama anda agar terdaftar sebagai pemilih PILKADA DKI. Jannnngan ENGGAN protes klo ada kesalahan sekecil apapun dlm pencantuman nama pemilih sementara. Kurang atw klebihan huruf, nama yg tercantum 2x, nama anggota keluarga atw kerabat yg blom tercantum, dll. Segera protes ke panitia pilkada.
    BEWARE Ini semua utk PILKADA yang lebih adil khan???
    Eweuh pekeweuh No way.

    Waslm
  8. From alex on 23 May 2007 15:16:48 WIB
    Semoga pilkada dki 2007 berjalan lancar, adil dan semua orang tidak merasa tertekan (terpaksa) menyalurkan suaranya. Siapapun yang terpilih (secara fair) kita harapkan semua orang dapat menerimanya.
    Catatan buat bung WIlmar. Selama ini bung Wilmar saya anggap orang yang demokratis, dan itu yang saya tangkap dari keinginan yang tersirat maupun tersurat yang ditampilkan di depan publik. Namun, koq sekarang ini grafik preferensi saya ke beliau sangat menurun tajam. Bung Wilmar ternyata lebih sering menunjukan sikap (mungkin) yang aslinya sebagai orang yang kontra-demokratis. Hampir sebagian besar tahu, pernyataan Bung Wilmar lebih sering tidak mengajarkan dan mendidik orang untuk lebih melek (pandai) dan berpikir secara jernih, objektif dan lain sebagainya. Justru sebaliknya, Bung Wilmar lebih sering mengarahkan pandangannya kepada suatu yang memang dia lebih suka.
    Hampir semua orang tahu Bung Wilmar sangat dekat dengan Gusdur. OK-lah no problem. Tapi pada saat berada didepan publik yang tidak ada hubungan sama sekali dengan pembahasan tentang Gus Dur, justru Bung Wilmar sering nyeletuk dan membawa-bawa nama Gus Dur plus kelebihan-kelebihan kawannya itu. Jadi, akhirnya saya jadi ragu dengan kredibilitas seorang demokratis pada diri Bang Wilmar.
    Maaf, seandainya ini dianggap kritik yang kurang menyenangkan. Semoga Bang Wilmar dapat memakluminya.
    Terima kasih. Bravo.
  9. From Charles on 14 June 2007 01:04:23 WIB
    Pilkada hanya dijadkan pesta politik para elit. Pilkad yang harusnya memilih secara lansung hanya memilih calon dari para pilihan partai, selebihnya nol.
    Kedaulatan rakyat sudah dipreteli oleh para elit yang mengatasnamakan rakyat. dengan euforia pilkada di waktu Banjir, solusi dikala macet, dan black propaganda untuk kemiskinan adalah wujud nyata pilkada DKI.
    Kesengsaraan di jadikan barang dagangan untuk mengusung para calon. ada yang salah dengan implementasi kehidupan berdemokrasi kita saat ini.
    Golput dibilang salah, sementara perubahan hanya terjadi di tingkatan elite kekuasaan, rakyat tetap menderita.
    Realita ini harus kita sadari PILKADA bukan solusi banjir, pilkada bukan solusi kemacetan, dan pilkada juga bukan solusi kemiskinan di jakarta. Mengapa kita tidak bangun dari tidur kita. calon gubernur yagn kita pilih bukan dewa atau malaikat ataupun tuhan yang mengubah kemiskinan dengan kesejahteraan, banjir dengan lingkungan yang nyaman. Kita seakan-akan ingin dibawa ke jurang dengan kendaraan yang penuh muatan perubahan.
    Partai seharusnya tidak dengan seenaknya mendeklarasikan kepentingan politiknya, mendeklarasikan calon "malaikat-malaikat" yang hanya berjanji lalu kemudian bersama-sama melakukan korupsi berjamaah.
    Pilkada bukan segala-galanya. Kedaulatan harus diu tegakan Rakyat harus dibangunkan dengan dari dongeng-dongeng korupsi dan kekuasaan elite partai, Rakayat harus bernyanyi tentang lagu perjuangan yang lantang untuk mendobrak oligarki politik.

    TOLAK PILKADA ELIT....!!!
    BENTUK PILKADA PRO RAKYAT
    BANGUN PEMERINTAHAN RAKYAT!!!



  10. From ratujawa on 18 June 2007 14:50:15 WIB
    Siapapun yang menjadi Gubernur seharusnya memikirkan rakyatnya khususnya di wilayah DKI yang masih banyak jalan-jalan yang rusak dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah, dan KKN proyek fisik di DKI masih merajalela, bahkan ada juga yang fiktif dibeberapa tempat, karena pejabat pemda DKI rata-rata suka main ke diskotik, coba aja cek urine semua pejabat/pegawai DKI dijamin 80% narkoba.
  11. From BAGUS SUKATMAN on 18 April 2012 14:56:47 WIB

    saya sepakat pendapat diatas mengingat jakarta itu mempunyai tiga sudut pandang kota , \"sebagaimana ungkapan dari Ketau Umum DPP KOBUKI (kontak Budaya Komunikasi Indonesia ) yaitu Prof.Dr.Nanang Hariadi , yanh kerab di panggil dengan panggilan akrabnya \"Gus Har\" yang berbunyi \"pertama sebagai kota Internasional , dimana semua perwakilan negara negara yang masuk dalam organisasi PBB perwakilannya atau kedutaannnya berada di jakarta , jadi di sebut kota Internasional, Kedua sebagi Kota Nasional , dimana Jakarta sebagai Ibukota Negara RI yang kebetulan perwakilan dari 33 propensi dan 468 kabupaten berada di kota Jakarta, yang ketiga sebagai kota Propensi , di mana jakarta di diami oleh penduduk aslinya warga besar Betawi. sehingga hali ini membutuhkan seorang Pimpin kepala daerah yang mempunyai tiga wawasan tersebut.

« Home