Articles

Tiga Kandidat dengan Tiga Problem Berbeda

Koran Sindo
30 April 2007

Oleh Wimar Witoelar

Akhirnya pemilihan Gubernur DKI mengerucut pada tiga calon, walaupun belum resmi sampai saat nama-nama diajukan kepada KPUD. Tapi sebagai bahan pertimbangan, sudah 90% pasti bahwa ketiga calon itu adalah Adang Daradjatun, Fauzi Bowo dan Sarwono Kusumaatmadja. Karena untuk pertama kalinya penduduk Jakarta akan memilih Gubernur mereka secara langsung, bagus juga kalau kita bisa membedakan tiga calon itu, sebab memang beda. Saya tidak setuju dengan orang skeptis yang mengatakan bahwa memilih itu percuma, karena yang diumbar hanya janji-janji. Dimana-manapun, apakah di Perancis, di Amerika Serikat dan di Australia, kampanye memang ajang janji. Kita tidak perlu komplain karena kita juga yang bisa menyisihkan kandidat yang tidak tulus janjinya, dan kita bisa memilih orang yang lebih bisa dipercaya.

Pilihan orang pasti harus subyektif, jadi kalau kita bukan tim kampanye, lebih baik kita mengenal ketiga calon daripada mempromosikan salah satu. Yang paling mudah adalah melihat apa problem yang akan dibawa masing-masing calon kedalam kampanye sampai saat orang masuk kotak suara. Tidak perlu penekanan terlalu jauh kepada 'visi misi dan program', sebab justru kalau tidak senang mendengar janji, dalam 'visi misi dan program' itulah janji akan muncul. Pernyataan kandidat mengenai point substansi penting, bukan untuk ditangkap sebagai janji, tapi untuk kelihatan keberpihakan kandidat kalau ditanya issue yang membutuhkan sikap.

 


Apa perbedaan Adang Daradjatun, Sarwono Kusumaatmadja, dan Fauzi Bowo?

 

Misalnya Adang Daradjatun ditanya dalam 'Gubernur Kita', acara televisi tiap Kamis malam di JakTV:

WW: Karena anda dicalonkan oleh sebuah partai yang bermoral tinggi atau diyakini sebagai partai yang mempunyai nilai moral, saya ingin tanya apa anda akan mendukung penutupan tempat-tempat hiburan yang tidak halal walaupun itu mendatangkan penghasilan bagi daerah?
Adang Daradjatun: Pasti saya tidak tutup!
WW: Tidak akan tutup?
Adang Daradjatun: Pasti tidak!
WW: Partai juga setuju tidak ditutup?
Adang Daradjatun: Setuju tidak ditutup.

Percakapan ini otentik, bahkan bisa dilihat dengan mudah melalui video clip agar tidak ada keraguan.

Kandidat Sarwono tidak ditanya soal tempat hiburan sebab tidak ada gelagat dia akan menutupnya. Sarwono ditanya soal korupsi:

WW: Persepsi di Jakarta adalah bahwa segala macam masalah, seperti banjir, dasarnya adalah korupsi dan kekuasaan yang tidak terkendali. Bahwa kantor Gubernur Jakarta banyak memberi tekanan kepada pengusaha, kepada media, kepada televisi. Anda orang santun dan bukan orang keras, apakah anda merasa kalau Bapak jadi Gubernur bisa membuat pemerintah DKI itu tidak korup dan tidak menekan?
Sarwono Kusumaatmadja : Saya kira bisa dan..
WW: Ya bisa, bagaimana caranya?!
Sarwono Kusumaatmadja: Pertama kita mulai dari diri sendiri lah. Dan pengalaman saya, birokrasi itu sangat menghiraukan teladan dari pemimpinnya. Kalau yang di atas itu beres, ke bawah beresnya relatif cepat.

Percakapan inipun dilaporkan dalam teks dan bisa dilihat dalam rekaman video.

Tidak ada maksud tulisan ini untuk menilai kandidat mana yang jawabannya bagus dan mana yang jelek. Kami menulis, anda menilai. Sayang sekali bahan dari kandidat Fauzi Bowo belum ada karena dia belum muncul di Gubernur Kita. Konon kabarnya dia cepat marah kalau ditanya yang susah, tapi kita harus lihat sendiri, mungkin saja itu propaganda lawan.

Yang ingin kita lihat adalah problem yang menjadi beban awal kandidat Gubernur memasuki kampanye tahap publik. Banyak orang yang piawai dalam lobby partai dan membuat deal dengan kelompok masyarakat, tapi untuk pertama kalinya, pemilihan Gubernur DKI akan dilakukan dengan cara langsung. Jadi terserah apa yang sudah dipersiapkan dalam partai dan dalam negosiasi kelompok, tapi pada waktu memasukkan pilihannya kedalam kotak suara, pemilih akan mengikuti kata hatinya, mungkin sesuai rasio mungkin juga tidak.

Problem Kandidat Adang Daradjatun adalah karena dicalonkan PKS, maka dia harus memilih antara konsisten dengan ideologi PKS yang tidak senang tempat hiburan yang tidak halal, atau selera orang biasa di DKI, yang tidak senang pilihan orang ditentukan aliran tertentu. Bisa saja Adang disenangi pemilih umum tapi tidak disenangi warga PKS, atau sebaliknya. Untung wakil kandidat adalah Dani Anwar yang berbeda dengan Adang memang tokoh PKS, jadi dia yang bisa 'menyambung' sikap Adang dengan sikap partai. Akan menarik untuk melihat, akhirnya kemana condongnya kampanye Adang.

Problem Kandidat Sarwono Kusumaatmadja bersumber pada kekuatannya sebagai orang yang sangat berpengalaman dalam politik. Pernah jadi aktivis mahasiswa, anggota DPR, pimpinan partai, anggota kabinet empat atau lima kali, anggota DPD. Dia dikenal bersih dan jujur. Tapi dia tidak dikenal pernah membasmi korupsi. Dengan tingkat korupsi DKI yang endemik dari atas sampai bawah, apakah dia akan mampu? Wakil kandidat adalah Jeffry Geovanie yang sebaliknya dari Sarwono. Kalau Sarwono paling pengalaman diantara kandidat Gubernur, Jeffry paling tidak berpengalaman diantara kandidat Wakil Gubernur. Kalau Sarwono sering memenangkan kampanye termasuk kemenangan besar Golkar di tahun 1988, Jeffry dua kali kalah dalam dua kampanye, yaitu kampanye Amien Rais for President dan kampanye Jeffry Geovanie untuk Gubernur Sumatra Barat. Akan menarik untuk melihat, kemana perkembangan kekuatan kandidat ini.

Problem Kandidat Fauzi Bowo adalah bahwa dia segan ditanyai di depan umum. Tidak pernah muncul di 'Gubernur Kita', sedangkan yang lain termasuk balon yang tersisih - sudah tampil secara sportif. Tapi tidak bisa disalahkan juga kalau tim Fauzi Bowo kurang semangat menampilkannya di televisi, karena ia mudah kehilangan kesabaran. Mungkin perlu konsultan komunikasi yang lebih pandai. Beban Fauzi adalah berat. Seperti Sarwono, kelemahan Fauzi ada pada kekuatannya. Modal dia menjadi calon adalah pengalaman sebagai Wakil Gubernur DKI dibawah Sutiyoso. Tapi posisi itu juga menjadi kelemahannya. Fauzi Bowo harus menentukan sikap. Apakah membela prestasi Sutiyoso, atau melepaskan diri dari tanggung jawab mengenai korupsi dan kegagalan pemerintah DKI dalam mengatasi banjir, masalah orang miskin, dan kemacetan lalulintas. Problem lain bagi Fauzi Bowo adalah bahwa dia didukung koalisi yang begitu besar sampai calon Wakil Gubernur belum bisa disepakati padahal pendaftaran KPUD tinggal beberapa hari.

Sungguh beban yang berat bagi Fauzi Bowo, sama dengan Adang Daradjatun dan Sarwono Kusumaatmadja. Tiga-tiganya menghadapi problema berat, walaupun berbeda.

Bahagialah warga DKI yang menikmati kemajuan demokrasi sehingga bisa memilih diantara tiga calon berdasarkan penampilan mereka dalam sorotan publik, bukan dibelakang billboard dan iklan televisi. Uang milyardan sudah dihabiskan untuk propaganda, tapi kita yakin pendudk DKI tidak akan terpengaruh oleh iklan, karena sudah tahu penderitaan banjir, kemacetan jalan, meningkatnya kemiskinan kalau salah pilih Gubernur.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo 30 April 2007

 

Saksikan Gubernur Kita di JakTV Kamis 21.00

 

Baca juga:

Print article only

13 Comments:

  1. From Intox on 30 April 2007 18:16:20 WIB
    Who will be the choice of DKI people? Who will take home (or to the office) the priviledge of regulating the lives of 12 million people? Who WILL be the lesser of three evils?

    We'll figure out, after these messages! Start sending us your SMS, viewers at home!
  2. From beta on 01 May 2007 10:09:18 WIB
    Kenapa pemilihan pemimpin selalu choosing the best from the worst? Kapan the best from the best muncul?
  3. From Satya on 01 May 2007 19:52:04 WIB
    haha tepat sekali komentarnya: kenapa selalu pilih the best from the worst

    memang menyedihkan. tapi harus usaha dan jangan let others choose the worst from the worst
  4. From angga on 01 May 2007 20:12:05 WIB
    3 calon..
    hmm..
    calon keempat baru makin hot... survey yang saya baca dimana popularitas agum gumelar jauh mengungguli 3 kandidat yang sudah berperang di awal masa kampanye...

    dari ke tiga diatas issue yang diangkat blum sangat fokus terhadap masalah2 pokok di masyarakat jakarta, banyak pe-er memang, tapi ada harapan dengan adanya pemilihan langsung setidaknya masyarakat jakarta secara sadar mendukung calon gubernurnya sehingga menimbulkan sinergi dukungan dalam segala kebijakan gubernur dki mendatang..

    tempat hiburan itu indah untuk dinikmati, karna masyarakat saja berani memakai uang di lokalisasi, sedangkan di rumah beras sudah menipis, gejala apa? mari direnungkan bersama.

    dimana setiap ada layar tancap dengan film Warkop DKI yang sudah ribuan kali diputar dari masa ke masa masih saja dipadati anak kecil sampai kaum lansia...

    hiburan rakyat yang merakyat. kemajuan apapun harus dapat dinikmati semua masyarakat jangan sampai ada golongan atau kelompok yang termarginalkan..

    itu pe-er gubernur dki mendatang, agar semakin bisa memberi kemudahan bagi masyarakat jakarta..

    regards..



  5. From annie ariany on 02 May 2007 10:43:07 WIB
    3 kandidat cagub DKI.....
    Memang masih dirasa kurang. Tapi masih bagus ada 3 kandidat, daripada yang 2 dan diusung lebih dulu kemarin. Sebab 2 kadidat pertama itu semacam dikte untuk masyarakat,bukan aspirasi yang sesungguhnya. Rasanya seperti anak kecil yang disuruh milih "permen atau permen juga" intinya cuma beda kemasan, dengn pemerintah yang sudah jalan, dan gak bakal ada perbedaan. Adanya "bang ESKA" dalam bursa cagub, membuat masyarakat kembali bergairah untuk memilih.

    Bang ESKA adalah figur Smart and Clean, beberapa kali menjabat menteri, dan banyak lagi posisi politis yang beliau emban mengibaratkan belia sebagai "Panglima perang yang sudah hafal dengan medan laga".
  6. From gubrak on 02 May 2007 19:48:04 WIB
    tq oom ww atas analisanya..

    org2 pintar kt cm bs menyelesaikan maslah di atas kertas dan konferensi...

    buat beta.. stok (pemimpin) kita SAAT INI dan yg mau muncul hy ini.. jd seperti kata bung ESKA mari mulai dari diri sendiri.
    mari buat gerakan sportif, jujur, baik hati dan tdk sombong.. ups

    jgn sering bolos/korupsi wkt kerjaan, jgn buang sampah sembarangan kalo mampu daur ulang, jgn ngebut di jln raya, jgn foya2 di awal bulan karena punya duit lebih apalagi buat kawin lg mending beli susu anak...betul???

    wasalam
  7. From Chandra on 03 May 2007 16:49:23 WIB
    Waduhhhh, sudah ada calon ketiga yg bakalan saya pilih tau2 ada kabar pasangan Sarwono-Jeffrey digoyang lagi gara2 titah Gusdur yg ngotot mau Rano Karno jadi cawagub. Kapan ya PKB bisa bebas dari feodalisme yg terus2an tunduk pada kemauan "raja"nya.
  8. From anton on 04 May 2007 12:34:28 WIB
    Adang orang baik tapi di kandang yang salah
    Sarwono ngawur milih cawagub, kenapa ndak makai Rano Karno? tapi malah pilih pencundang
    Foke sudah pasti terpilih, tapi ndak kharismatik dan ada kecenderungan nilep uang Pemda juga buat balik modal kampanye?

    Jalan terbaik, liburan ke Bali dan ndak milih...Toh sudah pasti Foke yang menang.....yang terjadi...terjadilah asal Busway Jangan digusur dan tambah armadanya...

    ANTON

    PS. Gulirkan opini Effendi Gazali jadi Gubernur Sumatera Barat, Pasti Menang!!!!
  9. From angga on 07 May 2007 19:53:48 WIB
    wacana 3 kandidat akan tetap dengan 3 kandidat tapi akan ada satu kandidat lama yang akan keluar dari bursa itu prediksi pribadi..

    gubernur jakarta harus orang kuat kalau perlu purnawirawan..

    kuda hitam segera datang..
  10. From alex on 23 May 2007 16:55:55 WIB
    Bung Wimar menulis " ... Problem Kandidat Sarwono Kusumaatmadja bersumber pada kekuatannya sebagai orang yang sangat berpengalaman dalam politik. Pernah jadi aktivis mahasiswa, anggota DPR, pimpinan partai, anggota kabinet empat atau lima kali, anggota DPD. Dia dikenal bersih dan jujur. Tapi ..... dan seterusnya)

    Wah, bung wimar tidak fair ya? Bukankah ini kampanye terselubung? Lho, koq ??

    Pertanyaan saya buat Bung Wimar, kenapa pada saat membahas/menulis untuk 2 balon gubernur yang lain (ADANG dan FOKE) tidak menulis "kelebihan"nya ??

    Kalau alasannya, ".... SEKEDAR MENGINGATKAN SAJA KOQ", bukankah orang-orang sudah pada ingat/tahu siapa SARWONO K itu, dibanding misalnya ADANG yang kurang begitu populer dimasyarakat.

    Bang Wilmar ..... wake up !!!
  11. From papabonbon [papabonbon.wordpress.com] on 15 June 2007 12:51:17 WIB
    kenapa pilih the best from the worst. yah, bahkan PKS pun terpaksa pilih adang yg tidak akan menutup tempat hiburan kok. aku kira yg salah adalah isu isu yg beredar ndak ada yg cocok dgn prestasi para calon gubernur, sehingga mau gak mau kita harus pilih yg plaing baik diantara yg paling jelek. ha ha ha ... :)
  12. From Rahmat on 09 July 2007 17:52:20 WIB
    Akhirnya cagub-cawagub tinggal berdua, maen catur aja kali ye. Yang bisa skak mat duluan itu yang menang...:)

    Tapi jakarta bukan papan catur!! (walau katanye politik disamakan istilahnya dengan percaturan politik). Urusannya nyawe neh! Bener gitu gak bang ye?

    Kalau ditimbang-timbang, kedua cagub kagak cakep-cakep amat buat dipapampang jadi gubernur jakarte. Perubahan emang ade, walau kagak ketauan kemane arahnye, tergantung siapa yang kepilih.

    Tanggapan Bang Anton Mei lalu cakep juga sih. Tapi apa kagak lebih baik memilih yang menurut kite terbaik dari yang terburuk, daripada kagak memilih?!

    Kalau pilihan kite menang tinggal kita lihat perkembangannye, kalau makin keblangsak, kite baru bisa berlepas diri karena tuh amanah udah di pundak nyang jadi gubernur. Jadi kita bisa terus kritis (ini bukan plin-plan, tapi adil). Kalau makin cakep nih jakarta, kita pan dapet tambahan amalan buat nambahin bobot timbangan kebaikan di akhirat.

    Kalau pilihan kita kalah, juga tinggal lihat perkembangannye. Kalau jakarta makin keblangsak, paling kagak kite kagak punya saham disana. Tinggal kita porotin lewat demo aja. Kalau Jakarta makin cakep, Alhamdulillah karena kite bisa ikut ngerasain perubahan pilihan sohib kite.

    Kalau kagak milih????!!!??? Alias GOLPUT. Sukur-sukur yang menang orangnye bener, nah kalo kagak??? Kite makin berabe tapi kite juga kagak punya hak buat ngegoyang, toh kite GOLPUT.

    Menurut hemat gue nih. GOLPUT = Membiarkan kedzhaliman, ketidak adilan, dan kerakusan pejabat untuk duduk di kursi jabatan yang sebenernya bukan miliknya.

    Bener Jakarte harus diurus sama ahlinye, jangan sekali sekali jakarta kite serahin pada yang terbukti gagal mengaplikasikan keahliannya walau ade kesempatan sebelumnye... He he he..

    Bang WImar jangn Golput Ya...
  13. From masbenu on 19 July 2007 09:15:45 WIB
    Tinggal 2 calon nich, mungkin ini sudah menjadi takdir pertarungan good guy melawan bad guy, Sekarang kita bisa ngeliat pada kedua calon. siapa yang punya banyak nilai merah di rapot nilainya gak usah kita pilih, pan sudah terbukti nilainya jelek. menurut cerita/babad tanah betawi, nyang namenye jawara betawi kagak ada tuh nyang namanye main keroyokan. gimana nech jawara??? koq beraninya keroyokan ntuh.

« Home