Sarwono-Jeffry Mampu Melawan Big Money?
Perspektif Online
26 April 2007
Sarwono Kusumaatmadja datang lagi ke Gubernur Kita untuk kesekian kalinya, tapi sekarang sudah sebagai Cagub yang didukung PKB-PAN, bersama Jeffry Geovanie sebagai Cawagub. Tulis pertanyaan anda untuk Sarwono-Jeffry di sini!
Update 27 April: Laporan oleh Maro Alnesputra
Teman saya pernah bilang bahwa kalau ada si nomer 3, maka pasangan yang paling solid pun kadang bisa jadi hancur lebur.
Apakah hal itu juga akan terjadi dalam bursa Calon Gubernur Jakarta kali ini?
Selamat datang Sarwono Kusumaatmadja dan Jeffry Geovanie (Padang kok, bukan Italy). Pasangan yang saat ini ramai dibicarakan sebagai pasangan yang mungkin akan bergabung dalam pertandingan merebut kursi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Mereka datang untuk memaparkan alasan, visi, dan misi mereka sebagai bakal Calon Gubernur DKI Jakarta yang didukung oleh PKB dan PAN. Apalagi survey yang telah diajukan kepada 1550 orang di DKI Jakarta menyatakan bahwa lebih dari 70% warga Jakarta menginginkan calon ketiga.
Berhasilkan mereka menarik simpati panelis, pemirsa, dan publik? Simak!
coba-coba kursi roda dan telpon-telpon (foto lain)
Sangat Optimis
Effendi Ghazali: Terkait pencalonan anda sebagai bakal calon Gubernur Jakarta, dari skala 1-10 skala optimisnya berapa?
Sarwono Kusumaatmadja: 15
Effendi Ghazali: Luar biasa
WW: Dari dulu memang selalu begitu dia
WW: Kalau jadi dicalonkan yakin pasti menang ?
Jeffry Geovanie: Kalau menurut Pak Sar sih begitu!
Kapal Selam
Effendi Ghazali: Kenapa akhirnya bersedia untuk menjadi pasangan Bang Sarwono Kusumaatmadja?
Jeffry Geovanie: Karena Bang Sarwono itu seperti kapal selam, dan saya sendiri juga seperti itu. Terus terang kemarin itu tiba-tiba nama saya mulai disebut banyak orang untuk menjadi calon Wagub. Kelompok pemuda Muhammadiyah dan beberapa kelompok lain tiba-tiba saja mendekati saya - dan saya yakin tanpa suruhan dan atas inisiatif mereka sendiri – untuk mendorong saya agar bersedia menjadi calon. Pada saat itu wartawan sudah banyak yang bertanya tapi saya diem saja karena saya merasa bahwa semuanya itu belum pasti. Jadi saya dan beliau sama sama seperti kapal selam
WW: Saya kemarin ke Palembang makan Kapal Selam
Effendi Ghazali: Lain itu
Kenapa Wakil Bukan Rano Karno
Alvian (Penelpon): Kenapa Jeffry Geovanie berani ya mencalonkan diri? Padahal yang kita tahu Pak Jeffry Geovanie orang Muhammadiyah dan juga tim suksesnya Pak Amien Rais dahulu, tapi dirinya sendiri gagal menjadi Gubernur di Sumatera Barat yang 80% orang Muhammadiyah. Sedangkan penduduk Jakarta ini bermacam macam pak. Kalau saya lebih cenderung untuk mencari orang yang lebih popular seperti Rano Karno misalnya?
Jeffry Geovanie: betul sekali bahwa mungkin saya bukan pasangan yang paling ideal bagi Pak Sarwono, mungkin Rano Karno bisa saja lebih ideal daripada saya. Tapi musti diingat bahwa yang terjadi itu bukan suatu realita yang kita bayangkan bahwa sesuatu itu bisa diatur, karena itu tidak. Dan dalam format yang jauh ke depan, sebenarnya saya tidak pernah menyesal dengan kegagalan yang pernah terjadi. Perlu diketahui bahwa meskipun saya orang minang, namun saya lahir dan besar di Jakarta. Di Sumatera Barat sendiri itu saya tidak punya rumah. Dan saya tidak punya tempat tinggal sama sekali disana.
WW: Kenapa dulu mau dicalonkan?
Jeffry Geovanie: Karena waktu itu dicalonkan oleh Muhammadiyah, karena calon dari Muhammadiyah waktu itu belum ada dan mereka meyakikan saya untuk majulah
WW: Yah menang atau kalah pokoknya maju lah yah
Jeffry Geovanie: Ya intinya adalah pada akhirnya saya berhasil meraih peringkat tiga dan saya tidak pernah menyesal dari keikutsertaan saya itu meskipun saya tidak menang
Iwel: Mungkin karena masyarakat Sumatera Barat merasa bahwa Pak Jeffry Geovany ini cocoknya menjadi wakil gubernur Jakarta hahaha
Perangi Korupsi
Bisa jadi Gubernur yang tidak korup?
WW: Saya akan menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang saya tanyakan kepada Pak Adang dan Pak Fauzi, apabila dia datang sebelum bulan Agustus yah.
Persepsi di Jakarta adalah bahwa segala macam masalah, seperti banjir, dasarnya adalah korupsi dan kekuasaan yang tidak terkendali. Bahwa kantor Gubernur Jakarta banyak memberi tekanan kepada pengusaha, kepada media, kepada televisi. Anda orang santun dan bukan orang keras, apakah anda merasa kalau Bapak jadi Gubernur bisa membuat pemerintah DKI itu tidak korup dan tidak menekan?
Sarwono: Saya kira bisa dan..
WW: Ya bisa, bagaimana caranya?!
Fenny Rose: Galak banget
Sarwono Kusumaatmadja: Pertama kita mulai dari diri sendiri lah. Dan pengalaman saya, birokrasi itu sangat menghiraukan teladan dari pemimpinnya. Kalo yang di atas itu beres, ke bawah beresnya relatif cepat.
WW: Jadi yang sekarang di atas DKI itu ngga beres?Sarwono Kusumaatmadja: Nggak, ini teori umum saja.
Bisa melawan Big Money?
WW: Bagaimana Bapak dan rekan mengharap bisa menang melawan orang-orang yang punya "uang besar". Orang punya puluhan milyar, yang punya advertising budget, beli iklan, pasang billboard? Sementara anda pribadi gak punya uang sama sekali, partainya mungkin punya sedikit. Bagaimana anda bisa melawan Big Money?
Sarwono Kusumaatmadja: Kerja keras dan kerja efektif, karena duit itu kan bukan segala-galanya. Orang kalau cuman dihargai dengan uang bisa berbalik. Ada paradoks, orang menerima uang tapi harga dirinya dilanggar. Itu malah kontraproduktif. Dan saya nggak ngerti caranya mendistribusikan uang secara adil ke 5 juta pemilih. Nggak Mungkin. Duit gede itu bakal nyangkut di mana-mana, nggak netes ke bawah.
Effendi Ghazali: Maksudnya ingin mengatakan bahwa yang besar belum tentu menang atau kadang kalah, karena tidak menetes ke bawah.
Sarwono Kusumaatmadja: Kemudian yang harus juga perang melawan korupsi itu siapa? Termasuk pemilih juga

pemuda-pemudi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (foto lain)
Yah begitulah cuplikan dari episode Gubernur Kita kali ini, apakah mereka akan berhasil masuk ke bursa calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta??
Waktu yang akan menjawab, dan anda yang akan memilih!
Bintang tamu minggu depan (Kamis, 3 Mei): Fauzi Bowo!
Baca juga:





30 Comments: