Articles

Gubernur Kita Makin Panas!!

Perspektif Online
27 March 2007

Gubernur Kita Makin Sukses
Setelah 25 episode, acara Gubernur Kita di Jak-TV tidak pernah sepopuler ini. Rating acara ini terus naik, penelpon antri, komentar di PO berjubel. Ini tentu juga berkat Anda dan para pengelola acara tersebut yaitu Host, Co Host, dan panelis.

Apa Itu Gubernur Kita? "Baca Koran Dong"
Anda penonton acara tersebut dan pembaca setia PO, tentu sudah tahu acara buatan Effendi Ghazali yang juga selaku host, sejak awal mengudara pada 5 Oktober 2006 menghadirkan co host Iwel dan Fenny Rose serta dua panelis, yaitu Ryaas Rasyid dan WW. Ryaas untuk referensi undang-undang. Sedangkan WW untuk mengkritisi dan nyeletuk pertanyaan-pertanyaan dasar, dengan harapan melibatkan rakyat sebanyak mungkin dalam pemilihan Gubernur DKI pada tahun ini.

Secara terbuka, GK menyediakan forum bagi siapa aja yang mengincar kursi gubernur mendatang untuk menyampaikan visinya, maupun kriteria dan harapan setiap orang untuk gubernur mendatang, mereka terdiri dari orang partai, tokoh masyarakat, aktivis LSM sampai para calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubenur (Cawagub).

Sebagian sudah datang dan menerangkan programnya kepada penonton dan masyarakat, sebagian belum berani datang. Namun penonton sih terus bertambah, rating meningkat, koran, bahkan majalah bahasa Inggris ikut memuji acara ini. Kemana saja WW pergi banyak orang menyapa, komentar, bahkan curhat soal Pemilihan Gubernur tahun ini.

Jak-TV Sangat Progresif
Effendi Ghazali memang jagonya membuat acara yang meningkatkan kesadaran demokrasi dan membuat penonton makin berpikir kritis. Dengan mendukung acara gagasan EG ini, Jak-TV yang relatif masih muda membuktikan diri sebagai stasiun televisi yang modern, inovatif dan memperhatikan warga komunitasnya yaitu DKI dan sekitarnya.

Jak-TV juga menjadi TV pertama di Indonesia dan hingga kini satu-satunya yang turut berperan dalam sosialisasi Pilkada dan penyadaran politik dengan acara khususnya Gubernur Kita. Stasiun televisi mana yang mendukung demokrasi seberani ini? Bravo!

Seperti acara TV lainnya, tentu saja Gubernur Kita dapat berjalan dengan adanya sponsor terutama sponsor utama yang pada awalnya Bank DKI. Sayangnya bank milik Pemda DKI ini menghentikan sponsorship dengan alasan yang kita tidak tahu, tapi untung ada sponsor baru kali ini dari pihak swasta, alat tulis Standard. Yang mempunyai semboyan, "Terbuka lama tidak masalah". Yang pasti, kalau demokrasi memang terbuka lama tidak masalah, malah harus.

Muncul atau Tidak, Mereka Nonton Lho!
Kita tahu Gubernur Kita punya sponsor dan banyak penonton, tapi ternyata semua Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur juga memperhatikan program ini lho. Beberapa Cagub yang pernah hadir dan memberikan visinya (sesuai abjad) adalah Abdul Razak Thamrin, Bibit Waluyo, Edi Waluyo, Faisal Basri, dan Sarwono Kusumaatmadja. Sedangkan Cawagub yang pernah hadir adalah Abdul Wahab Mokodongan, Achmad Suaedy, Asril Tanjung dan Biem Benyamin.

Sedangkan yang belum berani muncul sebenarnya diam-diam sangat sadar bahwa kita semua mendambakan kehadiran mereka. Mereka sedang mempertimbangkan dengan hati-hati sekali. Peran acara TV mingguan ini lebih besar dari yang dikira!

Hanya Dua Calon? Tunggu Dulu!
So, kilas balik dikit. Dari tahun lalu sampai minggu lalu saja, kita makin merasa bahwa rakyat hanya akan punya dua pilihan, yaitu Adang Daradjatun dan Fauzi Bowo. Ini karena selain PKS yang mencalonkan Adang, sisa belasan partai berencana kompak calonkan satu orang, Fauzi Bowo.

Tapi pada hari Senin pekan ini kita mendapatkan berita baru. PKS yang konsisten dengan Adang, telah meresmikan pasangannya yaitu Dani Anwar sebagai calon wakil gubernur, sementara PKB dan PAN belum tentu berhasil digaet oleh Golkar untuk dukung Fauzi Bowo, karena nama Sarwono yang didukung Gus Dur dan nama Agum Gumelar masih melayang di bursa partai yang belum resmi dengan calonnya itu.

Namanya Wakil Rakyat Harus Percaya Rakyat
Fauzi, Adang, Sarwono, Rano, Agum, siapapun yang resmi dicalonkan, yang kita inginkan adalah memberikan rakyat pilihan. Ini soal proses demokrasi, bukan soal mengakali siapa-siapa untuk menang atau kalah. Kalau yang jago money politics dan lobby partai akhirnya menang, kita tidak heran. Tapi siapa tahu rakyat bisa angkat good guy, kalau kesempatannya ada. Yang penting berikan pilihan pada rakyat dan kurangi kemungkinan terpilihnya Gubernur yang lebih mikirin utang partai daripada suara rakyat.

Tempat Terjadinya Peristiwa Historis
Suwiryo, Soemarno, Ali Sadikin, R. Soeprapto, Wiyogo, Soerjadi, Sutiyoso, tahukah Anda bagaimana mereka bisa mendapatkan jabatan mengurus Ibukota ini? Yang jelas bukan karena Anda. Sekarang, untuk pertama kalinya Anda terlibat, baik dengan cara membantu mengampanyekan good guy, maupun dengan bengong membiarkan bad guy menang mudah, kita terlibat karena kita akan diberi hak pilih. Sejarah sedang terjadi di depan mata Anda yaitu di Gubernur Kita. Bukan sekedar hiburan atau liputan, tapi tempat terjadinya peristiwa historis, setiap Kamis 21.00 di Jak-TV!

Print article only

24 Comments:

  1. From Hari on 27 March 2007 13:58:01 WIB
    Acara Gubernur Kita seperti sidang ujian skripsi. Agar bisa lulus, harus berani dan siap maju ke hadapan sidang penguji. Di GK dewan pengujinya banyak dan berbobot dari Host, Co Host, dua panelis yang kritis Ryaas dan Bung Wimar, sampai mahasiswa dan terkadang ada LSM yang hadir.

    Salut untuk para mantan jenderal militer yang telah berani hadir. Anda telah lulus. Jiwa ksatria Anda telah teruji. Bagi yang belum berani tampil, kapan Anda berani maju? apakah menunggu dewan pengujinya diganti?
  2. From moh toha on 27 March 2007 14:21:08 WIB
    Saya termasuk orang yang sangat menggemari acara-acaranya Bung Effendy. Mulai dari Republik BBM yang sekarang jadi Republik Mimpi, City View, dan tentu Gubernur Kita (GK).
    Semua acara brojolannya Bung Effendy memang bagus-bagus kok, salut buat beliau!

    Khusus untuk GK, saya pun mengacungkan jempol kepada Jack TV yang melahirkan dan memelihara acara tersebut. Sebab melalui acara ini masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika dari proses pemilihan cagub/cawagub, sekaligus turut berperan serta di dalamnya.

    Saya sendiri berusaha untuk selalu mengikuti acara GK, meski kadang harus rebutan TV dengan orang-orang serumah yang lebih memilih menonton sinetron. Katanya, “pusing lah mikirin politik …. mereka yang enak-enak, kok kita yang pusing?” Kalo’ udah gitu, apalagi kalo’ di rumah ternyata saya kalah suara, terpaksa ngalah aja. Cari tetangga yang satu selera dengan saya untuk berkoalisi…..hehe….Kalo’ ngga ada?...kan ada Perspektif! Kok Repot?
  3. From Satya on 27 March 2007 14:38:25 WIB
    halo, saya mau bandingkan program para calon di mana ya, kalau mereka gak mau datang ke hadapan masyarakat.

    kalo saya cari sendiri cuman dapet mengenai fauzi bowo korupsi proyek2 transportasi dan adang daradjatun mewakili ekstrimis agama, padahal saya ga mau tahu soal itu.

    saya mau tahu perbedaan policy para calon dalam pembangunan, transportasi, penanggulangan banjir, kebersihan, dan standard etika kerja masing2.

    itupun suka agak saling nyontek, misalnya soal kanal dan monorail, kebanyakan sama dg sutiyoso, padalah saya akan kasih suara ke yg membawa perubahan.

    bantu saya membedakan dong.
  4. From wimar on 27 March 2007 14:59:52 WIB
    Ketika DR Effendy Ghazali meminta saya menjadi panelis tetap 'Gubernru Kita' bersama Prof Ryaas, saya merasa terhormat sekali. Apalagi diberi peran khusus untuk mewakili masyarakat yang awam politik dan ingin menanyakan pertanyaan2 yang mendasar.

    Senang sekali mendapat dukungan Jak Audience pada setiap tayangan dan kalau ketemu di jalan. Diem2 jadi populer, padahal ini acara kreasi Effendy Ghazali. Sebagai pakar komunikasi, dia sangat jeli dalam membuka jendela acara televisi ini kepada masyarakat, sehingga popularitas acara in berjalan berbarengan dengan pendidikan politik. Kekuatan acara ini dari JakAudience, bukan dari siapa-siapa.

    Bravo JakTV yang bisa melahirkan acara ini, terobosan dalam pertelevisian Indonesia. Di Australia, banyak yang membicarakan acara ini. Mereka tidak nyangka demokrasi begitu maju di Indonesia. JakTV menjadi terkenal lebih daripada asal usulnya sebagai stasion lokal. Kalaupun sponsor lokal tidak selalu cukup dana, JakTV bisa mendapat sponsor internasional selama acaranya tetap konsisten membawakan Indonesia Masa Depan.
  5. From EL on 27 March 2007 15:04:21 WIB
    bedanya, Adang sudak kasih 14 M ke PKS sebagai dp. Kalau Foke berapa ya?
  6. From miss P, eh, miss D on 27 March 2007 16:43:41 WIB
    gmn kita bisa kenal dengan gubernur kalau masih calon saja, mereka tidak mau kenalan dengan kita; warga jakarta, cara kenalan nya gampang kok, cukup dateng di acara ini.
    jgn ulangi kesalahan gubernur yg sekarang dunk; kurang kenal dengan warga jakarta... jadinya banyak yang gak tau, gak kenal dan gak sayang...:D
  7. From wid on 27 March 2007 18:05:49 WIB
    Selamat untuk tim 'Gubernur Kita' Effendi Ghazali, Bung Wimar Witoelar, Prof. Ryaas, semuanya menempati perannya masing-masing dengan baik dan yang penting mereka saling mengisi.

    Nggak lupa tentunya co host Iwel dan Fenny Rose yang menambah acara semakin meriah.

    Yang tak kalah penting adalah keberanian Jak TV menyuarakan Demokrasi dalam Pilkada DKI ini patut diacungi jempol.

    Kandidat yang sudah dateng patut diacungi jempol, yang belum datang .... datang dong. biar kami bisa melihat keseriusan anda.

    semoga dengan acara ini Pilkada DKI bisa menjadi contoh bagi PIlkada2 daerah lainnya.

  8. From riznura on 27 March 2007 18:16:06 WIB
    Effendy Ghazali, Ryaas, dan Wimar seperti tampak foto di atas seperti three musketeer. Pertanyaan dan komentarnya menusuk tajam dan mewakili kami warga Jakarta. Thanks yah Bung Wimar...
  9. From awicaksono on 27 March 2007 21:16:29 WIB
    Coba baca kilasan berita Tempo terbaru.. Hanya orang yg mampu menyediakan duwit bermilyar-milyar yang boleh jadi gubernur DKI. Orang yang bersih, piawai manajemen, paham betul jadi pejabat publik harus ikut arus politik-duwit kalau mau lolos pencalonan. Acara GK bisa sangat berarti kalau tidak hanya menyoroti para bakal calon gubernurnya saja, tetapi juga mengkritisi paradigma berpolitik yang masih berputar-puter masalah pengerahan duwit dan pengerahan massa.
  10. From Indri on 28 March 2007 07:04:51 WIB
    Kalau 2 calon yg disebut2 gak muncul juga di Gubernur Kita, saya jadi makin yakin untuk dukung calon ke-3 yang sudah banyak dibicarakan orang nih..
  11. From ina on 28 March 2007 10:23:54 WIB
    kayaknya acaranya bagus!seperti NDC, tapi sayang q gak bisa liat q ada di Sby
    semoga acaranya bung Fendi tayang di TV nasional atau bikin acara di J-TV ama pak Sooko yang keren n kritis.
  12. From Yon Cahyadi on 28 March 2007 10:35:17 WIB
    Saya setuju dengan pendapat Bung Harris kalau acara GK ini bisa diibaratkan sebagai ujian skripsi atau malah tesis bagi cagub dan cawagub DKI.

    Jika para cagub yang belum berani datang ke acara GK untuk memaparkan visi - misi dan menjawab uneg- uneg dari para panelis dan Jak Audience... bagaimana nanti kalau mereka terpilih jadi Gubernur dan kemudian di "berondong" sejuta macam pertanyaan yang lebih berat...?

    Perkara menang - kalah dalam pilkada nanti urusan belakang tapi kemauan dari cagub dan cawagub yang berani datang ke GK harus diacungi jempol...

    Btw, Bung WW..kapan nigh undang saya ke acara GK...hihihihi...

    (dari warga depok yang cari makan di Jakarta)
  13. From gambler on 28 March 2007 12:46:46 WIB
    Senang rasanya mengetahui bhw
    “JakTV menjadi terkenal lebih daripada asal usulnya sebagai stasion lokal.”. jadi saya tdk perlu kuatir, tv ini akan menghilang, karena ke “beda” annya.

    Bwt Efendi, 2 minggu terakhir acara city view, bagus sekali. Suatu ide yg bagus, telah mengangkat topic yg sangat menarik.

    Saya juga salut dgn acara baru: Sudut Pandang. 2 episode yg saya liat, sdh menampilkan Jusuf Kalla & Rano Karno. Bagus sekali. Interviewnya tajam. Kalaupun jawabannya tdk memuaskan, kita jadi bisa menilai apakah itu benar / tdk.

    Bwt GK, maju trus!
  14. From Henkcy on 28 March 2007 17:06:53 WIB
    Seharusnya Gubernur Jakarta itu adalah Bung Wilmar atau Bung Effendi Ghazali. Karena masyarakat betawi mempunyai budaya ceplas ceplos, jujur, terbuka terhadap celaan/kritik dan tidak pendendam, maka yang dibutuhkan untuk menjadi Gubernur juga harus mempunyai budaya seperti itu.
    Seharusnya ada calon independent, kenapa Aceh boleh tapi Jakarta tidak boleh. Kemudian daerah lain gubernurnya boleh putra asli daerah, tapi Betawi pencalonan Gubernur diatur oleh legislatif yang kebanyakan bukan orang betawi.
    Harusnya warga betawi bisa mengumpulkan tanda tangan untuk bisa mencalonkan seorang calon independent yang memang putra asli betawi dan bener2 mempunyai sifat seperti budaya betawi asli.
    Kalu itu bisa dilakukan maka warga masyarakat betawi bisa mencalonkan orang yang jujur seperti alm Bang Ben (kalau masih hidup) atau bang Deddy Miswar. Namun orang seperti Bung Wilmar dan Bung Effendi juga cocok dicalonkan karena mempunyai sifat seperti orang Betawi asli.
    Bravo acara Gubernur Kita.
  15. From cichi on 28 March 2007 20:23:59 WIB
    salut untuk JakTV!!!
    sebagai TV lokal benar2 telah memainkan peran yang sangat penting yaitu edukasi politik bagi warga DKI dalam mengikuti proses Pilkada yang akan berlangsung sebentar lagi..supaya warganya tidak salah pilih & menyesal di kemudian hari

    melalui program Gubernur Kita dengan host, co-host & serta 2 panelis (yang saling melengkapi) menjadikan acara ini berbeda bahkan mungkin pada akhirnya bisa dibilang sebagai sejarah karena ini jadi bagian dalam proses pilkada dng memperkenalkan langsung cagub/cawagub sebelum akhirnya mereka dipilih, diluar bagian urusan birokrasi dng partai, KPUD dll karena di acara Gubernur cagub/cawagub cukup datang & bisa secara bebas untuk menyampaikan visi & misi tanpa harus ada birokrasi

    beberapa cagub/cawagub sudah tampil, tapi saya masih penasaran dng 2 cagub yang cukup rame dibicarakan bakal jadi calon kuat, apakah mereka benar2 bisa membawa warga DKI ke arah yang lebih baik dari sebelumnya ??

    ada baiknya kalau 2 cagub ini bisa meluangkan waktunya sedikit untuk bisa tampil di acara ini!.
  16. From Henkcy on 29 March 2007 15:47:38 WIB
    Bung Wilmar, sebaiknya semua yang menyampaikan comment ini bisa diundang di acara Bung Wilmar (persepektif) atau acara Bung Effendi di Gubernur Kita.
    Saya juga usul, mungkin bagi bisa diadakan acara gathering (kumpul2) bagi warga yg aktif (yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan yg bertanggung jawab seperti Bung Wilmar) di web ini. Siapa tahu akan bisa menghasilkan suatu ide untuk meningkatkan/improvement (rating) acara anda serta topik-topik yang lebih menarik.
  17. From alfa on 30 March 2007 19:12:34 WIB
    Selamat untuk gubernur kita, saya adalh penggemar acara efendi gazali... saya tidak pernah melewati acar gub kita ini, akan tetapi beberapa hari yg lalu saya baca koran ternyata bpk riyas rasyd adalah anggota tim pemenangan fauzi bowo.... apa ini tidak akan terjadi penggiringan opini nantinya.
    terima kasih.. salam demokrasi
  18. From Cak Iqbal on 31 March 2007 15:19:00 WIB
    Salut dan Bravo untuk Perspektif On-line !!

    Bagi saya, situs ini sangat interaktif, inspiratif dan komprehensif untuk proses pengembangan wawasan dan pengetahuan khususnya bidang demokrasi.

    Lewat situs inilah salahsatunya kita bisa mengenal, memahami sekaligus turut serta berpikir kritis atas kehidupan demokrasi dan sosial-politik. Acara GUBERNUR KITA di JakTV menjadi mudah diakses dimanapun dan kapanpun lewat situs ini. Semoga Om Wimar memperoleh banyak pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa atas amaliah dan dedikasinya mengembangkan Perspektif-Online. Bukankah katanya "Putus semua amal insan di dunia melainkan salah satunya ilmu dan amal yang dibagi-bagi kepada sesama".

    Diseminasi segenap informasi mengenai GUBERNUR KITA (GK) dalam situs ini adalah sebagai MEDIA LITERACY (Kecerdasan bermedia).

    JAK-TV bagi saya, adalah sebagai MEDIA LITERACY karena memang menjadi stasiun TV lokal swasta yang SATU-SATUnya di Indonesia yang mengupas habis secara komprehensif tentang proses PILKADA (52 episode sekaligus diagendatayangkan mulai Oktober 2006 s/d Oktober 2007), mulai dari "Suka-Duka Gubernur Kita", "Mengenal apa itu Pilkada", "bagaimana proses pendataan pemilih", "Mengenal tahapan Pilkada", "Bagaimana kampanye Pilkada yang elegan", dan "Debat publik"

    Lalu, GK juga mengangkat tema yang menjaring aneka respon masyarakat DKI Jakarta dari berbagai kalangan (Dewan Kelurahan, Pemilih Muda, Warga korban banjir dan penggusuran, PKL, Penyandang Cacat, Aktivis Perempuan, Pengusaha-pebisnis, Mahasiswa, dll) atas "Situasi kondisi Jakarta", "Komitmen para bakal calon Gubernur & Wagub DKI Jakarta untuk membenahi kompleksitas Jakarta",
    hingga nantinya "Menagih janji-janji kampanye pasangan Gubernur-Wagub terpilih" dan "Implementasi kontrak sosial-politik warga dengan Gubernur-Wagub DKI Jakarta terpilih"

    Tentu saja, saya yakin berkat masukan dan saran dari seluruh pemirsa GK, nantinya akan muncul aneka tema segar, kritis, tajam dan menghibur untuk memenuhi kriteria tayangan alternatif yang edukatif, informatif di tengah gelontoran industri penyiaran yang tanpa kita sadari secara konspiratif sebenarnya menghegemoni dan membiarkan berkembangnya kebodohan bangsa Indonesia dengan tayangan-tayangan berbau mistis, sadistis, violences, pornografis baik dalam format sinetron, film, komedi slapstik, kuis SMS, variety show, reality show ataupun infotainmen.

    Sistem Industri penyiaran dalam ideologi Neo-Liberal sejatinya telah menciptakan pseudo-reality (realitas semu) bahwa tayangan-tayangan itu adalah cermin dari selera pasar !!

    Bahwa sesungguhnya, itulah yang saya maksud dengan hipotesis adanya KONSPIRASI Neo-Liberalis agar membiarkan bangsa Indonesia larut dalam hiburan semata, tanpa daya kritis dan lalu mengalami kebodohan lantaran tiap waktu tiap hari digelontori dengan tayangan-tayangan seperti tersebut di atas. Apalagi kemudian, tayangan-tayangan tersebut dinominalkan dengan angka RATING Tinggi oleh Lembaga Rating AGB Nielsen (yang hanya Business Oriented) yang di Indonesia TANPA PERNAH di Auditing dan TANPA PEMBANDING hingga sangat Dominatif untuk menentukan nasib semua program acara TV di Indonesia.

    Saya membayangkan, seandainya TV-TV kita justru berlomba-lomba untuk menyuguhkan yang Terbaik kepada pemirsa Tanah Air TENTU SAJA pemirsa akan ikut tercerahkan lantaran adanya proses rekacipta kreatif program-program alternatif TV !! Seandainya Industri TV di Indonesia penuh semangat Akuntabilitas Publik (karena Lembaga penyiaran TV/Radio menggunakan Ranah Publik) dan menjalankan Fungsi media massa yang memberikan Informasi, Edukasi, dan Kontrol Sosial, selain hiburan, tentu dalam kurun waktu yang tidak lama, masyarakat kita akan ikut tercerahkan, teredukasi sehingga sesuai dengan semangat Presiden SBY, Visi Indonesia 2030, bakal "Tak jauh Panggang dari Api". Bukankah Media TV amat vital berperan dalam proses konstruksi sosial mengingat karakteristik dan dampaknya sebagai media massa??


    Sekali lagi,
    SALUT dan BRAVO untuk GUBERNUR KITA, Perspektif-Online,
    SALUT dan BRAVO untuk Effendi Gazali, Om Wimar, Ryass Rasid
    SALUT dan BRAVO untuk JAK-TV !!!

    Semoga acara Gubernur Kita makin maju dan bagus,
    Semoga Perspektif On-line makin sukses dan kritis,
    Semoga TV-TV kita makin akuntabel dan fungsional secara moral
    Semoga masyarakat kita makin sejahtera lahir dan batin
    Semoga Visi Indonesia 2030 terwujud dan tidak cuma Baru Bisa Mimpi !!!

    Salam Demokrasi,

    Cak Iqbal
    HP: 0817 00000 60
  19. From JP on 03 April 2007 20:49:03 WIB
    Saya, terus terang jadi sport jantung ngeliat gubernur kita setelah kasus wimar's world di berhentikan JAK-TV. Ada kejengkelan sebagai pemirsa, merasa haknya diabaikan dan di sewenang-wenangi melalui penghentian tayangan Wimar's World yang sangat menarik itu.

    Karena dilihat dari logika manapun sangat tidak masuk akal penghentian acara tersebut. Acara dengan rating tertinggi, thema2nya yang sangat cair, dan dipandu oleh host yang tidak usah diragukan lagi kepiawaiannya.

    Saya kenal dekat dengan bung Effendi Ghazali, tahu prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi yang selalu dijunjungnya, saya berharap tim yang kompak ini (Effendy, Ryaas Rasyid dan Wimar Witoelar)tidak mau dipecah belah dengan mempersona non grata-kan salah satu diantaranya. Kalian satu kesatuan, akan timpang acara ini dengan perginya salah satu diantara kalian. Dan tentu saja, kalau ini sampai terjadi, duuh bagaimana kami percaya lagi dengan demokrasi melalui pendekar-pendekar demokrasi ini, bukankah dalam demokrasi memuat etika juga, termasuk kesetiaan untuk menegakkan dan melawan penundukkan terhadapnya.

    Semoga penonton tidak was-was dan ketar ketir lagi untuk menonton sebuah tayangan menarik karena kuatir untuk dihentikan jam tayangnya. Agak ironis memang. Tapi yah... apa boleh buat...Demokrasi memang ruwet ternyata.
  20. From empat belas M on 05 April 2007 14:25:08 WIB
    Wah Wah wah kalo yang ditulis komentar no lima (5) benar, ya pastilah orang yang bisa kasi empat belas M bisa ngapa-ngapain. Pasti bisa ngatur jakarta! bisa juga ngatur WW!!! Apalagi kalao dia siap2 run for the no one. Ha ha ha WW yang run for no two ya di usir duluan. Gitulah....Calm Down Man !!!
  21. From giie on 17 April 2007 17:21:00 WIB
    pnyanyinya cantik...
    hehehehe..
  22. From fauziah on 22 July 2007 14:40:55 WIB
    aku salut bgt sama acara ini yg selalu mengangkat citra demokrasi kita yang sudah lama pudar kembali lagi. masyarakat dituntun untuk berfikir kritis atas kebijakan pemerintah. efendi ghazali ...semangat
  23. From yaya\' on 21 August 2007 15:31:10 WIB
    Selamat ya acaranya. cuma sayangnya gak sampai Aceh bung. Gimana jika bisa sampai Aceh kan menareeek.
  24. From Keyla on 19 October 2011 07:52:41 WIB
    I literally jmuepd out of my chair and danced after reading this!

« Home