Articles

Penembakan Antar Polisi: Senjata dan Psikologi

Wimar's World
21 March 2007
Kasus-kasus penyalahgunaan senjata api di kepolisian akhir-akhir ini semakin marak. Mulai dari kasus penembakan terhadap sipil, penembakan sesama polisi sampai menembak diri sendiri. Apakah kultur kepolisian yang cenderung mengedepankan kekerasan sudah saatnya dikikis? Apa yang seharusnya dilakukan untuk menghindari kasus-kasus serupa? Bagaimana dilihat dari segi kejiwaan? Adakah cara deteksi dini?
 
Saksikan Wimar's World di JakTV, Rabu 21 Maret 2007 pukul 21.30 WIB

Kasus Penembakan

1. 14 Maret 2007
Brigadir Hance, anggota Polwiltabes Semarang menembak mati atasannya, AKBP Lilik Purwanto (wakapolwil) setelah itu pelaku tewas ditembak anggota resmob beberapa saat kemudian.

2. 10 Maret 2007
Brigadir Sofyan, anggota Polda Jabar, menembak mati dirinya sendiri. Korban bercanda dengan pistolnya yang dikira tak berisi peluru.

3. 8 Maret 2007
Brigadir Satu Rifai Yulianur (bertugas pada bagian operasional Polres Bangkalan, Jawa Timur) menembak mati empat orang (mertua, istri, dan dua teman istrinya). Kemudian menembak diri sendiri.

4. 13 Februari 2007
Brimob dan anggota TNI baku tembak menewaskan seorang anggota Brimob di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Bentrokan dipicu persoalan sepele, yakni saat antre mendapatkan minyak tanah bersubsidi. Anggota Brimob tak kebagian minyak tanah, sedangkan Satgas TNI yang di depan mendapatkan jatah.

5. 24 Januari 2007
Iptu Oloan Hutasoit, anggota Poltabes Medan menembak pasangan pengantin baru Nanda Safriani, 23, dan Amrul Fahmi di keramaian sebuah mal di Medan. Diduga dia patah hati ditinggal kawin oleh Nanda.

6. 13 November 2006
Anggota Kepolisian sektor Sayuk Demak, Jateng, I Gede Mustik ditembak rekannya Brigadir Kepala Polisi Nugroho pada sebuah acara. Nugroho yang sedang mabuk sebenarnya bermaksud melerai dua pemuda yang berkelahi. Namun, peluru dari pistolnya justru mengarah ke tubuh Mustika

7. 26 Agustus 2006
Aipda Saudin Debataraja Simamora, anggota Polres Metro Bekasi menembak mati istrinya, Kapten CAJ Adiana Siringgo-Ringgo, setelah itu menembak dirinya namun tak mati.

8. 8 Agustus 2006
Polisi dan tentara baku tembak di Tugu Mulyo Kabupaten Musirawa, Sumatera Selatan. Seorang anggota TNI dan seorang anggota polisi tewas dalam baku tembak

9. 28 Juli 2006
Briptu Marto Lawani ditembak mati oleh atasannya Iptu Koko Arianto Wardani, Kepala Kepolisian Sektor Talaga Gorontalo.

10. 24 April 2005
Iptu Sugeng Triono menembak atasannya AKP Ibrahim Gani, lalu bunuh diri.

11. 27 April 2005
Inspektur Satu Polisi Sugeng menembak Kepala Samapta Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Polisi Ibrahim Gani sebelum apel pagi. Perwira muda yang mengaku tidak bisa tidur empat hari itu tiba-tiba masuk ke ruang Samapta dan mengambil pistol Ibrahim. Tanpa ba-bi-bu dia menembak dada Ibrahim dua kali. Setelah itu Sugeng menembak kepalanya sendiri Mantan Kepala Unit Kecelakaan Polres Jombang ini sempat dinonaktifkan diduga karena stres.

12. 18 April 2005
Bripda Yohanes Widiyanto, anggota Polres Cirebon bunuh diri dengan menembak keningnya di Gereja Santo Antonius Kotabaru, Yogyakarta.

13. 1 Januari 2005
Adiguna Sutowo (adik pengusaha Pontjo Sutowo) terlibat penembakanYohannes Berkmans Natong, seorang pelayan Club and Lounge Fluid di Kompleks Hotel Hilton, Jakarta Pusat.

14. 28 Agustus 2004
Empat oknum polisi dari Polres Jakarta Selatan menganiaya Raditya Aristodiningrat, dan menodongkan pistol kepada petugas keamanan diskotek Cetro, di Jalan Darmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

15. 24 Agustus 2004
Empat prajurit TNI AD tewas dan satu kritis setelah ditembak oleh Lettu Simorangkir yang tak lain adalah kawannya sendiri, di sebuah rumah dinas di Lr. Manunggal, kompleks TNI Neusu, Banda Aceh.

16. 21 Agustus 2004
Ady Supena alias Parto melepaskan tembakan ke plafon lobi Planet Hollywood. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menghalau wartawan yang terus mencecarnya.

17. 19 Juli 2003
Penembakan Dirut PT Asaba, Boedyharto Angsono (60), di halaman Sasana Krida GOR Penjaringan, Jalan Jembatan Tiga, Pluit.

18. 26 Juli 2001
Hakim Agung M Syafiuddin Kartasasmita diberondong tembakan oleh Noval Hadad dan Maulawarman, di sekitar Kemayoran Jakarta Pusat.

Print article only

22 Comments:

  1. From kuyazr on 21 March 2007 10:16:39 WIB
    mungkin sewaktu kecil selalu dibelikan mainan pestol2an...jadi sewaktu dewasa pestol beneran masih dianggap mainan...
  2. From Indri on 21 March 2007 10:18:09 WIB
    Polisi yang gak pegang senjata aja suka bikin takut, apalagi yang pegang senjata. Ditambah lagi makin banyak kasus penyalahgunaan senjata api oleh polisi. Wah ngeri sekali. Padahal jumlah polisi yang memegang senjata api banyak sekali, ribuan polisi atau mungkin lebih. Buat kita tidak ada jaminan yang jelas apakah mereka semua orang2 yang bertanggung jawab dan stabil mentalnya. Kalau sekedar orangnya dihukum saja, kan tidak mengembalikan nyawa yang melayang karena tembakan yang sembrono. Kayaknya perlu ditarik dulu semua senjata2 itu, lalu diseleksi ulang orang2 yang boleh memegang senjata, dan perlu diberi pembekalan yang lebih ketat lagi.
  3. From de_ujan on 21 March 2007 15:41:12 WIB
    itu lah yang terjadi kalo anak kecil dikasih pistol... apa juga ditembak sama dia... ya plaffon, ya bonya, ya istrinya.... ck ck ck....
  4. From angga on 21 March 2007 18:10:19 WIB
    mental aparat yang dikotori oleh sebagian kecil oknum yang tidak bertanggung jawab, walaupun oknum tersebut dari dalam induk kepolisian tersebut.

    ada tahapan yang sangat ketat dalam pengambilan keputusan seorang perwira polisi dapat dengan leluasa membawa senjata sepanjang tugasnya, dengan alasan keamanan, dan mengamankan keadaan yang tidak terkendali.

    ada serangkaian tahapan yang sangat kompleks sampai diakatakn ya dia bisa dan mampu membawa dan mengelola senjata api dengan baik.

    kecurigaan yang muncul adalah adanya praktek2 yang tidak benar dalam regulasi tersebut yang saat ini sangat nyata akibatnya.

    saya sendiri tidak secara jelas mengetahui jenis praktek seperti apa yang diselewengkan aparat berwenang, tapi sebagai satu contoh saja

    rekan saya yang hendak masuk akpol dengan bangga menceritakan bahwa dia sudah menyiapkan anggaran khusus sampai ratusan juta untuk dapat memuluskan keinginannya melenggang dengan lebih mudah masuk di akpol.

    rasanya contoh lain yang lebih nyata bisa kita kaitkan dengan metoda penyiksaan fisik pada lembaga pendidikan negara seperti STPDN, dan belum lama di pendidikan angkutan darat.

    memang bukan dari kepolisian tapi rasanya hal ini akan tidak jauh berbeda, karna di bangsa ini semua birokrasi mulai bikin KTP mau cepet bisa pake calo....

    mungkin saja hasil tes2 yang dijalani para perwira sudah dimanipulasi, belum lagi ada latar belakang yang kurang enak selama masa pendiidikan.

    harus disadari polisi merupakan sandaran akhir setiap warga negara yang memohon keadilan, sudah seharusnya kepolisian menghargai amanat yang dipercayakan.

    tapi kebetulan polisi di sekitar saya baik2 semua, saya pun pernah diantar pulang, karna kebetulan ada patroli rutin di daerah rumah saya.

    semoga jadi pelajaran yang sangat membangun kepolisian RI.

    terima kasih
  5. From Aldrinnoer on 22 March 2007 07:50:17 WIB
    Polisi baiknya di kasih pentungan aja deh nggak usah Pistol atau SENPI lainnya. Kelihatan kalau tesnya cuma sekali seumur hidup, alis pas cuma waktu mendaftar jadi polisi saja. Nggak seperti Pilot yang secara reguler di tes fisik, kesehatan, instrument rating, dll. Sistemnya mungkin ada tapi aplikasinya tergantung budget. Budget untuk tes mungkin sudah habis buat bangun gedung dan pagar gedung MABES, POLRES, POLSEK dll.

    Departemen atau institusi lainnya? Ayolah benahi juga sistem anda.

    Wassalaam.
  6. From abi on 22 March 2007 10:33:58 WIB
    DOSA AKUMULASI DARI POLISI YANG TELAH LAMA BERKUTAT DENGAN KORUPSI DAN SUAP. DARI MAU MASUK MENJADI POLISI SAMPAI MENJADI SEORANG JENDERAL TAK LEPAS DARI UANG PANASSSSSS..!
  7. From Daddy on 24 March 2007 14:07:45 WIB
    Penyalahgunaan senjata oleh polisi hanya salah satu gunung es dari bobroknya mentalitas polisi di Indonesia. Seharusnya momen ini bisa menjadi refleksi internal polisi tentang apa yang terjadi dalam kehidupan maupun pekerjaan polisi. Telah menjadi pemandangan umum bahwa polisi berpangkat tinggi berlimpah harta (entah halal atau haram) dan polisi berpangkat rendah kere dan tinggal di asrama sempit nan kumuh.
  8. From pahit on 27 March 2007 20:45:37 WIB
    Aku melihat perubahan drastis pada temanku setelah masuk dan lulus dari akademi kepolisian. Sewaktu belum masuk akpol, temenku orang yang rendah hati, nggak sombong, suka menolong.

    Sejak masuk akpol dia berlagak sok tidak kenal teman-teman lamanya. Sekeluar dari akpol, masya Allah, sorot matanya hanya menampakkan keangkuhan. Merasa seperti warga negara kelas satu dengan seragam coklat itu.

    Pasti ada yang salah dengan akademi kepolisian. Maka tidak heran kalau kasus DAR DER DOR kerap terjadi.
  9. From Joshua Tan on 30 March 2007 16:27:53 WIB
    Ini terkait dengan system. Penerimaan anggota polisi tidak selektif, karena negara membutuhkan aparat yang banyak untuk dapat mengatur negri, belum lagi isue tau sama tau bahwa untuk mencapai posisi tertentu harus ada "uang suap"?? Dari segi kesejahteraan, banyak anggota yang jauh dari kata sejahtera, jadi mentalnya juga tidak bagus, sehingga ketika jadi polisi terjadi banyak penyimpangan. Kasus Penembakan hanyalah letupan2 kecil yang jumlahnya mulai banyak akibat system didalam kepolisian yang kurang sempurna.
  10. From pahit on 01 April 2007 14:32:25 WIB
    Soal kesejahteraan polisi, aku harus copy-paste postinganku dari judul sebelah. Berikut:

    Ada seorang polisi. Suatu pagi dia dimintai anaknya sepasang sepatu baru karena yang lama sudah sobek. Maka di pagi hari itu setelah sarapan dia segera mengenakan seragam lengkap dan langsung ngeluyur dengan sepeda bebek barunya. Siang hari menjelang dhuhur sang polisi sudah pulang dengan sepasang sepatu baru buat anaknya seharga tiga ratus ribu rupiah.

    Malamnya ia cerita pada istrinya. Sepanjang pagi dia telah mencegat beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang bannya sedikit menginjak marka. Rupanya dari situlah Rp 300.000,- bisa diperoleh tunai dalam setengah hari buat beli sepatu baru.

    Apakah cerita faktual ini masih menunjukkan adanya masalah kesejahteraan bagi aparat kepolisian?
  11. From handika aditya on 02 April 2007 20:11:29 WIB
    Sudah saatnya praktek Kolusi di dalam perekrutan anggota kepolisian dihentikan. Tes Psikologi pun tidak cukup bisa merepresentasikan kondisi psikologis seseorang. Sehingga perlu dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap keseluruhan sistem dalam tubuh kepolisian termasuk dalam hal perekrutan maupun evaluasi kinerja anggota secara rutin.
  12. From some1 on 19 April 2007 11:01:40 WIB
    saya ingin menanggapi komentar dari mr/ms pahit tanggal 27 maret 2007 " wduh...kasihan sekali kawan anda yang bersikap demikian,karena jika dia tidak bisa menghilangkan sikapnya yang 'keakpolan' itu...bisa dipastikan dia tidak akan bisa berdinas dengan baik...karena kalau sudah berdinas dan berada diantara anak buah/rekan2 polisi lain yang bukan lulusan akpol,sikap keakpolannya harus dihilangkan..." saya seorang polwan yang juga bersuamikan perwira lulusan akpol,jadi saya mengerti sedikit banyak tentang AKPOL...suami saya sendiri berpendapat " norak sekali jika bersikap demikian...jangan bawa2 angkuhnya taruna dikedinasan,ga jamannya lagi..."
  13. From khairullah dahlan on 20 April 2007 17:59:25 WIB
    tidak usah berpikir jauh, yang melakukan kesalahan adalah anggota polisi yang di intervensi juga adalah anggota polisi..saya lebih memilih deteksi kepribadian anggota sejak mereka dalam tahap penerimaan. yang jadi masalah adalah bagaimana prosedur penerimaan yang baik. karena dalam recruitment sendiri sudah banyak oknum yang melakukan korupsi dan sogokan..jadi perbaiki dulu cara rekruitmentnya. yaa bebas dari korup dan memilih tenaga yang kompeten kalo bisa dari luar kepolisian agar lebih mudah pengawasannya.
  14. From Farid on 25 May 2007 18:48:28 WIB
    faktor yg plng menentukan polisi knp melakukan hal seperti itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantarax ialah faktor kejiwaan, ini dipengaruhi oleh berbagai hal, mis krn dirumah sering bertengkar dgn istri dan pd waktu dikantor sering dimarahi bosx.
  15. From fReAk4piEn on 02 June 2007 07:07:04 WIB
    oh,,boy,,dibaLik seRagam yg bisa membuat seseOrang meRasa bangga,,ternyata terdapat "jiwa yang rapUh,,,
    Mungkin AspEk kJiwaan mas2 dan Pak2 pOLisi perLu di tESt daN di kAji uLang niE,,,
    UntuNg mErekA gA mEGAng bOm AtOm,,,,cEk-cEk-CEk,,,
    kitA dOain Aja mErEka jAdi LebiH dEwAsa,bijAk,'N gA sAkEpEnAke dEwe,,,
  16. From syinta on 29 June 2007 15:32:47 WIB
    mudah2an hukuman yg mereka dapat bisa membuat mereka lebih bijak...lebih dewasa dan matang dalam bersikap...kehilangan seseorang (korban) memang menakitkan...tapi kehilangan masa depan dan seseorang(pelaku) juga sama menyakitkannya..aku tidak pantas menghakimi mereka biar Tuhan yg lebih punya kuasa dan maha bijaksana yang melakukannya.. semoga dinding penjara yg dingin bisa membuat pelaku lebih dekat dengan sang pencipta..dan tidak berhenti bertaubat..smoga lingkungan yg baru(sel) menjadikan mereka bisa lebih matang dan dewasa....selamat belajar di dunia yg baru..smoga Tuhan sertai setiap langkah mereka..selamat bertaubat..selamat berjuang menjadi manusia yg lebih baik..
  17. From paijo on 21 August 2007 07:44:39 WIB
    polisi salah nembak...
    sama kaya kepala pesantren yang memperkosa santrinya,
    mahasiswa mahasiswi yang kecanduan narkoba, free sex, sampe - sampe kondom berserakan di kamar mandi beberapa kampus (bukan rahasia lagi). sama kaya anggota KPK yang justru melakukan korupsi, anggota kpu yang mestinya ngawasin jalanya pemilu biar bersih malah nyeleweng.... sama kan semuanya cuma oknum aja, RoCker juga manusia begitu kira kira istilahnya.

    bat anda anda yang pake uang mau jadi polisi, itu karena anda memang lemah dan ga siap berkompetisi, buat anda yang pernah sakit hati karena berurusan dgn polisi itu karena anda memang pengacau yang suka bikin kejahatan atau pelanggaran, atau mungkin cita cita jadi polis tidak kesampean hihi.
  18. From AR-NTB on 11 April 2008 13:42:52 WIB
    Yaaa... kalo polisi pegang keris ya pasti nusuk orang.. La kalo polisi pegang las ya pasti ngelas orang... siapapun itu entah dia polisi ataupun apa namanya profesi... semua akan melakukan hal tersebut... tapi karena polisi ini yang jadi ribut... plisi buka superman, batman maupun wonder women... dia juga manusia sama kayak kita2 juga... masyarakat polisi adalah bagian dari masyarakat kita.. sehingga prilakunya pun cermin dari masyarakat kita...
  19. From tak tahu siapa on 16 July 2008 16:36:55 WIB
    saya yg ngelewatin marka jalan itu,gilaa kepala gue digetok ama pentunganya.untung pakei helm,kalo gak hancurlah kepala gue.para polisi itu memang tegas tapi tidak ramah,huhhh susah lah buat bikin masyarakat anggap polisi itu ramah dan baik hati
  20. From asmida kp on 01 November 2008 21:19:14 WIB
    POlisi itu bkn dewa hanya manusia biasa , jd jgnlah membenci polisi tapi ingatlah pengabdiannya.
  21. From desy nuraini puspita sari.. on 26 March 2010 15:40:09 WIB
    astaughfirullah..akhirnya saya tau berita dia...walaupun dia sudah jujur dengan saya ttg hal ini...semoga hal ini tidak akan terulang lagi untuk dia dan semua polri...
  22. From syinta on 20 July 2010 15:18:53 WIB
    miss u mas...hope u fine there.. kl udah "pulang" kita makan mie ayam lagi yaaa..minum ice capucino d pusdik

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home