Articles

Tragedi Ferry Levina dan Ke-TIDAK-selamatan Transportasi

Wimar's World
27 February 2007

Tragedi ganda menimpa lagi lautan kita. Setelah kebakaran dan menelan korban, kapal Ferry Levina menimbulkan korban justru pada orang yang sedang menyelidiki kebakaran itu. Selain duka atas hilangnya nyawa para profesional media dan polisi secara mengenaskan, untuk melihat kedepan banyak timbul pertanyaan. Bambang Harymurti menyatakan di televisi bahwa kematian mereka merupakan "senseless deaths" dan harus menjadi tanggungjawab perusahaan media yang kurang memberi survival training. Pihak lain mengatakan otoritas KNKT seharusnya menjamin keselamatan tamu di kapal berbahaya itu.

Wimar's World Rabu 28 Februari akan membahas kejadian Levina dalam konteks keselamatan (dan ke-tidak-selamatan) sarana transportasi di Indonesia

Sekilas Tragedi Levina

Kapal Motor (KM) Levina 1 milik PT Praga Jaya Santosa dibuat 27 tahun lalu dan dibeli dari Hayazuru Maru pada awal 2000. Levina 1 terbakar di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Kamis pagi (22/2) sekitar pukul 04.30. Kapal penumpang rute Pelabuhan Tanjung Priok-Pangkal Balam, Bangka, tersebut baru berangkat berlayar sekitar tiga jam sebelumnya.

Levina
Levina I, Tanjung Priok, 22 Feb 2007 (Reuters)

Berdasar manifes perjalanan (pemberitahuan pabean mengenai jenis pengangkut dan daftar muatan yang diangkut yang didaftarkan pada saat keberangkatan - Red) kapal ini mengangkut 275 penumpang termasuk awak kapal, 31 unit truk, dan 8 kendaraan roda empat. Namun kemudian diketahui jumlah penumpang seluruhnya 316 orang karena anak-anak dan bayi yang tidak memiliki tiket tidak masuk penghitungan.

Dari kesaksian para korban yang selamat, sumber api diduga dari sebuah truk yang parker di dek kendaraan. Muatan truk masih dalam penyelidikan tapi diperkirakan mengandung bahan kimia yang mudah terbakar.

Ketika tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dan juga wartawan sedang melakukan penyelidikan mengenai sebab-musabab kebakaran kapal tersebut pada Minggu (25/2). Kapal terbalik dan tenggelam dimana saat itu ada 26 orang berada di atas kapal.

missing relatives
Identifikasi korban, Jakarta, 23 Feb 2007 (Reuters)

Secara keseluruhan dari dua peristiwa tersebut hingga Selasa (27/2) dilaporkan 282 orang selamat dan 51 orang meninggal dunia. Sembilan orang sisanya masih belum ditemukan dengan tiga diantaranya seorang kameramen SCTV dan dua anggota Puslabfor.

Tragedi Levina 1 merupakan kisah teranyar rentetan tragedi dari ketidak-amanan transportasi di Tanah Air. Sebelumnya kita telah dibuat pilu dengan tenggelamnya KM Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat Adam Air. Untuk KM Senopati 233 orang korban selamat dan 46 orang meninggal dunia. Sedangkan yang masih hilang atau belum ditemukan sebanyak 349 orang. Sedangkan Adam Air menelan korban 102 orang.

Tragedi transportasi tersebut telah membuat masyarakat menuntut sejumlah pejabat terkait termasuk Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mundur. Namun baru setelah peristiwa Levina 1, Menteri Perhubungan Hatta mengganti sejumlah pejabat struktural di lingkungan Departemen Perhubungan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara M Iksan Tatang, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Harijogi, dan juga ketua KNKT termasuk dalam daftar pejabat yang diganti. Sebelum ada berita pergantian tersebut mereka dijadwalkan akan menjadi tamu dalam Wimar’s World.

Update 27 Feb: Data Kecelakaan Transportasi 2007

KM Levina 1 (Jakarta – Bangka)

  • Tanggal kejadian : Kamis, 22 Februari 2007
  • Kejadian : Terbakar dan tenggelam di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta
  • Dugaan penyebab : Api dari sebuah truk bermuatan zat kimia di dek kapal
  • Jumlah penumpang : 316 (manifes 275 penumpang)
  • Jumlah korban : 54 orang (50 akibat kapal terbakar), enam hilang

Adam Air KI 172 (Jakarta – Surabaya)

  • Tanggal kejadian : 21 Februari 2007
  • Kejadian : Kecelakaan saat mendarat sehingga badan pesawat patah
  • Dugaan penyebab : Hardlanding di Bandara Juanda, Surabaya
  • Jumlah penumpang : 148
  • Jumlah korban : Tidak ada korban meninggal
  • Penghentian pencarian : -

Kereta Ekonomi Bengawan (Solo - Jakarta)

  • Tanggal kejadian : 29 Januari 2007
  • Kejadian : Tiga gerbong terguling di stasiun Bangodua, Cirebon
  • Dugaan penyebab : Kereta anjlok akibat sarana tidak memadai
  • Jumlah penumpang : -
  • Jumlah korban : Tidak ada korban tewas

Kereta Ekonomi Bengawan (Solo – Jakarta)

  • Tanggal kejadian : 16 Januari 2007
  • Kejadian : Salah satu gerbong terjebur ke sungai di Banyumas, Jawa Tengah
  • Dugaan penyebab : Kereta anjlok akibat sarana tidak memadai
  • Jumlah penumpang : -
  • Jumlah korban : 5 tewas dan sedikitnya 50 orang cidera

Adam Air KI 574 (Surabaya – Menado)

  • Tanggal kejadian : 1 Januari 2007
  • Kejadian : Hilang dan tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat
  • Dugaan penyebab : Belum diketahui karena kotak hitam belum berhasil diangkat dari dasar laut
  • Jumlah penumpang : 102 orang
  • Jumlah korban : 102 orang
  • Penghentian pencarian : 27 Januari 2007 setelah kapal USNS Mary Sears milik Amerika Serikat mendeteksi lokasi kotak hitam pada 25 Januari

KM Senopati Nusantara (Teluk Kumai, Kalimantan – Semarang)

  • Tanggal kejadian : 30 Desember 2006
  • Kejadian : Karam di perairan Kepulauan Mandalika, Jepara, Jawa Tengah
  • Dugaan penyebab : Kelebihan penumpang dan angkutan serta cuaca buruk
  • Jumlah penumpang : Manifes 628
  • Jumlah korban : 46 meninggal, 349 hilang
  • Penghentian pencarian : 21 Februari 2007

Baca juga: Misteri Pesawat Hilang

Print article only

23 Comments:

  1. From peduli on 27 February 2007 16:08:53 WIB
    Ya susah juga ya, kalau orang sudah tidak peduli terhadap keselamatan jiwanya sendiri. apakah mungkin ada orang lain mau kasih perhatian pada kita. Saya pernah dengan rombongan di negeri orang, mau nyeberang ke laguna nggak lebih dari 1 km, dan airnya cukup tenang tidak ada ombak. Kami sewa perahu, dan ada 7 pelampung didalamnya. Padahal kita berdelapan. Waktu kita mau menyeberang yang satu orang disuruh turun. Kita bilang kan kepalang cuma satu orang lagi. Dia bilang kamu boleh berangkat kalau semua pake pelampung kalau tidak ya batal saja. Dia bilang yang satu orang lagi bisa dijemput lagi nanti di rute kedua. Ini namanya negara yang peduli dengan nyawa manusia. Sampai ke tukang sewa perahupun patuh. huh negara ku.
  2. From chadijah ibrahim on 27 February 2007 16:33:28 WIB
    Di Indonesia walaupun diganti pejabat yang paling pinter dan canggih untuk mengurusi masalah transportasi ,tetap saja kacau balau sistemnya, satu-satunya jalan adalah ada penggerak Revolusi Mental, yaitu mengubah dengan paksa mental kita yang sudah bobrok ini, mungkin bisa dimulai dari Presiden yang bersih dan mencoba transparan atau jujur dalam mengatakan masalah yang paling pahit sekalipun, walaupun akan mempengaruhi kursi kepresidenannya, tapi adakah orang yang mampu merubah mental kita untuk menjadi orang jujur, tidak memanipulasi peraturan hingga tidak memakan korban lagi. Coba Ahmadinejad ya jadi presiden kita
  3. From ringo star on 27 February 2007 19:33:59 WIB
    Lagi2 bencana transportasi. Sepertinya Indonesia tidak pernah lepas dari berbagai musibah. Naik pesawat terbang kalo ngga tiba2 hilang, mendarat darurat. Naik kapal laut nanti terbakar dan tenggelam. Naik kereta api nanti anjlok. pusing. Abis seluruh armada transportasi Indonesia sudah tua2 dan karatan. Jadi kalo pergi enakan naik apa ya??
    Bingung
  4. From Ria Wibisono on 27 February 2007 23:01:28 WIB
    Saya rasa sudah saatnya pemerintah Indonesia mengagendakan latihan penyelamatan diri dalam keadaan darurat di kurikulum pendidikan nasional. Juga harus ada simulasi-simulasi penyelamatan diri buat masyarakat umum. Jadi kalaupun sistem tranportasi kita sulit diperbaiki sehingga rawan kecelakaan, at least orang tahu what to do in case of crisis. Saya baca di koran, banyak penumpang kapal yang tahu cara pakai pelampung aja enggak. Gimana dia mau menyelamatkan diri? Naik pesawat juga ada aja penumpang yang nggak sadar pentingnya pakai seatbelt. Giliran pesawat harus menukik tajam, kejeduk langit-langit dan ujung-ujungnya bisa tewas.
    By the way, melihat bahwa Indonesia juga rawan bencana alam, kayaknya masyarakat perlu belajar penyelamatan diri sampai tingkat advance deh...
  5. From Abraham Ganda M on 27 February 2007 23:45:51 WIB
    Tragedi memilukan dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun terjadi rentetan tragedi transportasi yg menelan byk nyawa. ini menandakan bahwa kurangnya kualitas org pada posisi2 strategis pada bidang bersangkutan.

    Mayoritas semua hanya berlandaskan kebutuhan ekonomis, alasan klasik yg menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan. penumpang melebihi kapasitas, perawatan yg minim, peralatan penyelamat yg menyedihkan, dll.

    biasanya sih, bangsa ini mau belajar kalau sudah terjadi kejadian yg luar biasa menyedihkan/mengerikan. dari sana barulah ada kesadaran dari pemerintah. notabene terlambat bukan....berapa lagi harus korban berjatuhan sebelum pihak2 terkait sadar??!!

    apa mau tgu ada wilayah yg lepas lagi dari negara ini baru menyadari kurangnya kinerja "org atas" ????
  6. From deny rahman on 28 February 2007 04:50:25 WIB
    seharusnya kita tidak harus selalu menuduh dan selalu menyalahkan orang lain, bagaimana negara ini bisa berubah kalau kita saja sebagai individu yang hidup di Indonesia ini tidak bisa merubah kebiasaan dan tabiat kita yang selalu berprasangka,menuduh, mencerca dsb, jangan pake perasaan kalau menilai sesuatu karena tidak akan objektif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain
  7. From rachman on 28 February 2007 08:17:32 WIB
    'musibah' transportasi dalam bulan ini sebenarnya sepercik saja akibat dari 'pejabat korup'. seharusnya digantung saja pejabat korup. ganyang koruptor !!!
  8. From Satya on 28 February 2007 10:08:11 WIB
    kecelakaan seperti ini PASTI terjadi lagi kalau kita tidak sepakat mencari siapa saja yang mestinya bertanggungjawab.
  9. From Yenny on 28 February 2007 10:46:31 WIB
    Gimana mo beres, wong pemakai jasa transportasinya aja gak sayang nyawanya sendiri, gimana penyedia transportasi nya mau perduli? ditambah lagi pengawas yang punya autoritas dan tanggung jawab sibuk sendiri ama urusan dalam negerinya masing-masing. Ya udah deh, bubar...
  10. From robin on 28 February 2007 15:42:15 WIB
    Tenggelamnya kapal Levina 1 (mirip judul buku Buya Hamka) memang duka kita bersama, tetapi janganlah kita mencari kambing hitam. Mencari apa yang salah dan coba diperbaiki. Rejeki, jodoh, maut semua di tangan Tuhan, bila sudah tiba saatnya, jangankan di kapal Levina 1, di tempat tidur sekalipun kita bisa dijemput "jack the ripper". Duka cita terucap untuk Muhammad Guntur yang "gugur" di lapangan semoga arwah almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa...Amin.
  11. From petra on 28 February 2007 16:45:20 WIB
    menteri/pejabat-nya yg bagaimanapun bagusnya blm tentu kinerja departemennya bisa bagus juga kalau bawahannya tdk mau jalankan peraturan2 dan laksanakan perintah2 dari atasannya (biasanya pegawai yg sdh lama bekerjanya di instansi tsb), yg kita cari menteri/pejabat yg rajin dan sering terjun langsung kelapangan (sidak), mau tegakkan peraturan2 dan berani tanpa pandang bulu cabut izin usaha perusahaan dan berani pecat bawahannya yg kinerjanya tdk benar/becus/korup apalagi yg bisa membahayakan jiwa orang lain.
  12. From kemal baihaqi on 28 February 2007 16:56:33 WIB
    setelah ada korban....biasa... pemerintah langsung me-reshufflle jajaran yanag berwenang. apa kejadian smua itu memang salah mereka? kenapa tidaak dari sebelumnya mereka diganti kalaau itu persepsi pemerintah. birokrasi tidak bener, transportasi juga tidak bener. bingun ya? sama aku juga nih...
  13. From Pasbandrol on 28 February 2007 17:31:11 WIB
    Salah satu ciri negara dengan pemerintah yg awut awutan adalah tidak adanya Manajemen Risiko. Semua risiko dipikul masing2 pembeli jasa. Di negeri yang beradab, anak main skateboard aja kudu pakai helm.Dari mulai semrawutnya transportasi, utility, sampai urusan2 banjir pun tidak mampu mengusik para pejabat kita. Paling2 ketidakmampuan itu coba ditutupi dengan Sidak, agar citranya nampak kinclong. Buat apa presiden punya menteri dan Dirjen, kalau semuanya serba di sidak. Buat apa punya presiden yg ganteng tapi tidak punya nyali untuk bertidak tegas.
  14. From Olga Lydia on 28 February 2007 18:05:46 WIB
    Great! Penting banget, terutama investigasi KNKT aja ga pake pelampung...Gymana si? Walau wartawan kan pergi bareng...
  15. From a yoga r on 28 February 2007 23:22:18 WIB
    semuanya.. pelaku jasa transportasi, harus mawas diri..

    jangan ada lagi suap-menyuap dalam audit perangkat keselamatan.. tindak tegas aparat yang masih main mata dengan operator nakal. di sini nyawa jadi taruhannya..
    untuk pak mentri dan pak dirjen : mohon diwajibkan dan disegerakan pelatihan untuk awak-awak kapal agar mampu menghandle SEMUA situasi-situasi darurat yg mungkin akan terjadi.. ajak semua pengguna jasa transportasi laut untuk ikut terlibat mengkontrol. wewenang untuk membuat perubahan ada di tangan anda !

    untuk operator, jangan pernah ada alasan untuk menomor duakan keselamatan kapal. mampu beli kapal masak kagak mampu beli alat pemancar radio sinyal darurat, life raft, dan peralatan pemadam yang memadai?? mending usaha metro mini aja kalo kagak becus..

    untuk pengguna jasa transportasi.. jangan pernah lagi jahil sama alat2 keselamatan kapal.. jangan ragu juga untuk mengadukan orang-orang yang melakukan vandalisme atas perlengkapan keselamatan kapal. ini untuk keselamatan kita bersama.. jangan hanya mau yang murah dengan berusaha jadi penumpang gelap di kapal.. sadar dong akan hak dan kewajiban anda !
  16. From deddy pur on 01 March 2007 00:15:37 WIB
    kecel kapal merupakan keprihatinan sejak lama, saya menulis kecelakan kapal(penumpang) , sd tahun 2001 tapi nggak jadi perhatian, apakah berkenan kalao saya kirim ke abang ?
    makasih
  17. From wayan on 01 March 2007 10:00:25 WIB
    biasanya acara yg dibawakan sama om ww selalu cerdas, tp tadi malam dlm acara wimar's world koq tampil beda. kesan teduh dan bijaknya sangat dalam. aq salut pd om ww yang selalu bisa menyampaikan inti acaranya sesuai dengan situasinya. moga aja kt slalu dapat pelajaran dari segala yg pernah kita alami, krn segala sesuatunya akan membuat kita lebih baik bila bisa belajar dari pengalaman.
  18. From budi on 02 March 2007 11:41:01 WIB
    Mestinya KNKT, PUSLABFOR, dan Media tahu to tentang prosedure keselamatan kerja ?
    Kalau Bapak-bapak dan Ibu saja nggak tahu terus gimana 250 juta penduduk Indonesia ?
    TRAGIS !!!!
  19. From abu hasan on 14 March 2007 12:17:57 WIB
    pecat semua kepala transportasi. Yang hanya memikirkan uang saja, tanpa memperdulikan nyawa orang.
  20. From shin naruto on 14 March 2007 22:36:04 WIB
    setiap pihak yang terkait sudah seharusnya membenahi diri mereka masing-masing, instropeksi dirilah!!!
    tapi klo menurut gue sih itu bukan sepenuhnya salah mereka, mungkin udah ditakdirin ma Tuhan, biar kita semua instropeksi diri apa yang udah kita buat selama ini, peringatan biar kita mendekatkan diri ama Dia.
    Sekarang ini byk bgt org yg berpikiran transportasi apa yah yg paling aman?klo naik ini bakal selamat ga yah?klo kita berpikiran begitu, kita ga bakal kemana-mana!! mau kita naik apa juga klo udah ditakdirin utk ngalamin musibah ya pasti kena juga!!intinya berserah diri aja ma Tuhan!!GBUz.
  21. From RidwaN .A. & Bambang Triguna on 06 June 2007 16:42:53 WIB
    Penumpang levina I seharusnya jangan melebihi kapasitas dari apa yang telah ditetapkan. Dan seharusnya lebih teliti dalam pemeriksaan barang-barang yang dapat membahayakan kapal tersebut,juga jangan hanya mementingkan ekonomi saja tetapi nyawa para penumpang kapal.
    Benar yang dikatakan oleh Olga Lydia seharusnya wartawan diberikan pelampung dalam melaksanakan tugasnya.
    Benaaar saudara-saudara ?
  22. From DIRIAN on 15 August 2007 14:08:05 WIB
    harusnya klo pemerintah lebih melihat keselamatan transportasi di indonesia maka ga da lagi dech kecelakaan
  23. From hanna on 22 January 2008 23:51:22 WIB
    Melihat dan menanggapi berbagai komentar yang tertulis di atas, membuat saya tergelitik untuk memberikan sedikit penjelasan atas kejadian yang sebenarnya tanpa bermaksud untuk mencari pihak yang harus dipersalahkan atau disudutkan. Biarlah kita mengambil hikmah dari kejadian ini.

    1. seluruh anggota KNKT (4 orang saja) yang diturunkan sebagai peneliti di kapal Levina dipilih yang bisa berenang, memahami cara penyelamatan diri di laut dengan menggunakan peralatan keselamatan secara lengkap (pelampung, helmet, mask, gloves dan google). Mohon periksa film dokumentasi yang ditayangkan di berbagai media elektronik bahwa seluruh anggota KNKT memakai pelampung;
    2. Keberadaan rekan wartawan di atas kapal levina merupakan kejutan bagi KNKT, karena dalam final briefing di ruang rapat polair tidak ada pangarahan atau informasi bahwa wartawan akan naik ke TKP. Hal tersebut secara tegas dinyatakan dan disetujui oleh kami yang ikut dalam rapat tersebut bahwa kapal Levina merupakan TKP yang tertutup. Oleh karena itu, pihak kepolisian memasang "police line" disekeliling kapal;
    3. Kami setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa keselamatan diri merupakan tanggungjawab kita masing-masing agar tidak terjadi hal-hal seperti di atas kapal levina. Saya masih ingat percakapan terakhir saya dengan beberapa rekan wartawan sebelum naik ke kapal levina dimana kami mengarahkan mereka untuk tidak ikut naik ke kapal, mengingat mereka tidak menggunakan peralatan keselamatan apapun, malah hampir sebagian besar diantara mereka kami ketahui tidak bisa berenang;
    4. Kami setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengawasan perlu secara ketat dan tegas dilakukan diseluruh lini moda transportasi.

    Saya berharap agar kejadian tragis ini merupakan yang pertama dan terakhir di Indonesia.

    Salam.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home